Title : All Seems To Be Crazy!? (Part 4)

Writer : Catherine Crystal ><

Cast :

-Cho Kyuhyun <= Super Junior

-Shin Hyeyoung <= OC

-Lee Sungmin <= Super Junior

-Park Nachan (Nana Park) <= OC

Genre : Romance, and find the other by yourself

Length : Continue / Chaptered

Disclaimer : ff ini MURNI buatan saya tanpa campur tangan orang lain. Jangan plagiat, jangan jadi silent readers, jadi clovers aja apa susahnya sih? (Note : buat yang gatau clovers buka aja : http://lovelyfanfictionhouse.wordpress.com/2011/12/26/363/)

Udah pernah dipublish di : http://lovelyfanfictionhouse.wordpress.com/

Previous parts :

Part 1 : http://lovelyfanfictionhouse.wordpress.com/2011/11/25/all-seems-to-be-crazy-part-1/

Part 2 : http://lovelyfanfictionhouse.wordpress.com/2011/12/02/all-seems-to-be-crazy-part-2/

Part 3 : http://lovelyfanfictionhouse.wordpress.com/2011/12/10/all-seems-to-be-crazy-part-3/

PART 4

“AKU MENERIMA PERJODOHAN INI!”

“MWOOOOO???!!!” teriak Kyuhyun keras-keras.

“N-ne… ak-aku menerimanya…” jawab Hyeyoung dengan suara yang mulai melunak. Dalam benaknya ia sudah menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mematuhi kesepakatan awalnya dengan Kyuhyun. Bukan karena ia takut Kyuhyun marah, tapi karena ia takut mengambil keputusan yang salah.

“Ehm, baguslah kalau begitu” sahut ibu Kyuhyun santai.

“Eomma… masa aku harus menikah dengannya? Dia kan sudah punya– uuups…”

“Apa yang ingin kau katakan Kyuhyun? Bicara yang jelas!” kata ayah Kyuhyun. Kyuhyun hanya menggeleng cepat.

“Baiklah, pernikahan akan segera dilaksanakan beberapa minggu lagi” sahut ibu Hyeyoung dengan wajah tegang yang telah berubah menjadi wajah sumringah. Lega karena ternyata keputusan anaknya sangat sesuai dengan situasi yang sedang dihadapinya sekarang. Lega karena ia tak perlu mengingkari amanat ayahnya.

“Ba-baiklah eomma…” jawab Hyeyoung lesu. Dalam benaknya ia sudah meurutuk dirinya sendiri karena tak memikirkan hubungannya dengan Sungmin ketika mengambil keputusan tadi. Ia hanya memikirkan kakeknya yang ia sayangi, dan ia berpikir bahwa ia akan menuruti amanat kakeknya itu untuk membayar semua jasanya semasa hidup. Tapi sekarang ia malah jadi bimbang begini.

~0~

“Annyeong oppa…” sapa Nana pada Kyuhyun. Sesaat pandangan mereka bertemu. Senyum tak lepas dari wajah cantik Nana. Tapi Kyuhyun malah melengos dan sesaat kemudian berjalan pergi meninggalkan Nana. Senyum Nana langsung menghilang dari wajahnya.

“Oppa!” teriaknya seraya mengejar Kyuhyun. Berkali-kali ia berhasil menggapai tangan Kyuhyun tetapi Kyuhyun dengan cepat dapat meloloskan diri dan berjalan pergi lagi dengan santai.

“OPPA!!!” teriak Nana keras namun Kyuhyun tak merespon. Kyuhyun malah mempercepat jalannya. Kaki Nana mulai melangkah untuk mengejar Kyuhyun.

Baru beberapa langkah Nana berlari, kakinya tersandung batu dan ia pun jatuh terduduk di tanah. Ia mencoba untuk berdiri tapi sepertinya kakinya terkilir akibat benturan yang sangat keras.

“OPPA!!!” teriak Nana berharap Kyuhyun akan datang dan menanyakan keadaan kakinya. Tapi apa? Kyuhyun tetap melanjutkan jalannya.

“OPPA!!”

Kyuhyun menoleh sebentar dengan ekspresi datar.

“Goodbye Nana…” katanya singkat.

“M-mwo? Andwae! Oppa!! OPPA!!!” teriak Nana keras. Namun Kyuhyun malah melengos lagi dan berjalan pergi dengan cuek.

~0~

“Oppa… hhh… oppa…” racau Nana dalam mimpinya. Keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya, sebelum ia berteriak kencang

“OPPA!!!”

Bersamaan dengan teriakannya, Nana terbangun. Ia terduduk di kasur. Dipegangnya dadanya yang bergemuruh kencang. Astaga! Mimpi apa ini?

“Kenapa aku jadi merasa takut kalau Kyuhyun oppa benar-benar ingin berpisah denganku ya?” gumam Nana, ia tampak berpikir sebentar, “Ah! Itu tidak mungkin, lagipula Kyuhyun oppa pernah berjanji padaku bahwa kita akan bersama selamanya” gumamnya kemudian turun dari kasur dan merapikan kasurnya. Setelah itu, ia beranjak pergi ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya.

~0~

Kelas itu tampak sangat sepi. Hal itu dapat dimaklumi, jam pelajaran sekolah telah usai sejak dua jam yang lalu. Tapi dari kekosongan kelas itu tampak seorang pria duduk di salah satu kursi kayu kelas. Wajahnya tampak seperti sedang berpikir. Berkali-kali ia keluarkan ponselnya dan menekan tombol call dua kali, tapi berkali-kali pula ia kembali meletakkan ponselnya dengan wajah frustasi.

“Aish… ke mana sih dia sebenarnya?” gumamnya kesal. Diraihnya kembali ponselnya dan menekan tombol call dua kali. Entahlah, ini sudah kesekian kalinya ia menghubungi nomor yang sama tetapi ini juga sudah kesekian kalinya teleponnya tidak diangkat.

Tiba-tiba seorang gadis masuk ke dalam kelas lengkap dengan tas selempangnya.

“Sungmin oppa?” panggil gadis itu terheran-heran melihat salah satu sahabatnya masih berada di dalam kelas mengenakan seragam sekolah.

“Oh, Nana-ah… kenapa kau di sini?” tanya Sungmin kaget.

“Tadi aku sempat pulang tapi ketika aku mau mengerjakan PR aku baru menyadari bahwa buku PR-ku tertinggal di kelas, kau sendiri kenapa di sini oppa?” tanya Nana, ia dan Hyeyoung selalu memanggil Sungmin dan Kyuhyun dengan sebutan ‘oppa’ kendati mereka sekelas. Hal itu dikarenakan usia mereka berdua memang lebih tua ketimbang Nana dan Hyeyoung.

“Aku sedang gelisah” jawab Sungmin singkat.

“Gelisah kenapa oppa?” tanya Nana.

“Kau tidak gelisah tiba-tiba Kyuhyun dan Hyeyoung tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas?” Sungmin balas bertanya pada Nana. Nana tampak terdiam sebentar.

“Dari tadi aku sudah menghubungi Kyuhyun oppa tapi tidak diangkat” jawab Nana setelah sekian lama diam.

“Aku juga sudah berkali-kali menghubungi Hyeyoung bahkan Kyuhyun pun sudah kucoba hubungi, tapi keduanya mematikan telepon mereka, bahkan aku sudah mencoba menelepon rumah mereka” sahut Sungmin.

“Oppa… ayo kita ke rumah Kyuhyun oppa saja, atau Hyeyoung”

“Kau bawa mobil?” tanya Sungmin. Nana menggeleng.

“Jalan kaki saja” katanya.

“Jauh tau! Naik motorku saja!” seru Sungmin seraya berdiri dan mengantongi ponselnya. Ia pun menyambar tas ranselnya dan pergi keluar kelas diikuti Nana.

~0~

Mobil berwarna silver itu berjalan di atas kepadatan jalan raya kota Seoul. Di dalamnya tampak dua orang yang sedang terdiam tanpa ada niatan mengucapkan sepatah kata pun.

Keheningan itu sudah meliputi mereka entah berapa lama. Hingga akhirnya salah satu di antara mereka memulai pembicaraan

“Kenapa kau menerima perjodohannya kemarin?”

Hyeyoung menoleh kemudian menghembuskan nafasnya pelan, “Aku tidak ingin mengecewakan hal-abeoji” jawabnya singkat.

“Tapi ini beresiko pada kita!” teriak Kyuhyun.

“Maka dari itu, aku sendiri juga bingung oppa… Bagaimana caranya memberitahu Sungmin oppa dan Nana?” sahut Hyeyoung.

“Pikirkan saja sendiri! Kau kan yang mengambil keputusan!” seru Kyuhyun sinis.

“Jangan marah dong oppa… kau tidak sayang pada hal-abeoji mu ya? Seharusnya kau juga memikirkan tentang itu!” tanggap Hyeyoung.

“Tapi kan dia sudah tiada! Pikirkan realita, Hyeyoung! Sekarang masalahnya menjadi jauh lebih rumit!” teriak Kyuhyun seraya memukul setir mobil. Mereka sedang menunggu lampu merah di sebuah jalan raya maka Kyuhyun bisa memukul-mukulnya dengan bebas.

“Tapi aku tidak melulu memikirkan itu oppa! Hal-abeoji itu orang yang sangat penting bagiku! Kau juga seharusnya memikirkan itu!” teriak Hyeyoung dengan suara tinggi.

“Sudahlah, lagipula semua sudah terlanjur. Sekarang kita mau apa? Pernikahan sudah didaftarkan dua minggu ke depan! Yang bisa kita lakukan hanyalah memikirkan cara mengatakan hal ini pada Sungmin dan Nana! Pikir doong…” seru Kyuhyun seraya menunjuk-nunjuk kepalanya.

“Cih!” cibir Hyeyoung, “Oppa, lampunya sudah hijau kembali!” teriaknya mengalihkan pembicaraan. Kyuhyun pun melajukan kembali mobilnya menuju toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan. Ibu merekalah yang menyuruh mereka cepat-cepat mempersiapkan pernikahan, bahkan sekolah pun sampai dikesampingkan.

~0~

“Pegangan yang erat ya, aku mau ngebut” kata Sungmin. Nana pun mengeratkan pegangannya pada Sungmin. Sekejap kemudian motor pun melaju kencang membelah jalanan.

~0~

Tokk… tokk… tokk…

Pintu diketuk perlahan. Beberapa menit kemudian tampaklah seorang wanita paruh baya membuka pintu.

“Annyeonghaseyo ahjumma…” sapa Sungmin ramah.

“Oh ne, Sungmin-ah, silakan masuk, tapi Kyuhyun sedang tidak ada di rumah” kata ahjumma itu.

“Kyuhyun oppa tidak ada di rumah?” tanya Nana.

“Ne, dia kan pergi ke–ah tidak apa-apa” jawab ahjumma ibu Kyuhyun. Ia teringat pesan Kyuhyun dan Hyeyoung tadi pagi, ‘Eomma… kalau nanti Sungmin atau Nana ke sini, jangan bilang kalau kita sedang pergi membeli cincin dan gaun ya’

“Kalau begitu, apa ahjumma kebetulan tahu di mana Hyeyoung berada sekarang?” tanya Sungmin.

“Ah, mianhae Sungmin-ah, Nana-ah, aku tidak tahu” jawab ahjumma ramah. Sungmin dan Nana pun saling berpandangan sebelum akhirnya berpamitan untuk meninggalkan rumah Kyuhyun.

~0~

Malam sudah menjelang di kota Seoul. Gemerlap cahaya tampak menghiasi jalanan. Mobil berwarna silver itu melaju kencang di tengah jalanan.

“Hari ini sungguh melalahkan” komentar Hyeyoung, “Bahkan kita sampai harus merelakan sekolah”

“Ne, kau benar” jawab Kyuhyun, “Kau sudah menemukan cara untuk mengutarakan hal ini pada Sungmin dan Nana?” tanyanya.

Hyeyoung tampak berpikir sebentar, “Tidak ada cara lain”

“Apa?” tanya Kyuhyun.

“Kita harus menyakiti hati mereka dan membuat mereka melupakan kita”

“Mwo? Apa itu tidak keterlaluan?” tanya Kyuhyun.

“Sekarang coba kau pikirkan oppa, apa kita bisa menggunakan cara lain? Apa ada cara lain?” tanya Hyeyoung. Kyuhyun tertegun sejenak.

“Kau benar, tidak ada cara lain”

~0~

Seminggu berlalu sejak hari di mana Kyuhyun dan Hyeyoung tidak masuk sekolah. Sejak hari itu, Kyuhyun dan Hyeyoung sering membolos sekolah karena mempersiapkan pernikahan. Kalau mereka masuk sekolah pun, mereka akan menghindari Sungmin dan Nana.

“Annyeong Nana-ah…” sapa Sungmin saat melihat Nana duduk sendirian di bangku taman sekolah.

“Oh annyeong oppa…” sapa Nana.

“Kenapa kau sendirian? Tidak bersama Kyuhyun?” tanya Sungmin. Nana menggeleng.

“Kau sendiri juga tidak bersama Hyeyoung kan oppa? Akhir-akhir ini sulit sekali berkomunikasi dengan mereka” jawab Nana lesu.

“Ne, kau benar, aku bahkan merasa mereka menghindari kita” jawab Sungmin, ia pun duduk di sebelah Nana.

“Apa dugaan kita tentang perselingkuhan mereka benar ya oppa?” terka Nana.

“Aku juga berpikir begitu” jawab Sungmin, “Tapi toh aku tidak akan mau melepaskan Hyeyoung, aku sudah terlalu mencintainya” sambungnya.

“Kau pikir aku mau melepaskan Kyuhyun oppa? Tentu tidak!” sahut Nana.

Tiba-tiba ponsel mereka berdua berbunyi secara bersamaan. Dengan cepat mereka meraihbenda itu dari saku seragam mereka. Nana membaca SMS masuk di ponselnya.

From : Kyuhyun oppa❤

“Nana-ah, nanti sore temui aku di cafe biasanya”

Sungmin pun menerima SMS yang kurang lebih bernada sama dari Hyeyoung.

Sungmin dan Nana langsung berpandangan.

“Kau juga disuruh datang ke cafe?” tanya Sungmin. Nana mengangguk.

“Pasti ada sesuatu yang tidak beres di sini!”

~0~

Cafe itu tampak sepi oleh pengunjung. Hanya sekelompok remaja yang tampak sedang menikmati waktu hang out mereka, dan 3 pasang remaja. Salah satu di antara tiga pasang remaja itu tak lain dan tak bukan adalah Kyuhyun dan Hyeyoung. Mereka menunggu Sungmin dan Nana dengan harap-harap-cemas. Ya, hari ini mereka ingin mengatakan secara blak-blakan pada Sungmin dan Nana bahwa mereka akan segera menikah. Dan yang membuat mereka gugup adalah, mereka harus menyakiti hati Sungmin dan Nana!

“Kau punya ide bagaimana cara menyakiti hati mereka?” tanya Hyeyoung.

“Um… sebenarnya ini ide yang cukup gila” balas Kyuhyun.

“Apa oppa?”

“Nanti saja langsung aku laksanakan” jawab Kyuhyun. Tak lama kemudian pintu cafe terbuka dan tampaklah dua sosok remaja yang masuk bersamaan. Mata mereka langsung menangkap keberadaan Kyuhyun dan Hyeyoung.

“Oppa! Bogoshippo!” teriak Nana dan langsung berlari mengahambur pada Kyuhyun. Kyuhyun menelan ludahnya ketika Nana mulai mendekat. Didorongnya tubuh Nana ketiga tangannya terulur untuk memeluk dirinya.

“Op… oppa?” gumam Nana ragu.

“Kyuhyun! Apa yang kau lakukan?” teriak Sungmin, “Hyeyoung-ah! Tolong jelaskan semua ini!” teriak Sungmin.

Hyeyoung menelan ludahnya. Kata-kata yang akan keluar seakan tertelan kembali, “Ak-aku…”

“Dia ingin putus denganmu karena dia mencintaiku!” teriak Kyuhyun cepat kemudian mencium bibir Hyeyoung. Hyeyoung mendelik. Matanya seakan mengisyaratkan, ‘Apa-yang-kau-lakukan-oppa?’ dan Kyuhyun membalasnya dengan tatapan, ‘kau-diam-saja-biar-aku-yang-atur-semua-ini’

Nana membelalakkan matanya selebar yang ia bisa. Tubuhnya terjatuh begitu saja karena lemas.

“KYUHYUN!!!” teriak Sungmin sambil menggebrak meja. Kyuhyun malah semakin memperdalam ciumannya. Sungmin pun menarik kerah bajunya dan menonjok pipinya keras-keras, “Apa yang kau lakukan HAH???” teriaknya.

“Aku? Aku mengatakan dia mencintaiku! Dan itu benar! Iya kan Hyeyoung?” tanya Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Hyeyoung. Hyeyoung mengangguk ragu.

“Mwo? Hyeyoung-ah! Kau tidak sedang bercanda kan?” tanya Sungmin emosi. Hyeyoung menggeleng.

“Hyeyoung-ah…” gumam Nana dengahn mata berkaca-kaca. Sungguh, sebenarnya Hyeyoung tidak tega melihat sahabatnya sedari kecil dalam keadaan seperti itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi!

BUUUGH!

Bogem mentah kembali dilayangkan Sungmin ke wajah Kyuhyun. Berkali-kali hal itu dilakukan Sungmin. Nana mendekat pada Hyeyoung.

“Hyeyoung-ah… kau sedang bercanda kan? Kau tahu kan kalau aku mencintai Kyuhyun oppa? Kalian tidak mungkin saling mencintai kan?” tanya Nana.

“Tapi aku serius, Nana! Aku… benar-benar mencintainya” jawab Hyeyoung. Nana langsung menampar pipinya. Tak peduli mereka menjadi tontonan orang-orang satu cafe.

“CUKUP!!!” teriak Kyuhyun setelah mendapatkan memar di mana-mana. Dan jujur saja, badannya terasa sakit semua, “Tidak ada yang bisa kalian lakukan! Kuharap kalian datang!” teriak Kyuhyun lagi seraya melemparkan surat undangannya ke meja dan mengajak Hyeyoung keluar cafe.

Sekejap Nana langsung jatuh terduduk di kursi yang tadinya ditempati Hyeyoung. Tidak disangka semuanya menjadi seperti ini, “Aku tidak mempercayai semua ini” katanya. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya.

“MEREKA BRENGSEK!!!” Teriak Sungmin. Ia yang biasanya penyabar sekarang menjadi seperti ini. Ini semua karena Kyuhyun dan Hyeyoung.

Tangisan Nana semakin keras. Sungmin menoleh padanya.

“Ayo kita balas dendam pada mereka!” ajaknya. Nana menoleh.

“Ba-bagaimana caranya?” tanyanya.

“Ayo kita menikah!”

.TBC.

Wkwkwk… udah lebih panjang dari part sebelumnya kan readers? Hehehe… semoga kalian tetap setia membaca part-part selanjutnya yaa…

RCL PLEASE!!!!!!