WHY NOT

Title        :        Why Not
Author    :        Yesunggyu – Amalia Laili
Length    :        One Shot
Genre      :        Romance, Comedy

Cast        :        Lee Sungjong, Yoon Bomi, Lee Sungyeol, Kim Myungsoo, Han Changmi

 

*Ini lanjutan Infinite Series, dari Lucifer. Meskipun belum ada yang request, tapi gak papa lah. Yang Lucifer agak aneh ya? Iya soalnya, ah sudahlah. FF ini agak polos dan sedikit kacau, tau Yoon Bomi? yup, member A Pink. Kenapa aku ambil dia? Karena dia imut dan cocok sama Sungjong menurutku, meskipun lebih tua sebulan pada dasarnya dan masih banyak yang lebih muda misalnya Na Eun, tapi aku lebih suka dia. Enjoy this…^^

 

…..

 

Sungjong POV

Senangnya melihat mereka berdua. Hahaha, padahal diantara mereka dulu ada jurang yang sangat dingin dan tinggi bagai es, tapi meleleh karena kehangatan cinta. Ah, kata-kataku berlebihan sekali. Membuatku jadi malu. Mukaku jadi memerah karena melihat mereka dari jauh. Mereka bergandengan tangan, meskipun tampak polos, tapi kelihatan mereka sangat bahagia. Lama-lama aku tidak dapat melihat mereka dengan jelas, dadaku menjadi sesak. Mataku memanas. Astaga, kenapa aku menangis? Ini salah. Apa yang terjadi padaku? Padahal, aku merasa baik-baik saja.

…..

Author POV

Sungjong membalikkan badannya, dan pergi pulang sambil menundukkan kepala. Dia tak bisa menahan perasaannya lagi. Padahal dia merasa baik-baik saja. Myungsoo adalah orang yang baik untuk Changmi, dan kenapa dia tidak menyukai Changmi bersama orang itu?

…..

“Sungjong-ah…” ujar seseorang melalui telepon.

“ne? ucapkan sesuatu sebelumnya… ini siapa?” jawab Sungjong dengan mengantuk, dia kesal dengan orang yang langsung ke bahasan tanpa menyapanya, dia melihat jamnya “jam 11 malam? Ada-ada aja orang ini?” katanya dalam hati.

“hihihi, yoboseyo, anyeong haseyo, Sungjong…

Changmi imnida…” ternyata Changmi yang menelponnya. Sungjong yang terkejut segera bangkit dari tempat tidur.

“ah… Changmi, weyo?” Tanya Sungjong.

“maaf menelponmu jam segini. Aku belum bisa tidur, jadi sebaiknya aku menelponmu saja. Gwencana?” Tanya Changmi.

“ne…?? ah menurutku sih… tidak masalah” Sungjong berkata sambil tersenyum meski dia tahu Changmi tidak melihatnya. Senang Changmi mau menelponnya saat dia belum bisa tidur.

“baiklah. Sungjong-ah.. aku sangat senang hari ini… tadi aku dan Myungsoo…” Changmi bercerita panjang lebar tentang kencannya dengan Myungsoo. Sungjong kembali tertunduk tapi dia tetap mendengar dengan seksama apa yang di katakan oleh Changmi. Sampai ibunya berteriak.

“Sungjongi… kesini dulu. Ada yang ingin ibu bicarakan”

“ne… chakaman,

Changmi-ah, disambung besok saja ya, ibuku memanggil. Mianhae..” ujar Sungjong meskipun agak sedih tapi dia senang juga setidaknya dia tidak mendengar cerita tentang Changmi dan Myungsoo yang membuat hatinya sakit.

“baiklah.. anyeong haseyo…”

“anyeong haseyo” Sungjong segera mematikan HP nya dan berlari keluar kamar.

BRUKKK…

“Huaaaaaaaaaaaaaa………….. Hyung…. Aish…” Sungjong berteriak sambil memegang kakinya, dia baru saja terjatuh karena telah dibuat jatuh oleh Hyungnya, Sungyeol.

“hahahaha… Sungjong, kenapa kau sangat ceroboh sekali?” Sungyeol tertawa dengan sepenuh tenaga (?).

“bukan, Hyung yang menaruh kaki disini, membuatku sampai jatuh” Sungjong membela diri.

“tidak kok, sudahlah. Ayo turun” Sungyeol tetap tak mengaku, dia segera pergi menuruni tangga, Sungjong berlari mengikutinya.

…..

Sungjong pergi menuju sekolah dengan kepala tertunduk. Changmi menghampirinya.

“Anyeong haseyo, Sungjongi. Kenapa mukamu murung?” Tanya Changmi.

“Ah. Aniya” jawab Sungjong “nanti saja aku cerita, dikelas”

“eh? Baiklah”

…..

“jadi sekarang kau akan pergi?” Tanya Changmi.

“ne.. aku akan pindah menuju Busan” jawab Sungjong.

“jaga dirimu baik-baik ya” ujar Myungsoo.

“hmm… kalian juga, aku akan sering-sering menghubungi kalian” ujar Sungjong “jaga Changmi, awas sampai dia mengadu padaku hal-hal yang tidak baik antara kalian” bisik Sungjong.

“hahaha… araso” Myungsoo tertawa mendengar kata-kata Sungjong.

“ada apa?” Tanya Changmi.

“aniya, hal-hal yang hanya boleh diketahui laki-laki” jawab Myungsoo, Sungjong mengangguk.

“ayo, cepat” teriak Sungyeol dalam mobil. Sungjong menyelesaikan perpisahannya dengan teman-temannya dan menuju mobil.

….

Didalam mobil.

“bukankah itu Changmi?” Tanya Sungyeol “orang yang kau sukai?”

“ne” jawab Sungjong datar.

“siapa orang yang disampingnya?”

“pacarnya”

“hah? Kok bisa?” Tanya Sungyeol kaget.

“memang tidak boleh?” jawab Sungjong acuh tak acuh.

“Sungjong, maksudku, kenapa bisa? Kau kok tidak cemburu? Tidak melakukan sesuatu?”

“untuk apa? Biarkan saja lah”

“Sungjong, kenapa dulu kau tidak mengikuti kata-kataku? Sekarang dia sudah diambil orang, mukamu jadi tambah jelek” ujar Sungyeol yang segera mendapat pukulan dari Sungjong.

“diam, aku mendengarkan lagu” Sungjong berbalik badan menatap jendela mobil.

…..

“rumah kita yang baru ini bagus ya…” Sungyeol tampak senang tanpa melihat wajah Sungjong. Sungyeol dan orang tuanya pergi masuk kerumah, sementara Sungjong pergi keluar.

TAKKKK…

Kepala Sungjong terkena batu kecil, meski kecil, tapi itu sakit juga. Dia mengusap kepalanya dan melihat kesekeliling. Dia menemukan seorang perempuan kecil yang melemparnya tadi, perempuan itu jadi salah tingkah, dan tersenyum pada Sungjong.

“apa yang sebenarnya kau lakukan? Kepalaku sakit” ujar Sungjong

“Mianhae, kau menganggu pemandanganku” ujar perempuan itu, mukanya menjadi pura-pura marah.

“eh? Orang ini…” Sungjong menghampiri perempuan itu dan bersiap-siap memukulnya dengan tangannya, dilihatnya perempuan itu menunduk melindungi diri. “sudah Sungjong, ini hanya menghabiskan tenagamu saja” ujarnya dalam hati sambil mengelus-elus dadanya, dia berbalik dan menuju rumahnya.

“eh, tunggu… Kau orang baru?” Tanya perempuan itu.

“ne.. kenapa? Kau mau melempar rumahku dengan batu tadi? Ah tidak, dengan batu karang?” Tanya Sungjong asal.

“hahaha… tidak lah, babo.” Perempuan itu tertawa, membuat Sungjong tambah menekukkan mukanya, dia kembali melanjutkan perjalanan.

“siapa namamu?” Tanya perempuan itu lagi.

“Sungjong, Lee Sungjong. Kenapa?” Tanya Sungjong.

“perkenalkan, namaku Bomi, Yoon Bomi“ ujarnya sambil mengulurkan tangan. Sungjong berjalan menuju perempuan itu dan menjabat tangannya. Perempuan itu tersenyum. Sungjong jadi bingung dibuatnya.

“semoga kita bisa berteman dengan baik” ujar Bomi.

“ya, semoga saja, aku akan ke rumahku dulu”ujar Sungjong.

“rumahku, disebelah sana! kau harus sering-sering kerumahku” ujar Bomi sambil menunjuk rumahnya yang hanya dilewati 2 rumah sebelah kanan dari rumah Sungjong,

“ehmm.. kalau aku ada waktu, akan ku usahakan” jawab Sungjong.

“baik, akan kutunggu. Anyeong, Sungjongi.”           Melambaikan tangannya dan berlari menuju rumahnya.

“orang aneh?” ujar Sungjong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

…..

“Anyeong hasimikka, Sungjong imnida” ujar Sungjong memperkenalkan dirinya di sekolah baru.

“ah…. Sungjongi… Anyeong haseyo, kau disini juga?”  Bomi berteriak sambil berdiri. Sungjong kaget setengah mati.

“kenapa dia ada disini? Apa salahku Tuhan?” Tanya Sungjong dalam hati.

“senangnya…. Kau duduk disampingku saja, ya” ujar         Bomi sambil memegang bangku kosong disamping kanannya.

“baiklah” ujar Sungjong, dia sudah malas melakukan hal yang tidak ada gunanya lagi.

Setelah memperkenalkan diri, dia duduk disamping Bomi.

“aku sangat senang bertemu lagi denganmu”ujar Bomi

“aku juga”jawab Sungjong, meskipun agak terpaksa.

“apa kau akan kerumahku hari ini?” Tanya Bomi.

“entahlah, kalau tidak sibuk, mungkin” jawab Sungjong.

“baiklah, akan kutunggu.”

…..

“kau mengenalnya?” Tanya Sungyeol saat Sungjong pulang kerumah dan menceritakan tentang Bomi pada Hyungnya.

“nde, jadi, apa aku harus kerumahnya atau tidak? Aku tidak mau sebenarnya. Tapi aku merasa tidak nyaman. Ya, Hyung!” Sungjong mulai marah saat hyungnya mulai menguap.

“pergi saja, dia akan marah nanti”

“begitu? Baiklah… aku pergi Hyung” ujar Sungjong segera meninggalkan kamar Sungyeol.

…..

“Annyeong haseyo, Bomi” ujar Sungjong.

“ah.. anyeong haseyo, Sungjongi… kau benar-benar datang? Aku senang sekali.” Bomi ternyata bermain di kebun depan rumahnya. Dia segera berdiri dan berlari menghampiri Sungjong, lalu menarik tangannya.

“ehhh…. Tunggu…” Sungjong berusaha melepas tangan Bomi.

“andwe… kau harus cepat mengikutiku..” Bomi tidak mau melepas tangan Sungjong, dia membawa Sungjong menuju kamarnya. Sampai dikamar Bomi.

“ini kamarku, kau menyukainya?” Tanya Bomi melepas tangan Sungjong dan berputar sekali seperti anak kecil.

“ya, kamar yang bagus” jawab Sungjong.

“ayo main denganku” ujar Bomi.

“hah? Bomi bukankah kita sudah SMA? Kau mau main apa?” Tanya Sungjong kaget.

“main apa saja, mau ya??” Bomi memelas.

“baiklah, terserah kau saja sih” jawab Sungjong.

…..

Jadi sejak saat itu hingga 2 minggu ini, Sungjong selalu pergi menuju rumah Bomi. Kadang mengajak Bomi bermain atau belajar. Bomi sangat senang. Saat disekolah.

“aku sangat senang bersama denganmu Sungjongi” ujar Bomi

“eh? Ya, aku juga. Memang kenapa?”  Tanya Sungjong.

“apanya?”

“kenapa kau senang bersamaku?”

“karena kau mau berteman denganku” jawab Bomi sambil tersenyum.

“memangnya tak ada yang mau berteman denganmu?” Tanya Sungjong heran

“tidak ada. Mereka tidak menyukaiku” jawab Bomi, dia menundukkan kepalanya.

“kenapa? Kau tidak aneh kok” ujar Sungjong, Bomi tersenyum lagi.

“kau belum tahu saja” jawabnya

“memang kau kenapa? Monster?” Tanya Sungjong.

“bukan, babo! Aku kan manusia” jawab Bomi.

“jadi?”

“tidak usah diberitahu, nanti kau menjauhiku lagi. Aku tidak mau” jawab Bomi.

Sungjong diam saja. Apa sebenarnya yang disembunyikan Bomi? Apa dia sejenis Vampir begitu? Atau apa? Pikir Sungjong. Dia pun tidak berani bertanya pada teman-teman yang lain. Tapi kenapa? Kenapa dia tidak mau? Padahal dia bisa saja bertanya. Apa dia takut? Entahlah.

…..

Hari ini badan Sungjong sangat panas, dia terkena demam, setelah berhujan-hujan-ria kemarin siang. Badannya menggigil.

“Hyung, katakan pada Bomi aku tidak kerumahnya hari ini” teriak Sungjong pada hyungnya yang baru saja keluar kamar, menuju ke sekolah.

“hah? Kok begitu? Sampai perlu ada laporan segala? Kau sudah melupakan Changmi?” Tanya Hyungnya menggoda.

“ah, tidak Hyung, tolong sampaikan saja, hyung tidak usah banyak Tanya. Cepat pergi, semakin melihat Hyung aku jadi, uhuk uhuk…” Sungjong terbatuk-batuk dan tidak melanjutkan kata-kata selanjutnya.

“hehhmmm…terserahlah…. Omma…….aaaaaaaaaaa aku pergi, jaga Sungjong, jangan sampai dia mati mendahuluikuuuuuuuuuuuu…” teriak Sungyeol sambil segera berlari dari luar rumah. Ibunya hanya menggelengkan kepala pelan sedangkan Sungjong hampir saja mengejar Sungyeol kalau dia tidak ingat kesehatannya yang menurun.

“huh…. Babo…” ujar Sungjong dari ruang tamu ia menaiki tangga menuju kamarnya.

…..

SUNGJONG POV

Apa yang akan dilakukan Bomi saat ini? Apa dia baik-baik saja? Dia tidak marah saat aku tidak kerumahnya? Ah… kenapa aku memikirkan itu? Dia pasti baik-baik saja. Dia kan tahu kalau aku sedang sakit (setelah diberitahukan oleh Sungyeol Hyung tentu saja), pasti dia tidak marah. Dia bersama siapa sekarang? Sudahlah. Apa yang sebaiknya kulakukan sekarang ya?

Aku segera mengambil ponselku. Mencari nama Changmi di kontaknya. Ah, ini dia. Tapi tunggu dulu. Dia kan sedang sekolah. Ah, babo! Aku menepuk kepalaku sendiri. Aku kembali berbaring. Akhir-akhir ini, kenapa aku tidak terlalu merindukan Changmi, ya? Mungkin aku sudah melupakan perasaanku padanya. Yah, dia pasti baik-baik saja dengan Myungsoo.

…..

AUTHOR POV

“Hari ini Sungjong sakit” ujar Bomi sendiri, dia baru saja diberitahu oleh Sungyeol. Wajahnya kembali sedih “ah, kasihan sekali dia. Nanti siang aku akan menjenguknya” Bomi segera berlari menuju kelasnya.

Hari ini, bagaikan hari yang sangat tidak menyenangkan bagi Bomi, dia melakukan sesuatu seperti tidak ada ekspresi. Hanya diam saja. Sungjong adalah orang yang baik. Dia senang kalau ada Sungjong. Sungjong sudah tampak seperti oksigen baginya. Bersama Sungjong, penyakitnya tidak kambuh lagi. Dia sangat menyukai Sungjong. Sangat merindukan Sungjong sekarang.

“aku tidak sabar menuju rumah” ujar Bomi sambil melihat keluar. Belajar pun tidak berasa baginya. Selama ini juga dia tidak semangat, apalagi kalau tidak ada Sungjong. Baginya pulang kerumah lebih baik.

….

Saat menuju rumah Bomi, Bomi berjalan pelan sambil menendang batu kecil didepannya.

TAKKKK….

“Ahhh.. kakiku…” teriak seorang perempuan sambil memegang kakinya yang terkena batu yang ditendang Bomi.

“maaf, aku tidak sengaja” ujar Bomi sambil menundukkan kepala, lalu segera pergi meninggalkan perempuan itu. Perempuan itu merasa sedikit kesal dengan sikap Bomi.

“ya, Bomi. Yoon Bomi, bukankah selama ini kau bersama Sungjong?”

“ne. hari ini dia sakit jadi tidak bersamaku” jawab Bomi

“oh… tapi tadi aku melihatnya. Apa mungkin dia berbohong padamu?”

“tidak kok. dia tidak kesekolah hari ini, dia kan sekelas denganku” jawab Bomi santai, perempuan itu kelabakan “kalau begitu aku pergi ya. Anyeong” Bomi kembali melanjutkan perjalannya.

“kenapa Sungjong bisa tahan denganmu? Ah, aku tau kenapa dia sakit?”

“kenapa dia?”

“mungkin dia sudah kecapekan bersamamu, dia kan mudah capek. Kudengar dia sudah tidak mau berteman denganmu, itu makanya Hyungnya mengatakan hal, apa tadi yang dikatakan hyungnya?”

“Sungjong tidak mau bersamaku hari ini” ujar Bomi sambil termenung.

“nah… apa itu? Mungkin saja maksudnya untuk selamanya. Sungjong itu orangnya baik, makanya dia berbicara dengan halus, sudahlah. Aku pergi Bomi” perempuan itu tersenyum dan meninggalkan Bomi yang terdiam.

“aniya, Sungjong tidak mungkin begitu padaku. Dia hanya sakit saja” Bomi mencoba menghibur diri dan berjalan pelan menuju rumahnya.

…..

TOK TOK TOK

“Sungjong hyung… keluarlah… hyung…. Ppali ya…..” teriak seorang anak kecil laki-laki kepada Sungjong sambil menggedor-gedor pintu rumah Sungjong dengan panik. Sungjong memaksakan dirinya bangun, membuka pintu dan melihat anak kecil itu.

“weyo? Aku sedang sakit sekarang, katakan pada Bomi, aku….”

“Bomi mengamuk, dia mencari Hyung, pokoknya hyung harus segera pergi…” anak itu tak perduli dengan alasan Sungjong.

“hah? Mengamuk bagaimana? Baiklah, tunggu sebentar, aku ganti baju dulu” ujar Sungjong, melihat dia masih menggunakan piyamanya. Dia segera masuk rumah kembali.

“aniya Hyung, ayo cepat. Kasihan Noona…” adik laki-laki Bomi itu berteriak sambil menarik tangan Sungjong.

“eh? Baiklah… omma aku pergi dulu” Sungjong segera lari dari rumah

“Sungjong, kau kan masih sakit!” teriak ibunya

“ada yang lebih sakit, omma!!!” Sungjong berteriak sambil berlari menuju rumah Bomi.

Saat berlari dia terus memikirkan apa yang terjadi pada Bomi? Apa dia baik-baik saja? Mengamuk bagaimana? Mengamuk kenapa? Kenapa dia dipanggil? Apa ini yang dimaksud Bomi? Apa saja yang dilakukan Bomi? Setibanya di rumah Bomi, adik laki-laki Bomi segera membawa Sungjong menuju kamar Bomi.

PRANNNGGG….

“Andwe.. ahhhhh… aku tidak menyukai ini, omma. Sungjong sangat jahat padaku…”

“sayang, kendalikan dirimu..” terdengar suara teriakan antara ibu Bomi dan Bomi, serta suara pecahan barang. Ibu Bomi baru saja menjadi korban dari benda-benda tersebut. Sungjong segera memasuki kamar Bomi, dan melihat kamar Bomi yang dulunya rapi menjadi berantakan. Dia sangat kaget melihat Bomi yang dengan keadaan hancur. Bomi lalu melihat Sungjong, Sungjong menjadi gugup. Bomi menghampiri dirinya, dan tersenyum manis.

“Sungjong senang sekali kau ada disini… kenapa lama sekali…” Bomi tiba-tiba loncat-loncat kegirangan, dia sangat senang dan berteriak. Memegang kedua tangan Sungjong dan mengayunkannya, lalu memeluk Sungjong, Sungjong benar-benar kaget.

“aku sangaaaaaaaaaaaaaattttt merindukanmu, Sungjongi…kau tahu kan, cuman kau satu-satunya temanku. Kenapa kau tidak mau bersamaku hari ini?” Tanya Bomi, tanpa melepas Sungjong.

“a a aku.. sakit Bomi, badanku panas… aku demam” jawab Sungjong gugup. Bomi mendekatkan pipinya pada Sungjong.

“ya, sedikit. Tapi temanku mengatakan kalau…..ahhhhhhhhhhhhhhhhh” muka Bomi segera berubah menjadi marah, dia mendorong badan Sungjong dengan keras sampai terduduk. Bomi berteriak keras-keras.

“kau sangat membenciku sekarang kan? Aku juga membencimu!”

“apa maksudmu Bomi?” Sungjong kebingungan.

“kau membenciku karena aku selalu memintamu bersamaku…”

“tidak Bomi, aku senang bersamamu” jawab Sungjong.

“bohong, mukamu takut padaku” Bomi berteriak sambil melempar kotak pensil yang ada dimejanya, Sungjong segera menghindar “kau bahkan tidak berani menyentuhku”

“Bomi, kau harus mengendalikan dirimu. Aku jadi bingung kalau kau seperti ini” ujar Sungjong, dia segera berdiri mendekati Bomi.

“kau menjadi tajut padaku? Besok kau akan membenciku? Tidak, hari ini. Tidak, sudah lama kau membenciku” ujar Bomi, dia seperti orang yang benar-benar kehilangan akal. Dia terus berjalan mundur pelan-pelan, sampai dia terduduk di ranjangnya “kenapa, Sungjong?” sekarang Bomi menangis. Sungjong mendekatinya, dan berusaha menyentuh Bomi.

“ahhhhh…… kepalaku sakit” Bomi berteriak, Sungjong segera memeluk Bomi. Sampai Bomi berhenti menangis dan tenang.

…..

“apa yang terjadi padanya, bibi?” Tanya Sungjong pada ibu Bomi, setelah Bomi tenang dan tertidur sekarang.

“dia sakit” jawab ibunya sambil merapikan kamar Bomi.

“sakit apa?”

“kau tahu Bipolar Disorder?” Tanya ibunya.

“penyakit tentang emosi? Membuat orang mudah merasa sangat bahagia, lalu berubah menjadi sangat marah? Yang tidak dapat mengendalikan perasaan?” Tanya Sungjong.

“ya, Bomi mengalami Bipolar Disorder. Sudah 3 tahun semenjak ayahnya meninggal, dia sangat menyayangi ayahnya. Aku kasihan sekali padanya, kami sudah ke rumah sakit berkali-kali. Tapi hasilnya sangat minim” jawab ibunya sambil tersenyum, dia segera duduk bersama di samping Sungjong yang berada di samping Bomi, di tepi ranjang. “bibi sangat berterimakasih, kau mau berteman dengan Bomi, selama ini dia tidak punya teman. Mungkin itu juga yang membuat penyakitnya kambuh, kasihan sekali kan?”

“ne…” jawab Sungjong, dia mulai mengerti mengapa Bomi tidak mau mengatakan padanya waktu itu, penyakit itu lumayan parah juga.

“selama bersamamu, dia bisa sedikit mengendalikan perasaanya, meski kadang ada saja saat malam. Tapi dia baik-baik saja, lebih baik” ujar ibu Bomi, Sungjong tersenyum.

“aku tidak menyangka, kupikir dia suka mengangguku. Ternyata dia memang seperti itu”

“apa kau akan meninggalkan Bomi setelah ini?” Tanya Ibu Bomi.

“tentu saja…” jawab Sungjong membuat Ibu Bomi kaget.

“aku kan harus pulang, aku belum ganti baju. Hahaha” Sungjong tertawa kecil dan membuat Ibu Bomi juga tersenyum “tenang saja, bi. Aku akan berteman dengan Bomi, dengan sangat baikkk… aku akan membantu Bomi, sampai sembuh”

“terimakasih. Eh, sebelum pergi, kau minum dulu ya. Tunggu sebentar” ibu Bomi segera pergi meninggalkan Sungjong.

“ah, bibi tidak usah… hmmm sudahlah” Sungjong tidak dapat menghentikan Ibu Bomi. Dia menatap wajah Bomi yang sedang tidur kelelahan. “Bomi, kau tenang saja, ya. Aku akan menjadi temanmu yang paling baik” ujar Sungjong sambil tersenyum.

…..

Besoknya, disekolah.

“anyeong haseyo…”

Bomi menoleh, dia langsung tersenyum.

“anyeong haseyo, Sungjong!”

“baik-baik saja?” Tanya Sungjong padanya.

“ne, gomawo” ujar Bomi.

“eh, bagaimana nanti sore kita pergi kerumah sakit. Berusaha mencari pengobatan untukmu?”

“ne, kau mau? Terimakasih” jawab Bomi senang. Tiba-tiba dia merengut “berarti kau mau menghilangkan penyakitku? Berarti kau tidak menyukaiku?” Tanya Bomi dan bersiap-siap mengamuk.

“ah, aniya. Bukan begitu Bomi, aku…” Sungjong kelabakan melihat yeoja chingu sepihaknya.

“ahhh…” Bomi berteriak dan mulai menangis

“ya ya ya… Bomi… tidak enak kalau dilihat, kita berdua bisa…” Sungjong melihat kesekelilingnya.

“ahhhh… sampai kau pun malu kalau bersamaku…” Bomi menghentak-hentakkan kakinya

“bukan begitu, aishhh… sini” Sungjong segera merangkul Bomi dan membawanya menuju sekolah “kau salah paham” ujarnya sambil menghapus air mata Bomi, Bomi kembali terdiam.

“maksudku, supaya kau bisa mengendalikan perasaanmu. Jadi, saat kita bersama, kita tidak terganggu pada…”

“kau terganggu karena aku?” Tanya Bomi menatap wajah Sungjong, Sungjong kaget.

“ah, bukan… aigoo, Bomi! Kenapa aku bisa menyukai orang yang bab…”

“kau menyukaiku?” belum selesai Sungjong berbicara, Bomi memotongnya dan tersenyum senang.

“eh itu..” Sungjong melihat wajah Bomi yang penuh harap “yah…. Terserah kau mau menganggapnya seperti itu sih..” jawab Sungjong menyerah.

“benarkah? Huaaaaaaaaaaaaaa” Bomi berteriak kesenangan, dia berloncatan, berputar.

“Sungjong menyukaiku. Aku sangat sangat senang” teriak Bomi pada seluruh siswa di sekolahnya.

“ya, Bomi. Bisa diam sedikit? Bomi…” Sungjong menjadi bingung melihat Bomi. Dia lalu tersenyum. Yah, mungkin dia sudah melupakan perasaannya pada Changmi. Dia segera mengejar Bomi. Setelah mendapatkan Bomi, dia segera memegang tangan Bomi.

“sudah, Bomi. Jangan kemana-mana lagi” wajah Sunjong tampak memerintah.

“baik..” Bomi segera menggenggam erat tangan Sungjong dan mengayunkannya membuat Sungjong tersenyum geli. Dia yakin, hari-harinya bersama Bomi akan menyenangkan.

…..

 

Bagus tidak? tolong komentarnya. ah… aku sendiri tidak menyangka akan begini akhirannya, aku kaget sendiri *babo*. Aku akan melanjutkan ceritanya Sungyeol yah, jadi mohon dinantikan… ^^  cari ide yang bagus.

Sudah ada di “Justsharestory.wordpress.com”, blog saya.

 

–  THE END –