The Dark and The Light Wings (Chapter 1)

Main cast:
B2st member

Support cast:
– Shin Hyunyoung
– Park Sunghyo
– Min Minri

Rate: NC-17
Length: Sequel
Genre: Fantasy, Sad, Mystery

Shin Hyunyoung story…

Kukendarai sepedaku ke sebuah tempat yang sudah hampir setahun tidak kukunjungi, pasti teman-temanku sudah banyak yang menunggu disana. Termasuk orang itu, Yoon Doojoon oppa.
Saat memasuki halaman, sudah kulihat Doojoon oppa, Sunghyo, Minri, dan Junhyung oppa yang berkumpul di sebuah tempat. Aku segera memarkir sepeda dan berlari menuju kerumunan mereka.
“Kau hampir saja terlambat, Hyunyoung.” Ujar Minri “Ini kan sudah mau jam 9, kami nyaris menunggu setengah jam.”
“Mianhae. Tadi aku membereskan kontrakanku terlebih dulu.” Jawabku sambil terengah-engah. “Jadi…. Kita mulai sekarang nih oppa?”
Doojoon oppa mengangguk. Lalu kami bersama-sama menunduk memanjatkan doa di depan sebuah nisan…

Shin Hyun Ri
24 Agustus 1989-14 Desember 2010

“Sudah setahun ya, sejak kepergian unnie.” Aku memulai perbincangan dengan Doojoon oppa, “Aku jadi ingat betapa menyedihkannya tragedy itu.”
Doojoon oppa mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca, “Kita hanya bisa mendoakannya dari sini, benar kan?”
Aku mengangguk sambil mengelus elus pundak oppa, “Uljimma oppa. Ini sudah setahun sejak kepergian unnie, dia pasti sudah tenang.”
“Ssssssssssssssssk aku…. Aku hanya merasa kehilangan seseorang yang berharga.” Jawab Doojoon oppa sambil membersihkan hidungnya. “Kau tahu kan kalau aku sangat mencintainya? Bahkan aku berniat untuk menikahinya di awal musim semi.”
“Aku tahu, mungkin rasa frustasi sudah menjalarinya lebih dari yang bisa ia terima.” Jawabku sambil menatap awan. “Sehingga ia mengambil jalan pintas seperti itu.”
“Hanguk saram memang banyak yang frustasi, sehingga banyak yang ingin bunuh diri… termasuk aku.” Doojoon oppa meniup harmonica kesayangannya.
Aku menyenderkan kepalaku di bahu oppa, “Oppa masih punya aku meskipun aku bukan dongsaeng kandungmu.….”
Ia hanya mengeryitkan alisnya sedih, dan terus meniup harmonica…..

Shin Hyunri adalah unnie yang lebih tua 2 tahun dariku, kami berbagi semua yang kami punya. Kami berbagi canda, tawa, dan kesedihan bersama. Bahkan ia berbagi kamar kontrakannya denganku saat aku berkata padanya kalau aku mendapat pekerjaan di sekitar kontrakannya. Kasir sebuah midimarket, tidak terlalu mewah.. tapi aku menyukainya, setidaknya aku tidak harus selalu bergantung pada orangtua dan unnie ku.
Tapi setahun yang lalu, ia bunuh diri dengan melompat dari lantai 10 yang berjarak 20 meter dari kontrakan kami. Aku tidak mengerti apa yang unnie pikirkan, tapi sejak itu aku tinggal sendiri di kontrakan yang unnie beli, Yoon Doojoon adalah namja chingu nya. Seperti yang ia bilang, ia mencintainya dan berniat untuk menikahi unnie tahun ini. Tapi takdir berkata lain…
Beberapa hari sesudah kematian unnie, Doojoon oppa hendak menyusulnya dengan cara menggantung diri. Untung saja aku segera menemukannya dan memutuskan tali yang hendak mencekiknya itu, alasanku menyelamatkannya bukan karena ia pacar unnie ku. Tapi aku tidak ingin orang yang telah mengisi hidupku selama ini menghilang satu persatu, termasuk Doojoon oppa.
“ Mau kuantar ke tempat kerjamu, Hyunyoung?”tanya Doojoon oppa yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya.
“Aku bawa sepeda, oppa mau kuantar sampai rumah?” tanyaku balik “Kan tempat kerjaku dekat dengan rumah oppa.”
“Baiklah, tapi aku yang mengendarainya ya.” ujar Doojoon oppa sambil menarik tanganku untuk berdiri dan menuju tempat parkir sepeda. “Tadi kita duduk di depan makan Hyunri lama sekali, kau tidak kedinginan kan?”
Aku menggeleng sambil menggosokkan tanganku yang menggunakan sarung tangan. Kulihat Minri, Junhyung oppa dan Sunghyo sudah pulang duluan. Mungkin mereka juga punya pekerjaan yang tidak bisa menunggu.
“Hyunyoung, apa kau tidak bisa cuti sehari saja? Aku ingin kau menemaniku ke taman ria, kita kan bisa minta gulali dan permen gratis darinya.”
“Maaf oppa, aku tidak bisa. Yeoseob sudah menunggu di sana, karena salah satu temanku ada yang sakit dan tidak masuk.” Jawabku sembari Doojoon oppa mengendarai sepeda, kupegang pinggangnya erat-erat karena jalanan begitu terjal. Di leher belakangnya terlihat sebuah garis seperti tattoo yang berwarna hitam “Kalau mau, oppa bisa bawa sepedaku dan menjemputku nanti malam, bagaimana?”
“Kalau kau tidak keberatan.” Jawab oppa. “Soalnya banyak ajakan dari temanku untuk makan bersama dan semacamnya, musim dingin ini aku kan libur… jadi aku bebas mau kemana saja.”
Kami sudah sampai di depan midimarket tempatku bekerja, aku segera turun dan merapihkan bajuku, “Baiklah, sampai ketemu nanti malam ya. kalau sudah mau pulang nanti ku telpon.”
Doojoon oppa mengangguk dan segera berlalu dengan sepedaku, dengan terburu-buru aku masuk ke dalam midimarket yang hangat. Kulihat Yeoseob sedang melayani 2 orang tamu.
“Annyeonghaseo Yoseob-sshi, maaf aku terlambat.” Sapaku dari ujung pintu midimarket.
“Annyeong Hyunyoung, cepat ganti baju~! Aku kerepotan nih..” protes Yoseob. Kulihat di meja kasirnya penuh dengan barang belanjaan si kostumer, sepertinya Ahjumma itu belanja untuk bulan depan saking banyaknya.
“Yak Hyunyoung noona, kau lama sekali datangnya.” Ujar Dongwoon yang sedang mengisi lemari pendingin dengan berbagai macam minuman. “Kau pacaran dulu ya dengan Doojoon hyung?”
“Enak saja kau, dia itu oppa ku. Mana mungkin aku mengkhianati almarhum unnie ku? Dia selamanya akan menjadi oppaku.” Protesku sambil mencubit pipi Dongwoon. “Kerja yang benar, Arabian namja~”
Dongwoon tertawa-tawa meskipun aku sudah ke ruang ganti untuk melepas jaket dan mengganti bajuku dengan baju kerja.
Oke, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hwaiting~~!!

Park Sunghyo story….

“Meja 8 mana pesanannya?” Teriakku pada Junhyung oppa yang sibuk dengan pesanan pesanan yang dimasak. Sementara para karyawan dan staff yang lain sibuk dengan pesanan mereka masing-masing.
“Kenapa harus aku? Berikan pesanannya sama yang lain dong. Aku sibuk nih.” Bisik Junhyung yang sedang memasak waffle.
“Kan kau partnerku oppa, disini maupun di pantai. Hahahaha.” Godaku
“Lihat saja nanti, akan kubanjiri kau dengan pesanan para pelanggan dan aku akan mengatakan hal yang sama.” Ujar Junhyung sambil berbisik bisik
Aku memeletkan lidahku, senang sekali bisa menggoda Junhyung oppa seperti ini. Mungkin dia bisa menggodaiku sepanjang musim, tapi musim dingin adalah musim kemenangan bagiku.

Aku dan Yong Junhyung oppa adalah rekan kerja di sebuah restoran di pantai, dan di sebuah restoran cepat saji jika musim dingin. Biasanya aku menjadi juru masak di restoran pantai, tapi di restoran cepat saji ini… Junhyung oppa yang menjadi juru masak.
“Nih pesanannya. Satu cheese burger dengan sup krim.” Junhyung oppa memberikan masakannya dan segera saja kuantarkan ke pelanggan yang memesan.
“Meja 8, Satu cheese burger dengan sup krim ya? silahkaaaan. Selamat menikmati~~” ucapku ramah kepada pelanggan tersebut.
“Yak yeoja, bisa minta satu sendok lagi?” tanya Ahjumma yang duduk tidak jauh dari tempatku berdiri.
Aku mengangguk dan mengambil satu sendok di dekat meja untuk memesan. “Ini sendoknya, Ahjumma. Selamat makan~~” ucapku ramah disertai dengan senyuman khasku.
Sesungguhnya aku lelah sekali bekerja sini karena banyaknya pelanggan, tapi daripada menganggur… kenapa tidak?
“Yak, ini coklat panas untukmu.” Junhyung oppa membawa 2 gelas dan memberikan segelas coklat panas yang besar untukku.
“Gamsahabnida oppa.” Jawabku sambil menyeruput coklat panas itu. “Musim dingin membuatku pusing, restoran cepat saji ini terlalu banyak pelanggan dan sedikit karyawan, makanya pelayanannya kurang memuaskan.”
“Ya mau bagaimana lagi, staff yang kerja di musim lain kan pulang kampung. Lagipula, memangnya kau tidak terbiasa? Pelanggan di pantai kan juga banyak.” Tanya Junhyung oppa
“Tidak sebanyak ini oppa. Lagipula aku kan hanya memasak, bukan menjadi pelayan.” Protesku. “Lagipula kau lebih enak, hanya mondar mandir di sekitar pantai dengan sepeda, mobil terbuka atau jalan kaki.”
“Tidak enak juga loh jadi penjaga pantai. Kau harus bisa berenang dengan baik, dan terkadang kau harus menghadapi skandal-skandal yang dibuat oleh remaja yang berkunjung kesana.” Keluh Junhyung oppa. “Lagipula gaji kami lebih sedikit daripada gajimu, jadi bersyukurlah sedikit.”
Aku mengangguk sambil tertawa. “Tapi musim dingin memang sangat melelahkan. Bagaimana kalau besok kita cuti dan ke taman bermain tempat Minri-sshi bekerja? Kita bisa membantunya dengan membagi selebaran atau membagikan balon. Bagaimana?”
“Aku ikut kau saja Sunghyo.” Jawab Junhyung oppa sambil menghabiskan isi gelasnya, “Aku mau bertemu Hyunseung-sshi. Menggodainya merupakan pekerjaan yang menyenangkan.”
“Kau bisa saja oppa,” ujarku sambil menggebuk pundaknya. “Biarpun Hyunseung oppa tidak banyak bicara, tapi Hyunyoung sangat menyukainya loh.”
“Jangan bicarakan Hyunyoung~~ bagaimana antara Kikwang denganmu?” tanya Junhyung oppa yang berhasil membuat wajahku memerah.

Min Minri story..

Hari Minggu…

“Mini Minri!” panggil seorang namja berhidung mancung dan bermata sipit dengan otot kekar yang menyelubungi kedua lengannya. Dia sengaja mengataiku seperti itu karena tubuhku yang kecil. “Jangan melamun~~”
“Aniiyo Kikwang-sshi… aku hanya teringat kejadian 4 hari yang lalu, saat melayat unnie nya Hyunyoung.” Ucapku sambil menata boneka-boneka yang akan dijual hari ini, “Meskipun sudah setahun.. Doojoon oppa masih terlihat sedih.”
“Oooooh unnie temanmu yang bunuh diri itu ya?” tanya Kikwang. “Ya… namanya juga pacar, pasti merasa sangat kehilangan dong.”
Aku mengangguk angguk pelan, “Tapi.. pasti perasaan Hyunyoung lebih sedih lagi sebagai adik kandungnya.”
“Nee~ arra Minri-sshi, sudahlah tidak usah dipikirkan.” Tegas Kikwang. “Kau kan harus membagi selebaran di dekat toko kita nanti.”
“Nee, Hyunseung oppa… bagian aksesorisnya sudah?” tanyaku pada namja berpipi tinggi yang dari tadi membereskan bagiannya tanpa suara.
“Sudah.” Jawabnya pendek. “Mau bagi-bagi selebaran sekarang?”
“Jamsimman.” Jawabku sambil menaruh boneka yang terakhir, “Mau bagi-bagi balon bersamaku?”
Ia mengangguk, oppa yang satu ini memang jarang berbicara dibandingkan dengan Kikwang-sshi. Tapi Hyunyoung-sshi sangat mengaguminya entah dari bagian mana. Katanya, Hyunseung oppa punya senyum yang mampu merebut hatinya *gubrak*
“Yasudah cepat sebarkan selebarannya dan bagikan balonnya. Ppali~ ppali~~!!” Kikwang mendorong kami berdua sembari memberi semangat pada kami berdua. “Semoga kalian bertemu yeoja namja yang cantik atau tampan yaaa.”
Kami berjalan menyusuri tempat hiburan tempat kami bekerja, tempat ini baru saja buka satu jam yang lalu. Tapi sudah ramai saja, ya maklumlah.. ini kan hari Minggu
“Minri, aku kesana ya. disana banyak anak kecil.” Hyunseung oppa menunjuk kerumunan anak kecil yang sedang merengek pada orangtuanya. Aku mengangguk dan meninggalkan Hyunseung yang berjalan kesana.
“Permisi noona, minta selebarannya dong.” Ujar seorang laki-laki di belakangku, saat kulihat.. ternyata itu adalah Dongwoon. Bersama dengan Yoseob dan Hyunyoung.
“Dongwoon-ah~~!! Hyunyoung-sshi, Yoseob-ah~~!! Kalian… main kesini?” wajahku merona hebat karena melihat namja beralis tebal dengan hidung mancung yang ternyata lebih muda dariku itu.
“Minri-sshi~ iya nih, kami sedang jalan-jalan karena libur kerja.” Ucap Hyunyoung, “Mau kubantu bagi-bagi selebaran sama Dongwoon?”
“Tidak usah deh. Aku malu, hehehehe.” Bisikku pada Hyunyoung. “Kalian main saja, nanti kalau aku sudah selesai kerja aku traktir. Kita makan berenam, bagaimana?”
“Ide bagus, eh.. ngomong-ngomong oppa mana?” tanya Hyunyoung. Sudah kuduga, pasti ia mencari Hyunseung oppa.
“Itu tuh.. lagi membagikan balon. Dongwoon-ah, Yoseob-ah, kalian mau menemani Kikwang atau mau pergi bermain?” tanyaku.
Saat mereka menjawab pertanyaanku, kulihat punggung Hyunseung oppa dari kejauhan. Terlihat sebuah garis berwarna merah di belakang leher menuju ke punggungnya, seperti sebuah goresan luka.
Kok rasanya aku baru melihat garis itu ya? apa Hyunseung oppa mengalami sesuatu sehingga membuat luka seperti itu?