Title :      You’re Mine!

Author :  Meulu Primananda (LaaaadyDJ)

Lenght:  Oneshoot (4.470 words)
Genre:   Romance, Angst, AU

Rating : PG15

Cast :     Kang Soo Kyo – OC’s / YOU

JoTwins – Boyfriend

Disclaimer : This ff and plot 100% mine! Jotwins belong to their parent and youngmin belong to me. Well, ff ini dulu pernah diikutin lomba walaupun bukan juara umumnya *?*. Coment please~

Summary :

Because you’re mine, and always mine~ (Meulu)

SooKyo POV

Aku berjalan pelan menyusuri jalanan taman bunga di pulau Nami, suasana musim gugur masih terasa walaupun sekarang sudah memasuki awal musim dingin. Kupererat jacket yang kukenakan untuk menghalau udara dingin menyentuhku. Langit mulai berwarna jingga pekat tertanda malam sebentar lagi akan datang. Aku menghela nafasku, salahkah aku kembali ke sini? Satu-satunya alasan aku mau menempuh perjalananan selama satu jam empat puluh menit dari seoul hanya karena namja itu. kami tidak berjanji sebelumnya untuk kembali bertemu disini, hanya saja perasaanku mengatakan aku harus kesini.

Apa kalian penasaran dengan namja itu? apa kalian ingin tau kenapa aku bersusah payah ke pulau indah ini? Aku akan menceritakannya jika kalian berjanji tak akan bosan dengan ceritaku.

Namanya Jo Youngmin, namja enam belas tahun yang tampan dan rela merubah warna rambutnya menjadi pirang/gold demi bisa kubedakan dari saudara kembarnya. Namja yang manis namun sedikit dingin dan mudah tersinggung, memiliki sisi kepemimpinan yang baik, penyuka Winnie the pooh dan warna biru, dan juga namja yang selalu marah jika dibanding-bandingkan dengan saudara kembar berbeda-enam-menitnya, Jo Kwangmin.

Baiklah, kurasa aku sudah terlalu banyak mendeskripsikan tentang kepribadian namja itu. kalau boleh aku berbangga sedikit, dia itu Namjachinguku. Kalian boleh heran kenapa namja seperfect itu –setidaknya dimataku- mau menjadi pacarku yang notabane nya hanya seorang gadis biasa yang jelek, sedikit gendut, dan pendek serta berkulit coklat karena aku bukan orang korea asli. Jangankan kalian, aku sendiri saja masih heran dengan apa yang kualami. Anggap saja percikan kembang api keberuntungan dari malaikat didunia atas mengenaiku sehingga aku bisa mendapatkan namja setampan itu.

Kurasa cukup tentang perincian karakter kami. Kita harus kembali ke cerita pokoknya, bukan? Jangan bilang sekarang kalian sudah bosan mendengar cuap-cuapku karena aku bahkan belum memulai ceritanya.

Satu tahun lalu, aku dan rombongan kelasku dari sekolah memutuskan untuk berlibur ke pulau Nami selama beberapa hari untuk merayakan kelulusan kami. Bisa kau tebak bukan kalau aku dan Jotwins adalah teman satu kelas, jadi secara kebetulan juga aku bisa berlibur bersama mereka. Perasaanku sangat senang karena aku sudah lama menyimpan perasaan pada Jotwins. Aku memandang liburan ini sebagai kesempatan untuk lebih dekat dengan mereka, dan ternyata aku tidak salah.

Kami menginap di salah satu penginapan yang harganya cukup terjangkau di pulau Nami. Kamarku berada di depan kamar Jotwins, ini suatu kebetulan yang menyenangkan. Dulu sikap sikembar sangat betolak belakang, Kwangmin sebagai yang lebih kecil sangat ramah dan hangat, nyaris tak ada kata lelah dari namja yang hiper satu ini. Sedangkan Youngmin lebih dingin walaupun mereka sama-sama hiper.

Pada suatu malam, aku tak bisa tertidur.  Kuputuskan untuk keluar dan mencari udara segar agar merasa lebih baik. Aku menyusuri jalanan hingga akhirnya aku sampai disebuah taman bunga. Tak sengaja aku melihat sosok yang kukenal, aku mengira itu Kwangmin sehingga reflex aku memanggil nama Kwangmin. Namun namja yang kupanggil itu tak mau menoleh kearahku, dan ketika aku mencoba memanggilnya dengan nama ‘Youngmin’ baru namja itu menoleh kearahku.

Entah ada keberanian dari mana, aku dengan sedikit gugup dan perasaan kacau seperti baru meledak, aku mengatakan bahwa aku menyukai Jotwins. Sejenak Youngmin terdiam dan menatapku marah. Awalnya aku mengira dia marah karena aku nekat mengatakan itu padanya padahal aku bukan murid yang cantik dan sesuai dengan mereka, tapi ternyata ia marah karena aku mengatakan kalau aku menyukai ‘Jotwins’ yang berarti aku menyukai mereka berdua. Memang pada saat itu aku masih belum bisa mengarahkan perasaanku pada satu orang, mungkin karena adanya factor kemiripan mereka berdua dan karena aku menyukai sikap mereka yang sangat berbeda.Youngmin berkata padaku,

“Kau harus memilih salah satu diantara kami. Kau tak mungkin mengatakan menyukai kami sedangkan kami adalah dua individu yang berbeda.” Aku sedikit terhenyuk, terdiam karena merasa bersalah dengan pengakuanku. Sedikit merutuki diriku sendiri karena menyatakan perasaanku padahal jelas-jelas aku tak pantas untuk mereka. Aku berusaha keras menahan air mataku yang sudah bertumpuk di pelipis mataku. Namun aku kembali terkejut ketika Youngmin melanjutkan,

“Kau harusnya hanya menyatakan perasaanmu padaku, Sookyo-ya. Kau harusnya hanya menyukaiku. Dan aku hanya mau kau menjadi pacarku, tak peduli alasan apapun. Mulai sekarang kau adalah yeojachinguku dan akan kubuktikan kalau kau hanya menyukai kwangmin sebagai temanmu. Kau milikku, arasseo?” aku menatapnya tak percaya, seolah aku hanya bermimpi mendengar kata-kata itu keluar dari bibirnya. Air mataku jatuh, tapi bukan air mata sedih, bukan itu! melainkan air mata bahagia. Seiring waktu berjalan Youngmin memang menunjukkan padaku kalau aku hanya mencintainya dan menyukai Kwangmin sebagai teman. Dan malam itu, kami menghabiskan waktu berjalan-jalan ditaman indah ini berdua, hanya berdua.

Dan disinilah aku sekarang, ditempat yang memiliki kenangan paling indah dalam hidupku. Aku mencari, mencari sesuatu yang bahkan mungkin tak ada di sini sekarang. Tapi setidaknya aku berusaha dan tidak hanya duduk berdiam diri dan menunggu.

***

Youngmin POV

Kuseret kakiku yang terasa sedikit berat dijalanan taman bunga pulau Nami. Jam ditanganku sudah mulai menunjukkan pukul 06.39 PM dan langit sudah berwarna jingga. Sebenarnya aku tidak berencana untuk menuju pulau ini, namun entah kenapa hatiku merasa aneh dan menyuruhku untuk segera pergi ketempat ini. Perjalanan memakan waktu satu setengah jam lebih, tapi karena jadwalku kosong hari ini aku bisa pergi kemanapun aku mau. Kebebasan yang jarang kudapatkan saat ini, dan tentunya harus aku pergunakan dengan sebaik-baiknya.

Pikiranku teringat akan kejadian setahun yang lalu di taman ini. Apa itu alasan kenapa feelingku bersikeras menyuruhku berkunjung kesini?

Tempat ini bersejarah bagiku, ditempat ini aku mendapatkan cinta pertamaku. Dia Kang Soo Kyo, gadis chubby yang sekelas denganku ketika aku masih di Junior High School dan teman setengah semesterku di Seoul Senior High School.

Dia bukan gadis yang cantik, namun tidak buruk juga, sedikit genduk  dan memilik warna kulit yang berbeda dengan orang korea. Dimata orang lain mungkin dia terlihat aneh, namun dimataku dia sangat istimewa. Kepribadiannya yang menarik dan sering berubah-ubah sesuai moodnya membuatku semakin penasaran dengannya. Sesaat dia bisa menjadi begitu cerewet dan sesaat kemudian dia kan menjadi sangat pendiam.

Aku dan teman sekelasku berlibur di pulau ini untuk merayakan kelulusan kami, karena dia teman sekelasku dia juga ikut. Pada malam pertama kami disini, aku tak bisa tidur sehingga menyelinap keluar dari penginapan dan menikmati udara malam dipulau ini.

Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil nama Kwangmin -saudara kembar-enam-menitku- dari suaranya saja aku sudah tau kalau itu Sookyo. Aku sengaja tidak menoleh karena aku tau dia masih menebak apa aku ini Youngmin atau Kwangmin. Beberapa saat kemudian ia kembali memanggil, kali ini dengan nama yang benar. Aku sangat sukaa mendengarnya memanggil ‘Youngmin’ dengan suara khasnya, hal itu membuat hatiku berdebar. Aku menoleh dan kami berbincang sejenak sekedar menanyakan kenapa dia belum tidur juga.

Tiba-tiba secara mengejutkan dia mengatakan kalau dia menyukai Jotwins. Aku marah. Bukan apa-apa, hanya saja itu berarti dia menyukai kami berdua. Siapa yang tidak marah jika kau disukai orang yang juga menyukai saudara kembarku. Aku sedikit mengomel mengatakan kalau dia harus memilih salah satu diantara kami, kemudian suasana menjadi hening. Aku kemudian melanjutkan kata-kataku,

“Kau harusnya hanya menyatakan perasaanmu padaku, Sookyo-ya. Kau harusnya hanya menyukaiku. Dan aku hanya mau kau menjadi pacarku, tak peduli alasan apapun. Mulai sekarang kau adalah yeojachinguku dan akan kubuktikan kalau kau hanya menyukai kwangmin sebagai temanmu. Kau milikku, arasseo?” kataku dengan egoisnya, aku memang menyukainya. Dan setelah pengakuannya itu aku merasa aku adalah pengecut karena tak berani mengatakan hal itu padanya. Dia menatapku heran, sesaat kemudian air mata bening mengalir dari matanya.

Aku menjadi panik, apa aku menyakitinya? Dengan sedikit takut aku menariknya dalam pelukanku, membiarkannya menangis dan membasahai bajuku dengan air matanya. Dia tidak menolak atau mendorongku, jadi aku merasa pelukanku akan sedikit menenangkannya. Aku tak mau tau, aku tak akan menyerahkannya pada adik kembar-enam-menitku yang sebenarnya juga menyukai Sookyo dan pelukan ini dapat diartikan bahwa aku mengklaimnya sebagai milikku, dan tak akan kulepas dia bahkan untuk adik-kembar-enam-menitku.

Aku kembali tersadar dari kenangan indah setahun yang lalu, kemudian aku sadari kalau feelingku kali ini menyuruhku mencarinya dan minta maaf pada Sookyo karena tak mengacuhkannnya selama lebih lima bulan ini.

Aku belum mempunyai janji dengan Sookyo akan bertemu dengannya disini, aku bahkan tak bisa menghubunginya karena untuk sekarang aku tidak diperbolehkan menggunakan ponsel. Namun hatiku yakin kalau aku akan mendapatkan sesuatu disini.

Langit sudah berwarna ungu gelap dan aku sudah lelah berjalan, kukenakan Hoodie untuk menutup wajahku dan memutuskan duduk di salah satu kursi taman yang ada. Kursi itu ada dua namun dibuat saling membelakangi. Aku duduk di salah satu sisinya, berusaha menutupi wajahku agar tak ada yang mengenaliku.

Well, aku juga ingat kalau aku juga mempunyai kenangan yang teramat indah dikursi ini. Aku hanya bisa tersenyum miris dan menundukkan kepalaku kembali merasa bersalah.

***

Soo Kyo POV

Langit sudah berwarna gelap ketika aku masih terus menyusuri jalanan taman ini. Aku merasa sedikit lelah setelah berjalan berkeliling. Kulihat ada kursi yang saling berpunggungan, kursi itu salah satu tempat yang memiliki kenangan indah bagiku. Aku melihat ada seorang namja yang duduk di salah satu sisi kursi ini, namja itu memakai hoodie dan menunduk sehingga aku tak bisa melihat wajahnya. Aku duduk di sisi satunya, kunaikkan kedua kakiku dan duduk dengan memeluk lututku.

Ingatanku kembali berputar.

Satu tahun lalu, selang semalam setelah aku menyatakan perasaanku pada Youngmin, kami kembali tak bisa tidur sehingga menyelinap keluar dari penginapan lagi. Tujuan kami masih sama, yaitu taman ini. Kami berjalan sambil bergandengan tangan, untungnya dia tak menyadari hatiku yang sedang berdegup dengan kencang seolah ada konser yang sedang berlangsung didalam.

Kami duduk dibangku yang sedang kududuki sekarang, sekedar berbincang tentang kehidupan kami. Dia bilang kalau dia bercita-cita ingin menjadi seorang artis terkenal dan dipuja banyak wanita, namun kemudian dia cepat-cepat menambahkan kalau aku akan tetap no 1 baginya setelah aku menatapnya dengan mata menyipit dan pipi yang puffy.

Malam itu pertengahan musim gugur, daun-daun yang berwarna orange jatuh secara perlahan dari atas pohon karena hembusan agin malam. Bunga-bunga yang mampu bertahan terlihat indah dengan kuncup warna-warni mereka yang dibalut warna pekat malam. Lampu jalan menerangi kami dengan cahayanya yang cukup membuat pandangan menjadi lebih baik dan aku dapat menatap wajahnya dengan bebas.

Lama suasana menjadi hening, kami berdua merasa canggung hingga Youngmin berkata, nyaris bergumam kepadaku.

“Sookyo-ya, saranghae! Neomu saranghayo!” aku memalingkan wajahku menatapnya, masih merasa seperti mimpi dan setengah tidak percaya. Wajahnya terlihat teduh, mata beningnya yang hitam membuatku tenggelam dalam kata-katanya. Boleh aku bilang aku merasa seperti melayang? Memang terlalu berlebihan, tapi memang itu yang aku rasakan.

Beberapa menit posisi kami masih sama, wajah kami saling berhadapan.

“Maaf karena membuatmu mengatakan perasaanmu lebih dulu, seharusnya aku yang mengucapkannya. Saranghae!” sambung Youngmin lagi, dan sedetik kemudian bibir kecilnya yang sedikit berisi itu sudah menekan pelan bibirku. Aku membelalakkan mataku terkejut dan sedetik kemudian menutup mataku menikmati.

It’s my First kiss!

Manis, bibirnya terasa manis.

Aku berfikir, apa kami terlalu cepat? Apa wajar remaja seumuran kami yang saat itu masih 15 tahun merasakan yang namanya first kiss? Aishh, aku menjadi bingung, disatu sisi aku memang menikmatinya.

Kembali kemasa sekarang. Aku membenamkan wajahku diantara kedua lututku, menangis. Yah, aku memang cengeng, kami sudah tak berkomunikasi selama kurang lebih lima bulan tanpa keterangan akan status kami sekarang. Boleh aku menangis lebih keras? Aku ingin Youngin kembali walaupun dengan sifat dinginnya, aku merindukannya!

***

Youngmin POV

Aku mengingat saat manis dibangku taman yang kududuki ini. Melihat wajah kesal Sookyo saat kuceritakan cita-citaku yang ingin menjadi penyanyi dan disukai banyak wanita, muka heran Sookyo saat aku mengatakan kata cinta padanya, dan wajah memerah Sookyo saat aku menekan pelan bibirku di bibirnya.

Itu ciuman pertamaku, dan kuharap juga ciuman pertamanya. Aku memberikan itu padanya karena aku mau dia yang selalu ada di sisiku. Aku dapat melihat matanya memerah seperti hendak menangis, namun aku buru-buru mencubit wajahnya dan membuatnya melebar agar air matanya tak jatuh. Namun dia malah kesal karena cubitanku dan balas memukul kepalaku pelan. Tapi itu lebih baik, aku tak suka melihatnya menangis. Dia akan lebih baik ketika tersenyum dan juga ketika kesal, hehe~

Kami lalu memutuskan untuk kembali ke penginapan karena jam hampir menunjukkan pukul tiga pagi. Aku menggandeng tangannya menuntunnya kembali ke penginapan. Kebetulan sekali kamar kami berhadapan,

“Masuk dan segeralah tidur. sleep tight and sweet dream, saranghaeyo!” ucapku, Sookyo tersenyum lembut dan menjawab pelan lalu masuk kekamarnya, begitu juga aku.

Aku kembali tersadar dari kenanganku ketika mendengar isakan dari belakangku. Aku melihat seorang yeoja yang terduduk disisi lain kursi ini sambil memeluk kakinya dan membenamkan wajahnya disekitar lututnya. Aku seperti mengenali isakannya, namun aku tak bisa mengetahui siapa yeoja ini karena wajahnya sama sekali tak terlihat.

Jacket gadis ini tipis sekali, gumamku. Kubuka Jacketku dan kusampirkan dibahunya.

“Aku hanya kasihan padanya, Sookyo-ya. Jadi jangan marah dan cemburu padaku.” Ucapku dalam hati, tersenyum sekilas karena memikirkan Sookyo dan kembali beranjak pergi menyusuri jalan sebelah kiri taman ini.

***

SooKyo POV

Kurasakan seseorang menyampirkan sesuatu dibahuku. Aku berhalusinasi kalau aku kini sedang mencium wangi tubuh Youngmin,kuangkat wajahku bersemangat dan melihat sekeliling namun kosong.

“Tenyata aku benar-benar berhalusinasi.” gumamku lesu, sesuatu jatuh dari pundakku. Ternyata Jacket. Kuambil dari atas tanah kemudian mengibaskannya untuk menjatuhkan pasir-pasir yang menempel di jacket itu. lagi-lagi aku berhalusinasi seperti mencium wangi tubuh Youngmin.

Ngomong-ngomong, siapa orang baik yang mau meminjamkan Jacketnya padaku? Kenapa tidak menyapaku saja? heranku. Kuikat kedua tangan Jacket itu dileherku, siapa tau aku akan bertemu orang yang memberikan jacket ini lagi, jadi aku bisa mengembalikannya dan berterima kasih kepada orang itu.

Aku kembali berjalan lagi, kali ini aku putuskan untuk mengambil jalur sebelah kananku karena aku ingat saat dulu bersama Youngmin di taman bunga sebelah situ.

Saat itu siang hari dan sedang tidak ada kegiatan dari Pembina kami, sehingga kami diperbolehkan bermain sesuka hati.

Aku berjalan-jalan ditaman ini dan bermain dikebun bunga tulip. Aku sendirian karena aku memang tak punya teman, anak-anak perempuan menganggapku kutu buku dan tidak tau cara berpakaian yang benar sehingga aku sedikit terasing.

Tiba-tiba seseorang menutup mataku dengan kedua tangannya. “Youngmin-ah?” tebakku, tangan itu mengendur perlahan. “Kenapa harus Youngmin? Ini aku, Kwangmin.” Aku berbalik dan melihat Kwangmin sedang berdiri dibelakangku sambil memainkan jarinya,aku tertawa melihat tingkah konyolnya. “Mianhae, aku kira Youngmin.” Ucapku.

“Ya! Kenapa kau selalu mengira aku Youngmin.” Kesal Kwangmin.

“Karena aku namjachingunya.” Youngmin tiba-tiba muncul dari belakangku dan mengalungkan tangannya di leherku.

“Hyaa! Jauhkan tanganmu dari SooKyo!” Kwangmin sedikit berteriak, sedangkan Youngmin balas menjulurkan lidah pada saudara kembarnya itu.

“Tiak bisa, dia milikku.” Sambung Youngmin, Kwangmin membesarkan matanya kaget.

“Kenapa kau selalu mendahuluiku?” Kesalnya.

“Karena aku kakak-kembar-enam-menitmu.” Youngmin mengedipkan sebelah matanya kepada Kwangmin dan menjulurkan lidahnya lagi.

“Ayo, Jagiya. Kita pergi…” Youngmin bicara sok mesra dan menarik tanganku menjauh dari situ yang sukses membuat Kwangmin terlihat marah, wajahnya memerah. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah sikembar aneh ini.

“Sookyo-ya, ini untukmu.” Ucapnya, menyerahkan setangkai bunga mawar putih padaku. Awalnya aku heran darimana dia mendapatkan itu, namun kemudian aku melihat sebuah petak bunga mawar putih dibelakangnya. Sontak aku tertawa keras, Youngmin menatapku heran.

“Tak boleh memetik bunga sembarangan.” Ucapku meniru tulisan di papan peringatan yang tertanam disitu.

“Yah, sekali saja.” Youngmin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Tapi nanti kalau aku sudah punya uang banyak aku akan membelikanmu ratusan tangkai bunga. Makanya, kau harus selalu menjadi milikku, arasseo?” sambungnya cepat, aku tersenyum kemudian mengangguk. Baru kata-kata yang keluar dari bibirnya saja sudah membuatku nyaris melayang.

“Promise?” ia menyodorkan jari kelingkingnya padaku.

“Promise!” jawabku, menautkan jari kelingkingku padanya. Youngmin tersenyum kemudian menarikku dalam pelukannya.

Apa janji itu masih berlaku sampai sekarang? Tanyaku dalam hati. Lagi, aku menghela nafas panjang karena memikirkannya.

***

Youngmin POV

Hari semakin malam, kulirik jam tanganku dan kudapati bahwa ini sudah hampir jam delapan malam. Aku berhenti dan menatap kesekeliling. Taman ini mulai sepi, hanya ada beberapa orang yang berjalan berpasangan. Ah, andai ada Sookyo disini.

Dulu kami sering berjalan bersama, tidak hanya di taman pulau Nami ini, tapi juga di Seoul atau dimanapun aku mempunyai waktu luang. Lagi-lagi aku tersenyum mengingatnya. Gadis itu menerobos jalur poros rotasi duniaku dan menjadikan dirinya matahari yang terus aku kelilingi. Aku candu akan gadis itu, walaupun ternyata cita-citaku sendiri yang memisahkanku darinya.

Seperti yang kuceritakan tadi, aku bercita-cita menjadi penyanyi. Setelah kelulusan, aku mendapat pemberitahuan dari agensiku kalau aku akan segera debut sebagai boyband dengan saudara kembarku dan empat orang lainnya. Ah ya, aku lupa memberitahu kalau aku adalah salah seorang trainee di salah satu agensi terkenal di korea. Aku sangat senang karena akhinya jalan menuju mimpiku terbuka.

Aku memberitahu Sookyo tentang ini, dan kelihatannya dia juga sama senangnya denganku. Dia sangat mendukungku dan bahkan memasakkanku makanan-makanan lezat dari Indonesia, negara asalnya. Awalnya makanan itu sedikit terasa aneh dimulutku, tapi ternyata setelah lidahku cukup terbiasa makanan itu sangat enak.

Namun seperti kebanyakan trainee yang akan memulai debut mereka, waktuku semakin banyak kuhabiskan dengan latihan dan latihan. Dengan begitu otomatis waktu yang akan kuhabiskan dengan Sookyo semakin sedikit, bahkan nyaris tidak ada. Tapi sepertinya Sookyo tidak keberatan, terkadang dia malah datang ketempat latihanku dengan membawakan makanan untukku walaupun secara sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan oleh petugas dan mengatakan kalimat-kalimat penyemangat padaku.

Malam natal tahun lalu aku habiskan dengan Sookyo. Sookyo memang tidak merayakan natal karena dia bukan kristiani, walaupun begitu dia mau menemaniku merayakannya. Aku membawanya keatap sebuah gedung tinggi, aku sudah menyiapkan meja makan kecil dan sebuah pohon natal yang akan kami hias bersama.

Itu saat yang menyenangkan dan kami melewatinya hanya berdua. Bercanda sambil menghias pohon, sesekali aku menggodanya dengan kata-kataku atau sesekali menyenggol bahunya. Pada saat dia ingin meletakkan bintang utama dipuncak pohon, dia tak bisa meraih puncak itu karena dia terlalu pendek. Aku menggendongnya supaya bisa lebih tinggi, dan akhirnya dia bisa memetakkan bintang itu ditempatnya. Tapi tiba-tiba aku kehilangan keseimbanganku karena Sookyo memang terlalu berat sehingga kami berdua jatuh kelantai dengan sukses. Kami sama-sama meringis kesakitan, tapi segera setelahnya wajah Sookyo kelihatan bersalah. Dia minta maaf padaku. Tapi akhirnya aku juga merasa bersalah karena aku yang menggendongnya tanpa diminta. Aku tersenyum padanya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja, awalnya dia tak percaya tapi buru-buru aku menempelkan pipiku di pipinya dan kembali berbisik ditelinganya bahwa aku baik-baik saja. dan akhirnya dia diam walaupun wajahnya terlihat semerah tomat. Aku suka melihatnya yang seperti itu, haha~

Sejenak suasana menjadi awkward, akhirnya kami bangkit dan duduk diatas meja yang sudah aku siapkan. Aku menyanyikan lagu-lagu natal dan berdoa sedangkan Sookyo terfokus dengan kitab suci agamanya sendiri. Setelah aku selesai, Sookyo masih sibuk dengan kitabnya dan beberapa saat setelah dia selesai dia menyimpan kembali kitab sucinya dengan hati-hati ditasnya. Walaupun kami berbeda agama, kami saling menghormati agama masing-masing.

Hidangan malam ini biasa saja, hanya ada satu kue tar coklat dengan lilin diatasnya. Kami memotong kue itu dan aku memberikan potongan pertama kepada Sookyo. Dia memakannya bersemangat, aku menatap wajahnya sambil tersenyum. Tiba-tiba ide usil muncul dipikiranku. Kucolek krim kue itu dan menempelkannya di pipi Sookyo. Gadis itu merengut sambil mempouted pipinya, aku tertawa keras. Tiba-tiba dia mau membalasku tapi dengan cepat aku menangkap tangannya dan memasukkan jarinya yang terkena krim kue kemulutku.

“Yaikh, jorok!” kesalnya menarik tangannya kembali, aku tetawa.

“Manis…” ucapku tak menghiraukannya. Haha, dari wajahnya dia terlihat kesal dan aku puas membuatnya kesal.

Malam itu terasa menyenangkan, dan itu adalah saat terakhir aku menghabiskan waktuku dengan Sookyo karena setelah hari itu jadwalku bertambah padat. Aku mulai pindah ke dorm baru dan tidak diijinkan memakai ponsel lagi. Jadwalku tidak memungkinkan untuk aku menyelinap keluar dari dorm itu. Komunikasiku dengan Sookyo terputus total sajak saat itu, aku merasa sangat bersalah padanya semenjak saat itu…

Aku menarik nafasku panjang, berharap malam ini aku benar-benar akan bertemu dengannya. Aku sudah merindukannya, dan aku ingin sesegera mungkin meminta maaf padanya.

Aku kembali melangkah berjalan menuju sebuah kuil ditaman ini, dulu aku pernah kesini dengan Sookyo. Aku tidak percaya dengan dewa-dewa, tapi aku tetap melemparkan koin, membunyikan lonceng dan menepuk tanganku kemudian berdoa sambil menutup mata.

“Aku harap semoga aku bisa bertemu dengan Sookyo secepatnya…”

***

Sookyo POV

Udara semakin terasa dingin walaupun salju belum turun, aku terus berjalan menyusuri jalanan taman. Aku ingat tahun kemarin menemaninya merayakan natal walaupun aku bukan kristiani, aku hanya menemaninya dan tidak ikut merayakannya.

Aku akan ke kuil, ucapku dalam hati. Dikuil itu aku pernah bermain dengan Youngmin. Ketika kami jalan-jalan ditaman ini, kami tersesat dan akhirnya sampai disebuah kuil. Kami berdua sama-sama tidak percaya dengan kekuatan dewa, tapi iseng kami melemparkan koin kesebuah nampan, membunyikan lonceng dan sama-sama berdoa.

“Apa yang kau minta?” penasaran Youngmin.

“bukan apa-apa.” Jawabku singkat.

“Jinjja?” tak percayanya.

“Ne! kalaupun ada tak akan aku katakan padamu.” Ucapku sambil menjulurkan lidahku mengejeknya.

“Ya! Tak ada yang boleh kau sembunyikan dariku.” Kesal Youngmin, aku tertawa.

“Itu terserah padaku, haha. Kau sendiri meminta apa?” penasaranku.

“Benar ingin tau?” ucapnya dengan nada menggoda.

“Kalau tak mau ceritakan ya sudah.” Aku berpura-pura kesal kemudian membalikkan badanku melangkah pergi, tapi tiba-tiba tangan Youngmin menahan tanganku.

“Begitu saja marah, aku kan cuma tanya apa kau benar-benar ingin tau?” ucapnya tersenyum kepadaku dan membalikkan badanku menghadapnya. Aku menatapnya heran.

“Memangnya apa yang kau minta?” tanyaku lagi.

“Kau.” Ucapnya singkat, masih tersenyum manis padaku. Aku terdiam  karena tak bisa berkata apa-apa, airmataku kembali jatuh dengan bebasnya. Tiba-tiba tangan Youngmin memelukku, aku merasa lebih baik.

Aku kembali tersenyum mengingat saat itu, mengenangnya saja sudah membuat aku bahagia. Aku menaiki tangga yang akan membawaku kekuil. Sampai disana aku melihat sudah ada seorang namja yang sedang berdoa, aku berdiri disamping namja itu. Tak kuacuhkan namja itu dan langsung melakukan ritual simple sebelum berdoa. Melempar koin, membunyikan lonceng dan menepuk tangan lalu menutup mata dan berdoa.

“Aku mau Youngmin berada disampingku dan menenangkan perasaanku  walau hanya untuk seebentar saja…”

***

Author POV

Youngmin membuka matanya ketika mendengar ada seseorang yang membunyikan lonceng untuk berdoa disampingnya. Namja itu menoleh kesampingnya, tampak seorang yeoja yang sedang berdoa disampingnya. Mata youngmin sedikit membesar ketika mengetahui siapa yang ada disampingnya sekarang.

“Sookyo-ya!” seru Youngmin bersemangat, yeoja yang sedang berdoa itu membuka matanya dan menoleh kearah orang yang memanggil namanya. Suara itu familiar sekali, gumamnya dalam hati. Sookyo tak kalah terkejutnya ketika mendapati siapa yang memanggilnya.

“Kau benar Jo Youngmin?” tanyanya, matanya membesar saking terkejutnya.

“Sookyo, akhirnya.” Youngmin menghembuskan nafas lega. Grep, tangan namja itu menarik Sookyo kedalam pelukannya. Dadanya terasa sesak karena terlalu senang.

Sookyo awalnya merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang, yeoja itu menggigit bibirnya pelan. Sakit, ternyata dia tidak berhalusinasi. Bahu gadis itu kemudian bergetar dalam pelukan Youngmin, kembali menangis karena bahagia seperti biasanya.

“Maafkan aku.” Gumam Youngmin pelan, Sookyo tidak menjawab karena masih tenggelam dalam tangisannya.

“Hey hey, jangan menangis lagi, aku disini.” Youngmin melepas pelukannya dan mencoba menenangkan Sookyo.

“Jelek! Sudah dulu menangisnya.” Ejek Youngmin karena tak berhasil mendiamkan Sookyo.

“Dasar kau, masih sempat-sempatnya mengejekku.” Kesal Sookyo.

“Nah, kalau kesal kan jauh lebih cantik.” Goda Youngmin, Sookyo memukul pundak Youngmin pelan.

“Kenapa tak pernah memberiku kabar, aku marah padamu!” ucap gadis itu kemudian berbalik dan dan berjalan menuruti tangga kuil.

“Ya Ya, aku bahkan belum menjelaskan apapun padamu. Padahal aku sudah lelah mencarimu dari tadi sore disini.” Youngmin mencoba mengejar Sookyo dan mensejajarkan langkahnya dengan Sookyo.

“Untuk apa mencariku? Bukankah banyak gadis lain yang lebih cantik dariku memujamu sekarang.”

“Yah, dia benar-benar marah. Jangan begitu, ne?” bujuk Youngmin, Sookyo membalikkan badannya memunggungi Youngmin, marah.

“Tapi kau kan masih pacarku? Well, itu jacketku ya?” Tanya Youngmin ketika tersadar melihat jacket yang tersampir dileher Sookyo.

“Ya! Jadi ini milikmu? Betul dugaanku, kau bahkan berani memberikan jacketmu kepada orang yang tidak kau kenal.” Omel Sookyo, entah karena gadis itu benar-benar marah pada Youngmin atau karena ingin melihat ekspresi Youngmin dihadapannya ketika dia marah.

“Tadi aku lihat kau hanya memakai Jacketmu yang tipis itu, makanya aku memberimu Jacketku. Kenapa kau tadi menangis? Apa ada yang menyakitimu?”

“Ada, kau!” Gadis itu menjawab singkat.

“Maafkan aku. Kau mau mendengar penjelasanku?”Youngmin tersenyum simpul karena mengerti apa yang dirasakan gadisnya itu. sookyo hanya terdiam.

“Duduk disampingku, aku akan menjelaskannya.” Perintah Youngmin yang kemudian duduk diatas anak tangga dan menepuk-nepuk sisa tangga disampingnya. Sookyo menurut.

“Maaf aku tak sempat menghubungimu, jadwal kami sangat padat dan hampir tak ada waktu bahkan untukku sendiri. Kami tidak diperbolehkan memakai ponsel karena menurut agensi itu akan mengganggu konsentrasi kami, jadi aku tak bisa menghubungimu. Jangan marah padaku, ne? aku mencintaimu.” jelas Youngmin, Sookyo terdiam sejenak.

“Apa kita masih…”

“Tentu saja. Aku tak mungkin dengan mudah melepaskanmu walaupun aku tak pernah bertemu denganmu lagi. Karena kau adalah milikku dan selalu milikku.” Ucap Youngmin sebelum Sookyo sempat menyelesaikan pertanyaannya.

“Terima kasih.” Hanya itu yang dapat Sookyo katakan, dadanya terlalu sesak karena bahagia sehingga tak bisa memikirkan kata-kata yang lebih baik lagi.

“Mau berjanji satu hal padaku?” Tanya Youngmin, tersenyum lembut kepada Sookyo.

“Apa?” tanyanya.

“Aku mau kau berjanji padaku kalau kau akan menungguku.” Ucap Youngmin.

“Menunggumu?”

“Ya, hingga aku cukup dewasa untuk membuatmu benar-benar menjadi milikku.” Jelas Youngmin bersemangat.

“Selama apa?” Tanya Sookyo.

“Aku akan usahakan itu hanya lima tahun, jika terjadi apa-apa aku menjamin itu hanya akan sampai tujuh tahun.”

“Tujuh tahun? Dan itu kau bilang ‘hanya’?” tak percaya Sookyo.

“Kau yakin padaku, kan? Waktu selama itu akan terasa cepat berlalu jika kau percaya padaku. aku bisa saja melamarmu sekarang, tapi usia kita baru enam belas tahun dan belum saatnya untukku melamarmu.”

“Melamar? Kau berfikir terlalu jauh.”

“Well, mungkin benar.” Jawab Youngmin enteng.

“Aigoo, mimpi apa aku hingga punya namjachingu seaneh ini?” gumamku lebih kepada diriku sendiri.

“Sekarang berjanjilah kau akan menungguku, aku akan kembali padamu jika saat itu tiba. Promise?” Youngmin mengulurkan jari kelingkingnya.

“Promise!” balas Sookyo menautkan kelingkingnya dikelingking Youngmin. Keduanya kemudian tersenyum.

“Eung,  apa ini?” heran Sookyo ketika sesuatu yang putih dan dingin jatuh mengenai hidungnya. Gadis itu mendongak kelangit. Ada lebih banyak benda seperti itu berjatuhan.

“Snow!” seru Youngmin senang, salju pertama turun ketika mereka sedang bersama dan itu berarti pertanda bagus.

“Wow, kurasa akan ada lebih banyak salju lagi setelah ini.” Ucap Sookyo masih menatap kagum salju-salju itu.

“Kalau begitu kita harus segera kedermaga, kita bisa pulang dengan kapal malam sebelum salju turun semakin banyak.” Kata Youngmin, kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menggandeng Sookyo pergi.

Itu malam yang cerah ketika sepasang manusia berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri jalanan taman bunga pulau Nami diawal musim dingin yang bersalju. Keduanya terlihat bahagia dengan pipi yang memerah dan terlihat indah.

Tujuh tahun tak akan menjadi masalah, gumam si gadis dalam hati dengan bahagia.

Because you’re mine, and always mine! Ikrar si namja bersemangat dalam hatinya. Mereka akan selalu bersama, karena memang ditakdirkan untuk bersama tak peduli apapun yang menghalangi karena cinta sejati tak akan mungkin lari, bukan?

***

Epilog

[SooKyo POV]

Annyeong haseyo!

Namaku Kang Soo Kyo, gadis biasa yang beruntung, sangat beruntung. Saat ini aku sedang menonton sebuah konser megah milik Boyband ‘BoyFriend’ yang sangat fenomenal itu. Apa kau tau seseorang yang berambut Gold yang kini sedang bernyanyi dan menari dengan lincahnya itu? namanya Jo Youngmin, dan aku dengan bangga mengatakan kalau dia Namjachinguku. Well, kau jangan bilang siapa-siapa ya, ini rahasia. Aku tak ingin orang-orang tau tentang hubungan kami sebelum waktu yang tepat itu tiba.

Yah, sekarang aku sedang dalam masa menunggu. Mungkin kalian boleh bilang kalau aku ini bodoh karena terlalu percaya dengan janji seorang lelaki, tapi aku memang mempercayainya. Aku tak perduli jika nanti akhirnya tak akan sesuai dengan yang kuharapkan, yang penting aku sudah mencoba menepati janjiku dengan sebaik mungkin.

Kuberitahu satu kutipan favoriteku yang selalu keluar dari bibir Youngmin;

Because you’re mine, and always mine!

Annyeong, Ppyong! J

#End#