The Dark and The Light Wings (Chapter 3)

Author     :  Thirteencatyas

Length     :  Sequel

Genre       :  Fantasy, Sad, Mystery

Cast          :  B2ST member

Yoon Doojoon story..

“Sayang, kau benar-benar mencintaiku kan?” tanyaku suatu hari kepada Hyunri. Ia mengangguk sambil menunjukkan senyum lembutnya yang keibuan.
“Kenapa kau bertanya seperti itu, yeobo?” tanya nya.
“Tidak apa-apa, aku berharap kau masih bisa mencintaiku meskipun kau akan tahu kondisiku yang sesungguhnya….”

Aku terbangun karena teringat dengan percakapanku dengan Hyuri. Sudah lebih dari satu tahun, tapi masih terbayang di pikiranku..
Kusadari aku hanya memakai celana pendek, dan disebelahku meringkuk seorang ahjumma cantik. Tanpa busana juga….
Oh iya, aku teringat. Kemarin teman-teman SMPku mengadakan reuni dan aku bertemu ahjumma ini di kafe setelah pertemuan itu selesai, ia memintaku menemaninya kemarin malam dan ia berjanji akan membayarku keesokan paginya.
“Mmmmmmh sudah bangun?” tanyanya dengan pose menggoda. “Jam berapa sekarang?”
Aku melirik jam kecil yang terpampang manis di meja, “Jam lima pagi noona. Bukannya kau bilang suamimu akan pulang jam 7 pagi ini?”
“Ah kau benar, aku mabuk berat jadi tidak sadar.” Ia mengangkat selimut untuk menutupi tubuhnya, “Kau mau tunggu aku mandi dulu atau mau langsung pulang ke rumahmu?”
“Terserah noona saja, yang penting aku mendapatkan uangnya. Sudah janji kan?” jawabku jujur. Aku tidak kenal dengan noona ini, jadi tidak peduli ia tersinggung atau tidak.
“Oh iya, maaf aku lupa.” Jawabnya santai, sepertinya tidak terlalu terbawa perasaan. “Ini untukmu, 2000 won kan?”
Aku bergegas mengenakan pakaian dan menerima uangnya dengan sopan. “Nee, gamsahabnida.”
“Aku senang bisa mengenal orang sepertimu Doojoon-ah.” Ungkap ahjumma itu. “Setidaknya kau bisa menemaniku yang kesepian. Hati-hati saat pulang ke rumah ya, jalanan masih gelap.” Pesannya.
Aku mengangguk dan membawa jaketku keluar rumahnya, melangkahkan kaki jauh-jauh dari sana. Menjadi gigolo? Apakah ide yang bagus untuk melakukan profesi itu selama musim dingin? Hyunyoung pasti akan membunuhku kalau ia tahu pekerjaan terselubungku.
Drrrrrt Drrrrrrrrrrrt ada satu pesan dari ahjumma yang menyewakan kost, dan ia berkata…

Tenggat waktumu untuk membayar kost sudah habis, saya sudah menaruh barang-barangmu diluar rumah. Silahkan diambil secepatnya, karena saya tidak mau melihat wajahmu lagi.

Aku mendengus, dimana lagi aku harus tinggal? Aku tidak ingin menghabiskan duit hasil ‘pelayananku’ semalam untuk membayar uang sewa. Lagipula si ahjumma mungkin sudah sangat membenciku, jadi mungkin pergi adalah jawaban terbaik.
Terpekur aku melihat koper, baju-baju dan benda lain milikku tergeletak begitu saja tertimbun salju. Tidak terlalu banyak, tapi akan sangat merepotkan kalau dibawa kemana-mana
Kuambil pigura fotoku dan foto Hyuri. Kami terlihat bahagia… seandainya saja waktu itu aku tidak bilang padanya kalau aku…. Ah lupakan.
“Hyuri-sshi, mianhae.. mian sudah mengecewakanmu.” Aku menghapus air mata yang menetes menghangatkan kedua pipiku yang kedinginan karena cuaca yang kejam.
Kemana aku harus tinggal dan menetap? Aku tidak punya uang dalam jumlah banyak untuk saat ini……

~~~~~

Shin Hyunyoung story….

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing~~~~
Alarm yang memekakkan telinga membuatku terbangun dari mimpiku, padahal aku sedang memimpikan Hyunseung oppa yang tersenyum saat bersamaku. Hehehehe
“Handphone…. Mana handphone……” aku mengucek mata sambil meraba sekitar tempat tidur, astaga musim dingin tahun ini kenapa lebih dingin ya? aku sampai menggigil, padahal sudah menggunakan mesin penghangat.
“Ah.. ini dia HPku,” aku meraihnya dan membuka kunci layar. Hem? 10 panggilan tak terjawab dan 2 pesan?
Saat kubuka pesan, ternyata dari Doojoon oppa. Dan dengan pesan yang sama…

From: Doojoon oppa

Hyunyoung, jebal.. buka pintu rumahmu. Aku menggigil kedinginan disini~

Aku melihat waktu dikirimnya pesan ini. Jam setengah enam pagi?!
Kularikan kakiku ke depan ruang tamu, buru-buru kubuka pintu depan dan tidak ada siapa-siapa di depan rumah. Kemanakah Doojoon oppa?
“Oppa…. Oppa~~ eodi… aigo-ya, Doojoon oppa, Gwechana?!” aku menemukannya meringkuk diluar pagar dengan badan menggigil dan bibir yang membiru. “Sudah berapa lama oppa disini? Maaf aku tadi belum bangun~~!! Kaja, aku bantu oppa masuk ya…”
Aku mengangkat  tubuhnya dengan sekuat tenaga, tapi ia terlalu berat dan nyaris saja aku jatuh tertimpanya. Tangan oppa dingin dan ia tidak mampu membuka matanya lagi, aku takut ia mengalami Hipotermia.
“Ottokke? Ottokke?” aku memencet mencet HP karena panik. Lalu aku teringat Yoseob yang rumahnya tidak jauh dari sini. Kucari nomor teleponnya dan kutekan tombol ‘panggil’
“Yeoboseo… Yoseob-sshi, mian mengganggumu pagi-pagi.” Sapaku lewat telepon. “Aku butuh bantuan di rumah. Bisa tolong kemari?”

…..

“Astaga Hyun, kenapa kau bisa membiarkan hyung sendirian diluar pagar?” tanya Yoseob khawatir. “Untung saja kau segera bangun dan menyadari pesan darinya, kalau tidak mungkin beberapa tangannya akan diamputasi.”
Aku mengangguk. Sebenarnya aku juga takut, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya mampu melihat Doojoon oppa yang tidak berhenti menggigil, padahal aku sudah memberinya dua tumpuk selimut tebal. Tapi bibirnya masih terlihat biru.
“Yoseob-sshi, sepertinya hari ini aku mau cuti saja. Tolong izinkan aku kepada pak pengawas ya.” ujarku pada Yoseob. “Hanya oppa satu2nya keluarga terdekatku, aku akan menemaninya hari ini. Tidak apa-apa kan?”
Yoseob mengangguk, “Jaga dirimu ya, Hyunyoung-sshi. Nanti setelah pulang kerja, aku dan Dongwoon akan kerumah membawakanmu kimchi hangat. Bagaimana?”
“Baiklah, mianhae karena merepotkanmu pagi-pagi Yoseob-sshi. Hati-hati jangan sampai terpeleset salju.” Ucapku. Namun Yoseob hanya tersenyum sambil mengelus rambutku
“Aku tidak mudah terluka, aku kan malaikat.” Jawabnya sambil meninggalkanku. Kulihat tengkuk Yoseob dan lagi-lagi ada sebuah garis merah besar seperti bekas luka. Kenapa aku sering sekali melihat tanda seperti itu di sekitar orang terdekatku?

“A… anu…” aku ingin menanyakannya, tapi terlambat. Yoseob sudah menutup pintu depan rapat-rapat, meninggalkan aku dan Doojoon oppa berdua saja.
“Hyun….Hyunyoung-sshi….. mianhae, bisakah kau gantikan bajuku?” tanya Doojoon oppa yang berusaha membuka mata, “Kau masih punya…… baju Hyuri yang tebal-tebal dan besar…. kan?”
“Oh nee, tunggu sebentar oppa. Sekalian kuambilkan minyak angin mau kan?” aku berlari ke kamar mengambil semua yang dimintanya dan segera kembali. Aku membantunya duduk dan bersender ke dinding karena badan Doojoon oppa masih dingin dan terasa berat.
“To…. Tolong buka bajuku.” Perintahnya terbata-bata, beliau terlihat sangat kesakitan dan menderita dekali karena suhu yang menusuk tulang-tulangnya. Mesin penghangat yang kunyalakan mungkin belum cukup membuatnya hangat.
Saat aku membuka baju Doojoon oppa, terlihat gambar malaikat bersayap dengan warna hitam di punggungnya. Tidak terlalu besar, hanya saja terlihat seperti ukiran yang indah.
“Tolong…. tolong jangan dilihat.” Suara serak Doojoon oppa menyadarkanku dari kekaguman.
“Nee mianhae oppa. Tapi bagaimana aku mengoleskan minyak angin nya kalau aku tidak boleh melihat?” tanyaku bingung. Kututup punggungnya dengan selimut tebal.
“Oleskan saja menurut perasaanmu.” nasehat oppa. Aku mengangguk dan segera mengoleskan minyak angin di punggungnya terlebih dahulu sembari teringat dan kagum dengan tato yang tadi kulihat sekilas. Tapi, bukannya kalau ditato itu sakit ya?
“Hyunyoung-sshi… sudah cukup panas. Tolong dadaku juga ya.” suara oppa sudah kembali seperti semula, tapi wajahnya masih pucat dan setengah biru. Segera saja aku mengoleskan minyak di dada dan sela-sela jari tangan maupun kakinya.
“Oppa, sekali lagi maafkan aku ya.” ucapku merasa bersalah. “Aku bukan malaikat yang bisa tahu keadaan orang terdekatnya.”
Doojoon oppa menggeleng saat kupakaikan sweater milik unnie. “Anii, bukan kau yang salah. Ini salahku, aku diusir karena tidak mampu membayar uang kost-ku. Aku tidak punya uang lagi, makanya aku kemari. Aku yang harus minta maaf karena merepotkanmu.”
Aku tersenyum miris, “Mungkin sudah kewajibanku untuk mengurus oppa, karena oppa adalah bagian dari keluargaku.” Jawabku. “Tapi.. tetap saja aku bukan malaikat putih yang bisa melakukan apapun untuk oppa.”
Tak kusangka oppa menyeringai lemah saat kupegang erat-erat kedua tangannya, “Tidak semua malaikat memiliki sayap putih Hyunyoung-sshi. Kau tahu? Malaikat yang diketahui di dunia ini terbagi dalam dua kubu.”
“Jinjja? Aku tidak tahu. Bukankah putih adalah simbol dari malaikat?” tanyaku bingung.
Doojoon oppa menunduk dan tertawa lemah, “Kau masih sangat polos ya? Malaikat itu tidak hanya berwarna putih, tapi ada juga malaikat yang memilik sayap berwarna hitam.”
“Apa malaikat bersayap hitam mempunyai sifat yang sama dengan malaikat bersayap putih?” tanyaku lebih lanjut. Tak kusangka oppa sangat ahli dalam hal yang menyangkut dunia khayalan.
“Malaikat bersayap hitam disamakan seperti iblis oleh manusia, mahluk yang yang menentang penciptanya….” Jawab oppa yang masih lemah. “Tapi sebenarnya, malaikat bersayap hitam hanya malaikat yang meminta ampunan karena kelakuannya di masa lalu….”
Aku berpikir.. benarkah malaikat bersayap hitam itu ada? Benarkah mereka tidak jahat? Benarkah mereka hanya ingin minta ampunan kepada penciptanya? “Apa buktinya kalau malaikat hitam itu tidak jahat?”
“Uhuk uhuk, mereka membantu malaikat putih meskipun sang pencipta tidak menyuruhnya.” Doojoon oppa tetap menjelaskan meskipun terbatuk batuk, “Seperti yang Dongwoon……”
Tiba-tiba Doojoon oppa ambruk menimpaku, wajahnya masih pucat. Namun suhu tubuhnya menjadi panas. Hembusan nafasnya membuat jantungku berdebar-debar. Omona…. Bagaimana kalau ada yang melihat kami berdua seperti ini dan menumbuhkan kesalah pahaman???

~~~~~

Min Minri story…

Kemarin malam..

“Jaga kesehatanmu disana ya jagiya? Kalau aku sempat, aku akan main kesana.” Ucap namja diseberang teleponku. Aku mengangguk seraya mengucap iya dan mengingatkan hal yang sama padanya.
“Kamu juga ya, jangan sampai demam. Kan ini musim dingin.”
“Tidak akan, kan aku kuat.” Ucapnya penuh dengan kebanggaan. “Kamu tuh yang gampang sakit-sakitan.”
“Aniiyo, aku sudah berubah. Tidak serapuh yang dulu, arraseo?” ucapku sambil memilin milin rambutku
“Iya ya, sudah satu tahun kita tidak bertemu. Kapan kau kesini?” tanya namja itu sangat berharap. “niga jeongmal bogosippeosseo..”
Jantungku berdebar debar, kurasa mataku agak berkaca-kaca. Aku berusaha menahan perasaanku supaya tidak membuatnya khawatir, “Molla, tapi kalau aku sudah punya cukup uang untuk kesana.. aku pasti akan kerumahmu dan menginap seharian. Aku kangen sama noona mu.”
“Yak, masak kau lebih kangen sama noona dibanding aku?” sergahnya sambil tertawa. “Yasudah, kalau ada sesuatu, kabari aku ya.”
Aku mengucapkan ya dan terima kasih, lalu mengakhiri pembicaraan dengan menutup telepon. Yang tadi sangat menyenangkan… sekaligus menyedihkan.
Orang yang tadi aku telepon adalah pacarku. Kami berpacaran dari SMA. Saat aku masuk perguruan tinggi, aku pindah secara permanen bersama keluargaku. Kami jarang sekali bertemu, karena kegiatannya sangat dibatasi oleh orangtuanya. Ia orang kaya, berbeda denganku. Ia pergi kemana saja diantar oleh supirnya, sehingga ia jarang sekali bisa menemuiku apalagi pergi ke rumahku yang sekarang, rasanya tidak mungkin. Namun ia rajin menelponku dan berbagi cerita.
Tapi bukan itu yang aku sedihkan…. Aku sedih karena aku sekarang menyukai orang lain. Sebenarnya aku ingin memutuskannya, tapi aku tidak tega…
Dan orang yang kusuka adalah hoobae-nya Hyunyoung di midimarket, Son Dongwoon.

…..

“Annyeonghaseo noona.” Sapa Dongwoon. “Sudah siap berangkat ke taman ria?”
Aku mengangguk dan segera naik ke bangku motornya tanpa bicara. Aku berusaha menutupi sesuatu yang mungkin akan diketahui oleh Dongwoon cepat atau lambat. Ia begitu perhatian padaku akhir-akhir ini, ia selalu mengantarku ke taman ria satu jam sebelum ia berangkat kerja. Kami sering mengobrol, tapi aku belum berani memberitahunya kalau aku punya kekasih nun jauh disana.
“Noona, ada yang ingin aku tanyakan dari tadi.” tiba-tiba Dongwoon menurunkan sadel motornya dan menghadap ke arahku, “Matamu terlihat bengkak, ada apa?”
Aku menggelengkan kepala, “Anii, gwenchana Dongwoon-ah. Lebih baik kita segera berangkat. Hyunseung oppa bisa marah kalau aku terlambat.”
Ia mengangkat wajahku dan menempelkan HP di telinga kirinya, “Omo….. kau terlihat sipit sekali. Oh….. yeoboseo Kikwang hyung.” Ternyata ia menelpon Kikwang. “Aku mau minta ijin padamu. Minri noona sedang tidak enak badan, bisakah dia kerja di shift sore?”
Aku terkejut dengan omongannya dan berusaha meraih HPnya, tapi ia berhasil mengelak dari gapaianku dengan mudahnya. Aduh, kenapa ia bilang aku cuti?! Kenapa sih dengannya????
Selesai menelpon ia berbicara padaku, “Noona ikut aku kerja ya hari ini. Nanti saat makan siang, kau bisa cerita semua hal yang sedang kau pikirkan. Bagaimana, mau kan?”
“Omo….. ottokkhaeyo? Kau sudah mengganti jam kerjaku pagi ini. Ya mau tidak mau aku harus menurut.” Kataku pasrah. “Lalu…. Kalau appa dan ummaku tahu, bagaimana?”
“Tidak usah khawatir, nanti aku yang minta ijin.” Jawab Dongwoon santai. Astaga, apa yang akan ia tanyakan padaku? Semoga bukan yang menyangkut masalah kemarin malam.