Title     : Happiness, eh? (Part 1)

Author            : Firda Nuzula

Length            : Continue

Genre  : Friendship, Family.

Cast     : Lee Soomi (OC), Infinite, Han Eunhwa (OC)

***

PRANGG!!

Suara pecahan barang yang aku tak tahu apa itu kembali menggema di seluruh rumahku. Entah sudah berapa puluh kali terdengar suara yang sama di rumah ini. Pelakunya? Siapa lagi kalau bukan ayah dan ibuku? Aku mulai muak dengan semuanya.

Segera kuraih kunci mobil yang teronggok di meja belajarku dan melesat keluar. Awalnya kufikir aku tak perlu meminta ijin kepada kedua orang tuaku dalam keadaan seperti ini, tetapi perkiraanku salah. Bagaimana bisa aku tak meminta ijin jika mereka berdua bertengkar di ruang tengah? Aku melihat pecahan-pecahan kaca berserakan disana-sini. Mungkin gelas, atau piring, entahlah, benda itu sudah tak berbentuk lagi.

Aku berjalan pelan agar tak menginjak pecahan kaca. Sia-sia. Tiba-tiba saja sebuah serpihan kaca dengan nakal menusuk kakiku dan…

“Aww!” Pekikku tertahan.

“Soomi-ya! Apa yang kau lakukan disitu, huh?” Tanya ayahku. Aku segera terjatuh, kufikir mereka akan kasihan padaku dan menghambur ke arahku, tetapi…

“Ya! Lihat semua darah di kakimu itu! Cepat obati sebelum menjadi infeksi!” Teriak ibuku. Kali ini aku pasrah, orang tuaku tak akan peduli apa yang akan terjadi padaku selanjutnya.

“Ne.” Jawabku singkat. Aku lalu bersusah payah kembali kekamar dan mengambil beberapa barang untuk mengobati kakiku. Sial, ini benar-benar sakit.

Ketika aku mencoba untuk membersihkan semua darah dikakiku menggunakan kapas, samar-samar kudengar orang tuaku kembali melanjutkan pertikaian mereka yang sempat tertunda akibat ulahku.

“Kalau kau sudah tak tahan, baiklah, lebih baik kita cerai saja!” Teriak ayahku. Entah apa yang kurasakan saat ini. Rasa sedih, marah, kecewa, takut, semuanya bergabung menjadi satu dan membentuk sebuah rasa dendam di diriku.

“Baik! Memangnya kau fikir aku tidak cukup cantik untuk mendapatkan yang lebih darimu, huh? Pergi dan urus perceraian kita!” Kali ini ibuku mencoba menantang ayah. Aku hanya bisa mendesah dan mendesah lagi.

Luka di kakiku tak begitu terasa sakit. Dadaku jauh lebih sakit daripada ini. Aku menempelkan plester sembarangan di kakiku, lalu kembali melesat keluar. Keinginanku untuk segera jauh-jauh dari rumah ini belum surut meski kakiku dalam keadaan tak sehat.

Satu-satunya tujuanku saat ini adalah Sungai Han. Tempat itu selalu bisa menenangkanku dalam keadaan apapun. Entah apa yang menjadi daya tarik sungai itu bagiku, namun kurasa sungai itu satu-satunya tempat yang bisa meredam amarahku.

Kuparkirkan mobilku di tempat dimana orang-orang biasa memarkirkan kendaraan mereka, lalu segera kugerakkan kakiku menuju tempat kesukaanku. Kursi panjang di taman pinggir sungai. Sekali lagi, tak ada yang menarik dari kursi itu. Tetapi entah mengapa, dimataku hanya kursi itulah yang jika aku duduk diatasnya, semua rasa amarah, dendam, kecewa, sedih, hilang seketika dan menjadi netral.

Aku duduk di kursi itu sambil memandang kearah sungai dan jembatan yang dilewati beberapa mobil. Entah mengapa hari itu cukup sepi, tak seperti biasanya. Aku hendak mengambil novel yang baru kubeli di tas yang kubawa, namun suara-suara aneh tiba-tiba saja menggangguku.

“Ya! Kita duduk disana saja! Didekat kursi itu! Sepertinya nyaman!” Ujar salah seorang dari belakangku. Yang lain ikut berbicara, namun aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Itu terdengar seperti ‘brrsskk.. brrsskk…’ Dapat kupastikan jumlah orang dibelakangku kini lebih dari 3 atau 4 orang.

Tiba-tiba saja, mereka muncul dihadapanku. Aku yang kaget hampir saja menjatuhkan novel yang kupegang. Aish, mengganggu saja.

“Kita duduk disini saja, ya!” Ujar salah satu dari mereka. Semuanya namja. Ada satu… dua… tiga… tujuh namja!

Salah satu dari mereka menggelar sebuah tikar yang cukup besar untuk menampung mereka bertujuh. Dihadapanku. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Bukan, bukan karena mereka mengampar tikar dihadapanku, tetapi karena mereka membawa anjing! Tuhan, aku benci makhluk yang satu itu!

“Jolie… kemarilah!” Seru salah satu dari mereka. Aku mengarahkan pandanganku kearah makhluk yang dipanggil ‘Jolie’ tadi. Awalnya kufikir, mungkin Angelina Jolie atau jolie jolie lainnya. Tetapi lagi-lagi aku salah! Jolie yang namja itu maksudkan adalah seekor anjing!

Kulihat anjing yang bernama Jolie tadi berlari ke arah namja bermata sayu yang memanggilnya. Seperti anjing-anjing lainnya, Jolie juga menggonggong, memeletkan lidahnya sambil bersuara ‘hahh..hahh..hahh..’ yang menurutku lebih terdengar seperti manusia yang baru menyelesaikan lari marathon sejauh 10ribu kilometer (?)

Aku memalingkan wajah dari anjing itu, dan juga segerombolan namja dengan identitas tak terbaca ini. Aku kembali membuka novelku dan memulai kegiatan membacaku yang sempat tertunda.

CKREK!

Sinaran blitz dari benda yang kuyakini adalah kamera tiba-tiba saja menyilaukan mataku. Aku mendongak kesal. Kulihat salah seorang dari ketujuh namja tadi sedang mencoba memotretku. Aku menggeram kesal, dia hanya tertawa kecil.

“Jangan terlalu serius, Noona. Nanti buku itu bisa terbakar.” Ujarnya. Apa tadi? Noona?

“Ya! Kau fikir aku Noona-mu, huh?” Seruku. Ia tersenyum geli lalu menghambur ke arahku dan duduk disampingku.

“Apa yang kau baca?” Tanyanya sambil menggerakkan kepalanya kearah novel yang sedang kubaca.

“Memangnya kau perlu tahu? Jangan sok kenal!” Jawabku ketus. Ia masih menempatkan kepalanya di tempat yang sama, membuatku risih dan menutup novelku secara mendadak.

“Noona, aku mau baca, boleh ya?” Pintanya sambil menunjukkan puppy eyes-nya. Jujur, sebenarnya aku paling tidak bisa untuk menolak permintaan seseorang yang disertai dengan mata berbinar-binar itu. Tetapi yang satu ini pengecualian.

“Sudah kubilang jangan panggil aku Noona!” Ujarku kesal.

“Myungsoo-ya! Sedang apa kau disana, huh? Jangan mentang-mentang kau tampan lalu mencoba merayu Noona itu!” Seru salah seorang dari ketujuh namja tadi yang berwajah seperti anak SD. Noona lagi? Hey, memangnya aku terlihat setua itu?

Tanpa mempedulikan mereka aku beranjak dari kursi dan hendak mencari tempat lain. Mungkin di kafe atau di kedai eskrim. Yah, dimana saja asal aku bisa pergi jauh dari ketujuh namja ini.

Belum sampai aku melangkah, sebuah tangan namja yang dipanggil Myungsoo tadi menarik tanganku. Aku menoleh sinis sambil melayangkan tatapan ‘Lepaskan tanganku atau kau akan mati!’ Namun sepertinya ia tak mengerti apa yang tersirat dalam tatapanku tadi. Buktinya ia semakin menarik tanganku hingga aku terduduk lagi di tempatku tadi.

“Jangan pergi, bergabunglah dengan kami.” Pintanya sambil kembali menunjukkan puppy eyes-nya. Kali ini disertai dengan bright smile dari bibirnya. Entah karena pengaruh sihir atau apa, aku terdiam dan tak menolak. Meski sebenarnya suara-suara dalam hatiku seperti berbunyi ‘Tidaaaak! Pergi atau kau akan mati Soomi-ya!’.

Aku menggelengkan kepalaku dan kembali mendapatkan kesadaranku. Kembali kutatap sinis namja itu. Namun semakin sinis tatapanku, semakin gencar ia menunjukkan bright smile-nya, semakin berkilat-kilat juga matanya. Aish, aku paling tidak bisa menolak yang seperti ini. Tapi tidak. Bukankah kubilang ia pengecualian? Aku harus tetap pergi dari tempat ini.

“Apa maumu, huh? Aku tidak punya banyak waktu.” Ujarku sambil pura-pura menatap jam tanganku dengan tatapan ala wanita karir.

“Bergabunglah sebentar dengan kami.” Ujarnya. Ekspresi tadi belum juga sirna dari wajahnya.

“Hh… Baiklah, 15 menit saja.” Ujarku pasrah. Semoga saja mereka bisa menyembuhkan moodku, atau mereka malah makin merusaknya? Ah, terserahlah. Aku sudah pasrah.

Aku mengikuti namja bernama Myungsoo ke arah teman-temannya yang terduduk di tikar besar tadi. Myungsoo menyuruhku duduk disampingnya. Mau tidak mau aku harus menurutinya.

“Jadi, siapa namamu?” Tanya seorang teman Myungsoo yang bermata sesipit kertas.

“Seharusnya aku yang bertanya, jadi siapa kalian ini?” Tanyaku menyelidik sambil melipat tanganku didada.

“Kami adalah infinite.” Ujar salah seorang lagi. Kali ini yang berambut blonde. Tunggu dulu, infinite? Mengapa nama itu begitu familiar? Ah, mungkin tidak.

“Mwo?” Tanyaku memastikan.

“Ya, kami adalah infinite.” Ulang namja blonde tadi. Hey, kau tidak mengerti apa yang sedang kutanyakan ya, wahai namja blonde?

“Terserahlah.” Ujarku pasrah. Dan sepertinya mereka mulai mengerti apa yang kumaksudkan. Buktinya mereka mulai memperkenalkan diri masing-masing. Aku hanya mendengarkan tanpa selera.

15 menit berlalu. Tak ada yang spesial selama 15 menit ini. Tanpa basa-basi lagi aku segera bangkit dan hendak pergi dari sana.

“Mau kemana, Soomi-ya?” Tanya Sungyeol tanpa memanggilku ‘Noona’ lagi setelah ia tahu bahwa usiaku lebih muda darinya.

“Sudah lewat 15 menit, aku pergi dulu ya!” Pamitku sambil berlari menuju tempat dimana mobilku terparkir.

Aku mengemudikan mobilku tanpa arah. Jujur, aku menyesal meninggalkan infinite. Meski tak ada yang spesial, entah mengapa sepertinya ada sesuatu yang hilang saat aku meninggalkan mereka tadi.

Tempat lain yang biasa kukunjungi saat aku bosan adalah kedai eskrim. Aku pun segera melesat ke tempat itu. Kedai ini tak banyak berubah sejak umurku 6 tahun. Ayah adalah orang pertama yang mengajakku kesini. Aku melayangkan pandangan ke setiap sudut di tempat ini, berharap menemukan tempat kosong ditengah-tengah ramainya pengunjung.

Dan Gotcha! Pandanganku terhenti di dua buah kursi kosong di bagian terpojok kedai ini. Cukup sepi dan kurasa orang-orang tidak begitu menyukai tempat itu. Segera saja kugerakkan kakiku menuju tempat itu.

Namun, lagi lagi dewi fortuna sepertinya sedang tak berpihak padaku. Ketika aku hampir sampai di bangku kosong tadi, sepasang kekasih datang dan mendahuluiku mengisi bangku tersebut. Aku hanya bisa mendesah sebagai wujud kekesalanku.

Setelah merasa tak ada tempat lain yang dapat kukunjungi, kuputuskan untuk pulang saja kerumah. Sudah jam segini, seharusnya Ayah dan Ibu sudah tak lagi bertengkar. Dan seharusnya pembantu rumahku sudah membereskan semua pecahan kaca yang berserakan disana.

Benar saja, keadaan rumah sudah kembali seperti semula ketika aku sampai. Tetapi ada yang aneh, mengapa sepi sekali, ya? Bahkan Daejin ahjumma, pembantu dirumahku, juga tidak kelihatan. Kemana semua orang? Ah, sepertinya itu sudah tidak penting lagi. Toh, memang ini yang kubutuhkan. Ketenangan.

Aku hendak melangkah masuk ke kamarku, namun getaran ponsel dari dalam saku celanaku tiba-tiba saja menghentikan langkahku.

“Yoboseyo?” Sapaku pada seseorang yang tak kukenal diseberang sana.

“Yoboseyo? Soomi-ya! Apa kau tak merasa kehilangan sesuatu?” Tanya orang itu. Aku mengkerutkan dahiku. Siapa orang ini? Dan mengapa ia menanyakan hal seperti ini?

“Maaf, tapi kau siapa?” Tanyaku masih dengan dahi mengkerut.

“Ah, maaf, aku lupa memberitahumu. Ini aku, Sunggyu!” Sunggyu? Aku memutar otakku ke kejadian beberapa waktu yang lalu. Ah, INFINITE!

“Eung… sesuatu yang hilang? Memangnya apa?” Tanyaku ragu. Aku khawatir diam-diam salah satu dari mereka adalah seorang mentalist dan dapat membaca pikiranku. Apa jadinya aku jika mereka tahu aku merasa kehilangan mereka?

“Kau benar-benar tidak ingat?” Tanya Sunggyu lagi. Aku semakin mengkerutkan dahiku.

“Ani. Aku tidak ingat.” Jawabku yang masih diselimuti rasa penasaran.

“Kalau begitu, besok akan kukembalikan disekolah!” Ujarnya. Di… disekolah? Memangnya dia tahu darimana tentang sekolahku? Atau jangan-jangan, salah satu dari mereka memang seorang mentalist?

“Ya! Ya!” Seruku ketika Sunggyu menutup sambungan telefonnya dan menyisakan berbagai pertanyaan di otakku.

Ah, yasudah lah. Besok juga aku akan tahu. Aku kembali melanjutkan langkahku yang sempat tertunda. Saat ini aku hanya ingin tidur.

***

“Eunhwa-ya! Bayarkan makananku dulu ya!” Pintaku pada Eunhwa, sahabatku, ketika kami sedang makan siang di kafetaria sekolah.

“Hey, hey, kemana perginya Soomi yang kaya itu? Hahaha.” Canda Eunhwa sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikannya kepada ibu-ibu penjaga kasir.

“Dompetku hilang.” Tuturku padanya. Ia hanya membulatkan matanya tanpa berkomentar.

Aku dan Eunhwa duduk di salah satu bangku di kafetaria.

“Ya! Bagaimana bisa dompetmu itu hilang? Bukankah kau selalu meletakkannya di tasmu?” Tanya Eunhwa sambil mengaduk-aduk makanannya.

“Entahlah, sepertinya… AH! INFINITE!” Seruku tiba-tiba. Iya, pasti mereka. Pasti dompetku ada ditangan Infinite. Pantas saja aku merasa ada yang hilang, ternyata bukan infinite yang hilang, tetapi dompetku.

“Infinite?” Ulang Eunhwa heran. Aku hanya mengangguk dan menceritakan kejadian yang kualami kemarin. “Tunggu dulu… Bukankah infinite itu… gangster di sekolah kita?” Tanya Eunhwa. Sontak aku membulatkan mataku kaget.

“Mwo? Gangster?” Ulangku. Gangster apanya?

“Mm, bisa dibilang sih begitu. Tapi jangan berfikir macam-macam dulu.” Ujar Eunhwa yang makin membuatku heran. “Mereka bukan gangster seperti itu, mereka berbeda.” Jelas Eunhwa. Aku hanya mengkerutkan dahiku.

“Apanya yang berbeda?” Tanyaku.

“Mm… mereka… bukan gangster dengan penampilan urak-urakan seperti biasanya. Yah, bisa dibilang, mereka gangster yang punya pesona layaknya superstar!” Jelas Eunhwa lagi dengan mata berbinar-binar. “Hey, memangnya kemana saja kau? Sampai-sampai infinite saja tidak tahu.” Sindir Eunhwa. Aku hanya mencibir.

CKREK!

Lagi-lagi kilatan blitz itu! Jangan-jangan…

“Annyeong Soomi-ya!” Sapa Infinite yang tiba-tiba saja sudah berdiri dihadapanku dan Eunhwa.

“KYAAAA!” Tiba-tiba saja pekikan para siswi membahana di kafetaria ini. Kulihat Eunhwa yang menurutku juga menyukai infinite hanya menggigit bibir bawahnya.

“Ada apa?” Tanyaku singkat.

“Boleh kami duduk?” Tanya Woohyun. Aku hanya mengangguk. Mereka pun duduk dihadapanku dan Eunhwa. Eunhwa menyikut-nyikutku tanpa melepaskan pandangannya dari ketujuh namja didepan kami ini.

“Kembalikan dompetku.” Ujarku datar. Sunggyu merogoh kantong jasnya dan melempar dompetku ke meja.

“Kau menjatuhkannya.” Ujar Sunggyu. Aku segera mengambil dompet berwarna hitam itu dari meja, lalu memeriksa isinya.

“Ya! Apa kami terlihat seperti maling?” Komentar Hoya. Aku mengabaikannya.

“Dimana kartu namaku?” Tanyaku setelah memastikan bahwa kartu namaku tak bertengger lagi disana. L merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan sesuatu. Kartu namaku.

“Kembalikan!” Pekikku sambil berusaha menggapai benda itu dari tangan L. Gagal.

“Kau kan sekarang teman kami, biarkan kami memiliki ini.” Ujar L. Aku hanya mencibir. Detik berikutnya, aku mulai tersadar, sepertinya kami sedang diperhatikan banyak orang saat ini.

“Ya! Kalian semua pergilah!” Perintahku pada infinite. Mereka hanya bergeming. “Ya!” Seruku.

“Memangnya kenapa? Kau tidak suka kami disini?” Tanya Dongwoo.

“Bu.. bukan begitu. Tapi…” Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kami. Infinite mengikuti gerak mataku. Dan tertawa.

“Kau takut pada mereka? Hahah, kau ini sangat lucu!” Ejek Sungyeol.

“Ish. Eunhwa-ya, kau sudah selesai?” Tanyaku sambil menoleh ke arah eunhwa. Gadis berpipi chubby itu mengangguk. “Kita pergi sekarang.” Ajakku sambil menarik tangan eunhwa dari tempat itu.

“MWO?” Ujar eunhwa kaget.

***

“Soomi-ya, tidakkah mereka tampan?” Tanya Eunhwa ketika ia sedang berkunjung kerumahku.

“Siapa? Infinite? Ch.” Jawabku.

“Ya! Memangnya seleramu itu seperti apasih?”

“Kenapa masih bertanya? Tentu saja Jihwan. Tidak ada yang lain.”

“Jihwan-i?” Ulang Eunhwa.

“Mm.” Jawabku sekenanya.

“Hh… ayolah Soomi-ya, lupakan Jihwan! Dia telah pergi!” Ujar Eunhwa.

“Tidak. Dia akan kembali.” Balasku sambil menerawang keluar jendela. Menatap rumah Jihwan yang kosong.

“Terserahlah. Aku capek mengingatkanmu terus.” Ujar Eunhwa pasrah sambil menarik selimut untuk menutupi dirinya.

“Dia pasti kembali.” Bisikku lirih tanpa mengalihkan pandangan dari rumah kosong tersebut.

***

Pagi ini Daejin ahjumma datang. Ya, sejak hari itu Daejin ahjumma memang tidak kelihatan. Kata satpam rumahku, ia sedang pulang kampung. Kenapa tidak bilang padaku? Lupakan tentang Daejin ahjumma.

Yang terpenting saat ini adalah, dimana kedua orang tuaku?

Berkali-kali aku mencoba menelepon mereka, namun hasilnya tetap sama. Nihil. Satu-satunya yang ada di fikiranku hanya kata ‘cerai’. Mungkin ayah dan ibu pergi karena sebentar lagi mereka akan bercerai. Tetapi mengapa tidak bilang padaku?

Mengapa orang-orang senang sekali mengabaikanku?

Hh, sudahlah. Lupakan mereka. Toh aku masih punya Eunhwa. Dan… infinite?

Ah, apa yang aku bicarakan? Bukankah aku benci infinite? Aku benar-benar sudah gila.

“Ahjumma… aku lapar!” Seruku dari ruang tengah tanpa mengalihkan pandanganku dari televisi.

“Ne, sebentar lagi matang, nona.” Sahut Daejin ahjumma dari dapur.

Tiba-tiba saja ponselku bergetar. Aku segera meraih benda yang teronggok di meja tersebut. Ada sms dari Eunhwa.

-Sebentar lagi aku kesana, ya! Jangan lupa siapkan makan siang^^-

“Ahjumma, masak makanan yang banyak, ya! Teman-temanku akan datang.” Seruku lagi.

“Teman-teman nona?” Tanya Daejin ahjumma.

“Ya. Teman-temanku, memangnya ke—” Benar juga. Teman-temanku? Bukankah temanku hanya Eunhwa? Memang siapa lagi? “Pokoknya siapkan saja. Sepertinya Eunhwa akan makan banyak.” Ujarku lagi.

“Ne.” Sahut Daejin ahjumma dari dapur.

TINGTONG!

Ah, itu pasti Eunhwa. Tapi mengapa cepat sekali?

“Annyeong Soomi-ya!” Aigoo! Apa-apaan ini?

“Ya! Darimana kalian tahu rumahku?” Pekikku pada… yah, kalian pasti tahu.

“Dari ini.” Jawab Sungjong sambil menunjukkan kartu namaku. Aish!

“Kami masuk yaa!” Seru Dongwoo sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahku. Yang lain mengikutinya.

“Ya! Ya! Jangan sentuh apapun!” Seruku ketika L mencoba menyentuh bingkai foto yang tergeletak di meja ruang tengah.

“Ini kau? Omona… sangat berbeda. Ckckck.” Komentarnya pada foto masa kecilku yang terpampang di bingkai tadi.

“Aku bilang jangan sentuh apapun! Kau tidak dengar, huh?” Seruku lagi. L mengabaikanku lalu beranjak ke foto yang lainnya-_-

“Dimana orang tuamu?” Tanya Sungyeol.

“Aku tidak tahu.” Jawabku datar sambil menempatkan pantatku untuk duduk di sofa yang menghadap ke televisi. Sungyeol mengikuti gerakanku, lalu menatapku aneh. “Ya! Kau kenapa? Sakit?” Tanyaku yang risih dilihati olehnya.

“Ani.” Jawabnya sambil menggelengkan kepalanya. Detik berikutnya aku sadar, mungkin ia heran mengapa aku tak tahu dimana keberadaan kedua orang tuaku.

TINGTONG!

Kali ini pasti Eunhwa!

“Biar aku yang membukanya!” Seru Hoya sambil berlari menuju pintu. Aku hendak mencegahnya tapi, ya sudahlah, aku pasti kalah.

Hoya kembali membawa seorang gadis. Siapa lagi kalau bukan Eunhwa. Eunhwa menatapku dengan tatapan ‘Mengapa mereka ada disini?’ aku hanya membalasnya dengan menggidikkan bahuku. Aku tak tahu, dan tak ingin tahu mengapa mereka bisa ada disini.

“Nona, makanannya sudah siap.” Ujar Daejin ahjumma yang baru datang dari dapur.

“Asyiiik! Kita makan!” Seru Sungjong lalu berlari ke ruang makan. Yang lain mengikutinya.

“Aku bisa gila.” Ujarku pelan.

“Mwo?” Tanya Sungyeol yang mungkin mendengar perkataanku.

“Ani.” Balasku.

Aku dan Eunhwa makan dalam hening. Sedangkan infinite terus mengoceh dan tertawa. Memangnya ada yang lucu? Sudahlah, itu tidak penting.

“Sungjong-ssi, sejak kapan rambut blondemu itu menjadi hitam?” Tanya Eunhwa pada Sungjong yang… aku hampir tidak mengenalinya karena warna rambutnya kini menjadi hitam. Dan lebih pendek.

“Kemarin aku memotong dan menyemir rambutku. Kurasa seperti ini lebih baik.” Jawabnya. Eunhwa hanya manggut-manggut.

“Soomi-ya, kenapa diam saja? Kau sakit?” Tanya L. Aku menggeleng.

“Perlu kami panggilkan dokter?” Tawar Sunggyu.

“Aku tidak sakit.” Jelasku.

“Lalu kenapa wajahmu muram sekali? Kau sedang tidak sehat?” Tanya Sungyeol. Hey, memangnya sakit dan tidak sehat itu ada bedanya ya?

Aku menggeleng.

Infinite menyerah. Mereka tak lagi mengajakku bicara.

Aku, Eunhwa, dan infinite duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Jujur, aku merasa nyaman dengan keberadaan infinite disampingku akhir-akhir ini. Yah, meskipun mereka selalu saja membuat onar.

“Soomi-ya, aku bosan, kita jalan-jalan yuk!” Ajak Eunhwa sambil mengguncang-guncangkan lenganku.

“Ide bagus! Aku juga bosan.” Sahut Hoya.

“Mau kemana?” Tanyaku datar.

“Kalau ke taman bermain bagaimana?” Usul Woohyun. Infinite setuju. Eunhwa setuju. Aku? Memangnya jika aku tidak setuju mereka tidak akan berangkat?

“Hh, baiklah, aku ganti baju dulu.” Ujarku pasrah.

“Asyiik! Kita ke taman bermain!” Seru Sungjong kegirangan. Aku pun segera melangkah ke dalam kamar dan ganti baju.

***

Kami, maksudku aku, Eunhwa, dan… yah, infinite saat ini telah berada di taman bermain yang dimaksud.

“Soomi-ya, kita naik itu yuk!” Ajak Eunhwa sambil menarik tanganku ke… jet coaster? Tidaaaaaak!

Aku menggelengkan kepalaku penuh arti pada Eunhwa. Tetapi ia hanya membalasnya dengan mengedipkan matanya sebelah. Aaaaa! Aku akan mati!

“Eunhwa-ya, sepertinya Soomi tidak mau, iyakan Soomi-ya?” Hh, akhirnya, suara Hoya kali ini menyelamatkanku.

Aku mengangguk mantap.

“Bagaimana kalau kau denganku saja, hm?” Tawar Hoya pada Eunhwa.

“Hah?” Eunhwa melongo. Dasar-_-

“Kkaja!” Ajak Hoya sambil menarik tangan Eunhwa ke antrian jet coaster. Aku hanya melambaikan tanganku padanya.

Tinggallah aku sendiri. Dengan… 6 orang infinite.

“Soomi-ya, kita naik itu yuk!” Ajak L. Aku mengarahkan pandangan ke tempat yang ditunjuk L. Komedi putar,eh?

“Hm.” Jawabku singkat, lalu mengikuti L menaiki… komedi putar itu.

Setidaknya ini lebih baik daripada aku harus mati naik jet coaster. Atau… malah lebih buruk? Masalahnya sekarang adalah, semua orang memperhatikanku dan L. Kau tahu, aku benci jadi bahan perhatian. Kuharap benda ini cepat berhenti.

“Jangan pedulikan mereka. Mereka pasti iri dengan kita. Sudah umur segini masih bisa naik komedi putar.” Ujar L yang seakan mengerti apa yang kupikirkan.

“Ne.” Jawabku singkat.

“Kau senang?” Tanya L.

“Hm, sedikit.” Jawabku datar. L tak lagi bicara sampai komedi putar ini berhenti.

“Sudah berhenti, ayo turun.” Ajak L. Dengan gerakan cepat aku pun segera menuruni benda itu.

“Dimana yang lainnya ya?” Tanya L sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Infinite maupun Eunhwa tidak terlihat dimanapun. “Ada photobox! Kita kesana yuk!” Ajak L ketika melihat photobox di tengah-tengah keramaian ini.

“Kau kan bawa kamera.” Ucapku.

“Tapi aku mau berfoto denganmu! Lagipula disini ramai. Ya? Ya?” Pintanya lagi. Errgh, mata itu!

“Hh, baiklah.” Akupun menyerah dan L dengan brutalnya menarik tanganku ke photobox tadi.

***

Sehari bersama Eunhwa dan infinite ternyata tidak buruk juga. Aku bahkan hampir lupa kalau dirumahku sedang terjadi peristiwa besar. Eung… musibah besar.

Ketika aku sampai dirumah, sebuah mobil sedan berwarna silver terparkir di garasi. Itu mobil ibuku. Ya, ibuku datang. Dengan gerakan cepat aku keluar dari mobilku dan bergegas masuk ke rumah. Jangan kalian fikir aku khawatir dengan keadaan ibuku. Aku justru tidak khawatir sama sekali. Yang aku khawatirkan saat ini adalah Daejin ahjumma.

Yang kudengar dari satpam rumahku, ibu pulang dengan ekspresi penuh amarah. Dan sepertinya penyebabnya adalah salah satu dari tiga pembantu baru dirumahku melaporkan kepergian Daejin ahjumma yang tanpa ijin.

“Memangnya kau fikir ini rumahmu, huh? Seenaknya saja datang dan pergi!” Teriak ibu pada… siapa lagi kalau bukan Daejin ahjumma.

“Eomma!” Pekikku sembari menghentikan tangan ibu yang hendak menampar Daejin ahjumma.

“Soomi-ya! Apa yang kau lakukan, huh?” Teriak ibu marah. Kali ini padaku.

“Daejin ahjumma tidak bersalah! Dia tidak meminta ijin pada eomma karena eomma sedang tidak dirumah! Dia juga sudah meminta ijin padaku, jadi jangan marahi Daejin ahjumma!” Balasku bohong.

“Lalu kenapa kau tidak bilang pada eomma, huh?” Balas eomma lagi.

“Memangnya kemana saja eomma? Kemana perginya ponsel eomma? Apa ponsel eomma menghilang, huh? Beribu-ribu kali aku menelepon eomma, hasilnya? Ch,yang kudapat hanya suara operator diseberang sana.”

Hening.

“Sudahlah, aku capek. Ahjumma, kau kembali saja ke kamar. Kalau eomma sampai memarahimu lagi, lapor saja padaku. Mengerti?” Ucapku. Eomma tetap diam tanpa komentar sedikitpun.

Aku pun kembali ke kamar dan segera merebahkan diriku di kasur. Semoga mimpi indah, Soomi-ya.

***