Title :       Shayla Story : For You!

Author :  Meulu Primananda (LaaaadyDJ)

Lenght:  Drabble/Series (2.192 Words)
Genre:   Fantasy, AU, Romance

Rating : PG
Cast  : Gwen/Gwynne (oc’s/You)

Shin Dongho (U-Kiss)

Park Jiyeon (T-Ara)

Disclaimer : The plot of this songfic 100% mine! If you already read this songfic, it mean you read in my personal wp: www.Itsmemeulu.wordpress.com  and 2 fanfic blog! if you see this songfic in other blog/fb, please tell me. Aku tau kalo fanfic ini jelek, tapi tolong hargai author dengan coment yang kalo bisa jgn cuma satu atau dua kata, thanks.

For reader, happy reading J

For Plagiator, GTH!!! J

ENJOY J

Summary  : Between reality and fantasy, I found you!

 

 

Shayla, sebuah negeri yang dihuni para peri kecil cantik dan tampan yang tak akan pernah tua. Negeri indah yang mana hanya ada dua kali pergantian musim setiap tahunnya, musim panas –yang benar-benar panas- dan musim dingin  -yang akan membekukan semua-. Setiap peri yang ada di situ memiliki kembaran, mereka harus melindungi satu sama lain atau keduanya akan hilang. Sebuah negeri impian bagi manusia, tapi mimpi buruk bagi yang lain. Sebuah negeri indah yang menarik, namun menyeramkan. Neverland!!

***

Gwen, seorang peri tari dari Shayla, melayang malas sambil tetap menunduk, kaki-kaki kecilnya bahkan menyentuh tanah dan terlihat seperti terseok-seok. Pikiran peri itu melayang entah kemana selagi tubuhnya terbang rendah. Sesekali peri itu menarik nafasnya pelan, seperti sedang berpikir keras.

“Gwynne!” seru peri lain, seorang peri laki-laki yang berpakaian merah menyala kini berdiri di jalur terbang Gwen dan merentangkan tangannya menahan Gwen membuat peri itu terlonjak kaget dan berhenti terbang.

“Oh, kau Kegan. Mengagetkanku saja!” ucap Gwen sambil mengelus dadanya.

“Salahmu karena terus mengkhayal, Gwynne. Kau jadi seperti adikmu saja.” peri yang dipanggil Kegan itu bicara sambil mempouted pipinya, imut.

“Well, Kegan. Ini memang Gwen, kenapa kau tak bisa membedakannya.” Kesal Gwen kembali berjalan.

“Hah? Jadi kau Gwen, aish! Kenapa aku bisa tak tau.” Gerutu Kegan.

“Sudahlah. Kenapa kau memanggilku? Ada sesuatu yang penting?” Tanya Gwen.

“Tidak, aku hanya heran kenapa kau seperti peri linglung. Makanya aku kagetkan.” Kegan bicara sambil melipat tangannya ke belakang leher dan berjalan disamping Gwen.

“Dasar kau! Well, apa kau melihat kakakku?”

“Hmm, sepertinya sedang membantu Isolde menyiapkan salju-salju musim dingin.”

“Baiklah, aku harus segera kesana.” Ucap Gwen kemudian bersiap terbang menuju tempat kakaknya berada.

“Aku ikut!” pinta Kegan.

“Apa kau tidak bertugas?” heran Gwen.

“Tidak, aku sedang istirahat. Edana sudah menggantikan tugasku.” Jelas Kegan.

“Baiklah.” Setuju Gwen, kemudian mereka berdua terbang menuju sayap kanan Istana peri, tempat peri-peri musim dingin menyiapkan salju-salju mereka.

‘Gwynne!!” Panggil Gwen keras ketika mereka sampai, tempat itu adalah tempat terdingin di dunia peri, seluruh ruangan terbuat dari es keras yang akan terasa menyakitkan di kulit manusia bahkan jika hanya mendekatkan tangan mereka di situ. Tapi bagi para peri, hal itu bukan masalah.

“Bisa tidak jangan berteriak?” gerutu seorang peri perempuan keluar belakang dari tumpukan batu es. Rupanya persis seperti Gwen, tak ada perbedaan di antara keduanya selain model baju yang mereka kenakan. Gwen memakai gaun pendek putih sedangkan Gwynne memakai kaos dengan celana pendek putih.

“Hay Gwynne.” Sapa Kegan ramah, Gwynne tersenyum manis sebagai jawabannya.

“Gwynne! Aku bertemu dengan lelaki itu lagi.” histeris Gwen tanpa memperdulikan Kegan.

“Lelaki yang mana?” heran Gwynne.

“Manusia itu, tentu saja. ah, dia sangat tampan!” Jawab Gwen bersemangat.

“M…Manusia? Kau gila.” gagap Kegan, memandang Gwen dengan tatapan melotot.

“Aku tidak gila, Kegan. Sebaiknya kau pergi saja, jangan katakan hal ini pada yang lain.” Usir Gwen tidak lagsung, Kegan mengerutkan keningnya kemudian terbang menjauh.

“Berhenti mendekat ke dunia manusia.” Ketus Gwynne, Gwen mempouted bibirnya dan memandang Gwynne kesal.

“Tidak mau! Nanti aku tak bisa bertemu dengan Dongho lagi.” bantahnya.

“Aku tak peduli. Kau tau kalau para manusia melihatmu, kita akan segera lenyap!” marah Gwynne.

“Aku tau, tapi aku terlanjur menyukai lelaki itu.” lirih Gwen, Gwynne menarik nafasnya pelan untuk menenangkan diri kemudian berjalan mendekati adiknya.

“Gwen, aku tau. Tapi, kumohon patuhi peraturan yang ada. Ini demi kau dan diriku juga.” Gwynne mencoba memberi pengertian kepada kembarannya sembari menepuk bahu Gwen perlahan.

“Aku janji tak akan terlihat olehnya.” Sikeras Gwen.

“Tidak!”

“Tap–”

“Aku bilang tidak boleh! Aku tak mau menghilang hanya karena kebodohanmu mendekati manusia.” Gwynne merasa benar-benar marah sekarang, ditinggalkannya kembarannya yang kini hanya berdiri merengut dan kembali bekerja.

“Sebaiknya kau kembali ke bawah, barangkali ada yang membutuhkan tarianmu.” Titah Gwynne, masih dengan wajah yang tertekuk Gwen berjalan menuju pintu keluar.

“Oh, kau Gwen. Mau kemana?” Isolde yang tiba-tiba datang hampir saja bertabrakan dengan Gwen. Gwen hanya tersenyum simpul sebagai jawabannya dan terbang keluar.

“Sepertinya saudaramu sedang dalam keadaan tidak baik.” Heran Isolde sambil berbicara kepada Gwynne.

“Mungkin.” Ucap Gwynne tak acuh.

***

     Gwen terbang di sekitar koridor sekolah yang sepi karena sekarang semua siswa sedang belajar di kelasnya.

“Ini kelasnya.” Seru Gwen girang kemudian mengintip kedalam sebuah ruang kelas dari jendela sambil berusaha membuat dirinya tidak terlihat oleh murid-murid.

“Ah, itu dia!” gumamnya lagi, matanya memperhatikan seorang murid laki-laki yang sedang duduk di meja deretan kedua dari belakang kelas. Lelaki itu sangat tampan, dengan mata cipid dan wajah yang sempurna.

“Tampannya, hihi…” Gwen terkekeh pelan. “tapi, kenapa dia termenung?” heran Gwen lagi, matanya kemudian mengikuti arah pandangan lelaki itu.

“Wanita itu… Apa Dongho menyukainya?” lirih Gwen ketika menangkap pandangan Dongho, seorang wanita cantik yang memakai jepitan kelinci di rambut ikalnya, sesuatu terasa sakit di sekitar jantung gwen.

“Ya! Shin Dongho! Papan tulismu ada di depan, bukan pada Jiyeon!” bentak guru mereka yang menyadari bahwa fokus Dongho bukan pada pelajaran yang diberikannya, mengundangkan gelak tawa dari seluruh penghuni kelas. Wajah Dongho memerah karena malu dan tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia memandang gadis yang bernama Jiyeon itu untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja, Jiyeon membalas tatapan Dongho dengan tersenyum ramah, Dongho kembali menunduk karena semakin malu.

“Sakit!” lirih Gwen, peri itu tau kalau sebenarnya perasaannya itu tidak boleh ada. Tapi sepertinya cupid sudah salah menembakkan panahnya sehingga mengenainya pada lelaki yang tak seharusnya itu.

Tiba-tiba bayangan hitam berkelebat di sekitar gadis yang disukai Dongho itu, Gwen menajamkan pandangannya. Tak salah lagi, itu Scream, si malaikat maut. Gwen bergeming, seingatnya jika Scream sudah mendekati seseorang dan berkeliaran di sekitar orang itu, ajal sudah mendekat dan hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi. Hati Gwen bersorak, itu tandanya hidup gadis itu tak akan bertahan lama lagi dan setelah itu tak akan ada yang mengambil hati Dongho, manusia idamannya. Jahatkah? Memang, tapi rasa cintanya menutup perasaan kasihannya.

Ting Tong!!!

Bel tanda istirahat berbunyi, seluruh siswa yang ada di kelas berhamburan keluar begitu juga Dongho dan Jiyeon –berikut scream- sehingga kelas menjadi kosong. Gwen baru saja hendak mengepakkan sayapnya untuk mengikuti Dongho ketika matanya menangkap sebuah buku yang terbuka di meja Dongho. Setelah menimbang beberapa saat, rasa penasaran Gwen menyuruhnya untuk tidak mengikuti Dongho dan beranjak kekelas untuk memeriksa buku milik Dongho itu.

Peri itu melayang sejenak di atas buku Dongho kemudian mendarat dengan anggun di atas buku itu. tulisan Dongho yang besar-besar dan rapi itu menarik perhatiannya, di bacanya perlahan…

Park Jiyeon, gadis itu masih saja menarik perhatianku hingga sekarang.

Seingatku dulu dia adalah gadis kecil yang cengeng, tapi sekarang dia begitu anggun dan cantik.

Aku mencintainya, aku tak mungkin menampiknya.

Aku tau, dia tak mungkin hidup lama karena penyakitnya itu. dia tak mungkin mendampingiku.

Tapi, andai tuhan mengizinkanku menggantikan posisinya, aku bersedia.

Karena bagiku, senyumannya adalah matahari, dan dunia tak akan ada artinya tanpa matahari.

aku ingin bersamanya, menikmati sisa waktunya dengan senyuman.

Aku harap aku bisa setidaknya menjadi pelindung selama dia masih bisa bernafas.

Walaupun setelahnya, aku tak yakin bisa tersenyum seperti biasaya.

Park Jiyeon, Saranghae!

     Gwen terdiam, perasaannya tak menentu. Kali ini dia merasa benar-benar jahat karena sempat senang atas kematian Jiyeon. Ia jahat, kalau Jiyeon meninggal, itu sama artinya dia menyakiti Dongho.

Gwen mengepakkan sayapnya cepat, kemudian terbang dengan kecepatan tinggi. Ada yang harus dikerjakannya sekarang.

***

     “Gwen, tumben sekali kau mau keperpustakaan. Apa kau tidak menari?” tanya Treva, peri penjaga perpustakaan di Shayla.

“Tugasku kosong, lagipula aku memerlukan lebih banyak informasi.” Jawab Gwen singkat tanpa menoleh pada Treva, tatapannya masih terfokus pada buku tebal di hadapannya.

“Memangnya kenapa?” heran Treva.

“Ah, tidak. Hanya keperluan kecil. Ini dia, aku harus segera mencatatnya.” Gwen masih terfokus pada bukunya, kemudian segera mencatat apa yang dibutuhkannya.

“Aku pergi dulu.” Ucapnya buru-buru dan segera melesat terbang ke luar dari perpustakaan tanpa membereskan buku-buku yang bau di bacanya.

“Tap– ah, buku apa ini?” belum sempat Treva menyelesaikan kalimatnya, Gwen sudah melesat pergi. Padangan Treva mengarah kepada buku yang tadi di pegang Gwen dan memeriksanya.

“Buku tentang Scream ternyata.” ucapnya, kemudian membaca halaman yang diperlukan Gwen tadi. “Cara menghentikan Scream mengambil nyawa seseorang.” Bacanya perlahan, seketika tubuhnya membeku.

“Gwynne! GWYNNE!” jarit Treva menakutkan.

***

     “Cara menghentikannya hanya dengan menggantikan posisi korban untuk diambil nyawanya, peringatan: hanya bisa dilakukan oleh peri yang berhati tulus untuk membantu korban, jika tidak si korban akan tetap kehilangan nyawanya.” Gwen membaca perlahan catatan yang didapatkannya dari perpustakaan tadi. Peri itu sedikit bergidik, berusaha menyakinkan diriku akan apa yang aku lakukan nanti.

Ya, aku akan menghentikan Scream mengambil nyawa Jiyeon. Tidak akan dibiarkannya selama Jiyeon adalah matahari bagi Dongho. Peri itu semakin mempercepat terbangnya menuju tempat dimana Jiyeon berada.

***

     Gwynne terbang dengan perasaan yang tak menentu, ia merasa perbuatan kembarannya itu sungguh sudah sangat melampaui batas. Bagaimana bisa terpikir oleh Gwen untuk menganggu pekerjaan Scream, itu akan membahayakan bagi peri, tentu saja. Peraturan dari dewan dan ratu peri tentu saja tidak bisa di ubah, gambaran tentang hukuman yang akan mereka dapat kini terpanpang jelas di hadapan Gwynne dan membuatnya ketakutan. Perasaannya tak menentu, hingga tiba-tiba dia melihat Gwen sedang melesat masuk ke sebuah ruangan kelas yang mana beberapa meter darinya terlihat seorang gadis yang sedang di ikuti Scream. Peri kecil itu menambah kecepatan terbangnya untuk mengejar Gwen.

“Gwen!” panggilnya, Gwen menoleh dan sedikit terkejut mendapati kakak kembarnya yang mengikutinya.

“K… Kenapa–”

“Jangan mengangganggu pekerjaan Scream, Gwen!” tekan Gwynne, Gwen mendesah dan membuat gerakan memutar bola matanya kemudian kembali terbang menuju Scream yang kini sedang mempersiapkan sabitnya untuk mengambil nyawa Jiyeon.

“Scream! Hentikan!” jerit Gwen, merentangkan tangan kecilnya tepat di hadapan Jiyeon. Gadis manusia itu terbelalak kaget melihat apa yang ada di hadapannya sekarang. Seorang peri kecil dan sesesok hitam tinggi yang sedang memegang sabit panjang. Gadis itu menyakinkan dirinya bahwa dia sedang bermimpi. Sakit, Jiyeon meremas perutnya yang tiba-tiba menjadi perih dan terasa seperti ditusuk.

“Apa yang kau lakukan peri kecil?” heran Scream, matanya memerah karena marah pekerjaannya sudah terganggu.

“Ambil aku sebagai gantinya!” pinta Gwen.

“Gwen, hentikan! Apa kau gila? Kalau kau lakukan ini artinya kau akan mengorbankaku juga!” Gwynne menjerit sedikit histeris. Gwen membeku, dia baru berfikir tentang Gwynne. Ia jahat terhadap saudara kembarnya sendiri, batinnya. Ia menjadi ragu akan apa yang akan dia lakukan.

“I can’t wait any longer!” gelegar Scream, kedisiplinan akan waktu merupakan hal penting bagi setiap Scream. Dilayangkannya sabitnya ke arah Gwen, peri kecil itu menjerit kesakitan. Satu hal yang dilupakan Gwen, Scream tidak akan mau menerima ketidak konsistenan orang yang mencoba bernegosiasi dengannya.

Gwynne membesarkan matanya melihat pemandangan di depannya, seluruh badannya terasa sakit, melebur, hancur. Sedang Jiyeon merasa sakit di perutnya semakin lama semakin membaik. Gwen juga mulai lebur, tubuhnya berubah menjadi partikel-partikel yang lebih kecil dari debu dan hilang terbawa angin disertai jeritan memilukan dari keduanya. Scream, yang merasa tugasnya sudah selesai terbang menjauh dan pergi menuju target lain.

Dan beberapa detik kemudian, suasana hening. Tak terlihat terjadi suatu kejadian apapun di ruang kelas itu. kini tinggal Jiyeon sendiri dengan perut yang sudah semakin membaik bahkan tidak terasa sakit lagi. Gadis itu menangis, bukan karena rasa sakitnya tadi, tapi karena pemandangan yang baru aja berlalu di depannya.

Dua makhluk kecil bersayap yang saling berdebat, satu sosok menyeramkan yang membawa sabit, semua itu terasa sangat membingungkan bagi Jiyeon, dan gadis itu sendiri berhatap kalau yang baru dilihatnya hanyalah fatamorgana semata. Dia dapat mengingat perkataan salah satu makhluk kecil tadi yang meminta untuk mengantikan posisinya, dan satu makhluk kecil lainnya yang balas berteriak, malaikat maut yang mengayunkan sabitnya dengan cepat, jeritan kecil yang melengking ditelinganya, dan saat semua menghilang, dia yakin merasakan itu semua nyata walaupun sakit di perutnya tidak tertahankan. Walau begitu, dia sadar kalau dia baru terbebas dari maut dan itu berkat dua makhluk kecil yang bahkan tidak ia ketahui sebelumnya. Jiyeon tetap menangis, tangisan untuk berterima kasih terhadap dua mahkluk kecil itu.

Dongho memasuki ruang kelas untuk mencari Jiyeon, ditemukannya gadis itu sedang terduduk di tengah kelas dan menangis. Dongho panik, segera ia berlari menuju tempat Jiyeon dan berlutut disampingnya dan memeluk posesif gadis itu, dia belum mau kehilangan gadis itu.

“Apa yang terjadi, perutmu sakit lagi?” tanya Dongho khawatir, Jiyeon menggeleng.

“Lalu, kenapa kau menangis?” tanya Dongho lagi.

“A.. Aku sudah s… sehat. T… tapi mereka…” gagap Jiyeon disela tangisnya.

“Mereka? Mereka siapa?” Jiyeon menggeleng, tak mau menjawab pertanyaan Dongho. Gadis itu terus menangis dan semakin merapatkan tubuhnya ke Dongho, mencari ketenangan.

“Tenanglah, aku ada di sini.” Dongho menepuk punggung gadis itu pelan, ia tau kalau gadis itu tak mau dan tak akan menceritakan hal itu kepadanya, ia tak akan memaksa. Jiyeon mengeratkan pelukannya lagi, dia merasa nyaman dalam pelukan lelaki itu.

“Ji..  Jiyeon-ah, saranghae!” seru Dongho tiba-tiba, dia merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya terhadap gadis itu. Jiyeon tertegun dan melepaskan pelukan Dongho, menatap namja itu dengan mata bening yang basah miliknya, tidak percaya akan perkataan lelaki itu.

“A… Aku bersungguh-sungguh. Saranghaeyo.” Ulang Dongho. Jiyeon memandangnya sejenak, kemudian dengan cepat menempatkan dirinya dalam pelukan Dongho kembali. “Nae… Na do.” Jawabnya dengan wajah memerah yang tersembunyi di pelukan Dongho. Dongho tersenyum, senang dengan jawaban Jiyeon. Namja itu berjanji, akan menjaga Jiyeon sampai kapanpun. Dan bisa kita tebak kalau akhir dari mereka berdua akan bahagia selamanya, bukan?

Sedang Gwen, peri kecil itu sudah mengorbankan dirinya, bahkan kembarannya. Tapi, tak akan ada penghargaan apapun untuk jasanya terhadap kedua manusia itu. ia hanya menghilang, menghilang tanpa menerima apapun dari lelaki yang dicintainya. Sia-sia-kah? Entahlah…

***

Well, gimana? Ceritanya jelek kan? Tapi komen ya, supaya saya tau apa ff ini perlu dibuat series (dengan pemeran & cerita yg beda) atau cukup satu ini aja. Gumawo J