Annyeong, baru pertama kali ngirim kesini =),, semoga para readers suka ya😀 ..

RCL yo😉

Pengen banget bikin ff yang castnya Dara 2NE1.. hehe,, Baru pertama kali bikin ff yang castnya YG Family… Kalau jelek mohon maaf.. =D

 

Title :: In Dream

Author :: Jeni_Jenay (@Jeni_Jenay)

 

Main cast :: Kwon Jiyong

Sandara Park

Other cast :: Temukan sendiri =)

 

Genre :: Romance, Sad

Length :: Oneshot

Rating :: PG-13

Disclaimer :: Plot punya saya. Semuanya punya saya. Untuk cast punya diri mereka masing-masing. Untuk gambar saya ambil dari mbah google dan saya edit kembali.

 

[Jiyong Pov]

“Aku janji bisa bertahan untukmu dan untuk takdir kita.”

Aku terbangun dari mimpi yang 3 hari selalu hadir dalam tidurku. Kenapa mimpi itu selalu datang? Apakah aku pernah mengatakan itu pada seseorang? Seingatku tidak! Bahkan tidak pernah sama sekali!

Aku langsung beranjak ke kamar mandi karena yang ku tau hari ini aku belajar lebih awal dari biasanya.

“Ya! Hyung, sampai kapan kau akan disini? Kelas akan dimulai.” Suara teriakan seseorang membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arah orang itu sambil menatapnya datar. Dasar penggangu!

“Berhentilah berteriak! Kau kira suaramu itu bagus apa?” Balas ku ketus. Lalu berjalan melewatinya tanpa menghiraukan pandangan herannya.

“Ya hyung! Kau kenapa? Tidak biasanya kau diam seperti ini.” Lagi-lagi orang ini membuyarkan lamunanku.

“Seungri-ah, berhentilah bicara atau kepalamu akan ku penggal.” Ancamku datar. Seungri terkekeh.

“Kemana Kwon Jiyong yang aku kenal selama ini? Hilangkah? Pergikah? Atau musnahkah?” Bocah ini benar-benar tidak bisa diam rupanya. Baru aku hendak memukul kepalanya seseorang memanggil namaku.

“Yong, aku tadi mencarimu.” Yeoja itu tersenyum kearahku. Aku menatapnya heran. Sepertinya aku mengenal yeoja ini.

“Dara?” Tanyaku meyakinkan. Yeoja itu memukul pelan pundakku dan memasang wajah cemberutnya.

“Ya! Kenapa kau berkata seperti itu? Seperti baru mengenalku saja.” Dara makin terlihat cemberut. Aku tersadar, entah setan apa yang merasukku tadi sampai-sampai aku tak ingat kalau yeoja ini benar-benar Dara.

“Dara, mianhae. Aku tadi melamun, makanya aku berkata seperti itu.” Aku berusaha tersenyum, walaupun dia tau ini hanyalah senyum paksaan.

“Kau berubah Yong.” Dara berbalik dan hendak meninggalkanku, dengan refleksnya tanganku memengang tangannya dan menariknya ke pelukanku.

“Mianhae, aku sudah minta maaf padamu. Jadi, berhentilah marah padaku.” Bisikku tepat ditelinganya. Tapi bukannya memaafkanku, dara malah makin menyalahkanku.

“Seharusnya kau sadar kalau yang berbicara padamu ini adalah aku, Sandara Park yang sudah 2 tahun menjadi yeojachingumu.” Dara masih tetap dengan keras kepalanya, membuatku menyerah dengan tingkahnya. Aku melepas pelukanku dan menatapnya datar.

“Kita lanjutkan setelah pelajaranku selesai.” Aku mencium keningnya lembut. Kulihat ia hanya mencibir dan pergi meninggalkanku. Bisakah dia menghilangkan sifat keras kepalanya itu ketika bersamaku dan bisakah dia mengalah sekali saja untukku? Jawabannya pasti tidak. Tapi, mengapa aku bisa bertahan lama dengannya? Jawabannya hanya satu, karena aku mencintainya.

“Ya hyung! Kau mau dihukum ha?” Seungri lagi-lagi membuyarkan lamunanku.

“Kau!” Aku melotot kearahnya.

“Hyung, kau mau dihukum atau merasa bersalah padaku yang sudah baik mengingatkanmu, ha?” Tanyanya dengan nada ketus.

“Baiklah.” Aku menyeret seungri kekelas tanpa memperdulikannya yang sedang mengomel tak jelas.

“Jiyong-ah kau mau ikut kekantin bersama kami?” Teriak Young Bae dari depan pintu.

“Aku mau mendatangi Dara. Kalian pergilah tanpaku.” Aku menolak ajakan Young Bae.

“Biarkan lah mereka menyelesaikan urusan mereka yang tadi belum selesai. Ya kan hyung?” Tanya Seungri dengan tampang anehnya. Aku menaikkan sebelah alisku dan tak lama mengangguk. Malas berdebat dengannya lagi.

“Baiklah, kita duluan.” Seunghyun hyung melambaikan tangannya, aku hanya mengangguk.

Aku bersender disamping pintu ruang kelas Dara, lama sekali dosennya mengajar.

Akhirnya, murid-murid dari ruang kelas itu pun keluar. Aku melihat Dara sedang berjalan dengan ketiga temannya.

“Kau ingatkan?” Aku bertanya setelah Dara dan ketiga temannya melewatiku. Dara menoleh dan menatapku kesal. Ia menghela nafas.

“Kalian duluanlah, aku ada urusan.” Perintahnya pada ketiga temannya.

“Kita duluan.” Balas salah seorang dari mereka yang bernama ChaeRin. Mereka pun meninggalkan kami berdua disini.

“Sekarang apa?” Tanya Dara masih dengan nada ketusnya.

“Kau masih marah? Aigo, aku kan sudah meminta maaf chagi. Kenapa kau masih marah?” Aku menatapnya dengan tampang memohon. Dara menatapku kesal dan tak lama ia tertawa. Aku mengerutkan alisku. Apa ada yang salah dengan diriku?

“Kau lucu.” Komentarnya yang tau arti tatapanku. Aku menganga. Apa maksudnya? Dara berhenti dari tertawanya dan menatapku serius.

“Aku sudah memaafkanmu, aku hanya ingin kau terus memohon padaku.” Dara tersenyum sambil memukul pelan pundakku. Aku ikut tersenyum dan merangkulnya. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan yeoja satu ini? Yeoja yang selalu membuatku tersenyum dengan semua tingkahnya.

“Aku ingin seharian bersamamu.” Rengek Dara saat kami telah sampai didepan rumahnya.

“Kau yakin?” Tanyaku menggoda.

“Tidak takut aku akan berbuat apa-apa?” Lanjutku menatapnya nakal.

“Pabo! Berani kau melakukan itu, ha?!” Ancam Dara hendak melayangkan tangannya ke kepalaku, tapi dengan cekatan ku raih tangannya dan ku cium dengan lembut.

“Bagaimana mungkin aku akan seperti itu? Aku terlalu takut.” Aku menatap dalam ke matanya, ingin memberitahukan bahwa aku sangat mencintainya dan tak ingin kehilangannya.

“Aku percaya padamu.” Dara membalas tatapanku. Baru saja aku hendak menciumnya, dengan segera ia memalingkan wajahnya dari hadapanku.

“Kapan kita jalannya?” Dara kembali merengek mengkrucutkan bibirnya yang kecil itu.

“Dasar kau, baru saja aku ingin bermesraan denganmu.” Aku melepaskan tangannya dari genggamanku. Berharap ia mengerti bahwa aku sedang marah padanya.

Dara menoleh dan menatapku bingung. Tak lama ia tersenyum jail.

“Jadi kau ingin ini?” Dara langsung menarik wajahku dan mencium bibirku lembut. Apa-apaan dia ini? Beraninya mendahuluiku. Aku melepas ciumannya membuatnya menatapku heran.

“Kenapa kau hentikkan?” Tanyanya polos.

“Pabo! Seharusnya aku yang melakukannya.” Aku menatap lurus kedepan, berharap dia akan meminta melanjutkan ciuman yang tadi.

“Baiklah, kajja kita jalan.” Celetuknya asal.

“Langit mulai mendung Dara-ah, kau yakin tetap akan jalan? Bagaimana nanti kalau hujan?” Balasku sedekit kesal.

“Gwencana, aku lebih suka seperti itu.Hahaha.” Entah apa yang membuatnya tertawa seperti itu.

Aku menghela nafas panjang. Akhirnya aku mengalah dan menyalakan mesin mobilku mengikuti kemauannya.

Aku membawa Dara ke danau yang sering kami datangi setiap kali kami ingin membicarakan hal yang serius. Entah mengapa aku membawanya kesini aku merasa ada hal serius yang akan Dara bicarakan padaku.

Dara keluar dari mobil dan disusul olehku. Aku mencepatkan langkahku agar sejajar dengannya. Dara berhenti dan menatap kosong tepi danau. Ada apa dengannya?

“Yong.” Panggilnya pelan.

“Hmm.” Aku menoleh menatapnya.

“Aku takut…” Dara menggantungkan kalimatnya.

“Mwo? Takut? Wae?” Tanyaku tak mengerti.

“Kau akan meninggalkanku.” Dara kini menatapku, matanya mulai mengeluarkan cairan-cairan bening.

“Maksudmu?” Tanyaku lagi makin tak mengerti.

Dara langsung memelukku dan menangis sesegukkan.

“Kau tak takut ha? Kau akan dioperasi. Dua hari lagi kau akan melewati dua gerbang itu. Hidup dan mati.” Katanya masih terus menangis dengan derasnya. Aku melepas pelukannya.

“Apa maksudmu?” Aku berjalan mundur, tak mungkin!

“Kau terkena tumor jantung.” Teriaknya masih terus menangis dan terduduk di tanah yang mulai basah karena hujan ikut turun. Bahkan hujan sepertinya juga merasakan apa yang Dara rasakan.

“Aku ingin pulang.” Aku menarik tangan Dara kasar untuk memasuki mobil.

“Masuklah, hujan sudah reda.” Aku menatap lurus dengan dinginnya.

“Yong.” Suara Dara terdengar gemetar.

“Berhentilah mengasiani aku!” Bentakku tak sabar. Dara menutup mulutnya tak percaya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Akhirnya Dara pun keluar dari mobilku sambil berlari memasuki rumahnya.

Apa yang ia katakan? Aku akan dioperasi? Bahkan aku baru mengetahuinya sekarang.

“Aaaaaarrrrrgggghhhhh.” Aku berteriak sekuat mungkin. Apa yang akan terjadi bila operasi itu gagal?

Tak terasa aku mulai menangis, meratapi nasibku yang malang ini. Bagaimana kalau benar apa yang dikatakan Dara? Jika aku menginggalkannya? Tidak! Tidak! Kau jangan berpikiran seperti itu Jiyong! Kau harus yakin! Ya, harus!

[Dara Pov]

Hari ini adalah hari terakhirku bersama dengan Jiyong sebelum ia dioperasi. Aku berdandan serapi dan secantik mungkin. Mengenakan dress selutut berwarna putih dengan corak-corak bunga dibawahnya. Aku mengurai rambutku yang kini sudah melewati bahuku. Sekarang aku sudah siap dengan dandanan dan pakaian serta ketegaran yang akan aku terima besok. Aku kembali mengecek ponselku, berharap Jiyong akan membalas pesanku. Dan benar saja, Jiyong membalasnya.

From : Yong

Aku akan menyusulmu disana.Tunggulah aku.

Aku tersenyum dengan segera aku mengambil kunci mobilku dan mengendarainya menuju taman, tempat yang menjadi pilihanku untuk bertemu dengan Jiyong.

Sesampai ditaman, aku langsung keluar dari mobilku dan berjalan ke arah kursi taman yang kosong. Aku kembali menangis, takut akan kehilangan Jiyong. Aku takut operasi itu akan gagal. Aku menunduk menutup mukaku yang sudah dibasahi dengan air mata.

Sudah hampir satu jam aku menunggu disini. Kemana Jiyong? Aku berusaha memberinya pesan namun sama sekali tidak ada balasan, kini kucoba untuk menelpon tetapi percuma tidak ada yang mengangkat. Setelah berkutat selama 15 menit bersama ponselku berusaha untuk menghubungi Jiyong, tiba-tiba saja ada sebuah pesan yang masuk.

From : Dami onnie

Dara-ah, Jiyong masuk rumah sakit. Cepatlah kesini. Kami di rumah sakit blabla.

Dengan cepat aku langsung memasuki mobilku dan melaju kesana.

“Yong.” Panggilku pelan saat sudah tiba diruangan Jiyong. Aku kembali menangis melihat keadaan Jiyong yang lemah diatas kasur yang kini ditempatinya.

“Jiyong kecelakaan, ia ditabrak sebuah truk dari arah berlawanan.” Dami onnie bergumam pelan disampingku.

Airmataku semakin deras keluar, aku berusaha menahannya tapi percuma airmata ini keluar dengan sendirinya.

“Seharusnya kau lebih berhati-hati. Lihat kau sekarang! Kau menambah penderitaan hidupmu, hidupku dan semua orang yang menyayangimu.” Aku berusaha memarahinya dengan tegas, namun suara ini selalu terdengar bergetar.

Tak ada sahutan dari Jiyong, jelas saja! Dia sedang tak sadarkan diri bahkan sudah sangat tak berdaya dengan keadaannya sekarang.

Sudah dua hari Jiyong tak sadarkan diri, membuat semua keluarganya gelisah dan selalu menangis, apalagi eommanya yang selalu menyalahkan dirinya sendiri.

Dami onnie berusaha menenangkan eommanya yang sudah 2 harian ini menangis.

“Dara-ah, tolong jaga dia. Aku ingin mengajak eomma jalan-jalan.” Dami onnie berusaha tersenyum ke arahku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis di bibirku.

Kini hanya ada aku dan Jiyong di ruangan ini. Perlahan aku mengelus wajah Jiyong, tersenyum mengingat semua tingkah anehnya. Ku genggam tangan lemah Jiyong dan mulai menutup mataku, menahan cairan dimata ini agar tak keluar.

“Yong, aku yakin kau kuat! Kau bisa melewati ini. Bahkan operasimu diundur, aku sempat takut. Tapi dokter meyakinkan kami semua kalau itu tidaklah mempengaruhi kesehatanmu.”  Gumamku pelan dengan suara bergetar. Aku menangis lagi.

“Mmm.” Aku mendengar suara erangan seseorang, aku langsung membuka mataku dan melihat Jiyong sudah hampir sadar dari tidurnya selama ini.

“Yong.” Aku tersenyum tak bisa menyembunyikan kesenanganku.

“Da…Da…Dara…” Dengan suara yang susah payah, akhirnya Jiyong memanggil namaku.

“Yong, Jiyong.” Gumamku sedikit panik.

“Da…ra…” Panggilnya terbata-bata. Matanya terbuka dengan perlahan. Tak lama bibirnya pun menampakkan sebuah senyuman.

Aku menangis dan langsung memeluknya. Betapa bahagianya aku Jiyong akhirnya sudah sadar.

“Kau sudah sadar Yong?” Tanyaku yang kini menatapnya, tetapi..

“Yong.. Jiyong, Kwon Jiyong.” Aku mengguncang pelan tubuhnya. Jiyong kembali tak sadarkan diri.

“Kondisinya melemah. Lebih baik dia harus dirawat lebih lama lagi disini.” Jelas dokter Choi setelah memeriksa keadaan Jiyong. Baru saja tadi aku melihatnya tersenyum menatapku, sekarang kenapa dia harus kembali menutup matanya?

Aku duduk disebelah kasur yang Jiyong tiduri. Aku kembali terisak melihat keadaannya yang begitu lemah. Tak pernah aku melihatnya selemah ini.

“Yong, bertahanlah. Aku akan selalu menemanimu disini.” Suaraku makin bergetar saat melihat wajah Jiyong yang pucat.

 

[Jiyong Pov]

“Yong, bertahanlah. Aku akan selalu menemanimu disini.”

Suara itu, suara yang telah lama aku rindukan, tapi kenapa suaranya sangat bergetar? Aku mencoba membuka mataku, susah rasanya. Mataku seperti ditutup sangat rapat, dilem dan ditumpuk oleh sesuatu yang berat. Membuatku sangat susah untuk membukanya. Tangan dan jariku mungkin bisa membantu menenangkan Dara.Aku mulai menggerakkan jari-jariku namun tidak seperti keinginanku,jari-jariku seperti lengket pada badan kasur,membuatku kewalahan untuk mengangkat bahkan menggerakkannya. Ada apa ini? Aku mendengar Dara makin terisak dengan tangisannya.

“Kumohon bangunlah.” Jeritnya sedikit kesal sambil sedikit menggoyangkan lenganku. Aku ingin bangun Dara, tapi bagaimana caranya?

Dua hari berlalu, sunyi seperti tidak ada orang. Sepertinya Dara sudah lelah dengan tangisan nya. Tapi, bagaimana keadaannya sekarang? Seandainya aku bisa membuka mataku dan tersadar dari keadaan lemahku ini. Pasti aku akan pergi dari sini.

“Yong, disini hanya tinggal kita berdua. Eomma dan Noonamu kembali kerumah untuk membawa beberapa pakaianmu lagi kesini. Appamu kembali bekerja, karena dokter bilang kau sudah agak baikan. Sedang aku, aku akan selalu disini. Dan tentu saja selalu menjagamu dan menemanimu dari tidur panjangmu itu. Hah, kau tau aku begitu lelah. Aku ingin tidur sebentar saja. Kalau kau melihatku, kau pasti akan marah-marah dan langsung menyuruhku untuk tidur karena berantakannya diriku sekarang. Aku lelah. Aku ingin tidur. Semoga saat aku bangun nanti kau juga akan bangun dan tersenyum padaku.”

Sepi, itu yang kurasakan sekarang. Setelah mendengar semua ucapan Dara, aku makin ingin membuka mataku. Melihat seperti apa keadaannya sekarang? Apa benar-benar berantakan. Aku mulai pusing dengan ini. Kejadian itu kembali terulang. Disaat Dara memberitahuku tentang penyakitku, aku akan dioperasi dan bagaimana aku tertabrak. Kepalaku benar-benar ingin pecah.

“Aku janji bisa bertahan untukmu dan untuk takdir kita.” Tanpa sepengetahuanku, aku mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang sepertinya aku pernah ucapkan. Aku merasa tak sadarkan diri dari keadaanku yang lemah ini.

Perlahan aku membuka mataku. Syukurlah mataku tidak berat lagi. Aku melihat semua orang mengelilingiku sambil tersenyum. Ada apa ini? Apa aku masih tidak sadarkan diri? Dan berharap mereka tersenyum bahagia padaku?

“Hyung, operasimu berhasil.” Teriak Seungri sumringah. Aku mengerutkan keningku bingung. Pasti ini mimpi, kapan aku dioperasi? Seingatku Dara bilang operasiku diundur sampai aku benar-benar pulih. Iya, aku yakin ini pasti mimpi. Atau, aku sudah meninggalkan mereka semua. Andwe! Aku masih mau hidup.

“Kapan aku dioperasi?” Tanyaku.

Semua menatapku heran.

“Yong. Aku bersyukur operasimu berjalan lancar.” Seseorang muncul dengan wajah lusuhnya.

“Dara?” Aku menatapnya penuh tanda tanya. Keadaannya benar-benar seperti yang ia katakan sebelumnya, sangat berantakan dengan wajah pucat, mata sembab berkantung, bibir pucat, dan rambut sedikit berantakan. Sepertinya ia sudah berhari-hari tidak tidur dan tidak melakukan apa-apa.

“Eomma benar-benar tidak menyangka dengan kemungkinan 5% operasimu berhasil, tapi kau benar-benar bisa bertahan.” Eomma memelukku disusul dengan appa dan Dami noona. Aku tersenyum tipis.

“Baiklah Jiyong, hari ini kau akan pulang.” Teriak noona sambil mengangkat satu kepalan tangannya ke udara.

“Eomma akan membereskan barang-barangmu.” Eomma, noona dan appa pergi dari ruanganku.

“Kau hebat.” Seunghyun hyung menepuk pundakku pelan.

“Kau berhasil hyung, seandainya ada Dora and boots disini pasti aku akan ikut menari bersama mereka.” Celetuk Daesung yang berhasil membuat kami ber-5 tertawa pelan.

“Aku tau kau bisa.” Young Bae tersenyum mengacungkan jempolnya.

“Hyung, ayo kita buat kejutan untuk kembalinya Jiyong hyung kerumah.” Tanpa aba-aba seungri langsung menarik mereka ber-3 keluar.

Kini hanya tersisa aku dan Dara ditempat ini.

“Yong, kau menepati janjimu.” Dara duduk dikasurku. Aku bangun dan duduk disampingnya.

“Janji?” Tanyaku bingung.

“Aku janji bisa bertahan untukmu dan untuk takdir kita.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Kau mengatakan itu sebelum kau benar-benar tidak sadarkan diri.” Lanjutnya dan langsung memelukku.

“Maksudmu? Jadi, semua yang aku alami itu hanya mimpiku selama tak sadarkan diri?” Tanyaku lagi semakin bingung dengan keadaan yang sebenarnya.

“Setelah operasi, kau koma selama enam bulan .” Lanjutnya pelan sambil membelai lembut rambutku.

“Jadi, aku membuat janji untuk bertemu denganmu ditaman dan pada akhirnya aku ditabrak, setelah itu operasiku dibatalkan itu? Itu hanya mimpiku selama koma?” Beberapa pertanyaan langsung ku lontarkan tanpa henti.

“Mwo? Kapan kau ditabrak? Kapan kita membuat janji? Haha, mungkin itu semua hanyalah mimpimu.” Dara melepaskan pelukannya.

“Bersiaplah, kita akan pulang.” Sambungnya tersenyum.

“Aku akan bersiap-siap.” Dara pergi dari ruanganku.

Aku tersenyum. Jadi, itu semua hanya mimpiku selama koma, syukurlah. Tapi, kenapa aku merasa itu sangatlah nyata. Dimana Dara mengatakan tentang semua keluhannya itu, semua isakan serta tangisannya itu? Apa ini karena keyakinanku kepadanya yang begitu kuat? Tapi, ahhh, lupakan. Sekarang saatnya aku memulai hidup baru ku, dari sekian lamanya aku koma dan mimpi-mimpi yang  selalu mengganggu ku itu.

 

END.

 

Pendek? Banget!

Gak nyambung? Banget!

Ga dimengerti? Banget!

Jelek? Banget!

Haaaaaaa,, mau nangis rasanya😥

Maaff, aku bener-bener minta maaaff… huaaaaaaa,, maaf yaaaaa kalau ga dimengerti trus alurnya kecepatan.. *bow

Tetep komen ya J