Tittle: timeless (oneshot)
Author: keisya kim
Genre: romance, life
Cast: jung eun ji (Apink)
         Shin dong ho (Ukiss)
Timeless.
We don’t have time limit to get our happiness
Aku duduk dan termenung  di depan jendela kamar rumah sakit yang besar. Pemandangan musin dingin membuatku takut, membuatku  berkali-kali merenung, mencoba mencari tahu rahasia tuhan dibalik semua yang kualami.
2 tahun yang lalu dokter mengatakan aku menderita kanker darah stadium akhir dengan kemungkinan sembuh 5%, dan mengatakan hidupku aku akan bisa lebih dari 2 tahun. Aku hanya diam mematung dengan semua yang dokter katakan. Tak ada air mata, tak ada sesal yang berlarut-larut. Aku hanya berfikir untuk melakukan semua yang kuinginkan di sisa waktu hidupku yang tak lama.
Waktu 2 tahun yang kumiliki sudah sampai pada ujungnya, aku hanya perlu menunggu waktu yang telah ditetapkan tuhan untukku. Semua yang  ingin kulakukan sudah kulakukan. Aku sudah merasa cukup dengan waktu hidupku di dunia. Kecuali satu, cinta dan dicintai.
Aku gadis berumur 18 tahun yang hampir mati. Tapi tak sekalipun aku merasakan getaran cinta yang orang bilang menyenangkan. Tak sekalipun aku merasa dicntai yang orang bilang keajaiban. Aku tidak tahu arti dan rasa semua itu. Bahkan mungkin jika esok aku mati, aku akan mati dengan rasa hampa, tanpa satupun yang menangisku atau seorang yang kukhawatirkan keadaannya setelah aku pergi.
Haff.. tak boleh ada sesal, aku tersenyum kecut. Jika sekarang aku mengharapkan cinta, itu akan menyakitkan. Karna itu adalah cinta tanpa janji kebahagiaan.
  “annyeonghasheo!” aku menoleh, seorang masuk kekamarku, aku berfikir sebentar. Tak pernah ada yang menjengukku sejak aku dirawat disini 10 hari yang lalu, lalu siapa? Seorang namja. Aku tak kenal.aku tersenyum dia pasti salah kamar.
“ahh…aku salah kamar, maaf” ucapnya sambil membungkukkan badan.aku benar. Aku tersenyum kecil.
“nae, gwencana”jawabku.namja itu segera keluar kamar dan aku kembali memandang keluar jendela.
Tak satupun orang peduli dengan keadaanku disini, tak akan ada cinta sampai aku mati nanti.menyakitkan
<3<3<3
Aku berkeliling rumah sakit untuk mengatasi rasa bosanku. Melihat semua pemandangan dan bebagai jenis ekspresi. Terkadang ini bisa menentramkan perasaanku.
BRUKK.
“agh,” erangku, seorang menabrakku dengan cukup keras. Membuatku jatuh terduduk.
“ah..jeongmal mianhae..” aku mengangkat kepalaku saat orang yang menabrakku menjulurkan tangan membantuku.
“ah kau,kan..”aku membuka mulut.itu namja yang tadi pagi masuk ke kamarku.
“kau juga! Kau pasien di kamar yang tadi pagi!” ucapnya. Senyumnya melebar “mianhae.. tak kusangka kita dapat bertemu lagi.”
Aku tersenyum kecil “nae, gwencana”
“hei, izinkan aku mengantarmu kembali ke kamarmu” ucap namja itu.
“ah, tidak usah. Lagi pula tujuanku bukan kamar” aku menolak halus. Namja ini, padahal aku baru bertemu dia hari ini, dan bahkan aku belum tahu siapa namanya.
“ah, baiklah kalau begitu kemana?” hah?! Dia bertanya? Dia serius mau menemaniku.
“baiklah, aku menuju taman rumah sakit.”
“baiklah kajja! Tapi sebelumnya, boleh ku tahu namamu?”
“hahahaha” aku tertawa tertahan. “kau bahkan sudah ingin menemaniku, padahal belum tahu namaku.” aku menjulurkan tangan  “annyeong, jung eun ji imnida”
“shin dong ho imnida”
 <3<3<3
TAMAN RUMAH SAKIT
“hei, dong ho. Kenapa kau ada di rumah sakit hari ini?” tanyaku padanya sesampainya di taman.
“appa sakit, sakit biasa. Hanya kelelahan dan perlu istirahat total. Kau juga eunji-a, kenapa ada di rumah sakit? Maaf, kau sakit apa?”
“kanker darah” ucapku santai dan tersenyum kecil.
“ah jinjja?! Tapi kau terlihat cukup sehat. ani.. maksudku, kau memang terlihat sedikit pucat, tapi tidak seperti orang yang mengidap kanker darah.” Ucapnya dengan intonasi terkejut yang sedikit berlebihan.
“hmm, mungkin. tapi kau tidak tahu kan berapa sisa waktu hidupku?” aku menerawang.hari  Ini memang pertemuan pertamaku dengan dongho, mungkin aku lancang jika menbicarakan kematian dengan orang yang baru kukenal. Tapi biarlah, lagipula siapa pula yang akan peduli dengan jung eun ji yang hampir mati.
“kau sudah mau mati? Haha,, tentu saja aku tidak tahu. Kau juga kan? Karna kematian itu rahasia tuhan.”
“benar, kematian rahasia tuhan. Tapi setidaknya dokter punya perkiraan sisa waktu hidupku.kau tahu, bahkan itu tidak lebih dari satu bulan lagi.”
“geotjimal!” dongho menatapku bingung. “haha candaan yang tidak lucu eunji-a.” aku tersenyum. Tentu saja tidak lucu, aku memang sedang tidak bercanda.
“ sudahlah, jangan pikirkan sisa waktu hidupku. Karna aku sendiri juga tidak memikirkannya. Aku sudah merasa cukup dengan waktu-waktu hidupku yang sudah kelewati.” Jawabku.
<3<3<3
Hari sudah sore, dan langit dipenuhi warna merah yang cantik. Aku memandnag,menerawang. Setengah jam yang lalu, dongho pamit pulang. Tapi yang aku tidak mengerti, dia meninggalkan sebuah janji padaku
“eunji-a, besok aku akan datang lagi. Menghabiskan waktu denganmu menyenangkan! Eunji-a, get well soon. I’m pray for your health”

Aku tersenyum, ada sedikit perasaan bahagia di dadaku, mungkin bahagia karna merasa diperhatikan. Dongho adalah namja supel yang cukup perhatian juga jahil. Aku bersyukur menganalnya hari ini, mengenal namja baik di akhir hidupku.
Ah.. apa aku mengharapkan cinta? Sepertinya tidak. Aku tahu itu mustahil dan akan menyakitkan. Mengenalnya, itu saja cukup membuatku bahagia.
<3<3<3
 “annyeonghasheo, eunji-a!” aku sedang membaca buku ketika dongho datang pagi ini, aku tersenyum.
“annyeong, tak kusangka kau benar-benar datang.”
“tentu saja, aku bukan jenis namja yang suka mengingkari janji”
“hahaha, nae. Aku percaya.” Aku terdiam sebentar. Aku merasakan sedikit letupan di dadaku, mungkinkah karna dong ho? Apakah ini yang dinamakan cinta? Aku berharap. Sementara aku takut berharap.
“hei, eunji-a! kau melamun! Ini, aku bawakan bunga untukmu. sedikit sulit mencari bunga yang cantik di musin dingin seperti sekarang.” Dongho menjulurkan sekuntum bunga padaku. Aku menerimanya,
“gomawo. Tentu saja susah, karna sedikit bunga yang bisa mekar di musim dingin, lain kali kau herus mencarinya saat musin semi.”
“nae, araseo.” Dong ho tersenyum, “hei eunji-a.mau berkeliling? Aku akan mendorongkan kursi roda untukmu. Kupikir tidak baik jika kau memaksakan berjalan sendiri.”
“kau sangat baik. Baiklah kajja!”

Aku tahu, jika kau tau bahwa kesempatan hidupmu tinggal satu bulan lagi, dan kau sudah mempersiapkan kematianmu. Saat itu cinta datang menghampirimu dan membuatmu menyesali takdir tuhan atas waktu hidupmu. Itu adalah hal yang paling tidak ingin kau alami dalam hidup ini.
DISUATU TEMPAT DIRUMAH SAKIT
“eunji-a..”
“nae?”
“kau tahu, sebenarnya aku mengharapkan waktu hidupmu lebih lama dari satu bulan.” Dongho berkata dengan ekspresi muka yang tidak kumengerti.
“wae? Kau orang pertama yang mengatakan itu.semua orang tak peduli bahkan jika nanti malam aku mati.” Aku mengucapkan kenyataan pahit itu dengan ekspresi datar.
“kenapa mereka tidak peduli? Kau bahkan terlalu tegar untuk seorang gadis pengidap kanker darah. Kau harusnya menangis eunji-a, tapi aku tak melihat setitik air matapun dimatamu” dongho cukup tegas mengatakannya.
“menangis? Aku tak ingin mati dalam penyesalan.” Aku memalingkan muka, saat dia berkata harusnya aku menangis, aku jadi benar-benar ingin menangis.
“eunji-a, setiap manusia memiliki mimpi dan harapan masa depan. Dan kau juga harusnya memiliki semua itu. Apakah kau tidak berfikir, bahwa takdir begitu kejam. Membuatmu tidak bisa bermimpi?”
“kau.. aku sudah mengubur semua harapan sia-sia yang tidak akan tercapai itu jauh-jauh. Aku sudah merasa cukup dengan waktu hidupku yang hanya 18 tahun ini.” Kata-kataku tercekat. Dongho benar-benar membuatku menangis.ia mengingatkanku dengan apa yang sudah kukubur .
“geotjimal! Eunji-a aku tahu kau menangis, menangislah hal itu wajar.” Kali ini dongho merangkul bahuku. Dan aku benar-benar terisak.
Dongho-a, bahkan sekarang aku berharap tuhan berbaik hati menambah waktu hidupku. Sejak, kau datang. Kau membuatku berharap. Kau mengajakku melihat masa depan yang tak kumiliki. Dan kau, akhirnya kau lah namja pertama dan terakhir yang membuatku merasakan perasaan cinta.
“gomawo.”ucapku melepaskan rangkulan dongho.
“chomaneyo.”jawabnya.
“harusnya aku lebih semangat menjalani hidup kan?harusnya aku mempercayai keajaiban dan menyimpan harapan. Iya kan? Kau membuatku berharap hidup lebih lama.”ucapku.
“tapi eunji-a. aku benar-benar berharap kau bisa hidup lebih lama.” Katanya.
“nae, gomawo. Aku tak tahu apa alasanmu, tapi kau membuatku merasa bahagia dengan harapanmu itu.” Jawabku. Aku melihat dongho tersenyum.
“disini benar-benar dingin. Ayo masuk, kurasa kau tidak ingin menambahkan flu sebagai penyakitmu” kat dongho membantuku duduk di kursi roda.
<3<3<3
Aku memainkan embun di jendela. Udara diluar benar-benar dingin.  Aku jadi berfikir tentang kematian. Apakah nanti saat aku terkubur dibawah tanah, aku akan kedinginan?
“Haff.” aku menarik nafas dan menghembuskannya pelan-pelan. Ah..jamkaman, sesuatu yang hangat mengalir dari hidungku. Darah. Aku mengelapnya asal dengan telapak tanganku. Aku sudah terlalu lelah dengan ribuan tetes darah yang mengalir dari hidungku. Aku mengambil tisu dia atas meja. Mengelap darah dan menuju kamar mandi. Menatap bayangan tubuhku di depan cermin. Sosok dengan wajah pucat pasi seperti mayat. Dengan mata dihiasi oleh lingkaran hitam. Aku benar-benar akan mati…
Brukk~ aku terjatuh, kakiku terasa benar-benar lemas dan tidak mampu menopang berat tubuhku lagi.
Bagai hembusan angin, aku teringat dongho.. ‘eunji-a aku benar-benar mengharapkan kau bisa hidup lebih lama’  ah.. jika begini, dongho mianhae… mungkin aku tidak akan bisa hidup lama seperti yang kau harapkan.
“eunji-a, kau sudah sadar?” samar-samar aku mendengar suara. Suara ini suara dong ho. Aku membuka mataku lebih lebar.melihatnya sedang menatapku dengan raut wajah sangat cemas.
“Aah.. syukurlah kau sudah sadar.” Aku melihat sedikit rasa lega pada raut wajah dongho.
“dongho-a, kau… kenapa ada disini?” tanyaku.
“hmm.. seperti biasa ingin bertemu denganmu, tapi  yang ketemukan hanya kau di kamar mandi dengan darah yang mengalir. Benar-benar membuatku takut.”
“takut? Dongho-a.. aku pikir waktuku memang akan segera berakhir.” Aku menatap menerawang ke langit-langir kamar.
“eunji-a! bisa kah kau tidak usah mengungkit waktu hidup atau kematian? Itu hanya akan terdengar menyedihkan.” Ucap dongho.aku tahu dongho sedang menatapku. Tapi aku tak ingin membalas tatapannya. Aku juga, tidak ingin membahas ini dongho-a. tapi aku harus selalu siap. Aku harus mengingatkan hatiku untuk berhenti mencintaimu. Aku tidak punya waktu untuk meraih kebahagiaan.
“dongho-a, tahukah kau apa mimpi yang dulu kuukir? Sebenarnya tidak ada satu orangpun yang tau, hanya saja aku pikir aku bisa mengatakan ini padamu.” Aku tahu mataku sudah mulai menghangat. Aku selalu menangis jika mengingat mimpi yang harus kukubur.
“katakan eunji-a, aku akan mendengarkan.”
Aku menarik nafas. “aku ingin… bernyanyi, membahagiakan orang lain dengan alunan lagu. Aku ingin menyebarkan cinta, juga hidup bahagia, bersama orang yang aku cintai. Aku ingin selalu tersenyum menjalani hidupku. Apapun yang terjadi. Tapi kau tahu? Yang masih bisa kulakukan hanyalah tersenyum terhadap takdir tuhan. Hidup dengan hati ikhlas dengan sisa waktu yang tidak banyak. Yang lainnya? Aku hanya bisa menguburnya. Termasuk hidup bahagia bersama orang yang kucintai. Aku… aku tahu, tak satupun namja yang mencintaiku, dan aku mencoba menerimanya.”
“kau, kenapa begitu pesimis?kau masih bisa benyanyi, kau masih bisa membahagiakan orang lain. Kau bisa melakukan semua mimpimu eunji-a…” kali ini dongho menggenggam tanganku. “tapi mungkin caramu tidak akan sama seperti yang orang lain lakukan. Itu semua mungkin. Iya kan?”
Aku menangis. “iya. Kau benar, terimakasih dongho-a. “
“hmm, chomaneyo.”
<3<3<3
Dongho. Aku tak pernah bisa berhenti untuk memikirkannya. Aku yakin bahwa aku benar-benar telah jatuh cinta padanya. Kenapa? Aku pikir karena dialah namja pertama yang menginginkan aku hidup lebih lama. Mungkin juga karna dia datang dan memberiku perhatian. Ah.. sudahlah, cinta itu tidak perlu alasan.
Lalu sekarang, apa yang harus kulakukan? Aku tak mungkin mengatakan aku mencintainya. Ini terlalu menyakitkan. Dan juga, aku tidak tahu apakah dongho juga mencintaiku. Mungkin saja ia hanya simpati padaku. Tapi orang-orang itu benar, cinta memang indah. Membuatku selalu tersenyum dan merasakan rindu. Aku tahu rasanya, akhirnya aku tahu.
 Akhirnya aku mengerti ,betapa menyenangkan memikirkan seseorang sebelum tidur dan berharap memimpikannya. Aku mengerti bagaimana denyutan kata rindu bisa membuatku gila. Ya.. baik novel atau drama, mereka semua benar.
Tuhan, ia bilang aku harus berfikir posistif. Lalu, setelah semua yang terjadi, bisakah kau memberiku waktu hidup lebih lama? Agar aku bisa menggenggam kebahagiaanku.agar  aku bisa tersenyum bersamanya. Tuhan, maukah kau berikan aku kebaikkanMu?  Meski hanya satu detik kebahagiaan.
 
<3<3<3
“selamat pagi eunji -ssi! “ seorang  perawat masuk ke kamarku.
“pagi.” Jawabku seadanya. Membiarkan perawat itu penyelesaikan urusannya di kamarku.
“pagi ini kau mendapat bunga. Ini, seorang pemuda tampan menyuruhku memberikannya untukmu.” Kata perawat itu sambil memberiku sekuntum bunga yang mekar. Entah bunga apa, yang jelas bunga ini bisa mekar di musin dingin.
“pemuda siapa?” tanyaku.
“entahlah, dia tidak meyebutkan nama. Mungkin kau bisa melihat kartunya.” Kata perawat itu. Aku mencari kartunya. Kartu yang terselip diantara bunga-bunga yang mekar dengan cantik. Aku membacanya.
Eunji-a ,
Aku mencari bunga yang mekar dengan cantik di musim dingin, untuk memekarkan hatimu. Aku takut kau layu. Eunji-a.. meski kau bilang waktu hidupmu tak lama, izinkan aku mengatakan satu hal dari hatiku,
Saranghae~
(shin dong ho)

 
 Aku terngaga, pemuda itu dongho? Tidak, aku lebih terkejut ketika membaca isi kartunya, ‘saranghae’ ? apa aku yakin tidak salah baca? Tidak itu memang kata ‘saranghae’. Aku mecubit lenganku untuk meyakinkan ini bukan mimpi. Dan ini bukan mimpi. Ah.. aku menyenderkan punggungku.
Tuhan, apa maksud dari semua ini? Pernyataan cinta di akhir waktu? Apakah ini kebahagiaan yang kau berikan untukku, atau sebaliknya? Lalu, setelah ini, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku mengatakan kejujuran. Bahwa aku juga mencintainya, tapi ini semua akan terlalu menyakitkan.
<3<3<3
TAMAN RUMAH SAKIT
Aku memaksakan tubuhku yang lemah untuk pergi ke taman rumah sakit. Aku menghindari dongho. Aku tahu dia akan dating ke kamarku siang ini.dan aku tidak tahu apa yang akan kukatakan jika nanti aku bertemu dengannya. Dan aku ingin melihat langit yang luas. Melihat langit dengan semua keindahannya. Itu bisa membuat ku lebih baik.
“eunji-a!” suara ini, aku menoleh. Dongho. Dia dengan nafas terengah-engah. Kenapa dia ada disini?
“eun ji-a, aku mencarimu. Kenapa kau keluar kamar di cuaca seperti ini?! Ayo masuk kembali ke kamarmu! “dongho menarik tanganku. Aku menghempaskannya.
“ah. Shireo!” aku menghindari matanya.
“eunji-a, wae?” kali ini suara dongho melunak. aku diam. Aku benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa didepannya. Ugh, sepertinya aku mulai flu karna cuaca dingin ini. aku mengusap cairan yang mengalir dari hidungku. Tidak, ini bukan flu. Darah. Aku mimisan lagi.
“eunji-a, kau mimisan, kau harus segera kembali.”kali ini dongho duduk berjongkok didepanku. Aku menitikkan air mata. Menangis. Tidak.. bukan seperti ini. Aku mencoba berdiri. Tapi rasanya terlalu lemah…
BRUKK.
Aku yakin, aku jatuh. Tapi aku tak bisa berdiri lagi. Seluruh tubuhku rasanya sangat letih….
<3<3<3
Tuhan, aku yakin ini akan segera berakhir. Kau akan segera memanggilku kembali. Setelah  aku menjalani 18 tahun hidupku. Setelah aku hidup bersama kanker darah selama 2 tahun. Sesungguhnya aku sudah merasa siap untuk pergi dari dunia ini. Jika saja kau tidak mempertemukanku dengan cinta yang indah di saat-saat terakhirku. Saat ini, aku merasa benar-benar sayang untuk pergi. Untuk meninggalkan cinta, didunia.
 
Perlahan-lahan cahaya masuk kemataku.perlahan-lahan aku melihat bayangan yang buram. Aku terbangun. Terbnagun dri semua mimpi dan harapan unutk tetap hidup.
“eunji-a.. kau sudah sadar?” suara ini dongho? Dia masih disini? Sudah berapa lama aku pingsan. Raut wajahnya benar-benar takut. Aku mengalihkan pandanganku. Tidak jangan seperti ini… jika hal ini saja sudah membuatnya takut, bagaimana bila nanti aku menemui  ajalku?
“dongho-a, berapa lama aku pingsan?” tanyaku
“ 40 jam.” Jawabnya.
“kau selalu disini?” tanyaku
“hampir selalu.” Jawabnya. Aku benar, dia terlalu baik untuk aku tinggalkan. Dia terlalu baik untuk menjadi namja yang mencintaiku. Kumohon jangan seperti ini lagi.. aku menangis,
“dongho-a.. maukah kau dengarkan apa yang kukatakan?” Tanyaku. Ia mengangguk. “kumohon, jangan seperti ini, kau akan menyesal nantinya… kau tahu aku akan mati. Kumohon, berhentilah untuk mencintaiku. Aku… tidak pantas untuk menerima cinta dan kebaikkanmu..” aku terisak. Kata ini benar-benar menyakitkan. Tapi aku harus mengatakannya.
“apa maksudmu, eunji-a?” tanyanya.
“ini terlambat. Kita tidak punya jatah waktu untuk bahagia dongho-a.. lebih baik, kau lupakan aku. Karna aku akan mati. Dan itu akan menyakitkan untukmu.” Jawabku, aku menarik nafas. Aku terlalu banyak bicara, nafasku terasa sangat sesak.
“tidak. Eunji-a. aku tidak peduli dengan waktu yang kau katakan itu.” Dongho berkata dengan suara lemah. “kenapa kau selalu mengatakan kematian? Berhentilah berkata tentang kematian. Kita tidak tahu apa-apa tentang hal itu.”
“dongho-a..” aku menatapnya, lirih aku memanggil namanya. Aku tidak tau lagi harus bagaimana. Aku sudah mengatakannya. Dia tidak terima.
Aku tersenyum, “terimakasih.”
<3<3<3
                Dan.. waktuku memang tidak banyak. Aku tahu. Tapi sekarang aku hanya berusaha untuk menikmati sisa waktu untuk bahagia. Untuk tersenyum, bersama dongho.
ini baru beberapa hari setelah malam itu. Namun semuanya terasa cukup lama untukku. Semuanya cukup menyenangkan untukku.
Dan malam ini aku juga menikmatinya. Karna setiap detik bisa menjadi detik terakhir untukku.
Aku terbaring di tempat tidurku. Rasanya malam ini tubuhku sangat letih.
“dongho-a, kau tidak pulang? Ini sudah malam.” Tanyaku.
“hmm sebentar lagi. Aku akan menunggumu tidur.” Jawabnya.
“kalau begitu, aku tidur sekarang.” Aku tersenyum “sebelumnya, aku ingin menyanyikan sebuah lagu. Aku ingin kau dengarkan.” Pintaku
“tentu aku dengarkan. Suaramu sangat indah eunji-a.” jawabnya. Aku tersenyum, mulai bernyanyi.
Senandung wishlist,APINK..
Perlahan aku mulai mengantuk, aku memejamkan mataku,,
<3<3<3
                Dan.. itu benar-benar malam terakhir.
Dongho-a..maaf. aku harus pergi. Tapi bukankah kita sama-sama sudah tahu?
Aku selalu berharap untuk kebahagiaanmu.
Dear shin dongho,
Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada. Benar bukan?
Ah.. betapa menyedihkannya,
 
Tapi tidak apa-apa.semuanya akan berlalu. Aku pergi tapi kau hidup. Aku yang harus meninggalkan mimpi-mimpiku, sedangkan kau mengejar mimpi-mimpimu. Hidup itu indah, jangan sampai kau membuangnya….
 
Kau tahu? Sejak kau berkata, bahwa kau berharap aku bisa hidup lebih lama. Aku benar-benar berharap dan meminta pada tuhan untuk menambah waktu hidupku.karnamu..
Juga saat kau memberiku bunga yang mekar dengan cantik di musim dingin. Aku benar-benar ingin hidup lebih lama…
Tapi apa yang bisa aku lakukan? Kita lakukan? Tidak ada. Semuanya sudah ditakdirkan. Kebahagiaanmu, kebahagiaanku.
Aku sudah menemukan kebahagiaan ku diakhir waktuku. Saat aku bertemu denganmu,dan itu cukup. Walaupun terlalu singkat untuk sebuah kebahagiaan, aku bersyukur. Aku benar-benar masih bisa merasakan cinta dan dicintai.
Bagaimana dengan kebahagiaanmu? Sudah kukatakan kau akan terus hidup, maka suatu saat kau akan menemukannya. Siapapun itu. Aku benar-benar berharap untuk kebahagiaanmu.
 
Kau boleh mengenangku. Menyimpanku dalam hatimu. Tap,i kau tidak boleh menutup hatimu. Tidak boleh berlarut-larut mengingatku. Itu akan menyiksamu.jebal~
 
Dongho-a, gomawo.. karna telah mencintaiku. Dan membuatku berharap.
Dongho-a, gomawo…karna telah hadir di saat-saat terakhir hidupku. Kau telah membuat saat-saat itu menjadi saat paling bahagia selama hidupku.
Jeongmal.. gomawo,,
Tetaplah hidup, dan bahagialah..
 
(jung eun ji)
 
 
Epilog :
 
I’m not sure yet but
I remember you in my dreams
My only one
You you you you
I always think about it to myself
Waking me up in the morning as the sun rises
.
Holding both of my hands
Looking at each other in the eyes
Smiling with me at my words
Like a drama, like a movie
The one, single person who’ll be beside with me and guard me
Come, come to me
Approach me, step by step
I’ve had dreams like this where you appear
Bye bye bye, sadness
You’ll make me smile
I’ve been waiting for so long
.
You you you, come into my heart
aaaaaaaa oh
My wishlist
My a aaaaaaa oh
My wishlist
.There’s one person
Who’ll secretly come to me
Into my dreams and make me smile
You you you you
Always make me laugh
You’ll make me fall into the sweetest dreams
I don’t know love
haven’t been behaving too badly
So someone will give me a warm smile
Whisper
 
(APINK,wishlist translation)
 
-END-
Aaaah… selesai juga ff nya,,penuh perjuanagan! Ditengah-tengah aku kehabisan kata-kata, ga tau gimana ngungkapin perasaan dongho ke eunji nya..
Eh.. di akhir, aku nangis Bombay.. #bikinsendiri,nangis sendiri# ngebayangin jadi jung eun ji.. haha
Aaah.. yang penting sekarang udah selesai!! Ayo cingudeul, share pendapat kalian ya..
Semoga kalian suka😄 and THANKS FOR READING.. GAMSAHAMNIDA!
Chaka (writer) keisya kim