Still…..

Author: Thirteencatyas

Cast:

–          Shim Hyunseong, Lee Jeongmin and Kim Donghyun from Boyfriend

–          Jung Hageum

Length: Oneshoot

Rate: SU

Genre: Sad

Kalau aku lihat dia….. rasanya hanya bisa tersenyum pahit. Seringkali aku teringat saat-saat kami bersama tertawa bercanda….. masih terasa sentuhan sentuhan lembutnya, bisikan-bisikan suaranya yang menggetarkan gendang telingaku…. Semuanya begitu indah. Begitu yang selalu Donghyun sunbae bilang beberapa bulan yang lalu, ketika hubungan dengan yeoja chingu nya berakhir…

Punya kekasih tidak selamanya menyenangkan, terkadang kalian harus berpisah untuk kebaikan di kedua pihak. Tapi itu bukan akhir dari dunia kan? Kalian masih bisa berteman. Jeongmin mengatakan hal itu sesudahnya dengan senyum khas yang menenangkan hati…. Dia memang chingu pembuat suasana diantara kami bertiga. Entah kenapa aku tiba-tiba teringat akan perkataan itu….

Ah….. mungkin karena perkataan Hyunseong tadi pagi, perkataan yang membuatku tertegun…

Mianhae…… kita sudahi saja ya sampai disini?

 

…..

“Hageum-ah…… kok kamu diam saja?” panggil Jeongmin sambil menepuk nepuk pundakku, “Gwenchana? Apa ada sesuatu yang terpikirkan olehmu?”

Aku menggeleng pelan, “Aniyaa…. Aku merasa baik-baik saja, mungkin cuaca musim gugur yang membuatku menggigil tiada henti. Kurasa aku akan kena flu.” Jawabku sembari menggosok gosokkan tangan di lengan bajuku. Memang sih….. sebenarnya bukan karena demam atau semacamnya, tapi…. Tidak selamanya aku harus jujur kepada Jeongmin kan?

“Ah tidak…. Pasti ada sesuatu,” jawab Jeongmin penuh curiga, “Wajahmu itu tidak bisa menyembunyikan kegelisahan tahu~”

“Hem? Kegelisahan terhadap apa?” aku berusaha menjawab dengan tenang, “Setahuku tidak ada ulangan atau kuis kok hari ini, kenapa aku harus gelisah? Ngomong-ngomong….. Donghyun sunbae mana?”

Jeongmin tampak kecewa karena tidak bisa menebak perasaanku hari ini, “Dia ada rapat organisasi hari ini, jadi dia mungkin tidak kuliah hari ini. Oh iya kamu sendirian saja berangkat ke kampus? Hyunseong kemana?”

CKiiiit~~ begitulah rasanya hatiku mendengar nama itu, “Oh….. aku tidak melihatnya. Mungkin dia ada kelas, kamu lupa ya kelas kita berbeda?” tanyaku mengalihkan perhatian. Jebal, jangan sampai Jeongmin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, kalau tidak…. Mungkin ia akan meributkan segalanya.

Belum selesai aku menenangkan hatiku, tiba-tiba kulihat sosok Hyunseong dan teman teman sekelasnya yang sedang melewati kelasku entah dari mana dan mau kemana. Ia menunduk tanpa menatap kelas ini…. Padahal, ia selalu tersenyum tiap kali melihatku di sebuah kelas….. waktu itu.

“Jadi…… kemanakah namja chingu mu itu?” Tanya Donghyun sunbae yang pulang bersama dengan aku maupun Jeongmin, “Biasanya ia selalu menunggu kamu sampai kami datang, kemana dia?”

“Emhhhhhh Tanya saja pada anak itu,” jawabku mencoba berkilah, aku tak ingin membawa masalah ini cukup lama, “Aku sih……. Tidak merasa kesepian, kan selalu ada Jeongmin di dekatku.”

Jeongmin mengeryitkan matanya dan aku hanya bisa menahan geli, tingkahnya selalu berlebihan kalau aku sudah menggodainya seperti itu, “Aku rasa ada sesuatu dibalik semua perkataanmu Hageum-ah.”

“Jinjjaeyo? Mwoya?” Tanya Donghyun sunbae, “Kamu menyembunyikan sesuatu dari Jeongmin? Kalau kau tidak nyaman untuk bicara dengannya, kenapa tidak dengan aku saja?”

Upppps sepertinya aku salah bicara, “Emmmmmmm aku tidak merasa menyembunyikan sesuatu dari kalian kok, termasuk sunbaenim.” Jawabku pelan, namun…. Tiba-tiba aku teringat sesuatu..

Jangan sembunyikan satu hal pun dari aku, arrajie?

 

Ah….. dia lagi, Hyunseong lagi. Seharusnya aku tak memikirkannya lagi kan? Dia memutuskan hubungan kami tanpa sebab, aku pantas melupakannya dan tidak pernah mengingat ucapan-ucapannya lagi. Seharusnya aku….

Seringkali aku teringat saat-saat kami bersama tertawa bercanda…..

 

Ya tuhan… kenapa aku jadi teringat ucapan Donghyun sunbae yang waktu itu? Apa yang terjadi pada diriku… apa yang terjadi????

“Hageum-ah….. kamu kenapa? Apa kamu merasa tidak enak badan?” Tanya Jeongmin yang memang selalu perhatian terhadap kami, “Kenapa kamu memijati dahimu terus, apa kau merasa pusing?”

“Gwenchana…… agak sedikit…. Bingung,” jawabku linglung, “Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan pikiranku, tanpa sadar aku bernostalgia dan…. Dan…. Aku teringat sesuatu yang harusnya tak kuingat.”

Donghyun sunbae menggenggam tanganku erat, “Kaja, rumahmu masih jauh. Berhubung aku tidak kuat menggendongmu, aku akan menggenggam tanganmu erat-erat supaya kau tetap sadar. Kaja Jeongmin-ah.”

Jeongmin mengangguk dan menggenggam tanganku yang satu lagi, “Yak….. aku tidak apa-apa kok. Kalian jangan begini dong~ kajima…. Kajima~~”

“Tidak bisa…. “ ucap Jeongmin dengan wajah yang panic, “Biasanya kalau kamu sudah begini-begini kamu bisa pingsan, jatuh atau melakukan hal lain yang ceroboh~!”

“Gwenchana~~~” ujarku memastikan mereka sembari menghempaskan tangan mereka, “Aku baik-baik saja~~ kalian tidak lihat wajahku yang sehat seperti ini heh?” saat aku berkata, kulihat Hyunseong yang sedang berjalan sendiri sehabis pulang dari sekolah. “Emm…. Jakkaman, ada seseorang yang harus aku temui.”

Aku berlari menuju Hyunseong dan kupanggil namanya, “Seong….. seong-ah~!!” tapi ia tidak mendengarkan atau menengok sama sekali ke arahku dan pada akhirnya aku berhasil meraih ujung bajunya. Wajah Hyunseong terlihat kaget saat aku berada di belakangnya.

“Apa kabar Haegeum-ah?” jawabnya yang membuatku sempat tertegun, “Bagaimana keadaanmu hari ini?”

Aku menatapi wajah pendiamnya yang membuat mataku panas. Wajah ini….. kenapa ia mengatakan hal itu beberapa hari yang lalu? “Apa aku membuat kesalahan? Apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba kamu bilang padaku kalau kamu ingin mengakhiri hubungan kita?”

Tangan Hyunseong yang biasanya membuatku bahagia, kini berubah membuatku jadi sedih. Ia membantuku bangun karena kelelahan berlari “Apa aku harus memberitahu alasanku?”

Kenapa sih dengan namja ini? “Ten… tentu saja~ kenapa tiba-tiba kamu seperti ini? Apa aku membuat kesalahan yang tak bisa kamu maafkan?”

Hyunseong masih menatapiku dengan mata kecil dan garis bibir tipisnya yang selalu kuinginkan senyumnya, namun hari ini dia begitu berbeda…. Tidak ada senyum kecil dari sana, yang ada hanya kebisuan dan wajah yang sedih, “Aku….. aku…… saat ini aku hanya ingin berteman denganmu Hageum-ah, itu alasanku.”

“Ku…. Kureyo?” jantungku berdebar debar mendengar jawaban dari namja ini. Hyunseong adalah pria misterius yang jarang mengungkapkan perasaannya dengan lisan, jadi aku tak bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya, “Tapi….. ini sangat tiba-tiba, dan itu membuatku sedih.”

Lagi lagi Hyunseong menunjukkan senyum tipisnya yang terlihat sedih, “Mian….. sekarang pulanglah, Donghyun sunbae dan Jeongmin sudah menunggu disana.” Ia meninggalkanku pulang, sementara aku masih terdiam dengan jawaban Hyunseong barusan

Saat ini aku hanya ingin berteman denganmu Hageum-ah, itu alasanku.

 

“Yak…. Kok dia meninggalkanmu sendirian? Kupikir kalian akan pulang bersama.” Ujar Jeongmin, “Ada apa? Apa dia sedang ada tugas dari kelasnya atau semacam itu?”

“Sudahlah Jeongmin,” jawabku menahan perasaanku yang abstrak; sedih, bingung dan tak tahu harus bilang apa, “Kita pulang bertiga saja.”

Donghyun sunbae memperhatikanku seksama, “Kurasa……. Kalian sedang berada dalam posisi yang kritis ya? Apa kalian bertengkar?”

“Haruskah aku jujur?” ucapku sambil melanjutkan perjalanan, “Kami sudah bukan pasangan lagi.”

“Mwo???” sudah kuduga Jeongmin akan bereaksi seperti ini, “Sejak kapan Hageum-ah?! Apa yang terjadi, apa dia selingkuh atau mengkhianatimu??”

“Mollaeyo…” jawabku pendek, “Kalian tahu kan kalau Hyunseong adalah namja yang susah ditebak jalan pikirannya? Biarkan saja, mungkin ini yang terbaik untuk kami.”

Memang mudah untuk bicara, memang mudah untuk bilang ‘masih ada yeoja yang lain, masih banyak orang di dunia ini’ ketika Donghyun sunbae putus dengan yeoja chingu nya. Tapi…. Apakah aku kini bisa membuktikannya?

…..

To: 9 June

 

Apa km punya msalah yg mmbuatmu mmutuskn klau kt lbh baik brteman?

 

Setelah satu minggu yang lalu ia mengatakan alasannya, baru hari ini aku berani bertanya lagi kepada Hyunseong. Ia tidak dingin terhadapku sejak pemutusan itu, jadi kurasa akan baik-baik saja kalau bertanya lagi.

From: 9 June

 

Eobsseoyo.

 

Dan balasan pendek seperti itulah yang selalu kudapatkan. Hatiku masih saja penasaran dengan apa yang ia pikirkan saat ini, sebenarnya tak terlalu menyakitkan kalau harus sendirian lagi seperti ini… tapi, kalau alasannya abstrak, bagaimana aku bisa merelakannya?

“Masih mau mengobrol denganmu ya, si Hyunseong?” Tanya Jeongmin, “Dan dia masih menjawab dengan hal yang sama?”

“Nee….” Jawabku lemas, “Bagaimana caranya ya supaya dia mau terbuka denganku? Aku takut dia punya masalah sehingga harus melakukan semua ini.”

“Kalau menurutku….. lebih baik kamu lupakan saja semuanya, Hageum-ah.” Usul Jeongmin, “Aku tahu kamu punya hati dan perasaan yang kuat, tapi kalau kamu terus merusaknya dengan hal-hal seperti ini…. Lama-kelamaan bisa terkikis dan….. perasaanmu bisa lebih sakit daripada yang sekarang.”

Aku menundukkan kepala dan menghembuskan nafas berat-berat, “Aku tidak tahu apa yang kulakukan, tapi… aku tidak bisa melupakannya.” Jawabku, “Karena aku belum dapat jawaban yang aku mau Jeongmin-ah…. Jadi aku masih penasaran.”

Jeongmin duduk disebelahku dan menaruh tangannya di pundakku, “Tapi…. Sebenarnya kamu sedih tidak sih Hageum-ah?”

“Aku tidak tahu.” Jawabku sembari menyenderkan kepala di pundaknya, “Banyak hal yang kurasakan saat ini, Jeongmin-ah…. Sedih sih sedih, tapi… aku juga tak tahu harus apa.”

Dari kejauhan, aku menemukan Hyunseong lagi.. tapi kini ia tak sendiri, ia bersama dengan seorang yeoja…. Sunbaenim sepertinya, dan satu kelas bersama dengan Donghyun oppa karena aku sepertinya kenal.

“Ada apa?” Tanya Jeongmin sambil melihat kea rah yang sama denganku, “Ah… mungkin itu alasan kenapa ia minta putus denganmu. Kamu lihat sendiri kan? Dia bersama yeoja lain, dia menyukai yeoja itu Hageum-ah.”

Benarkah? Tapi….. Hyunseong bukan tipe namja yang seperti itu. Dia bukan orang yang dengan mudahnya berpaling ke yeoja lain, aku tahu dia. Kami sudah hampir satu tahun bersama, jeolte andwae…

Kugenggam tanganku erat-erat supaya tak ada air mata yang tumpah, “Cukup Jeongmin, tolong jangan pernah kamu bicarakan hal tentangnya lagi. Aku….. sudah tak bisa menahannya lagi,”

Tes…… tak bisa, air mataku sudah jatuh. Aku segera berlari menuju lantai paling atas gedung, Jeongmin memanggilku tapi aku tak bisa menjawabnya. Aku terlalu bingung harus berbuat apa. Di atas gedung, aku duduk di tepian gedung yang lebar dan memandangi suasana kampus yang berawan dan mendung. Sepertinya akan hujan sebentar lagi, memang cocok dengan suasana hatiku yang sekarang.

“Jung Hageum…. Jung Hageum!!” kudengar suara Donghyun sunbae mencariku. Mian sunbaenim… aku tak mau menjawabmu untuk kali ini saja, aku….. hanya ingin sendiri saat ini. Mencari ketegaran yang entah berada dimana, jebal…. Jebal….. tolong beritahu apa yang sedang terjadi dengan diriku…

Kenapa kamu tidak mencoba untuk jujur terhadap perasaanmu sendiri, Hageum?

 

Kudengar sebuah suara yang entah dari mana. Namun setelah kucari-cari, akhirnya aku tahu bahwa suara yang bicara tadi adalah…. Suara hatiku sendiri.

“Nee…… memang selama ini aku munafik… berpura-pura tegar,” ucapku dengan suara yang gemetar, “Tidak mungkin rasanya seorang Jung Hageum…… bisa rela berpisah dengan Hyunseong~~” aku menangis sejadi jadinya seiring dengan rintik-rintik hujan, seluruh tubuhku gemetar diguyur hujan yang menemani hatiku yang kosong ini.

Baru kuingat hari ini, bahwa disini adalah tempat pertama kali bertemu…. Tempat kami bermain, serta tempat kami berpisah satu bulan yang lalu.

…..

“Yak, kenapa kamu pakai masker?” Tanya Donghyun sunbae, “Jangan-jangan kemarin kamu hujan-hujanan sampai kamu basah kuyup?”

Aku tersenyum, “Yah begitulah~ sekarang aku jadi benar-benar pilek deh hehehehehe~~ doakan saja semoga aku tidak demam juga.”

“Tidak mungkin, yang namanya pilek pasti ujung-ujungnya demam.” Timpal Jeongmin, “Lihat hoobae-mu yang satu ini hyung, sok kuat. Padahal kalau pakai AC sedikit saja langsung masuk angin, Babo-ya.”

 Aku menjitak kepala Jeongmin, “Kau tuh yang babo, aku tidak seringkih itu ya. Kan mentalku sekuat baja~~!! Jadi tidak mungkin lah sampai demam.”

“Annyeong Hageum,” sapa suara dari belakang. Dia lagi, Hyunseong lagi dengan senyum tipisnya yang kini membuat hatiku perih, “Sudah lama nih kita tidak mengobrol, apa kabarmu? Kenapa kamu pakai masker?”

“Isssssssh namja ini lagi.” Jeongmin yang tadi ceria menjadi gusar, “Buat apa kamu datang kemari? Gara-gara kamu tuh Hageum sakit! Lihat, dia beberapa hari yang lalu hujan-hujanan karena sakit sakit melihatmu ber…. Emmmmmph emmmmmph~!!!!”

“Kamu banyak bicara nak,” ujar Donghyun sunbae membekap mulut Jeongmin, “Hageum memang sedang ketularan pilek dari keluarganya, oh iya ada apa kau tiba-tiba kemari?”

Hyunseong memandangku dengan tatapan kosong dan wajah yang sedih. Ada apa? Kenapa ia melakukan hal seperti ini padaku? “Tidak apa-apa hyung, aku hanya ingin mengajaknya bicara. Apa kalian sedang mengerjakan sesuatu bersama?”

“Ah aniiya…. Kami memang selalu berkumpul bertiga seperti ini. Kamu lupa ya Hyunseong?” Tanya Donghyun sunbae, “Kalau mau bicara berdua silahkan saja~ eh kau, sini sini.”

Sunbae menarik lengan bajuku dan berbisik, “Yak ini kesempatan terakhirmu untuk bicara dengannya, jadi manfaatkanlah dengan baik. Aku tidak akan memberikan kesempatan kedua oke?”

Aku mengangguk dan mengikuti Hyunseong dari belakang, ia tak mengajakku bicara sama sekali sampai kita tiba di tempat kami selalu bersama; lantai teratas gedung kampus.

“Jeongmin bilang kamu hujan-hujanan ya?” Tanya Hyunseong tiba-tiba, “Kamu memang mau sakit atau bagaimana sih?”

Eh, dia menanyakan hal itu? Kenapa dia tiba-tiba peduli? “Kenapa kamu harus tahu? Kan sudah Donghyun sunbae bilang kalau perkataan Jeongmin tidak benar. Lagipula….. kalau aku sakit pun bukan urusanmu kan?”

Wajah Hyunseong membeku setelah perkataanku itu, tas isi bola basket yang ia bawa dari tadi terjatuh di sampingnya dan menggelinding menjauh. “Haruskah aku beritahu alasan sebenarnya? Alasan kenapa aku ingin kita berpisah meskipun ini menyakitkan?”
Aku menelan ludah mendengarnya, “Katakan saja, mau tidak mau aku harus siap kan?”

Hyunseong menatap mataku dalam-dalam, lalu….. ia bicara. “Aku bosan denganmu, Hageum…”

“Tolong jangan pernah sebut namaku lagi.” Ucapku memotong perkataannya, “Sudah kuduga, perkataan Jeongmin memang benar. Seharusnya aku tak perlu menyangkal semua perkataannya dari awal.”

Tanganku gemetar lagi, kenapa aku begitu lemah kalau menyangkut namja ini? Kenapa aku harus terlihat cengeng dan rapuh, padahal aku tidak suka diremehkan oleh namja. “Memangnya…. Jeongmin bilang apa? Dan….. kita masih bisa berteman kan? Aku bilang bosan bukan karena dirimu, tapi karena status hubungan kita. Sepertinya lebih nyaman kalau kita jadi chingu saja…”

“Arraseo…..” jawabku sambil menghela napas dalam dalam, kudongakkan wajahku untuk menahan mata yang berkaca kaca, “Bisakah aku minta tolong padamu Seong-ah?”

Alisnya mengeryit mendengar pertanyaanku, “Minta tolong apa?”

“Tolong ya, segera cari yeoja chigu yang baru,” jawabku dengan senyum yang dipaksakan, sebenarnya aku tidak mau bilang hal ini. Tapi kalau tidak bilang, perasaanku akan lebih sakit lagi. “Supaya aku bisa melupakan perasaanku yang sudah dalam ini terhadapmu, annyeong….”

Aku meninggalkan Hyunseong dengan langkah yang cepat, air mataku menetes lagi tapi ini bukan karena kesedihan. Ini karena aku sudah lega dengan semua jawabannya, tidak ada lagi rasa penasaran…

Donghyun sunbae menghampiriku, “Sudah lega kah? Aku tidak akan mengijinkanmu untuk bicara dengannya lagi loh untuk kedepannya.”

“Uhuk, waeyo?” aku menghapus air mataku, “Kita kan sekarang teman, jadi tidak usah khawatir kalau perasaanku akan tersakiti lagi kan?”

Bukannya menyetujui, Donghyun sunbae malah berkata, “Tidak semudah itu Hageum-ah….. aku tahu dirimu, apalagi Hyunseong adalah cinta pertamamu. Akan lebih sulit untuk melewatinya.”

“Jebal, jangan bilang hal seperti itu lagi.” Tangisku merebak lagi, “I’m trying….. aku mencoba untuk tetap tegar sunbaenim. Jebal….. jangan katakan hal itu~ uhuhuhuhu~~~”

Donghyun sunbaenim memelukku, “Mian mian….. aku Cuma mau mengatakan hal yang sejujurnya kok, mianhae Hageum-ah… uljimma uljimma. Nanti kalau Jeongmin lihat kamu menangis seperti ini, dia bisa menghajar Hyunseong. Kamu tidak mau hal seperti itu terjadi kan?”

“Nee nee…..” aku masih menangis di dalam pelukan Donghyun, aku harap kejadian yang menyesakkan dada ini hanya terjadi satu kali dalam hidupku

…..

“Seong-ah, aku mau bolanya~~ berikan berikan!!”

“Tidak mau~~ meroooong~!!”

“Ah jinjja, aaaaaaaah tuh kan masuk lagi. Seong jahat~!! Aku jadi kalah kan?!”

“Hahahahahaha anggap saja bola basket yang masuk tadi buat Hageum, arra? Kamu selalu jadi pemenang untukku kok.”

Selalu itu kata-kata yang kuingat kalau aku melihat lapangan basket yang tiap hari aku lewati setiap pulang kuliah. Waktu itu begitu menyenangkan, Hyunseong selalu mengajakku main bola basket meskipun aku membenci permainan itu karena aku kalah terus darinya. Tapi…. Tidak ada permainan basket yang paling menyenangkan selain bersama dia.

“Sekarang sedang apa ya dia?” Ucapku sendiri karena aku tiba-tiba terpaku dengan lapangan basket tersebut. Bisa kulihat kembali saat-saat kami bermain bersama dan pulang dengan tawa meskipun ia selalu mencurangiku dan terkadang membuatku menangis karena dia selalu menang sementara aku selalu kalah.

“Ah… pasti dia sedang sibuk belajar, kan sudah mau semester 3. Dia kan harus mempertahankan beasiswanya,” ujarku sambil duduk di pinggir lapangan basket yang ramai karena banyak orang yang bermain, maklumlah orang-orang memang suka bermain disini kalau sudah sore.

“Siapa bilang siswa dengan jalur beasiswa harus selalu belajar?” Tanya seseorang dibelakangku yang ternyata Hyunseong, “Annyeong….. tumben kamu mau kesini sendirian?”

Namja itu membawa bola basket kesayangannya dengan jaket dan celana panjang warna kesukaannya, “Ah nee….. aku baru saja lewat dan… teringat akan sesuatu, kamu sendiri?”

“Aku selalu main kesini kalau pikiranku penat, kau ingat?” Tanya Hyunseong mendekatiku, rambut hitamnya kini lebih pendek sejak kejadian 2 bulan yang lalu, “Donghyun sunbae tidak ikut bersamamu?”

Kugelengkan kepala sambil melihat kea rah lapangan, “Aku akhir-akhir ini hanya ingin sendiri, soalnya sendiri itu lebih baik.”

“Jangan sering-sering,” jawab Hyunseong yang tak kusangka malah mendekatiku dan duduk disebelahku, “Nanti kamu kesurupan, hehehehe~”

“Hahahahaha masih percaya mitos seperti itu kah?” jawabku sedikit meremehkan dia, “Kamu tidak main basket saja sana?”

Saat aku bertanya seperti itu, tak kusangka Hyunseong menjawab… “Aku tidak mau main kalau kamu tidak mau.”

“Eh, ke….. kenapa harus main basket dengan aku?”  jawabku gugup, “Kan kamu tahu aku sangat membenci basket. Mainlah dengan orang lain,”

“Andwae,” jawabnya tegas, “Aku mau bermain basket dengan kamu hari ini,” ia melihatku penuh keseriusan seakan akan ia ingin mengatakan sesuatu yang tak bisa keluar dari mulutnya.

Kamu selalu jadi pemenang untukku kok….

 

“Mianhae…..” aku memegang kepalaku karena teringat lagi kejadian saat kami bersama, “Kepalaku pusing, aku tak bisa menemanimu lebih lama lagi. Annyeong~”

Saat aku pergi meninggalkan dia, kudengar teriakan Hyunseong memanggilku. “Jung Hageum, kajima!!”

Aku terdiam lagi, kenapa? Kenapa ia melakukan ini terhadapku? Ini sudah berakhir, tapi ia selalu datang membangkitkan kenangan-kenangan manis yang kini terasa pahit untukku?

“Wae…. Wae??” ucapku dari depan pintu lapangan basket, “Kamu yang memutuskan semua ini tapi kamu juga yang membangkitkan kenangan-kenangan yang ada. Maumu apa Seong-ah? Kenapa kamu selalu membuat perasaan ini sakit? Kenapa kamu selalu membuatku nyaris bunuh diri, waeyo?? Wa….”

Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, membuat tanganku yang awalnya biasa menjadi kaku menahan kesedihan. “Mianhae…. Jalmotthaesseo.” Ucap Hyunseong sambil memelukku, “Sebenarnya….. waktu itu aku memutuskanmu karena….. aku merasa belum sanggup membuatmu bahagia saat ini, aku tidak ingin membuatmu kecewa karena sikap acuh dan pendiamku yang entah kenapa tidak bisa diperbaiki ini~ aku berjanji akan mengubahnya.” Ucapnya panjang lebar “Kurasakan 4 bulan ini sangat sepi tanpa kamu, karena aku tak bisa memanggilmu lagi dengan nama yang sangat aku suka. Aku tidak suka, aku membencinya…. Aku merindukannya.”

Lengan Hyunseong semakin erat memeluk pundakku dari belakang, air mataku merebak mendengar perkataannya barusan. “Babo ceoreom….. babo, babo~!!” pekikku sambil memegang lengan yang memeluk pundakku itu, “Aku sangat menyayangimu tahu, tapi kamu malah berpikir terlalu jauh seperti itu~!! Aku bukan seperti yeoja lain yang terlalu menuntut, babo-ya~!! Aku menyayangimu seacuh dan sependiam apapun kamu, arraseo~!?”

Aku menahan dadaku yang sesak dalam air mata dan membalikkan badanku untuk memeluknya erat, begitu banyak rasa yang tercampur aduk dalam perasaanku, “Mianhae…… jeongmal mianhae Hageum-ah.” Hanya itu yang bisa diucapkan Hyunseong, “Jadi…. Sekarang kita kembali seperti dulu kan? Kita baikan ya?”

Aku tak menjawabnya karena terlalu senang, namun….. kulihat keanehan di wajah Hyunseong setelah melepas pelukanku. “Itu……. Pipimu kenapa?”

Ia meraba wajahnya dengan panic dan langsung menutupinya, “emmmm……. Haruskah kuberitahu?”

“Nee…..” jawabku mantap, “Kamu bertengkar dengan siapa?”

Dan dengan senyum malu-malu, ia menjawab. “Anu…… ini tanda cinta dari Jeongmin karena alasanku yang tadi, ehehehehe~~”

Mwo?? Ah dasar Lee Jeongmin kasar >< but anyway, gamsahabnida chingu~~~

Tamat