Title :       First Love (SongFic)

Author :  Meulu Primananda (LaaaadyDJ)

Lenght:  Ficlet (1.906 words)
Genre:   Angst, Romance, AU.

Rating : PG15 (for kissu and romance)
Cast :     Song HyeShin   (OC/You)

Kim Myungsoo (Infinite)

BGM : First Love – Utada Hikaru

Disclaimer : Inspirasi dari lagu Utada, First Love. The plot of this songfic 100% mine! If you already read this songfic, it mean you read in my personal wp: www.Itsmemeulu.wordpress.com  and 2 fanfic blog! if you see this songfic in other blog/fb, please tell me. Aku tau kalo songfic ini jelek, tapi tolong hargai author dengan coment yang kalo bisa jgn cuma satu atau dua kata, thanks.

For reader, happy reading J

For Plagiator, GTH!!! J

ENJOY J

Warning : Lebay, Bahasa muter-muter.

Note : Bayangin aja kalian baca diary dari Song Hyeshin.

Summary  : You are always gonna be the one!

 

*For who only one  I love, Kim Myungsoo.

Our last kiss

Taste like tobacco

A bitter and sad smell

     “Maaf, aku…” Aku tak sanggup menyambung kata-kata yang sebelumnya sudah tersusun rapi dalam pikiranku. Pikiran dan perasaanku kacau, tanpa bisa kutahan air mataku jatuh dengan derasnya. Aku terus terisak dan tak bisa menghentikan air mataku yang jatuh. Ini sangat berat, aku bahkan sudah merasakan sakit walaupun kata-kata itu belum keluar dari bibirku.

Perlahan aku merasakan ada yang yang menarikku dan memelukku. Kau yang sedari tadi terdiam dihadapanku, menatapku khawatir bercampur heran kini memelukku erat .

“Jangan menangis.” Ucapmu lembut, mengelus puncak kepalaku pelan dan lembut.

“Katakan padaku apa yang ingin kau katakan, aku akan mendengarkanmu.” Sambungmu, sedikit membuka pelukanmu dan mengangkat wajahku agar menatapmu. Tapi aku tak sanggup, aku memalingkan pandanganku kebawah walaupun kau terus memaksaku memandangmu. Aku masih terisak keras dan membiarkan air mataku mengalir deras membasahi wajahku.

Chu~

Tiba-tiba bibirmu menyentuh bibirku pelan, menciumnya lembut.

“Tenanglah, aku ada disini, bersamamu. Aku tak akan meninggalkanmu.” Ucapmu disela ciuman itu, mencoba menenangkanku. Namun aku semakin terisak, mendengarmu mengatakan hal itu semakin membuatku sakit. Ciuman ini tak bisa menenangkanku seperti biasanya, ini terasa pahit dan basah karena air mataku. Perlahan aku melepaskannya, aku merasa tak sanggup. Kau sedikit tersentak dan dan menatapku heran, kemudian kembali memelukku. “Tenanglah, aku bersamamu.” Ulangmu lagi. Apa yang kau lakukan itu tak bereaksi apapun padaku. Bau tubuhmu yang sebelumnya selalu bisa menenangkanku membuatku tercekat, pahit dan berbau kesedihan.

Tomorrow, at this time

Where will you be?

Who will you be thinking about?

     “S… Saranghae, Kim Myungsoo. Mianhamnida…” Gumamku tak lebih dari bisikan yang hampir tak terdengar. Tapi kau selalu mendengarku. Tak perduli sekecil apapun suaraku, kau selalu mendengarku.

“Na Do. Jangan minta maaf padaku, kau terdengar seperti akan pergi meninggalkanku. Itu tidak boleh.” Kau menempelkan jarimu kebibirku, tersenyum cerah kepadaku. Aku berusaha keras menahan air mata yang hendak terjatuh lagi. ya tuhan, apa aku bisa mengatakan ini padanya?

“Myungsoo-ya, kalau aku pergi… besok, pada waktu seperti ini… dimana kau akan berada?” tanyaku, masih terisak dan perasaan yang tak menentu.

“Aku akan selalu berada ditempat dimana kau menginginkan aku berada di situ, aku akan selalu bersamamu, menemanimu.” Jawabmu, sepertinya tidak menangkap apa yang aku maksudkan padamu.

“Siapa yang akan kau fikirkan… siapa yang akan kau ingat?” tanyaku lagi, airmataku mengalir deras walaupun isakanku sedikit berkurang.

“Tentu saja kau, karena hanya kau yang aku miliki. Kenapa kau menanyakan ini? kau tidak boleh pergi dari sisiku.” Jawabmu, memandangku dengan tatapan teduhmu seperti biasa. Dan pandanganmu sukses membuat aku terisak kembali dengan deras.

You are always gonna be my love

Even if I fall in love with someone once again

I’ll remember to love

You taught me how

     “Myungsoo-ya, you are always gonna be my love.” Ucapku kembali bergumam, kalimat yang sudah aku tahan untuk tidak kuucapkan hari ini padamu. Tapi aku tak bisa, lidahku bergerak sendiri diluar kemauanku untuk mengucapkan serangkai kalimat itu.

Aku melihatmu tersenyum cerah dan menatapku hangat, aku kembali merasa sakit. Aku takut hal ini akan membuatmu sakit nantinya.

“Myungsoo-ya, bagaimana kalau aku… menyukai orang lain?” aku mencoba mencari kata-kata yang dapat membuatmu benci padaku, dan kalimat itulah yang keluar. Aku sendiri bahkan memejamkan mataku rapat karena tak ingin menatap kepadamu, aku merasa tak sanggup melihat ekspresimu. Jahatkah aku?

Aku mendengarmu mendesah panjang.

“Hyeshin-ah! Geotjimal! Kau harus lebih banyak belajar untuk bisa membohongiku.” aku mendengarmu mendesis sinis dan mengejekku. Aku terdiam dan menggigit bibir bawahku, bahkan untuk membohongimu saja aku tak bisa, what a pity me!

“Kenapa kau berbohong padaku, Hyeshin-ah? Ayo, lihat aku! Lihat mataku.” kau mengangkat kepalaku agar aku menatap kepadamu.

Mata kita bertemu, dan seolah aku sudah terhipnotis karenamu, aku merasa aku sudah tenggelam dalam mata hitammu yang teduh. Sama seperti saat pertama kali bertemu denganmu, mata inilah yang membuatku jatuh dan untuk pertama kalinya mengenal cinta. Dan kau, orang pertama yang mengajariku tentang cinta dan orang pertama yang bisa mengaturku serta bisa membuatku menyadari apa artinya hidup ketika aku sudah mulai kehilangan arahku. Kau membuatku percaya padamu dan secara tak langsung juga membuatku terikat denganmu.

“Aku… tak akan melarangmu menyukai siapapun.” Lirihmu, aku tercekat. Kau menganggap pernyataanku tadi serius dan kau berusaha membohongi dirimu sendiri dari kebohongan yang aku buat. Berhasilkah aku menyakitimu? Tapi kenapa aku sama sekali tidak merasa gembira, yang kurasakan adalah perih dan hanya perih dihatiku.

You are always gonna be the one

It’s still a sad song

Until I can sing a new song

     Ingin rasanya aku berteriak dan mengatakan bahwa sebenarnya kaulah satu-satunya yang ada dihatiku, tapi aku tak bisa. Aku merasa semua ini terasa membingungkan bahkan untukku sendiri.

Memori tentangmu berputar dikepalaku…

“Kau menyukai lagu ini?” tanyamu suatu ketika, ketika aku sedang duduk di teras balkon sambil mendengarkan lagu dari penyanyi Jepang Utada Hikaru, First Love. Kau tiba-tiba datang dan melepas sebelah earphone yang sedang kupakai dan memasangnya di telingamu. Kau duduk di sisa kursi disampingku dan kita mendengarkan lagu itu berdua.

“Ye!” Jawabku singkat dan tersenyum kearahmu.

“Tunggu disini.” Ucapmu kemudian, melepas earphone ditelingamu dan masuk kerumah. Tak berapa lama, kau kembali dan memasangkan sebuah earphone lain dengan lagu yang berbeda di telingaku yang bebas dari belakang.

“Wae?” heranku karena sedikit pusing mendengar kedua lagu tersebut bermain ditelingaku.

“Sebaiknya kau lepas yang ini.” ucapmu dan membuka earphone yang memainkan lagu Utada Hikaru.

“Lebih baik kau mendengar yang ini. Bukan apa-apa, aku hanya saja tak ingin kisah dilagu jepang itu menjadi nyata pada kita. Aku tak suka perpisahan.” Jelasmu sembari memelukku dari belakang dan meneletakkan wajahmu di lekukan leherku.

“Memangnya ini lagu apa?” heranku.

“Paradise dari Infinite.” Jawabmu singkat. Aku tertawa,

“ini sama saja. lagu ini juga tentang perpisahan.” Ucapku.

“Aku tau, tapi aku lebih suka yang ini.” jawabmu. Aku tersenyum dan memejamkan mataku menikmati lagu ini. lama suasana menjadi hening hingga tanpa sadar aku terlelap dalam pelukanmu.

Lagu itu tetap menjadi lagu yang sedih, hingga aku bisa menyanyikan dan mendengar lagu yang baru. Namun masalahnya sekarang, apakah aku bisa?

The paused time is

About to start moving

There’s many things that I don’t want to

Forget about

     Dulu aku selalu berharap waktu bisa berhenti disaat ini, disaat dimana aku bisa bersamamu, berada disampingmu, menghabiskan waktuku denganmu. Aku selalu merasa bahagia bagaimanapun keadaannya jika kau bersamaku. Namun sekarang aku berharap waktu berhenti agar aku bisa membuatmu melupakan tentangku dan segala kenangan kita. Aku butuh lebih banyak waktu untuk membuatmu membenciku, walaupun aku tau itu akan sangat sakit jika kau melupakan dan membenciku. Bagaimanapun juga, perasaanmu padaku harus berubah. Aku tak perduli jika suatu saat kau sudah melupakanku dan mendapatkan penggantiku.

Tapi aku sadar, saat ketika waktu berhenti adalah saat dimana aku harus mempersiapkan diriku untuk bisa hidup tanpamu. Aku akan tetap berusaha mengingatmu dan semua kenangan kita. Ada sangat banyak hal yang aku sangat tak ingin untuk melupakannya bahkan bagian-bagian kecil dari memoir yang pernah kita buat.

Aku terdiam sejenak dan mencoba menahan tangisku, berusaha mengumpulkan energi untuk mengucapkan 2 kata yang sudah aku susun dalam pikiranku dan harus segera aku beritahu kepadamu.

“Myungsoo-ya, selamat tinggal.” Aku akhirnya dapat mengucapkan kata itu walaupun sesudahnya aku merasa seakan tenagaku terkuras habis.

“Kau… serius?” tanyamu pelan. Aku kembali menggigit bibir bawahku. Aku harus bisa melakukan ini, semua ini demi kau. Aku tak ingin kau akan merasa lebih sakit nantinya setelah kau tau apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku… Aku membencimu. Kau orang yang paling b… bodoh yang pernah aku kenal. Aku… tak mau lagi bertemu denganmu. Aku membencimu!” susah payah aku mencoba mengatakan hal itu padamu, walaupun air mataku mengalir semakin deras dan aku tak berani mengangkat kepalaku sedikitpun untuk menatapmu.

“Kau berbohong, kan? Aku tau ini bukan dirimu.” kau berkata seolah lebih kepada dirimu sendiri. Ya tuhan, ini berat. Sesuatu terasa mengaduk perutku dan kembali terasa perih disana. Bukan hanya perih seperti yang aku rasakan karena menyakitimu tadi, aku juga merasakan perih yang berbeda, yang lebih harfiah. Tanganku reflex memeluk perutku dan meremasnya sebisaku, mencoba untuk menghilangkan rasa sakit itu walaupun sebentar. Ini bukan saat yang tepat untuk rasa sakit ini menyerangku.

“Neo Gwanchanayo?” panikmu dan mencoba membantuk dengan memegang kedua pundakku.

“Don’t touch me! Ini bukan urusanmu lagi.” aku membentaknya dan mengangkat kepalaku. Tanpa sengaja aku melihat kewajahmu. Ada yang lain disana, ekspresi di wajahmu tak bisa aku simpulkan, kedua alismu bertaut dan wajahmu tidak lagi secerah tadi. Aku dapat melihat dipelipis matamu terdapat aliran air bening yang menetes dari matamu. Kau menangis. Aku tak bisa melihat hal ini lebih lama.

“Jangan pernah temui aku lagi karena aku tak akan pernah mau melihat wajahmu muncul dihadapanku. Kalau kau mencintaiku, biarkan aku hidup tenang tanpa dirimu. Anggap kita tak pernah bertemu sebelumnya. Aku membencimu.” Itu kalimat terakhir yang aku ucapkan padamu, setelahnya aku berlari menjauh. Kau tetap berdiri ditempatmu tadi tanpa bergerak sedikitpun, menatap kepergianku nanar dan tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.

“Jangan menangis, bodoh!” rutukku kecil kepadamu walaupun aku tau kau tak akan pernah bisa mendengarku.

Setelah aku yakin aku berada dalam jarak yang cukup aman darimu hingga kau tak dapat melihat dan mendengarku lagi, aku menangis. Menangisi semua yang menjadi semakin membingungkan. Sejujurnya, aku membutuhkan tempat untuk bersandar karena aku tak bisa menanggung ini sendiri. Tapi aku harus melepasmu, bagaimanapun caranya.

Tomorrow, at this time

I will probably be crying

I will probably be thinking about you

     Seperti yang pernah aku tanyakan padamu tadi, dimana dan siapa yang akan kau pikirkan besok, aku menanyakan hal itu pada diriku dan menjawabnya sendiri.

Besok, pada waktu seperti ini aku mungkin akan menghabiskan waktuku dengan menangis dan memikirkanmu. Semuanya memang berat, bahkan untukku sendiri.

Dan disaat aku menangis dan memikirkanmu, aku yakin rasa sakit yang mengaduk perutku akan datang dan menemaniku sebagai pelengkap perih yang aku rasakan.

Aku pernah bermimpi, sebuah tangan terulur kepadaku ketika aku sedang duduk berdua denganmu. Tangan itu menarikku, memaksaku menjauh darimu dan membawaku ketempat yang tidak kau ketahui. Membiarkan aku sendiri dan duduk dipojok ruangan tanpamu. Aku menangis, namun sebuah suara membisikkan bahwa lambat laun aku harus terbiasa dengan perasaan sakit dan perih dari hatiku sendiri. Dan disinilah aku sekarang, duduk menangis dan menghabiskan waktuku dengan memikirkanmu.

Apa yang kau lakukan sekarang? Tanyaku dalam hati, berharap kau sekarang baik-baik saja dan tidak memikirkanku.

you will always be inside my heart

you will always have your own place

I hope that I have a place in your heart too

     Kalau kau mau tau, kau selalu berada di sisiku, tak perduli apapun yang terjadi kau tetap punya tempat tersendiri didalamnya dan sejujurnya aku berharap kau juga seperti itu denganku. Walaupun sebaiknya kau melupakan semua tentangku, tapi rasa egoisku tak bisa kupungkiri juga ada. Aku, merindukanmu.

Now and forever you still the one

It’s still a sad song

Until I can sing a new song

     Kau selalu menjadi yang pertama bagiku, bahkan ketika aku menutup mataku untuk selamanya. Dan saat aku menutup mataku untuk sejenak, semua kenangan bersamamu berputar seperti film.

Aku masih ingat bagaimana kita membersihkan apartement baru yang akan ditempati sambil bercanda dan besenang-senang.

Saat kita memasak bersama hingga membuat dapur hampir seperti kapal pecah.

Saat kita meresa kesal satu sama lain, semua kenangan itu tetap menjadi yang terindah bahkan sepanjang hidupku.

Aku sebenarnya ingin minta maaf padamu secara langsung.

Tiba-tiba aku merasa sakit lagi, seolah tangan samar dalam mimpiku itu kembali dan menuntunku menjauh. Hingga semua gelap dan aku tau masa hidupku harus berakhir, aku hanya memikirkan satu orang. Gambaran wajah sempurna yang aku lihat sebelum aku menghembuskan nafas terakhirku, itu kau, Kim Myungsoo, my first and endless love.

Now and forever…

*END*

     Well, ottokhe? Hancur? Geje? Muter-muter? Bingung? Sama, author juga -,- sama mian poster jelek karena edit Cuma 20 menit trus gapake apps yg canggih buat ngedit.

Jangan lupa komen, kalo bisa jangan Cuma satu dua kata, gumawo J