Title : Bestfriend (part 3-END)

Author : Lumie91

Main Cast : Lee Sungmin (Super Junior), Han Yejin (OC)

Support Cast : Dong Youngbae/Taeyang(bigbang), Lee Eunri (OC), all members of Super Junior

Rating : G

Genre : friendship, romance

Ps : Author masih baru di bidang per ff-an dan baru belajar nulis ff. Kalau ada kemiripan tokoh, cerita, latar, dll, author mohon maaf karena tidak disengaja karena author gak tahu apa-apa. Gomawo~ ff ini udah author publish di blog author yang baru ajah di buat belum lama ini (http://lumie91.wordpress.com )

Disclaim : ff ini murni buatan dan hasil pikiran author sendiri yang dibuat dengan susah payah, tolong dihargai dengan tidak memplagiatnya yah… ^^

bisa dibaca sambil dengerin lagi BEST FRIEND –JASON CHEN.. karena author terinspirasi dari situ… huahahahaa… udah berhari-hari dengerin tuh lagu n gak bosen2, btw untuk part 3 ini semua adalah Author POV yah.. soalnya klo aku serahin ke mereka berdua terus ntar ff Sungmin sama Yejin ini gak bakal ada abisnya.. makanya author turun tangan dweh biar ff-nya cepet kelar… *gakjelas* ..  truz sebelomnya aku juga minta maaf sama sungmin oppa karena fotonya aku edit2 smpe nempel2 gtu sama cewek… hiks, hatiku jgua gak rela sebenernya, tapi apa boleh buad… ok readers, happy reading..

 

 

Rumah mereka bertetangga dan telah berteman akrab sejak Sungmin masih berusia 10 tahun, dan Yejin 5 tahun. Setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama. Saling menyayangi satu sama lain. Seiring berjalannya waktu, tanpa mereka sadari ada perubahan pada diri mereka masing-masing, yang tidak mereka ketahui sebelum keduanya sama-sama beranjak dewasa.

 

Dan ketika mereka menyadarinya, perasaan takut itu muncul bersamaan dengan perasaan cinta yang mereka rasakan. Takut merubah hubungan yang telah terjalin, takut kehilangan satu sama lain, dan takut bahwa waktu yang telah mereka lalui bersama selama ini akan terhapus seiring kata “cinta” itu terucap.

 

24 Desember 2011, Malam Natal

 

            Malam natal telah tiba. Suara lonceng terdengar di mana-mana. Kidung Natal mengiringi langkah kedua sahabat itu ke mana pun mereka berjalan.

 

Sungmin dan Yejin baru saja meninggalkan gedung Gereja tempat mereka beribadah bersama dengan keluarga mereka masing-masing. Keduanya pamit kepada keluarga mereka untuk menikmati malam Natal bersama. Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan dekat Gereja.

 

“Haaahhhh…” Yejin meniup kedua telapak tangannya yang dingin. Hawa panas dari mulutnya berhasil memberikan sedikit kehangatan di telapak tangannya.

 

“Kau kedinginan, Yejin~ah?” tanya Sungmin seraya menarik kedua telapak tangan Yejin yang terbalut sarung tangan.

“Ne, sedikit, oppa,” ujar Yejin dengan wajah sedikit memerah.

 

Sungmin menghadapkan tubuhnya di depan Yejin, mengusap kedua telapak tangan yeoja itu dengan lembut. Yejin hanya menatap namja di depannya lekat-lekat ketika kedua tangannya ditarik dan dimasukkan ke dalam saku mantel Sungmin.

 

“Hangatkah?” tanya Sungmin sambil tersenyum. Kedua tangannya masih menggenggam tangan Yejin di dalam saku mantelnya.

 

“Ne, gomawo oppa.”

 

Keduanya tetap berdiri berhadapan selama beberapa saat, sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan melanjutkan langkah mereka. Sungmin masih menggenggam tangan kanan Yejin di dalam saku mantelnya. Sedangkan tangan kiri Yejin itu berada di dalam mantelnya sendiri.

 

“Wah, indahnya…” kedua mata Yejin berbinar ketika memandang pohon Natal berukuran besar dengan banyak ornamen indah menghiasinya.

 

Sungmin mengalihkan pandangannya dari pohon Natal. Menatap yeoja di sampingnya, yang sangat ia cintai, tersenyum memandang puncak pohon Natal dengan kedua bola mata hitamnya yang berbinar-binar.

 

Setelah mengagumi pohon Natal, keduanya kembali berjalan, menuju taman yang selama ini menjadi saksi bisu kebersamaan mereka selama lebih dari 15 tahun. Keduanya duduk di ayunan. Yejin berayun pelan, sedangkan Sungmin memilih untuk duduk diam sambil memandangi Yejin.

 

Sungmin teringat bagaimana gadis itu menangis dua minggu lalu ketika kekasihnya meninggalkannya pergi. Ia ingat bagaimana ia berusaha mengembalikan tawa yeoja kecilnya itu. Bagi Sungmin, senyum dan tawa Yejin adalah hal paling indah yang pernah ia lihat.

 

Yejin menatap langit di atasnya. Masih berayun pelan, ia menutup kedua matanya dan mulai membayangkan namja yang dicintainya, Sungmin. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti, tapi ia ingin meminta agar Sungmin tetap ada di sisinya, selamanya. Egoiskah permintaannya?

 

31 Desember 2011, pukul 23.50

 

            “Oppa, ayo cepat!!”

 

Yejin melambai ke arah Sungmin sambil melompat-lompat. Sungmin berlari ke arahnya dengan sekuat tenaga.

 

“Yaa!! Yejin~ah, kau ini sungguh keterlaluan. Masa menyuruh orang yang akan berulang tahun untuk membeli korek api di minimarket seorang diri,” protes Sungmin ketika sudah berdiri di hadapan Yejin. Ulang tahun Sungmin bertepatan dengan tahun baru. Dan setiap tahun keduanya menghabiskan waktu bersama, melalui tengah malam, menyambut hari yang penting bagi seluruh manusia di bumi, terlebih bagi mereka berdua.

 

“Mianhe, oppa. Aku lupa membawa korek api untuk menyalakan lilinmu. Lagipula aku di sini juga tidak diam saja. Aku harus menyiapkan kue ini dulu,” balasYejin tidak mau kalah sambil menunjuk kue yang sekarang berada di atas kursi taman. Ada 27 lilin kecil berwarna-warni di atasnya.

 

“Arra, arra. Ini koreknya, cepat nyalakan lilinnya! Sebentar lagi ulang tahunku!” perintah Sungmin pura-pura galak.

 

“Ne,” Yejin mengambil korek di tangan Sungmin dan mulai menyalakan lilin satu per satu. Setelah semua lilin menyala, Sungmin melirik jam tangan pemberian Yejin beberapa tahun lalu, waktu menunjukkan pukul 11.59.

 

“Satu menit lagi aku berulang tahun Yejin~ah,” ujar Sungmin.

 

“Ne, apa permintaan mu oppa?”

 

“Hmmm…. nanti kupikirkan.”

 

“Kau ini bagaimana sih oppa,” gerutu Yejin.

 

“Bagaimana kalau kau saja yang mengajukan permintaan, Yejin~ah,” tukas Sungmin.

 

“Mwo? Waeyo? Kau yang berulang tahun, mengapa aku yang mengajukan permintaan?” Yejin mengedipkan kedua matanya.

 

“Karena sepertinya kau lebih butuh permintaan itu daripada aku,” jawab Sungmin sambil tertawa.

 

“Shireo. Aku tidak mau. Ini kan ulang tahunmu, oppa,” balas Yejin sambil melipat kedua tangannya di dadanya.

 

“Hahaha, baiklah, kita mengajukan permintaan berdua saja, otte?” tanya Sungmin lagi sambil mengacak rambut Yejin.

 

“Ne, baiklah kalau begitu, ahhh… sudah jam 12 oppa.. ayo cepat ajukan permintaan, lalu tiup lilinnya!”

 

Keduanya menutup mata mereka. Masing-masing berdoa dalam hati. Mengajukan permohonan masing-masing.

 

‘Kuharap selamanya Yejin akan ada di sisiku, menemaniku. Sarangheo, Yejin~ah. Bisakah kau menganggapku lebih dari sekedar oppa?’

 

            ‘Aku mohon Sungmin oppa tidak akan meninggalkanku. Selamanya ada menemaniku. Lalu.. bolehkah aku berharap ia mencintaiku seperti aku mencintainya?’

 

Januari 2012

            “Sungmin~ah, bisakah kau pulang hari ini. Ada hal penting yang appa dan eomma ingin bicarakan.”

 

Malam hari, pukul 8, Sungmin sampai di depan rumahnya. Ia memarkirkan mobil di halaman, lalu masuk ke dalam rumah dan menemui apaa dan eommanya sedang duduk di ruang tengah.

 

“Annyeong, appa, eomma,” sapa Sungmin.

 

“Sungmin~ah, kemarilah,” ujar eomma Sungmin menyuruh anak lelakinya itu duduk.

 

Sungmin duduk di sofa sebelah eommanya. Sedangkan appa Sungmin berada di sofa seberangnya.

 

“Sungmin~ah,” kali ini appa Sungmin yang bicara, “Barusan appa dan eomma bicara mengenai masa depanmu. Sekarang kau sudah berusia 27 tahun. Usia yang telah matang dan dewasa bagi seorang pria.”

 

“Ne,” jawab Sungmin masih tidak mengerti arah pembicaraan ayahnya.

 

“Appa dan eomma ingin…” ujar appa Sungmin lagi, “Kau segera menikah.”

 

“Mwo?” Sungmin terkejut mendengar permintaan appa dan eommanya.

 

“Ne, Sungmin~ah,” eomma Sungmin ikut bicara, “Appa dan eomma akan mengenalkan seorang yeoja anak teman kami kepadamu.”

 

“Kalian menjodohkanku?” tanya Sungmin yang sekarang telah mengerti maksud appa dan eommanya.

 

“Anii, kami tidak bermaksud seperti itu, tapi jika memang kalian cocok, kami tidak keberatan jika kalian memang berjodoh,” ujar appa Sungmin.

 

“Mianhe, appa, eomma, tapi..”

 

“Kalian berkenalan saja dulu. Lagipula selama ini kau tidak pernah punya kekasih, Sungmin~ah. Kau memang pernah digosipkan dengan beberapa artis namun kau sendiri yang bilang tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka, apa eomma salah?”

 

“Anii, aku memang tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka,” jawab Sungmin mantap. Ia memang tidak pernah punya hubungan lebih dengan rekannya sesama artis. Alasannya sudah jelas karena ia hanya mencintai Yejin.

 

“Setahu appa, satu-satunya yeoja yang sangat dekat denganmu adalah Yejin. Namun, kalian memang sudah dekat sejak kecil bukan? Appa dan eomma pernah berharap suatu saat hubungan kalian akan menjadi lebih dari sekedar persahabatan, namun selama belasan tahun, kalian hanya saling menyayangi seperti kakak-adik,” ujar appa menambahkan.

 

“Apa kau menyukai Yejin, Sungmin~ah? Atau ada gadis lain yang kau sukai?” tanya eomma sambil menyentuh bahu Sungmin.

 

Sungmin hanya terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya. Jika ia mengakui perasaannya pada Yejin, apakah appa dan eommanya akan membatalkan niat mereka menjodohkannya? Namun, bagaimana jika appa dan eommanya lalu menuntutnya untuk melamar Yejin? Mereka berdua begitu ingin melihatnya segera menikah. Sedangkan ia masih belum mengetahui perasaan Yejin padanya.

 

“Kalau kau diam, eomma pikir kau tidak sedang menyukai siapa-siapa. Jadi berkenalanlah dengan anak teman appa dan eomma itu, namanya Lee Eunri, ia adalah Yeoja yang cantik. Usianya 24 tahun sekarang, baru saja kembali ke Korea setelah menyelesaikan kuliahnya di Paris. Eomma sudah merencanakan pertemuan kalian akhir Minggu ini,” ujar eomma mengakhiri percakapan mereka.

 

***

 

“Kau… kau dijodohkan oppa??” tanya yejin tak percaya ketika Sungmin menceritakan perjodohan yang direncanakan appa dan eommanya.

 

“Bukan dijodohkan,” Sungmin mencoba menjelaskan situasi agar Yejin tak salah paham, walaupun ia juga menganggap semua ini tak lain dan tak bukan adalah perjodohan yang direncanakan kedua orang tuanya, “Mereka menyuruhku berkenalan dengan Lee Eunri, hanya berkenalan.”

 

Dada Yejin terasa sakit. Ia tahu benar, Sungmin hanya mencoba menenangkannya. Jelas-jelas namja di hadapannya ini telah dijodohkan. Tidak. Ia tidak mau ini semua terjadi.

 

“Yejin~ah, gwenchana?” tanya Sungmin cemas ketika Yejin terdiam tak menunjukkan reaksi terhadap kata-katanya. Ia menyentuh puncak kepala Yejin.

 

“Ah, ne. Gwenchana oppa,” ujar Yejin, berusaha menutupi perasaannya, dengan sekuat tenaga gadis itu berusaha tersenyum, “Bu.. bukankah itu bagus oppa?”

 

“Mwo?”

 

“Ne, baguslah kalau kau dijodohkan. Selama ini kau tidak pernah punya seorang kekasih, padahal sekarang kau sudah 27 tahun, oppa. Benar kata ajjushi dan ahjummoni, kau sudah waktunya memikirkan masa depanmu,” ujar Yejin menutupi kesedihannya dengan tersenyum pada Sungmin, “Berkenalanlah dengan yeoja itu, bukankah ahjummoni bilang ia cantik dan pintar. Siapa tahu kau akan jatuh cinta padanya.”

 

Hati Yejin semakin sakit mendengar ucapan yang keluar dari bibirnya sendiri. Begitu pula Sungmin, ia berharap Yejin akan marah, atau setidaknya melarangnya dan tiadk menyetujui perjodohan itu, namun ternyata gadis itu mendukungnya.

 

“Kau serius dengan ucapanmu, Yejin~ah?” tanya Sungmin menahan kesedihannya, ia menurunkan tangannya dari kepala Yejin, dan menjatuhkannya lemah di samping tubuhnya. Sungmin mencoba menahan perasaannya yang bercampur aduk, antara sedih, kesal, kecewa, ia mencoba untuk terlihat tenang di depan Yejin.

 

“Ne, jinjja. Selama ini kau selalu mendengarkan kisah cintaku, yang selalu berakhir menyedihkan, sekarang saatnya aku mendengar kisah cintamu oppa. Semoga tidak berakhir sepertiku, semoga kau bahagia oppa,” ucap Yejin denga berat hati, ia menahan air matanya dengan sekuat tenaga, Sungmin tidak boleh tahu bahwa hatinya hancur saat ini.

 

***

 

Hari minggu, Sungmin mengemudikan mobil ke arah restoran tempatnya akan bertemu dengan yeoja bernama Lee Eunri. Di perjalanan ia mengirim pesan kepada Yejin.

 

Yejin~ah, aku sedang dalam perjalanan bertemu dengan yeoja yang akan dikenalkan appa dan eomma padaku. Aku sungguh tidak ingin datang, tapi aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.

 

            Tak lama Yejin membalas pesan Sungmin.

 

Kau tidak boleh begitu oppa. Tidak ada salahnya berkenalan denga yeoja itu. Semoga pertemuan kalian berjalan lancar. ^^

 

Sungmin melajukan mobilnya semakin cepat. Menginjak pedal gas lebih dalam. Dalam beberapa menit ia telah sampai di restoran tempat appa dan eommanya telah menunggunya bersama dengan keluarga  Eunri.

 

***

 

Yejin membalas pesan Sungmin dengan hati yang hancur. Hari ini namja yang dicintainya selama bertahun-tahun akan menghadiri perjodohan dengan yeoja lain. Sungguh malang nasibnya. Mencintai sahabatnya sendiri, yang jelas tidak dapat membalas perasaannya, bahkan mungkin sebentar lagi akan bersanding dengan yeoja yang dijodohkan dengannya.

 

Yejin memutuskan untuk berjalan-jalan. Ia mengganti pakaiannya. Mengenakan jaket tebalnya dan melangkah keluar dari rumahnya. Berjalan-jalan di pusat kota di tengah keramaian hari Minggu.

 

Pikiran dan hatinya terus tertuju pada Sungmin. Yejin terus melangkah hingga tanpa sadar telah berada di jalanan yang agak sepi. Ia menghembuskan nafasnya, melihat pemandangan sekelilingnya. Rasanya tempat ini tidak asing. Yah, ia pernah melalui tempat ini ketika berjalan bersama Sungmin di malam Natal.

 

Saat itu hatinya sungguh bahagia. Menghabiskan sepanjang malam dengan namja yang ia cintai. Namun sekarang, perasaannya terluka. Hatinya sakit. Tanpa sadar air mata menetes di pipinya.

 

Yejin menangis. Air mata menghalangi pandangannya. Dengan sembarangan ia menyeberang tanpa melihat keadaan sekeliling. Sebuah mobil melintas dengan cepat dan menabrak tubuhnya hingga terpental ke atas kap mobil sebelum akhirnya jatuh ke jalan.

 

***

 

Di restoran, Sungmin lebih memilih untuk diam mendengarkan kedua orang tuanya bercerita tentang dirinya pada keluarga Eunri. Yeoja yang dijodohkan dengannya itu memang cantik, berkulit putih halus, berambut panjang bergelombang, dan perawakannya cukup tinggi walaupun tetap lebih pendek sedikit darinya.

 

Tapi bagi Sungmin, Yejin tetap segalanya. Walau kulit Yejin tidak seputih dan sehalus Eunri. Sungmin senang mengelus kulit pipi Yejin. Walau rambut Yejin tidak seindah rambut Eunri. Sungmin menyukai wangi rambut Yejin serta lembutnya tiap helai rambut Yejin setiap kali ia membelai yeoja itu. Lagipula Sungmin tidak suka dengan yeoja yang tinggi, jadi ia berpendapat bahwa Yejin yang lebih pendek dari Eunri lebih cocok untuknya.

 

Di tengah percakapan kedua keluarga itu, ponsel Sungmin berbunyi. Ternyata Leetuk yang menelponnya.

 

“Mianhe, Leetuk hyung menelponku. Aku permisi sebentar,” ujar Sungmin sambil beranjak berdiri dan berjalan menjauh dari mejanya.

 

“Yeoboseyo,” sapa Sungmin pada Leetuk di seberang telpon.

 

“Sungmin~ah, kau harus segera datang ke Seoul Hospital,” ujar Leetuk dengan nada yang dibuat setenang mungkin.

 

“Waeyo hyung? Ada yang sakitkah?”

 

“Sungmin~ah, tolong kau tetap tenang, barusan… Kyuhyun tidak sengaja menabrak Yejin yang sedang menyeberang jalan,” jawab Leetuk dengan segera.

 

“Mwo? Aku akan segera ke sana!”

 

Sungmin segera menghampiri kedua orang tuanya. Pamit kepada mereka. Ia tidak peduli lagi dengan acara perjodohannya. Pikirannya dipenuhi oleh Yejin. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Yejin.

 

“Kau mau ke mana Sungmin~ah?” tanya eomma sebelum Sungmin pergi.

 

“Aku harus ke rumah sakit eomma. Yejin kecelakaan. Mianhe, aku harus pergi sekarang,” ujar Sungmin sambil membungkukkan badannya, kemudian tanpa berlama-lama ia segera melangkah keluar dengan langkah terburu-buru.

 

Sungmin mengemudikan mobilnya dengan cepat. Ia tidak peduli jika Yejin akan memarahinya karena ia mengebut. Ia tidak peduli jika ada polisi akan mengejarnya karena ia menerobos lampu merah. Hanya ada satu hal dipikirannya, ia ingin segera bertemu dengan Yejin. Ia ingin segera melihat yeoja yang sangat dicintainya itu. Dalam hati ia terus berharap agar tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada Yejin.

 

Sesampainya di Seoul Hospital, Sungmin segera menelpon Leetuk, bertanya di mana kamar Yejin. Dengan terburu-buru ia menaiki lift. Berkali-kali ia menghembuskan nafas dari mulutnya. Mengetuk jari-jari tangannya pada dinding lift. Ia merasa waktu berjalan begitu lambat sehingga ia merasa hampir gila karena kehilangan kesabaran.

 

“Leetuk hyung!” seru Sungmin ketika sampai di depan kamar UGD.

 

“Sungmin~ah, akhirnya kau sampai,” ujar Leetuk seraya menghampirinya bersama Yesung dan Shindong. Member Super Junior lain, Siwon, Donghae, Eunhyuk, dan Ryewook masih berdiri di samping Kyuhyun yang bersandar di tembok. Terlihat raut kesedihan dan penyesalan di wajahnya.

 

Kyuhyun menatap Sungmin, ia menangis. Ia tahu betapa pentingnya Yejin bagi hyungnya itu. Ia sadar bahwa selama ini hyungnya mencintai Yejin. Setiap malam, Sungmin selalu bercerita soal Yejin. Dalam tidurnya terkadang Sungmin mengigau dan menyebut nama Yejin. Namun kini yeoja itu malah terbaring tak sadarkan diri karenanya. Ia telah menabrak Yejin.

 

“Hyung,” panggil Kyuhyun ketika Sungmin menghampirinya, “Aku minta maaf, aku tidak tahu ia tiba-tiba menyeberang di depanku.”

 

“Anii, gwenchana. Aku tahu kau tidak sengaja,” ujar Sungmin sambil menepuk pundak Kyuhyun pelan, “Bagaimana keadaan Yejin?” Sungmin bertanya ke arah member lain yang berdiri di samping Kyuhyun. Walaupun ia tidak marah pada Kyuhyun, bahkan mencoba menenangkan dongsaengnya itu, semua orang yang melihat Sungmin akan segera tahu bahwa ia sangat mencemaskan Yejin.

 

“Gwenchana, hyung. Tadi dokter bilang tidak ada luka dalam yang serius. Hanya luka luar di tubuhnya, namun dokter dan suster sudah mengobatinya dan memberikan perban,” jawab Ryewook dengan segera, menyadari bahwa hyungnya pasti sangat khawatir.

 

Seluruh member sudah tahu bahwa Sungmin sangat mencintai Yejin. Mereka menyadari bahwa selama ini hanya Yejin yang selalu ada di pikiran Sungmin, maka tidak heran Sungmin tidak pernah tertarik dengan yeoja lain. Sungmin seringkali membawa Yejin ke dorm, dan mereka bisa melihat Sungmin menatap Yejin dengan pandangan penuh cinta. Heran memang, yeoja itu tidak menyadari bahwa Sungmin mencintainya.

 

“Bolehkah aku masuk?” tanya Sungmin lagi ketika berdiri di depan pintu.

 

“Ne, tentu,” jawab Siwon sambil membukakan pintu kamar untuk Sungmin.

 

Sungmin melangkah masuk. Menghampiri Yejin yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidur. Ia duduk di kursi di sebelah tempat tidur. Tangannya terulur membelai rambut Yejin pelan, karena ada perban yang melingkar di dahi yeoja itu. Ada perban di rahang kirinya, perban di tangannya, kakinya, dan mungkin di banyak bagian lain di tubuhnya yang terbalut pakaian rumah sakit.

 

Setelah dua jam Sungmin menunggu, duduk di sebelah Yejin dengan sabar sambil menggenggam tangan gadis itu, Yejin mulai sadar dan membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mulai memandang keadaan di sekelilingnya.

 

“Sungmin oppa…” panggilnya lirih ketika menyadari Sungmin duduk di sampingnya, menunggunya terbangun dari tidur.

 

“Yejin~ah, akhirnya kau bangun,” ujar Sungmin sambil mengelus rambut Yejin, “Gwenchanayo? Adakah yang sakit?”

 

“Gwenchana, oppa. Sedikit sakit tapi tidak apa-apa,” jawab Yejin sambil tersenyum.

 

“Dasar, yeoja babo. Kau sudah membuatku cemas setengah mati,” suara Sungmin meninggi, namun Yejin tahu Sungmin tidak marah padanya, hanya rasa cemas yang teramat sangatlah yang membuatnya sedikit emosi ketika berbicara.

 

“Mianhe, oppa. Aku ceroboh. Tidak melihat jalan ketika menyeberang,” jawab Yejin sambil menjulurkan lidahnya, seperti yang sering dilakukannya jika melakukan kesalahan pada Sungmin.

 

“Apa sih yang sedang kau pikirkan sampai menyeberang sembarangan seperti itu?” tanya Sungmin sambil mengetuk dahi Yejin yang terbalut perban dengan pelan, takut gadis itu akan kesakitan.

 

“Aku memikirkanmu oppa,” jawab Yejin sambil terkekeh, ia tidak berbohong, ia memang  memikirkan Sungmin, namun ia berusaha agar tidak terdengar serius, “Ngomong-ngomong, oppa, mengapa kau di sini? Bukankah kau sedang mengikuti acara perjodohanmu?”

 

“Babo!” bentak Sungmin, “Mana mungkin aku bisa melanjutkan perjodohan itu jika mendengarmu kecelakaan?” Sungmin mengacak rambut Yejin.

 

“Mianhe oppa, aku telah membuat perjodohanmu gagal,” ujar Yejin sambil memasang tampang menyesal, padahal hatinya senang mendengar perjodohan Sungmin gagal.

 

“Aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja, Yejin~ah. Bagaimana kalau aku tidak jadi mendapat kekasih? Bagaimana kalau yeoja itu marah dan tidak mau menikah denganku?” tanya Sungmin dengan nada kesal yang dibuat-buat, “Kau ini.. harus bertanggung jawab!”

 

“Arra, arra, nanti aku akan mencarikan calon istri untukmu,” jawab Yejin sebal. Sebenarnya ia ingin bilang bahwa ia yang akan mengajukan diri menjadi kekasih Sungmin, tapi tidak mungkin ia mengakui perasaannya.

 

“Hahahaha, sudahlah, aku hanya bercanda,” ujar Sungmin, “Omo, omo,  lihatlah tubuhmu, wajahmu, penuh luka seperti ini.”

 

Sungmin menyentuh beberapa perban di tubuh Yejin. Gadis itu menyadari tubuhnya penuh luka di sana-sini.

 

“Kau ini seorang yeoja. Kau harus bisa menjaga diri, Yejin~ah. Lihatlah tubuhmu penuh luka seperti ini, bagaimana kalau bekasnya tidak hilang? Nanti tidak ada namja yang mau menikah denganmu!” ujar Sungmin bergurau.

 

“Gwenchana oppa. Kalau tidak ada namja yang mau menikahiku, kau saja yang menikahiku, lagipula perjodohanmu juga gagal,” jawab Yejin asal, namun kemudian sedikit menyesal karena ia takut Sungmin tidak suka dengan ucapannya. Jantungnya berdebar cepat menunggu reaksi Sungmin.

 

“Hmmm.. benar juga. Kalau begitu akau akan menikahimu yeoja kecilku,” Sungmin dengan cepat mengiyakan. Jantungnya juga berdebar cepat mendengar ucapan Yejin. Walau ia menganggap Yejin hanya bergurau, tapi ia serius dengan ucapannya. Ia tidak mungkin keberatan menikahi Yejin, apapun alasannya.

 

Wajah Yejin memanas mendengar jawaban Sungmin, “Oppa, jangan berkata seperti itu, lagipula hidupku tidak akan semenyedihkan itu sampai tidak ada namja yang ingin menikahiku. Kau juga, walau perjodohanmu gagal, tapi pasti masih banyak yeoja yang mau menjadi istrimu. Kau tidak perlu memaksakan diri menikahiku,” ujar Yejin sambil menatap langit-langit, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah dan jantungnya yang berdegup kencang.

 

“Anii, aku serius, aku mau menikahimu.”

 

Yejin melirik ke arah Sungmin. Namja itu sedang menatapnya lekat-lekat seolah akan menelannya bulat-bulat.

 

“Yejin~ah, jika aku mengakui sesuatu, apakah kau akan marah dan meninggalkanku?” tanya Sungmin tiba-tiba, Yejin hanya menatap namja itu sambil menggeleng pelan.

 

Sungmin menarik nafas, ia telah membulatkan tekatnya untuk menyatakan perasaan yang selama ini ia pendam dalam hatinya. Apapun yang akan dipikirkan Yejin tentangnya dan reaksi gadis itu selanjutnya tidak akan mengubah keputusannya. Ketika tadi ia mendengar Yejin kecelakaan, ia merasa dirinya hampir gila. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, otaknya hanya dipenuhi bayangan Yejin dan rasa cemas akan keadaan gadis itu. Ia takut kalau sesuatu yang buruk akan terjadi dan semua telah terlambat, ia takut selamanya ia tidak akan memiliki kesempatan untuk mengatakan perasaannya pada Yejin. Maka Sungmin mengumpulkan keberaniannya. Menatap lekat-lekat kedua bola mata Yejin yang hitam.

 

“Sa.. saranghae, Yejin~ah. Apakah salah jika aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri?”

 

Yejin mengerjapkan matanya beberapa kali. Tidak percapa pada apa yang barusan didengarnya. Sungmin mencintainya?

 

“Oppa.. kau mencintaiku?”

 

Sungmin menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, “Mianhe Yejin~ah, aku telah jatuh cinta pada yeoja kecilku. Sejak dulu, bertahun-tahun lalu, ketika kita berdua sama-sama beranjak dewasa, aku sadar kau bukan lagi sekedar sahabat maupun adik bagiku. Aku mencintaimu sebagai seorang yeoja dan aku hampir gila karenamu.”

 

“Oppa, kau serius?” Yejin masih tidak percaya. Apa ia sedang bermimpi? Kalau iya, dirinya tidak ingin bangun selamanya.

 

“Ne, aku serius Yejin~ah,” ujar Sungmin mantap.

 

“Nado, oppa.”

 

“Ne?” Sungmin terkejut mendengar jawaban Yejin. Ia ragu pada apa yang ia dengar.

 

“Nado sarangheo, oppa. Sejak dulu, aku mencintaimu. Tapi aku takut kau tidak memiliki perasaan yang sama padaku. Aku mencoba melupakanmu, berharap berpacaran dengan namja lain dapat menghapus perasaanku padamu, tapi selalu gagal. Perasaan itu selalu kembali, anii, perasaan itu bahkan tidak pernah hilang sedikitpun,” aku Yejin sambil menatap kedua mata Sungmin lekat-lekat, jantungnya berdegup kencang. Tanpa sadar air mata mengalir di kedua pipinya. Air mata ini adalah air mata bahagiakah?

 

Sungmin terdiam beberapa detik, lalu tersenyum, mengelus pipi Yejin yang basah karena menangis, “Jadi kau juga mencintaiku?”

 

Yejin mengangguk pelan. Sungmin menghapus air mata yang sempat mengalir di pipinya. Mengelus pipinya beberapa saat sebelum melepaskan jemarinya yang lembut dari sana.

 

“Yeoja babo, mengapa kau tidak pernah mengatakannya kepadaku. Anii, akulah yang babo karena tidak berani mengatakan perasaanku padamu,” ujar Sungmin dengan senyum lebar terukir di wajahnya.

 

“Kau memang babo, oppa,” ujar Yejin sambil memeletkan lidahnya.

 

“Ya!! Kau berani mengataiku? Kau bilang kau mencintaiku?”

 

“Memangnya tidak boleh? Cinta dan kebodohanmu adalah hal yang berbeda.”

 

“Kau ini, kau juga babo karena tidak mengatakan perasaanmu padaku,” Sungmin tidak mau kalah.

 

“Anii, aku tidak mengatakannya karena aku seorang yeoja. Seharusnya kau seorang namja yang memulainya duluan. Kau lebih babo, oppa.”

 

Keduanya terus berdebat, namun tiba-tiba tangan Sungmin meraih wajah Yejin. ia mendekatkan wajahnya ke wajah Yejin, menatap kedua bola matanya yang hitam.

 

“Sarangheo, Yejin~ah,” Sungmin mengecup bibir Yejin lembut, kali ini ia tidak perlu mengecup bibir kecil itu diam-diam seperti pertama kali ia melakukannya ketika Yejin tertidur.

 

“Ya, oppa. Itu ciuman pertamaku!”

 

“Jinjja? Kau tidak pernah berciuman? Bohong! Kau sudah dua kali berpacaran!!”

 

“Jinjjayo.. bagaimana bisa aku berciuman dengan pacarku kalau otakku selalu membayangkan dirimu. Aku putus juga karenamu,” balas Yejin.

 

“Hahahaha, baguslah kalau tidak ada namja lain yang pernah menciummu. Tapi Yejin~ah, aku mau mengakui sesuatu. Barusan bukan ciuman pertamamu.”

 

“Mwo?”

 

“Aku pernah menciummu sebelumnya saat kau sedang tidur,” aku Sungmin sambil menjulurkan lidahnya.

 

“Yaa!! Kau ini oppa,” Yejin hampir ingin membentak Sungmin, pura-pura kesal, namun mengurungkan niatnya, “Ah, aku tahu, rupanya kau sangat mencintaiku sampai mencuri ciuman dariku saat aku sedang tidur.”

 

“Yaa… kau ini sombong sekali. Bukankah kau yang sangat mencintaiku sampai selalu membayangkanku walau kau pacaran dengan namja lain?”

 

“Hahahaha, jadi cinta siapa yang lebih dalam?” tanya Yejin tiba-tiba.

 

Keduanya berpandangan lama. Sungmin kembali memajukan wajahnya, mencium Yejin untuk yang ketiga kalinya, kali ini ia menahan ciumannya lebih lama sebelum melepaskan bibirnya.

 

“Molla, mungkin aku, mungkin juga kau, selama kita saling mencintai dan akan terus seperti ini selamanya, hal itu tidak penting lagi. Sarangheo, yeoja kecilku.”

 

“Nado, sarangheo, oppa.”

 

Do you remember when I said I’d always be there.

Ever since we were ten, baby.

When we were out on the playground playing pretend.

Didn’t know it back then.

 

Now I realize you were the only one

It’s never too late to show it.

Grow old together,

Have feelings we had before

Back when we were so innocent

 

I fell in love with my Best Friend

 

END

 

Tamaaaaat dweh… tuh khan klo authornya yang turun tangan langsung happy ending!!! *plak.. apaan seh gak jelas* … hahahahaa… ok readers yang baik hati.. mohon di komen yah… khamsahamnida buad yang udah baca dan jeongmal khamsahamnida buad yang menyempatkan diri komen… semua komen kalian adalah penolong dalam memacu semangatku untuk jadi author yang lebih ok lagi buad kita semua… *plak.. kebanyakan ngomong*