Title            : Story Before We Married

Author       : Intan Fitya  a.k.a  Song Hye Jin

Main Casts :

  • Song Hye Jin (OC)
  • No Min Woo (boyfriend)

Other Casts         :

  • Lee Gi Kwang
  • Park Bo Young
  • Bora (sistar)
  • Member boyfriend

Genre         : Romance

Rating        : PG-15

Length       : One Shoot

 

-Hye Jin POV-

Aku berdiri. Mataku terbuka lebar menatap tubuhku yang di balut gaun putih ala putri di depan cermin tinggi. Sudah lengkap rasanya heels tinggi, mahkota yang super besar di kepalaku, dan satu buket bunga untuk ku lempar nanti.

Kemudian min woo memasuki ruangan..

“aigoo.. siapa agasshi ini? Cantiknya..” katanya sambil tersenyum

Sama seperti ku, kalo aku bagaikan putri dia bagaikan pangeran, tuxedo hitamnya pasti akan membuat tamu terpesona nantinya.

“wheyo?” dia menatapku sedikit aneh.

“ani..” aku hanya menunduk.

Dia mendekap tanganku, dan menyuruh cordi eoni untuk melepaskan mahkotaku yang super berat itu.

“cordi noona, masih ada waktu sebentar, bisa lepaskan ini, kasihan dia keberatan, hahaha..” tawanya

Sementara dia tertawa, jantungku berdegup kencang.

“kajja..” teriaknya

“mau kemana?”

“kesini..” dia menarikku ke ruangan dekat tempat aku tadi berdandan, dia memastikan aku untuk duduk dan merangkul ku dari belakang.

“ya.. apa yang kau lakukan, sebentar lagi acaranya di mulai.” Gerutuku..

“apa kau ingat, sebelum hari besar ini, apa saja yang kita alami sekaligus perjuangkan?”

“maksudmu?”

“kita pertama kali bertemu waktu kau menjadi fansku.”

“ah.. arayo.. dan kau mengganggu tidurku dulu, ingat?” senyum ku sambil tersipu malu

“nde.. ingat” senyumnya padaku

 

~flashback~

Udara makin dingin, ballroom tempat fan meeting kosong, terpikir oleh ku untuk menginap disini,

 aku kan gak punya tempat tinggal di seoul. Satu-satunya tempat tinggal aku Cuma asrama kampusku”. Batin ku..

“ahjussi.. permisi ahjussi, boleh aku menginap di tempat ini sehari, aku bisa tidur dimana aja.. Hehehe…”

“jeongmalyo?, kamu mau tidur disini, disini sangat dingin, dan tidak ada pemanas ruangan.”

“ah, kuinchana ahjussi.” Jawabku santai

“khe’re, tidurlah, tapi besok kau harus pergi.”

“chincayo ahjusshi, gumawoyo jeongmal gomawoyo.”

Baru 10 menit aku tiduran, tiba-tiba pintu ballroom terbuka, suara tapak kaki yang tadinya pelan jadi semakin terasa dekat, sontak aku mengambil papan di dekat tangga,

“hiyaa….” sambil merem aku pukul kaki orang yang mencurigakan itu.

Betapa terkejutnya aku ternyata yang aku pukul kakinya itu min woo.

“omo.. min woo sshi..”

“aaaa.. aigo.. moragoyo? Hah… sakit tau..”

“u’ mianhae min woo sshi.. aku kira kamu orang asing.. mana yang sakit.” Tiba-tiba dia langsung mendekap mulut ku.

“sstt..” dia langsung bawa aku ke belakang tangga..

“we…” teriakku

“sst.. jangan bilang-bilang aku ke sini, member yang lain lagi nyari aku. Aku mau nyari barang aku yang hilang di sini waktu fan meeting tadi.” Dia langsung melihat wajah ku. Dan terkejut.

“woa… no..” sambil menunjuk wajah ku.

“mo?” heranku

“orang asing yang di fan meeting tadi.”

“nde.. wheyo?”

“anyio.. kok kamu di sini?”

“aku gak punya rumah di seoul, satu-satunya rumah ku di busan,hehe.. untung ketemu kamu disini… min woo sshi, i’m your fans..”

“khe’re arayo..” jawabnya sombong.

~end flashback~

 

“nde.. kau sungguh mengganggu ku dulu.” Tawaku..

“ya.. tapi kau senangkan..”

“haish… sudah tau dari dulu aku sudah menyukai mu.”

“ara..” candanya sambil menyombongkan dirinya.

“aigoo.. sombongnya..”

“iya lalu saat dong hyun hyung menyukaimu, dan berusaha menyatakan cinta nya di namsan tower?”

“dan lagi-lagi kau mengganggu ku..”

“ya.. katanya kau menyukaiku..” gerutunya seperti anak kecil

“habis kau angkuh dulu.” Cemooh ku sambil menjulurkan lidahku.

“haish..”

 

~flashback~

Oppa mengajakku sampai tempat yang penuh dengan gembok, aku tau ini tempat apa. Mendadak suasana menjadi dingin..

 “hye jin sshi..” dia mengambil kotak kecil dari sakunya. lalu dia memberikannya kepada ku.

 “ige moya oppa?”

“buka..” katanya..

 aku buka, di dalamnya ada gembok kecil berbentuk hati.

 “saranghae hye jin sshi..”

“oppa…” rasanya muka ku seperti memerah.

“kamu terima cintaku, pasang gembok itu, kemudian buang kuncinya.” Dong hyun oppa memegang tanganku. Mungkin dia bisa merasakan dinginnya tanganku sekarang.

Tiba-tiba min woo datang, dan mengajakku pergi, menarik tangan ku tanpa bilang apa-apa.

“ya.. min woo ya..” nada dong hyun oppa meninggi.

 “we hyung?”

“apa kau menyukainya? No.. hye jin sshi saranghae?”tanya oppa..

 min woo masih memegang tangan ku. Dan menarikku lagi sambil mengabaikan omongan hyungnya.

“ya, minwoo ya…” kali ini gantian dong hyun oppa menarik tanganku satunya.

“khere, apa aku menyukainya?, jawabannya tidak hyung!”  Teriaknya langsung di depan muka hyungnya

Mendadak aku lemas, min woo tidak menyukai ku.

Aku suka dia, “nan nomu choa  min woo sshi..” batin ku

 “skheroo..” teriakku.

“oppa mian..” aku mengembalikan gemboknya. Dan pulang sendiri tanpa mereka berdua. Aku berlari menuju halte bis. Oppa mengejarku.

 “changkemanyo..” teriak dong hyun oppa.

“oppa, mian.. aku mau sendiri dulu.” oppa melepaskan gengamannya, dan oppa menariknya lagi hingga aku di peluknya.

“anyio, hye jin sshi.. nan jeongmal mianheyo..”

~end flashback~

 

“uwah.. kau dulu sungguh daebak dengan dong hyun hyung”

“ya.. tapi dulu kau juga dengan bora eoni..” sangkal ku kepadanya.

“apa?” dia menghelak

“kau perform dengan bora eoni, sangat akrab, sudah tau waktu itu aku pacarmu”

 

~flashback~

Aku berjalan terburu-buru menuju ruang tunggu perform di salah satu stasiun televisi. Saking tidak tahannya aku mendobrak pintunya.

“ya, bora eoni odisheyo..” teriak ku..

“u’ hye jin sshi.. dia ada di belakang..” muka jeongmin oppa sedikit kebingungan

Aku menuju tempat yang di tunjukan jeongmin oppa..

“wah.. hye jin ah.. ada apa terburu-buru mencariku.” Tanya eoni santai dengan membawa gelas minumnya

“eoni, bisakah eoni tidk berpakaian mini saat tampil dengan namja chingu ku?”

“uhuk.. mo?” kagetnya sampai tersedak.

“eoni, beradegan sangat dekat dengan namja chingu ku!” bentakku..

“ya.. itu kan tuntutan peran kami sebagai artis..”

“anyio, eoni.. mata eoni terlihat lain kalau bersama min woo.”

“agh.. sudah lah..” eoni meninggalkan ku.

Dari kejauhan min woo memperhatikanku, sekejap aku melihatnya dan berlari pegi. Dia mengejarku dan meraih tanganku.

“ya.. ada apa..”

“ani..” isakku..

“kau cemburu ya..” dia tersenyum licik ke arahku.

“memangnya kenapa kalau aku cemburu, kau pacarku, kau dan eoni beradegan sangat akrab, apa aku tidak cemburu. Belum lagi eoni yang selalu berpakaian super mini, aku tau itu tuntutan pekerjaan, tapi sudah terlalu sering.” Marah ku sambil menangis

Min woo melihat ke arah ku dan mengusap air mataku.

“harus berapa kali aku bilang, nan nomu nomu choayo.. nomu sarang hye jin sshi.. apa kau tak bisa melihatnya? Lagi pula noona sudah memiliki pacar!”

“chincayo?” aku menatapnya heran.

“khere..”

~end flashback~

 

“kau lucu kalau cemburu..” dia tersenyum sambil mencubit pipi ku.

“aigoo… appo..” gerutuku sambil mengusap-usap pipiku.

“oh iya, kau masih ingat waktu aku melamar mu di taman bermain, sebelum aku dan member yang lain debut di jepang.”

“nde waktu itu aku sudah bekerja di perusahaan ternama.. hahaha.. ini kan cincinnya..” pamerku sambil menunjukkan tanganku ke arahnya.

“ya.. bagaimana mungkin kau meletakkannya di jari manis mu?”

“memang kenapa?” heranku kepadanya.

Dia mengambil cincinku dan menyematkannya di jari telunjukku.

“ya, min woo ya apa yang kau perbuat?”

“jari manis ini, untuk cincin yang asli nanti.” Senyumnya kepadaku.

 

~flashback~

Aku menunggu di tempat min woo menyuruhku menunggu. Dan akhirnya dia pun datang.

 

“ayo, kita ke taman bermain..”

 

“mo,aku izin susah-susah kita mau pergi ke taman bermain?? Hari ini aku ada meeting penting min woo.. aku kira kemarin kamu memohon dengan seriusnya ada masalah penting.” Marah ku padanya

 

“udah ikut aku aja..” Dia menarik tanganku seperti biasaa..

 

Dan pada akhirnya kami duduk di kursi taman berdua sambil menikmati datangnya sore, aku bersandar di pundaknya dan dia memegangi tanganku..

 

“ya hye jin ah. No haengbokhe..” tanyanya..

 

“nde.. nomu.. nomu haengbokhe..”

 

Dia berdiri dan membungkukan badannya sambil masih memegang taganku, bak romeo, di romeo dan juliet.

 

“hye jin ah..”     dia mengeluarkan cincin dari sakunya..

 

“uwa.. yepeota… sejak kapan kamu jadi sedikit romantis seperti ini” candaku padanya..

 

“ya no.. ~haish.. nanti malam aku harus pergi ke jepang..”

 

“MO??” teriakku

 

Aku berusaha melepaskan tangannya dari tanganku, tapi percuma, genggamannya terlalu kuat.

 

“dengarkan aku dulu… aku janji, aku akan balik secepet mungkin.. tolong tunggu aku hye jin ah..”

 

“we.. kenapa gak ngomong dari awal.. kenapa harus seperti ini.. kenapa harus di jepang.. kenapa harus meninggalkan ku..”

 

“aku tidak meninggalkan mu, aku Cuma pergi sebentar, semua ini tuntutan pekerjaan.. mana mungkin aku bisa menolaknya.. aku mohon mengertilah.. posisiku juga terdesak..” mohonnya padaku sambil menggengam tanganku dengan erat.

 

Aku menarik napas panjang..

 

“huuuhh.. arayo… aku tau..”      aku memegang pipinya..

 

Walaupun dia terlihat dewasa,tapi tetap saja seperti anak kecil,terutama matanya.

Dia kembali menarik tanganku

 

“hah..” dia menarik nafas panjang

 

“Hye Jin sshi.. kamu harus menjadi tunanganku, menunggu ku sampe aku pulang.” Kemudian dia menyelipkan cincin itu ke jari tengah ku.

 

“gumawo min woo ya..”

 

 

~~di airport~~

 

Berat bagi ku melepasnya pergi, apa lagi untuk waktu yang belum di tentukan.

 

“tunggu aku..”

 

“ara…. jaga diri disana ya, jangan telat makan..” aku merapihkan stelan baju hangatnya.

 

“araso..sekarang kamu mirip eoma ku..”

 

“hah.. sana pergi.. nanti makin lama aku melihat mu makin berat aku melepasmu pergi.”

 

“kau mengusir ku??”

 

“khere…” aku menjawab dengan lantang..

 

Min woo menarik dagu ku, dan mendekatkan bibirnya dengan bibirku.

 

“saranghae….” dia kembali tersenyum seperti anak kecil.

 

“ya, andwe.. kalau seperti ini bagaimana aku bisa melepasmu pergi”

 

Dia memelukku, dan pergi..

 

Rasanya seperti mimpi kalo aku tidak akan mungkin bertemu dengan min woo untuk waktu yang lama.

Aku berjalan lunglai sambil memutar-putar cincin yang di beri min woo.

 

~end flashback~

 

“bukankah itu first kiss kita..” ucapnya malu

“khere.. kende.. aku jadi kangen bekerja di perusahaan itu lagi”

“dan dulu bukankah gara-gara kau bekerja di perusahaan itu kau malah menjadi tunagan gi kwang hyung, karena dia pemilik perusahaan”

“ya.. aku bukan orang seperti itu tau.. kau cemburu?” senyum ku padanya..

“hahaha.. itu kan karena kau memutuskan ku min woo ya..” jawabku sambil melihat ke matanya.

“tapi kan aku tidak sesungguhnya memutuskanmu, aku di suruh manager jang.”

“tetap saja ini karena mu.”

 

~flashback~

-Min Woo POV-

“ya.. min woo ya… gawat..”  kwang min menarik baju ku..

“wheyo??”

“manager jang sudah tau kalo kamu berpacaran dengan hye jin sshi…”

“moragu??”

Aku berlari menuju ruangan manager jang…

Dengan penuh gugup, aku membuka knop pintu..

“manager jang..”

“ah, min woo ya, masuk..”

Aku menarik kursi dan duduk sambil terus menatapnya. Aku tau, seperti apa yang terjadi selama ini, bukankah kami tidak boleh pacaran,

“aku tau kedatangan mu kemari, ini bukan???”

Manager jang menunjukan beberapa foto aku dengan Hye Jin sshi, di taman, di restorant, bahkan foto kami berciuman di airport.

Dia melemparkan fotonya ke meja.

“ya, min woo.. bukan kah, kamu sudah menyetujui kontrak kerja.. saya tidak mau, artis saya terperangkap ulah para paparazi, saya memperbolehkan kalian pacaran asalkan tidak terpublikasi seperti ini, semua majalah, tabloid bahkan koran sudah menerbitkan beritamu, terlambat min woo ya.. putuskan dia..”

“nde?? Moragu?? Maaf tidak bisa manager jang.. aku tidak bisa memutuskannya, maaf..”

Aku berbalik pergi ke luar ruangan dengan raut sedih,

“khere min woo ya.. kalo kamu tidak putuskan yeoja itu.. terpaksa kamu mengganti kontrak kerja ini, dan meninggalkan agency saya..”

“mo???”

“500 juta won” Dia tertawa licik ke arah ku..

“we??”   tanyanya meledekku..

“putuskan dia min woo ya…”

Kali ini aku benar-benar keluar sambil membanting pintunya, di luar sudah ada kwang min dan jeongmin hyung.

“min woo ya..” jeong min hyung tampak gusar melihat muka ku yang kusut..

-Hye Jin POV-

Handphone ku berdering, itu telfon dari min woo..

“yobosheyo min woo ya.. ada apa??”

“Hye Jin sshi, mian hae..”

“we??” ucap ku sambil kebingungan

“nan jeongmal sarangheyo.. nomu-nomu sarang.. khende.. mianhae, kita pisah..”

“mo???”

~~beberapa saat kemudian~~

Aku terus mencari min woo. Aku berlari mengeliling air port di jepang, sampai akhirnya aku menemukan min woo bersama kwang min.

“min woo ya..”panggilku dan dia menatap ku dengan muka dingin

“no, bagaimana bisa Memutuskanku begitu saja lewat telfon??”

“we?? Kamu mau secara langsung aku memutuskan mu?” bentaknya padaku

“ya min woo ya, kenapa begitu dingin??

“bukankah aku yang sebenarnya memang seperti ini..  biar ku jelaskan.. aku putus dengan mu.. jangan cari aku lagi, jangan ikuti aku lagi, jangan coba hubungi aku lagi, jangan coba dekati aku lagi.. araso!!! Aku hanya membohongi mu dulu.. mana mungkin artis seperti ku menyukai wanita biasa seperti mu.!!”

“min woo ya hajima yo..” isakku sambil tidak percaya min woo bisa berbicara seperti itu padaku

“aku jujur..” dia meninggalkan ku sambil menyeret kopernya.

“ya min woo ya.. kajima..”

Dia tetap pergi tidak memperdulikanku. Kwangmin dan jeongmin oppa melihatku sejenak dan membuntuti min woo.

Sementara aku diam, tidak percaya min woo memutuskanku seperti itu.

~end flashback~

 

“memangnya kapan gi kwang hyung melamar mu?” tanyanya heran

“emh.. waktu itu aku tidak menyadarinya kalau dia melamarku, dia mengajakku ke tempat untuk mencoba wedding dress, dan memberi ku cincin. Yang aku ingat waktu kau ada di dekat apartemen ku nah hari itu sebelumnya gi kwang oppa melamarku”

“hah? Chincayo..”

“nde..” anggukku mantap

 

~flashback~

-Gi kwang POV-

Dia masih terlihat sedih, sudah 2 minggu lebih kejadian di airport terjadi, dia masih sedih seperti kehilngan nyawa, dia berjalan menuju balkon atas, aku membuntutinya dari belakang. Dia duduk di pinggir, aku kira dia mau melakukan hal konyol, ternyata dia hanya duduk di pinggir sambil mendengarkan musik.

“ya, hye jin sshi.. sedang apa disini, istirahat makan siang tidak makan??”

“anyio direktur lee, aku masih kenyang..” Dia memaksakan sedikit tersenyum padaku.

Tiba-tiba terlintas ke pikiran ku, untuk mengajaknya jalan.

“ya, kau bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?”

“nde??”

Aku menariknya menuju mobil.

Semoga kali ini dia senang dengan aku mengajaknya jalan. Aku kembali bisa melihat dia tertawa.

“tadda.. kita sampai..”

“direktur lee?? Kenapa pergi ke tempat ini..”

“khajja..” Aku membawanya masuk ‘toko wedding dress’

“cobalah, aku akan menunggu mu..”

Dia melemparkan senyum terpaksanya ke arah ku. Aku tidak sabar, aku akan memberinya surprise nanti.

Salah satu pelayan datang..

“wah kalian pasangan serasi, kali ini temanya pernikahannya apa?”

“emh, kamsa.. biarkan dia memilih gaun yang dia suka.”

“arayo, kidaryo..” ucap salah satu pelayan itu

Selama 5 menit aku menunggu akhirnya tirai besar terbuka.

“pengantin wanita siap..” salah satu pelayan mengatakan..

Dia membelalakan mata ku.. dressnya yang panjang dengan pita di tengah membuat dirinya menjadi anggun.

Aku menghampirinya, aku menunduk sambil memegang tangannya, aku mengeluarkan kotak cincin..

“hye jin sshi.. menikahlah dengan ku..”

“direktur lee..” dia sedikit terkejut

“aku janji, aku akan mengembalikan dan membuat senyum mu itu menghiasi wajahmu lagi. Aku yang akan menutup luka mu kemarin.”

Dia melepaskan gengaman tanganku perlahan.

“nan.. nan..”

Aku kembali berdiri dan memeluknya. Matanya yang sembab mengeluarkan airmatanya lagi.

“uljimayo Hye Jin sshi..”

-Hye Jin POV-

Aku masih bingung.. aku masih benar-benar mencintai min woo, dan bukankah manager park bo young lebih mencintai direktur lee.

Rasanya tidak adil kalo aku menerima lamaran ini.

~~di apartemen~~

Direktur lee langsung mengantar ku pulang, dia tidak membiarkanku masuk kerja hari ini.

“datanglah padaku kapan saja..”

“araso direktur lee, terima kasih.”

Mobil direktur lee pergi begitu saja. Aku memutuskan untuk pergi ke halaman dekat apartemen biasa aku dan min wo duduk berdua disana.

Setelah beberapa menit aku berjalan, sosok min woo yang sedang memberi makan anjingnya mengagetkan ku. Dia menoleh ke arah ku

Aku kembali beerbalik menuju apartemen, “sedang apa dia disana??” batin ku

“cangkemannyo Hye Jin sshi.” Dia menarik tangan ku dari belakang..

“bagaimana kabarmu?” dia menggaruk-garukkan kepalanya sambil menduduk.

“kabar ku?? Menurut mu??” jawabku dingin

Dia terdiam menatap mataku.

Sementara mataku yang sudah berkaca-kaca, antara ingin memeluknya dan menamparnya.

“aku harus kembali..” aku kembali berbalik menuju apartemen.

Dan dia memelukku dari belakang. Sama seperti dia menyatakan cinta nya dulu.

“jeongmal mian hae Hye Jin sshi.. aku yang gak bisa berbuat apa-apa… maaf aku sudah melukai mu.”

Aku melepaskan rangkulannya dan berjalan cepat menuju apartemen.

~end flahback~

 

“kau tau bagaimana perasaan ku waktu itu?” ucap ku kesal.

“nde.. mian chagiya.. dan sampai kau dan hyung kecelakaan, rasanya aku ingin mati melihat mu terbaring koma.”

“chinca ingin mati?” manja ku

 

~flashback~

-Min Woo POV-

“yobosheyo..”

“no min woo sshi..” Setahu ku yang memanggilku nomor hye jin  kenapa yang menelfon suara orang lain.

“nde, we?”

“yang memiliki handphone ini mengalami kecelakaan.”

“mo??” Mataku terbelalak

Dunia seperti berhenti, dadaku bergetar tidak karuan. Apa yang terjadi.. aku berlari menuju mobil ku.

 

~~beberapa saat kemudian~~

Aku berlari menuju ruangan kamar yang di tunjukkan oleh salah satu perawat. Aku lihat orangtua Hye Jin sedang menangis di sebrang kursi, aku memberi salam kepada mereka dan mendudukkan kepala. Di sebrang kamar yang berbeda aku lihat juga ada orangtua gi kwang hyung. Aku masuk ke kamar Hye Jin.

“dokter apa yang terjadi.”

“terjadi penyempitan saraf di tulang belakang, dan sedikit benturan di kepalanya.”

“nde??”

“gadis ini koma..”

“mo..moragu..”

Dokternya dan perawat tersebut keluar sehingga meninggalkan aku dan Hye Jin di kamar itu.

Bagaimana mungkin dalam kondisi seperti itu dia masih terlihat cantik seperti biasanya.

“Hye Jin sshi.. ireonayo.. jebal..” aku mendekap tangannya yang dingin.

Aku lihat cincin yang aku berikan sudah tidak ada.

minwoo, dia tunangan orang lain.. batinku

“jeongmal mianhae Hye Jin sshi.. maafkan aku yang meninggalkanmu.. aku masih mencintai mu.. nomu-nomu saranghae..” isakku di sebelahnya.

Dia hanya tertidur beku di ranjangnya.

“aku gak mau kamu pergi.. kamu harus sembuh, harus bangun.. aku mohon bangun Hye Jin sshi..” aku mencium tangannya.

Kagetnya aku, begitu melihat cincin yang aku berikan dia kalungkan. Dia tidak membuangnya, dia tidak melepaskannya.

“aku tau kamu pasti bangun.. saranghae Hye Jin sshi..”

~end Flashback~

 

“tapi pada akhirnya, kau akan menjadi milikku seutuhnya.” Ucapnya riang.

“kende..” wajahku kembali mengusam.

“we…” tanyanya penuh perhatian.

“aku, .. nan.. aku gugup sekali, aku benar-benar takut min woo ya..” isakku

Dia menggengam tanganku seperti biasa, kemudian membantuku berdiri.

“kau, song hye jin sshi, bersediakah kau hidup dan mati, susah dan senang, bersama no min woo sshi?” dia mengucapkan nya lantang dan tersenyum

“emh.. nde.. aku bersedia..” ucap ku dengan lantang dan membalas senyumannya.

“kau akan menjadi ibu untuk anak-anak kita nanti..” katanya..

“anak-anak? Ouh.. aku tidak mau punya banyak anak.”

“ya..tapi aku ingin banyak..” gerutunya

“andwe.. hanya 2..”

“itu terlalu sedikit..”

Dan ayah ku pun datang mengganggu obrolan kami.

“ya.. ada apa dengan kalian 15 menit lagi acara di mulai.”

“aigoo otokhe..” teriakku.

“cordi noona.. cordi noona.. tolong rias dia lagi” panggil min woo panik..

Aku kembali duduk di kursi rias.

“aku tunggu kau disana..” dia mencium pipiku.

~~dan..~~

Aku berjalan menyusuri para undangan dengan di gandeng ayahku. Melihat min woo tersenyum ke arahku, sambil menunggu ku di ujung altar. Aku lihat lee gi kwang oppa bersama bo young eoni, tersenyum kepadaku, para member boyfriend yang lain yang sudah aku anggap sebagai anggota keluargaku, dan bora eoni dengan anggota sistar yang melambaikan tangannya padaku.

Lengkap sudah rasanya hari ini.

“saya bersedia” ucap ku menatap min woo.

 

*FIN*

 

Anyeong!!

Ini ff terakhir aku yang aku buat, soalnya sebentar lagi harus menempuh ujian, hahahaha..

Makanya aku berniat untuk di publish

Maaf ya kalo sedikit garing, ahahahaha.. aku gak biasa bikin FF yang lucu, hehe..

Sebenernya cerita min woo sama song hye jin udah aku buat lama, tapi aku publish di blog pribadi aku.

Ok.. kalo mau tau banyak soal Min Woo, Lee Gi Kwang sama yang lainnya,

visit aja: intyaa27.blogspot.com

krom.. Gamsahamnida, chingu.. anyeong!!