Title: Going Crazy

Author: bangmil

Cast: Sohyun (4minute), L Joe (Teen Top), and other Teen Top members

Genre: Romance

Length: Oneshot

Disclaimer: This fanfic is based on the music video of Teen Top’s Going Crazy, thus if you find same characters and similar plot, obviously it is not a coincidence. Please do respect the author and the story with giving a review even a bit. And last, don’t plagiarize.

Foreword:
Halo semua! Saya kembali dengan songfic dari lagu Teen Top yang judulnya Going Crazy. Setelah searching, ternyata di sini belum ada yang nulis ff tentang Teen Top, juga ff 4minute ternyata sedikit sekali. Harapannya sih, buat yang udah baca, mohon bantuannya untuk komen ya. Sedikit aja juga nggak apa kok, karena saya juga masih baru, masih butuh banyak kritik yang membangun. Jadi siders dosa lho~ hehehe😀
Sorry I’m taking this too long. Done with my foreword, and now happy reading! ^^

***

L Joe’s POV

Tepat di depanku, di jarak lima puluh meter tempatku berjalan, terdapat seorang gadis berambut pendek yang sedang berjalan membelakangiku. Selama perjalanan sepuluh menit ini, aku terus-terusan menatap punggungnya dan menghela nafas berkali-kali.

I need you baby, don’t tell me goodbye
I want you baby, why is love so hard?
Kurasakan kakiku mulai sakit dan pegal. Bukan hanya itu, ingin rasanya aku berteriak sekeras mungkin untuk menghilangkan stress yang berkecamuk di pikiranku sekarang. Tapi bukan karena aku lelah, melainkan karena gemuruh di dadaku yang sudah tidak bisa aku tahan lagi.

“Cheogi,” aku mencoba memanggilnya. Seketika gadis di hadapanku itu menghentikan langkah kakinya. Aku menarik nafas panjang.

“Apa kau mau jadi pacarku?”

Kata-kata itu ikut menggema bersama suara deras aliran Han river. Entah kenapa kalimat tersebut bisa dengan mudahnya meluncur dari bibirku. Padahal saat ini hatiku sedang bertolak belakang, sama sekali belum siap dengan jawaban yang akan kuterima nantinya.

Tik..

Tik..

Tik..

Sudah tiga detik berlalu. Tapi bukan hanya tiga detik, aku merasa penantian ini sudah berlangsung berjam-jam, bahkan bertahun-tahun. Terserah kalian mau bilang aku berlebihan, namun itu yang benar-benar aku rasakan sekarang. Suara kereta pun semakin jelas terdengar, ikut berpacu dengan detak jantungku yang tidak kalah cepatnya.

“Tidak.”

Deg.

Satu kata itu seperti sebuah benda tajam yang menusuk di dadaku, mengoreknya dalam dan membuat lubang yang besar di sana. Rasanya sakit sekali, tapi aku tak sanggup mengaduh. Mulutku terkunci, tak bisa mengatakan sepatah kata pun. Kedua mataku tertuju pada sesosok gadis berambut pendek yang berjalan jauh, dan makin lama makin menghilang dari pandanganku.

Gadis itu.. menolakku. Ya, sudah jelas dia menolakku. Bahkan, ia tak menoleh barang sedikit pun. Sadarlah, Byunghun. Kenapa kau sama sekali tidak siap dengan penolakannya? Kau pikir sebegitu sempurna kah dirimu sampai kau yakin ia akan menerimamu begitu saja? Bodoh. Kau memang bodoh, Byunghun.

Aku berbalik dan mendapati lima orang temanku yang saling berpandangan tanpa mengatakan apapun. Chunji yang menggaruk lehernya kikuk, Niel dan Changjo yang tertunduk, dan Ricky yang mengalihkan pandangannya seolah-olah tidak melihatku. Bahkan Minsoo hyung yang biasanya memberiku saran itu pun ikut terdiam. Ia mengadah ke langit, sembari menutupi wajah dengan kedua tangannya. Wah, daebak. Sepertinya mereka ikut menanggung malu atas kejadian barusan.

Kupalingkan wajahku dan kembali menatap sosok gadis itu. Aku sendiri tidak tahu kata apa yang dapat menggambarkan perasaanku sekarang. Kecewa, sedih, malu dan bingung. Semua itu bercampur aduk menjadi satu.

Kwon Sohyun. Gadis itulah yang sudah membuatku gila, frustasi. Inikah akhir yang harus kudapat? Haruskah aku menyerah di sini?

Please stop stop breaking my heart, I love you girl
Stop stop breaking my heart, I need you girl

Aku menarik nafas panjang. Kupejamkan mata, jemariku mempererat pegangannya pada tas ranselku. Tanpa pikir panjang, kedua kakiku melangkah dan berlari mengejar gadis itu. Tidak. Aku tak boleh menyerah di sini. Aku, Lee Byunghun aka L Joe, tidaklah selemah itu.

Kakiku dengan tidak sabar melangkah masuk ke dalam stasiun kereta. Jika benar, seharusnya Sohyun pergi kesini. Dengan tergesa-gesa, aku berlari menyusuri lorong, sembari mengedarkan pandanganku untuk mencari dimana Sohyun berada. Ah.. sial. Keadaan stasiun yang ramai ini membuatku kesulitan untuk mencarinya.

“Sohyun!” kedua mataku terbelalak begitu sebuah kereta melintas, dengan Sohyun yang ada di dalam sana. Aku mendecih. Dengan segera aku membeli tiket yang sama dengan tujuannya dan terpaksa bersabar menanti kereta selanjutnya.

(flashback)

“Kau kalah lagi!” ujar Chunji setengah berteriak. Wajahnya tampak senang begitu melihat ekspresi kekalahanku.

“Ya, ya.. ini kan mainan keahlianmu.” Aku mengelak dan menyalahkan ketidakberuntunganku ini pada puzzle game yang kami berdua mainkan barusan.

Seperti biasa, hari Minggu ini aku beserta lima orang temanku menghabiskan waktu bersama di Hongdae. Dan sekarang, kami berenam sedang berada di sebuah game centre, tempat langganan kita tiap minggu.

“Ya, Chunji! Kalau berani ayo lawan aku main ini!” Aku menantang Chunji sembari mengarahkan telunjukku pada basket game. Ia tampak ragu, mengingat di antara kami berenam, akulah yang paling mahir di permainan ini.

“Mm.. baiklah. Tapi dengan satu syarat.” Kata Chunji kemudian. Wah, anak ini benar-benar mau menantangku?

“Oke, apa saja.” Jawabku enteng.

“Karena kau terlihat begitu yakin.. kalau aku yang menang, kau harus menuruti semua perintahku.”

Kalau kau yang menang? Haha.. in your dream, Lee Chanhee.

“Boleh, boleh.” Kataku sambil memasukkan koin. Aku tak begitu memperdulikan syarat Chunji, karena aku yakin akulah yang akan menang kali ini.

“L Joe hyung! L Joe hyung!”

“Chunji hyung! Chunji hyung!”

Changjo dan Ricky, dengan penuh semangat kedua maknae itu menyemangati kami berdua. Changjo yang selalu di pihakku, dan Ricky yang setia di pihak Chunji. Sedangkan Minsoo hyung hanya melihat, dan Niel.. tidak ada. Sepertinya ia sedang di toilet.

Hitungan mundur pun dimulai. Begitu menunjukkan angka nol, bola-bola itu mulai meluncur ke arahku. Dengan sigap aku mengambil dan melemparnya ke ring. Menangkap, melempar, menangkap melempar, menangkap, melempar. Begitu seterusnya hingga satu menit usai. Aku menarik nafas panjang dan melihat skorku. Berapa? 72? Lumayan, cukup tinggi untuk mengalahkan Chunji.

“Yahooo!” aku mendengar sorakan dari arah belakang. Aku tersenyum puas. Lihat kan? Sudah pasti aku yang menang! Eit, tapi tunggu, itu bukan suara Changjo, tapi suara Ricky?

Dengan cepat aku menengok skor Chunji dan menyipitkan mataku. Di sana tertulis.. 74? Mwo?? Yang benar saja! Aku.. kalah??

“Assa!” Chunji bertepuk tangan senang sambil melonjak kegirangan. Yah, nasibku hari ini sepertinya memang sedang sial.

“Sudahlah, aku main yang lain saja!” Kataku setengah kesal. Bagaimana tidak? Hari ini aku kalah tiga kali berturut-turut, apalagi pada Chunji. Padahal, kalau misalnya ini adalah turnamen, Chunji itu sudah dipastikan gugur sejak pertama kali main.

Aku pun berbalik dan mendapati game palu yang sepertinya pas untuk aku mainkan. Oh.. boneka-boneka itu mirip Chunji yang sedang mempermainkan aku. Ingin rasanya aku memukulnya dan menyikatnya sampai habis.

Langkahku terhenti begitu ada seorang gadis mendahuluiku. Dengan tidak sabar ia memasukkan beberapa koin, meraih palu plastik, lalu mulai bermain. Untuk sesaat, aku terdiam dan menatapnya. Walaupun rambutnya membuat sebagian wajahnya tertutupi, dengan jelas aku masih bisa melihat ekspresi senangnya ketika palunya tepat mengenai sasaran. Entah kenapa, mataku tak bisa lepas dari sosoknya. Melihat wajahnya yang bahagia, seulas senyum pun ikut mengembang di bibirku.

“Maaf..”

Suara gadis itu menggelitik telingaku. Ah, ia berbicara denganku? Haha, yang benar saja. Sepertinya aku mulai mengkhayal yang tidak-tidak.

“Cheogi..”

Seperti terkena sengatan listrik, aku tersadar kembali dari lamunanku. Aku tersentak begitu sadar bahwa sudah lebih dari lima menit aku memandang gadis itu. Dan ternyata khayalanku tadi adalah kenyataan, melihat sekarang ia berada tepat di hadapanku, dengan wajah bingung.

“Apa kau mau main ini?”

“N-ne?” Kedua mataku membulat begitu mendengar pertanyaannya.

“Sepertinya kau melihatku terus waktu aku bermain tadi. Aku jadi tidak enak.” Lanjutnya kemudian. Hahaha, gadis ini lugu sekali.

“Ah, iya benar. Tidak apa-apa.” Kataku sambil tertawa garing. Dengan sedikit keberanian, aku mengulurkan tanganku padanya. “Ngomong-ngomong, namaku Lee Byunghun, tapi biasa dipanggil L Joe.”

Gadis itu tersenyum dan meraih jabatan tanganku. “Aku Kwon Sohyun.”

Entah kenapa, seperti ada sesuatu yang aneh terasa ketika ia menjabat tanganku. Aku pun berbalik senyum padanya.

“Ah, iya. Silakan bermain. Aku harus segera kembali ke teman-temanku.” Katanya sambil membungkukkan badannya, lalu berjalan ke arah empat orang temannya di pojok sana. Aku hanya menghela nafas, berharap gadis itu tetap di sini sebentar saja.

“Aigoo, hyung! Siapa gadis itu?” Suara Changjo membuatku tersentak, diikuti dengan Ricky dan tiga orang lainnya yang mulai menggodaku. Aku hanya terkekeh pelan mendengarnya.

“Ah, aku tahu!” Chunji tiba-tiba bertepuk tangan dan menepuk pundakku yang terasa kaku. “Cepat minta nomor ponselnya!”

Seketika mataku membulat mendengarnya. “Hah? Kenapa aku harus??”

Chunji memutar bola matanya. “Kau sudah lupa dengan perjanjian kita tadi?”

Ah.. benar juga. Dengan cerobohnya tadi aku menyetujui persyaratan Chunji untuk mengikuti semua perintahnya. Sebenarnya aku tidak ingin, tapi sebagai laki-laki, bagaimana pun juga aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku.

“Cepat, hyung! Kalau tidak dia akan segera pergi!” Changjo menyenggol lenganku. Aku hanya menatapnya dengan pandangan apa-yang-harus-aku-lakukan-changjo-ya.

Palli!” Chunji mulai mendesakku.

“Ya! Kita kan baru sekali bertemu, bagaimana bisa aku langsung meminta nomor ponselnya?” Protesku. Memang benar, dia pasti akan ketakutan. Bagaimana kalau dia mengira aku seorang byuntae*? Aiss.. padahal namaku ini kan Byunghee bukan byuntae! (*pervert, orang mesum)

“Sudahlah hyung, coba saja dulu!” ujar Changjo sambil mendorongku ke arah gadis itu.

Aku pun menarik nafas panjang. Memantapkan langkah kakiku yang semakin lama semakin memperpendek jarak antara aku dengan gadis bernama Sohyun itu.

“Ch-cheogi, Sohyun ssi.” Panggilku dengan hati-hati. Aiss, detak jantungku semakin tidak karuan. Apalagi aku harus meminta nomor ponselnya di hadapan teman-temannya.

Ia pun menoleh. Ia tampak sedikit heran melihatku. “Wae yo? Apa ada yang tertinggal?”

Mata kecil Sohyun membulat ketika aku menyerahkan ponsel milikku tanpa berkata apa pun. Seketika empat orang temannya menyoraki kami berdua. Dapat kulihat Sohyun tersipu malu. Dan yang membuatku lega, bukannya takut, tangannya justru meraih ponselku. Assa!

“I-ini.” Ujarnya pelan sembari mengembalikan ponselku.

Tak dapat kupungkiri, aku tersenyum senang. “Gomawo.”

Sekilas ia membalas senyumku, lalu kembali kepada teman-temannya. Aku pun berbalik, dan mendapati Changjo yang mengarahkan kedua jempolnya padaku sambil tersenyum lebar.

“Hyung, choigo!”

(flashback ends)

Ingatan itu kembali terputar di dalam otakku. Ya, memang benar sejak saat itu kami berdua menjadi dekat. Dan entah keajaiban apa yang diturunkan Tuhan padaku, aku sangat mensyukurinya. Karena ternyata kami berdua sekolah di sekolah yang sama, dan umur kami juga sama.

Sekarang aku sudah berada di Gwangju, kota tempat tinggal Sohyun. Kalau tidak salah, dari stasiun kereta, berjalan dua ratus meter ke kiri, ada halte bus. Dan Sohyun pasti akan kesana karena rumahnya masih lumayan jauh dari stasiun. Jangan tanyakan darimana aku tahu. Sebagai orang yang mencintainya, alamat rumah merupakan basic yang harus aku ketahui kan?

Aku bernafas lega begitu melihat sosok yang aku cari sedang berdiri di halte bus. Ia tampak melamun dengan kedua earphone terpasang di telinganya.

“So–” Panggilku terpotong begitu bus yang ia tunggu datang menjemputnya. Otomatis ia langsung menaikinya dan dengan mudahnya bus itu membawanya pergi dari hadapanku. Refleks aku berlari mengejar laju bus dengan kedua kakiku. Sungguh, otakku tidak bisa berpikir jernih sekarang.

“Sohyun ah!” Tanganku menggedor bus itu, tepat di bagian dimana Sohyun duduk. Tapi dikarenakan musik yang mengalun keras di telinganya, sepertinya ia sama sekali tidak menyadari keberadaanku sekarang.

“Sohyun ah!” aku mencoba menggedor bus itu sekali lagi. Nafasku tersengal-sengal, kakiku sudah tidak kuat, dan tak ada lagi tenaga tersisa untuk berlari. Mau sekeras apapun aku mencoba, hasilnya tetap saja nihil. Dengan keringat yang bercucuran, badanku terkulai lemas dan roboh di jalan.

“Sohyun..” aku hanya bisa mengucap namanya pelan, dan melihat bus itu menghilang dari pandanganku. Ah, sial. Seandainya saja tadi aku lebih cepat satu menit saja, pasti tidak akan begini jadinya. Dan sekarang apa yang harus aku lakukan?

It hasn’t even hit me, since you are not by my side
Every single day by day, it’s like hell to me
It hurts to the point of death, it’s so hard, I’m about to go crazy
What do I do with my heart that you ripped apart?

Mataku tertuju lurus ke depan dan kakiku mulai melangkah lagi, berlari menyusuri trotoar jalan menuju halte bus berikutnya. Karena sekarang sudah jam 11 malam, sudah tidak ada lagi bus yang beroperasi. Mau tak mau, aku harus menyusul Sohyun dengan.. berlari.

Aku tidak boleh menyerah. Kwon Sohyun. Aku harus mendapatkannya.

Drrt Drrt

Ponselku bergetar dan mulai terdengar lagu Going Crazy milik Teen Top. Telepon? Sudah pasti teman-temanku. Masih sambil berlari, aku mengeluarkannya dari saku jeans-ku, dan menekan tombol hijau.

Ya! Neo eodiya?” terdengar suara Minsoo hyung dari seberang sana. Kujauhkan sedikit poselku begitu mendengar suara hyung yang memekakkan telinga.

“Aku.. di Gwangju..” Jawabku di sela-sela nafasku yang tersengal-sengal. Setelah mendengar jawabanku, hyung tiba-tiba terdiam. Tidak terdengar suara apa-apa lagi dari sana. Aku berniat untuk memutus sambungan telepon, tapi niatku terhenti begitu mendengar suara Chunji yang berteriak.

“Jangan berani pulang kalau kau belum berhasil!”

Tut tut tut..

Aku tercengang mendengarnya. Aiss.. seenaknya saja orang itu mematikan telepon.

Seulas senyum terukir di bibirku. Setidaknya aku tahu teman-teman selalu ada di sampingku di saat sedih maupun senang. Yah.. walaupun dengan cara yang seperti itu, tetap saja aku mendapat sedikit tenaga dari mereka.

Berterimakasihlah kepada jalanan yang cukup ramai kendaraan sehingga bus itu melaju dengan tidak begitu cepat. Tapi jujur saja, kakiku pegal sekali. Semua ini gara-gara Sohyun. Ah.. tidak, tidak. Aku tidak boleh menyalahkan gadis itu. Ini salah otakku yang tidak bisa berpikir jernih, dan aku sendiri yang benar-benar sudah dibuat gila olehnya.

Mataku membulat begitu melihat ia turun dari kejauhan. Dengan segera aku mempercepat lariku, berharap ia akan terkejar. Kuamati sosoknya memasuki sebuah gedung yang cukup tinggi, dan aku tidak tahu itu gedung apa. Seingatku ia tidak tinggal di apartemen, tapi.. terserahlah, yang penting sekarang aku harus bicara dengan Sohyun.

Lantai satu.

Lantai dua.

Lantai tiga.

Lantai empat.

Lantai lima.

Aku sudah menyusuri lorong demi lorong gedung ini tapi sosok Sohyun masih belum kutemukan juga. Yang tersisa tinggal atap, dan kalau aku masih belum menemukannya, aku sudah tidak tahu lagi harus mencari kemana setelah ini.

Nafas beratku terdengar begitu menaiki tangga yang menuju atap, ikut menghiasi sunyinya malam. Kedua bola mataku terpaku begitu melihat warna-warni cahaya lampu, juga hiruk pikuk kota yang semua bisa kulihat dari atas sini. Sangat, sangat indah. Tapi.. tak ada artinya kalau tak ada Sohyun disini. Aku menghela nafas panjang. Ya Tuhan.. aku harus mencarinya kemana lagi?

Pabo.”

Aku tersentak begitu mendengar suara yang sangat familiar dari balik punggungku. Seketika aku menoleh, dan mataku membulat begitu mendapati Sohyun yang berjalan perlahan ke arahku.

“Bagaimana mungkin aku bisa menjawab pertanyaan seperti itu di depan teman-temanmu?”

Deg.

Telingaku tak percaya dengan apa yang aku dengar. Bagaimana mungkin ia bisa menjawab pertanyaan seperti itu di depan teman-temanku? Pertanyaan yang.. tadi? Sungguh? Jadi bukannya membenciku, hanya saja dia.. t-tunggu, itu berarti dia juga tidak menolakku kan?

“Kalau begitu..” Kedua mataku tertuju pada Sohyun. “Aku akan tanya sekali lagi.”

Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum menanyakan kalimat itu.

“Apa kau mau jadi pacarku?”

Sing…

Seketika keheningan menyelimuti kami berdua. Aku menggigit bagian bawah bibirku, cemas dengan jawaban yang akan aku dapat.

“Ne..” Sohyun mengangguk pelan dan tersipu malu sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Daebak. Seperti ada sesuatu yang roboh di dalam sini, aku merasa kelegaan yang sangat sangat sangat teramat sangat. Seketika senyum lebar mengembang di bibirku. Perlahan aku berjalan menghampiri Sohyun dan menariknya dalam pelukanku. Rasa lelah akibat perjalanan panjang yang aku tempuh kemari terasa hilang begitu saja hanya dengan anggukan kecil dari gadis pujaanku ini.

Pabo.”

Lagi-lagi Sohyun mengucapkan kata itu, sambil melepaskan dirinya dari pelukanku. Ingin rasanya aku melonjak girang dan berteriak sekencang-kencangnya, melampiaskan kegembiraanku sekarang. Tapi tidak, itu tidak kulakukan. Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal, dan tersenyum-senyum sendiri seperti orang kurang waras.

Kulirik Sohyun yang juga sama sepertiku. Ia tampak tersipu, senyum tipis terlihat dari bibir mungilnya. Perlahan aku meraih kedua pundaknya, memperpendek jarak di antara kami berdua. Aku menatapnya dalam dan mengecup dahinya pelan.

“Gomawo..”

***

“Sudah siap?” Tanyaku padanya. Tidak terasa sudah dua bulan kami bersama, dan sekarang kami sedang menikmati kencan kami di hari minggu seperti biasa.

Pabo. Apanya yang siap?” Ia memukul bahuku pelan. Aku hanya terkekeh mendengarnya. Sepertinya ia senang sekali menyebutku pabo.

Kurasakan kedua tangannya memeluk pinggangku erat. Entah kenapa setiap kali kami berdua bersentuhan, di dalam dadaku rasanya ada yang mendidih. Bukan hal yang buruk sih sebenarnya. Aku cukup menikmatinya kok, hehe.

Selesai dengan imajinasiku, tangan kananku mulai memutar gas motor besar bergaya harley davidson ini, dan suara starter pun mulai terdengar.

“Sst, hei lihat mereka berdua..”

“Apa yang sedang mereka lakukan?”

“Ih, pasangan yang aneh..”

“Iya..”

Aku terkekeh mendengar kasak-kusuk tersebut. Setiap orang yang melintasi kami, tak ada satupun dari mereka yang tidak mengerutkan alis, memandang kami berdua aneh, dan berbisik satu sama lain. Rasanya mereka seperti melihat orang gila atau semacamnya.

Sekarang aku minta pendapat kalian saja.

Apa yang akan kalian pikirkan, jika kalian melihat dua orang berboncengan selayaknya sepasang kekasih, menaiki game balap motor di game centre? Apa itu bisa dikategorikan gila?

Well.. jika iya, mungkin aku dan Sohyun memang pantas dibilang seperti itu, hahaha. Setidaknya ini adalah cara kami berdua untuk menikmati kencan kami. Cukup unik kan? Hahaha.

Whoops, bye. Aku tak mau melewatkan minggu yang indah ini bersama Kwon Sohyun, kekasihku.

(Fin.)