Tittle   : [Hyuna Story] Prince Syndrome

Author : Seichiko a.k.a Dhitia

Length : One Shot

Genre  : Romance, Fluff, Comedy

Cast     :

Jang Wooyoung

Kim Jae Joong

Lee Joon

Shin Hyuna

Other Cast

 

Annyeong readers, ini adalah FF one shot yang aku buat untuk lomba (lagi) dan sayangnya nggak menang. Emang sih dibuat waktu aku baru belajar buat FF. Tapi aku harap, readers bisa menikmati FF ini. Oh iya… untuk berikutnya, aku akan buat Hyuna Story. Maksudnya FF dengan karakter utama bernama Hyuna. Pada dasarnya, Hyuna adalah nama Korea author. Tapi kalian juga bisa anggep Hyuna itu kalian. Okay?

Happy reading all… J

*****

Seorang gadis memandang jembatan dihadapannya dengan mata menyipit, sesekali ia menyingkirkan helaian poni yang terkadang masuk kedalam mata akibat gerakan menyipit tadi.

Setelah lima menit memperhatikan bentuk jembatan, gadis itu mulai mengambil pensil dan menyelesaikan kembali gambar yang kemarin baru selesai tujuh puluh persen akibat sifat pemalasnya.

“Selesai! Shin Hyuna, kau memang hebat!!!” teriak gadis itu kencang. Hyuna mengambil penghapus didalam tas dan mulai membersihkan kotoran disekitar gambarnya agar terlihat rapi. Setelah itu ia memasukan semua alat tulis kedalam tas dengan senyum lebar.

“Aaaaaaa…” jerit beberapa orang dengan teriakan yang terdengar amat sangat histeris. Semakin lama, teriakan itu semakin menggema ke selauruh penjuru sekolah. Sangat mengganggu!

Hyuna menoleh dan mencari sumber suara. Agak aneh jika ada teriakan kencang. Mengingat jika sekarang baru pukul setengah tujuh pagi, dan ia sedang duduk ditaman belakang sekolah. Memang bahaya apa yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah?

Pada dasarnya Hyuna tidak terlalu peduli dengan keadaan orang lain, hanya saja kali ini ia merasa penasaran. Otaknya melarang pergi, namun kakinya tidak. Kakinya mulai berjalan pelan menuju sumber teriakan tadi.

“Aaaaaa… WOOYOUNG OPPA! Aaaaaa… JAE JOONG OPPA!!” suara itu semakin dekat, dan dengan jelas menyebutkan sebuah nama.

Alis Hyuna terpaut. Aigoo, ada banyak orang. Mereka yang semuanya gadis itu berkumpul disatu titik. Penasaran, Hyuna mulai mendekat. Karena tubuhnya yang tergolong mungil, dengan mudah ia dapat menerobos hingga mencapai titik itu.

“Ige mwoya?” jerit Hyuna setengah tidak percaya. Pagi ini sangat cerah, dan para gadis disekolahnya memilih berdesak-desakan hanya untuk… meminta tanda tangan? Berfoto bersama? Atau… sekedar tersenyum dari dekat? Cissh~

Hyuna menatap satu sosok dihadapannya dengan pandangan dingin dan sinis. Memang apa hebatnya namja itu? Bagi Hyuna, sangat tidak penting mengawali pagi hari hanya dengan mengantri tanda tangan seperti ini. Ada banyak hal yang jauh lebih berharga. Misalnya saja mengerjakan pekerjaan rumah, atau menyelesaikan tugas yang kemarin belum dikumpulkan.

“Aneh!” desis Hyuna dengan wajah dingin, ia berbalik dan bersiap pergi. Namun ada seseorang yang tiba-tiba menarik tangannya. Hyuna menoleh, dan mendapati namja yang disebut-sebut idola itu sedang menatapnya tajam. Hyuna sempat terpaku, hingga tidak menyadari jika buku gambarnya telah berpindah tangan.

“Kau ingin tanda tangan berapa?” tanya namja itu santai.

“Ne?” awalnya Hyuna tidak mengerti, lalu matanya beralih menatap buku gambar yang kini dipegang namja itu.

Setelah selesai tanda tangan, namja itu menyerahkan kembali buku gambar milik Hyuna. Dengan wajah kesal Hyuna membuka buku gambarnya. Dan yang membuat sial adalah namja itu tanda tangan tepat dibelakang gambar yang baru saja Hyuna selesaikan. Gambar yang nanti harus dikumpulkan sebagai nilai ujian untuk pelajaran seni.

Hyuna berniat untuk melempar sepatunya ke kepala namja itu seandainya ia masih berada ditaman. Menyebalkan!

*****

“Shin Hyuna…” Mr. Kim memanggil Hyuna untuk menilai tugas menggambar yang ia berikan minggu lalu. Hyuna berjalan kearah meja Mr. Kim, lalu menyerahkan buku gambarnya dengan berat hati.

“Gambarmu bagus,” puji Mr. Kim saat melihat gambar Hyuna.

Hyuna hanya menanggapi dengan senyuman. Sekarang Mr. Kim bisa saja memuji gambarnya, namun jika Mr. Kim tahu gambarnya hancur, Hyuna yakin 100% jika pujian itu akan berubah makian. Tipe perfeksionis, itulah Mr. Kim. Selalu menuntut gambar yang sempurna dan indah dari setiap muridnya.

Mr. Kim memberikan nilai sembilan puluh pada gambar Hyuna. Jujur Hyuna sangat senang, ia berniat untuk mengambil bukunya sebelum Mr. Kim melihat bagian belakangnya. Namun terlambat! Kini mata Mr. Kim menatapnya tajam. “Yaa! Shin Hyuna! Kau apakan gambar ini, hah?!” tanya Mr. Kim dengan suara nyaring.

“Seonsaengnim… itu, gambar itu…” blas! Suara Hyuna menghilang saat mendapat tatapan seperti ingin menusuk dari Mr. Kim. Ditambah lagi bel istirahat berbunyi sebelum Hyuna mendapat maaf dari Mr. Kim.

“Tunggu seonsaengnim, dengarkan penjelasanku dulu…” Hyuna berlari kecil dan mengekor dibelakang Mr. Kim. Hyuna harus menjelaskan, ia tidak ingin mendapat nilai nol karena kesalahan yang tidak pernah ia buat.

Mata Hyuna menatap sekitar, dan berhenti pada satu sosok yang sedang bermain basket ditengah lapangan. Hyuna mengenal sosok itu, dia yang membuat Hyuna terkena omelan Mr. Kim. Tanpa banyak berpikir Hyuna segera mendekati namja itu, dan menarik tangannya sekuat tenaga hingga berjalan mengikuti Hyuna.

“Seonsaengnim, namja inilah yang telah merusak gambarku,” protes Hyuna dan menatap namja disebelahnya dengan tajam.

“Jang Wooyoung?” Mr. Kim menatap namja yang baru saja ditunjuk Hyuna dengan kening berlipat.

Wooyoung berusaha bersikap tenang dan menunduk hormat kearah Mr. Kim.

“Yaa! Cepat jelaskan pada seonsaengnim, kau kan yang tadi pagi merusak gambarku?” tanya Hyuna sedikit merengek, karena tidak tahu harus membuat alasan apa lagi agar Mr. Kim percaya padanya.

“Seonsaengnim, sepertinya aku tidak mengenal gadis ini,” ujar Wooyoung setelah memperhatikan Hyuna dengan teliti.

Mr. Kim hanya dapat menggelengkan kepala saat melihat dua orang orang dihadapannya yang sedang saling menyalahkan. Diusianya yang setengah abad lebih, Mr. Kim malas ikut campur masalah anak muda. Lebih baik dirinya pergi ke ruang guru sekarang, sebelum ada pertengkaran yang lebih hebat lagi.

“Seonsaengnim…” panggil Hyuna saat melihat Mr. Kim pergi meninggalkan mereka. Kaki Hyuna terpaku, ia tidak dapat berlari mengejar Mr. Kim lagi.

“Hah, kasihan!” ucap Wooyoung dengan nada berduka.

“Yaa! Jang Wooyoung, kau!” Hyuna menarik tangan Wooyoung dan…

“Yaa!” jerit Wooyoung saat gigi Hyuna yang setajam pisau menancap tangannya. Karena susah dilepas, Wooyoung menginjak kaki Hyuna hingga gadis itu kesakitan dan mau melepas tangannya.

*****

“JANG WOOYOUNG BABO!!!” Hyuna berteriak kalap dari dalam kamarnya. Entah mengapa kepala Hyuna terasa panas, padahal AC dan pintu beranda kamarya sudah ia buka lebar.

Tok!

Ada sesuatu yang mengenai kaca kamar Hyuna, ia berjalan mendekat dan mengambil benda itu. Ternyata batu yang dilapisi kertas. Hyuna menatap si-pemilik yang sedang berdiri di beranda seberang kamarnya dengan senyum lebar, Lee Joon.

“Hyuna-ya…” panggil Joon, masih dengan senyum lebar.

“Wae?” tanya Hyuna singkat. Ia sedang malas bercanda dengan sepupunya itu.

“Kau yang kenapa? Bukankah tadi kau berteriak kencang?” tanya Joon semakin ingin tahu. Tidak biasanya Hyuna bersikap dingin padanya, pasti ada masalah yang sedang menimpa Hyuna. Dan tadi Hyuna berteriak apa? Jang Wooyoung?

“Joon, aku sedang kesal pada seseorang! Bisa tidak kau buat orang itu pindah ke planet lain?” permintaan Hyuna terdengar tidak masuk akal. Hyuna menatap taman yang ada dibawah kamarnya sebentar, dan ketika Hyuna melihat beranda kamar Joon, ia sudah mengilang. “Joon…” panggil Hyuna kencang.

Djik!

Satu jitakan pelan melayang dikepala Hyuna. Dengan kesal Hyuna menoleh, dan mendapati wajah Joon yang sedang melotot kearahnya. “Yaa! berapa kali harus aku katakan, panggil aku oppa. Oppa. Ara?” seru Joon yang tiba-tiba muncul dikamar Hyuna. Rumah mereka hanya dibatasi pagar, dengan begitu mudah bagi Joon untuk masuk ke kamar Hyuna.

“Oppa? Ayolah Joon, usia kita hanya terpaut satu tahun. Apa penting jika aku memanggilmu oppa?” tanya Hyuna sinis, salah satu sifat Hyuna yang sudah mendarah daging jika berhadapan dengan namja.

“Kau menyebalkan! Apa seharusnya kau itu aku… telan!” Joon merentangkan tangannya dan membuat gerakan seperti yang Monsters Inc. lakukan saat menakuti anak-anak kecil.

“Aigoo, kau membuatku takut Monster Joon!” jerit Hyuna dengan ekspresi takut yang dibuat-buat. Hyuna tertawa geli melihat tingkah Joon yang sangat kekanakan. Mana ada monster yang setampan Joon?

Joon meraih kepala Hyuna kedalam rangkulannya. Joon ingin Hyuna bercerita tentang semua masalah yang menimpanya. Sejak kecil, itu yang selalu Joon tegaskan. Hanya saja, membaca hati Hyuna sama seperti pelajaran matematika yang menguras otak. Hyuna tumbuh menjadi gadis tertutup yang tidak pernah membagi masalahnya pada Joon.

“Hemn, Joon…” rengek Hyuna, saat rangkulan Joon semakin terasa kencang.

“…”

“Lee Joon…”

Joon melepaskan rangkulannya. Hyuna pikir Joon sudah sadar. Namun detik berikutnya, Joon melingkarkan tangannya pada bahu Hyuna. Joon berdiri dibelakang Hyuna dan memeluk bahunya dari belakang.

Hyuna merasa bahunya hangat, satu rangkulan yang selalu Joon berikan padanya saat Hyuna merasa sedih.

“Hyuna-ya, kau… anak nakal! Ada masalah apa hari ini? Wajahmu terlihat kesal dan sangat jelek,” Joon berkata pelan tepat ditelinga Hyuna.

Hyuna malas menjawab pertanyaan Joon. Hanya dirinya sendiri yang tahu, Hyuna tidak ingin membagi rasa kesalnya pada orang lain.

“Yaa! Lee Joon! Lep-has-khan pe-lu-kan-mu…” kalimat Hyuna terputus karena pelukan Joon yang terasa semakin kuat.

“Hahaha, itu hukuman untukmu Hyuna sayang.” Joon melepaskan pelukannya dan mengacak rambut Hyuna hingga menutupi mata. Bagi Joon, Hyuna selalu terlihat manis dalam keadaan apapun. Entah itu marah, sedih, atau kesal sekalipun. Tidak ada yang dapat menandingi wajah aegyo Hyuna dimata Joon.

“Pergi dari kamarku, Lee Joon-ssi! SEKARANG!!!” usir Hyuna yang kepalanya sudah tumbuh tamduk. Sebelum terkena lemparan tongkat baseball, Joon segera pergi dari kamar Hyuna.

“AKU PULANG DULU, SHIN HYUNA SAYANG!” Joon berteriak kencang sambil menuruni tangga rumah Hyuna. Joon bahkan sempat melemparkan tanda kissbye pada Hyuna.

“Aaaaaa…!” balas Hyuna kesal. Wooyoung, Joon, semua namja itu sama. Mereka sama-sama menyebalkan, cerewet, membuat kepala Hyuna berdenyut kencang.

*****

“Aigoo, Wooyoung terlihat sangat tampan!” ujar seorang gadis yang bertubuh agak besar.

“Memang, tapi Jae Joong oppa-ku tidak kalah tampan. Lihat, lihat!” balas gadis yang duduk disebelah gadis bertubuh besar itu.

“Mereka berdua seperti pangeran,” ujar gadis berambut pendek dihadapan kedua gadis tadi. Dengan wajah bersinar tentunya.

Kini dihadapan mereka bertiga ada Girlz! Magazine edisi terbaru dengan Wooyoung dan Jae Joong sebagai Hot Issue. Wooyoung dan Jae Joong memang penyanyi yang cukup terkenal di Korea Selatan, terlebih di Sekolah mereka. Tampan, bersuara bagus, idola Korea, tipe ‘PANGERAN’ yang selalu menebarkan pesonanya. Tipe namja yang Hyuna benci.

Kepala Hyuna terasa berdenyut setiap mendengar dua teman sekelasnya yang selalu membicarakan Wooyoung dan Jae Joong. Apa manfaatnya membicarakan dua namja itu? Bukankah Wooyoung satu sekolah dengan mereka, sehingga dapat bertemu setiap saat. Tanpa melihat majalah sekalipun, mereka dapat melihat Wooyong langsung dari dekat.

Hyuna pergi dari kelas. Menghabiskan waktu istirahat yang masih setengah jam dengan berjalan menyusuri lorong sekolah yang sepi dan mengamati keadaan sekitar. Hyuna senang melakukannya, cara yang menyenangkan untuk membunuh waktu.

“Hemn, baiklah… akan kunyanyikan satu buah lagu untuk para gadis yang selalu mendukungku dengan sepenuh jiwa,” ujar Wooyoung dari dalam ruang musik. Suara Wooyoung memenuhi ruangan yang seharusnya kedap suara itu.

 

When I see your face

There’s not a thing that I would change

‘Cause you’re amazing

Just the way you are

And when you smile

The whole world stops and stares for a while

‘Cause girl you’re amazing

Just the way you are

 

Alis Hyuna kembali terpaut. Sejak sepuluh menit yang lalu Hyuna telah berdiri di depan ruang musik dan mengintip dari celah pintu. Hyuna yang sedang berjalan mengelilingi lorong berhenti karena mendengar suara piano, seharusnya ruang musik itu kedap suara bukan? Dan ternyata, ada namja gila yang mengucapkan kalimat ‘Hemn, baiklah… akan kunyanyikan satu buah lagu untuk para gadis yang selalu mendukungku dengan sepenuh jiwa’ pada angin. Kenapa? Karena diruangan itu hanya ada dirinya sendiri, alat musik, kursi, meja dan tentu saja angin.

Kemudian lagu Just The Way You Are – Bruno Mars terdengar. Dengan dentingan piano dan suara bernada tinggi milik Wooyoung. Entah otak Hyuna yang bergeser atau telinganya yang rusak, tetapi suara itu mampu menyihir Hyuna. Siang itu Hyuna merasa kalah, karena harus mengakui suara indah Wooyoung, meskipun hanya dalam hati.

“Yaa! Neo…” panggil Wooyoung pada gadis yang berdiri didepan pintu, yang sejak tadi mendengarkan suaranya.

Hyuna menoleh kedalam ruangan. “Mwo?” tanya Hyuna dengan wajah datar.

Wooyoung berjalan mendekat dan berdiri dihadapan Hyuna yang masih bersandar pada dinding. “Beri aku uang!” tagih Wooyoung pada Hyuna.

“Mwoya?”

“Uang. Bukankah tadi kau sudah mendengar suaraku. Biasanya aku dibayar mahal hanya untuk menyanyikan satu buah lagu.”

“…”

“Yaa! Kau tidak mendengar ucapanku?” wajah Wooyoung berubah sebal. Gadis dihadapannya sangat dingin seperti patung.

“Aku tidak pernah memintamu untuk bernyanyi. Kau sendiri yang melakukannya. Dan jangan salahkan aku jika pintu ruangan musik itu tidak tertutup rapat hingga orang lain dapat mendengar suaramu. Itu kesalahanmu sendiri, Jang Wooyoung-ssi!”

Hyuna berlalu dari hadapan Wooyoung. Ia malas menanggapi namja aneh yang selalu mebuatnya kesal. Wooyoung dapat membuatnya cepat tua!

*****

Shin Hyuna. Shin Hyuna. Shin Hyuna. Beberapa hari ini nama Shin Hyuna selalu mengitari kepala Wooyoung. Gadis aneh yang tidak mau mengakui pesona Wooyoung. Gadis yang tidak pernah meneriakkan namanya. Tidak pernah meminta tanda tangannya. Tidak pernah memintanya untuk berfoto bersama. Gadis yang tadi sempat membuat Wooyoung naik darah.

“Hyung, apa pesona kita sudah mulai pudar?” tanya Wooyoung pada Jae Joong saat beratih di Studio.

“Pudar? Tentu saja pesona kita tidak akan pernah pudar,” jawab Jae Joong yakin. Dengan ketampanan, suara indah dan semua talenta yang mereka miliki, itu sudah cukup membuat mereka berdua terkenal selama sepuluh tahun kedepan.

Wooyoung memukul kepala Jae Joong dengan pelan. Ck~ sahabatnya itu sangat hobi membanggakan diri. Memangnya atas dasar apa ia dapat berkata jika pesona mereka tidak akan pudar? Faktanya, Hyuna sangat membenci mereka. Salah satu murid sekolah ada yang membenci mereka.

“Yaa! Woo-ya, kau ingin pergi kemana hah?” tanya Jae Joong panik saat melihat Wooyoung pergi dengan tergesa, dan membatalkan latihan mereka.

“Ada misi penting hyung!”

“Misi penting apa?”

“…”

“Yaa! Jang Wooyong!”

*****

Disinilah Wooyoung berada. Didepan sebuah rumah besar yang sangat teduh karena dipenuhi oleh tanaman. Sudah setengah jam Wooyoung bersembunyi didalam mobil, menunggu sang pemilik rumah datang. Wooyoung bertekad untuk mencari jawaban atas pertanyaannya tadi. Mengapa Hyuna sangat membencinya?

Tidak lama kemudian Hyuna muncul dari ujung jalan. Ia tertawa lebar dan berlari kencang hingga rambutnya terlihat acak-acakan. Wooyoung mengamati dari balik kaca mobilnya yang gelap. Degh! Jantung Wooyoung berdetak lebih kencang dari biasanya. Rasanya tadi siang wajah Hyuna masih terlihat biasa. Lalu kenapa sekarang berubah? Wajah Hyuna sore ini terlihat lebih… emn… cantik mungkin.

Wooyoung menggelengkan kepalanya dengan kencang, mencoba mendapati kesadarannya kembali. “Jang Wooyoung, irona! Kau harus fokus, fokus dan fokus.” Wooyoung memberi semangat pada dirinya sendiri.

Wooyoung kembali menatap Hyunan, dan menggigit bibir bawahnya dengan kencang. “Yaa! Jang Wooyoung babo!”

Setelah mengambil keputusan yang cukup sulit, Wooyoung kembali menggelengkan kepalanya. Kini ia bersiap untuk turun mobil dan menanyakan langsung pada Hyuna. Wooyoung membuka pintu mobil, namun seseorang membatalkan rencananya. Orang itu merangkul pundak Hyuna dari belakang. Dan mengusap kepala Hyuna dengan lembut. Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Hyuna tersenyum senang, sedangkan namja itu tertawa lebar sehingga matanya menyipit. Jadi Shin Hyuna sudah memiliki kekasih?

Prak!

Wooyoung menutup pintu Studio dengan kasar.

“Yaa! Jang Wooyoung, hentikan sifat anehmu itu!” Jae Joong menjerit frustasi karena tingkah Wooyoung. Sejak dulu Jae Joong sudah curiga jika Wooyoung memiliki sifat autis. Namun ia tidak menyangka jika autis Wooyoung itu sangat akut. Sepertinya Jae Joong harus mencari orang lain lagi untuk dijadikan rekan.

“…”

“Woo-ya, kau kenapa?”

“Hyung, apa kau mengenal Shin Hyuna? Apa kau tahu siapa namja yang sering jalan bersamanya?”

“Shin Hyuna, ya aku tahu. Namja yang sering bersamanya? Ah, itu pasti Lee Joon. Mereka berdua itu saudara sepupu. Memangnya kenapa?”

“…”

“Yaa! Jang Wooyoung kau itu sangat menyebalkan!”

*****

Wooyoung berdiri diluar kelas Hyuna dan menatap gadis itu dari kejauhan. Setelah Hyuna berjalan tidak jauh dari tempatnya berdiri, Wooyoung memberanikan diri untuk muncul dihadapan Hyuna.

Hyuna berjalan menunduk dan terkejut karena ada sepatu yang berhenti dihadapannya secara tiba-tiba. “Aigoo~” pekik Hyuna saat melihat wajah Wooyoung yang ditutupi kacamata berbingkai lebar dan masker hitam.

“Ikuti aku…”

Hyuna tidak berniat untuk mengikuti Wooyoung, hanya saja Wooyoung yang memaksa dan menarik tangannya kedalam Hyundai berwarna silver milik Wooyoung. “Kau ingin menculikku? Kalau begitu buang saja pikiran bodoh itu! Aku tidak memiliki banyak uang untuk membayar tebusan,” ucap Hyuna santai.

“Mwo?” Wooyoung menggeleng frustasi. Sepertinya gadis ini tidak memiliki perasaan. Amat sangat tidak berperasaan.

Wooyoung menghentikan mobilnya ditempat parkir sebuah apartemen mewah didaerah Gwangjin. Hyuna menatap Apartemen itu dengan pandangan tidak percaya. Seorang murid Sekolah Menengah Atas tinggal di Apartemen semewah ini?

“Cepat masuk!” perintah Wooyoung yang mulai bosan melihat wajah babo Hyuna.

“Ne.”

Wooyoung menyuruh Hyuna untuk duduk manis pada sofa ruang tamu. Sedangkan dirinya sendiri berjalan kearah dapur, mengambil sekotak ice cream, membawa setumpuk DVD dan meletakkan semua benda itu pada meja dihadapan Hyuna.

“Aku benci menonton film sendiri,” ujar Wooyoung saat mendapat tatapan aneh dari Hyuna.

Pertanyaan Hyuna selanjutnya adalah, mengapa Wooyoung memilih untuk menonton drama Endless Love? Drama itu sudah lama, dan sangat menguras air mata. Hyuna tidak terlalu suka film jenis itu.

“Aku benci film yang mengharu biru seperti itu,” ucap Hyuna saat melihat sampul DVD yang Wooyoung bawa.

“Tapi aku suka, lalu kau mau apa?!”

“Cissh~” Hyuna mengeluh karena sifat diktator Wooyoung. Namja yang satu itu memang tidak tahu diri. Dia yang membawa Hyuna kesini, lalu dia juga yang memerintah Hyuna. Yaa! Memang Hyuna itu apa?!

Yun Joon Suh dan Eun Suh adalah kakak beradik yang saling menyayangi. Namun saat remaja, satu kenyataan pahit terungkap. Ternyata mereka berdua bukan kakak beradik karena Eun Suh yang tidak sengaja tertukar saat masih bayi. Ketika dewasa, hubungan mereka berdua berubah menjadi cinta. Cerita yang sangat dramatis dan menyedihkan karena pada akhirnya Eun Suh meninggal karena penyakit leukemia, sedangkan Joon Suh meninggal karena kecelakaan. Hyuna sudah hafal cerita film itu, sangat hafal diluar kepala malah. Dan ia merasa bosan saat melihat film itu untuk yang kesekian kali.

“Hiks…”

Terdengar suara aneh dari sebelah Hyuna. Saat menoleh, Hyuna mendapati wajah Wooyoung yang berubah aneh, dengan mata yang mulai memerah dan air mata yang mengalir deras serta mulut yang dipenuhi oleh ice cream cokelat.

“Yaa! Gwaenchana?” Hyuna bertanya pada Wooyoung yang masih menangis kencang. Seharusnya Hyuna tidak peduli pada keadaan Wooyoung. Hanya saja Hyuna takut jika drama itu terjadi didalam kehidupan nyata Wooyoung. Misalnya saja kekasih atau keluarganya ada yang terkena leukemia. Atau ia pernah tertukar saat masih kecil. Tidak ada yang tahu kan bagaimana nasib seseorang.

Wooyoung menoleh kesal, merasa terganggu dengan pertanyaan Hyuna. Padahal drama yang mereka tonton sedang menampilkan adegan sedih. “Jangan mengganggu! Aku itu sedang membersihkan mata. Jadi berhenti menggangguku!”

Hyuna tutup mulut. Hah, ternyata Wooyoung menangis dengan alasan yang babo, jadi untuk apa ia khawatir.

“Hyuna-ya, apa Lee Joon itu benar-benar sepupumu?” Wooyoung mengeluarkan pertanyaan yang sejak kemarin ia simpan.

“Tentu saja. Kami sepupu sejak lahir. Joon itu anak dari Lee Ahjussi. Memang kenapa?”

“Sepertinya kalian sangat akrab. Kemarin aku melihat Joon merangkulmu.”

“Lalu?”

“Apa rangkulan termasuk perbuatan yang pantas untuk seorang saudara?”

Hyuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bingung dengan pertanyaan Wooyoung. “Yaa! Jangan bertanya hal-hal yang rumit. Aku dan Joon itu saudara. Tidak ada hubungan lain. Jika Joon senang merangkulku memang kenapa? Tidak ada hubungannya denganmu! Dan kau, namja jahat yang tidak mau membelaku dihadapan Mr. Kim, tidak perlu ikut campur masalahku. Ara?”

“Ah, masalah itu. Aku minta maaf, tapi aku memang tidak mengingatmu saat itu. Memang apa yang sudah kulakukan?”

“Kau menandatangani buku gambarku. Dan Mr. Kim memarahiku karena ulahmu. Kini kau mengatakan hal yang buruk tentang Joon. Kau tahu seberapa besar rasa benciku padamu?” ujar Hyuna lantang, sebelum membanting pintu dan pergi dari Apartemen Wooyoung.

Wooyong diam, ia hanya dapat memandang punggung Hyuna yang semakin menghilang dibalik pintu.

*****

“Joon, seperti apa hubungan kita?” tanya Hyuna dari beranda kamarnya. Joon masih berdiri diberanda seberang sejak setengah jam yang lalu, saat Hyuna kembali ke rumah. Bahkan Hyuna belum mengganti seragam sekolahnya karena penasaran dengan pertanyaan Wooyoung tadi.

“Saudara, bukahkah sudah jelas?” Joon mulai salah tingkah menghadapi pertanyaan Hyuna.

“Jeongmal? Kalau begitu, kenapa kau senang sekali merangkulku?”

“Itu karena kau sangat manis. Dan aku sangaaat… menyukaimu.”

“Lee Joon, berhenti mengatakan jika kau menyukaiku. Orang lain bisa salah mengartikan, Joon. Kau tahu apa pendapat orang lain tentang hubungan kita?”

“Apa?”

“Mereka pikir kau itu menyukaiku,” ujar Hyuna dengan wajah merah menahan malu. Biarpun Hyuna tahu Joon tidak akan melakukan hal tersebut, namun kata suka termasuk hal yang sulit Hyuna katakan.

“Bagaimana jika aku benar-benar menyukaimu?” Joon menatap Hyuna dalam. Ada hal yang harus Joon pertegas sekarang. Bahwa kenyataannya, meski Joon tahu mereka memiliki hubungan darah, Joon pernah jatuh cinta pada Hyuna. Sampai detik ini pun Joon masih menyukai Hyuna. Hanya saja Joon menyadari jika rasa sukanya akan menimbulkan masalah. Jadi selama ini, Joon selalu memendam perasaannya sendiri.

“Jangan katakan kalimat menyeramkan itu Joon,” pinta Hyuna setengah memaksa. Hyuna tidak ingin mendengar kelanjutan dari kata-kata Joon. Baginya hal itu sangat menyeramkan.

“Aku menyukaimu, kau tahu kan. Hanya saja kau selalu mengalihkan pemikiran itu. Sehingga aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk menyampaikannya dengan jelas. SHIN HYUNA, AKU MENYUKAIMU…”

Prak!

Hyuna melempar buku pelajaran matematikanya dan tepat mengenai kepala Joon. “Yaa! LEE JOON, hentikan pikiran bodohmu! Aku berjanji akan memaafkanmu jika mau menarik kata-kata itu.”

Joon menunduk dan tidak berani menatap wajah Hyuna. “Hyuna-ya, mianhae…”

*****

Hyuna menyandarkan kepalanya pada meja kantin. Sudah sehari ini Hyuna tidak bertemu Joon, dan itu membuat tenaganya habis. Tadi pagi juga Hyuna tidak berangkat sekolah bersama Joon.

Sendiri dan kesepian, Hyuna benci suasana seperti itu. Makanan yang ia pesan juga tidak tersentuh sama sekali.

“Yeoja aneh, kau kenapa lagi?” tanya satu suara yang sangat Hyuna hafal. Yang beberapa hari ini muncul ditelinganya.

Hyuna menegakkan kepalanya kembali dan memasang wajah masam dihadapan Wooyoung. “Woo-ya, kau benar.”

“Mwo?” tanya Wooyong bingung.

Hyuna menghela nafas. “Kau benar, Joon memang menyukaiku.”

Wooyoung menepuk tangannya seperti pesulap yang telah menyelesaikan misi terbaru. “Sudah kuduga. Kau tahu, tatapan Joon padamu itu sangat dalam. Siapapun yang melihatnya, pasti akan tahu jika ia sangat menyukaimu.”

Hyuna terdiam.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

Hyuna mengangkat bahu tanda bahwa ia tidak tahu harus melakukan apa. Memang Hyuna bisa apa? Pindah planet agar tidak bertemu Joon? Tidak mungkin kan.

“Pacaran saja denganku.”

“MWO?!”

“Aku tampan, pintar dan bersuara bagus. Hal yang sangat menguntungkan jika kau mau menjadi kekasihku. Bagaimana?” tawar Wooyoung santai, dan kembali mengeluarkan penyakit ‘Pangeran’ miliknya.

“Andwae, masih banyak yang harus aku lakukan selain menjadi kekasihmu.” Hyunan berdiri dari tempat duduknya dan bersiap pergi. Namun nyalinya ciut saat melihat Joon yang bersandar pada dinding kantin.

Melihat wajah Hyuna yang pucat, Wooyoung sengaja mengambil kesempatan. Ia menyodorkan tangannya pada Hyuna, dan mau tidak mau Hyuna menggandeng tangan Wooyoung saat melewati Joon.

“Hyuna-ya…” panggil Joon saat melihat Hyuna melintas dihadapannya.

“Hyuna-ya, bukankah dia itu SAUDARAMU?” Wooyoung sengaja memberi penekanan pada kata ‘saudara’. Wooyoung tidak ingin ikut campur masalah orang yang baru dikenalnya. Namun Wooyoung tidak ingin ada hubungan terlarang antara Hyuna dan Joon. Ia tahu jika tidak boleh ada percintaan sedarah.

“Ne, dia memang saudaraku. Joon oppa. Aku biasa memanggilnya Joon oppa,” jawab Hyuna berbohong.

Joon terkejut dengan pernyataan Hyuna, dengan susah payah Joon menata hatinya agar tidak ada ekspresi ganjil yang terlihat. Joon selalu memaksa Hyuna untuk memanggilnya oppa. Tapi entah kenapa, panggilan itu kini terasa sangat menyakitkan.

“Perkenalkan, namaku Jang Wooyoung. Hari ini, aku dan Hyuna memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.” Wooyoung memberikan telapak tangannya pada Joon, dengan berat hati Joon menerima dan berjabat tangan dengan Wooyoung.

“Apa kau menyukainya?” kini tatapan Joon beralih pada Hyuna. Ia ingin meminta penjelasan langsung dari Hyuna.

“Ne, oppa. Aku menyukainya,” Hyuna menundukkan wajah dan berkata singkat.

“Arasseo…”

*****

Tok!

Satu ketukan mendarat lagi pada pintu kaca kamar Hyuna. Hyuna tahu apa yang akan Joon katakan, masalah Wooyoung. Ya, Hyuna tahu hal itu.

“Hyuna-ya…” Joon melambaikan tangan dengan senyum lebar ke arah Hyuna. Seperti tidak ada masalah sebelumnya.

“Ne, Joon.”

“Hyuna-ya, aku ingin bertanya sekali lagi. Apa kau menyukainya?”

Hyuna terdiam. Apa yang harus Hyuna katakan? Nyatanya, ia dan Wooyoung adalah musuh besar. Hanya ia sendiri yang tahu seberapa dalam rasa bencinya pada Wooyoung. Namun, Hyuna tidak punya pilihan lain malam ini.

Hyuna menganggukkan kepalanya. Saat ini Hyuna tidak mengerti tentang perasaannya, hanya saja ia sudah terperangkap pada DRAMA yang Wooyoung buat.

“Dia terkenal, cukup tampan dan bersuara bagus. Jika kau menyukainya, kau harus berhati-hati. Akan ada banyak gadis yang lebih menyukai Wooyoung daripada kau.”

“…”

“Hyuna-ya, jangan kasihan padaku. Aku akan baik-baik saja, selama masih dapat bersahabat denganmu. Kata-kataku yang kemarin, lupakan saja. Anggap jika aku tdak pernah mengatakannya padamu.”

“…”

Joon menepuk dadanya dengan kencang dan penuh semangat. “Oppa akan menjagamu. Oppa tidak akan membiarkan para penggemar Wooyoung menyerangmu. Ara?”

Hyuna tersenyum hambar. “Ne, Joon oppa.”

Joon membalikkan tubuhnya dan berdiri membelakangi Hyuna. “Aigoo, aku tidak menyangka jika kau akan memanggilku oppa dengan cara seperti ini. Semua ini sangat lucu, Shin Hyuna sayang.” Joon membalikkan tubuhnya, karena air mata Joon tidak dapat ditahan lagi. Malam ini Joon harus mengakhiri semuanya. Tentang rasa sukanya pada Hyuna. Dan menganggap Hyuna sebagai adik yang harus dilindungi.

Hyuna tahu jika Joon akan menangis, salah satu kebiasaan Joon jika berbicara dengan tubuh terbalik padanya. Hyuna senang Joon membalik tubuhnya, karena saat itu juga, air mata Hyuna tidak dapat ditahan. Hyuna menangis.

Hati yang selama ini tidak dapat terbaca. Hati yang selalu kasat mata. Pada hari ini, semua terlihat jelas. Bukan hanya warna abu-abu yang selalu mengitari hubungan mereka.

*****

Wooyoung berjalan mengelilingi sekolah, dan mendapati Hyuna yang sedang menyandarkan kepalanya pada meja belajar. Aissh, gadis itu selalu saja menarik perhatian Wooyoung padanya.

Seseorang yang sebenarnya sudah ada disekitar Wooyoung selama tiga tahun. Tapi baru sekarang Wooyoung menyadari kehadirannya. Dan ternyata, kehadiran Hyuna membuat Wooyoung lebih hidup. Membantu menyelesaikan masalah gadis itu terasa sama seperti menghirup oksigen, melegakkan.

Wooyoung berdiri tepat dibelakang Hyuna, dan menarik ujung rambut Hyuna hingga ia terlonjak kaget.

“Appo! Yaa! Jang Wooyoung, kau! Mmnffttt…” Hyuna tidak dapat berbicara karena mulutnya diisi roti cokelat oleh Wooyoung.

“Kau pasti lapar, makanlah yang banyak.” Wooyoung duduk disebelah Hyuna.

Dengan kesal Hyuna mengeluarkan roti cokelat itu hingga mulutnya kembali kosong. Untuk beberapa saat, Hyuna hanya terdiam dan tidak tahu harus memulainya dari mana.

“Bagaimana ujian matematikamu?” tanya Wooyoung untuk mengusir kesunyian.

“Baik, aku bisa mengerjakannya.”

“Baguslah.”

Hyuna memandang Wooyoung yang terlihat kaku. Apa ini Wooyoung yang sebenarnya. Yang bersikap canggung bila berhadapan dengan gadis. “Woo-ya, semalam aku dan Joon sudah berbicara.”

“Lalu bagaimana hasilnya?”

“Aku tidak ingin Joon patah hati karenaku. Aku dan Joon memutuskan untuk bersahabat. Lagipula aku tidak mungkin jatuh cinta padanya.”

“Wae? Ah, aku tahu. Kau tidak ingin jatuh cinta pada Joon, karena kau sudah jatuh cinta padaku. Benar bukan?” tanya Wooyoung yakin, dengan senyum lebar dan jentikan jari tangannya.

“Anio! Yaa! Joon yang luar biasa baik saja tidak dapat membuatku jatuh cinta. Apalagi kau? Berhenti bersikap seolah kau adalah Pangeran, Jang Wooyoung-ssi!” ujar Hyuna dengan senyum sinis dan kalimat tajam dari bibir tipis miliknya.

“Aku juga baik, aku membantumu berbicara pada Joon. Apa itu tidak cukup?”

“Kau itu cengeng, aku tidak suka namja yang cengeng. Dan kalau aku sebarkan rahasiamu itu… kik, tamatlah riwayatmu, Jang Wooyoung-ssi!” ancam Hyuna dengan gerakan seolah mencekik Wooyoung.

“Kalau begitu akan kusebarkan pada satu sekolah jika Shin Hyuna senang tertawa keras seperti monster.”

“Mwoya? Satu sekolah juga tahu jika Shin Hyuna adalah gadis manis yang tidak pernah berteriak. Jadi ancamanmu itu tidak berlaku.” Hyuna menjulurkan lidahnya pada Wooyoung.

“Jangan bermimpi Shin Hyuna, siapa yang mau menganggapmu sebagai gadis manis? Bahkan Mr. Kim saja tahu jika kau senang membuat masalah.”

“Tutup mulutmu atau aku akan melempar kursi ini ke wajahmu!” ancam Hyuna kejam.

Wooyoung tertawa kencang. Gadis ini, apa ia tidak sadar jika tubuhnya sangat mungil? Mana mungkin Hyuna kuat melempar kursi padanya. “Coba lempar kursi itu. Aku juga bisa, melempar meja ini ke kepalamu yang babo.”

“Coba saja kalau kau berani!” Hyuna menginjak kaki Wooyoung sekuat tenaga.

“Yaa! Lepaskan!”

Wooyoung merapatkan tubuhnya dan membisikkan satu kalimat pada telinga Hyuna. “Bagaimana jika aku bilang pada seisi sekolah, bahwa Shin Hyuna adalah kekasih Jang Wooyoung?”

Mata Hyuna melebar. “ANDWAE!!!”

“Hahaha…” Wooyoung tertawa lebar, dan perlahan tangannya merangkul bahu Hyuna. Mencoba untuk meraih gadis itu, mungkin untuk selamanya.