Scribble (Sequel Absolute Music and Art)

Author: Thirteencatyas

Main cast: Lee Joon

Other cast: Heo Sunmi

Length: Oneshoot

Genre: Romantic

 

Annyeonghaseo, kembali lagi dengan sequel Absolute Music and Art ^^ setelah beberapa kali liat komen2 yang mendukung di chapter terakhir, akhirnya kau memutuskan untuk membuat sequel. Semoga menghibur ^^

 

—-

 

Aku tidak ingin kau memendamnya lagi, sudah cukup 2 tahun kamu menunggu. Jangan lebih lama lagi

 

Kata terakhir yang kuucapkan kepada Dain, kata terakhir untuk mengubur semua perasaanku padanya, kata terakhir yang terlontar didepan wajahnya yang bercucuran airmata. Tidak terasa sudah 1 tahun lamanya sejak aku pergi dari Seoul, dan kini kurasakan sedikit rindu terhadap Dain, terhadap semua teman-teman disana.

“Changsun-ah…. Kemarilah.” Panggil ahbuji di ruang makan, “Sudah makan siang? Kalau belum, mari makan bersamaku.”

Aku menuruti perkataan ahbuji dan duduk bersamanya, kira-kira….. apa yang akan beliau bicarakan kali ini? umma tidak ada dirumah jadi aku yakin dia ingin bicara empat mata denganku.

“Bagaimana kuliahmu di kampus baru, tidak berbeda jauh kan dengan yang dulu?” Tanya ahbuji menyendokkan sup tahu ke piringku, “Aku tak percaya kamu rela meninggalkan kampus lamamu dan kembali bersama kami, aku harap kamu sudah yakin saat itu.”

“Ahbuji, aku melakukan semuanya karena aku yakin.” Jawabku tersenyum canggung, “Lagipula dikampus baru lebih menyenangkan. Teman-teman disana ramah dan kompak, aku bisa berbaur lebih baik dari yang dulu.”

Beliau menganggukkan kepala sembari menikmati makanan yang ada di piringnya, “Kamu bertemu dengan yeoja yang menarik bagimu disini?”

“Belum sampai sekarang ahbuji, mungkin di semester berikutnya aku akan menemukan di kumpulan juniorku, ahahahahaha.” Pembicaraan apa ini? tumben sekali beliau menanyakan hal tersebut.

“Hahahaha memang benar seharusnya kita hidup untuk menuntut ilmu, tapi tidak heran kan kalau sebagai namja kita harus mencari wanita wanita yang menarik?” ucap ahbuji, “Lagipula umurmu sudah mulai masuk ke masa dimana kamu harus mencari pendamping hidup nak.”

“Ahbuji, aku kan masih 24 tahun. Masih lama perjalanan dalam meniti karierku, masalah itu masih dalam urutan yang kesekian.” Protesku, “Toh kalau memang sudah takdirnya, aku akan menemukan pendamping hidupku kan?”

Beliau mengangguk sambil menaruh piring kotor di tempat cuci piring, “Hanya sebuah saran dari ahbuji-mu yang sudah semakin tua ini. kamu boleh menurutinya, atau mengacuhkannya seperti dulu kau mengacuhkan nasehat-nasehatku semasa kecil.”

“Aku sudah dewasa ahbuji, sudah saatnya mendengarkanmu ataupun umma. Siapa lagi yang bisa menasehati aku kalau bukan kalian?” jawabku.

 

 

From: Park Sanghyun

 

Lee Joon hyung, apa kabarmu?

 

Siang ini aku mendapat pesan dari Cheondung. Tak kusangka ia masih ingat padaku

 

To: Park Sanghyun

 

Keadaan disini baik-baik saja, aku jd sophomore smster 5 thn ini. bgaimana dgnmu dan Shinmi?

 

Saat aku mengirim pesan ke Cheondung, aku memergoki seorang yeoja dengan pakaian ospek terkejut melihatku dan hendak kabur. Ia tampak membawa buku dan alat tulis.

“Yak, jangan kabur kau~!! Kemari sini.” Aku meneriakinya dari kejauhan dan sukses membuatnya membatu. Aku menghampiri anak itu dan bertanya padanya, “Siapa namamu? Kenapa kau tidak mengikuti ospek dan malah menguntitku sekarang?”

“Yak, aku tidak menguntitmu sunbaenim…..” jawab anak itu dengan wajah yang memerah, ia memperlihatkan sesuatu kepadaku, “Lihat ini…. aku berusaha menggambar wajahmu sebagai tokoh kartun, tapi…. Aku tidak berhasil karena wajahmu terlalu serius tadi.”

Gambar, sketsa, lukisan? Kenapa rasanya aku seperti….. “anu, tadi kan aku tanya namamu. Siapa hei?”

“Ah…. Namaku jelek, tidak usah disebut sebut,” jawab yeoja itu santai, “Aku mahasiswa baru jurusan desain grafis, memangnya kenapa?”

“Yak, kan aku tanya namamu bukan jurusanmu~” ujarku kesal, “Pelit sekali kau jadi manusia.”

“Eiiiiiish aku paling tidak suka deh dipanggil pelit. Kurae kurae, namaku Heo Sunmi. Jelek kan? Aneh kan?” ucap yeoja itu jutek, “Aku bosan ikut ospek disini, lebih baik aku berkelana mencari orang-orang dengan wajah unik lalu menggambarnya dalam bentuk kartun.” Celotehnya, “Kau suka komik, aku suka sekali~ makanya aku masuk desain grafis supaya bisa jadi mereka-mereka.”

Eh, kenapa anak ini cerewet sekali, mana jutek pula -_- “Mau tidak mau, kau harus mengikutinya karena itu perintah dari fakultas. Jangan membandel seperti sekarang ini dong, kau kan bukan anak SMA lagi.”

“Yeah… banyak orang bilang begitu. Tapi aku tidak bisa melakukannya karena orangtuaku bilang; buatlah hidupku sebebas mungkin karena aku adalah calon seniman.” Jawabnya cuek, “Nah, sudah jadi nih wajah kartunmu. Kalau kulihat-lihat sepertinya sunbaenim butuh lebih banyak hiburan, tuh lihat kan garis kerut di dahimu. Itu karena kau terlalu banyak pikiran.”

Tiba-tiba yeoja itu pergi tanpa suara, meninggalkan secarik kertas berisi gambar kartun yang terlihat seperti…. Aku. Aku yang sedang mencibirkan bibir dengan mata menyipit dan garis kerut di dahi, benarkah aku terlalu banyak pikiran sampai-sampai dahiku seperti ini?

Kupicingkan mata melihat sudut pinggir kertas tersebut, ada sebuah tulisan kecil disana. “Heo Sunmi…. Wah, bahkan kertas ini mencetak alamat rumahnya. Terbukti sekali kalau ia membuat buku sketsanya sendiri, baiklah…. Mungkin lain kali aku akan mengunjunginya.”

Kulipat kecil-kecil kertas itu didalam dompetku sembari aku membaca pesan balasan dari Cheondung

 

From: Park Sanghyun

 

Aku dan Shinmi baik2 saja ^^ semoga hari ini kt mndpt kberuntungan yang baik ya

 

Cheondung-ah…. Sepertinya hari ini adalah awal yang baik sekaligus buruk.

Lihat, bahkan tuhan mempertemukan aku dengan yeoja yang mirip sekali dengan dia, Hwang Dain.

 

 

“Eo? Sunbaenim yang waktu itu. Kenapa bisa tahu rumahku disini?” tanya Sunmi yang ternyata ada dibelakangku, di tampak membawa gitar dibelakang punggungnya.

“Well… tentu saja dari kertas yang kauberikan untukku.” Jawabku canggung, “Seakan-akan kau sengaja memberikannya untukku supaya aku bisa mengunjungimu.”

“Eiiiiii kertas dengan alamat itu bukan aku yang membuatnya, percetakan milik umma-ku yang membuatnya.” Jelas Sunmi, “Ini hadiah ulang tahunku yang ke 17, tapi aku belum sempat memakainya. Baru kali ini aku menggunakannya untuk membuat desain. Kau mau main kerumahku sebentar?”

“Ah tidak usah…. Aku merasa malu karena kita baru kenal, tapi aku sudah main kerumahmu tanpa ijin.” Ujarku minder, “Lagipula kau belum tahu namaku sudah mengajak main kerumah, kau tidak tahu bahaya ya?”

Sunmi menggaruk garuk kepalanya bingung, “Iya, aku lupa menanyakan siapa namamu. Yah begitulah dunia seorang seniman, penuh dengan resiko kan? Rasanya seperti aku bisa mengucapkan kata ‘resiko’ atau ‘bahaya’ saja.”

Sungguh, yeoja ini benar-benar aneh, “Kau tidak mau tahu namaku siapa?”

“Hahahahah biarkan saja waktu yang memberitahu aku tentang namamu, sunbaenim.” Jawab Sunmi penuh misteri, namun langsung merubah ekspresi wajahnya secara tiba-tiba, “Aku sudah tahu namamu kok, tertulis manis di depan tasmu.”

Ah iya, aku kan menulis LEE JOON (LEE CHANGSUN) besar-besar di nametag yang menggantung di tasku. Kenapa aku bisa lupa? “Kalau begitu, panggil aku Lee Joon saja ya?”

Sunmi mengangguk cuek sambil membuka pagarnya, “Aku baru saja pulang dari les gitar dan hendak pergi ke apartemenku, bagaimana kalau kau pergi mengunjungi apartemenku saja? Disana tidak ada siapa-siapa kok.”

Belum aku menjawab ajakannya, tiba-tiba ia sudah menghilang ke dalam rumah. Untung dia cepat kembali, kali ini dia sudah ganti baju dan sepertinya sudah mandi karena wangi tubuhnya harum sekali.

“Jadi…. Kamu mau ikut atau tidak?” tanyanya cuek, “Disana banyak hal yang bisa membuatmu terhibur dan menghilangkan kerutan di dahimu.”

Eish, kenapa dia membicarakan dahiku lagi? -_-

 

 

“Nah, selamat datang.” Ucapnya sambil membuka pintu. Apartemen yang ia singgahi lumayan besar dengan banyak gambar kartun mengisi dinding kamar yang juga indah dan aku yakin bukan buatan seorang tukang cat biasa.

“Kamar ini, apa kau sendiri yang mendesainnya?” tanyaku penasaran. “Memangnya boleh sama penghuni tetapnya?”

“Boleh-boleh saja, toh pemilik apartemen ini adalah saudaraku.” Jawabnya lagi-lagi dengan wajah yang cuek. “Masalah dinding…… memang aku yang desain. Cat dinding satu warna itu sudah biasa, makanya aku buat hal yang berbeda.”

Aku manggut manggut bodoh mendengar penjelasan anak itu, jiwanya memang sudah seperti seorang seniman. Dimana mana ada lukisan, dimana mana ada boneka kartun, dan dimana mana ada desain buatannya. Mirip sekali dengan Dain.

“Aku tahu sunbae terpesona dengan semua yang ada disini, tapi paling tidak duduklah dan pesan satu minuman.” Ucap Sunmi memecah lamunanku, “Aku punya banyak game, komik dan film kartun. Silahkan dilihat-lihat tapi jangan berantakan ya. Aku mau bikin minum dulu.”

Bahkan saking banyaknya game, komik dan film….. aku tak sudi untuk menyentuhnya karena mereka ditata dengan sangat rapih; tak ada debu satupun yang menempel disela sela-nya.

“Aku cuma punya coklat hangat di dapur, tidak apa-apa kan?” tanya Sunmi yang kembali dengan dua mug isi coklat berukuran besar, “Aku lupa belanja, selain itu aku tidak suka minuman lain selain coklat, susu dan air putih. Minum sirup pun kalau orangtuaku sedang menengok saja.”

Astaga, kenapa anak ini cerewet sekali sih? “Gomawo untuk coklatnya, cocok untuk musim dingin yang berangin ini.” ucapku menyeruput coklat disusul olehnya, terlihat bekas coklat yang menempel di bibir atasnya. Hah….. ingin sekali kuseka bibirnya, tapi nanti bisa menimbulkan salah pa…
“Sunbaenim,” panggil Sunmi, “Ada…. Bekas coklat di bibirmu.”

Tiba-tiba Sunmi maju dan menempelkan tangannya di bibirku, aku yang terkejut otomatis mundur. Namun tak sengaja aku terpeleset sehingga posisiku tertidur dan Sunmi….. berada diatasku.

“Eh?” ungkapnya bingung, wajahnya tak berubah sama sekali, yang ada malah wajahku yang memerah karena malu. “Aigo ya…. Coklat milikmu tumpah sunbaenim, mengenai bajumu.”

Ia bangkit mengambil lap untuk membersihkan lantai dan mengambil jaket untuk mengganti bajuku yang terkena noda, “Bajunya aku taruh di kantong plastik di dekat pintu, jangan lupa dibawa ya nanti.”

“Nee…. Gomawo,” jawabku sambil memegangi mug isi coklat yang dibuat lagi oleh Sunmi, “Mian… kamu jadi repot karenaku.”

Sunmi tersenyum polos dan berkata, “Apartemen ini belum pernah kutunjukkan oleh siapapun karena aku tidak yakin ada orang yang terkagum kagum sepertimu saat melihatnya, Joon sunbae.”

Yeoja ini benar-benar tak dapat kumengerti, mungkin aku harus menjauhinya pelan-pelan.

 

 

“Dain yang lain? Maksudnya bagaimana?” tanya Cheondung, kali ini aku memberanikan diri untuk menelponnya karena aku sudah tidak tahan lagi. Hidupku jungkir balik sejak mengenal Sunmi, itu juga karena sebuah alasan; ia bagaikan bayangan Dain yang menghantuiku kembali. Aku takut melanggar janjiku, aku takut rasa cinta ini akan bangkit kembali karena… semuanya akan percuma. Pada akhirnya aku hanya seorang sahabat bagi Dain, aku tidak bisa kembali ke masa lalu.

“Ia mirip dengan Dain, Cheondung-ah. Namanya Heo Sunmi.” Jelasku pelan-pelan. “Dia juga suka menggambar, mengingatkanku pada Dain-sshi.”

“Lalu memangnya kenapa kalau kau ingat lagi dengannya hyung?” tanya Cheondung polos, “Itu bukan sebuah kesalahan kok, lagipula kalau kau bersedia….. aku bisa bilang ke Dain kalau kau merindukannya.”

“Maldo andwae….” Jawabku panik, “Aku sudah janji pada diriku sendiri untuk tidak kembali ke masa lalu, tapi anak itu….. ia bagai menarikku kembali Cheondung-ah. Apa yang harus kulakukan untuk membuatnya menjauhiku?”

Kudengar suara Cheondung yang mulai kesal dengan curhatanku, “sebenarnya apa motifmu menjauhinya? Aku yakin pasti ada alasan yang lebih spesifik. Carilah alasan itu pelan-pelan dengan kepala dingin dan hati yang terbuka, nanti kalau sudah tahu baru beritahu aku. Arrajie?”

Cheondung menutup pembicaraan ketika aku menemukan Sunmi sedang sedang berbaring di taman kampus yang penuh dengan salju.

“Yak, kau ini bodoh atau apa? Kenapa tiduran disini?” aku menghampiri Sunmi, tapi ia tidak menjawab pertanyaanku dan tetap diam

“Hei, kamu ini kenap…….. yak, badanmu panas sekali~!!!” aku panik ketika menyentuh tangan Sunmi yang ternyata begitu panas, wajahnya merah sekali dan nafasnya mengepul di udara dingin.

“Eo, sunbaenim….. syukurlah ada yang menemukanku disini. Tubuhku sudah tidak kuat lagi berjalan.” Ternyata anak ini masih sadar sembari membuka matanya, “Tolong bawa aku ke apartemen, aku punya obat penurun panas. Jadi jangan bawa aku ke dokter oke?”

Tanpa banyak bicara, kugendong Sunmi dan segera membawanya ke apartemen. Kurebahkan ia di tempat tidur lalu kusiapkan air dingin untuk mengompres dahinya.

“Babo aniiya? Apa yang akan kau lakukan sampai-sampai kau tertidur di taman seperti tadi?” tanyaku khawatir.

“Emmmmmm aku mau kuliah karena ada mata kuliah yang aku sukai hari ini. tapi badanku semakin panas setiap satu langkah kuberjalan, makanya aku tiduran di salju supaya panasnya hilang.” Jelas Sunmi. Astaga…. Anak ini gila apa bodoh sih?

“Lalu…. Lalu kenapa kau tidak mau dibawa kerumah sakit? Penyakitmu mungkin saja lebih parah dari yang kamu ketahui.”

Sunmi menggeleng pelan, “Seandainya ke rumah sakit bisa membuat kesibukan orangtua ku sirna, mungkin aku akan pergi kesana. Tapi…. Rasanya sia-sia saja.” Jawabnya. Kurasakan lengannya yang panas merangkul lenganku lembut, “Lebih baik seperti sekarang….. rasanya lebih tenang dan mungkin bisa lebih cepat sembuh kalau seperti ini.”

Jantungku berdebar kencang, lagi-lagi kenanganku bersama Dain terputar lagi. Teringat ketika ia diserang oleh kawanan peneror dan buku sketsanya dihancurkan, aku yang membawanya pulang dan menjaganya semalaman. Aku selalu menemaninya disaat ia sendirian…. Disaat ia butuh seseroang disampingnya.

“Joon sunbae….. gwenchana?” terdengar suara Sunmi yang pelan dan lirih, “Kajima.”

Wajahku merona lagi melihat sosok yeoja yang dilihat dari luar mungkin terlihat cuek dan misterius… tapi sebenarnya punya jiwa yang luar biasa kreatif, sekaligus kesepian.

“Nee… aku tidak kemana mana kok.” Jawabku sambil membetulkan posisi dudukku disampingnya. Ingin rasanya kucium dahi kecil yang hangat itu, namun….. aku tak bisa melakukannya.

 

 

 

Satu minggu kemudian

 

“Sunbaenim… gomawo untuk yang waktu itu, sepertinya aku harus sering-sering mengajakmu main ke apartemenku.” Pagi ini Sunmi menyapaku yang kebetulan lewat di depan kampusnya, “Hari ini ada kuliah?”

“Anii…. Hari ini aku ada undangan ke jurusan music untuk menghadiri pertunjukkan yang dikolaborasikan dengan seni tari.” Jawabku antusias, “aku sebagai senat dari jurusan tari tentu saja harus menghadirinya.”

Sunmi memberikan selembar kertas padaku, “Mampirlah ke stand ku kalau sempat. Bulan ini sedang ada pekan raya seni, jadi jurusan desain grafis bekerja sama dengan jurusan animasi dan jurusan lukis untuk membuka festival, dijamin kau tidak akan bosan melihat lihat.”

Pekan raya seni,…… membuatku teringat kembali saat Dain menyuruhku datang ke stand-nya dan aku sibuk mencuri waktu latihan pementasan untuk-nya.

“Ngomong-ngomong….. pementasannya sudah mulai kan? Ppali, nanti terlambat.” Ujar Sunmi sembari mendorong punggungku menuju ruang teater.

Saat aku sampai di teater, para penonton sudah ramai memenuhi ruangan. Aku yang datang terlambat harus sibuk mencari tempat duduk agar aku bisa melihat pertunjukan dengan puas.

“Lee Changsun-sshi… silahkan disini, kita sudah menyiapkan tempat untuk para senat menonton.” Seseorang memanggil dan menyuruhku untuk duduk didepan.  Aku menonton pertunjukkan tersebut dengan antusias dan bangga karena generasi muda sekarang mampu memadumadankan budaya Negara dan budaya dari luar negeri. Semoga saja lebih banyak kreatifitas yang muncul setelah adanya pertunjukkan ini.

“Changsun-sshi…. Mari saya perkenalkan dengan senat dari universitas lain.” Sahut ketua dekan jurusan tari yang sudah akrab denganku, “berikut adalah senat senat dari fakultas seni universitas C dan universitas M, kebetulan semua senat tidak berhalangan datang hari ini.”

Jakkaman…. Fakultas M? “Berikut adalah senat dari jurusan seni pahat, seni tembikar dan seni lukis.”

Aku termagu melihat apa yang ada di depan mataku, senat dari fakultas lukis universitas M. terlihat nama yang terpampang jelas pada nametag yang tergantung di lehernya, HWANG DAIN

“Loh….. Joon sunbae?” tanya yeoja itu dengan wajah yang tidak percaya, “Apakah ini kamu, Joon sunbae?”

 

 

“Eo, siapa ini sunbaenim?” tanya Sunmi begitu ia melihatku bersama Dain yang menghampiri stand pameran jurusan seni.

“Ini adalah kawan lamaku, Hwang Dain. Dia dari Universitas M.” ujarku memperkenalkan Dain kepada Sunmi, “Kau harus lihat karya yang terpajang dikamarnya, semua lukisan yang ia buat bagaikan sebuah potret nyata, nak.”

“Kamu terlalu berlebihan Joon sunbae, well…. Aku memanggilnya sunbae karena dia lebih tua dariku em…. Siapa namamu tadi?” tanya Dain, lalu Sunmi menjawabnya dengan ‘Heo Sunmi.’ “Oh waw…. Semua desain grafis buatanmu benar-benar bagus dan penuh warna ya, oh iya kamu suka menggambar kartun ya? Lihat wajah ini, begitu lucu. Hehehehehe kamu cerdas sekali, sudah semester berapa?”

“Aku em….. baru semester 1.” Jawab Sunmi singkat, “Permisi….. aku mau pergi sebentar.”

Aku terheran heran melihat tingkah Sunmi yang tidak biasa, “Hahahah biasanya dia lebih cerewet kalau sedang bersamaku, tapi tumben hari ini dia bicara sedikit. Mungkin dia masih dalam tahap penyembuhan.”

“Oh…. Memangnya dia sakit apa? Kelihatannya ia sehat-sehat saja tadi.” Tanya Dain sambil melihat lihat pameran, “Jadi teringat satu tahun yang lalu saat aku jaga stand di pameran, rindu sekali.”

Aku juga merindukan saat saat kita bersama, Hwang Dain, batinku. “Kamu mau pergi kemana lagi? Nanti aku temani deh sembari menunggu Sunmi disini. Em permisi, Sunmi masih lama tidak ya?” tanyaku pada seorang penjaga stand, tapi yang kudengar adalah…

“Loh, Sunmi kan baru saja tadi pulang. Sunbaenim tidak lihat dia bawa tas dan semua barang bawaannya?”

Ah sialan, karena terlalu rindu oleh Dain… aku sampai tak sadar kalau aku ditinggal oleh anak itu, “Oh baiklah terima kasih, lalu kita mau kemana Dain-sshi?”

“Mungkin aku akan kembali ke rombonganku…. Soalnya sebentar lagi Seungho oppa akan menjemputku disini, dia pasti akan senang kalau melihatmu disini Joon sunbae.” Ucap Dain, “Kau mau menemui dia?”

Aku menggeleng ragu. Tidak, aku tidak akan mau mengingat ingat lagi kenangan tentang cinta segitiga kami. “Aku harus pergi Dain-sshi…. Selamat tinggal.”

Aku pergi meninggalkan Dain meluncur ke apartemen Sunmi, entah kenapa aku merasa kalau ia akan marah denganku. Jadi aku hendak memastikan kalau ia baik-baik saja.

Clek…… pintu apartemennya tidak dikunci dan kosong, tidak ada siapapun disana.

“Sunmi-ya…. Sunmi-ya, kau ada dirumah?” panggilku. Kucek semua ruangan yang ada hingga akhirnya aku menemukan dia di kamarnya; sedang tertidur dengan lagu aneh melantun dari radionya….

 

Myeochirina dwaenneunji amureon gieokdo motae
Modeunge huimihande wae neoman seonmyeonghangeonji

Gaseume(gaseume nae gaseum)
Nae gaseume(gaseume niga isseume)
Ppaegokhi geudaeman sseoinneunde

Eotteokhae(eotteokhae nan eotteokhae)
Na eotteokhae(eotteokhae nan mot jiunde)
Neol jiuran geonji geureoke nan, oh nan… motae

“Sunmi-ya…. Kamu tidak apa-apa kan?” tanyaku was-was. “Apa kamu merasa tidak enak badan lagi?”

Begitu aku membuka selimutnya, kutemukan wajah Sunmi yang merah padam dengan mata berkaca-kaca, “Kupikir kau masih bersama yeoja itu, sunbaenim.”

“Anii… dia sudah kembali bersama rombongannya. Ngomong-ngomong….. kenapa wajahmu merah padam begini?” tanyaku sambil memegang pipinya, “Tidak hangat kok, temperaturnya normal.”

Tak kusangka Sunmi menepis tanganku pelan dan kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur, “Aku menahan napas biar kamu tidak mengetahui keberadaanku disini.”

Aku tertegun mendengar jawabannya barusan, “Kamu ini bodoh atau apa sih? Kamu marah padaku atau bagaimana, kenapa kau melakukan hal seperti itu eo? Kamu mau mati ya??”

“Iya…. Karena semua usahaku rasanya sia-sia saat melihatmu tadi bersama dengan yeoja itu.” Jawab Sunmi dengan suara yang terpendam, “Aku merasa kalah, karena aku tahu kalau yeoja itu adalah wanita yang kau sukai selama ini.”

Jantungku langsung berdebar debar mendengar perkataan Sunmi, “Heh? Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu??”

“Pandangan matamu itu, sunbaenim…. Bahkan orang yang tidak mengenalmu bisa melihatnya~” jelas Sunmi, “Aku takut…. Aku takut kamu tidak ada untukku lagi sunbaenim. Apa kamu tidak merasa? Sejak awal aku sudah menyukaimu, sunbaenim babo~~”

Aku terlongo lagi, jadi…. Sejak awal dia sudah…. “Aku sengaja memberikan kertas itu agar kau tahu dimana aku tinggal, agar aku bisa berbagi denganmu. Karena selama ini aku tidak punya orangtua yang ada untuk memperhatikan atau memuji semua kreatifitasku, karena aku tidak punya teman yang mau mengerti semua obsesiku. Sejak pertama kali aku melihatmu… aku percaya kalau sunbaenim bisa kupercaya.”

Kini aku mengerti kenapa aku begitu khawatir saat pertama kali mengenal Sunmi; aku takut membayangkan kalau dirinya adalah Dain, aku takut bukan menganggapnya sebagai Heo Sunmi melainkan Hwang Dain dan membuat dirinya terluka.

Tapi….. tadi aku sudah mengucapkan selamat tinggal, jadi semua beban sudah terlepas kan?

“Yak….. coba menengok kesini, tunjukkan dirimu yang mencoba sembunyi dariku,” ujarku sambil menarik narik tangannya.

“mwoya?” tanyanya gusar, “Kenapa kamu harus meledekku seperti…..” CUP! Kucium dahinya lembut saat ia sudah menunjukkan wajahnya.

“Yak…… apa yang kau lakukan huh?” tanyanya dengan wajah yang lebih merah dari yang barusan, “Jangan bilang kalau sunbaenim sengaja melakukannya supaya aku senang?”

Aku mengangkat tubuh Sunmi hingga ia terduduk dan menatapinya dalam-dalam, “Sebenarnya….. aku mau menciummu sejak kau demam waktu itu. Saat itu sih…. Aku memang tidak bisa, tapi sekarang aku bisa melakukannya kapan saja kan?”

Sunmi diam saja sambil menatapku dengan mata besarnya. Menggemaskan, rasanya aku ingin menciumnya…..

Aku melirik kearah bibirnya dan mencondongkan wajahku kearah wajahnya, jantungku berdebar debar dan kupejamkan mataku..

“Eissssh panas sekali disini, aku mau lemon tea dingin~!!” tiba-tiba Sunmi mendorong wajahku dengan tangannya, lalu pergi ke dapur.

Hemmm sepertinya tidak mudah menjadi pasangan seorang calon seniman sejati karena mereka begitu abstrak; tak mudah ditebak ^^;;