Title : All Seems To Be Crazy!? (Part 2)

Writer : Catherine Crystal ><

Cast :

-Cho Kyuhyun => Super Junior

-Shin Hyeyoung => OC

-Lee Sungmin => Super Junior

-Park Nachan (Nana Park) => OC

Genre : Romance, sisanya tentuin sendiri

Length : Continue / Chaptered

Udah pernah dipost di http://lovelyfanfictionhouse.wordpress.com/ <= di visit yaa^^

Huwaduh… aku lupa belum kirim part 2-nya ke sini… Hiyeeeee….. *nangiskejer* hope you like it all… still waiting for your responses my clovers^^

Gatau clovers itu apa? Buka aja : http://lovelyfanfictionhouse.wordpress.com/2011/12/26/363/

Dan jangan muntah kalo aku pada panggil kalian kayak gitu, itu nama official lovely readersku^^

============================================================

SRUK… SRUK… SRUK…

Terdengar suara kain pel yang bergesekan dengan lantai kamar mandi. Dan gagang kain pel itu dipegang kuat-kuat oleh seorang gadis yang sedang merengut kesal. Yah, siapa lagi kalau bukan Nana?

“Aaah, pekerjaan ini merepotkan saja! Aku jadi harus mengulur waktu pulang sekolahku!” gerutunya.

“Terima saja Nana-ah! Kau sendiri kan yang dulu bilang akan menanggungnya? Aku kan hanya ikutan!” terdengar teriakan dari bilik kamar mandi di sebelahnya yang sedang dibersihkan oleh Hyeyoung.

“Aku kan tidak bilang tidak mau menanggungnya!”

“Terserahlah apa katamu, tapi kamar mandi ini sungguh bau!” seru Hyeyoung. Ia mulai mengepel lantai kamar mandi lagi, namun tak kunjung bersih juga rupanya. Dengan kesal, dibantingnya kain pel itu ke dinding kemudian ia menyandarkan punggungnya pada dinding keramik kamar mandi.

Tiba-tiba saja otaknya memutar perkataan ibunya beberapa hari lalu.

“Hhhh… eomma ada-ada saja…” gumamnya kemudian memijit keningnya yang terasa pusing. Tiba-tiba saja terdengar teriakan dari luar kamar mandi perempuan.

“Nana-ah!! Sudah selesai?”

Pasti Kyuhyun.

“Belum, oppa! Kau pulang saja dulu! Nanti aku pulang sendiri!” teriak Nana.

“Aniyo, aku akan menunggumu, Hyeyoung! Kau juga di dalam kan?”

“Neee!” teriak Hyeyoung kesal. Pikirannya masih tertuju pada masalah perjodohan yang diuatarakan ibunya beberapa hari yang lalu. Bagaimana cara menolaknya? Dan kalau tidak bisa, bagaimana cara mengatakannya pada Sungmin dan Nana? Pasti mereka sakit hati kan?

“Keluarlah sebentar!” teriak Kyuhyun lagi.

“Kenapa?” tanya Hyeyoung.

Hening…

Sepertinya Kyuhyun sedang mencari alasan untuk berbicara dengan Hyeyoung.

“Anu… mmm… ayo kita membayar hutang jjajangmyeon minggu lalu!”

“Kapan?”

“Mm… itu, waktu Sungmin dan Nana dihukum!”

“Yang mana sih?”

“Aish… kau pasti lupa, sekarang keluarlah dulu!”

Dengan malas, kaki Hyeyoung bergerak melangkah keluar.

“Nana-ah, kutinggal dulu ya! Nanti aku pasti kembali lagi!”

“OK!”

~0~

“Hutang jjajangmyeon apa sih?” tanya Hyeyoung. Kyuhyun mendengus kesal.

“Kau ini tidak fleksibel ya, aku kan hanya mencari alasan untuk membicarakan masalah perjodohan itu denganmu!”

“Ooh… kenapa pakai bilang hutang segala?”

“Aku tidak punya alasan lain!”

“Sekarang bagaimana?”

“Justru aku mau menanyakan hal itu”

Mereka berdua sama-sama menghela nafas berat di lorong panjang yang kini sudah sepi itu.

“Apa… orang tuamu memaksamu untuk menuruti perjodohan itu?” tanya Kyuhyun. Hyeyoung memandangnya dengan tatapan kosong.

“Tidak”

“Lalu kenapa kau tidak menolaknya?”

“Ini tergantung orang tuamu, apa mereka juga memaksamu?”

“Iya” jawab Kyuhyun, “Mereka memaksaku untuk menurutinya, tapi kenapa orang tuamu tidak memaksamu?”

“Sebenarnya begini ceritanya…”

Flashback…

Hyeyoung terus membolak-balikkan badannya di atas kasur, berharap menemukan posisi yang enak untuk tidur. Tapi pikirannya sedang kalut. Terngiang terus perkataan ibunya saat makan bersama tadi.

“Tapi aku tidak mau mengecewakan Sungmin oppa…” gumamnya. Tiba-tiba…

Tokk… tokk… tokk…

“Hyeyoung? Kau sudah tidur?” teredengar teriakan ibunya dari luar.

“Belum, eomma masuk saja!”

KREEK…

Pintu dibuka perlahan dan tampaklah sosok wanita paruh baya itu berdiri di balik pintu itu. Ia pun masuk ke dalam kamar anaknya dan duduk di kasur.

“Eomma belum mengganti pakaian dengan piyama?” tanya Hyeyoung. Ibunya menggeleng pelan.

Selama sesaat hening melanda mereka, sampai akhirnya ibu Hyeyoung membuka pembicaraan.

“Hyeyoung-ah, eomma tahu kau pasti tidak menyetujui perjodohan ini…”

“Ne eomma, aku memang tidak menginginkannya”

Ibu Hyeyoung menghela nafas berat. Tampak sekali raut kesedihan di wajahnya.

“Kau boleh menolak perjodohan ini kalau kau mau…”

Spontan Hyeyoung langsung bangkit dari tidurnya dan menatap ibunya penuh harap.

“Jeongmallyeo eomma?”

“Ne, minggu depan akan diadakan acara makan malam lagi, dan kau tolak perjodohan itu pada eomma Kyuhyun secara tegas, dan eomma berjanji akan menghentikan semua ini…”

“Wuaah… aku senang sekali eomma! Jeongmal gomawoyo!”

“Ne, cheonmaneyo…”

“Eomma, sekarang eomma harus tidur, ayo kuantar ke kamar eomma…” Hyeyoung pun berdiri dan diikuti eommanya menuju kamar yang terpaut satu lantai dari kamar Hyeyoung itu.

~0~

Hyeyoung berjalan mondar-mandir di lorong depan kamar ibunya. Ia masih memikirkan cara menolak perjodohan itu secara halus dan tegas. Berkali-kali sudah ia susun kata-kata yang menurutnya bagus, tapi selang beberapa menit, kata-kata itu pasti hilang lagi dari ingatannya.

Tanpa disadari, semua lampu di rumah sudah dimatikan. Tapi Hyeyoung tetap berjalan mondar-mandir sendirian di situ. Hingga akhirnya…

KLEK!

Terdengar bunyi pintu kamar orang tua Hyeyoung dibuka. Spontan, Hyeyoung bersembunyi dibalik tembok pembatas, dan tampaklah sosok ibunya yang berjalan mengendap-endap keluar kamar sambil membawa sebatang lilin. Penasaran, Hyeyoung mengikuti ibunya itu hingga ke sebuah ruangan besar yang sudah tiga tahun ini tidak terpakai. Kamar kakeknya.

“Ngapain eomma ke sini? Hal-abeoji kan sudah meninggal tiga tahun yang lalu? Lalu ngapain eomma ke sini?” Hyeyoung berjalan mendekati pintu yang sudah ditutup oleh ibunya. Perlahan, dia menciptakan satu celah di pintu itu dengan mendorongnya pelan. Ia terperanjat. Ibunya menangis di depan foto kakeknya?

“Appa… aku sudah mengutarakan amanatmu… amanatmu untuk menjodohkan Hyeyoung dengan putra keluarga Cho…”

Hyeyoung semakin mempertajam pendengarannya. Semoga ia tak salah dengar karena bisa menciptakan persepsi yang berbeda.

“Tapi aku tahu dia akan menolaknya… Setahun yang lalu aku tanpa sengaja membaca SMS di ponselnya, dan aku jadi tahu kalau ia berpacaran dengan Lee Sungmin, putra keluarga Lee, bukan Cho. Aku jadi tidak tega padanya, appa… eottokhae? Apa benar keputusanku untuk menghentikan perjodohan ini? Apa tidak apa-apa appa?”

TES.

Air mata Hyeyoung menetes. Tersentuh. Ternyata eommanya sangat baik padanya. Ia tak mau menghalangi hubungannya dengan Sungmin. Tapi di sisi lain ia jadi tak yakin mau menolak perjodohan ini. Ia sangat menyayangi kakeknya semasa hidup dan hanya kakeknya itu yang mau mendengarkan semua curhatannya baik yang menyakitkan hati ataupun tidak. Apakah dia masih yakin mau melanggar amanat orang paling penting di hidupnya itu?

Flashback end…

Kyuhyun terperangah.

“Jadi itu perjanjian kakekmu dengan keluargaku?”

“Nee, eottokhae oppa?”

“Tolak saja perjodohan itu Hyeyoung-ah, itu akan menyakitkan bagi Sungmin dan Nana”

“Aku juga berpikir begitu oppa… tapi ada satu sisi di hatiku yang tidak yakin akan menolaknya”

“Apa kau mencintaiku?”

“Tentu tidak oppa! Aku hanya mencintai Sungmin oppa, bukan kau!”

“Aku juga hanya mencintai Nana, bukan kau! Jadi tolak saja perjodohan itu!”

Hyeyoung menghela nafas berat. Pada akhirnya ia akan menolak perjodohan itu.

‘Mianhae hal-abeoji…’ gumamnya dalam hati, air matanya hampir menetes namun segera saja ditahannya sekuat tenaga. Jangan sampai ia terlihat lemah menghadapi masalah sekecil ini. Dengan hati yang ia mantabkan, ia berkata

“Oke, aku akan menolaknya minggu depan”

~0~

BRAAK!!

Nana membanting kain pel ke sembarang arah. Capek. Sudah berjam-jam ia bekerja dan Hyeyoung tak kunjung kembali. Ke mana lagi dia ini?

“Mereka hutang jjajangmyeon di mana sih?” gerutunya. Disandarkannya punggungnya pada dinding kamar mandi dan dipandangnya seluruh isi bilik itu, “Masih belum bersih juga, mereka yang menggunakan kamar mandi ini sungguh jorok!”

Tokk… tokk… tokk…

“Hyeyoung-ah!” terdengar teriakan dari luar kamar mandi.

“Sungmin oppa? Hyeyoung sedang membayar hutang jjajangmyeon bersama Kyuhyun dan belum kembali!” teriak Nana.

“Aah… lalu kau membersihkan kamar mandi itu sendirian?”

“Nee! Tugasku menumpuk banyak sekali! Aku bahkan belum membersihkan kamar mandi pria!”

“Mwo? Kamar mandi pria segala?”

“Nee… Song Songsaengnim benar-benar GILA!!”

“Tapi kalau ada anak yang buang air kecil di sana bagaimana?”

“Makannya itu oppa!”

“Aku yang bersihkan saja ya?” tawar Sungmin.

“Mwo? Aniyo, tidak usah oppa. Paling sebentar lagi Hyeyoung kembali bersama Kyuhyun oppa!”

“Aniyo, biar aku saja!”

“Tapi opp…”

BLAM!

Terdengar suara pintu ditutup dari luar. Pasti Sungmin sudah masuk kamar mandi pria untuk membersihkannya.

“Haah… ya sudahlah, aku kan malah untung, kamar mandi pria pasti lebih jorok dari pada ini!”

~0~

Kyuhyun dan Hyeyoung berjalan berdampingan di lapangan sekolah. Tujuan mereka dekat sih, gerbang sekolah. Namun entah kenapa terasa jauh. Pikiran mereka berkecamuk sendiri-sendiri.

“Kau tidak kembali ke kamar mandi?” tanya Kyuhyun.

“Kau sendiri tidak menunggu Nana?”

“Aniyo, melihat wajahnya saat ini hanya akan menyakitkan hatiku”

“Aku juga” balas Hyeyoung.

“Aku antarkan kau pulang ya”

“Tidak usah”

“Tidak apa-apa, lagipula rumah kita kan dekat”

“Tapi nanti orang tuaku berpikir bahwa aku berubah pikiran dan menerima perjodohan sialan itu!”

“Tidak akan! Aku kan hanya mengantarmu sampai depan rumah saja!”

“Ya sudah kalau begitu”

~0~

BRAK!

Pintu kamar mandi ditutup secara bersamaan. Keluarlah dua sosok yang berlumuran keringat dari dalam kamar mandi yang berbeda.

“Haaah… melelahkan sekali, untung sudah selesai…” seru Nana lega.

“Ne, kamar mandi pria jorok sekali!”

“Yang wanita juga! Eh, ngomong-ngomong kenapa Kyuhyun dan Hyeyoung belum kembali ya? Mereka ngutang jjajangmyeon di mana sih?”

“Di apgeujong-dong mungkin?”

“Itu terlalu dekat! Pasti lebih jauh lagi!”

“Aku akan telepon Hyeyoung!”

Sungmin pun mengeluarkan ponselnya dan menelepon Hyeyoung.

“Yoboseyo?”

“Yoboseyo, ne oppa? Aku minta maaf ya, kau antarkan Nana pulang dulu, Kyuhyun oppa dan aku… err… harus mencuci piring di sini karena tidak bisa melunasi hutang!”

“Ah, arra…”

~0~

Sungmin melambatkan mobilnya. Capek. Pikirnya ia akan mampir ke rumah Hyeyoung dulu setelah mengantar Nana, sekedar untuk memandang rumahnya dari jauh, itu memang kebiasaannya. Dan sekarang ia sudah sampai di depan rumah itu.

DEG!

Langsung terlihat pemandangan yang tidak mengenakkan.

Hyeyoung… pulang diantar Kyuhyun dan mereka terlihat sangat dekat. Kyuhyun bahkan melambaikan tangannya pada Hyeyoung. Tunggu dulu, tadi katanya mereka mencuci piring di kedai jjajangmyeon?

Darah Sungmin langsung mendidih. Rasa cemburu mengaliri tubuhnya. Dengan perasaan marah, dinaikkannya lagi kaca mobil yang tadi sudah sempat dibuka dan dilajukannya mobil dengan kecepatan tinggi.

.TBC.

 

Iklan