The Dark and The Light Wings (Chapter 2)

 

Shin Hyunyoung story…

Astaga, dia berjarak 1 meter dariku saat ini. Rasanya jantungku tidak berhenti berlari melihatnya yang sedang membagikan balon kepada anak-anak. Namja yang tidak banyak bicara itu telah merebut hatiku sejak pertama kali bertemu…
“A… a…. annyeonghaseo.” Sapaku malu-malu. Ia menengok kebelakang dengan pandangan yang ingin tahu. Tepat saat melihatku, ia tersenyum manis sekali
“Annyeonghaseo Hyunyoung-sshi.” Sapanya balik. “Mian, aku sedang membagikan balon kepada anak-anak.”
“Gwechanaeyo oppa, mau kubantu?” tanyaku sopan. Namun ia menggeleng sambil tersenyum seperti biasa.
“Gamsahabnida, biar aku saja yang menyelesaikan tugasku. Kau jalan-jalan saja dengan teman2mu, nanti kalau aku sudah selesai kujemput dan kita bisa mengobrol bersama. Bagaimana?”
“Ah baiklah kalau begitu. Sayang sekali ya.” jawabku sambil menenangkan degup jantungku yang masih tidak karuan. Hyunseung oppa memandangiku dengan matanya yang terlihat seperti ikut tersenyum. Saat oppa berbalik, terlihat dari tengkuknya sebuah garis merah yang cukup besar. Seperti luka yang cukup besar.
“Oppa, kenapa tengkukmu? Kau terluka?” tanyaku agak khawatir. Ia langsung mengangkat kerah bajunya dan menutupi tengkuknya dengan wajah yang gugup.
“Anii.. aku tidak apa-apa, mungkin hanya perasaanmu saja.” Ujarnya terbata-bata, “Kau baru melihatnya beberapa detik kan?”
Aku tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Tapi aku mengangguk anggukan kepalaku, “Nee aku baru melihatnya selama 3 detik. Tapi… oppa yakin kan itu bukan luka atau kulit yang robek?”
“Bukan…” jawabnya cuek. “Tuh Yoseob sudah menunggumu, sebaiknya kau segera kesana.”
Aku mengangguk sambil meninggalkannya dan menghampiri teman-teman rekan kerjaku di midimarket, “Mianhae sudah lama menunggu. Minri, kami main-main dulu ya~~”
Kami berpamitan pada Minri dan segera mencari wahana yang akan kami kunjungi. Pertama kami naik bianglala terlebih dahulu, aku duduk bersama Yoseob sementara Dongwoon duduk sendiri.
“Uwaaaaah sudah lama aku tidak naik bianglala.” Ucap Dongwoon antusias. “Untung saja noona masih punya tiket masuk gratis hadiah dari minuman kemasan yang kemarin ia beli.”
“Benar kata Dongwoon. Gamsahabnida Hyunyoung-sshi.” Ujar Yoseob “Kita memang sedang butuh hiburan.”
Aku hanya tertawa-tawa melihat keantusiasan mereka berdua yang seperti anak kecil, memang sih sudah lama sekali kita tidak bermain ke tempat kerja Minri. Waktu ini sangat berharga, tidak boleh dilewatkan.
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~~~ anakku~!!” teriak seseorang dari bilik bianglala yang lain, saat kulihat ternyata anak yang dimaksud sedang tergelantung di udara, dengan kepala menghadap kebawah. Sementara sang ibu berteriak-teriak dibawah karena ia belum naik wahana ini.
“Ottokke?? Tidak bisakah kita menolong dia?” tanyaku pada mereka berdua, tapi mereka berdua malah sibuk sendiri dan berbicara menggunakan bahasa yang aneh dan tidak kumengerti.
“Harus seperti inikah? Tidak bisakah kita biarkan saja?” tanya Dongwoon.
“Ppali~~ dia belum cukup umur kalau dibawa kesana.” Jawab Yoseob. “Aku yang melakukannya dan kau disini bersama Hyunyoung, arraseo?”
“Yak~!! Kalian ini bicara a…….” belum selesai aku bicara, tiba-tiba Dongwoon bertukar posisi duduk dengan Yoseob, menutup mataku dan… semuanya menjadi gelap

…..

“Hyunyoung-sshi… ireona…..” panggil suara yeoja ditelingaku. Saat kubuka mata, ternyata Sunghyo sudah ada di depanku bersama dengan teman-temanku yang lain.
“Sunghyo-sshi? Junhyung oppa? Kok kalian bisa ada disini?” tanyaku heran. Kulihat ruangan yang ada disekitarku, ternyata ini ruang p3k di taman ria.
“Kata Dongwoon dan Yoseob kau pingsan karena pusing.” Jawab Junhyung oppa. “Jadi kami berlima membawamu ke ruang kesehatan.”
Yoseob menatapku agak khawatir, begitu juga dengan yang lainnya. “Mianhae Hyunyoung-sshi. Kami tidak tahu kau trauma dengan ketinggian.”
Aku manggut manggut pelan. Sepertinya aku tidak merasa pusing saat tadi, tapi kenapa sekarang aku pusing sekali ya? tadi kan aku sedang lihat anak kecil yang….
Oh iya! Anak kecil itu, bagaimana keadaannya?! Aku harus segera ke bianglala untuk menyelamatkannya!
“Yak mau kemana, kau kan masih pusing?” tanya Sunghyo terkejut saat melihatku bangkit dan menggunakan sepatuku.
“Tadi ada anak kecil yang hampir jatuh dari bianglala, aku ingin menyelamatkannya~!” ujarku panik.
Tapi Yoseob menghalau dan memaksaku untuk berbaring di tempat tidur, “Tenanglah. Anak itu selamat, tadi petugas berhasil menangkapnya saat jatuh. Memangnya kau tidak lihat?”
“Anii… anii…. Dongwoon tadi menutup mataku tiba-tiba…. Dan saat aku bangun, ternyata aku sudah disini” ucapku bingung, karena hanya itu yang aku ingat saat kejadian itu berlangsung.
“Mwo? Aku tidak menutup mataku kok.” Ucap Dongwoon sambil melirik Junhyung oppa. “Tadi kau tiba-tiba pingsan. Dan saat kulihat, ketinggian bianglala sudah jauh sekali dari tanah. Mungkin itu yang membuatmu pusing.”
“Aku tidak bohong oppa~~ tadi… mereka juga bicara dengan, bahasa yang aneh…. Bahasa yang tidak kumengerti.” Aku berusaha mengingat ingat kejadian barusan.
Sunghyo mengeryitkan alisnya. Lalu Junhyung oppa mengangkat selimut untuk menutupi badanku, “Kau ini bicara apa sih? Jelas-jelas kau tadi seperti tertidur di bilik bianglalanya, Yoseob dan Dongwoon saja sampai panik karena kau tidak kunjung sadar. Lebih baik kau istirahat, sebentar lagi Minri akan ganti shift. Kita bisa menghabiskan waktu dengan mereka.”
“Oppa akan menemanimu disini sementara, aku mau ke tempat Kikwang dulu. Apa aku harus menelpon Doojoon oppa?” tanya Sunghyo hendak pergi bersama Yoseob dan Dongwoon.
“Anii… tidak usah, beliau sedang ada urusan dengan teman-temannya.” Jawabku sambil masih mengingat-ingat kejadian saat aku naik bianglala tadi. Apa benar aku tadi pingsan?
“Kata Sunghyo, kau fobia terhadap tempat yang tinggi dan darah dalam jumlah yang banyak ya?” tanya Junhyung oppa. Aku mengangguk, lalu ia bertanya. “Kenapa kau takut darah?”
“Anu….. waktu unnie meninggal, aku masih melihat TKP dan jasad unnie yang berlumuran darah. Darahnya hampir menyentuh sepatuku, sejak itu aku menjadi fobia terhadap darah.”
Junhyung oppa manggut-manggut, “Ternyata alasannya seperti itu ya? memang sih darah orang lain itu mengerikan.” Jelasnya, “Mungkin Dongwoon dan Yeoseob melakukannya supaya kau tidak mengalami hal yang sama seperti satu tahun yang lalu.”
Aku mengeryitkan alisku kebingungan, “Maksud oppa bagaimana? Aku tidak mengerti.”
Junhyung oppa terkesiap dan menutup mulutnya dengan wajah yang panik dan penuh kekhawatiran, “Aniiyo, lupakan saja perkataanku barusan. Kubelikan kau makanan kecil ya?”
Saat Junhyung oppa menunduk mencari sesuatu di tasnya, kulihat garis hitam besar seperti milik Doojoon oppa. Aku hendak bertanya kepada oppa tentang tattoo itu…
Tapi kepalaku terlalu pening, mungkin perkataan mereka semua benar. Aku pingsan karena kepalaku terlalu pening saat di bianglala tadi.

~~~~~

Park Sunghyo story…

“Kikwang-sshi, Maaf menunggu lama.” Kataku menghampiri namja chingu ku di balik meja kasir. “Berapa jam lagi tugasmu selesai?”
“Mungkin beberapa menit lagi. Kru yang lain sudah datang, tinggal menunggu Hyunseung hyung selesai menjual gulali-gulalinya. Maklum, sebagai yang tertua di tim kita… dia yang bertugas menjual gulali.” Kata Kikwang sambil merangkul pinggangku. “Kau sudah makan siang?”
“Belum, aku lapar sekali. Tapi tunggu saja sampai tugas kalian selesai,” jawabku antusias. “Tapi ngomong-ngomong, Hyunyoung hampir saja mengetahui keberadaan ‘kalian’”
Mata Kikwang yang sipit melebar karena terkejut, “Kok bisa? Apa Hyunseung hyung yang memberi tahu dia?”
“Kurasa tidak, Hyunyoung melihat garis merah besar di tengkuk Hyunseung oppa.” Aku meraih dan menelusur leher Kikwang sampai di tengkuknya yang tertutup kerah baju. “Seperti punyamu jagiya.”
Kikwang menepis tanganku yang menempel di tengkuk dalamnya, “Jangan lakukan hal seperti ini dong di tempat umum, nanti para pembeli akan merasa terganggu.”
“Hahahaha mianhae Kikwang-sshi~~” ujarku sambil tersenyum senyum, “Lalu, apa yang harus kalian lakukan? Kalau Hyunyoung mengetahuinya dalam status tidak terikat hubungan dari kawanan ‘kalian’ apakah tidak berbahaya?”
“Tentu saja itu berbahaya. Kita bisa dihukum.” Ungkap Kikwang agak sedikit resah, “Apalagi Yoseob dan Dongwoon yang dekat dengannya dan tidak mempunyai ikatan apapun.”
“Hyunyoung kan menyukai Hyunseung. Apa tetap tidak bisa?” tanyaku bingung. “Lalu bagaimana dengan Minri? Dia belum tahu rahasia ‘kalian’ kan?”
Kikwang menggeleng. “Untung saja dia tidak mempermasalahkan tanda yang terkadang suka terlihat kalau sedang pakai baju polo. Kau tahu apa motif bunuh diri unnie nya Hyunyoung?”
“Molla, apa itu?” tanyaku. Namun sebelum Kikwang menjawab, ia menjauhkan diriku dari tubuhnya. Benar saja, beberapa saat kemudian terlihat gerombolan anak SMP yang hendak membeli aksesoris.
“Kikwang, aku sudah menjual 20 gulali, ini uangnya.” Hyunseung oppa muncul dan memberikan uang kepada Kikwang yang sedang melayani penjual yang sedang membayar. “Oh, annyeonghaseo Sunghyo-sshi, baru saja datang?”
“Aniiya, tadi aku di ruang kesehatan karena Hyunyoung dihipnotis dan tidak bangun-bangun saat di bianglala.” Aku menyapa Hyunseung oppa yang siap-siap untuk berganti baju, “Dongwoon yang menghipnotisnya.”
“Apa ada kecelakaan yang membuat mereka harus menghipnotis Hyunyoung?” tanya oppa kembali.
“Ada anak kecil yang tersangkut di pintu bianglala dan nyaris saja jatuh, untuk Yoseob menyelesaikan semuanya, aku tahu itu dari Kikwang-sshi.” Jawabku, “Minri sudah selesai membagikan selebarannya?”
Hyunseung oppa hanya mengarahkan kepalanya ke pintu masuk, Minri masuk sambil membawa beberapa selembaran yang tersisa. Lalu oppa masuk ke ruang ganti, sementar Minri memberikan selebaran sisa kepada orang lain yang akan bertugas sesudahnya.
“Oh annyeonghaseo Sunghyo~~ kami sudah selesai nih, ayo kita jalan-jalan.” Ucapnya riang “Yak Kikwang-sshi~~ sudah selesai nih tugas kita. Ayo kita jalan-jalan, yeoja chingu mu sudah menunggu nih”
Wajahku merona karena ucapan Minri barusan. Apa-apaan sih dia? Aku kan malu~~~
“Nee, aku akan segera ganti baju.” Jawab Kikwang dari meja kasir. Beberapa saat kemudian Hyunseung oppa keluar dari ruang ganti bajunya dan mengisi kartu absennya.
“Hyunyoung masih di ruang kesehatan?” tanya nya dengan muka cuek seperti biasa. Aku mengangguk dan ia berlalu meninggalkan aku dan Minri tanpa suara.
“Hahahahaha aku masih belum terbiasa nih dengan sikap Hyunseung oppa yang cuek.” Ungkap Minri
“Tapi kau tahu tidak?” ujarku penuh rahasia. “Dia banyak tersenyum loh kalau di depan Hyunyoung, kupikir mereka berdua saling menyukai.”

~~~~~

Shin Hyunyoung story…

“Kita akan selalu bersama kan unnie?”
“Nee. Kita akan selau bersama-sama sampai kita menikah nanti, Hyunyoung.”

“Hyunyoung… kau tahu? Hidup begitu sulit saat kita sendiri. Tapi karena ada kau, hidupku tak sesulit yang kukira. Gomawo dongsaeng, aku akan selalu kuat bersamamu..”

Aku terbangun dari tidurku, kata-kata terakhir yang unnie ucapkan sebelum ia pergi masih terngiang ngiang di pikiranku, aish… bagaimana aku bisa menghilangkannya?
“Annyeong, bagaimana keadaanmu Hyunyoung-sshi?” terlihat Hyunseung oppa berdiri di ujung ruangan sambil melipat kedua tangannya di dada. “Sudah mendingan?”
Aku mengangguk pelan dan mulai merapihkan rambutku yang agak berantakan. “Sudah selesai tugasnya? Jadi.. kita ikut jalan-jalan nih?”
“Terserah saja.” Jawabnya sambil melihat sekeliling ruang kesehatan. “Aku belum pernah kesini, sepertinya disini menyenangkan.”
“Ini tempat orang sakit. Bagaimana bisa tempat ini bisa membuatmu senang?” aku mengeryitkan alisku karena perkataanya, aku tidak tahu apakah ia berusaha melucu atau tidak.
Tiba-tiba Hyunseung oppa memegang tangan kiri dan memegang pelipisku. ia memegangnya lembut, namun membuat detak jantungku memburu tak henti. Apa yang ia lakukan? Oh Tuhan, kuharap ia menghentikan perbuatannya yang bisa membuat jantungku berhenti~~~~
Ia masih memegangi tangan kananku, pelipisku dan menatap mataku dalam-dalam, aku bagaikan terhipnotis oleh tatapan matanya. Ingin rasanya aku melepaskan kedua tangannya yang menempel di anggota tubuhku, tapi aku tak sanggup melakukannya..
“Semoga masalah-masalah yang memenuhi pikiranmu cepat hilang.” tangannya yang tadi di pelipis, turun ke pipiku. “Kau harus rajin-rajin olahraga untuk mengatur detak jantungmu. Semoga yang kulakukan tadi tidak membuatmu takut.”
Aku manggut manggut bodoh, aku tidak takut. Hanya gemetaran dan berdebar-debar hehehe~
Tangannya yang tadi memegangi tanganku mengendur, sesaat tadi aku merasa hangat karena ia terus memegangku. “Baiklah ayo kita jalan, semuanya sudah menunggu.”
“Jinjja? Aku harus segera…..” saat aku bangkit dari tempat tidur dan hendak mengambil sepatu, aku tersandung kakinya yang panjang. Dengkulku terbentur cukup keras da rasanya sakit sekali~
“Aish, mianhae.. kakiku terlalu panjang ya?” katanya sambil membantuku bangun. “Aku yakin pasti setelah kita jalan-jalan nanti, lukanya pasti tidak sakit lagi.”
Ia menepuk nepuk dengkulku yang agak tergores dan menarik tanganku. “Kaja, kita makan siang dulu, kau pasti lapar.”
Aku mengangguk pelan mengikutinya keluar ruangan. Diluar semuanya sudah menunggu.
“Hyunyoung, ayo makan siang~~!!! Lapar nih.” Ajak Yoseob. “Nanti kau yang pilihkan makanan ya, kau pasti tidak lupa sama makanan kesukaanku kan?” ia menggamit tanganku sehingga aku terpisah dari Hyunseung oppa yang agak terkejut dengan kelakuan Yoseob.
“Baiklah, kaja~~ habis makan kita naik wahana-wahana ya.” ajakku dibalas dengan anggukan mereka. Kulihat Hyunseung oppa yang hanya memandangi sekitarnya dengan wajah cuek, senyum yang tadi bersinar di wajahnya meredup seketika itu juga…

Sebenarnya aku merasa tidak enak. Tapi karena Yoseob, Sunghyo, Minri, dan Kikwang adalah teman SMA ku, jadi kupikir tidak masalah. Kuharap Hyunseung oppa mengerti…