Title            : Irony (chapter 5)

Author        : oleelxschein

Length        : Chaptered

Genre         : Angst, Romance, AU

Cast            : Choi Si won (Super Junior)

Lee Jaewon (Ocs)

HyeWon (Co-ed School)

Rating         : T

Disclaim     : just own plot. Semua POV diambil dari sudut pandangnya siwon & author POV. Kommen dalam bentuk apapun di terima, kalau malas kommen boleh like aja, pokoknya tolong tinggalkan jejak. Happy reading^^

————————————————————————————————————

Part 5

 

Pembunuh itu…. akan kubuat menyesal atas semua yang ia lakukan…  Membuat hidupku selalu dalam rasa takut… Bertahun-tahun dalam teror.. Membuatku harus meninggalkan yeojaku.. dan yang tidak akan ku maafkan membuatnya terluka.

“Lihat apa yang aku temukan!” kataku sambil menghubungi detektif yang membantu penyelidikanku selama ini.

Pembunuh bodoh itu berbuat satu kesalahan fatal. Dia meninggalkan truk yang menabrak mobilku begitu saja. Bodohnya dia tidak menyamarkan plat atau yang lainnya. Sehingga penyelidikan kasus ini menemui titik terang…. aku tidak sabar menanti siapa yang memburuku selama ini.

Tiba-tiba sekretarisku masuk dengan tergesa, “Maaf, tuan direktur, ada yang gawat! Terjadi di ruangan presiden direktur… Anda harus segera kesana!”

Aku berlari mengikuti langkah sekretarisku. Apa yang terjadi dengan Nenek??

xxx

 

“Di sini rupanya cucu gadungan!” pria paruh baya yang wajahnya familiar itu menyuruh pria-pria berjas hitam mendorongku. Mereka mendorongku dan mendudukkanku di sebuah kursi. Dan kulihat di depanku ada nenek yang sedang cemas.

“Ada apa ini?” tanyaku sambil mencoba bangun tapi pria berjas hitam itu mendorongku, untuk kembali duduk.

“Kau pikir kami tidak tahu! Kau itu Cuma cucu gadungan kan?” bentak pria tadi. Dia pria yang dulu menentang keberadaanku di sini sebagai cucu nenek. Ah.. aku ingat bukankah dia adik nenek??

“Itu tidak benar, dia cucuku!!” ucap nenek padanya

“Sudalah kakak.. kakak tidak perlu berbohong lagi!” pria itu melempar berkas-berkas dari rumah sakit tempatku di rawat.

“Di sana ditulis operasi plastik, jadi wajah tampan ini tentu bukan wajahnya…” jelas pria tadi sambil memegang daguku dan memandangku lekat-lekat, “Katakan yang sebenarnya..”

“Aku cucu nenek!” lalu dia mendorong wajahku ke samping

“Kalian berdua keras kepala ya? Baiklah, Hong Sik jelaskan pada mereka” kata pria itu.

“Jadi, nyonya besar menabrak pria ini, lalu membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit nyonya besar mengoprasi plastik wajah pemuda ini sama persis dengan wajah tuan muda Jung Won. Lalu memaksanya berpura-pura menjadi tuan muda dengan imbalan uang, agar nyonya besar tidak di laporkan polisi, dan untuk mengelabuhi kami” kata pria bernama Hong Sik sambil menutup mapnya.

“Lelucon macam apa ini!” kataku pada pria brengsek yang membuat cerita seenak dirinya itu.

“Lelucon katamu?”

“Kecurigaan anda pada nenek tidak beralasan. Beliau tidak pernah menabrakku. Kalaupun aku di operasi? Memang, aku di operasi. Semua orang korea juga mengoperasi wajahnya…” kataku pada pria itu

“Lalu buktikan kalau kau adalah cucu nenek!”

Aku terdiam. Aku memandang wajah cemas nenek yang hampir menangis itu. Aku menghela nafas panjang. “TES DNA” kataku singkat

“Tes DNA? Bagus juga. Kita lihat siapa yang akan di usir setelah ini!” kata pria itu pergi dari ruangan nenek, diikuti pria-pria yang berjas hitam itu.

Aku menghela nafas panjang dan duduk dengan lemah di hadapan nenek yang kini sudah menangis. Apa yang barusan kukatakan……? SIAL.

xxx

 

“Tenanglah nek, kalaupun hasilnya negatif, konsekuensi yang kudapat hanyalah..eem penjara mungkin! Lagipula aku tidak pernah takut penjara, nek” kataku menenangkan nenek.

Aku memang tidak pernah takut penjara nek, yang ku takutkan aku tidak bisa melihat wajah gadis yang selama ini ada dalam benakku lagi.

Aku mengacak-acak rambutku, lalu menghubungi detektif Kim untuk melanjutkan pelacakanku. Setidaknya aku harus segera menemukan pelaku ini sebelum aku masuk penjara. Siapa tahu aku akan sepenjara dengannya dan bisa kutuntaskan rasa dendamku padannya.

“Tanggal 13… 3 hari sebelum tes DNA itu di adakan! Harus kutemukan sebelum itu!” kataku mengambil mobil dan menuju kantor detektif Kim.

xxx

 

“Kau buat perkara yang serius tuan!” kata detektif Kim padaku. Dia salah satu yang mengetahui identitasku yang sebenarnya. (selain nenek, dan pengacara nenek)

“Ya sebelum perkara itu datang, aku ingin segera menyelesaikan yang satu ini. Detektif kim bagaimana tentang mobil yang waktu itu menabdakku?”

Detektif kim kembali serius dengan pekerjaannya, dia memberikanku berkas-berkas dan foto hasil CCTV yang terpasang di toko emas di depan TKP. “Beruntung ada CCTV di sana!” ucap detektif kim menunjuk seseorang yang keluar dari truk yang menabrakku.

“Sayangnya, Kita tidak bisa melihat wajahnya!” kataku sambil berdecak pelan.  Di foto itu hanya terlihat seseorang berpakaian layaknya supir truk biasa dengan mengenakan topi itu dengan posisi dari belakang. Kita tidak tahu bagaimana rupanya. Tapi tiba-tiba aku tertuju pada sesuatu di foto itu.

“Igeo!” teriakku

Detektif melihat sesuatu yang kutunjuk, “Ada apa dengan gelang itu? Apa kau pernah melihatnya!”

“Ya dengan sangat jelas….” kataku sambil memicingkan mataku.

xxx

 

“Terimakasih atas bantuan anda detektif Kim!” kataku sambil membereskan berkas-berkas itu untuk kupelajari di rumah.

“Yah! Itu gunanya teman!” katanya sambil menepuk pundakku

Lalu ada seorang gadis yang masuk ke kantornya lalu mengobrol dengannya sebentar, setelah itu mereka berdua berjalan kearahku yang sudah bersiap pulang.

“Ini tunanganku, Heegi. Heegi Ini temanku, Si Won!”

“Annyeonghaseyo, bangapseumnida” kataku menunduk, gadis itu juga menunduk sopan.

“Terimakasih sekali lagi detektif kim, saya permisi!” kataku pada mereka berdua

“Ne, nanti kuhubungi lagi! Hati-hati di jalan!” ucapnya.

xxx

Benar dugaanku kalau ternyata adik nenek pelakunya. Aku ingat betul gelang itu di kenakan oleh anak buahnya yang mendorongku duduk saat itu. Jadi dia yang menyuruh orang yang mempunyai gelang itu untuk menabrakku. Tapi tunggu sebentar, sebelumnya dia tidak mengenalku kan? Apa yang meneror selama hidupku ini juga dia? Haiiishh ini benar-benar membuatku frustasi.

Tiba-tiba pintu kantorku terbuka, aku mendongak dan melihat Jae Won panik sambil berjalan ke mejaku.

“Bagaimana keadaan bapak, bapak baik-baik saja? Ku dengar gosip itu..” katanya cepat dengan nada khawatir

“Bisakah kau mengetuk pintu dulu?” kataku padanya

“Oh choisonghamnida…choisonghaeyo..” dia menunduk sedalam-dalamnya.

Aku menghela nafas panjang. Kau memang tidak pernah berubah. Dengan keadaan belum sembuh benar, kau kemari hanya untuk bertanya keadaanku. Kau benar-benar terlalu baik untukku Jae Won.

xxx

“Jangan khawatirkan aku. Gosip itu tentu tidak benar. Oh ya bukankah dokter menyuruhmu istirahat sampai minggu depan?” tanyaku pada gadis yang ternyata berjalan saja masih pincang ini.

Aku duduk di taman bersamanya sekarang. Dengan es cream di tangan kami. Kami menikmati suasana yang sepi di sini. Mencoba sejenak melupakan permasalahan yang ada.

“Es mu, meleleh!” katanya tidak menjawab pertanyaanku malah menunjuk-nunjuk es creamku yang mulai mengucur membasahi jariku.

“Kau ini!” kataku padanya, lalu menjilati jariku yang terkena es crim.

Lalu ku dengar dia malah tertawa melihatku, “Jebal~ kenapa kalian begitu mirip!”

“Apa maksudmu, siapa yang mirip?”

Dia menatapku. “Anda dengan yoboku, sungguh sangat mirip!” dia menghela nafas. “Walau secara fisik kalian berbeda, tapi cara kalian bicara, ekspresi wajah bahkan suara kalian sama”

Rasanya seperti di hantam baja. Kenapa dia bisa tahu? Kenapa dia sadar.

“Dia kekasih yang meninggalkanku”  jelasnya sambil tersenyum pahit.

“Dia meninggalkanmu? Lalu apa kau tahu sekarang dia dimana?” tanyaku ragu padanya. Aku ingin tahu apa yang dia rasakan selama ini padaku… pria yang melukainya ini…

Dia tertawa kecil, “Dia itu satu-satunya orang yang kupercaya baik dulu ataupun sekarang. Aku tidak tahu alasannya meninggalkanku, tapi aku percaya dia di sana juga merasakan hal yang sama denganku” kini dia menundukkan kepalanya, “Terakhir yang kutahu, dia sudah meninggal karena tertabrak mobil dan masuk ke jurang”

“Maaf pak sebenarnya saya memang menghindari bapak. Karena bapak terlalu mirip dengannya. Kupikir aku bisa melupakannya ternyata aku salah, bahkan aku semakin merindukannya”

Dia menunduk cukup lama. Tiba-tiba saja tanganku bergerak memeluknya. Kemudian dia mulai terisak. Kupeluk dia erat-erat. Kau benar jae won, aku memang merasakan hal yang sama denganmu. Kau benar.

xxx

 

Aku dan detektif Kim bekerja keras hari ini. Karena mungkin besok aku tidak akan bisa menyelidiki kasus ini lagi. Kami berusaha mencari bukti bahwa pelakunya memang adik nenek itu, dan mencari tahu apakah orang yang mencoba membunuhku selama ini apakah juga dirinya.

“Istirahatlah..besok hari yamg berat bukan?” katanya. “Biar kulanjutkan ini, bersama rekan-rekanku yang lain. Aku yakin semuanya dapat terbongkar!”

Aku tersenyum  “Besok memang hari yang berat, tapi aku tidak bisa berdiam diri”