A fanfiction about Kim and Kwon’s broken love story

Fail fic! Fail romance! Fail sad!

No aberzombies, and enjoy.

Thanks for Joe Jonas in his ‘Critical’ music video~

@aldilalalala writes this broken love story

 

 

(P.S: comments are needed)

(P.S: Has been published at my facebook and wattpad -> http://www.wattpad.com/2949062-a-fanfiction-about-kim-and-kwon%27s-broken-love )

 

 

Almost forget. This story is titled as ‘Critical’.

 

 

 

 

 

 

“Hyung! Waeyo??”

 

Inikah yang disebut dengan kehilangan untuk kedua kalinya?

 

“Hyung, waeyo??!”

 

Dan inikah yang dinamakan frusitasi?

 

“Ya, hyung! Waeyoooo??”

 

Aku tak tahu. Aku hanya ingin ia kembali..

 

 

***

 

Kutatap nyalang hamparan air sungai Han yang menyimpan begitu banyak memori tentangku dan dirinya. Kupandu mataku untuk menyusuri keadaan sungai Han pada malam hari ketika bulan sabit tengah memantulkan cahaya keemasannya pada permukaan jernih air sungai ini. dan sekarangaang, jemabtan. Sebuah jembatan yang pada sisi kanannya berfungsi sebagai air mancur nampak kokoh dan juga indah ketika jembatan tersebut menyemburkan air dengan berbagai variasi warna dan kecepatan.

 

Jembatan itu telah menjadi saksi bisu kisah kasihku dan dia. Ketika kami berkejar-kejaran di tepi jembatan tersebut, ketika ia hampir saja tertabrak sebuah minibus, ketika ia ini mencoba menceburkan diri ke sungai Han, ketika ia melemparkan selembar sepuluh ribu won ke sungai Han, dan ketika ia mencoba melakukan percobaan bunuh diri berkali-kali.

 

Jembatan itu pula yang menjadi saksi bisu ketika aku menyatakan rasa sayangku padanya. Pada sebuah malam, di tengah hujan deras yang mengguyur Seoul hampir seharian penuh. Saat itu juga, ia hampir saja kehilangan nyawanya.

 

Aku tahu, begitu banyak kenangan yang terkubur dari kisahku ini. Begitu banyak air mata yang tercurah dari kisahku ini. Begitu banyak pengorbanan yang kulimpahkan dari kisahku ini. Tetapi ia meninggalkanku dengan alasan konyol miliknya.

 

Dia berkata, aku terlalu cassanova, aku terlalu mewah, aku terlalu tinggi. Ia berkata, ia tak tahan dengan sikapnya pada video klip yang kubintangi. Ia muak dengan semua gadis pada video itu. Ia benci dengan sentuhan yang para gadis itu beri padaku. Ia cemburu.

 

Ia tak mengakui bahwa ia cemburu. Dan dari sorot matanya, ia memang tak cemburu. Dari gestur tubuhnya selama ini, ia nampak biasa saja dengan pekerjaan yang cukup lama telah aku geluti. Tetapi mengapa ia memutuskan hubungan kami?

 

Rahasia. Ia menyembunyikan sebuah rahasia. Aku benci mengetahui bahwa ia tidak selalu jujur kepadaku. Aku benci mengetahui kenyataan pahit itu. Aku benci menyadari bahwa ia adalah pembohong yang payah.

 

Tetapi, aku tetap mencintainya. Akan selalu mencintainya.

 

 

***

 

 

now you are no longer next to me
that is the truth, i don’t want to believe it
come back to me, even if i say this many times
all of this just has to be a lie right now

 

Beast – Fact

 

 

 

***

 

Aku tak mengetahui apabila menangis sepanjang malam akan membuat mata merah dan sakit serta badan pegal-pegal. A tak tahu kalau Seungri ternyata telah mencemaskanku semalaman. Dan aku juga tak mengetahui bahwa malam telah berubah menjadi pagi.

 

Di sofa panjang inilah aku tertidur. Dengan selembar seprei yang menyelimutiku. Tanpa bantal, tanpa alaram, tanpa handphone. Aku tidur dengan posisi, well, anggap saja posisi yang tak terlalu nyaman. Dan kini, aku tengah duduk sembil mengucek mata kananku dan memikirkan apa yang akan aku lakukan hari ini. Sangat bersemangat hingga aku tak sadar bahwa tidak ada seorangpun di ruang tamu ini selain diriku.

 

Namun, rasa frustasi kembali menyerangku ketika sebuah figura dengan foto seorang gadis tersenyum manis dengan diriku yang merangkul pundaknya. Foto diambil sehari setelah upacara kelulusan SMA-nya, ketika kami berdua dan Song Jiyoung sedang jalan-jalan di Lotte World. Foto itu diambil saat menggunakan kamera polarid miliknya. Dan aku merasakan aura bahagia terpancar dari foto tersebut. Namun aura bahagia tersebut malah memberikan efek negatif padaku dan membuatku ingin merobek foto tersebut.

 

Tapi, apa daya. Melempar figuranya supaya kaca pelapis foto tersebut pecah berkeping-keping saja tak sanggup, apalagi merobek foto tersebut menjadi potongan-potongan tak berbentuk, pasti takkan mungkin terjadi. Aku hanya dapat, hanya dapat menatap foto tersebut dengan hati yang tercabik. Gadis itu, ia telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan romantisme kami. TTATT

 

Ah. Persetan dengan foto dan figura itu! Come on, G-Dragon! You have to move on! Without her, life is not over yet!! You still have your fans! Lots of fans that more important from her! You still have another Big Bang’s member that more care than her! You’re an artist! You must be professional!

 

‘Till she say no more..

 

Hening menyergap ruangan itu setelah aku bergelut dengan benakku. Dan keheningan tersebut, pecah begitu saja.

 

“ARGH! TERKUTUK KAU! KAU KIRA, KAU DAPAT MEMBOHONGIKU DENGAN TATAPAN GILAMU ITU?! KAU KIRA KAU DAPAT BERKATA TAK MENCINTAIKU LAGI DENGAN SUARA LIRIHMU?! KAU KIRA KAU DAPAT BERKATA BAHWA AKU TAK MEMIKIRKANMU LAGI KARENA GADIS-GADIS DI VIDEO KLIP BIGBANG?! MENURUTMU DENGAN AKU PUTUS ASA SEPERTI INI KARENA KITA PUTUS MEMBUAT KAU BERPIKIR AKU TAK MENCINTAIMU LAGI, HAH?!!” aku fustasi, berteriak-teriak gila mungkin dapat menghilangkan sedikit rasa frustasiku. Naum kenyataan tak sesuai dengan harapanku.

 

“Hyung, kalau kau bilang kau masih mencintainya, masih sayang padanya, masih membutuhkannya, atau masih apapun itu menurut kamusmu, kejar dia. Jangan hanya berteriak-teriak di dorm ketika kau pikir tidak ada kehidupan selain dirimu. Masih ada aku dan Gaho, kau tahu?!”

 

Tiba-tiba Seungri datang menceramahiku—dengan Gaho, peliharaanku, yang menekorinya—karena aku hanya meratapi nasib saja. Wajahnya nampak lelah, kantung matanya terlihat lebih besar dari biasanya. Dan tak biasanya ia memakai piyama. Piyama berwarna kapas. Dan sebuah sandal hotel milikku.

 

Ia datang dengan penampilan buruk seperti itu lalu menyuruhku untuk mengejarnya? Memangnya gadisku akan pergi kemana?

 

“Apa maksudmu dengan kata ‘mengejarnya’?” tanyaku pada Seungri yang sedang membuka sebotol air mineral yang ia bawa dari tadi.

 

“Tadi, beberapa menit sebelum kau berteriak-teriak gila, ia mengirimkan aku pesan, ‘I’ll be in a sky of crowded place around 8am. It’ll bring me to an island close to the great wall city. Just, fyi.’. Kalau tidak salah, sih, seperti itu tulisannya. Aku tak tahu bandara yang mana. Tapi yang aku tahu, sekarang sudah jam setengah delapan.”

 

Selalu penuh teka-teki, khasnya. Aku memejamkan mataku sejenak dan mencoba mencerna pesannya. Ia mengatakan ‘the great wall city’, itu sudah pasti Cina. Namun, sebuah pulau di dekat Cina? Ada begitu banyak pulau yang mengelilingi Cina. Namun hanya satu yang memiliki daya tarik di mata gadisku ini. Makau.

 

‘Sky of crowded place’? ‘crowded place’? Tempat yang ramai? Di langit? Apakah yang ia maksud bandara? Aku harap itu benar.

 

Aku bangun dari dudukku dan berlari menuju kamarku. Seungri yang menyadari bahwa aku telahh memecahkan lokasi dimana ia berada. Ia hanya tersenyum sambil berkata ‘Semoga beruntung, hyung!’ lalu ia membereskan sofa  yang aku tiduri.

 

Aku berlari tergesa-gesa dan hampir saja tersandung tali atau kabel—aku terlalu panik untuk mengetahui itu benda apa, dan ketika sampai di depan kamar, kubuka pintu kamarku secara kasar dan kubiarkan terbuka.

 

Di dalam kamar, aku mengambil acak parfum homme yang ada di meja riasku. Aku belum mandi, tak cukup waktu untuk mandi, dan aku tak mau mengambil resiko badanku menguarkan bau tak sedap ketika menemuinya nanti. Kubuka tutup botol parfum yang kupilih  dan tutup botol itu kulempar asal. Setelah empat kali menyemprotkan parfum, botol parfum itu kulempar ke kasur agar tidak pecah lalu kusambar sebuah jaket berwarna hitam, sebuah topi, dan selembar masker. Tak lupa kuambil kunci mobilku, dompet, paspor, dan sepasang sandal. Setelah kupikir apa yang harus kubawa telah lengkap, aku berlari keluar kamar.

 

“Seungri-ah! Aku pergi ke Incheon airport, oke? Take care the dorm! I’m leaving!” pesanku  kepada Seungri sambil berlari menuju pintu dorm.

 

Kubuka pintu dorm itu dan berlari ke arah kanan untuk mengambil jalur lift. Samar-samar, aku mendengar suara khas Seungri yang meneriakkan sesuatu.

 

“Hyung, dari yang kutonton di televisi barusan, jalur mobil ataupun tol menujur bandara Incheon semuanya macet. Kusarankan kau menggunakan sepeda saja. Jarak antara dorm kita dengan bandara cukup dekat! Dan jangan sampai hyung ikut pergi ke Shanghai!”

 

Tak ada waktu untuk mencari pinjaman sepeda, Seungri-ah. Aku sadar aku takmungkin mengejanya sampai ke Shanghai. Tetapi aku akan berlari mengejarnya. Aku akan berlari dan menghalau kata terlambat..

 

 

(End of G-Dragon’s POV)

 

***

 

 

“Kau benar-benar akan pergi ke Makau, darl?” tanya Rose kepadaku yang sedang mengambil sebuah koper merah dari dalam bagasi mobil miliknya. Aku hanya menganggukan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya.

 

“Kau benar-benar memberi tahu maknae Big Bang tentang keberangkatanmu ini?” tanyanya lagi sambil menutup kap bagasi mobilnya. Aku hanya menggeleng, lalu memberitahu Rose bahwa aku memberikan sebuah teka-teki untuknya.

 

Rose hanya dapat menghela napasnya dan kembali berbicara. “Tapi mengapa kau putus dengan Ji-oppa???” pertanyaan yang sudah kuduga beratus-ratus menit sebelum aku membuat keputusan itu.

 

Kali ini gantian aku yang menghela napas panjang lalu bersender pada mobilnya.

 

“Vice president menyuruhku putus dengannya kalau aku ingin tetap bekerja dengannya.”

 

“Well, dia tak mungkin melepasmu begitu saja hanya bila kau tak mau putus dengan Ji-oppa. Kau itu aset yang ypaling berharga di perusahaannya kita.” Bantah Rose.

 

Apa yang Rose katakan memang benar sih, mengapa aku bisa sebodoh itu? Ah, tapi vice president tidak pernah bercanda. Masih ada kemungkinan aku dikeluarkan dari perusahaannya bila aku tidak dengan terpaksa memutuskan hubungan romantismeku dengan Jiyoung oppa.

 

“Tapi vice president tidak pernah bercanda. Ia selalu serius.” kilahku. “Memangnya aku rela melepaskan gelar ‘pacar G-Dragon’ dan membuangnya begitu saja? Aku membuat begitu banyak pertimbangan dan itulah keputusanku, ya know. Aku hanya berharap, dia dapat menungguku sedikit lebih lama. Itu saja. Aku sangat menginginkannya dan mendapatkan panggilan ‘Ms. Kwon’ dari orang-orang. Aku ingin ia menjadi suamiku… Yayaya!! Jangan tertawa! Ada yang lucu kah?” My God, terlalu jujurkah pengakuanku kepada Rose hingga membuatnya tertawa begitu bahagia?

 

Setelah menunggu gadis manis dari Mokpo itu berhenti tertawa, kami berjalan memasuki bandar udara internasional Gimpo. Bandara yang cukup dekat dengan jalur menuju Incheon, tetapi tidak dekat juga sih.Dan bandara ini juga menggabungkan tempat berbelanja, kebudayaan, dan bisa dijadikan tempat untuk mengisi waktu luang.Dan setaahuku, bandara ini dibuat oleh tentara Jepang beberapa tahun sebelum Korea merdeka.

 

“Kau ingin ia menunggumu? Kalau dia tak sabar menunggumu bagaimana?” tanya Rose tiba-tiba dengan wajah polos dan perkataannya itu sukses merobek harapan besar yang kuletakkan pada pundak G-Dragon.

 

Lagi-lagi, aku menghela napasku. “Dan disaat itu juga, aku akan jatuh ke dalam lubang keputusasaan. Sama seperti dia sekarang.”

 

Jawabanku cukup kuat untuk membungkam Rose dan kami berjalan dalam diam hingga kami sampai di gate menuju Shanghai. Sebelum menunjukkan paspor, tiket, dan segala macam keperluan untuk memasuki gate tersebut, Rose mengajakku berbincang, lagi.

 

“Kau keluar YG Entertainment?”

 

“Yap.”

 

“Menghindari G-Dragon?”

 

“Aha.”

 

“Kau yakin keluar YG Ent? Kesempatan untuk menaikkan derajatmu di mata vice president lho.”

 

“Aku tak butuh jabatan.”

 

“Yakin?”

 

“Tigaratus enampuluh persen yakin.”

 

“Okay than, give me a warm hug?”

 

“Surely, darl~”

 

Dan dengan sebuah pelukan, perbincangan kami berakhir dan Rose berpesan agar aku hati-hati di Makau sana dan selalu makan supaya badanku berisi. Ia masih menganggapku tulang berjalan.

 

Lalu, aku berbalik dan berjalan menuju gate menuju Shanghai. Aku akan menaiki Shanghai Airlines dan kira-kira akan sampai di Shanghai pukul sepuluh atau sebelas pagi. Lalu aku akan menaiki kapal meuju Makau. Aih, senangnya~~

 

Setelah urusanku di depan gate selesai, aku memasuki gate tersebut dan mencari ruang tunggu penerbangan. Apakah aku jahat? Merasa senang diatas benderitaan orang lain. Senang karena bisa liburan. Bisa liburan ke Makau, sendirian, selama lima hari, dan dibiayai oleh vice president.

 

Kini aku tengah mencari sebuah brosur tentang Makau ketika posel flipku berbunyi. Tanpa melihat siapa yang menelepon, kubuka filp poselku.

 

“Yoboseyo?” tanyaku pada si penelepon.

 

“Ya! Eodiissneun geoni?!” si penelepon itu malah bertanya tentang dimana aku. Dari nada suaranya, sepertnya ini Key oppa.

 

“Na? Jega Gimpo gonghang-eseo.” Aku mendapatkan sebuah teriakan dari Key oppa. Mengapa Kibum oppa harus terkejut? Biasanya ia hanya berkata ‘oh, jaga diri ya.’ Atau hanya ‘oh’. apa jangan-jangan ini bukan Kibum oppa? Melainkan, Seungri??! Setuli itukah telingaku sampai tak dapat membedakan suara mereka?

 

“I, i Seungri ingayo?” tanyaku perlahan. Dan aku mendapatkan sahutan ‘ne’ darinya. Aku segera menutup flip ponselku kemudian mencabut baterai dan sim cardnya. Selesai. No more calls from anyone.

 

Dan kini aku hanya perlu duduk diaam dan memasang senyum manis untuk menyambut kedatangan pesawat menuju Makau.

 

 

(End of ‘me’ POV)

 

***

 

 

Aku tak dapat menghubungi Jiyoung hyung karena ia meningkalkan poselnya di toilet. Pabo. Jeongmal pabo saram. Keurigo*, mianhae hyung. Geunyeoga eodi itneunji malhal su eobseoyo**. Mian…

 

 

(end of Seungri’s POV)

 

***

 

 

Incheon International Airport. Setelah membeli tiket menuju Shanghai, kupacu lariku menuju ruang tunggu pesawatnya. Mengapa Shanghai? Karena ia pernah berkata, ‘Bila aku akan mengunjungi Makau, aku akan berjalan-jalan dulu di Shanghai. Aku mau shopping!!!!’

 

Dan pukul berapa sekarang? Jawabannya adalah pukul delapan lewat tujuhbelas menit. Dimana aku sekarang? Di tengah-tengah lorong menuju pesawat.

 

Aku membeku karena aku tahu pesawat yang ia tumpangi kini telah lepas landas dari Seoul dan sedang melakukan perjalanan menuju Shanghai. Aku membeku karena melihat sebuah memopad berwarna kuning yang ditempelkan pada dinding kaca di lorong itu yang sepertinya baru dipasang oleh sorang petugas bandara itu. Dan aku lebih membeku saat membaca pesan pada memopad itu. Aku tahu, memopad itu memang ditujukan padaku.

 

 

G, wrong place, baby. Wrong place like the first time I dated you.You remember the messange that I texted to Panda? ‘I’ll be in a sky of crowded place around 8am. It’ll bring me to an island close to the great wall city. Just, fyi’ Do you feel there’s something odd in there?

 

 

Aku bingung. Aku bingung dengan pesan yang ia maksud. Apa yang ganjil?

 

Kuluruskan pandanganku, dan kutemukan memopad lain yang tertempel pada dinding kaca lorong ini. aku berlari kearah memopad itu dan kubaca pesannya.

 

 

G, marked the sentence ‘sky of crowded’ and ‘the great wall city’. Feel the oddity? If I am you, I feel it.

 

 

Kembali kuedarkan pandanganku di ruangan itu. Memopad ketiga berada tepat di pintu menuju ke lapangan penerbangan.

 

 

G, sky of crowded, you think it’s airport, right? You’re right, but you’re also wrong. And, the great wall city. You guessed as China. You’re right again but also wrong again.

 

 

Memopad ke empat berada persis di bawah memopad ini.

 

 

G, there’s no the great wall city. There’s the great wall of China. Sky of crowded? Just the word game. What I meant is airport. But, without the word sky.

 

 

Jadi, ternyata ia memberitahu dimana bandara yang ia tuju? Dan itu bukanlah Incheon? Lalu, kunci dari tempat tersebut adalah kata ‘city’ dan ‘sky’. ‘City Sky’ atau yang ia maksud adalah.. ‘Sky City’? dadaku terasa sesak dan aku ingin tertawa pada kebodohanku.

 

Tak jauh dari tempatku berdiri, sebuah memopad tertempel pada lantai lorong ini. dengan langkah gontai, kudekati memopad tersebut.

 

 

G, you’re a pure Korean people. You also know the epithet of some places in here. You know the ‘Sky City’ airport, right? Correct, it’s Gimpo. It’s Gimpo and not Incheon or the other airport.

 

 

Aku yang membaca memopad itu, merosot duduk dan mulai menertawai diriku sendiri. Ia sering memberitahu tempat yang akan menjadi tempat kencan kami dengan permainan kata dan aku selalu bisa menebaknya. Dan sekarang, kalimat ‘Aku akan berlari dan menghalau kata terlambat’ hanyalah sebuah kalimat belaka, tanpa sebuah pembuktian. Kurasakan bulir-bulir air bening menganak sungai di pipiku. Kepalaku tertunduk dan tanganku terkulai lemas di samping badanku.

Sebuah tangan putih mulus terjulur dan menyodoriku sebuah memopad yang kurasa memopad terakhir. Ia juga membawa sebuah cincin berwarna perak. Seseorang itu memakai sepatu berhak tinggi, khas wanita. Secercah harapan muncul, mungkin, ia adalah gadisku.

 

Kusambut uluran tangannya, kuraih memopad dan cincin yang ia pegang, kemudian kugenggam tangannya. Ku dongakkan kepalaku dan kusadari bahwa ia bukan gadisku. Ia hanyalah seseorang yang gadisku suruh untuk mengantakan secarik memopad yang mungkin semakin menghancurkanku. Seketika, cincin itu jatuh dan meneriakkan bunyi yang sangat memilukan.

 

 

G, you know that I don’t love you anymore. Here’s the ring you gave to me. Always remember my word game. With hate, Kim.

 

 

 

(End of G-Dragon’s POV)

 

 

The ring that I placed on your finger
Has coldly returned to my hand
Along with my heart.
The last gift
Is heartbreak

 

SHINee – Last Gift

 

 

 

 

***

 

FIN..

 

 

Keterangan:

 

* (Keurigo): And also

** (Geunyeoga eodi itneunji malhal su eobseoyo): I can’t tell you where she is now