Title       : [Hyuna Story] Unforgettable Day

Author   : Seichiko a.k.a Dhitia

Length   : Oneshot

Genre     : Romance, Fluff

Cast       :

Jang Wooyoung

Kim Kibum

Shin Hyuna

Other cast

 

 

Ada tiga hari yang paling penting didalam hidup seorang wanita.

Pertama, saat ia memakai gaun pengantin cantik dipernikahannya.

Kedua, saat ia menjadi seorang ibu.

Dan yang ketiga, saat ia sedang jatuh cinta.

*****

Seoul Institute of the Arts, 04.30 PM

 

Aku kesal! Benar-benar kesal. Sepertinya tidak ada hari yang lebih buruk selain hari ini.

Berawal sejak tadi pagi. Namja yang bernama Jang Wooyoung itu lama sekali menjemputku, hasilnya aku datang terlambat dan dihukum untuk melaksanakan presentasi diurutan pertama, padahal urutan presentasiku itu ketiga. Lalu saat memulai presentasi, aku menyalakan laptopku dan taraaaaa! Laptopku rusak, tidak dapat menyala! Dan itu menyebabkanku diusir keluar kelas oleh Mrs. Nari.

Kedua, karena telah diusir maka aku berinisiatif untuk pergi ke Cafétaria yang ada dikampus. Aku duduk disana seorang diri, dengan secangkir susu cokelat hangat yang aku pesan. Baru saja aku membaca komik yang kemarin kubeli dengan mulut yang siap menelan susu cokelat, namun tiba-tiba ada satu tangan yang menjitak kepalaku kencang. Aku menoleh dengan kesal pada pengacau itu, dan mendapati sebuah wajah yang terlihat takut. Tenyata dia salah mengenali orang. Yaa! Bisa tidak kalau menjitak itu lihat-lihat dulu? Kepalaku sakit!

Dan sekarang ini, mungkin yang paling membuatku merasa sial. Aku duduk ditaman kampus, berniat untuk menunggu Wooyoung yang sedang berlatih vokal bersama dengan Sunbaenim. Karena bosan, aku memiringkan letak dudukku hingga menghadap ke lapangan. Lalu apa yang aku dapat kemudian? Kini, mataku nyaris lepas karena melihat pemandangan yang ada disisi kanan lapangan basket. Seorang namja dan yeoja yang sedang bermesraan. Mereka benar-benar membuat sakit mata!

Yeoja itu bernama Hyorin (kalau tidak salah), sedangkan namja disebelahnya bernama Kim Kibum (yang ini jelas aku hafal diluar kepala). Aku yakin bukan hanya aku yang sakit mata melihat mereka, nyaris semua mata yeoja yang ada disekitar sini juga merasakan hal yang sama. Tetapi diantara mereka semua, jelas aku yang paling sakit hati melihatnya. Sakit hati!

Kim Kibum. Tidak ada satu orangpun yang tahu seberapa dalam nama itu bagiku. Dan aku juga tidak berniat untuk memberitahu perasaanku ini pada siapapun. Cukup aku yang tahu.

*****

5 YEARS AGO

 

Kim Kibum itu Sunbaeku saat bersekolah tingkat 2 di Sangwan Middle School. Usianya terpaut dua tahun lebih tua dariku, namun tingkatan sekolah kami hanya berjarak satu tahun. Aku jatuh cinta padanya dipertemuanku yang kesekian diakhir kelas dua. Saat itu kelasku sedang bermain basket, bolanya terlempar jauh sampai ke kelas Kibum. Karena usia yang paling muda dikelas dan temanku yang senang memerintah, jadilah mereka mengorbankanku. Aku menatap namja itu dari jauh. Ia mengambil bola basketku, dan matanya menatap sekitar untuk mencari seseorang yang berniat mengambilnya. Saat itu aku belum menyukainya, jadi aku bersikap biasa saja. Dengan wajah datar aku berjalan mendekatinya. Kibum sendiri hanya memainkan bola itu dengan wajah menunduk, lalu menegakkan kepalanya saat menyadari kehadiranku.

“Milikmu?” tanyanya datar.

“Ne,” jawabku singkat.

Jantungku terasa meledak saat ia melempar bola basket itu kearahku dengan pelan. Masalahnya bukan pada lemparannya yang tepat sasaran, melainkan pada senyum yang terlihat diwajah pendiam Kibum. Baru kali ini aku lihat killer smile dari dekat. Ia membuatku nyaris pingsan! Aku baru sadar jika sunbaeku itu tampan sekali.

Hari yang tidak akan kulupakan seumur hidup, hari dimana aku jatuh cinta. Sejak saat itu, aku bersumpah untuk menyukai Kibum. Hanya Kibum, cukup Kibum, tidak akan menyukai namja yang lain! He is my first love

*

Tiga bulan kemudian aku patah hati akut! Aku yang selama tiga bulan ini memperhatikan Kibum secara diam-diam, kini dihadapkan pada kenyataan pahit. Hari kelulusan Kibum tiba, dan dihari terakhirnya masuk sekolah itu, aku terdampar sakit sehingga dokter melarangku masuk sekolah. Aku sudah merayu eomma, namun eomma tetap menuruti saran dokter. Aku menangis kencang selama satu hari saat eomma tidak mengizinkanku pergi sekolah. Eomma pikir aku sakit kepala, tapi bukan karena itu eomma…

Tidakkah eomma tahu bahwa hari ini adalah kesempatan terakhirku?

Eomma jahat, aku menyukainya eomma. Tidakkah eomma tahu itu? Bukankah eomma sendiri yang mengatakan bahwa JATUH CINTA merupakan salah satu hal yang tidak dapat dilupakan seorang wanita?

“Hyuna-ya, sudah jangan menangis. Besok eomma akan mengizinkanmu ke sekolah lagi,” jelas eomma padaku.

“Terlambat eomma. Hari ini adalah hari terakhirku. Besok tidak akan ada lagi. Besok ia akan menghilang eomma…”

Aku berjalan kearah kamar, dan menguncinya rapat. Aku tidak ingin eomma melihatku menangis karena memikirkan Kibum.

 *

Sangwan Middle School, 3rd Grade

Tuhan, aku sangat menyukainya. Aku tahu jika kami berjodoh, maka kami akan bertemu suatu saat nanti. Dan itulah doaku, aku harap kami berjodoh…

 

Sudah satu tahun ini aku tidak melihat Kibum. Kadang aku berpikir, aku sudah terbiasa tanpa melihatnya. Namun jauh dilubuk hatiku, aku masih mengharapkannya. Selama setahun ini Kibum tidak pernah muncul di sekolah kami. Ia menghilang, ia seperti angin yang tidak pernah kembali.

“Hyuna-ya …” panggil satu suara dibelakangku.

Aku menoleh kearah Kim So Eun, sahabatku yang sejak tadi memanggil. “Ne?”

“Yaa! Mr. Lee memanggil namamu, cepat naik ke atas.”

“Ne.”

Otakku masih buntu. Meskipun aku sudah mengatakan iya, namun kakiku belum melangkah ke atas panggung.

“Yaa! Shin Hyuna, cepat naik ke atas atau Mr. Lee akan menggantungmu!” So Eun mengingatkan sekali lagi.

“Ne…” balasku cepat, dan segera naik ke atas panggung kecil yang tadi ditunjuk oleh So Eun. Hari ini adalah hari kelulusanku. Setiap murid akan dipanggil satu persatu untuk menghadap Mr. Lee (pemilik sekolah), dan  menerima piagam penghargaan yang disiapkan untuk kelulusan kami. Semua murid bersorak senang, aku juga. Hanya saja, hidupku terasa datar. Sepertinya tidak ada yang istimewa hari ini.

Aku memandang langit yang berwarna cerah. Kibum oppa, apakah salah jika aku merindukanmu? Merindukan orang yang selalu aku sukai. Aku benar-benar merasa lucu!

*

Hansung High School, 1st Grade

Satu bulan kemudian aku memulai kehidupan baruku. Seragam baru, buku baru, dan lingkungan yang baru. Harapanku untuk masuk sekolah yang sama dengan Kibum hancur sudah, karena aku tidak tahu ia bersekolah dimana. Sepertinya kesempatanku untuk bertemu dengannya benar-benar tidak ada.

Siang itu aku hanya menundukkan wajah, menatap susu cokelat panas yang mulai dingin dihadapanku. So Eun kejam meninggalkanku sendiri dikantin ini. Ia berkata bahwa ia ada tugas piket sebentar, namun sudah dua jam aku menunggunya, dan ia belum muncul juga.

Karena bosan aku memutuskan untuk pergi ke kelas So Eun sambil membawa susu cokelat yang sejak tadi baru kuminum sedikit.

Prak!

Tepat pada saat aku menoleh, ada seseorang yang menabrakku dari belakang. Susu cokelat yang tadi kupegang kini tumpah, dan mengenai sebagian sepatuku (beruntung tidak kena seragam).

“Omoo~” teriakku saat melihat kondisi sepatu putihku yang berubah warna.

“Mianhaeyo, jalmothaesseoyo. Aku benar-benar tidak sengaja,” ujarnya pelan.

Aku menatapnya dengan wajah kesal. Namun aku sadar akan satu hal, marah tidak akan menyelesaikan masalah. Bukankah sepatuku tetap menjadi korban? Aku mengibaskan tanganku, tanda bahwa aku tidak terlalu mempermasalahkan kejadian ini. “Sudahlah, ini hanya kecelakaan,” kataku pelan, sebelum akhirnya pergi meninggalkan namja yang masih merasa bersalah itu.

“Hyuna-ya, gwaenchana?” tanya So Eun bingung, karena melihat wajahku yang merah padam menahan kesal.

“Ne, nan gwaenchanayo.”

“Jheongmal?

“Ne.”

“Hyuna-ya, kelihatannya kau sedang kesal. Ayo ikut, aku akan membelikankanmu ice cream.”

Aku duduk dibangku taman dan memandang suasana sekitar. Taman saat sore hari seperti ini cukup ramai. Dan terkadang, aku sangat tidak suka keramaian. Tiba-tiba So Eun mendaratkan tangannya dihadapanku. Ia memberikan sebuah ice cream rasa cokelat, aku menerimanya dengan senang hati. “Gomawoyo…”

“Ne, jangan sedih lagi karena sepatumu kotor. Kelak, aku akan buat perhitungan pada namja babo itu.”

Aku tersenyum mendengar perkataan So Eun. Sejak dulu, So Eun selalu ada untukku. Ah, andai peran Kibum oppa dihidupku sama seperti So Eun.

*

Hansung High School, 2nd Grade

 

Tuhan, aku sangat merindukannya. Sudah dua setengah tahun kami tidak bertemu. Didalam hati ini, aku masih mengharapkannya. Namun aku merasa lelah. Sangat lelah. Karena selama ini aku tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya.

“Ssttt, Hyuna-ya!” seru So Eun pelan saat pelajaran matematika. Guru matematika yang bernama Mr. Park Jungsu itu terkenal kejam, tidak ada satu murid pun yang berani berisik pada jam pelajarannya.

Aku membentuk bibirku tanpa suara. “Mwo?”

Merasa bahwa suara akan membawa bencana, So Eun menyodorkan selembar kertas padaku. Aku membacanya dengan kening terlipat.

Shin Hyuna, ada berita baik untukmu.. (^.*)

Berita baik? Sejak kapan So Eun membawa berita baik untukku. Bukankah ia selalu mengerjaiku.

Begitu bel pulang berbunyi, So Eun segera menarik tanganku ke arah taman. Ia menyuruhku duduk dengan tenang sambil menarik nafas.

“Yaa! Kim So Eun, kau itu yang harusnya menarik nafas! Dinginkan kepalamu itu, dan berhentilah bersikap aneh!” desisku gamang dan mulai merasa bahwa So Eun terkena penyakit autis.

So Eun memanyunkan bibirnya kesal, dan ikut duduk disebelahku. “Hyuna-ya, kau tahu?”

Aku menggeleng dengan cepat.

“Aissh, jinjja! Kau membuatku sakit kepala.”

“Naega wae?”

“Kau… menyebalkan… Nona Shin,” omel So Eun sambil mendorong bahuku dengan jari tejunjuknya.

“Oke, aku menyebalkan. Dan kau… kau itu aneh, Nona Kim So Eun!” balasku ringan tanpa mengalihkan pandangan dari komik yang sedang kubaca.

“Aigoo, namja itu pasti sudah buta karena menyukaimu!” mulut So Eun terbuka lebar dan melancarkan aksinya.

Aku menghentikan aktivitasku saat menyadari apa yang baru saja So Eun katakan. Namja? Ada namja yang menyukaiku?

“Nugu?” aku penasaran dengan apa yang baru saja So Eun ucapkan.

“Mwo?”

So Eun, aku tidak mengerti jika otaknya itu terbuat dari apa. Ia sangat sangat sangat babo. Yang aku maksud siapa itu, jelas saja namja yang tadi ia sebutkan. Kenapa ia malah balik bertanya padaku?

Aku menjitak kepalanya pelan, ia hanya meringis karena perbuatanku. “Yaa! Otakmu itu terbuat dari apa, hah? Yang aku maksud itu, siapa namja yang baru saja kau bicarakan? Tadi kau bilang ada namja yang menyukaiku kan? Aissh, jinjja! Kenapa Hyuna yang pintar bisa memiliki sahabat babo sepertimu!” aku mengeluh panjang.

“Kekeke~” dengan penuh semangat So Eun menertawaiku. “Terimalah nasibmu, Shin Hyuna yang… terkadang pintar!”

“Hahaha,” aku ikut menertawai sikap childish yang kadang menyerang kami.

So Eun mengehentikan tawanya, dan memasang wajah serius. Aku nyaris menertawakannya untuk yang kedua kali. Wajah serius sangat tidak cocok dengan kepribadian So Eun.

“Hyuna-ya, apa kau mengenal Wooyoung? Jang Wooyong?” tanya So Eun yang kini mulai berwajah biasa.

“Jang Wooyoung? Apa dia mengenalku?” aku kembali bertanya pada So Eun.

“Tentu saja dia mengenalmu, karena dia itu menyukaimu.”

Wooyoung, Jang Wooyoung. Siapa dia? Selama hampir dua tahun bersekolah disini, aku tidak mengenal nama itu. Mendengarnya saja baru kali ini. Lalu kenapa dia bisa menyukaiku?

Keesokan harinya, saat bel pulang berbunyi, aku pergi lagi ke taman belakang sekolah. Entahlah, main ditaman menurutku sangat mengasikan. Suasananya sepi dan tenang, sangat cocok untuk, ehm… membaca komik dan tidur.

Aku menyandarkan kepalaku pada meja yang terbuat dari kayu. Hari ini tidak ada orang lain yang datang ketaman. Aku jadi bisa menjalankan aksi tidur siang dengan sempurna.

“Yaa! Irona!” seru satu suara yang sejak beberapa waktu lalu terus mengitari kepalaku.

Aku melirik jam, 04.15 PM. Huh, aku bahkan baru tidur selama setengah jam. Dengan kesal kuangkat wajahku, dan menatap satu sosok yang berdiri membelakangi cahaya matahari. Membentuk sebuah siluet pada wajahnya.

“Nugu?” tanyaku yang masih setengah sadar, dan memicingkan mata agar dapat melihatnya dengan jelas.

“Hyuna-ya, ini untukmu…” namja itu memberikan setangkai bunga tulip dengan pita merah muda kepadaku.

Aku menolaknya, tetapi ia terus memaksa. Bahkan ia ikut duduk disebelah kiriku, kini wajahnya dapat kulihat dengan jelas. Namja aneh itu berkulit putih, berpipi chubby, bermata sipit, dan aku tidak mengenalnya!

“Aku tidak suka menerima sesuatu dari orang yang tidak kukenal!” desisku tajam, seakan menembus matanya.

Kupikir, ia akan marah karena sifatku. Namun ia malah tertawa, membuat kedua matanya nyaris tidak terlihat. “Ah, mianhae. Aku lupa memperkenalkan diri. Chonun, Jang Wooyoung imnida.”

Heh, dia Jang Wooyoung? Aigoo, jadi dia ini yang kemarin dibicarakan oleh So Eun. Aku hanya menatapnya lekat, cissh~ namja ini sangat biasa!

“Hyuna-ya,” panggil Wooyoung kearahku. Aku hanya menunduk, malas menanggapi. “Jadilah kekasihku…”

“Mworago?” jeritku kencang.

“Aissh, jinjja!” Wooyoung membekap mulutku dengan tangan kirinya. “Kau mau membuatku dibakar satu sekolah ya? Nanti mereka kira aku ingin menculikmu, ara?” ujarnya polos. Sungguh, pikiran yang bodoh.

“Aku tertidur ditaman, lalu tiba-tiba ada namja aneh yang mengatakan suka padaku dan memintaku jadi kekasihnya. Yaa! apa kau pikir ini lucu? Dan kenapa kau memberikanku bunga tulip? Didunia ini, bunga mawar adalah tanda cinta!” Aku tidak dapat menahan emosi.

Wooyoung menatapku dengan tampang babonya, lalu mengambil handphone dan mengetik sesuatu. Setelah selesai, ia memperlihatkan handphonenya padaku. “Lihatlah! Sepertinya kau tidak mengerti bahasa bunga.”

Search

bahasa bunga tulip = Pengakuan cinta atau Aku mencintaimu

Aku mengerucutkan bibirku, mulai mengakui bahwa Wooyoung adalah lawan yang cukup tangguh.

“Jadi, bagaimana keputusanmu? Sudahlah terima aku saja. Suatu saat nanti, aku berjanji akan memberikan bunga mawar untukmu. Otthae?”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Sejak dua tahun yang lalu, aku selalu berdoa kepada Tuhan. Berkata bahwa aku sangat merindukan namja bernama Kim Kibum dan berharap bertemu dengannya. Namun hingga kini doaku tidak terjawab. Dan disaat hatiku benar-benar merasa lelah, namja babo ini muncul.

“Baiklah…”

“Jinjja? Ah, gomawoyo…” serunya senang dan berlari mengelilingi taman. Begitu senangkah menjadi kekasih orang yang kita suka?

*

Sebuah keputusan yang menguntungkan saat Wooyoung berkata ingin satu kampus denganku. Aku jadi memiliki supir pribadi, Appa Wooyoung yang baik hati memberikannya mobil berwarna silver sebagai hadiah kelulusan.

Saat pertama masuk kuliah, aku sedikit terkejut dengan perubahan Wooyoung. Ia yang tadinya nyaris jelek dan berkacamata super lebar, kini berubah. Wooyoung mulai memanjangkan rambut hingga telinganya sedikit tertutup. Ia juga menutupi keningnya dengan poni samping. Aku senang ia berubah, mungkin karena ia sudah bosan mendengar ejekan yang sering dilontarkan murid-murid sekolahku dulu.

“Naega wae?” tanyanya malu dan menundukkan wajah, saat melihat mataku yang menatapnya lekat.

“Rambutmu?”

“Bagus tidak?” tanya Wooyoung malu.

Aku memperhatikan potongan baru rambutnya itu. Terlihat bagus dan tidak buruk. Wooyoung pasti berusaha keras untuk merubahnya. “Bagus, aku suka potongan rambutmu.”

“Ah, ini…” Wooyoung mengusap rambutnya pelan. “Aku hanya merasa bosan dengan penampilanku yang dulu. Aku ingin menjadi namjachingu yang baik untukmu, dan langkah pertama… taraaa! Perubahan!” Wooyoung membuka tangannya lebar. “Aku tahu wajahmu itu cantik. Dan aku tidak ingin orang lain menganggapmu babo hanya karena berpacaran dengan namja aneh seperti Wooyoung yang dulu.”

“Gomawo,” kataku singkat.

Wooyoung tersenyum dan kembali mengeluarkan wajah babonya. “Hyuna-ya, apa sekarang aku terlihat tampan?

“Mwo?”

Wooyoung mengedipkan mata kirinya. “Kalau begitu, cepatlah menyukaiku…”

“Tampan? Yaa! Jangan bermimpi, Jang Wooyoung-ssi!” balasku dengan senyum meledek.

*

Tidak dapat melihat Kim Kibum, adalah satu kenyatan pahit yang aku alami. Dan kini, kenyataan pahit kedua itu datang.

Aku senang sekali saat melihat sosok Kibum yang berjalan dilorong kampus. Dia berubah, dia bertambah tinggi, tampan, dan killer smile yang selalu membuat para yeoja berteriak. Namun hatiku langsung pecah saat melihatnya jalan berdampingan dengan seorang yeoja. Yeoja itu tidak cantik, tidak manis dan tidak tinggi. Yeoja itu benar-benar buruk! Aku jelas seribu kali lebih cantik daripada dia, semua orang pasti setuju.

Satu tahun aku menahan kesal setiap melihat Hot Couple itu. Aigoo, jadi tipe wanita ideal seorang Kim Kibum itu seperti dia? Ck~

*****

Seoul Institute of the Arts, Now

 

“Hyuna-ya, mianhae. Aku tidak tahu jika latihan kali ini sangat lama. Sunbae memintaku untuk membuatkannya sebuah lagu,” ujar satu suara yang tidak terlalu jelas dibelakangku.

Aku yang sedang sibuk menahan kesal jadi tidak mendengar dan mengabaikan suara itu.

“Shin Hyuna sayang…” panggil suara itu gemas, dan menepuk pundakku pelan.

Aku menoleh saat mendapati kesadaran diriku. Ternyata Wooyoung sudah datang. “Woo-ya…” aku mengeluarkan panggilan spesialku untuknya, agar ia tidak curiga.

“Kau terlalu lama menungguku ya? Sampai tidak sadar seperti itu. Kau harus duduk ditempat yang teduh agar keningmu tidak terkena panas matahari seperti ini.” Wooyoung menyentuh keningku lembut. Mungkin ia pikir otakku bergeser karena sinar matahari yang berada tepat diatas kepalaku.

“Aissh, jinjja.” segera kurapikan poni yang menutupi keningku dengan sengaja, agar Wooyoung mau melepaskan tangannya. Aku berusaha tersenyum manis dan bersikap tenang. Aku tidak ingin Wooyoung tahu rahasia terbesarku.

“Kajja.”

Aku mengekor disebelah Wooyoung. Sejak kuliah, kemajuan dari hubungan kami cukup pesat. Kadang aku berpikir jika, yaaa… mungkin sekarang aku juga sedikit menyukainya.

Meskipun kami masih sedikit canggung dan tidak pernah bermesraan seperti pasangan lainnya, namun Wooyoung tidak pernah mengeluh. Dan satu kampus tetap menganggap kami sebagai pasangan paling serasi. Jang Wooyoung dan Shin Hyuna…

*****

 

Ada dua hal yang membuatku sakit mata saat sedang berada di kampus. Peringkat pertama diduduki oleh Hot Couple. Dan kedua, para junior yang menyebalkan! Saat sekolah dulu, mereka adalah adik kelasku, dan sekarang mereka kuliah di tempat yang sama denganku. Mereka yang dulu sering mengejek Wooyoung, kini berubah memuji Wooyoung setengah mati. Dan mereka sangat tidak tahu diri!

“Wooyoung oppa, sekarang kau sangat tampan! Suara oppa juga bagus…” puji yeoja genit yang kini menghadang langkah kami.

“Gomawo…” balas Wooyoung singkat, kemudian berlalu sambil menggandeng tanganku.

Aku berjalan menunduk sampai ke mobil. Seketika Wooyoung menghentikan langkahnya hingga keningku menabrak bahu Wooyoung yang tegap.

“Yaa! Appo!” keluhku sambil memegang keningku yang sakit.

Wooyoung terkejut, dan dengan cepat meniup keningku yang sakit. “Aigoo, mianhae. Aku tidak sengaja membuat keningmu sakit.”

“Lalu kenapa kau tiba-tiba berhenti?” tanyaku kesal.

“Ige…” Wooyoung membuka tasnya, dan mengeluarkan sebuah komik berwarna pink yang sejak beberapa hari lalu aku lihat di internet.

“Komik ini?”

“Ne, ini untukmu.”

Aku menerima komik itu dengan senang hati. “Woo-ya, bagaimana bisa kau menemukannya?”

Bukan tanpa alasan aku bertanya padanya, namun komik ini memang sangat sulit dicari. Padahal beberapa hari yang lalu aku dan Wooyoung sudah mencarinya ke lima toko buku di daerah Incheon.

“Apa kau suka?”

Aku menganggukan kepala kencang. “Ne, gomawo…”

Wooyoung mengacak rambutku lembut, dan perlahan Woo mulai menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajahku. “Kalau begitu cepatlah menyukaiku, Shin Hyuna sayang.”

“Woo-ya…” rengekku kencang. Aku yakin jika saat ini wajahku semerah kepiting. Wooyoung selalu berusaha membuat wajahku merah.

Wooyoung tersenyum hingga matanya tidak terlihat, tangannya kini mengusap pipiku lembut. “Aegyo Hyuna.”

*****

Aku benci suasana seperti ini. Kenapa hal ini menimpaku Tuhan? Hiksss… aku terlibat situasi yang paling menyedihkan sedunia.

Di perpustakaan yang sangat luas ini, aku berjalan mencari tempat kosong dan membawa banyak buku hingga menghalangi pandanganku. Namun tiba-tiba ada satu tangan yang membantuku memegang buku, ia juga menggeser duduknya.

“Gomawo,” ucapku ramah sesaat, namun detik berikutnya wajahku berubah drastis. Ternyata yeoja yang menolongku itu Hyorin.

Aku berniat pergi, namun langkahku tertahan. Selama sengetah jam aku memperhatikan tingkah dan penampilan Hyorin secara diam-diam. Ternyata ia tidak seburuk kelihatannya.

Karena sebentar lagi ada kuliah, aku segera keluar dari perpustakaan. Aku dan Hyorin turun disatu lift tanpa saling menegur, karena aku tidak berniat melakukannya.

Saat melewati pintu gerbang, aku melihat penjual kembang gula diseberang jalan. Mataku langsung tertuju pada penjual itu, dan aku nyaris tertabrak motor yang melintas seandainya tidak ada satu tangan yang menarikku. Hasilnya, yeoja itulah yang terluka.

Aku memandang takut kearah tangan Hyorin. Ada luka yang cukup besar dan darah disana, membuat tanganku gemetar. “Sunbaenim, mianhae…” suaraku bergetar.

Hyorin tersenyum, kini lapisan benci dimataku mulai menghilang. “Gothjimal, ini bukan salahmu. Ahjussi itu yang tidak hati-hati.”

“Keudae…”

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Jika diberi obat, pasti akan segera sembuh.”

Dengan mata hampir menangis aku berjalan mengikuti Hyorin menuju kantin untuk membeli plester, kemudian membantu memasangkannya.

“Ahjumma, aku pesan dua susu cokelat hangat.” Hyorin memanggil Ahjumma dan memesan minuman hangat untuk kami tanpa persetujuanku.

Selama menunggu pesanan, kami terlibat beberapa pembicaraan. Ternyata Hyorin mengenalku, namun aku tidak pernah mengenalnya lebih dekat.

“Ne, Shin Hyuna cukup terkenal dikampus ini. Kau yang memenangkan lomba fotografi itu kan? Banyak senior yang membicarakanmu. Kau juga kekasih dari Wooyoung pemenang Singing Contest itu kan? Ayolah, siapa yang tidak mengenal kalian berdua, Aegyo Couple yang luar biasa serasi. Aigoo~ aku sangat iri pada kalian,” ujar Hyorin dengan senyum menggodaku.

Aku tersenyum hambar. Ya Tuhan, begitu buruknya penilaianku pada Hyorin selama ini? Sehingga aku menyebut mereka Hot Couple, dengan maksud bahwa mereka adalah pasangan yang membuat mata dan hati panas. Sedangkan dimatanya, aku dan Wooyoung itu pasangan aegyo yang sangat serasi.

“Eonnie, terima kasih karena kau sudah menyelamatkanku dan memberikanku cokelat hangat,” ucapku tulus dengan senyum malu. Kemudian aku meminta izin pada Hyorin untuk kembali ke kelas.

“Hyuna-ya,” panggil Hyorin sebelum aku berbelok. “Lain kali kau harus hati-hati saat berjalan. Arasseo?”

“Ne, gomawoyo…” Aku menundukkan wajah dan berjalan menjauh dari Hyorin.

*****

Hati itu, tidak terlihat…

Kini aku mencoba untuk menerima takdir, mungkin sudah jalannya seperti ini. Dan aku tidak dapat menolak takdir yang sudah ditulis untukku.

Hyorin memang bukan yeoja berwajah angel yang terlihat serasi dengan Kibum. Namun hatinya luar biasa baik. Dari yang aku dengar, Hyorin lah yang membuat Kibum menghentikan kebisaan merokok akutnya. Tidak ada kata lain yang ingin aku ucapkan selain ‘Aku bahagia melihat eonnie dan oppa bersama, Good Couple’. Masalah janjiku saat sekolah dulu, kini tidak penting lagi.

Tidak ada yang tahu bagaimana jalan hidup seseorang berjalan. Aku bisa saja berjanji akan menyukai Kibum oppa, namun… saat takdir tidak mengizinkanku menyukainya lagi, maka aku akan menerimanya.

Teori yang selalu eomma katakan itu tidak salah. Namun aku ingin menambahkan satu hal lagi.

 

Ada empat hari yang paling penting didalam hidup seorang wanita.

Pertama, saat ia memakai gaun pengantin cantik dipernikahannya.

Kedua, saat ia menjadi seorang ibu.

Dan yang ketiga, saat ia sedang jatuh cinta.

Lalu keempat, hari dimana ia memahami cinta secara seutuhnya.

 

Membiarkan orang yang pernah kusukai hidup bahagia dengan pilihannya. Sedangkan aku? Aku masih memiliki Wooyoung. Woo memang bukan namja yang berwajah sangat tampan. Woo yang selalu kupandang sebelah mata meski sudah dua tahun berpacaran. Woo yang dulu aneh, namun berusaha berubah agar menjadi namjachingu yang baik untukku, dan perubahannya itu sempat membuatku sakit mata! Woo yang tidak pernah menyakitiku. Woo yang meskipun kesal, tetapi tidak pernah membentakku. Woo yang selalu memberikan ice cream dan satu lagu saat aku sedih. Woo yang selalu tersenyum saat melihatku marah padanya. Woo yang rela menjagaku tanpa aku minta. Woo yang selalu berkata bahwa ia bersyukur memilikiku. Woo yang hanya melihatku, hanya aku…

“Wooyoung oppa, sekarang kau sangat tampan! Suara oppa juga bagus…” puji yeoja genit yang kini menghadang langkah kami.

Aku selalu merasa jika deja-vu seperti ini sangat sering terjadi. Bahkan hampir setiap waktu saat aku berada dilingkungan kampus. Aku berusaha menahan geram melihat ulah yeoja genit itu. YAA! APA KAU TIDAK LIHAT JIKA ADA AKU DISEBELAH WOOYOUNG?!

“Gomawo…” jawab Wooyoung singkat, kemudian berlalu dan mengenggam tanganku dengan erat. Harus erat, karena jika Woo lengah sedikit saja, aku yakin yeoja genit itu akan menyerangku.

Aku cukup terkejut dengan kejadian itu. Wooyoung dipuji selangit, namun ia tidak memandang yeoja itu, sama sekali! Padahal yeoja itu cukup cantik dan seksi. Ne, aku tahu jika tubuhku tidak dapat dibandingkan dengan yeoja genit itu.

Yeoja itu menatap Wooyoung seperti ingin menerkam. Aku benci jika Wooyoung mendapat tatapan seperti itu! Mengapa para yeoja itu tidak dapat menerima Wooyoung yang apa adanya. Dulu, teriakan itu yang paling kencang saat mengejek Wooyoung. Sekarang? Teriakan itu juga yang paling kencang, saat memuji ‘WOOYOUNG OPPA SANGAT TAMPAN!’. Yeoja itu berhasil membuatku mual setiap mendengar kata-kata menyebalkan darinya. Wajah Wooyoung juga tidak kalah mualnya denganku setiap mendengar kalimat itu.

“Woo-ya, kau mengenalnya?” tanyaku dengan nada sinis dan suara kencang. Aku mulai berpikir untuk mengerjai yeoja itu.

“Ani…” Wooyoung menggelengkan kepalanya dengan kencang. Aku hanya tersenyum melihat tingkah Wooyoung.

“Kenapa tadi kau tidak melihatnya? Aissh, kau itu sombong sekali!” ledekku dengan sengaja, aku tahu jika jarak kami dengan yeoja itu masih dekat.

Yeoja itu terlihat kesal, aku dapat melihatnya dari sudut mataku. Mungkin akan tumbuh tanduk dari kedua kepalanya yang dipenuhi Wooyoung itu. Aku tahu selama ini yeoja genit itu berpura-pura bodoh, selalu menganggap Wooyoung tidak memiliki kekasih. Padahal seluruh siswa sekolah dan kampus kami tentu sudah tahu jika aku dan Wooyoung adalah sepasang kekasih.

Aku masih puas menertawakan yeoja genit itu, saat perlahan tubuh Wooyoung mendekat dan mengucapkan kalimat…

“Untuk apa? Aku sudah pernah mengatakannya padamu bukan, jika aku tidak dapat melihat yeoja lain. Hanya kau yang ada disini…” ujar Wooyoung ringan sambil melebarkan kedua matanya.

Ia bilang hanya ada aku dikedua matanya yang sipit itu. “Woo-ya, matamu itu tidak cukup besar untuk menampungku.”

Djiks!

Tangan Wooyoung melayang pelan dikeningku. “Aissh, jinjja! Aku tidak pernah berhasil merayumu.”

Aku masih menertawakan Wooyoung dengan kencang. Bagaimana mungkin aku tersentuh dengan rayuannya. Wajahnya itu… sangat babo dan aneh. Sekuat apapun ia merayuku, aku tidak akan tertarik padanya.

“Mau tertawa sampai kapan, hah?” seru Wooyoung dari arah belakang.

Mwo? Kenapa sekarang ia ada dibelakangku? Ternyata menertawakannya bisa membuatku tidak sadar dengan suasana sekitar.

“Taraaa!!!” Wooyoung mengeluarkan sebuket bunga mawar merah dari balik punggungnya, dan memberikan bunga itu padaku.

“Mawar?” aku tersenyum melihat bunga itu. Janji yang dulu pernah Wooyoung ucapkan bukan.

“Ne.”

“Keudae…” aku berusaha berpikir. “Woo-ya, janjimu itu sudah lama sekali. Sekarang aku tidak mau menerimanya lagi.”

“Mianhae. Tapi aku rasa sekarang adalah waktu yang tepat,” ucap Wooyoung yakin.

“Wae?”

Wooyoung menarik tangan kananku hingga menyentuh tangannya. Lalu ia merapatkan jemari tangan kananku dengan tangan kirinya. “Waktu sekolah dulu, aku selalu merasa jika tanganku belum pantas untuk menjagamu dan tidak cukup besar untuk memberikan sebuket bunga mawar untukmu.”

Aku melihat jari kami yang terpaut.

“Hyuna-ya, lihatlah! Kini tanganku sangat besar bukan? Sekarang aku yakin bisa menjagamu. Dan kedua tangan ini, kini sudah dapat memberikan bunga mawar sebesar apapun yang kau minta.”

“Jika aku minta satu taman mawar, apa kau akan memberikannya juga?” tanyaku pelan.

“Tentu saja, aku akan mengambil semua uang tabunganku. Dan aku akan membeli taman bunga untukmu. Ya, meskipun taman itu tidak terlalu besar. Apa kau mau menerimanya?”

“Ne?”

“Taman bunga.”

Aku tersenyum mendengarnya. “Yaa! namja babo!”

Air mata yang kini mengapung disudut mata, baru kali ini aku mengeluarkannya demi seorang Jang Wooyoung. Mungkin, perasaanku telah berubah. Atau memang aku saja yang terlambat menyadarinya? Entahlah…

 

17 Januari dalam sejarah hidup Shin Hyuna…

Hari dimana aku memahami cinta secara seutuhnya

 

“Yaa! Hyuna-ya, jangan menangis lagi… aissh, jinjja!” seru Wooyoung setengah menjerit.

————————————–

Finally, FF ini aku keluarin juga. Sebenernya ini adalah FF yang aku kirim buat lomba juga (lupa lomba dimana). Cast kali ini WooNa. Karena waktu buat, author lagi suka sama Wooyoung.

Jujur aku juga suka banget sama Woo yang amat sangat multi talenta. Selain HeeSeira Couple, aku harap para readers juga suka sama couple yang satu ini. Emang sih baru dua FF yang pakai cast WooNa. Jangan lupa RCL ya… J