Title : Necklace
Author : Angelinblack
Length : oneshoot
Genre : Romance
Cast : Elison Kim Ukiss, Goo Aeru (Readers)
NB for readers : FF ini d publish juga d blog pribadi author angelinblack.wordpress.com … Silahkan datang berkunjung… Dan juga pernah di publish di ffindo.wordpress.com .. Happy reading…

Lagi. Aku melihat laki-laki itu merangkak-rangkak di atas rerumputan hijau bersih, mencari sesuatu. “Aaarrgghhh!!”teriak laki-laki itu frustasi. Aku hanya menatapnya jauh dari jalan setapak. Laki-laki itu menghentak-hentakkan kakinya kesal, kemudian mengacak-ngacak rambutnya dan membanting dirinya, berbaring di atas rerumputan.

Aku menghela nafas berat. Sudah 2 tahun lembah ini menjadi tempat rahasiaku. Ya, tempat yang dimana hanya ada ketenangan dan diriku seorang disana. Tapi, 1 bulan yang lalu laki-laki ini muncul dan mengambil tempatku dan memaksaku untuk menikmati bukit ini dari jauh. Bahkan, aku tidak bisa lagi merendam kedua kakiku ke dalam danau kecil di tengah lembah itu. Menyebalkan!

“Ah… Dasar bodoh!!”umpatku pelan. Aku duduk di balik pohon besar tak jauh di belakang laki-laki itu dan membuka tasku. Ku keluarkan biola kecil kesayanganku dari dalamnya. Sudah lama aku tidak memainkannya. Ya, biasanya aku selalu memainkannya disini sepulang sekolah. Tapi, lagi-lagi, karena kehadiran laki-laki itu, aku tidak bisa memainkannya. Ia benar-benar sangat mengganggu. Apapun yang dilakukannya selalu tertangkap olehku, membuatku tidak bisa konsentrasi.

“Ahhh!! Dimana kalung itu?!”terdengar suara laki-laki itu berteriak lagi. Aku menghela nafas dan bersandar pada batang pohon yang besar. Kukeluarkan mp3 playerku dari tas dan kupasang headphoneku menutupi telinga. Ku setel volumenya ke maksimal dan memejamkan mataku perlahann. Setidaknya, aku ingin menikmati suasana disini tanpa terganggu teriakan-teriakan laki-laki itu. Seharusnya, lembah ini milikku!

Angin berhembus pelan, daun-daun kecil berguguran menimpaku. Tidak sakit, aku malah menyukainya. Mereka, seperti 2 buah tangan yang membelaiku pelan. Benar-benar menenangkan dan mendamaikan hatiku. Kubuka kembali mataku, langit sudah berubah warna menjadi jingga. Secepat itukah waktu berlalu? Kulepas headphoneku dan kumasukan kembali ke dalam tas bersama biola kecilku. Aku mengintip ke sisi lain pohon, jauh ke bawah lembah. Kosong, laki-laki itu sudah pergi. Kulirik danau di tengah lembah yang sudah lama kurindu. Permukaannya memantulkan warna jingga langit dan membuatnya berkilauan indah seperti emas.

Aku beranjak berdiri dan berjalan menuju danau kecil itu. Rasanya, ingin sekali merendam kakiku disana sebelum pulang. Merasakan airnya yang segar melewati sela-sela jemari kakiku, sensasinya jauh lebih menenangkan dari yoga class yang kuikuti tiap malam. Inilah obat pelepas lelah favoritku, tidak akan kutemukan di tempat lain. Hanya di lembah ini.

“Kau suka datang kemari??”terdengar suara seserorang. Aku menoleh, laki-laki itu… Ia berdiri menatapku sambil membawa tas gitar besar dan… Tersenyum…

“Eumm..”aku mengangguk pelan dan kembali menatap kedua kakiku yang sudah menembus permukaan danau. Kenapa airnya terasa lebih dingin dari biasanya?

“Sebenarnya, aku sudah setiap hari melihatmu disini…”laki-laki itu menggeletakkan tas gitarnya dan duduk di sebelahku. Ia membuka kedua sepatunya, melipat sedikit ujung celana skinny-nya dan merendam kakinya seperti yang kulakukan.

Sekali lagi, kurasakan air danau itu berubah lebih dingin. Sedikit bergidik, aku menoleh menatap laki-laki itu. Ia memain-mainkan air dengan kakinya, sekilas ia terlihat seperti orang yang sangat bahagia, tapi sorot mata terlalu dingin dan kaku. Aku yakin, laki-laki itu sama sekali tidak sebahagia yang terlihat. Wajah seperti itu, sering sekali kulihat. Ya, tiap kali aku berkaca aku selalu melihat wajah seperti itu. Laki-laki itu, sedikit-banyak, terlihat sepertiku.

“Kenapa kau tidak menyapaku?”tanyanya padaku.

“Itu…”

“Tadinya kukira kau tidak melihatku…”ia tersenyum lagi padaku. Heeh!, what a fake smile!

“Bagaimana aku tidak bisa melihatmu? Kau sebesar ini!”, balasku, “Di lembah sebesar ini hanya mondar-mandir mencari sesuatu… Memangnya apa yang kau cari sampai tidak pernah kau temukan sampai sekarang??”. Sebenarnya, aku bukanlah tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain,tapi kali ini aku benar-benar penasaran. Barang apa yang dicari laki-laki ini, sampai-sampai ia tidak menemukannya selama 1 bulan?

“Kau melihatnya??”, ia menatapku kaget. “Ah.. Itu hanya sebuah kalung… Aku tidak sengaja menghilangkannya disini…”ia tersenyum, tapi bagiku wajahnya seperti orang yang sedang menangis. Sekali lagi, that’s just a fake smile.

“Mungkin saja petugas kebersihan sudah menemukannya dan membuangnya… Sudahlah, lembah ini terlalu besar dan luas…”

“Begitu??”laki-laki itu menunduk. Sedih.

“Tapi… Memang tidak ada salahnya mencoba…”tambahku. “Memangnya itu sangat berharga? Kau, kan, bisa membeli yang baru…”

“Andwae (tidak)!! Itu sangat berharga!! Aku harus menemukannya… Itu milik orang yang sangat kucintai!!”

“Ya… Baiklah, lakukan saja yang kau suka…”aku melirik jam tanganku. Jam 6, sebaiknya aku pulang. Kukeluarkan kakiku dari danau dan ku keringkan dengan tissue di dalam tasku. Ku pakai kembali sepatu dengan asal dan beranjak berdiri.

“Kau akan kesini lagi besok?”tanya laki-laki itu lagi.

“Entahlah…”aku mengangkat kedua bahuku. Tentu saja aku akan datang lagi besok, ini, kan, tempatku!!

“Oo…”laki-laki itu mengeluarkan kakinya dari danau dan berdiri menghadapku. “Namaku Ellison, Eli…”ia menyodorkan tangannya.

Aku mengerutkan alisku, “Kau bukan orang korea??”.

“China-Korea-Amerika… Nama Koreaku Kim Kyoungjae…”ia tersenyum.

“Aeru…”aku menjabat tangannya. Angin berhembus kencang dan membuat rambutku berantahkan, sepertinya akan turun hujan, aku harus cepat-cepat pulang. Ku balikkan badanku dan berjalan menjauh. “Ah!!”, aku kembali berbalik menatap laki-laki itu, “Bisakah kau tidak usah memaksakan tersenyum di depanku? Itu akan lebih menampakkan kesedihanmu di depanku, aku tidak suka!!”ujarku sebelum kembali berjalan pulang. Entah apa reaksi laki-laki itu, tapi aku tidak peduli. Aku memang tidak suka fake smilenya itu!

***

            Aku berlari menuju lembah di belakang sekolah. Hari ini sekolah selesai lebih cepat, aku ingin segera kesana dan memainkan biolaku. Semoga saja laki-laki bernama Eli itu tidak berada disana sekarang. Aku ingin, sebentar saja, kembali menikmati lembahku itu seperti dulu.

Hanya butuh berlari selama 10 menit, aku sudah sampai disana. Benar saja, lembahnya kosong sama sekali! Kulepas sepatuku dan kutenteng sambil berlari ke tepi danau. Uwaaa!! Indahnya!!

“Akhirnya…”kulepas tas ranselku dan kukeluarkan biola kecilku. Tunggu dulu, lagu apa yang harus kumainkan?? Ah, lagu fly to the sky, collect my tears, rasanya cocok. Baiklah, aku akan memainkan lagu itu saja.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Sedikit gugup, kuambil nada sedikit lebih rendah pada bagian awal. Aku menikmatinya, menikmati permainanku sendiri, dan juga tempat ini.

“Geudaeyo nan gidaril goeyo..nae nunmului pyeonji haneulae daheumyeon…”seseorang bernyanyi mengikuti alunan musik yang kunyanyikan, terdengar juga suara petikan gitar mengiringi dan berhamonisasi lembut dengan permainan biolaku. Permainan gitarnya halus sekali, bahkan tidak ada sedikitpun nada yang bertabrakan saat ia memasukan nada pertama dalam alunan biola yang kumainkan. Kolaborasi yang bagus, ia bisa mengimbangiku dengan sangat baik… Tapi, siapa yang memainkannya?

Aku berhenti memainkan biolaku dan menoleh pelan. Laki-laki itu, Eli, duduk dibelakangku dan menatapku bingung. “Kenapa berhenti?”, tanyanya, “Permainanku jelek?”

“Tidak…”aku menggeleng. Permainannya benar-benar bagus.

“Suaraku jelek?”tanyanya lagi.

“Eheummm..”aku menggeleng. Suaranya bagus, sangat merdu… Bahkan, mungkin, itu adalah suara paling indah yang pernah kudengar.

“Aku mengganggumu??”ia berjalan ke sebelahku dan tersenyum. Yah, fake smilenya lagi. Bukankah sudah kukatakan padanya untuk tidak tersenyum seperti itu padaku?! Menyebalkan!

“Tidak…”aku menggelengkan kepalaku lagi. Walaupun sempat kaget, aku sama sekali tidak merasa terganggu dengan permainannya. Hanya saja, aku tidak suka bermain di depan orang lain.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita selesaikan lagunya sampai akhir?”ia tersenyum lagi.

“Tidak mau…”, aku menggeleng cepat, “Dan juga, sudah kukatakan bukan… Jangan tersenyum seperti itu dihadapanku!! Wajahmu terlihat menggenaskan!”.

“Baiklah… Aku tidak akan tersenyum…”ia mengangguk-nganggukan kepalanya mengalah. “Tapi, kenapa kau tidak mau memainkan biolamu? Kau suaraku tidak jelek, permainanku bagus, dan aku tidak menganggumu, kenapa kau tidak mau memainkannya lagi denganku?”tanyanya.

Aku menghela nafas berat. “Aku hanya bermain untuk diriku sendiri… Aku tidak suka memainkannya untuk orang lain..”

“Kenapa? Bukankah menyenangkan bisa memainkan sesuatu yang indah untuk orang lain? Permainanmu sangat bagus…”ia tersenyum lagi. Kali ini bukan fake smile… Senyumnya benar-benar tulus, tulus bahagia dan senang. Bagaimana ini? Ia terlihat bersinar….

“Kau menyukai permainanku?”kupalingkan sedikit wajahku, mencoba mengatur nafasku yang mulai memburu.

“Ya… Mainkan lagi untukku…”ia mengangguk dan kembali tersenyum. Sekali lagi, ia tampak bersinar.

Aku meliriknya sedikit. Sedikit menimbang-nimbang, sebenarnya aku juga ingin memainkannya sekali lagi untuknya. Tidak! Bukan untuknya! Tapi, bersamanya…

“Bagaimana??”tanyanya lagi.

“Baiklah…”aku mengangguk pelan.

“Ayo…”ia duduk disebelahku dan memposisikan gitarnya. Mengetuk gitarnya 3 kali, memberikan aba-aba dan mulai memainkannya. Aku, tidak bisa memalingkan mataku darinya. Laki-laki itu menikmati permainan kami. Ia bernyanyi bergitu merdu. Terkadang suaranya sedikit bergetar, mungkin ia begitu menghayati lagunya. Ekspresi wajahnya, terlihat sangat sendu. Aku merasa sedikit melihat gambaran hatinya yang sebenarnya. Laki-laki itu begitu sedih, begitu merana, begitu tersiksa. Itu gambaran yang kulihat darinya saat memainkan gitarnya. Jadi, begitukah keadaannya yang sebenarnya?

***

            Aku berlari dengan cepat menuju lembah, masih menggunakan seragam olahragaku. Melewatkan jam makan siangku, aku sengaja pulang lebih cepat untuk datang kesini. Laki-laki itu, Eli, menungguku untuk mengajari bermain gitar. Sudah 1 minggu aku belajar padanya, tapi rasanya aku tidak mahir-mahir memainkannya. Sebenarnya, bukan itu masalahnya. Aku lebih ingin bertemu dengan laki-laki itu sekarang ini. Mungkin aku, mulai menyukainya… Dia pun sudah tidak pernah menunjukan fake smile-nya lagi padaku, itulah bagian terbaik yang membuatku sangat senang.

“You’re there??”aku melambaikan sebelah tanganku padaku pada laki-laki itu. Lagi-lagi, ia sedang membungkuk di atas rerumputan, mencari kalung itu lagi.

“Oh, Hi…”ia menoleh padaku dan balas melambaikan tangannya padaku.

Seperti biasanya, kulepas sepatuku dan berlari menghampirinya dengan bertelanjang kaki. Entah mengapa, aku suka sekali merasakan rerumputan kecil lembah ini menggelitik kakiku pelan. Rasanya, menyenangkan.

“Kau sedang mencari kalung itu lagi??”tanyaku. Aku tidak memanggilnya oppa, karena dia tidak menginginkan itu. Yah, dia kan orang Korea-Amerika… Menurutnya, panggilan oppa sangatlah menggelikan.

“Ya…”, ia menghela nafas panjang, “Aku harus menemukannya…”ia duduk di tepi danau dan membenamkan kakinya. Aku mengikutinya, lagi-lagi air danau ini terasa sangat dingin.

“Ya… Ya… Aku tau itu… Lebih baik kau datangi saja pacarmu itu dan katakan kau menghilangkannya…”tanggapku kesal. Ya, aku kesal sekali setiap ia mengungkit-ngungkit masalah kalung itu.

“Aku tidak bisa…”ia menggeleng pelan, suaranya melemah. “Seandainya saja aku bisa… Lagipula, dia bukan lagi kekasihku…”

Aku menoleh, wajahnya terlihat sangat sedih. Dia, seperti hampir menangis. Sebesar itukah ia mencintai perempuan itu.

“Tapi, kau tau??”ia menoleh menatapku dan tersenyum. “Saat bersamamu, aku bahkan melupakan tentang kalung itu sama sekali… Terimakasih…”

“Boleh aku tanya? Apa yang terjadi padamu dan pacarmu itu??”tanyaku ragu-ragu.

“Dia…”, Eli menarik nafas panjang, “akan menjadi pengantin pria lain…”. Sedih, wajahnya benar-benar sedih. Sakit, aku sendiri ikut sakit mendengarnya.

“Begitu sakitkah??”kusentuh pipinya lembut. Bisakah aku mengobatinya?

“Ehheuumm…”, ia menggeleng, “Tidak sesakit dulu… Terimakasih untukmu…”

“Untukku?”aku menatapnya bingung. “Tapi, masih sakit, kan??”

“Akan hilang dengan sendirinya…”ia beranjak dari tepi danau dan mengambil gitarnya.

“Kalau begitu, jangan dicari…”bisikku pelan.

“Eung??”ia menatapku bingung. Aku menggeleng pelan dan mengambil gitarnya, memposisikannya dengan benar di atas pangkuanku.

“Baiklah, mainkan lagu 3 beruang dengan ini!!”titahnya.

Aku menatap gitar itu kosong. 3 beruang?? Kekanakan sekali!! Tapi… “Maafkan aku… Aku lupa kuncinya lagi…”ujarku polos. Ya, aku selalu lupa, karena aku tidak pernah mempraktekannya dirumah. Lagipula aku tertarik pada orang ini, bukan permainan gitarnya.

“Aaiisshh!! Kau ini!!”ia berjalan kebelakangku dan melingkarkan tangannya melewati punggung. Tangan kanannya memegang tangan kananku dan tangan kirinya memegang tangan kirku. Ya Tuhan, aku selalu tidak bisa konsentrasi seperti ini!! Atau, aku memang sengaja tidak konsentrasi agar terus seperti ini??

“Kau melihat kemana??”ia memukul kepalaku pelan.

“Ah??”aku mendongak ke atas. Begitu melihat wajahnya, kepalaku tiba-tiba saja terasa berat. Aku menggelengkan kepalaku pelan. Mataku mulai kehilangan fokus… Laki-laki itu jadi terlihat tembus pandang.. Kepalaku benar-benar sakit…

“Aeru-ah?? Aeru… Hidungmu berdarah!!”samar-samar, kulihat Eli menatapku panik. Ia merogoh kantong celananya, mengambil sapu tangannya, dan menekan hidungku pelan. Disingkirkannya gitarnya dariku dan dibaringkannya punggung ke pelukannya.

“Eli… Kau.. Tembus pandang…”aku terkekeh pelan. Benar saja, sangking hilangnya fokusku, ia benar-benar terlihat tembus pandang.

“Apa-apaan kau ini!! Sempat-sempatnya bilang seperti itu dalam keadaan begini!!”bentaknya. Aku senang sekali ia sangat menkhawatirkanku. Tapi, aku tiba-tiba saja merasa begitu mengantuk. Sangat mengangtuk. Kelopak mataku mulai terasa begitu berat, keduanya mulai tertutup perlahan. Dan semuanya mulai menjadi gelap… Gelap…

***

            Kubuka mataku perlahan. Yang pertama kali ku lihat adalah langit gelap dengan banyak bintang. Sudah malam? Ada apa denganku? Kepalaku terasa berat, rasanya seperti habis mabuk saja. Aku menoleh ke kanan dan mendapati Eli tertidur disebelahku. Sedikit tersenyum, aku mencoba menahan sakit di kepalaku dan duduk dengan perlahan.

“Lihatlah… Kau seperti anak anjing kalau sedang tertidur…”aku terkekeh sendiri. Kulirik jam tanganku. Ya ampun!! Sudah jam 8!! Aku harus cepat pulang!! Ku raih ranselku dan cepat-cepat ku pakai sepatuku. Kulirik laki-laki itu sekilas, ia tertidur pulas, rasanya tak tega membangunkannya.

“Fuuhh..”aku menghela nafas. Kudekatkan wajahku padanya. Tampan sekali, laki-laki sungguh tampan. Bahkan, sangat malam hari pun wajahnya terlihat bersinar. Sayang sekali, sudah ada orang yang dicintainya… Tapi itu bukan masalah, aku akan membuatnya mencintaiku…

“Dasar bodoh…”, aku tersenyum pelan. Walaupun ia sedang tidur, rasa gugup tetap menjalariku saat berbicara dengannya. “Aku menyukaimu, jadi cepatlah lupakan perempuan itu…”ku daratkan 1 kecupan manis di bibirnya dan beranjak pergi.

“Aku mencintaimu, Eli-ah…”ucapku sekali lagi sebelum benar-benar pergi.

***

            Aku kembali lagi ke lembah. Hari ini aku membawa 2 kotak makan yang kusiapkan sendiri. Aku ingin Eli menyicipi masakanku, karena teman-temanku selalu memujiku saat kelas memasak. Mungkin saja, ia akan menyukaiku setelah mencicipi masakanku. Ibuku pernah bilang, kelemahan pria ada di perut, kalau kau sering membuatkan makanan untuknya, ia pasti akan menyukaimu.

“Eli!!!”aku melepas sepatuku dan menghampiri laki-laki yang sedang duduk di tepi danau. Rasa tumben sekali, biasanya saat aku datang ia masih sibuk mencari kalung mantan pacarnya itu.

“Kau sudah datang?? Hmmm…. Wangi lezat apa ini??”ia tersenyum menyambutku.

“Aku bawa sandwich daging… Ini…”aku menyodorkan kantong kertas yang ku bawa padanya.

“Wah… Kau pandai memasak ya??”ia masih tersenyum, wajahnya terlihat bersinar.

“Ya…”aku mengangguk cepat. “Eli, kau tau… Aku mulai menyukai senyummu… Senyummu sudah tidak seperti dulu…”jujurku.

“Aku sudah bahagia…”ia menyentil hidungku pelan dan mengedipkan sebelah matanya.

“Benarkah?? Apa kau sudah menemukan kalung itu??”tanyaku enggan.

“Belum..”, ia menggeleng pelan, “Aku tidak akan mencari lagi… Kau benar, aku bodoh mencari kalung itu setiap hari…”

“Benarkah?”. Aku senang mendengarnya. Apa itu berarti ia sudah melupakan mantan pacarnya itu?

“Ada seorang perempuan yang kusukai… Aku mulai menyukainya, tapi itu bukan berarti aku sudah melupakan mantan pacarku sepenuh… Bagaimanapun juga, aku pernah mencintainya hingga hampir mati…”

“Memangnya kau pernah merasakan rasanya sekarat?”aku mencibir kesal.

“Hm.. hm..”ia tersenyum kecil.

“Bodoh!!” aku mendengus kesal.

“Kenapa kesal??”Eli mendekatkan wajahnya padaku. “Kau menyukaiku??”tanyanya kemudian.

“Ah??”aku menatapnya kaget. “Mana…”

“Suka juga tidak apa-apa…”

***

            Aku menatap cermin di atas meja riasku hampa. Kubuka laci mejaku perlahan. Sebuah kalung emas dengan liontin bermata berlian tergeletak disana. Perlahan, ku ambil kalung itu dan membuka liontinya.

“Kim Kyoung Jae…”aku membaca huruf-huruf hangul yang terukir di dalamnya. Tidak salah lagi, ini pasti kalung yang dicari Eli selama hampir 2 bulan ini. Sebenarnya, aku sudah lama menemukannya… 3 bulan lalu saat pulang dari acara malam sekolah. Saat itu, aku pulang melewati lembah di belakang sekolah. Aku sendiri tak tau bagaimana aku bisa melihat kilauan sebuah benda di tepi danau, padahal jarak dari jalan setapak hingga danau lebih dari 20 meter. Kemudian, aku berlari ke tepi danau dan menemukan kalung ini. Saat itu, Eli belum muncul di lembah.

Sebulan kemudian, aku melihat Eli. Aku yakin sekali ia mencari kalung itu, tapi entah kenapa, aku tidak punya keberanian untuk memberikannya. Aku hanya melihatnya dari jauh, melihat laki-laki itu mencari kalung ini seperti orang bodoh. Kemudian, setelah aku berkenalan dengannya, aku selalu membawa kalung ini setiap kali kesana untuk memberikannya. Tapi, rasanya berat sekali untukku mengembalikannya. Berat sekali.

Sekarang, setelah aku jatuh cinta padanya, rasanya semakin berat bagiku untuk mengembalikan kalung ini. Bagaimana kalau ia mengingat kembali mantan pacarnya itu dan mencampakanku? Tapi, aku juga tidak bisa menyembunyikan ini terus darinya.

“Apa yang harus kulakukan??”aku menarik nafas dalam-dalam dan menyandarkan kepalaku di pinggir meja. “Aku benar-benar mencintainya…”

***

            Hari ini, hari minggu. Aku janji bertemu dengan Eli disini. Cuaca hari ini cerah, coba saja aku bisa pergi jalan-jalan dengannya ke taman rekreasi atau semacamnya. Pasti rasanya senang sekali. Hubungan kami saat ini, tidak dapat dideskripsikan sebagai apapun. Kami dekat, sangat dekat… Tapi aku selalu merasa ada sesuatu yang membatasi kami… Ada sesuatu tak terlihat yang membatasi kami… Bayangkan saja, kami bertemu setiap hari disini, mengobrol, tertawa, menikmati lembah bersama… Tapi, aku tidak tau alamatnya, dimana ia kuliah, atau dimana ia bekerja… Bahkan aku tidak tahu nomor ponselnya!! Tapi kami dekat, lebih dari sekedar teman… Ya, lebih dari teman…

“Menunggu lama??”Eli merangkulku dan duduk di sebelahku.

“Ya!! Kau ini!! Selalu tiba-tiba muncul!!”aku mencubitnya pelan. Ya, dia memang suka sekali muncul dengan tiba-tiba. Sering sekali, saat aku datang ke lembah tidak ada siapapun disana, tapi tiba-tiba 2 menit kemudian dia sudah ada di sebelahku. Dia seperti hantu! Aku penasaran, bagaimana bisa ia melakukan itu…

“Kenapa kau memakai cardigan? Ini, kan, musim panas…”Eli menyentuh cardiganku pelan.

“Karena setiap berada disebelahmu, aku selalu kedinginan…”jawabku. Ya, benar saja, angin di lembah berhembus lebih kencang sekarang.

“Begitu??”Eli tersenyum pelan. Ia menatapku, wajahnya berubah kaget saat melihat leherku. Ya… Aku tau…

“Itu…”Eli menunjuk kalung yang ada dileherku.

“Ya… Ini…”aku menarik nafas dalam dan melepasnya. Berat, takut… Tapi sudah kuputuskan untuk mengembalikannya, pada orang yang sudah lama mencarinya.

“Maafkan aku…”kujejalkan kalung itu ke tangannya dan berputar memunggunginya, memeluk lututku. Aku tidak mau… Aku takut melihat ekspresi apa yang akan keluar dari wajahnya… Kubenamkan wajahku ke pahaku dan kupeluk kedua lututku lebih erat.

“Maafkan aku… Aku sudah menemukannya sejak lama… Tapi aku takut… Aku takut mengembalikannya padamu… Aku takut kau membenciku… Aku takut kau akan mengingat mantan pacarmu itu dan mencampakanku… Maafkan aku…”aku mulai terisak. Air mataku mulai keluar.

Kutunggu tanggapan dari Eli, tapi aku tak mendengar apapun. Tidak, bahkan suara sekecil apapun. Kurasakan tubuhku mulai gemetaran. Aku takut… Apa dia marah? Apa dia membenciku? Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia membenciku??

“Eli, aku mencin…”kubalikkan tubuh menghadap Eli. Tiba-tiba kurasakan angin yang begitu besar menerpaku. Kupejamkan mataku agar tidak ada debu yang masuk. Dan… Begitu aku membuka mataku, aku tidak menemukan Eli disana. Yang kutemukan hanya kalung miliknya yang ditaruh di atas secarik kertas.

“Eli? Eli?!”aku beranjak berdiri, mencoba mencari sosok laki-laki itu? Apa ia pergi? Kalau begitu, pasti belum jauh!

“Eli? Eli?? ELI??”aku berlari menuju jalan setapak. Menoleh ke kanan dan ke kiri, aku sama sekali tidak menemuka apapun. Kosong, tempat ini benar-benar kosong.

“Eli?!! ELI??!!”. Tidak menyerah, aku berlari ke pohon-pohon berharap menemukannya bersembunyi di balik pohon sedang tertawa terkikik karena berhasil mengerjaiku. Tapi, tempat ini benar-benar kosong.

“ELI!!!!”aku berteriak sekeras mungkin, sekuat tenagaku. Tapi suaraku hanya menganggung, terpantul diantara pepohonan di sekitar danau. Benar, aku hanya sendiri… Dia meninggalkanku…

“Bagaimana ini??!!”air mataku keluar lebih deras. Ku jatuhkan diriku di atas rerumputan dan menangis sekencang-kencangnya.

“Bodoh!! BODOH!!!”teriakku lagi. Aku mengerling ke arah danau. Teringat sesuatu, aku menyeka air mataku dengan ujung cardiganku dan berlari kembali ke tepi danau. Kalung dan secarik kertas itu, mungkinkah Eli yang meninggalkannya??

Buru-buru, ku ambil kalung dan kertas itu, dan membaca tulisan yang ada disana. Sebuah alamat. Itu adalah sebuah alamat!! Tapi, alamat siapa??

“Aiisshhh!!”. Aku beranjak dari tepi danau dan berlari secepat mungkin menyusuri jalan setapak menuju jalan besar. Menyetop taksi dan memintanya mengantarkanku ke alamat yang tertera di kertas. Aku harus cepat!

***

            Aku menatap pintu rumah besar yang ada di hadapanku. Kutekan belnya 2 kali dan menunggu seseorang membukakannya. Perlahan, ku remas kalung Eli yang kupakai lagi, berharap sesuatu yang baik akan terjadi.

“Nuguseyeo (siapa itu)??”pintu itu terbuka, seorang wanita paruh baya cantik muncul dari baliknya. Meskipun cantik, perempuan itu terlihat sedikit berantahkan. Penampilannya kontras sekali dengan rumahnya yang tergolong mewah. Mungkinkah dia pemilik rumah ini?

“Annyeonghaseyo… Benarkah ini alamat rumah ini…”aku membungkuk hormat dan menyerahkan kertas yang ada di tanganku dengan sopan.

Wanita itu membacanya dan mengangguk. “Ya… Benar… Maaf Nona ini mencari siapa, ya??”

“Apa… Eung, mungkinkah ini rumah Ellison, eung, Kim Kyoung Jae??”tanyaku kemudian.

“Kyoung??”wanita itu kaget. Aku menatapnya bingung. Ia menatapku lama, kemudian beralih pada kalung Eli yang kupakai.

“Ini…”ia menyentuh kalung yang kupakai dan kembali menatapku dengan rumit.

“Kau ingin bertemu dengan Kyoung Jae??”tanya wanita itu kemudian.

“Ya… Anda??”

“Aku adalah ibunya…”wanita itu tersenyum padaku. Sama seperti senyuman Eli saat pertama kali aku melihatnya. That’s a fake smile.

“Tunggu sebentar…”wanita itu berlari ke dalam rumah dan keluar dengan membawa tas tali mewah di tangannya. Ia menutup pintu rumahnya dan menguncinya, kemudian mengajakku naik ke dalam mobilnya yang terparkir di halaman rumah.

“Maaf, ommonim (ibu)… Kita akan kemana??”tanyaku bingung. Tingkah wanita ini benar-benar membingungkan. Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba mengajakku pergi?

“Mengunjungi Kyoung Jae…”

“Eung, Kyoung Jae oppa tidak tinggal dengan anda??”tanyaku lagi.

“Tidak…”ia menggeleng pelan. Ia menoleh padaku sekilas dan tersenyum, “Kalung yang kau pakai itu dulu pemberianku… Dulu ia pernah memberikannya pada perempuan yang dicintainya… Kalung itu sempat hilang…”

“Tapi aku tidak mengambilnya… Kyoung Jae oppa yang…”. Aku terdiam, ibu Eli tiba-tiba menghentikan mobilnya dan memarkirnya dengan cepat. Apa kami sudah sampai di tempat Eli?? Ah!! Hari ini benar-benar hari yang membingungkan!!

“Ayo…”Ibu Eli mempersilahkanku turun. Aku mengangguk dan turun dengan segera. Begitu berbalik, aku mendapati kami berada di area parkir sebuah rumah sakit besar? Rumah sakit? Mungkinkah Eli seorang dokter?

“Selamat pagi Nyonya Kim…”seorang suster menyapa Ibu Eli dengan ramah. “Mengunjungi Tuan Kyoung Jae lagi hari ini??”

“Hah??”aku menatap kedua orang itu tak mengerti. Ibu Eli tersenyum lembut dan menggandeng tangku pelan. Ia membawaku ke bagian barat rumah sakit dan berhenti di depan ruang ICU nomor 5.

“Ommonim, kita dimana??”aku menatap Ibu Eli bingung. Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa ke ruang ICU?

“Kyoung Jae…”Ibu Eli menunjuk pintu yang ada di hadapan kami. Aku menoleh, mengintip dari kaca pintu tersebut. Seorang laki-laki berbaring di atas tempat tidur rumah sakit dengan banyak peralatan, yang aku sama sekali tidak tau namanya kecuali infus dan tabung oksigen, menempel di tubuhnya. Laki-laki itu koma.

“Ah?? Ommonim aku…”

“Dia Kyoung Jae… Sudah 3 bulan disana…”

“Apa??!! Ta… Tapi… Aku bertemu dengannya, kami berbi.. Aku…”aku menatap Ibu Kyoung Jae, entah bingung, entah kaget. Ini benar-benar tidak masuk akal!! Apa maksudnya itu Eli?! Apa maksudnya 3 bulan ia disana?! A… Aku sendiri mengobrol dengannya, berada di dekatnya selama ini… Ini… Ini pasti sebuah kesalahan!!

“Ommonim… Omm.. Ommonim yakin itu.. Itu benar anak ommonim?? Kyo.. Kyoung Jae?? E.. Eli oppa??”. Apa ini? Apa-apaan ini semua?! Aku tidak bisa mencernanya!! Tuhan.. Aku…

“3 bulan yang lalu, Kyoung Jae mencoba bunuh diri, menenggelamkan dirinya ke danau… Dia frustasi…”, ibu Kyoung Jae menarik nafas dalam.

“Ommonim ingin mengatakan kalau Kyoung Jae oppa sudah 3 bulan koma disini? Dia mencoba bunuh diri karena mantan pacarnya itu??! Begitu??! Tapi, ommonim…. 2 bulan ini aku bertemu dengannya… Dan, 1 bulan ini aku bicara dengannya, tertawa dengannya, bermain musik dengannya. Kami melakukan banyak hal bersama… Berlarian di lembah, menatap matahari terbenam, bermain air di Da… Danau…”. Danau? Tunggu dulu, aku menemukan kalung ini di dekat Danau dan selalu bertemu dengannya di dekat Danau… Mungkinkah Danau itu?? Tapi kapan?? Padahal setiap hari ia selalu datang ke Danau itu… Ini… Ah, aku baru ingat!! 3 bulan lalu, aku sempat 1 minggu tidak datang ke lembah karena cacar… Mungkin saat itu Eli… Tapi, tetap saja!! 2 bulan ini ia bertemu dengan orang itu!! Tadi pagi aku juga masih bertemu dengan orang itu!! Ini sama sekali tidak masuk akal!!

“Ommonim… Aku bersumpah aku bertemu dengannya…”. Air mataku mengalir.

“Aku tau… Kyoung Jae datang dalam mimpiku kemarin, ia bercerita sedang mencari kalung itu… Dan jatuh cinta pada seorang gadis…”Ibu Eli tersenyum, rapuh.

“Tapi Ommonim…”aku menatap sosok pria di ruang ICU itu lagi. Jadi selama ini aku berbicara pada siapa? Siapa, kalau ternyata orang itu terbaring koma selama ini? Hantu? Arwah? Tidak masuk akal!!! Benar-benar gila. Tapi, kalau dipikir lagi, dia memang seperti hantu… Aku selalu kedinginan saat bertemu dengannya, suasana selalu menjadi dingin setiap ia di dekatku, kemudian ia juga selalu muncul begitu saja, aku bahkan tidak tau kapan laki-laki itu datang. Satu lagi, saat aku hampir pingsan, aku sempat melihat badan laki-laki itu transparan terkena sinar matahari. Apakah ini… Benarkah seperti itu?? Jadi selama ini ia benar-benar…

“Tunggu dulu, ommonim!!”aku teringat sesuatu. Aku sempat berfoto dengan Eli di ponselku! Foto itu kujadikan wallpaper!! Segera ku ambil ponselku dan kubuka layarnya. Tapi, Ya Tuhan!!! Gambar Eli menghilang!! Di foto itu hanya ada aku dan pemandangan kosong di belakangku… Benarkah ini… Jadi benar??

“Oppa…”aku menarik nafas dalam-dalam. Semakin dalam aku menariknya, semakin sakit yang kurasa. Sakit sekali, sakit….

“Kau mau mengunjunginya??”Ibu Eli menatapku iba dan menghapus air mata di pipiku lembut. “Masuklah…”

Setelah memakai baju khusus dan penutup kepala, aku masuk ke dalam ruangan itu. Benar, laki-laki yang terbaring disana adalah Eli. Laki-laki yang membuatku jatuh cinta sebulan ini.

“Bagaimana kau…”kuraih tangannya pelan. Dingin.

“Kau… Orang terbodoh yang pernah kukenal!! Mengakhiri hidupmu hanya demi wanita seperti itu?!! Apa tidak pernah terpikir kau akan bertemu denganku lebih baik, seandainya kau tidak melakukan itu?!”

Aku menarik nafas berat. “Aku mencintaimu, bodoh!! Mencintaimu!! Bahkan aku belum sempat mengatakannya padamu!!” aku kembali terisak.

“Aku akan sangat membencimu kalau kau tak segera bagun!! Bangunglah cepat bangun…”

Aku menatap laki-laki itu lama. Kukecup dahinya pelan. Tak lama, kudengar alat di kananku berbunyi keras dan sangat cepat. Aku menoleh. Walaupun aku bukan seorang dokter, aku tau alat apa itu. Alat pemonitor detak jantung, aku sering melihatnya di acara drama tv. Kulihat garis di monitor itu bergerak semakin tidak karuan, alatnya terus berbunyi keras. Panik, aku berlari keluar memberitahukannya pada Ibu Eli yang segera berlari mencari dokter.

Aku segera kembali berlari masuk sambil berteriak-teriak memanggil suster.

“Ya Tuhan… Apa yang harus kulakukan??!!”kugigiti kuku bingung. Aku tidak pernah ke rumah sakit seumur hidupku, aku tidak tau harus berbuat apa…

“Bodoh… Kalau kau ingin memanggil suster, pencet tombol merah di sebelahmu…”

“Ah!!! Iya… Baiklah…”aku berlari menekan tombol merah itu panik. Tapi, tunggu dulu! Suara siapa itu tadi?!

Aku menoleh pelan ke belakang. Ya Tuhan, itu…

“Merindukanku??”laki-laki itu melepas masker oksigennya dan melambaikan sebelah tangannya padaku.

“Kau!!!”aku menggeleng kepalaku keras-keras, memastikan bahwa mataku tidak menipuku kali ini.

“Kenapa?”laki-laki itu tersenyum. Sedikit pucat, tapi nampak sehat. Bagaimana ini…

“Ya!!! Ellison!! Kim Kyoung Jae!!! Nappeun yo (Jahat)!!”

-The End-