Title            : Unexpected Thing (Kim-ssi?)

Author         : Hannew

Cast             :  Kim Kibum (Key) SHINee

                        Shin Hae Jin (OCs)

                        Soon Ae (Haejin’s mother)

                        Mr. Kim & Mrs. Kim (Kibum’s parents)

Rating          :  General, comedy (?)

Length         :  One Shot

Disclaimer   :  I own the plot and the OCs, but not Kim Kibum :D. I had published this fanfiction in my own blog (onhanie.wordpress.com)

 

Happy Reading…^^

 

Deringan jam weker didekat Haejin tidak berhasil membuatnya membuka mata. Dia malah semakin menenggelamkan tubuhnya dibawah selimut. Akan tetapi dering handphonenya yang tak berhenti sejak tadi akhirnya memaksa tangannya untuk mengangkatnya.

Yeoboseyo?” ucapnya dengan mata yang masih terbuka setengah.

“Haejin-ah, jam berapa sekarang? Cepat bangun dan mandi. Jangan lupa baca catatan yang eomma tinggalkan dimejamu. Awas saja kalau dalam 30 menit kau belum sampai di alamat itu!”

Klik!

Haejin belum sempat berkata apa-apa karena teleponnya sudah terlebih dahulu terputus. Dia mendesah berat dan menyeret tubuhnya menuju kamar mandi.

MuiMui Café. Apkujong, 653-4 Sinsa-dong, distrik Gangnam.

“Apa ini?” dahi Haejin berkerut membaca alamat yang tertulis dikertas itu. Dia membolak-balik kertas itu, mencari petunjuk lain yang mungkin ditinggalkan ibunya. Tidak ada. Haejin menggaruk kepalanya tak mengerti  namun akhirnya menyambar tas di kasurnya, bergegas keluar kamar. 20 menit dengan bus membawa Haejin ke alamat yang ditujukan kertas itu. Kini dia sudah berdiri didepan sebuah bangunan bertuliskan Café MuiMui di atasnya.

Oso oseyo…” seorang pelayan menyambut kedatangannya sambil membungkukkan badan. Haejin melangkah kesalah satu meja yang kosong. Ia mengedarkan pandangan mencari ibunya namun tidak menemukannya. Dia melihat-lihat daftar menu, Bibim Naengmyun, Bibim guksu, spaghety, Chicken tangsuyuk…..

“Nona Haejin?” Haejin mendongakkan kepala saat mendengar namanya disebut. Seorang pelayan wanita kini berdiri didepannya.

Ne, namaku Haejin. Eung… ada apa?”

“Mari ikut saya” ujar pelayan itu tersenyum. Haejin bangkit dari kursinya dan mengikutinya. Dia bahkan tidak tahu akan kemana.

Pelayan  itu berhenti disebuah ruangan yang cukup luas dengan segala perabotan memasak dan tungku yang memanjang disisi samping dan tengah.

“Eh, dapur?” Haejin terlihat bingung. Pelayan itu berbalik dan melangkah keluar.

“He…heyy” Haejin mencoba memanggilnya tapi pelayan itu tidak mendengarnya.

“Haejin-ssi?” kini Haejin kembali dikejutkan dengan suara pria dibelakangnya.  Ish, kenapa ada banyak yang mengetahui namaku? Apa aku setenar ini? pikir Haejin PD.

“Benar, aku Haejin. Shin Haejin. Kenapa aku dibawa ketempat ini?” jawab Haejin dengan suara meninggi. Laki-laki itu mengernyitkan dahi.

“Pakai ini” katanya sambil melempar apron kearah Haejin kemudian berjalan ketungku panjang.

Ya! Kenapa kau masih berdiri disitu? cepat kesini!” seru laki-laki itu lagi dan membuat Haejin tersentak segera memakai apron yang dipegangnya dengan wajah kesal.

Haejin kini berdiri disamping laki-laki itu, dia meliriknya sejenak. Baju putih selengan dengan dasi berwarna orange yang tergulung dikerah bajunya, dia seorang koki. Bisik Haejin pada dirinya sendiri sambil mengangguk-angguk yakin. Ekor matanya mencoba menangkap nama di nametag yang menempel dibaju laki-laki itu.

“Kim….” Haejin mendekatkan wajahnya untuk mencari tahu nama lengkap laki-laki itu tapi gagal karena laki-laki itu terlebih dahulu menoleh padanya dan menatapnya tak nyaman.

“Kim-ssi, boleh aku bertanya kenapa aku bisa berada ditempat ini?” Haejin mencoba bersikap ramah.

“Kenapa kau bertanya padaku?  yang tahu kendaraan apa yang kau naiki untuk sampai kesini kan kau sendiri”

Haejin mengangkat ujung bibir atasnya, ia mencoba untuk bersabar.

Ahni, maksudku apa kau tahu alasan kenapa aku bisa disini? Atau apa kau mengenal ibuku? Dia memberiku alamat café ini dan aku tidak menemuinya dimeja pengunjung, malah seorang pelayan membawaku kedapur ini. Ish, aku bingung, apa kau tahu alasannya, kim-ssi?” Haejin menebak laki-laki itu pasti jengah dengan pertanyaannya tapi ia tidak peduli.

“Kenapa kau cerewet sekali? Cepat cuci ayam ini” seru laki-laki itu sambil menyodorkan sebuah mangkuk berisi daging ayam yang masih segar. Nafas Haejin seolah tercekat mendengar jawabannya. Siapa dia berani menyentaknya seenak jidat, hah? Dia  mengambil mangkuk itu kasar dan berjalan ke kran.

Haejin kembali mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. Ia memaksa otaknya untuk mengingat perkataan-perkataan ibunya beberapa hari lalu. Memorinya kembali mengulang saat ia dan ibunya sedang makan malam. Ibunya mengatakan bahwa mereka akan berkunjung kerumah teman SMA ibunya. Ibunya meminta dia ikut dan membawa hidangan favorit temannya itu. Yang membuat Haejin cukup terkejut adalah ibunya ingin dialah yang memasaknya, padahal semua tahu dia sangat tidak bersahabat dengan dapur dan masak-memasak.

Haejin mendesis pelan mengingat semua itu.  Jadi ini alasan ibunya memberikan alamat café ini, bukan untuk mentraktirnya makan tapi untuk belajar memasak. Tapi dia merasa ibunya kejam sekali membiarkannya belajar memasak pada koki bersuara cempreng ini.

Ya! Apa kau pingsan? Kenapa mencuci ayam sampai lama begitu, hah?” Haejin menatapnya tajam dan segera mematikan kran.

Tanpa sengaja Haejin melihat selembar kertas bertuliskan Chicken Tangsuyuk. Ia teringat nama menu favorit yang dibicarakan ibunya tempo hari adalah makanan itu. Alis Haejin bertaut, kebetulan sekali.

“Kim-ssi, apa kita akan memasak Chicken Tangsuyuk?” Tanya Haejin memastikan.

Laki-laki itu mengangguk.

“Ini bahan-bahannya” ujarnya sambil menunjuk mangkuk-mangkuk kecil dengan isinya masing-masing.

“Bahan untuk membuat saus asin untuk daging ayamnya. Ini bubuk jahe, sulingan anggur beras, parsley…” laki-laki itu melanjutkan dan dipotong oleh Haejin.

“Emm… ini kecap, garam, dan ini…” Haejin tampak berpikir kemudian mengangkat salah satu mangkuk yang berisi bubuk berwarna abu-abu dan mendekatkan kehidungnya yang membuatnya  bersin tiba-tiba karena sebagian bubuk itu memenuhi hidungnya. Laki-laki itu tergelak melihatnya kemudian mengambil mangkuk itu dari tangannya.

“Aish,,,Ini merica” ucapnya disela tawanya, Haejin hanya mendengus kesal sambil menggosok-gosok hidungnya yang masih gatal.

Selanjutnya laki-laki itu menunjukkan bahan-bahan untuk membuat saus asam manis dan adonan tepung untuk melapisi daging ayamnya.  Kejadian konyol Haejin yang membuat laki-laki itu tertawa sepertinya membuat mereka tampak lebih bersahabat.

Laki-laki itu memotong daging ayam menjadi agak tipis dan menuangkan saus asin kemudian mencampurnya.

“Kau sedang membuat apa, kim-ssi?”Tanya Haejin  saat  laki-laki itu mencampur tepung dan air setelah selesai dengan ayamnya.

“Membuat adonan pelapis daging. Kita harus menunggunya kurang lebih 1 jam hingga tepung ini tenggelam sempurna di mangkuk selanjutnya menambahkan 2 putih telur”

“Lalu buah dan sayur ini?” kini Haejin beralih pada sayuran dan buah di depannya.

“Cuci semua buah dan sayuran itu lalu potong kecil-kecil” Haejin menurut dan mengerjakan semua yang diinstruksikan laki-laki itu. Dia terlihat mulai menikmati kegiatan masak-memasak ini.

“Haejin-ssi, tolong ambilkan itu” laki-laki itu menunjuk sebuah penggorengan besar yang tergantung di sisi rak.

Ne

Dia mencampurkan daging ayam dengan adonan tepung yang telah dibuatnya. Haejin bergegas mengambil botol minyak dan hendak menuangkannya ke penggorengan yang dibiarkan memanas diatas  tungku.

Chamkanman, kau harus menunggu penggorengan ini panas sekitar 20 detik lalu kau bisa menuang minyaknya.”

“Oh, benarkah?” ujar Haejin kikuk.

“Yak, Haejin! Kau bahkan tidak tahu hal dasar seperti itu.” rutuknya dalam hati.

Haejin menggoreng daging ayam sementara laki-laki itu mencampurkan semua sayuran dan buah asam untuk membuat saus asam manis, ia juga menambahkan kecap dan cuka didalamnya.

“Untuk mendapatkan daging ayam  yang renyah, harus melewati dua kali proses  penggorengan. Untuk proses pertama gunakan panas api sedang, proses kedua gunakan panas api tinggi” jelas laki-laki itu lagi.

Haejin meletakkan semua daging ayam yang telah digoreng ke piring diikuti laki-laki itu yang meletakkan semangkuk saus berwarna menyala kemudian memberikan sentuhan terakhir dengan memberikan hiasan disisi piring.

“Wah, kyeopta!” ujar Haejin riang, laki-laki itu ikut tersenyum.

Tiba-tiba Haejin merasakan handphonenya bergetar, nama ibunya muncul dilayar LCD.

Yeoboseyo eomma?”

“ Haejin- ah, bagaimana memasaknya?” suara ibunya terdengar antusias diseberang. Haejin mendengus kesal. Benar dugaannya. Ibunya  memberi alamat itu untuk dia belajar memasak.

Ne, aku sudah selesai memasak hidangan yang eomma katakan” jawab Haejin setengah hati.

“Benarkah? Bagus. Nah sekarang bawa makanan itu, eomma sudah menunggumu di salon dekat kantor eomma. Kita langsung kerumah teman eomma  itu”

Ne?  dengan penampilanku yang berantakan ini?”

“Untuk apa kita ke salon kalau bukan untuk mendandanimu? Eomma sudah siapkan bajumu. Cepat kemari!”

“Tap… tapi..” Klik! Kebiasaan ibunya memutuskan telepon secara sepihak dan untuk kesekian kalinya membuat Haejin gondok sendiri.

***

Mereka berdua sudah berdiri didepan pintu gerbang sebuah rumah. Haejin tampak risih dan tak nyaman dengan pakaian dan dandanannya, kenapa ibunya memilih dandanan yang berlebihan seperti ini. Ibunya tampak bersemangat memencet bel rumah. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membukakan gerbang. Wajahnya terlihat sumringah melihat mereka berdua.

Haejin masih sibuk dengan pakaiannya yang tidak nyaman, sementara ibunya dan wanita itu tampak  sudah heboh melepas rindu.

“Haejin-ah, apa kau masih kuliah?” tanya laki-laki disamping Haejin, sepertinya dia suami teman ibunya itu.
Ne, ahjussi. Saya berada ditahun akhir” jawab Haejin sambil tersenyum, laki-laki itu mengangguk mengerti.

“Kurasa umurnya sudah cukup, yeobo. Benar kan Soon Ae?” ujar wanita itu pada suaminya sekaligus pada ibunya. Jantung Haejin tiba-tiba berdetak lebih cepat, ia mencium ketidak beresan disini.

Ne, aku juga setuju. Tapi kurasa Kibum juga  tidak akan terburu-buru untuk hal ini.” kalimat ibunya membuat Haejin semakin berdebar. Kibum? Siapa juga dia? Ah, Haejin-ah, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Haejin menenangkan hatinya sendiri.

“Benarkah? Tapi Tangsuyuk ini menjawab berbeda. Aku bisa melihat masakan ini dibuat dengan perasaan dan kerjasama dua hati” kata wanita itu sambil mengangkat piring yang berisi tangsuyuk yang dibawa Haejin. Haejin terhenyak, bagaimana  dia bisa tahu kalau tangsuyuk itu bukan hanya dibuat oleh satu orang.

“Aku tidak yakin. Bagaimana menurutmu Kibum-ah?” Haejin reflek mengangkat kepalanya mendengar nama itu. Seketika matanya membulat penuh  melihat laki-laki yang sedang berdiri didepannya, laki-laki yang sejam lalu bersamanya  didapur café itu.

“Kim-ssi?” Haejin masih dalam ekspresi terkejutnya sementara Kibum terlihat kikuk mengambil tempat duduk berhadapan dengan Haejin.

Ne, Haejin-ah. Ini anak kami, Kim Kibum. Kalian sudah bertemu kan?”  Wanita itu merangkul Kibum. Haejin memilih diam dan menunduk, kepalanya sibuk dengan banyak pertanyaan.

“Jadi Soon Ae-ya, kapan sebaiknya pertunangan ini dilaksanakan?” sebuah pertanyaan meluncur dari ibu Kibum yang sukses membuat Haejin tersedak oleh ludahnya sendiri.

Ne??”

 

 

 

Iklan