Title                       : my savior, I love you :* (PART 1 – meet a crush, for the first time )

Author                  : yellowcandy

Main Cast            :Alexandra Han (OC), Kim ‘key’ kibum SHINEE and other shinee member, lee dong jung

Length                  : 2 shots

Genre                   : romance,  friendship

Rating                   : general, PG-13

Cerita ini milikku, tapi key dan yang lainnya milik tuhan dan keluarganya, happy reading J

Key’s pov

Sore ini aku baru saja landing di korea, setelah perjalanan yang cukup melelahkan dari jepang akhirnya aku dan shinee team sampai juga di negeri kami ini. Aku melirik sekilas kearah pantulan diriku di cermin besar di bandara incheon,  tampan batinku. Aku tersenyum simpul, berusaha menguapkan kelelahan saat blitz-blitz kamera itu mulai menyerangku dan temanku yang lain.

Entah karena kesibukan yang luar biasa yang membuatku kelelahan atau karena makanan pesawat yang tadi kumakan, entahlah, tapi yang jelas sekarang ini aku benar-benar mual. Aku menyenggol lengan minho, sontak dia melirik ke arahku, dia menaikan kedua alisnya,tanda menanyakan ada apa.

“aku mual” bisikku

Dia mengerutkan dahi, dan megeluarkan ekspresi yang  sulit ditebak.

“aku ingin ke toilet” kataku hanya dengan gerakan bibir, menunggunya berbicara sama saja dengan menunggu musim panas di kutub utara. Tanpa meminta persetujuannya, akhirnya aku menyampaikan keinginanku pada manager hyung, kenapa tidak dari awal saja ya -_-

Mualku makin tak tertahan, terlebih saat melihat tanda toilet di atas pintu, aku masuk dengan tergesa masih berusaha mengurangi mual. Dan tepat saat aku berhadapan dengan toilet duduk, aku sedikit berjongkok dan akhirnya muntah. Agak lega rasanya.

Tapi ternyata muntah tidaklah menyelesaikan masalah, aku merasakan hal yang lebih buruk kemudian, kepalaku sakit dan pandanganku mengabur. Aku keluar dari kamar kecil bertoilet duduk itu dan sedetik kemudian mendengar suara jeritan seseorang, seorang…….yeoja? kepalaku makin sakit, dan yang bisa kulihat hanyalah bayangan hitam dan kuning yang bergantian, dan tak lama setelah itu, segalanya tampak hitam.

**

sandra’s pov

“kau tunggu disini” ucapku dengan nada sedikit memerintah pada supir suruhan ayahku itu didepan sebuah pintu bertuliskan “toilet” dengan gambar female di sampingnya.

Ah. Sekarang aku berada di bandara terbesar di korea selatan, kalau tidak salah namanya mmm incun? Eh incon? Ah entahlah, yang pasti sekarang aku berada disana. Saat landing tiba-tiba aku ingin buang air, karena itulah dengan gerakan paling gesit yang pernah kulakukan aku pergi mencari toilet!

“aaah, lega” kataku setelah acara buang airku selesai~ aku keluar dari kamar kecil itu dengan perasaan nyaman – kau tahulah bagaimana rasanya menahan buang air. Tapi kemudian aku dikagetkan dengan keluarnya seorang pria dari salah satu bilik, mukanya pucat dan dia terus memegangi pelipis, tanpa pikir panjang – kau tahu apa yang kulakukan – aku teriak. Benar-benar teriak sampai kurasa suaraku terlampau sangat keras hingga pria pucat di hadapanku ini memandang ke arahku dengan muka kaget tapi pandangan yang tidak focus, dan detik selanjutnya aku mendapati pria pucat itu jatuh dan pingsan. Double crap.

Mau tak mau, karena penasaran, akhirnya kudekati tubuhnya, aku mengibas ngibaskan tanganku didepan mukanya dan reaksinya nol, itu artinya dia benar-benar pingsan.

Aku mengeluarkan hp-ku, berusaha setenang mungkin.

“ahjussi, masuklah kemari, aku butuh bantuan” klik. Aku menutup sambungan telponku untuk supirku tadi. Dan dalam hitungan detik dia sudah berada disampingku.

“ada apa nona?” tanyanya heran dan matanya dengan praktis terfokus pada pria yang pingsan tadi.

“eh, apa kita harus membawanya ke rumah sakit?” pikiranku untuk membiarkan pria ini pingsan sendirian menguap sudah saat melihat mukanya yang makin pucat, dia tampak kesakitan dalam pingsannya, membuatku tak tega.

“kau mengenalnya?” Tanya supirku, aku menatapnya dengan ekspresi horor, apa dia bodoh?ini kali ke4 atau ke5 nya aku ke korea, bagaimana mungkin aku bisa mengenalnya.

“tsk..”aku mendecak pelan dan melanjutkan “do u think so?” kataku dengan nada dingin yang cukup untuk membuatnya berhenti berpikiran bodoh seperti tadi.

“kau tahu rumah sakit paling dekatkan?” dia mengangguk “bawa dia” kataku lagi.

**

Key’s pov

Aku tak tahu sudah berapa lama tidur seperti ini, dan lagi aku tak ingat kapan terakhir aku tidur senyaman ini. Tiba-tiba saja bau-bau aneh menyergap hidungku, yang mau tak mau membangunku dari tidur super nyaman tadi. Mataku mengerjap beberapa kali dan dengan praktis aku merasakan ngillu luar biasa di kepalaku.

“erggh” erangku, aneh, padahal aku mengerang sekuat tenaga, tapi mengapa yang keluar dari mulutku hanya decitan pelan?

“dia sudah sadar” ucap seseorang, dari suaranya …. Aku rasa itu taemin. Sebentar, apa maksudnya? Bukankah tadi aku hanya tertidur biasa? Pikiranku melayang menuju kejadian beberapa saat lalu, toilet, muntah, pingsan, tunggu! Pingsan? Apa aku baru saja pingsan? Aku mengerjap ngerjapkan mata, dan menangkap 3 orang namja yang sedang mengerubungiku.

“syukurlah, tadi kau pingsan”ucap suara lain dari belakang, tuhkan benar, aku pingsan.

“dan kau pingsan di toilet perempuan” kata jjong hyung sambil terkikik dan diikuti yang lain.

“mwo?”kataku, yang benar saja?! Tapi tadi memang ada suara jeritan perempuan, jadi tadi aku tak salah dengar?  Aku menghela napas panjang.

“lalu.. yang membawaku kemari siapa?” tanyaku penasaran.

“seorang yeoja, dia menelponku dan mengatakan kau dirumah sakit ini” kata onew hyung, sebelum aku menyela dia sudah melanjutkan “kami panik, dan langsung kemari, saat kami sampai yeoja itu langsung pergi” onew menghela napas.

“eh ini handphone siapa?” kami ber4 langsung melirik ke arah taemin dan terfokus pada sebuah handphone di tangan kanannya . Aku tak terlalu ambil pusing, termasuk saat tidak ada yang mengakui itu milik siapa.

“mungkin milik yeoja tadi?” kata jjong dan dibalas muka bengong kami. Bisa juga..

**

sandra’s pov

“papa menelponmu mengapa tak kau angkat?” aku mendongakkan kepala, sementara tanganku masih sibuk menarik koper big size-ku masuk ke rumah baru papa.

“aku menggunakan silent mode jadi tak terasa” kataku, alibi klise. Sebelum papa menceramahiku aku buru-buru menyudahi “ pa, kamarku yang mana? Aku cape”, dan benar saja papa langsung membungkam kembali mulutnya dan dengan senyum lebar meggandengku menuju sebuah ruangan.

Aku menghempaskan tubuh di salah satu sofa di kamar yang akan kutempati ini dan mengeluarkan semua isi tasku. Aku menatap barang-barang yang kini dihadapanku, mengeceknya satu persatu, SLR, make-up stuff, jurnal, pembalut, gelang-gelang, kertas makanan yang tadi kubeli di bandara, mana satu lagi??? Mana handphone ku?!!! Mataku dengan liar menelusuri isi tas, sampai-sampai kubalikan, dan hasilnya nihil. Okay, jangan panik, take a deep breathe, inhale exhale inhale exhale.

aku sudah memeriksa semua barang bawaanku, termasuk tempat baju dalamku, tapi tidak ada. Baiklah.. tenang.. ingat-ingat tadi kau kemana batinku..

bandara, toilet, pria pingsan, rumah sakit.. mm rumah sakit? Ah benar!! Aku menyimpanya di atas meja di kamar laki-laki tadi di rawat!

“kita ke rumah sakit yang tadi” titahku pada supir yang sejak dari bandara menemaniku, ternyata namanya dong jun, dong jun ahjussi.

“memangnya kenapa?” tanyanya

“hp-ku tertinggal disana” balasku cepat, kalau kau bertanya mengapa aku bisa sangat lancar berbahasa korea, jawabannya adalah karena papaku bekerja disini dan sejak umurku 3 tahun aku diharuskan kursus bahasa korea, aku pernah 4-5 kali kemari, untuk sekedar liburan atau menjenguk papa, dan sejak kedua orang tuaku bercerai, aku tetap di Indonesia bersama ibuku dan ini pertama kalinya aku kembali kesini sejak mereka bercerai.

Kakiku terasa lemas saat melihat kamar 218, kamar yang tadi digunakan laki-laki pingsan itu, sudah tak berpenghuni, dan tidak ada handphone ku! Aku ingat aku menaruhnya disana –  jangan remehkan kemampuan mengingatku – dan sekarang tempat itu kosong.
“suster, apa pasien 218 sudah pulang?” tanyaku saat sampai di meja resepsionis, asal kau tahu, tadi aku berlari dari lantai 2.

Dia tampak memeriksa komputernya, lalu mendongak ke arahku.

“iya, satu jam yang lalu” katanya, lalu beralih ke orang disampingku yang entah menanyakan apa.

Aku menghela napas panjang, lalu sekarang bagaimana?

“nona” kata supir – eh dong jun ahjussi – sambil menepuk pundakku, jelas membuatku kaget.

“ya?”

“mengapa tak kau coba telpon saja?” tanyanya dengan tangan menyodorkan sebuah hp, sebuah senyuman terukir di wajahku, mengapa tak terpikirkan olehku?

Tut.. tut..tut..tut..

Suara tut yang panjang mengakhiri sambungan.

Aku mendengus sebal

Ku telpon lagi

Tut..tut..

“yeobseo?” suara seorang namja dan di belakangnya bisiiiiiiiiing sekali.

“yeobseo?” ucapnya lagi.

Eh

“ini aku, pemilik hp itu, bisakah kau kembalikan hp-ku?” kataku to the point, suara berisik di sana membuatku menjauhkan gadjet itu dari kuping.

“ah~ kau, tentu saja, datang saja kemari, alamatnya akan ku kirimkan lewat sms”

“ok, thanks” kataku, mengakhiri pembicaraan

Tak lama setelah itu, sebuah pesan masuk, dan tentu saja itu dari nomorku.

“ahjussi, bisakah kau antarkan aku kemari?” Tanya ku sambil memperlihatkan isi pesan namja tadi.

“tentu saja” balasnya dengan mantap.

**

Key’s pov

“dia akan kemari” kata jjong tepat setelah menutup telpon dari handphone yang tadi di temukan taemin.

“dia siapa?” Tanya onew, pertanyaan yang agak bodoh, tapi aku juga hampir akan menanyakan hal yang sama.

“orang yang punya handphone ini” jjong berhenti sebentar dan air mukanya langsung berubah ceria  “aah~ berarti kau akan segera bertemu penyelamat nyawamu” ucapnya sambil melempar sebuah senyum aneh ke arahku.

“aaaaah~ benar” kata yang lain menimpali.
“ya key, mukamu kenapa? HAHAHAHA” aku memegangi mukaku, memangnya muka ku kenapa?! Aku hanya sedikit gugup akan segera bertemu dengan orang yang dengan susah payah membawaku ke rumah sakit, aku hanya ingin tahu seberapa kuatkah orang itu, itu saja, lalu, kenapa dengan mukaku? Errrrrrr

Tadinya kami berniat menemuinya di SMbuilding tapi karena pekerjaan kami disana sudah selesai, jadilah kami mengganti tempat pertemuannya, di dorm kami.

annyeong” sapanya sambil sedikit membungkuk, kesan pertama yang kudapat dari gadis ini dia aneh. Dia bukan orang korea, aku yakin itu, dua mata bulat agak menyipit dan kulit kuning itu sungguh bukan khas korea.

“annyeong” balas kami bersamaan. Dia menatap kami bergantian, dan berhenti sangat lama saat menatapku, hmm membuatku gugup saja.

“kau sudah sembuh?” tanyanya dengan suara agak serak, tuhkan, seperti kubilang, dia bukan orang korea, aksennya saja aneh.

“ah.. sudah” jawabku singkat

“kau masih pucat” katanya lagi

“aku memang berkulit pucat” jawabku dengan nada agak ketus, aku bisa merasakan ke4 member lain terkikik.

“oh” bibirnya membentuk bulatan o sempurna. Well, cantik.

Setelah basa-basi tak penting semacam tadi (juga perkenalan nama masing-masing), akhirnya dia meminta hp-nya yang tertinggal di rumah sakit tadi siang.

“thank you” katanya sambil membungkuk ke arah kami.

“welcome” jawabku, aku melirik pada teman-temanku yang lain, mengapa hanya aku yang menjawab? Menyebalkan.

“baiklah, aku rasa akan pulang sekarang, sekali lagi termakasih” ucapnya ditambah seulas senyuman.

Setelah gadis bernama Alexandra itu pergi, keadaan dorm mendadak ribut!

“aigoooo, neomu neomu kyeopta” aku medelik kearah jjong, benar sih, tapi dia kan aneh!

“ya benar, jjong, kau masih menyimpan nomornya kan?” Tanya onew, pertanyaannya membuatku gerah, entah kenapa.

“ya, hyung hentikan!” kataku sedikit membentak

“ya yeobo, mengapa kau begitu?” aku menghentakkan kaki menuju kamar, mengabaikan ujaran onew barusan, aku juga tak tahu mengapa bisa sekesal itu, harusnya reaksiku biasa saja kan? Argh, tapikan dia penyelamatku, harusnya hanya aku kan yang boleh seperti itu padanya?  uh!

Key’s pov

Aku benci hari ini, jadwal shinee sangat padat, bahkan membuatku sedikit susah untuk bernapas-_- aku butuh refreshing, aku butuh belanja! Setelah perdebatan hebat dengan diriku sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk membolos di jadwal latihan sore ini hehehehe

Dengan penyamaran tingkat tinggi ku – well, padahal hanya sebatas rambut palsu, masker hello kity, syal dan baju aneh yang bukan “aku” banget – aku berjalan dengan santai di jalanan kota seoul, Merasakan angin kebebasan di setiap hembusan napasku – kadang aku merindukan menjadi “normal”.  Suasana mengarubiru tadi tiba-tiba terhenti saat seseorang yang berjalan berlawanan arah denganku menubruk tubuhku dan menumpahkan sejenis cairan hitam di syalku, perlu digaris bawahi itu adalah syal baruku, yang kubeli beberapa waktu lalu di rusia, dan orang di depanku merusaknya?!! Yang benarsaja!

“maaf” ucapnya sambil membungkuk. hm, seorang yeoja ternyata, aku tak peduli, dia merusak syal baruku, dia harus bertanggung jawab!

Aku yakin dia melihat syalku yang kini berwarna hitam, karena setelah itu dia langusung bilang “ aigoo, aku menumpahkan kopiku, maaf, sungguh” huh, yang benar saja, dia pikir noda kopinya itu akan hilang hanya dengan ucapan maaf?!

Dia kemudian berhenti menunduk, dia berdiri tegak dihadapanku dan membuka kaca matanya, satu hal yang langsung terpikir olehku adalah aku pernah melihat wajah semacam ini!

“maaf” katanya lagi dengan nada tanpa dibuat-buat, aku rasa dia tahu syalku bukan syal murahan.

“Alexandra-ssi?” mulutku tanpa bisa kucegah mengatakan hal ini, ya, wajah dan suara dan aksen yang seperti ini memang milik gadis yang menolongku tempo hari, kalau tidak salah.

Wajahnya terlihat kaget, tapi hanya bertahan mmm mungkin sedetik, karena detik selanjutnya, dia kembali menampilkan wajah dingin seperti yang kulihat waktu itu.

“siapa kau?” tanyanya. nada memelas minta maaf yang dilakukannya beberapa menit lalu menguaplah sudah, kini suaranya terdengar lebih dingin dan mm bagaimana ya mm seperti mendoktrin.

Aku menurunkan masker hello kity ku dan membuka rambut palsuku dengan perlahan, tanganku bergerak sementara mataku berusaha melihat perubahan pada wajahnya, yang ternyata tidak ada.

“key” ucapnya, sambil mengulas senyuman tipis, sekali lagi.. cantik.

**

sandra’s pov

Baiklah, sekarang aku sedang berjalan menyusuri kota seoul dengan tas belanjaan di tangan kanan dan kiriku barusaja keluar dari coffee shop dan membeli secangkir moccacino kesukaanku, huwahhh hangat sekali.

Brukk

Aku menabrak seseorang? Duh, bodoh.

“maaf”kataku dengan sedikit membungkuk, sebagai tamu di korea, aku harus senantiasa menjaga kesopanan kan?

Mataku beralih ke syalnya putih tulangnya dan yang membuatku kaget adalah adanya cairan hitam yang kini menempel di bagian bawah syal itu, oh my…… coffee ku tumpah ke syal miliknya.

Setelah mengucapkan maaf dan menyesal karena menumpahkan kopiku, akhirnya aku menyerah, orang ini terasa seperti es batu, benar-benar dingin. Ergh tidak kah dia tahu aku pasti akan mengganti syalnya?

Aku berdiri tegak menghadapnya, pakaiannya aneh, aku bahkan berpikir mengapa di korea ada pria dengan sense fashion seburuk ini. Aku melepas kacamata hitam yang kupakai.

“Alexandra-ssi” ucapnya pelan, tapi cukup terdengar olehku yang berjarak beberapa senti darinya, bagaimana dia tahu?

“kau siapa?” tanyaku, ini pertama kalinya ada orang yang mengenaliku dijalanan seoul, karena itulah reaksiku agak berlebihan.

Aku melihatnya membuka masker hello kity yang dipakainya, juga rambut –yang ternyata rambut palsu –, sehingga terlihatlah rambut blonde pendek dibaliknya, tak perlu waktu lama hingga akhirnya aku menyebutkan namanya, toh dia cukup mudah dikenali.

“key”..

**

“maaf” kataku lagi setelah kami sampai di salah satu café yang kata key pasta-nya sangat enak, dan aku hanya menurut saja, lagipula aku juga sedang ingin pasta.

Dia menatapku sebentar, lalu membuang muka sambil tertawa setelahnya.

“ya! Mengapa kau tertawa?” tanyaku sambil pura-pura marah, ah tidak pura-pura sebenarnya, aku benar-benar marah, mm agak marah.

“hahahah, anio, mukamu sangaaaaat lucu” dia mencubit pipiku, aku yakin dia sadar dengan apa yang telah dia lakukan, air mukanya langsung berubah menjadi serius.

“maaf” katanya

“haha” tawaku meledak, kali ini mukanya lah yang sangat lucu hahahaha

“ya!” dia menatapku sebal

kemudian seorang pelayan membawakan pesanan kami, suasana hening dimulai, hanya suara dentingan sendok yang menyentuh piringlah yang menemani kami. Dan entah bagaimana caranya, suasana hening itu menjadi terasa sangat nyaman dan hangat untukku, belum lagi pasta yang kini dimulutku, segalanya terasa sangat pas. Aku tak pernah berpikir akan merasakan hal seperti ini di tempat yang baru ku datangi dan dengan orang yang baru kukenal, tapi bagaimanapun, aku menikmati ini semua.

**

Key’s pov

“gomawo keyyyyyyyyy” ucapnya sambil membungkuk 900 di hadapanku.

Sekarang aku berada di tempat yang Sandra ( dia memaksaku memanggil begitu karena nama Alexandra terlalu panjang menurutnya) bilang adalah rumah ayahnya, ya benar, aku mengantarkan dia pulang.

“with my pleasure” balasku. Dia tersenyum dan beranjak menuju gerbang rumahnya, tapi kemudian dia berbalik.

“kapan aku harus mengganti syalmu?”  tanyanya sambil menunjuk bagian bawah syalku yang warna hitam, aku tahu dia tidak bermaksud serius, jadilah kujawab “bagaimana kalau besok?” dengan senyuman paling tulus yang kupunya.

Dia tersenyum dengan tangan mengisyaratkan ok, dan kemudian meninggalkanku.

Entah kenapa tapi sekarang aku jadi gugup untuk bertemu dengannya besok, aku bahkan memikirkan baju apa yang harus kupakai, oh my god, aku seperti seorang gadis saja!!

**

Sekarang aku sudah siap di depan rumahnya, dengan baju yang lebih “aku” yang kuyakini takkan membuatnya mengeluarkan ekspresi aneh seperti kemarin.

“hai” ucapannya menghentikan lamunanku, aku memandangnya sekilas dan entah kenapa membuatku tersenyum sendiri.

“ya, waeyo?”

“eh? Anni, kau hanya…..” aku berhenti sebentar “cantik” lanjutku.

“hehe, kau juga, tidak aneh seperti kemarin” tuhkan, seperti perkiraanku. Aigoo dia tadi mengatakan kemarin aku aneh? Argh, aku menyesal harus menyamar segala!

“akan kemana kita?” tanyanya tepat setelah memasangkan seat belt di mobilku.

Aku tersenyum, ternyata mengganti kan syalku hanyalah sebuah alasan, aku merasa mendapat lampu hijau.

“ah~ butik yang mungkin menjual syalmu” belum juga aku berkomentar, dan bahkan senyumku pun belum hilang, hh ternyata bukan alasan. Lampu hijauku kembali meredup.

“tidak usah, kita ke tempat lain saja” kataku buru-buru, lagipula aku bisa membeli syal sendiri nanti, akan berpikir apa dia tentangku nanti kalau dia benar-benar membelikanku syal baru, huh memalukan.

“ok, up to you” jawabannya singkat tapi lagi-lagi membuatku ingin tersenyum

“kita makan dulu ya” kataku

Hari ini akan sangat panjang dan menyenangkan..

 

 

*TBC*

HOW?? Bagaimana? Cukup penasaran? Owkaaay tunggu part selanjutnya ya!

COMMENT PLEASE!