Title : A Little Thing I Wonder
Author : Angelinblack
Length : Continue
Genre : Romance
Cast : Kim Jaejoong JYJ, Jeon Boram T-ara, Park Yoochun JYJ
NB for readers : FF ini d publish juga d blog pribadi author angelinblack.wordpress.com … Silahkan datang berkunjung…

*prolog*

“Semua hanya semu… Hati ini, perasaan ini… Ya, setelah aku memejamkan mata dan menghitung hingga 5… Semua akan baik-baik saja… Semua akan benar-benar menjadi semua, hilang tak bersisa…”

“Bagaimana aku bisa mencintaimu, sedangkan dulu aku begitu membencimu??”

***

*suatu hari dalam masa lalu*

Boram. Perempuan itu sedang tertawa lepas bersama teman-temannya, saat tiba-tiba 2 orang senior menghalangi jalan mereka. Jaejoong dan Yoochun, ia sangat mengenal kedua seniornya itu. Mereka murid SMA yang satu yayasan dengan SMPnya dan ia sangat membencinya. Dulu, mereka sempat berteman baik. Berawal dari kekaguman saat pertunjukan bakat, mereka saling mengenal. Tapi, laki-laki itu melakukan sesuatu yang sangat di bencinya. Benar-benar ia benci.

“Boram-ah~”seorang teman Boram berlindung ketakutan dibalik punggung Boram, sangat ketakutan.

“Tenanglah~”Boram yang tomboi memang sangat melindungi teman-temannya, terlebih lagi pada temannya yang satu itu. Karena, ia sangat mengerti alasan perempuan itu begitu ketakutan saat melihat kedua senior itu. Walaupun, sebenarnya ia juga takut.

“Mau apa?! Disini bukan gedung SMA!!”bentak Boram. Ia berdoa dalam hati semoga kedua sunbae ini cepat pergi. Hatinya sangat sakit dan lelah menghadapinya, terutama senior yang berambut pirang-kecoklatan, Kim Jaejoong.

“Aku ingin bicara denganmu, Boram…”Jaejoong mencoba menggandeng tangan Boram, tapi perempuan itu cepat menghindar. “Ku mohon…”ia merendahkan nada suaranya.

“Aku tidak ingin berbicara denganmu! Pergilah, sunbaenim!!”tolak Boram mentah-mentah.

Jaejoong menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya sakit. Tidak hanya sekali ini Boram menolaknya mentah-mentah. Sejak malam itu, perempuan itu bahkan sama sekali menghindarinya. Ia memang salah, tapi itu karena ia tidak bisa menahan dirinya. Ia sudah terlalu lama mencintai perempuan mungil itu, memendamnya, dan menahan dirinya saat perempuan itu bersama laki-laki lain. Kali ini, ia harus meluruskannya. Perempuan itu masih kelas 1 SMP, ia mengerti kenapa perempuan itu sama sekali tidak mengerti pemikirannya. Tapi ia tidak punya waktu lagi, kelulusan sudah di depan mata. Ia akan segera kuliah dan mungkin tidak akan bertemu perempuan itu lagi. Apapun caranya ia harus! Ia harus bicara dengan perempuan itu.

“Baiklah, aku memaksa!!”kali ini Jaejoong menggandeng perempuan itu dan menariknya paksa ke gedung belakang sekolah. Ya, tempat yang paling di benci perempuan itu karena kejadian malam itu. Tapi, itu hanya ketidaksengajaan.

“Pergi!!! Pergi!!! Pergi!!!”Boram berteriak histeris. Ia melepaskan genggaman Jaejoong dengan paksa hingga terlempar ke tembok yang ada di belakangnya.

“Kau tidak…”

“Jangan sentuh aku!!”teriak Boram lebih histeris. Tangannya mendekap tubuhnya sendiri dan ia mulai meringis kesakitan. Ia memejamkan matanya ketakutan, terdengar sekali ia menghitung angka dengan pelan. Tapi, entah untuk apa.

“Dengar, aku mohon jangan salah paham. Waktu itu aku mabuk, aku tau itu dilarang, tapi… Aku hanya ingin menegaskan satu hal padamu Boram, aku tidak bermaksud menyakitimu…”Jaejoong duduk di depan Boram dengan frustasi. Ini bukan pertama kali ia mengatakan ini pada perempuan itu. Sudah berpuluh-puluh kali dan ia benar-benar lelah! Lelah dengan jeritan histeris perempuan itu, dengan nada ketakutannya, terlebih pada tatapan kebenciannya.

“Dengar, aku mencintaimu… Sangat mencin…”

“DIAM!!!”Boram berteriak lagi. Ia menyelesaikan hitungan kelimanya untuk kesekian kali, kemudian membuka matanya. “Beraninya kau berkata seperti itu!! Memangnya berapa wanita yang kau sukai, hah?!”bentaknya. Nafasnya terengah-engah karena menahan amarah dan kebencian yang sangat besar.

“Kau, hanya kau… Aku dari dulu mencintaimu… Tidak bisakah kau melihat itu??”Jaejoong terisak, ia benar-benar putus asa.

“Dan mencintai Tiffany, Juyeon, Hwayoung, Taeyeon, Yuri, dan Hyorin-eonni?!”Boram tersenyum kecut. “Ah!! Aku lupa dengan Jesicca eonni dan gadis keturunan jepang yang bernama Yui itu!!”ia mengabsen hampir seluruh mantan-mantan Jaejoong.

Jaejoong menghela nafas. “Aku tau aku bad boy, tapi bukankah kau bilang tidak masalah dengan itu semua?? Kau bilang itu hanya masa lalu yang tak perlu dipikirkan?!”.

“Tapi…”

“Dengar, dulu aku menyukai mereka… Hanya sekedar suka… Kau tahu, SUKA… Tapi, aku mencintaimu… CINTA… Kau dengar?! CINTA…”

“Lalu apa bedanya?!”

“Dengar, kejadian itu hanya kecelakaan… Saat itu aku sedang mabuk dan…”

“Mabuk?!,”Boram terkekeh pelan, “MABUK??! Aku tau kau, Oppa!! Kau maniak minum, walau kau masih SMA!!! Dan itu belumlah kecelakaan, karena kita tidak melakukan apapun!!”. Ia perlahan berdiri sambil meringis menahan sakit di pergelangan kakinya akibat terjatuh tadi. “Kau bilang kecelakaan karena mabuk?! Sekarang aku tanya, berapa kali sudah kau mabuk, Oppa? BERAPA KALI?!! Jika setiap mabuk kau mengalami kecelakaan, apa kau bisa menjamin kau tidak mengalami kecelakaan dengan mantan-mantanmu dulu? Hah?! BISAKAH KAU MENJAMIN ITU?!”Boram membelalakan matanya. Ia tidak tau bagaimana ia bisa semarah itu, tapi kepala berdenyut-denyut kesakitan dan itu semakin membuatnya ingin berteriak-teriak.

Jaejoong terdiam. Pertanyaan terakhir Boram benar-benar menghantam jantungnya. Tidak, ia tidak bisa menjawabnya. Tidak, ia tidak bisa menjaminnya. Tapi yang dia lakukan dengan mantan-mantannya dulu itu bukan hanya keinginannya sebelah pihak, perempuan-perempuan itu dululah yang mengundangnya.

“Aku…”

“Kau tidak bisa menjaminnya bukan?! Kau melakukannya, bukan?! HAH!!”Boram mengambil satu langkah pergi dari tempat itu. Sakit, semua tubuhnya sakin karena saraf yang menegang atas kebenciannya pada laki-laki itu. “Lalu…,”ia menarik nafas dalam,”bagaimana kau bisa bilang kau mencintaiku setelah itu semua??”

“Tapi, aku benar-benar…”Jaejoong kehilangan kata-kata. Perempuan itu benar, ia bukanlah laki-laki yang pantas mencintai perempuan bersih seperti Boram. Tapi sungguh, ia mencintai perempuan itu. Cintanya sangatlah besar. Sangat besar.

“Pergilah kau! Aku benci! Sangat membencimu!!”