Title                       : my savior, I love you :* (PART 2 – would you be my key?)

Author                  : yellowcandy

Main Cast            :Alexandra Han (OC), Kim ‘key’ kibum SHINEE and other shinee member, lee dong jung ahjussi

Length                  : 2 shots

Genre                   : romance,  friendship

Rating                   : general, PG-13

Cerita ini milikku, tapi key dan yang lainnya milik tuhan dan keluarganya, happy reading J

Key’s pov

“jadi kau seorang artis?” tanyanya saat kami sedang dalam perjalanan pulang dari salah satu taman bermain di seoul, sudah 3 kali sejak pertemuan – kecelakaan – kami (dia menumpahkan kopi di syalku), kami jalan bersama, sounds like a dating right? Kkk~

Aku menghela napas panjang, padahal kami sudah sering menghabiskan waktu bersama tapi dia baru tahu hal ini sekarang, aku memang sengaja tidak memberitahunya, membiarkan dia tahu sendiri. Aku ingin dia mengenalku sebagai “aku” bukan key shinee atapun almighty key. sebelum aku mengatakan iya, dia menatapku cemas dan ………takut?

“nde.. wae?” tanyaku penasaran

“anni” dia membuang muka dan kembali larut dengan majalah yang ia baca, aku sering melihat dan memperhatikan wajahnya, dan ekspresi yang kulihat sekarang adalah ekspresi yang tak pernah dia perlihatkan sebelumnya, seperti marah tapi takut, kesal tapi penuh kecemasan.

Aku menepikan mobil dengan tergesa, aku tak tahu kenapa tapi rasanya sungguh aneh, dia sama sekali tak berbicara selama perjalanan setelah menyatakan tentang artis tadi, suasananya jadi benar-benar tak nyaman. Dia melirik ke arahku, matanya seakan menyiratkan ‘mengapa berhenti?’

“memang kenapa kalau aku artis?” tanyaku to the point, kedua kalinya kutanyakan ini dan aku berharap jawabannya bukan sekedar tidak apa-apa

“aku harus menjawabnya?” matanya seakan menerawang ke jalanan di hadapan kami, kosong, suaranya pun terdengar sangat aneh, dingin.

Aku mengangguk

Tiba-tiba dia tersenyum dan kemudian tertawa, pelan tapi sangat aneh, membuatku sedikit merinding.

“kenapa harus? Aku bahkan baru mengenalmu beberapa waktu lalu” ucapannya terdengar sangat tegas dan entah kenapa memberikan efek nyeri di dadaku.

Aku menelan ludah, ucapannya benar, sangat benar, tapi…..

“aku tahu ini agak gila, tapi…” aku berhenti sebentar, matanya seakan memaksaku untuk melanjutkan kalimat rancuku tadi, aku berusaha mengusir kegugupan yang entah bagaimana bisa merasuki diriku.

“tapi….ah~ benar, aku tak perlu tahu, none of my business” kataku pada akhirnya sambil berusaha tersenyum, dia kembali melihat lurus ke arah jalanan, sedikitpun tak menghiraukanku.

Aku kembali melajukan mobil, menuju ke rumahnya, dengan mood yang berantakan juga perasaan sesak menghimpit dadaku, ada apa denganku? Kenapa dengannya?

**

 

Sandra’s pov

key seorang artis pikiran ini terus menerus bergelayutan di otakku, tiga jam yang lalu aku masih bersama key, dia mengantarkan ku pulang untuk yang kesekian kalinya, aku senang, tentu saja, tapi mengetahui fakta tentang dia seorang artis, rasanya seperti mendapat tamparan keras pada kedua pipiku, aku tidak kecewa, aku hanya kembali merasakan perasaan takut yang sudah teramat lama ku simpan, kau harusnya tahu bagaimana rasanya saat kau mulai nyaman dengan seseorang tapi kemudian mengetahui kenyataan bahwa orang itu membangkitkan kenangan buruk yang kau berjanji akan kau simpan sendiri selamanya, itulah yang kurasakan pada key sekarang.

Aku menatap gelang pemberiannya tadi siang (hasil dari salah satu permainan di taman bermain yang kami kunjungi, benar-benar lucu!), dan tiba-tiba tersenyum secara tidak sadar.

Senyumanku menguap, aku menatap gelang yang masih kugenggam, perasaan takut kembali membayangiku, seakan itu sebuah lubang yang menyeretku masuk semakin dalam dan dalam.

**

Key’s pov

“key, kau kenapa?” onew hyung datang mendekatiku tepat setelah latihan selesai, apa aku sebegitu mudahnya ditebak? Padahal tadi aku hanya melempar botol tempat minum karena merasa frustasi dengan latihanku yang berantakan, lalu dengan praktis hyungku ini bertanya ada apa, haruskah kuceritakan tentang semalam?

Aku menggeleng pelan, untuk onew hyung juga untuk diriku sendiri. Mungkin semalam hanya karena perasaanku yang sensitive, aku yakin Sandra baik-baik saja, aku yakin dia takkan berubah hanya karena tahu identitasku yang seorang artis, lagipula apa salahnya jika aku seorang artis? itu bukan pekerjaan yang buruk kan?

 

Key’s pov

Perkiraanku salah, Dia berubah..

Ini sudah sebulan sejak pertemuan terakhir kami, jangan pikir aku tak melakukan apapun selama sebulan ini, aku menguhubunginya, menelponnya setiap hari, mengirimnya pesan entah berapa kali dalam sehari, juga beberapa kali datang kerumahnya yang selalu saja di sambut seorang pria dan selalu mengatakan “nona Sandra tidak dirumah” dan tiap kali aku bertanya kemana, dia pasti akan menjawab “maaf tuan, tapi saya tidak bisa memberitahu anda” kemudian menutup pintunya tepat di depan hidungku. Aku tak tahu harus bagaimana lagi.

“HH” aku menghembuskan napas dengan keras, pikiranku tantang Sandra benar-benar membuatku tak bisa konsentrasi barang sejenak. Pertanyaan-pertanyaan semacam ‘apakah dia sakit seperti di cerita-cerita film?’ bahkan sempat hinggap di kepalaku.

“hyung..” aku melirik ke arah suara dan mendapati minho disampingku.

“hmm”jawabku, tak bersemangat

“taemin ingin makan masakanmu” ujarnya lagi, aku meliriknya lagi lalu membuang napas dengan lelah. Sandra.. llihat, gara-gara kau aku bahkan membiarkan dongsaeng kesayanganku kelaparan. Ck!

Aku beringsut menuju dapur dengan langkah diseret, melewati onew dan jjong hyung yang sedang diruang makan.

“Minnie-ya, mianhe” kataku saat melihat taemin yang sedang duduk ala emo di sudut dapur. Aku tak mengerti mengapa dia duduk di dapur dengan posisi seperti itu.

Dia mendongak ke arahku, matanya merah dan ada bekas air mata disekitar pipinya, omona.. dia menangis??!

“umma….” Dia langsung memelukku, mau tak mau aku membalas pelukannya ditambah mengelus rambut blondenya.

“umma, mianhe..” aku mengernyitkan kening  atas perkataannya barusan.

“un..”belum juga selesai, taemin sudah menyela ucapanku, “2 minggu yang lalu dia menelponmu, kau sedang mandi jadi aku yang mengangkatnya” taemin diam sebentar untuk menarik napas dan menyedot ingus (-__-)

“dia bilang ingin bertemu, tapi aku memarahinya”

Aku menelan ludah, sebanyak mungkin

“ aku tak bisa melihatmu terus menerus sedih hanya karena perempuan itu, kau seperti orang gila waktu itu, jadilah aku…. Aku..” taemin berhenti bicara, malah meneruskan tangisnya, bahkan sedikit lebih kencang.

“ssst.. lanjutkan” kataku pelan, masih dengan mengelus rambutnya.

“jadi aku mengatakan untuk berhenti membuatmu sedih dan mengkhawatirkannya..”

“aku tak tahu.. ternyata itu malah menjadikannya lebih buruk. Mianhe T_T”

Aku menghela napas panjang dan taemin masih dipelukanku, aku tak bisa menyalahkannya, tapi tetap ada sedikit sesal dalam hatiku, kalau saja waktu itu………. Sssst key! taemin sudah bilang dia tidak tahu kejadiannya akan memburuk seperti ini! Batinku.

“nde Minnie-ya.. gwenchana..” kataku sambil melepaskan pelukanku, aku menatapnya yang masih sesenggukan dan menaikan dagunya agar dia bisa melihat kalau aku serius dengan ucapanku.

“umma..”

“..”

“kau pasti sangat mencintainya..”

**

Benarkah ini cinta? Seperti yang dikatakan taemin? kalau perasaan seperti-ingin-mati-saja karena gadis itu tidak bisa dihubungi dan lebih baik mengubah nasibmu menjadi seorang paling miskin asalkan dia bersamamu bisa dikatakan cinta, aku rasa aku memang harus mengaku, aku mencintainya.

“key-ah” jjong hyung mengagetkanku. Masih pagi dan dia sudah mengagetkanku saja, ah, aku baru ingat, taemin sudah lebih baik sekarang, setelah kejadian 2 hari lalu (dan dia tak mau makan apapun sebelum dimaafkan olehku, padahal aku sudah bilang aku memaafkannya -_-), tadi malam dia makan dan kembali bercanda dengan kami, lega rasanya.

“ya!”suara jjong hyung lagi-lagi mengagetkanku “kau mendengarkanku tidak sih?” tanyanya dengan muka garang

Aku menggeleng pelan

“memang apa?”tanyaku innocent

“aishhh jinjja..! ada yang mencarimu” untuk kalimat terakhir, dia membisikannya di telingaku

“Sandra-ssi?” aku tak bisa menutupi nada girang di ucapanku barusan

“bukan” kata yang keluar dari mulutnya melunturkan semangatku, “kkajja, temui dia, diruang tamu” katanya lagi, aku hanya mendengus sebal.

**

Aku ingat pernah melihat laki-laki dihadapanku ini tapi lupa dimana.

“selamat pagi, saya lee dong jun” ucapnya sopan dan baku, sangat baku.

“oh eh selamat pagi, saya kim kibum, key” jawabku tak kalah baku walau sedikit gugup

Laki-laki ini siapa?
seakan bisa membaca pikiranku, dia menjawab dengan tegas “saya supir pribadi nona alex, Alexandra han”

Lidahku kelu, pikiran buruk tentang Sandra kembali muncul dan tak bisa kucegah, apa dia sakit parah dan umurnya tinggal beberapa hari jadi menyuruh sopirnya kemari? Apa dia bunuh diri? Well, aku tahu itu tadi agak berlebihan.

“tidak ada yang menyuruh saya datang kemari”lagi-lagi orang ini seperti bisa membaca pikiranku.

“bisakah kita mengobrol di tempat lain?” ujarnya lagi dan melirik ke belakangku, aku berbalik dan menemukan 3 orang namja tengah dengan posisi menguping setengah badan dibalik tembok, errr mereka ini….

“oh.. mari” aku membawanya keluar rumah

“di mobil saja” ucapnya

Aku mengikuti langkahnya dengan pikiran melayang entah kemana.

Aku menghela napas panjang lalu berkata “jadi, untuk apa anda mencariku? ”

**

Aku termenung mengingat pertemuanku dengan dong jun ahjussi – sopir Sandra – tadi pagi, dan semua yang dia ceritakan padaku tadi benar-benar membuatku kaget.

Setidaknya sekarang aku tahu apa yang membuat gadis itu menjauh, sekarang aku hanya perlu menemuinya, bertemu dengannya, memberinya pengertian kalau aku takkan menyakitinya, aku tahu ini tidak akan mudah, tapi aku tahu aku punya kesempatan. Sandra-ya percayalah padaku..

**

Flashback

“mungkin saya lancang datang kemari, nona juga pasti marah kalau tahu saya kemari menemuimu”  dia diam sebentar untuk menarik napas, lalu melanjutkan “tapi saya merasa perlu memberitahukan ini padamu”

                “..”

                “nona pernah trauma dengan laki-laki semacam anda, maksud saya artis seperti anda, nona pernah sangat menyukai seorang laki-laki, dia seorang artis, dan setelah berpacaran beberapa bulan, akhirnya nona tau kalau dirinya hanya dipermainkan, laki-laki ini menggunakan popularitas nona untuk meningkatkan popularitasnya, selain itu, dia juga memeras uang nona alex, dengan ancaman akan menyebarkan foto-foto telanjang nona, yang dia dapat dengan membiarkan nona mabuk..” dia menghela napas sejenak, lalu melanjutkan “pada akhirnya mereka putus, laki-laki ini benar-benar melakukan ucapannya..”

                “maksudmu..?”aku memotong

                “nde, dia menyebarkan foto-foto itu, juga foto tidak seronok lainnya”

Aku menahan napas, merasakan gejolak kemarahan menguasai diriku, bagaimana bisa ada laki-laki yang begitu kejam?

                “nona terpaksa berhenti dari dunia model” oh.. dia mantan model? Pantas saja badannya bagus, aku menggeleng-geleng pelan, dan kembali menyimak dong jun ahjussi “dia frustasi sampai hampir mencoba bunuh diri, dia menjaga jarak dari semua pria, itulah mengapa saya merasa aneh saat nona meminta membawa anda kerumah sakit, dia bukan gadis pemurah yang akan membawa orang yang tidak dikenalnya kerumah sakit, dan sejak saat itu saya yakin, ada sesuatu tentangmu yang menarik bagi nona kami”

Aku tersipu mendengar kalimat terakhirnya

                “tapi masalahnya, status anda yang seorang artis saya rasa telah memunculkan kembali trauma itu”

Ah. Benar, jadi aku harus bagaimana? Harus berhenti dari shinee? Tapi ada yang harus kutanyakan lebih dulu..

                “ahjussi.. bagaimana kabarnya sekarang?” tanyaku

                “ah~ dia baik, mungkin. Saya sering melihatnya melamun, juga mendengarnya menangis saat malam, tapi dari luar dia terlihat baik-baik saja, dan asal anda tahu, itulah yang membuat tuan besar juga saya khawatir”.

                “lalu, dimana dia sekarang? Bolehkah saya menemuinya?” suaraku agak ngotot, biarlah, aku memang benar-benar ingin menemuinya.

                “sekarang dia sedang mempersiapkan kepulangannya ke Indonesia” MWO? Dan meninggalkanku disini tanpa membiarkanku menyatakan perasaan? ANDWE!

                “Kapan dia akan kembali ke Indonesia?”

                “entahlah.. mungkin besok” besok?

                “itu artinya aku masih bisa menemuinya kan?”

Dia mengangguk, walau terlihat tidak yakin. Nde, aku akan menemuinya, bagaimanapun caranya, I’ll make her mine! J

**

hari ini Sandra akan pulang ke Indonesia, setidaknya itulah yang dikatakan dongjun ahjussi kemarin.

Aku sudah memikirkan cara ini semalaman, aku belum tahu apakah ini akan berhasil atau tidak, tapi akan tetap kucoba, mungkin ini adalah jalan terakhirku.

Aku membawa mobilku menembus pagi yang dingin menuju bandara Incheon

“Ahjussi, bisa kau tolong aku?” ucapku pada seseorang di balik handphoneku

 

Sandra’s pov

Sudah sebulan, lebih bahkan, ya sudah sebulan aku menjadi – hampir –mayat hidup, sama sekali tidak bergairah pada apapun.

Aku pernah menghubunginya beberapa waktu lalu, tapi yang kudapat hanyalah umpatan pedas dari salah satu temannya, mengatakan jangan membuat dia sedih lagi, tuhan.. aku tak tahu kalau ketakutan bodohku itu membuatnya bersedih. Dan sejak itulah aku tak lagi menghubunginya..

Aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, aku tak tahu apa ini keputusan yang benar atau tidak, tapi mungkin saja benar, karena disini, di korea, pikiranku selalu saja terjutu pada key juga pada keartisannya, bagaimanapun, apa yang telah nathan lakukan padaku setahun yang lalu tak bisa kulupakan begitu saja. Tapi aku juga tak mengerti mengapa bisa senyaman itu dengan key juga mengapa tak bisa menghilangkan dia dari pikiranku.

“nona, anda sudah siap?” sopirku mengagetkan

Aku mengagguk pelan, dan menarik dua koper big size-ku (yaya, aku berbelanja sangat banyak selama disini).

Kami sampai di Incheon, aku menarik napas dengan gugup, tuhan.. apa keputusanku ini benar?

“nona”

“ne?”

“apa nona sedang….” Dia berhenti, seolah tidak yakin dengan lanjutan ucapannya. Tapi kemudian berbisik di telingaku “menstruasi?”

Aku menggeleng pelan

“tapi saya melihat noda di celana nona” ucapnya masih dengan berbisik

Aku kaget tentu saja

“jinjja?”

Dia mengangguk penuh keyakinan. Ottohke???

Ah~ bodoh, akukan membawa pembalut di tas.

“ahjussi, tolong kau jaga barangku, aku akan ketoilet, sebentar” kataku, kemudian belari kecil menuju toilet.

Aku berjalan masuk menuju salah satu bilik toilet, dan mukaku begong saat melihat tak ada apa-apa di celana juga celana dalamku. Lalu apa yang sopirku lihat? Tanyaku bingung dalam hati. Daripada aku tak melakukan apapun, jadilah aku buang air kecil.

Saat aku keluar, aku dikagetkan dengan seseorang – kurasa namja  – yang tengah terlentang di lantai! Dejavu!

Aku ingin mengabaikannya, tapi tubuhku malah berjalan mendekatinya, dan saat aku membalikan tubuhnya, betapa kagetnya aku, orang itu key!

Tubuhku mundur dengan spontan.

“k.k.k..key”kataku kemudian menutup mulut dengan kedua tangan.

Aku ingin berlari keluar, tapi entah mengapa tubuhku masih saja mematung disana, menatap makhluk yang mungkin paling kurindukan setelah ibuku itu.

“key-ah” kataku sambil terisak, aku merasa kehilangan keseimbangan, kakiku terasa sangat lemas dan kemudian, sebuah tubuh merengkuhku

“aku harus bagaimana?” tanyanya, key tentu saja, suaranya terdengar sangat dekat, sangat lembut, tapi juga menyayat, aku makin terisak

“Sandra-ya.. jebal.. beritahu aku, apa yang harus aku lakukan?” lagi-lagi suaranya membuatku tak bisa menahan tangis.

Dia mengeratkan pelukannya, dan aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu.

“alexandra han.. sarangheyo” katanya. Aku menggigit bibir, dan mataku masih tidak mau berhenti mengeluarkan air mata.

Dia melepaskan pelukannya, kemudian menatapku. Aku menunduk, tak kuasa melihat guratan sedih kedua mata itu.

“lihat aku” katanya, sambil menaikan daguku. Aku memalingkan muka, entah kenapa tapi aku merasa sudah melakukan hal yang sangat buruk padanya, yang membuatku tak bisa memaafkan diriku sendiri.

“mianhe key.. aku terlalu egois” kataku pada akhirnya

Dia memegangi wajahku dan membiarkan mata kami saling menatap satu sama lain, memberi kesempatan untuk saling mengisi dan mengucap kata rindu yang tak terucap.

Entah bagaimana caranya tapi kemudian key mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku, aku hanya diam, hanya membiarkan dia yang bermain dengan bibirku.

Dia berhenti

“jadi bagaimana? Would you be my key?”

Aku tersenyum, dan memberi kecupan di bibirnya, aku rasa itu cukup untuk mewakili jawabanku.

Aku sudah tahu rasanya tanpa dia, dan aku tak ingin mengalami hal itu lagi, aku terlalu egois karena membiarkan ketakutan memonopoliku, sekaranang dan selamanya aku akan terus menjadi “key” untuk key, nado saranghaeyo key :*

*END*

Finally end ^^ bagaimana? Maaf kalau kurang ‘nyentuh’ *sujud*

Terimakasih seeebanyak banyaknya karena dah baca ff-ku yang gaje ini yaaa😉

Comment don’t forget!