The Dark and The Light Wings (Chapter 4)

Author     :  Thirteencatyas

Length     :  Sequel

Genre       :  Fantasy, Sad, Mystery

Cast(s)     :  B2ST member

New cast: Sun Miyoung

Yang Yoseob story..

“Astaga, sudah jam segini dan aku masih dirumah? Aigooo~~!!” seruku sambil menyiapkan sepeda dan mengayuhnya cepat-cepat, ottokke? Aku takut kalau nanti Dongwoon jaga sendirian, ia tidak begitu hafal harga-harga barang dan bisa saja ada pelanggan iseng menipunya.
Brak Brak~!! Kuparkir sepeda secepatnya dan ketika kubuka pintu midimarket…
“Annyeonghaseo, Yoseob-ah.”
Eh siapa yeoja ini, kok dia pakai baju kerja midimarket? Lagipula.. kenapa dia tahu namaku? Padahal aku belum menggunakan nametag.
“Yoseob hyung, kau terlambat.” Ujar Dongwoon di meja kasir. “Cepat ganti baju dan gantikan aku menginput semua datanya.”
Aku mengangguk kebingungan kea rah Dongwoon dan yeoja disebelahnya yang terlihat seperti Minri, lalu aku menghadap yeoja ini. “Anu…. Yeoboseo? Jesonghabnida, aku tidak mengenalmu.”
Yeoja itu tersenyum sambil menata snack snack di dalam rak yang menghadap kea rah wajahnya, dan ia bicara. “Bisakah kamu membaca nametag ku dari posisimu?”
Aku melongok melihat nametag miliknya. Sun Miyoung, begitulah namanya. “Hajiman…. Darimana kau tahu namaku? Kan aku belum belum pakai nametag. Apa kita pernah kenal sebelumnya?”
“Aku pindahan dari midimarket di cabang yang berbeda, kepala cabang selalu bercerita tentang etos kerjamu yang bagus. Dan aku memutuskan untuk pindah kesini dan melihatmu, Yeoseobi.” Jawabnya ramah. “Annyeonghaseo, Sun Miyoung ibnida. Kita saling bekerja keras ya?”
Ia menjulurkan tangannya yang kecil dan langsing, waw…. Yeoja ini ramah sekali menurutku, kugenggam tangannya dan kami saling berjabat tangan.
“Daebak~~!!!” ujar Minri yang duduk disebelah meja kasir “Tapi, ppali Yoseob-ah. Kalau tidak Dongwoon akan merusak system kasir karena ke sok tahuannya. Aish Dongwoon-sshi, menyingkirlah dari situ dan tata barang2nya seperti biasa.”
“Aiiiiii noona, kenapa kau sama saja seperti Hyunyoung noona?” keluh Dongwoon sambil menyingkir dari meja kasir, “Ngomong-ngomong… Hyunyoung noona kok belum terlihat ya?”
“Dia merawat Doojoon hyung yang sedang sakit.” Ujarku sambil berlari ke ruang ganti dan menjawab pertanyaan Dongwoon dengan suara yang lebih lantang. “Hyung diusir dari kost2annya dan menunggu di depan rumah Hyunyoung hingga nyaris membeku.”
“Ah jinjja? Kalau begitu kita harus menengok oppa malam ini.” Ujar Minri . “Yak Dongwoon-sshi, kok kau malah bercermin sih? Bantu Miyoung unnie dong.”
Aku keluar dari ruang ganti dan segera ke meja kasir menginput harga-harga barang yang baru masuk ke midimarket, kulirik Miyoung yang tekun menyelesaikan tugasnya sambil tersenyum puas. Dan melihat Dongwoon yang sibuk di ujung ruangan dengan tugas-tugasnya juga.
“Miyoung adalah yeoja yang sedikit bicara banyak bekerja,” komentar Minri. “Hati-hati loh Yoseob-ah, bisa saja ia menjadi sainganmu dalam karir ini.”
Tanpa sadar aku mengerutkan dahiku, “Maksudmu bagaimana?”
“Saat ia berkenalan dengan kami, kulihat tatapan matanya penuh obsesi akan kemenangan, kurasa dia adalah orang yang perfeksionis.” Bisik Minri. “Sebaiknya kau berhati-hati, bisa saja kepala cabang memindahkanmu karena kau kalah saing dengannya.”

~~~~~

Yong Junhyung story..

Aku tahu dia menyukai namja itu, tapi… bisakah ia mengerti kalau aku juga membutuhkannya?
Bisakah ia mengerti kalau aku menyayanginya seperti Doojoon hyung menyayangi mendiang kekasihnya?
Aku tidak ingin terlibat perselisihan dengan namja suci itu. Tapi aku sungguh-sunguh mencintainya.
Aku ingin kembali seperti dulu, suci seperti masa kecilku…

“Junhyung oppa,” Sunghyo menarik tangan kananku dan menemukan tulisan panjang terukir disana. “Kau bikin tato lagi?”
Aku tersenyum getir mendengar pertanyaan Sunghyo, “Salahkah kalau aku menggunakan tato? Toh ini tidak dibuat di tukang tato, ini muncul dengan sendirinya.”
“Jinjja? Apa yang terjadi, apa yang kau lakukan oppa?” Sunghyo merapihkan meja restoran sambil menatapku khawatir, “Sudah kubilang kan jangan melakukan hal yang membuat ‘beliau’ murka.”
Aku menatap Sunghyo sinis, “Yak, aku tidak melakukan apa-apa. Tulisan ini muncul begitu saja di lenganku! Aku sudah bertaubat dan tidak akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya, arraseo?!”
“Jesonghabnida, aku hanya khawatir dengan kondisimu.” Ujar Sunghyo yang sudah selesai membereskan beberapa meja karena sebentar lagi kami akan pulang. “Kau tahu kan kalau semakin banyak tulisan yang muncul, maka kau….”
“Aku tahu.” Potongku cepat, “Tapi… apa jatuh cinta kepada yeoja yang menyukai orang lain itu salah ya?”
Sunghyo menggeleng kuat sebelum pergi ke ruang ganti baju, “Di dunia kami ada persaingan, jadi semuanya sah sah saja sebelum yeoja itu memiliki seorang kekasih. Tapi….. Kikwangie bilang di duniamu itu hal yang terlarang.”
Aku berdecak kesal dan memukul meja yang ada di depanku. Kenapa takdir mengatakan bahwa aku tidak bisa mencintainya? Padahal, dengan mencintai yeoja dengan hati yang tulus bisa menghapus dosa dan menjadikanku seperti dulu.
Kepalaku pusing sekali. Aku tidak ingin musnah, tidak ingin binasa. Tuhan, maafkanlah mahluk yang begitu frustasi untuk meminta maaf padamu ini.
“Oppa, gwechana?” tanya Sunghyo sambil memegang pundakku. “Cari saja yeoja lain, jangan dia. Kumohon… demi hidup dan matimu.”
“Tidak berguna membicarakannya disini, lebih baik kita pulang saja. Kuantar kau ke tempat Kikwang…. Aaaaaaarrrrgh!!” Belum sempat menyelesaikan kata-kataku, tiba-tiba kepalaku seperti terhantam batu. Pertanda salah satu kerabat akan melakukan sesuatu yang merugikanku.
“oppa, gwechana? Sepertinya kekuatanmu sedang beraksi.” Jawab Sunghyo mendekat dan menyenderkanku di tembok. “Dongwoon, atau Doojoon oppa?”
Aku memijat kepalaku yang sakitnya luar biasa. Kekuatan inderaku terus berjalan dan berjalan sehingga akhirnya aku mendapatkan sebuah penglihatan, “Doojoon brengsek!! Kaja, kita ke rumah Hyunyoung.”
“Mwo, ada apa dengannya? Tidak mungkin kan oppa melakukan sesuatu yang tidak-tidak pada Hyunyoung-sshi?!” tanya Sunghyo berlari mengikutiku.
“Molla, terserah kalau mau ikut atau tidak. Tapi aku akan pergi kerumah Hyunyoung untuk minta penjelasan.” Jawabku getir, “Merepotkan sekali..”
Aku keluar restoran dan menatap awan yang menurunkan salju putih, membuat tubuhku terlihat kontras dengan bola bola kecil dingin yang turun perlahan…
Putih, warna yang sangat kudambakan sejak kehidupanku berubah menjadi hitam…

~~~~~

Shin Hyunyoung story..

Sudah hampir 5 jam aku terbungkam oleh tubuh oppa yang lemah dan tidak terbangun dari tidurnya. Aku hendak menyingkirkannya, tapi aku takut ia akan terbangun dan kondisinya tidak berangsur membaik. Dan di satu sisi, aku juga ingin keluar dan melakukan aktifitasku.
Ottokke?
Tok tok tok…. Terdengar suara ketukan dan suara namja yang berteriak dari luar, “Hyunyoung-sshi~~!! Buka pintunya!!”
Aduh, bagaimana ini? Bagaimana aku bisa membuka pintu kalau tubuhku saja tertimpa oleh tubuh Doojoon oppa yang panas dan tak kunjung bangun ini~~~
“Anu…. Buka jendela samping saja, tidak dikunci kok!!” aku berteriak menyuruh namja itu masuk lewat jendela yang kebetulan di dekat kamarku. Astaga, Doojoon oppa ireonaaaa~~~
Sesaat setelah berteriak, kulihat mata oppa perlahan terbuka dan nafasnya mulai teratur kembali. Ia terkejut melihatku yang tertimpa oleh tubuhnya.
“Hyunyoung, sejak dari tadi kah kau disini?! Mian.. mianhae!!” serunya.
Sebelum aku menjawab Doojoon oppa, tiba2 Junhyung oppa melesat melewati jendela kamar dan menghempaskan Doojoon oppa ke dinding dengan wajah geram.
“Apa yang kau lakukan terhadap Hyunyoung eo? Aku melihatnya dari sana, kurang ajar!!”
Oppa memegangi tangan Junhyung oppa dengan ekspresi bingung, “Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa-apa terhadap Hyunyoung.”
“Kau menimpanya kan?! Kau ingin melakukan sesuatu terhadapnya kan?!” Junhyung oppa emosi, ia akan melayangkan pukulannya kea rah Doojoon oppa. Tapi sebelum pertengkaran semakin parah, aku berteriak..
“Doojoon oppa sedang sakit, ia pingsan dan tidak sengaja menimpaku~~!! berhenti memeganginya seperti itu, hentikan semuanya!!”

…..

“Jeongmal mianhae.” Ucap Junhyung oppa saat duduk bersamaku di ruang keluarga. Doojoon oppa kembali tertidur setelah ia makan malam dengan kami, sementara Junhyung oppa memutuskan untuk menemaniku sampai pukul 12 nanti.
“Gwechana, tapi.. kenapa kau bisa tahu?” tanyaku bingung. Kuganti saluran TV yang dari tadi hanya menampilkan acara yang membosankan.
“Molla… saat di restoran tadi, kepalaku pusing dan… kupikir mungkin terjadi sesuatu padamu.” Jelasnya. “Kau tahu kan? Sejak dulu… kalau menyangkut masalah tentangmu, kepalaku selalu terasa sakit.”
“Jadi.. seharusnya aku dong yang minta maaf? Hehe~” gurauku. “Kita sudah saling kenal sejak unnie kuliah, aku kenal Yoseob Dongwoon Kikwang dan Hyunseung oppa sudah nyaris 2 tahun. Kita semua seharusnya dekat kan?”
“Tapi kita semua sibuk dengan urusan kita masing-masing.” Ujar Junhyung oppa merebut remote dariku, mematikan TV dan menatapku. “Kita semua dipusingkan dengan perasaan kita masing-masing.”
Aku mengangguk lalu menyenderkan kepalaku di badannya sambil memegangi lengan kanannya. “Hem, kau punya tato juga? Apa arti dari tulisan ini?”
Ia mendekatkan wajahnya sambil berbisik, “Take a hold of today. And only believe in the word ‘tomorrow’ in the smallest way you can.”
Wajahnya semakin dekat dengan wajahku, pandangan matanya membuatku tak bergerak. Dan kedua lengannya menarik tubuhku merapat ke tubuhnya
“Hhhh hari ini adalah hati yang memusingkan, mianhae.” Ia menempelkan dahinya di dahiku seraya memeluk.

~~~~~

Min Minri story….

“Mini Minri, apa kau sudah absen?” tanya Hyunseung oppa sambil menarik kartunya dari mesin absen. “Tidak kusangka kita bertiga bisa bekerja di shift malam bersamaan. Padahal tadi aku tidak sengaja bangun kesiangan, dan Kikwang malas kerja shift pagi. Ternyata kau juga berhalangan hingga masuk shift malam.”
“Iya aku juga tidak menyangka kita bisa satu shift lagi, hahaha.” Ucapku getir, “Aku duluan oppa.”
Hyunseung oppa melambaikan tangan ke arahku, sekarang sudah jam 8 malam tapi kendaraan yang berlalu lalang masih banyak. Aku memanggil taksi dan memintanya untuk mengantarku pulang ke rumah.
Tiba-tiba HPku berbunyi tanda satu pesan masuk..

From: Umma

Sayang, kami semua pergi ke luar kota selama 2 malam. Tolong jaga rumah ya, mianhae.

Astaga, jaga rumah lagi disaat saat seperti ini? Anii~~
Aku menutup pesan dari umma dan menyetop taksi yang sudah sampai dirumahku, kemudian membayarnya dan membuka pagar untuk masuk rumah.
Tiba-tiba HPku berdering tanda telepon masuk, dari namja chinguku… rasanya hatiku sakit sekali, aku ingin mengakhiri hubungan dengannya tapi selalu tertunda. Dan kali ini aku bersungguh sungguh akan melakukannya.
“Yeoboseo?” aku mengangkat teleponnya. “Aku sudah sampai rumah, hari ini aku shift malam.”
“Jinjja? Kau bawa syal kan saat disana? Hati-hati ya salju sedang banyak-banyaknya turun loh.” Ujarnya panjang lebar. “Di dekat rumahku saja tadi sedang badai dan beberapa rumah….”
“Jagiya, mianhae. heeojigo kaja…” aku memotong bicaranya dengan mengucapkan kata itu. Ia terdiam dan aku juga terdiam, suasana mendadak sepi disekitarku.
“Waeyo?” tanyanya bingung dan terdengar syok.
“Jarak kita sangat jauh, kehidupan kita juga berbeda. Kurasa ku bukan yeoja yang cocok untukmu.” Aku berusaha tenang walaupun rasanya ingin menangis. “Maafkan aku karena selama ini telah berbohong, sejujurnya aku sudah tidak tahan dengan hubungan ini.”
Kupikir ia akan memintaku mempertahankan hubungan kami, tapi ia malah berkata. “Maafkan aku juga ya, sebenarnya aku sudah punya yeoja chingu lain. Dia adalah rekan kerjaku” jawabnya penuh sesal. “Jaga dirimu disana, kita saling memaafkan ya karena ketidak jujuran ini?”
“Nee. Annyeong…” jawabku sambil menutup pembicaraan, aku berjalan gontai menuju pintu depan dan duduk disana. Tangisku meledak begitu saja, kegalauanku mungkin sudah hilang… tapi kenangan2 yang terputar ulang lagi di pikiranku membuat semuanya terasa menyedihkan.
Aku menyeka airmata yang membuat pandanganku buram, kulihat pintu pagar dan menemukan Dongwoon yang berdiri mematung disana. Dongwoon? Kenapa ia bisa ada disini?
“Do…. Dongwoon-sshi? A… ada apa?” aku mengelap hidung dan mataku ketika ia masuk ke dalam halaman rumah dengan langkah yang lebar.
“Seharusnya aku yang bertanya ‘ada apa?’ kepadamu.” Dongwoon menghampiriku dan mencengkram pundakku, “Apa yang terjadi, kenapa kau menangis?”
Aku menggeleng, Dongwoon tidak perlu tahu kesedihan kecil seperti ini. “anii… hanya saja aku sedih karena keluargaku pergi keluar kota tanpaku. Hajiman…. Kenapa kamu bisa ada disini, rumahmu kan jauh dari sini?”
“Kepalaku pening dan aku memutuskan untuk jalan-jalan dengan motorku.” Jawab Dongwoon. “Memang semua orang dirumah noona pergi kemana?”
Dongwoon menatapi mataku lekat-lekat, membuat bicaraku menjadi terbata bata. “A.. anu…. Mereka pergi dan…. aku tidak ingin sendirian disaat seperti ini.”
Tiba-tiba Dongwoon bangkit dan berjalan mendekati pagar, “Kojimal, kenapa noona berbohong padaku?” Tanya Dongwoon dingin dan hendak meninggalkanku. Aku langsung kalap dan ketakutan, aku tidak ingin sendiri lagi.  Aku ingin Dongwoon disini untuk sesaat saja, jebal Dongwoon-sshi…. Dorawa~~

“A…. aku putus dengan namja chinguku yang nun jauh disana. Namun tadi ia baru jujur padaku kalau ternyata dia sudah punya yeochin lain dan aku benar-benar kecewa!!” ucapku terbata. “Mianhae Dongwoon-sshi, kajima~~ tolong temani aku malam ini saja. Aku tak ingin sendiri~!!!”
Tangisku semakin deras saat mengucapkan kalimat barusan. Kenangan saat aku masih bersamanya terputar ulang kembali, begitu menyesakkan dada. Dan malam ini aku ditinggalkan Dongwoon karena aku berbohong padanya, sungguh malam yang menyesakkan pikirku.
“Kenapa tidak bilang kalau semuanya menyangkut masalah perasaan noona?” tiba-tiba sesuatu yang hangat menyelimuti tubuhku. Ternyata Dongwoon kembali dan memelukku “Aku tadi memarkir motor di dalam rumah, tidak apa-apa kan?”
Aku tidak menjawabnya, hanya sibuk mengusap pipiku yang basah. Cuaca membuat pipiku merah dan membeku, sebeku perasaan ini.
“Noona? Apakah kau menyukaiku?” Dongwoon memperdalam pelukannya sehingga kini posisiku memunggunginya dengan jarak yang cukup dekat. Jantungkumelejit karena baru pertama kalinya tubuhku sedekat ini dengannya.
“Nee,” jawabku singkat. Dongwoon masih memeluk pundakku.
“Meskipun… orang yang kau cintai bukanlah manusia?” tanya Dongwoon lagi.
Aku hanya bisa mengangguk karena aku mulai bingung dengan pertanyaan Dongwoon. Seakan ia bisa membaca isi hatiku, tiba-tiba ia berkata.
“Apakah perasaan sukamu terhadapku bisa melebur jadi cinta, noona? Meskipun aku lebih muda darimu?”
“Do.. Dongwoon-sshi, apa yang ingin kau ucapkan?” tanyaku bingung. Pandangan matanya tajam sekali, sehingga diriku seolah dibuat beku olehnya.
“Yang ingin kuucapkan adalah….. aku juga menyukaimu, aku mencintaimu.” Jawabnya terengah engah, “Aku akan jadi malaikatmu, menjagamu disampingku, melindungimu meskipun harus mati.”
Wajahku memerah, kenapa aku tak sadar kalau ia juga menyukaiku? Padahal kami selalu bersama… tapi, kenapa ia mampu menebak perasaanku sementara aku tidak?
“Apa kamu akan mencintaiku, meskipun aku lebih muda?” tanya Dongwoon sekali lagi. “Kalau aku…. sangat bersungguh sungguh terhadap perasaanku padamu noona, dengarkan detak jantungku. Pegang dadaku agar kamu bisa memastikannya.”
Aku menuruti sarannya dan ternyata memang benar, detak jantung kami berderu cepat dalam satu tempo yang sama… kesedihan sekaligus kegembiraan ini membuat kepalaku pusing.
“Dongwoon-sshi.” Ujarku singkat.. “Jantungmu berdetak kencang seperti milikku, maafkan aku yang tidak jujur ini. Aku memang menyukaimu semejak kita bertemu.”
Dongwoon tersenyum senang dan matanya berkaca-kaca.” Jinjja? Noona…. Kamu membuatku ingin meledak…”
Dongwoon melepaskan pelukannya dan menaruh tangannya di pipiku. Wajahnya mendekat.. mendekat… dan berakhir dengan bibir hangatnya yang menempel di bibirku. Aku memejamkan mata merasakan kehangatan hati Dongwoon dan memeluknya kuat-kuat, rasanya cahaya terang menyelubungi Dongwoon meskipun aku tak melihatnya….
Saat ia melepaskan ciumannya, aku membuka mata….. dan terlihat disekitarnya bulu bulu hitam yang rontok digantikan oleh bulu-bulu putih. Tubuhnya kini benar-benar polos karena pakaiannya telah terkoyak parah.

Ia menggendongku ke kamar dan menaruhku di tempat tidur, kugapai pundaknya yang lebar dan kurasakan kehangatan yang menjalari tubuhku.

Sejak malam ini, aku tak akan pernah sendiri lagi…..