Tittle        :  [Ficlet] Inquiets

Author     :  Adiez-chan

Length     : Ficlet

Genre       : Angst, sad, romance

Cast(s)     :  Han Soo Hee (OC), G-Dragon Bigbang

Author’s note : well, budayakan comment yaahhh~ happy enjoying!

dan ada link untuk Last Kiss sequel di bawah~! Check this out!! ^^9

______________________________________

Ketukan sepatu wanita yang beradu dengan keramik itu tak lagi terdengar ketika dia memasuki ruangan besar yang dipenuhi lautan manusia itu. Suara yang seharusnya saling memadu teredam sempurna oleh musik yang dihasilkan oleh DJ di salah satu sudut ruangan. Musik berirama RnB itu seakan membujuk setiap tubuh yang terperangkap dalam ruang itu untuk turun ke dance floor. Tak masalah jika mereka tak mampu menghasilkan gerakan seduktif. Penerangan minimal dari lampu yang berpendar berbagai warna di penjuru ruangan itu terlalu sering berpindah, saling menyorot menghasilkan spektrum tak beraturan. Terlalu gelap sepertinya, untuk sekedar mengenali, atau lebih, tidak akan ada yang peduli bagaimana kalian bergerak.

Tubuhnya seakan terhipnotis sejenak oleh nada yang saling melompat itu sebelum dia akhirnya duduk di kursi tanpa lengan dan menyandarkan dirinya di meja bartender. “Red Wine, please,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya pada pria yang sedang menikmati musiknya di atas panggung kecil di salah satu sudut ruangan. Tentu saja, dengan lampu yang terus berpusat pada dirinya, pria itu berhasil mencuri seluruh perhatian dari setiap mata yang beredar.

“Soo Hee-ya? Sudah lama kamu di sini?”

Soo Hee, nama wanita itu, beralih mencari suara merdu yang baru saja menyebut namanya. Bola matanya terhenti ketika pandangannya beradu dengan pria dengan senyum yang terkembang yang diperuntukkan untuknya. Dengan wajah tak bercela dan postur tubuh yang sempurna, bahkan di remangnya ruangan itu, dia mampu menyedot perhatian beberapa gadis di sekitarnya ketika dia berjalan mendekatinya. Wanita itu pun mengambil gelas Wine di dekatnya. “Hei, Jae… Ani. Baru saja aku sampai. Kapan giliranmu bernyanyi?”

Pria itu mengangguk sejenak, sebelum kemudian dia turut bersandar di meja bartender, memusatkan mata pada pria dengan sorot lampu di panggung itu. “Nee. Setelah, dia dan 2PM.”

“Ahh… with JYJ, right?” Soo Hee menyesap minumannya sejenak, sebelum kembali berpusat pada pria di kejauhan itu. Suara pria itu menggema hingga seluruh ruangan hanyut dalam alunannya, termasuk dirinya. Kontur wajah yang cukup tegas, membuatnya terlihat tampan ketika serius dengan sorot mata yang menusuk, sekaligus cute ketika senyuman mulai terkembang dari bibirnya. Surai rambutnya sudah lama dibiarkan memanjang semenjak beberapa waktu lalu dia memangkasnya hingga tak bersisa.Fashion style yang dia tampilkan, tak ubahnya seperti biasa yang nampak di layar 21’inch di apartemennya, outstandingSymbol of fashionista, huh?

Selayaknya magnet yang selalu tertarik ke arah kutub, begitu pula dengan pandangannya ketika dia menemukan lelaki itu. Ah, this fangirl-ing again…

♪♫

I need a girl who’s in it for me,
Not for the money, not for the fame
not for the glory, not for the name
it ain’t easy cause all the just sayin is~ 
♪♫

 

Pria itu terus menari sesuai koreo yang telah dia kenal di luar kepala, menatap seduktif setiap pasang mata penikmatnya, termasuk Soo Hee. Hingga ketika dentumannya berhenti, dia akhirnya keluar dari sorot lampu itu dan berbaur dengan sekelompok manusia yang menantinya, melambai ke arahnya dan teman-temannya. Tak perlu waktu lama baginya untuk tetap menjadi pusat perhatian. Wanita-wanita itu mengerubunginya bak semut yang menemukan sebongkah gula. Pria itu tersenyum ramah, memperlihatkan deretan giginya yang teratur. Soo Hee bisa melihat bagaimana dia bangga menjadi pusat perhatian.

“Jingyo oppa! Daebak!” ucap salah seorang wanita dengan rambut sewarna platinum.

“Gomwo, Hunchae~”

“Heii Jinggoonn! Tumben kamu terlihat keren. Humm… bisa-bisa noona jatuh cinta padamu,” ujar seseorang yang lain.

“Dara noona, jatuh cinta pun tidak masalah, aku akan menangkapmu dalam hatiku.~”

“Iiissh! Kutarik ucapanku tadi!”

Soo Hee terdiam. Dia tahu pria itu memang ramah pada siapa saja, tapi bukankah itu berlebihan? Ahh, tapi siapa pula dirinya hendak protes seperti itu? She’s just fangirl. Dan pria itu, seorang G-Dragon, tentu saja, selalu menjadi pusat perhatian. No doubt.

Pandangan mereka sekilas beradu. Seketika keduanya membatu, seakan bumi berhenti berotasi, memberi sedikit waktu untuk mereka untuk saling mencerna. Soo Hee bisa merasakan debar jantungnya yang seketika berpacu. Bahkan dia bisa merasakan wajahnya yang memanas, atau mungkin sekarang semburat merah sudah memenuhi pipinya.

Aiissh… This Dragon… see me.

Pria di sebelahnya hanya memandangnya dalam diam. Bagaimana tatapan itu harus ditafsirkan? Penuh cinta dan kepedulian, absolutely. “Soo Hee?”

Soo Hee seketika menoleh, “Nee?”

“Gwenchana?”

“Ah? Nee…” dia terus memandang G-Dragon yang akhirnya membuang pandangannya ke arah wanita-wanita yang masih saja mendekatinya. Tangan pria itu menyentuh puncak kepala gadis dengan rambut platinum itu dengan penuh kasih, setidaknya itu yang bisa dia tangkap dari matanya. Kenapa dadanya tiba-tiba sesak? Hei heii… dia seharusnya tak perlu merasakan ini! “Jae dear, aku lebih baik pulang sekarang.”

Jaejoong beralih melihat apa yang sejak tadi disaksikan Soo Hee dan tersenyum, “Jealous?”

“Hah?! No! Untuk apa? I’m just a fangirl, Jae…” ucapnya sambil mengibaskan tangannya keras, memastikan bahwa dia tak merasakan apa yang dikatakan lelaki itu. “Aku hanya perlu istirahat. Pekerjaan kantor membuat badanku lebih cepat tua.”

“Ah yeah. Kamu bahkan tak mengenalnya. Perlu aku kenalkan ? atau aku ikut kamu pulang?”

Soo Hee menggeleng pelan seraya tersenyum tipis. Betapa pria itu sesungguhnya telah membuka hati untuknya. “Humm… I think not now. Dan… bukankah setelah ini kamu harus perform. I can get taxi, Jae. See you.”

***

Mentari sepertinya sudah tidak sabar untuk segera keluar dari perut bumi. Sinarnya yang menyilaukan menembus jalinan benang tirai jendela kamar Soo Hee hingga terasa menusuk mata wanita itu. Terganggu dengan cahaya yang tiba-tiba memenuhi ruangan hitam di balik pelupuknya, wanita itu perlahan membuka matanya. Telapak tangannya kemudian terangkat untuk mengusap kedua kelopak matanya, membawanya lebih dekat dengan kesadaran. Tepat di hadapannya, di samping dia melelapkan diri, seorang pria masih terlelap, tak terusik oleh benderangnya surya yang masuk dari sela jendela.

Jam berapa dia pulang? Jemarinya bergerak menyusuri lekuk sempurna lelaki itu. mata, hidung, bibir… dagu. He’s so handsome, actually… kedua sudut bibirku mengembang tipis, menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa seseorang yang sedemikian sempurna sedang tertidur di sampingnya?

Soo Hee beranjak perlahan dari tempat tidurnya, tak ingin mengganggu mimpi pria itu. Setidaknya, sampai rutinitas pagi ini selesai dia kerjakan. Wanita itu mengumpulkan seluruh helaian rambutnya dan menjadikannya dalam satu ikatan yang tinggi. Kakinya yang baru saja terpasang sandal rumah itu mulai membawanya meninggalkan ranjangnya.

“Soo Hee, mau ke mana?”

Langkahnya terhenti. Ah, bahkan dia belum selesai melangkahkan kakinya yang pertama. Wanita itu berbalik, dan mendapati lelaki itu telah membuka matanya, menatapnya dengan tajam. Dia bisa melihat adanya keingintahuan, dan mungkin… cinta. Cinta yang sama yang selalu dia buktikan setiap harinya. Begitukah?

“Huh? Sudah bangun? Dapur, menyiapkan sarapan untukmu.”

“Tidak perlu.”

Dahi wanita itu mengernyit bingung. “Huh?”

Pria itu tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menarik pergelangan tangan Soo Hee, hingga wanita itu sekali lagi jatuh ke ranjangnya dengan lembut. Soo Hee bahkan masih terkesiap, ketika tangan pria itu merengkuh punggung Soo Hee, membawanya lebih dekat dengan dirinya, hingga hampir tak berjarak. Pria itu menunduk perlahan, menatap Soo Hee tepat di manik mata, dengan pandangan seduktif dan seringai yang menjadi khasnya. “Aku sudah mendapatkan sarapan.”

Sekian lama bersama pria itu, Soo Hee masih tak bisa mengontrol degup jantungnya. Terlebih ketika pria itu mulai bermain dengan jarak, dan pandangannya yang seolah menghipnotisnya untuk masuk dalam dunianya. Kini dia mulai merasakan kedua pipinya yang lebih merah dari apel ranum favorit pria itu. Dia menghela nafas panjang, “Huffthh… Sebenarnya, apa sih arti aku bagimu??”

“Hull? Apa maksudmu? You’re my fiancée, future wife. Apa lagi, Soo Hee?”

Soo Hee mendorong dada pria itu sepenuh tenaga, setidaknya dengan emosi yang seharusnya dia tahan. Seharusnya dia bahagia, namun bahkan dia merasa kebahagiaan itu belum cukup untuk menutupi kekhawatirannya. Seakan setetes susu di dalam segelas kopi, menghilang, tergerus di antara partikelnya. Tak terkecap ketika lidah menyesapnya. “Jiyong, you have cheated on me. How dare you say like that?”

Jiyong, bagaimana Soo Hee menyebutnya, mengerutkan dahinya bingung. Namun tangannya yang tidak cukup berotot tetap saja, jauh lebih kuat daripada Soo Hee yang hanya sebatas tulang dan kulit. Wanita itu tetap dalam dekapannya, “Cheated? Soo Hee… Aku tidak pernah melakukannya.”

“Oh ya? G-Dragon-ssi, so, who is CL, Dara, Kiko?” Soo Hee menaikkan salah satu alis matanya, meragukan pernyataan yang baru saja dia dengar.

Jiyong mempererat pelukannya, salah satu kakinya ikut terkalung di pinggang wanita itu. dia membenamkan wajahnya di leher Soo Hee, menciumi garis leher hingga pundaknya. Kemudian beralih ke dahi dan mengecupnya ringan. “Kamu ini selalu tidak percaya padaku. Mereka hanya sebatas hoobae, rekan kerja. No more.” Matanya akhirnya kembali menatap Soo Hee dengan pandangan serius, “Lagipula, berapa kalipun aku mencoba untuk selingkuh, tetap saja… aku tidak bisa berpaling darimu. Kamu yang menjadi pemenang di hatiku, Soo Hee.”

Soo Hee terdiam. Pemenang? Benarkah? Not just a fangirl? Dia mengubur dirinya dalam pelukan pria itu, mencoba menciutkan diri di balik hangatnya rengkuhannya. Entah mengapa, dia perlu adanya pernyataan untuk menenangkan hatinya sendiri. Tapi, bahkan jika tak seorang pun tahu hubungan in, bagaimana dia bisa merasa tenang? “Don’t ever cheat on me…”

“Never, Soo Hee.” Dagu pria itu bertumpu di puncak kepalanya dan ikut terpejam. Keduanya seakan adalah sepasang puzzle yang menghilang, saling berkait sempurna, satu sama lain. Tidak memberi kesempatan pada celah untuk masuk diantara keduanya.

Tanpa dia perlu melihat Soo Hee pun, dia sudah merasakan senyuman kecil wanita itu. Hangat tubuh Jiyong menjalar hingga dada wanita itu, seolah membisikkan bahwa hangat yang tersalurkan itu hanya untuk dirinya. Hanya miliknya. Soo Hee, Jiyong is yours. What am I worried about?

“You’re my last cheat. You are. When I must cheated my own promise, to not fallen with my fan girl.”

Yeah, and you are my last dream. When Idol fallen for fan.

___________________________________

.fin.

 Okee.. ini FF lama sih… mungkin ada yang sudah baca di blog pribadiku. (?)

And well, bagi temen2 yang udah baca [Ficlet] Last Kiss, sudah ada sekuelnya, yaitu:

Protected: NC-21 Chances (Sequel of Last Kiss) (password: chances) bisa dibuka disini

Iya, saya protect, karena NC. Passwordnya uda saya kasih yaa… saya ga akan tanya kok kamu umur berapa. Soalnya kan… dosa ditanggung sendiri. #eh
😀

Happy sunday~ Gomawoyooo… (_ _)