Title : My Fake Ordinary Wife (part5)

Author : Lumie91

Main Cast : Kim Jongwoon/Yesung(Super Junior), Shin Hyeni (OC), Park Yunhee(OC), Lee Hongki(FT Island)

Support Cast : Lee Hyukjae, Lee Eunri, Lee Donghae, Shim Changmin, Kim Yoojin/Uee

Rating : G

Genre : romance, comedy, drama

Ps : Author masih baru di bidang per ff-an. Ini adalah ff pertama author dan author sendiri baru belajar nulis ff. Kalau ada kemiripan tokoh, cerita, latar, dll, author mohon maaf karena tidak disengaja karena author gak tahu apa-apa. Gomawo~ ff ini udah author publish di blog author yang baru ajah di buat belum lama ini (http://lumie91.wordpress.com )

Disclaim : ff ini murni buatan dan hasil pikiran author sendiri yang dibuat dengan susah payah, tolong dihargai dengan tidak memplagiatnya yah… ^^

 

Hyeni POV

 

Namja bernama Yesung itu pasti otaknya sudah tidak waras. Dia sudah benar-benar gila. Seenaknya saja memintaku untuk menikah dengannya. Mengenalnya saja tidak. Selain itu kesan pertamaku padanya benar-benar buruk, sekalipun wajahnya tampan dan suaranya juga sangat indah, tapi aku tidak akan pernah mau menikah dengannya. Dia adalah namja teraneh yang pernah kutemui dalam hidupku.

 

Malam pun tiba, aku duduk di lantai rumahku sambil merenggangkan kakiku yang masih sedikit terasa sakit. Hongki~ah, tiba-tiba aku teringat padanya. Hari ini kami baru saja mulai berteman, tapi dia tega membohongiku. Mengapa ia tidak mengatakan bahwa ia adalah anak pemilik perusahaan tempatku bekerja? Dia adalah bosku.

 

Ponselku berdering, aku segera mencari-cari ponselku yang kuletakkan entah di mana. Nomor yang tidak kukenal. Siapa yang menelponku malam-malam begini.

 

“Yeoboseyo?” ujarku ketika mengangkat telpon yang telah lama berdering itu.

“Hyeni~ah,” panggil suara yang tidak asing ditelingaku.

 

“Hongki~ah?? Ah, ani.. tidak sopan aku memanggilmu seperti itu,” aku mengoreksi ucapanku.

 

“Hyeni~ah, jeongmal mianhe. Aku salah karena tidak memberitahumu siapa aku sebenarnya,” suara Hongki terdengar penuh penyesalan.

 

Aku tidak tahu harus berkata apa. Kami berdua hanya terdiam selama beberapa saat.

 

“Hyeni~ah, jaebal. Jangan marah padaku atau membenciku. Aku ingin kita tetap berteman. Bukankah status tidaklah penting dalam sebuah pertemanan?” ujarnya lagi.

 

“Tapi…”

 

“Jaebal, Hyeni~ah. Aku senang mempunyai teman sepertimu. Aku tidak ingin kau marah padaku dan menjauhiku. Maukah kau memaafkanku dan tetap menjadi temanku?” tanyanya lagi.

 

“Ne…” jawabku ragu-ragu pada akhirnya.

 

“Hongki~ah,” katanya di seberang telpon, “Panggil aku Hongki~ah.”

 

“Ne, Hongki~ah.”

 

***

 

Jongwoon POV

 

Kuparkirkan mobilku di tepi jalan lokasi perumahan sederhana, anii, bahkan cukup kumuh menurutku. Aku memandang ke salah satu pintu rumah yang kuyakini adalah rumahnya. Siapa lagi kalau bukan yeoja gila bernama Shin Hyeni.

 

Sudah lebih dari lima belas menit aku menunggu di depan rumahnya, namun yeoja gila itu belum menampakkan dirinya. Bukankah ia harus berangkat ke kantor? Cih, baru juga dua hari ia bekerja, dan sekarang ia sudah terlambat.

 

Setelah hampir bosan menunggu, kulihat yeoja gila itu keluar dari pintu rumahnya dengan langkah terburu-buru. Ia mengunci pintu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sibuk menarik bagian belakang sepatunya yang belum terpakai dengan benar. Kuperhatikan tingkahnya selama beberapa detik, sebelum memutuskan untuk keluar dari mobil dan menemuinya. Tujuanku sudah jelas, untuk meminta, anii, menyuruhnya setuju untuk menikah, anii, pura-pura menikah denganku. Ah, bahkan aku sulit menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan maksudku saat ini.

 

“Annyeong, nona Shin Hyeni,” sapaku ramah ketika bediri di belakangnya. Dapat kulihat ia terkejut dengan kehadiranku, tapi aku tidak peduli. Kupasang senyum di wajahku yang tampan, lihatlah Shin Hyeni, kurasa kau benar-benar gila kalau tidak terpikat dengan ketampananku.

 

Dan kuputuskan yeoja di hadapanku ini memang benar-benar sangat gila, bukannya terkagum-kagum melihatku, atau setidaknya membalas sapaanku, ia malah berlalu begitu saja. Berjalan melaluiku seolah aku ini tembus padang dan ia tidak bisa melihatku.

 

“Yaa!! Yeoja gila!!” teriakku memanggilnya, untung hari masih pagi dan daerah ini masih sangat sepi sehingga tidak ada yang mendengarku berteriak sekencang itu.

 

Yeoja gila itu masih berjalan seolah tidak mendengar teriakkanku yang memanggilnya. Kekesalanku memuncak, kupanggil dia dengan sebutan yang kurasa akan membuatnya menoleh ke arahku, “Shin Hyeni, calon istriku sayang!!”

 

“Mwo?!!”

 

Tepat dugaanku, ia langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku dengan tampang terkejut dan sedikit kesal.

 

“Jaggiya, kita akan menikah, jadi jangan tidak menghiraukanku seperti tadi, otte?” ujarku sambil menghampirinya yang menatapku dengan pandangan tidak suka.

 

BUKK!! Yeoja gila itu menendang kaki kiriku begitu aku sampai di hadapannya. Mengapa bisa ada yeoja sekasar dia? Bahkan dia juga memukuliku dengan tasnya ketika kami pertama bertemu, dan sekarang dia malah menendangku dengan tenaganya yang seperti kuda.

 

“Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi!!” ujarnya marah, aku menunduk memegangi kakiku yang kesakitan, ia menendangnya tepat di tulang kering, “Dengar, Yesung~ssi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima tawaranmu itu.”

 

“Akan kubuat kau menerima tawaranku,” potongku cepat sambil tetap memegangi kakiku.

 

PLAKK!! Kali ini yeoja gila itu mendaratkan pukulannya di kepalaku.

 

“Aiisshh…” rintihku kesakitan memegang kepalaku, “Ya!! Kau ini kasar sekali!!”

 

“Aku tidak peduli. Apa perlu aku pukul lagi kepalamu yang tidak waras itu?” ujarnya sambil menaikkan tangannya, reflek aku segera melindungi kepalaku, namun yeoja gila itu malah kembali menendang kaki kananku.

 

“Awww!! Yaa!!!” teriakku kesakitan, baru beberapa menit bersamanya tubuhku sudah penuh luka.

 

Yeoja gila itu membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkanku. Dengan langkah tertatih aku mengikutinya. “Shin Hyeni, tunggu, kita harus bicara.”

 

Dia tetap berjalan menjauhiku. Sedikit-sedikit rasa sakit di kakiku mulai berkurang dan aku segera mempercepat langkahku. Baiklah, kalau cara baik-baik tidak mempan terhadapnya, aku akan memaksanya menggunakan cara kasar!!

 

***

 

Hyeni POV

 

            Namja gila itu terus memanggil namaku, namun aku terus berjalan dan mempercepat langkahku. Aku tidak ingin berurusan dengannya lebih lama lagi.

 

“Shin Hyeni!!” panggilnnya dengan suara yang semakin dekat. Dengan sekuat tenaga aku mempercepat langkahku hingga mulai setengah berlari.

 

“Kyaaaa!!!” aku berteriak dengan keras ketika merasa tubuhku terangkat dari tanah. Namja gila itu menggendongku dan membawaku kembali ke mobilnya yang terparkir di depan rumahku, “Turunkan aku!! Dasar namja gila!!”

 

Aku meronta-ronta, namun namja gila itu semakin erat menggendongku. Ia membenarkan posisiku dengan kasar seolah ingin melemparkan tubuhku ke udara.

 

“Yaa!!” teriakku terkejut ketika tubuhku sedikit terlempar dan ditangkap lagi olehnya.

 

“Kau harus ikut aku sekarang, takkan kubiarkan kau kabur dariku.”

 

“Turunkan aku namja gila, aku harus berangkat ke kantor sekarang,” pintaku dengan suara setengah berteriak. Tenggorokanku mulai terasa sakit berteriak daritadi.

 

“Aku akan menghubungi Hongki dan meminta ijin kepadanya. Kau tidak perlu mencemaskan hal itu. Sekarang kau harus ikut aku,” ujarnya sambil memasukkan tubuhku ke dalam mobil, aku mencoba kabur tapi tangannya menahanku, ia segera memakaikan seatbelt kepadaku, kemudian berlari ke arah kemudi dan melajukan mobilnya.

 

PLAAAKKK!! Ku pukul kepala Yesung untuk kedua kalinya hari ini.

 

“Yaaa!! Jangan memukulku terus, yeoja gila,” tukasnya sambil memegangi kepalanya yang pasti terasa sakit karena aku memukulnya dengan keras.

 

“Otakmu sudah tidak waras, Yesung~ssi, makanya aku harus memukul kepalamu terus sampai kau kembali normal,” jawabku asal.

 

“Aisshh, jinjja… Shin Hyeni, apa kau tidak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu? Panggil aku oppa, aku ini lebih tua enam tahun darimu,” ujarnya sambil menyentil kepalaku.

 

Kupegangi kepalaku yang disentil olehnya, tidak sakit, ia hanya menyentilku pelan. Akhirnya ada hal positif yang aku lihat darinya, ia tidak berbuat kasar pada perempuan sekalipun aku sudah empat kali memukulnya dengan keras.

 

“Shireo!! Aku tidak mau memanggilmu oppa. Kau tidak pantas di panggil seperti itu. Bagaimana kau tahu umurku?”

 

“Dari sini..” jawabnya sambil menunjukkan dompet kepadaku. Dompetku! Segera kurebut dompet itu dari tangannya.

 

“Dasar kau pencuri! Namja gila pencuri!” teriakku mengatainya sambil memasukkan dompetku ke dalam tas.

 

“Aisshh, jinjja, kau sungguh tidak sopan, membuatku kehilangan kesabaran.”

 

Yesung menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Kemudian ia menatap kedua bola mataku lekat-lekat. Memajukan tubuhnya, wajahnya, dan menempelkan bibirnya ke bibirku!!!

 

***

 

Jongwoon POV

 

            Kucium dia, dapat kurasakan nafasnya berhenti sejenak dan matanya melotot memandangku. Jujur saja aku juga tidak tahu mengapa aku bisa menciumnya, lagi, untuk yang kedua kalinya. Jika aku bilang tubuhku bergerak dengan sendirinya, apakah kalian akan percaya? Mungkin tanpa sadar aku merasa kesal karena harga diriku yang adalah seorang Yesung seenaknya diinjak-injak oleh yeoja sepertinya, dan aku sendiri tidak mengerti, tapi rasanya aku ingin sekali menahlukkannya.

 

“Sekarang kau bisa diam?” tanyaku setelah melepaskan ciumanku yang berlangsung hanya beberapa detik yang singkat. Hyeni masih memandangiku dengan kedua matanya yang bulat. Dia masih syok rupanya. Ekspresinya sama persis seperti ketika pertama kali aku menciumnya.

 

“Biar kutebak,” seringaiku menggodanya, “Kau pasti tidak pernah berciuman dengan namja lain, selain aku. Hahaha.”

 

“M…mwo?” ia tersadar dari syoknya.

 

“Kau menggemaskan sekali calon istriku,” tukasku seraya mengacak rambutnya, namun dengan segera ditepis oleh tangannya.

 

“Kau, kurang ajar!” PLAAAKK, untuk yang kelima kalinya ia memukulku, anii, keenam, ketujuh, kedelapan, aniiii, sembilan, sepuluh, yeoja gila itu terus melayangkan tinju kecil bertenaga kudanya di tubuhku.

 

“Yaa!! Yaa!! Berhenti!!” aku menahan kedua tangannya yang daritadi memukuliku dengan seenaknya. Kutatap wajahnya yang memerah karena marah, kudengar suara nafasnya yang memburu, tak lama kemudian aku melihat matanya berkaca-kaca. Ia segera menarik tangannya dari genggamanku dan menutup kedua matanya dengan tangan kirinya.

 

“Hyeni~ah…” aku memandangnya dengan perasaan bersalah, “Mianhe.”

 

Aku masih menatapnya yang kini duduk sambil menundukkan kepalanya. Ragu-ragu aku mencoba untuk menarik tangan kiri yang daritadi menutupi kedua matanya. Aku terkejut ketika mendapati mata dan telapak tangannya basah oleh air mata, ia menangis.

 

“Mianhe, aku keterlaluan,” ujarku merasa bersalah. Ia hanya diam. Aku pun ikut terdiam. Kulepaskan genggaman tanganku dari tangan kirinya ketika aku tidak menemukan setetes pun air mata yang terjatuh, tangisannya seakan berhenti begitu aku menarik tangan kirinya tadi.

 

“Hyeni~ah,” kataku lagi memberanikan diri mengutarakan maksudku, “Aku mohon kau mau menerima tawaranku. Jaebal, tolong aku. sebagai gantinya aku akan memberikan apapun kepadamu. Kau bisa meminta apa saja kepadaku.”

 

Ia masih tidak bergeming. Kedua tangannya terkepal di pangkuannya, aku segera menjauhkan tubuhku, takut-takut ia akan kembali memukulku. Namun sedetik kemudian ia membuka pintu mobilku.

 

“Jangan mengganggu hidupku lagi,” ujarnya sambil melangkah keluar.

 

***

 

Author POV

 

Sudah dua hari berlalu sejak kejadian ciuman di mobil itu. Jongwoon tidak lagi menampakkan diri di depan Hyeni. Namja itu merasa bersalah karena tindakannya yang telah melampaui batas.

 

Hyeni sedang bersantai sambil membaca buku yang ia pinjam dari Hongki. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk. Iapun segera menutup bukunya dan berjalan untuk membuka pintu.

 

“Hyeni~ah…. omo.. omo.. Kau sudah tumbuh besar dan cantik,” seorang ahjumma segera memegang kedua pipinya lalu memeluknya ketika Hyeni membuka pintu rumahnya.

 

“Ah.. ahjumma.. ahjussi…” Hyeni terkejut melihat paman dan bibinya yang sudah empat tahun tidak dijumpainya sekarang berdiri di hadapannya.

 

“Apakah kau tidak mempersilahkan kami masuk, sayang?” tanya ahjumma.

 

“Ah, ne…” jawab Hyeni seraya memberi jalam kepada bibinya yang diikuti pamannya masuk ke dalam rumah.

 

***

 

Hyeni POV

 

            Aku menangis seorang diri di kamarku. Memeluk gulingku dengan erat. Bantalku basah oleh karena air mata yang tidak kunjung berhenti.

 

Semua hal ini disebabkan oleh perkataan paman dan bibi. Setelah empat tahun tidak pernah menemuiku, mereka datang dan membawa masalah kepadaku. Kuingat kejadian tadi siang, ketika hari Mingguku yang tenang diusik oleh kedatangan mereka.

 

Flashback, siang hari

 

“Hyeni~ah, kami melihat berita tentangmu di televisi. Omo, omo, bibi tidak menyangka calon suamimu adalah seorang artis terkenal,” ujar bibi sambil merangkul bahuku.

 

            “Ah, anii. Sebenarnya itu…”

 

            “Kau pasti senang mendapat calon suami yang kaya raya seperti Yesung,” seru bibi memotong ucapanku. Ia tidak memberiku kesempatan untuk berbicara.

 

            “Hyeni~ah, kami minta maaf selama empat tahun ini tidak pernah mengunjungimu, bahkan tidak memberi kabar kepadamu atas kepindahan kami,” kata paman dengan wajah penyesalan, menurutku, yang dibuat-buat.

 

            “Hyeni~ah,” ujar bibi lagi, aku menoleh ke arahnya, “Bolehkah kami minta tolong padamu, usaha pamanmu sedang tidak lancar. Kau tahukan sekarang perekonomian sangat sulit. Bisakah kau bilang pada calon suamimu untuk meminjamkan kami uang?”

 

            “Mwo?” aku terkejut mendengar permintaan bibi.

 

            “Tolong kami, Hyeni~ah. Hanya kaulah harapan kami,” sambung paman.

 

            “Hyeni~ah,” bibi terisak, “Sekarang untuk makan saja kami sulit, bahkan Jisung dan Jiyoung hampir putus sekolah karena kami tidak mampu membayar uang sekolah mereka.”

 

            “Mianhe, ahjussi, ahjumma, andai bisa aku ingin membantu kalian, tapi kalian salah paham. Berita itu tidak benar. Aku dan Yesung tidak punya hubungan apa-apa,” aku mencoba menjelaskan.

 

            “Hyeni~ah, kami mengerti kau marah pada kami karena selama ini tidak pernah peduli padamu, tapi bisakah kau tidak berbohong seperti itu pada kami? Bahkan ahjumma melihat Yesung menciummu di televisi,” kata bibi sambil menatapku, ada perasaan kesal terpancar dari matanya.

 

            “Lagipula, dulu waktu eommamu sakit dan appamu tidak punya uang untuk membayar tagihan rumah sakit, pamanmu lah yang membantu melunasi biaya rumah sakit,” sindir ahjumma diikuti dengan anggukkan dari ahjussi.

 

            Apa-apaan mereka ini? Mereka datang dan sekarang memojokkanku seperti ini. Apakah dulu ahjussi tidak tulus menolong appa dan eomma? Bukankah kami ini mempunyai hubungan darah? Kami ini keluarga bukan?

 

            “Hyeni~ah,” panggil paman membuyarkan lamunanku, “Tolong paman, jaebal.”

 

            “Hubungi kami kalau kau sudah berbicara dengan calon suamimu itu, arra?” sambung bibi sebelum keduanya pamit dari hadapanku.

 

Flashback end

 

Dan sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku menyesal harus mempunyai paman dan bibi seperti mereka.

 

***

 

Jongwoon POV

 

            Aku menatap yeoja yang duduk di hadapanku. Shin Hyeni. Seberapa keras otakku berpikir, aku tidak menemukan alasan mengapa yeoja ini tiba-tiba ingin bertemu denganku.

 

Aku sempat terkejut ketika Hyeni menelponku dan berkata ingin bertemu denganku. Ia bilang ia mendapatkan nomor teleponku dari Hongki. Sepuluh menit sudah berlalu sejak aku duduk di hadapannya di sebuah kafe yang sepi dekat kantornya. Yang ia lakukan hanya memutar sedotan di gelasnya yang berisi lemon tea.

 

“Jadi,” aku mencoba membuka pembicaraan setelah kami hanya berdiam diri untuk waktu yang lama, “Mengapa kau ingin bertemu denganku?”

 

Ia berhenti memutar sedotannya. Meletakkan tangannya di atas meja dan menundukkan kepalanya. Entah apa yang ia pandangi, mungkin tetesan embun di gelas miliknya, yang jelas ia tidak menatapku ketika mengungkapkan tujuannya, “Aku ingin menerima tawaranmu, apakah masih berlaku?”

 

“Mwo??” aku terkejut mendengar ucapannya. Tentu baik jika ia setuju dan menerima tawaranku untuk pura-pura menikah denganku, tapi mengapa? Aku penasaran dengan alasannya. Bukankah sebelumnya ia mati-matian menolakku?

 

“Ne, tentu. Waeyo? Mengapa tiba-tiba kau menerimanya?”

 

Ia menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab pertanyaanku. Takut-takut menatapku, namun segera menundukkan kepalanya kembali, “Bisakah kau meminjamkanku sejumlah uang?”

 

“Mwo? Uang?” aku tertawa dalam hati. Rupanya itu alasannya. Uang? Kukira ia gadis yang berbeda. ternyata dugaanku salah, “Ne, aku akan memberikannya, berapapun yang kau minta.”

 

“Khamsahamnida. Aku hanya meminjamnya, aku janji akan mengembalikannya,” katanya sambil menatapku. Akhirnya ia berani memandang wajahku.

 

“Tidak perlu. Memangnya bagaimana caramu mengembalikannya? Aku akan memberikannya dengan cuma-cuma. Tapi untuk apa uang itu?” tanyaku penasaran, berharap pikiranku sebelumnya salah.

 

Ia hanya menggeleng pelan, “Aku tidak bisa memberitahumu.”

 

“Baiklah, tidak apa-apa. Kalau begitu nanti malam aku akan memberikan uangnya padamu, dan kau juga harus bersiap-siap. Malam ini, kita akan menemui keluargaku.”

 

TBC

 

Selesai juga part 5… hehehehehe… gimana pendapat kalian chingudeul?? Next part mungkin Hyeni udah jadi istrinya Yesung.. Kyaaaaaaa… Yesung oppa udah gak lajang lagi… *plak*… gpp dweh.. Hyeni khan sama dengan author.. author sama dengan Hyeni… *plak… makin ngaco*