Title :    Take Me Away!

Author :  Meulu Primananda (LaaaadyDJ)

Lenght:  Drabble (3.238 words)
Genre:   AU, Romance

Rating : PG15
Cast  : Jang Dongwoo (Infinite)

Xylone (oc’s/You)

BGM : Take me away – U-kiss

Disclaimer : The plot of this songfic 100% mine! If you already read this songfic, it mean you read in my personal wp: www.Itsmemeulu.wordpress.com  and 2 fanfic blog! if you see this songfic in other blog/fb, please tell me. Aku tau kalo fanfic ini jelek, tapi tolong hargai author dengan coment yang kalo bisa jgn cuma satu atau dua kata, thanks.

For reader, happy reading J

For Plagiator, GTH!!! J

ENJOY J

Aku bermimpi mimpi aneh itu lagi! aku tersesat diruang putih kosong tanpa ujung. Aku memandang kesekeliling, tak ada apapun di sini. Ruangan ini begitu menyeramkan dan begitu kosong. Samar-samar aku melihat sosok hitam, namun aku tak dapat memastikan apa yang kulihat. Sosok itu terlalu samar. Aku beringsut, memeluk kedua lututku dan airmataku jatuh begitu saja, terasa sakit di bagian dadaku, sesak. Bahkan ketika aku terbangun dengan keringat yang membasahi sekucur tubuhku, air mata itu tidak berhenti. Aku menangis untuk sesuatu yang aku sama sekali tak ketahui. Ketika aku berteriak kepada pikiranku sendiri untuk mencari alasan kenapa aku menangis, tetap saja aku tak menemukannya. Apa yang harus aku takutkan lagi sekarang, bukankah aku sudah bangun dan menatap dunia nyata di kamar asramaku sekarang? Tapi tetap, air mataku terus mengalir. Aku beringsut menuju pojok tempat tidurku, melanjutkan tangisku dalam diam. Sesuatu terasa sakit disini, di sekitar hatiku. Aku merasakan campuran emosi yang tak bisa dijelaskan. Seakan lobang kosong menganga di sekitarnya menunggu ada yang bisa menutupnya.

Ini bukan kali pertamanya aku memimpikan ruang kosong hampa itu, dan aku yakin juga bukan untuk terakhir kalinya. Aku bahkan tak ingat kali pertamanya aku memimpikan hal itu dan menangis setelah terbangun dari tidurku sampai pagi. Yang kutau menangis setelah terbangun dari tidurku adalah kebiasaan, bahkan merupakan keharusan bagiku.

Suara kursor jendela yang membentur ke dinding membuatku mendongak, terlihat kain gorden jendela berterbangan tertiup angin. Aku memang tak pernah menutup jendela setiap malamnya, jangan tanyakan mengapa karena aku juga tak tau alasannya. Jendela ini selalu terbuka seakan aku sedang menunggu ada yang memanjatnya dan memasukinya, tapi aku tak tau kenapa dan siapa atau apa. Begitu seringnya tubuhku melakukan sesuatu yang bahkan aku sendiri belum pernah terfikirkan untuk melakukannya.

Aku bangkit perlahan dan berjalan menuju jendela, kusibakkan kain jendela dan kuikat dengan pita agar tidak terbang sembarangan lalu aku menahan kursor jendela dengan apapun yang bisa menahannya agar tidak membentur dinding dan mengganggu teman-teman di kamar sebelahku.

Aku memanjat naik ke atas jendela, duduk di cekungan jendela yang aku bahkan bisa tidur di situ. Malam ini gelap dan tak ada bintang yang bersinar meneranginya, hanya ada bulan sabit yang bersinar dengan redup menerangi seluruh malam. Kupeluk kakiku dan menenggelamkan kepalaku diantara lutut-lututku, kembali menangis.

Setelah beberapa saat aku mendongak dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Semua bangunan di area sekolahku ini terlihat kuno, bahkan sekilas terlihat seperti kastil inggris jaman dulu. Pandanganku terhenti ketika aku melihat ada seorang yang sedang duduk diatas jendela sepertiku, seorang lelaki yang kini sibuk dengan buku dan pensilnya, kelihatannya ia sedang menggambar. Aku baru ingat kalau bangunan diseberang adalah asrama lelaki.

Lelaki itu berambut platinum blonde, dari samping wajahnya terlihat keras dan tegas dan bibirnya sedikit tebal. Aku terdiam sejenak, tangisanku berhenti dan pandangan mataku terpaku pada lelaki yang masih saja sibuk dengan buku dan pensilnya itu. Sesuatu berteriak dari dalam diriku, aku tak bisa mengartikan arti teriakan itu. terjadi euphoria besar dalam diriku. Kepalaku berputar dan aku tak yakin diriku baik-baik saja sekarang.

Aku benar-benar sudah gila, kubiarkan seluruh reaksi dalam diriku menguasaiku sementara akal sehatku hanya bisa terdiam bersama jiwaku. Aishh, ada apa sebenarnya dengan diriku?

Hiks, bunyi isakan keluar dari mulutku tanpa permisi. Lelaki itu menoleh kearahku, menatapku heran dengan mata elang liarnya yang terlihat sendu. Aku terdiam, tubuhku tak berkutik seolah aku tertangkap sudah melakukan suatu kesalahan. Tatapanku masih mengarah kepada lelaki itu.

Lelaki itu terlihat menarik nafasnya panjang, kemudian tatapannya melunak dan terlihat lebih lembut padaku. Seketika itu juga aku merasakan tubuhku mengendur dan tidak setegang tadi. Laki-laki itu tersenyum dari seberang sana, aku menatapnya heran tak mengerti. Dia memerengkan kepalanya seolah berfikir kemudian dengan cepat dibukanya kembali bukunya dan menuliskan sesuatu disitu, setelah selesai dia menarik halaman yang ditulisinya dan membentuknya menjadi burung kecil. Dia kembali menoleh padaku kemudian mengangkat burung kertas tadi sejajar mulutnya dan meniupnya perlahan. Kertas itu kemudian mulai bergerak perlahan dan sedetik kemudian terbang seperti burung normal biasa kearahku.

Kuulurkan tanganku dan burung kertas itu dengan patuh hinggap ditelapak tanganku, dan sihirnya hilang. Kubuka perlahan kertas itu dan menemukan tulisan-tulisan yang panjang-panjang disana.

‘Boleh aku ketempatmu? Aku janji tak akan ada yang tau.’

     Aku mengangkat kepalaku menoleh kearahnya dan sejenak kemudian mengangguk. Lelaki berambut platinum gold itu kembali tersenyum kemudian bangkit berdiri dari jendelanya dan melompat dari jendelanya ke jendela kamar disampingnya tanpa bantuan apapun. Mataku membesar, takut-takut akan terjadi sesuatu terhadapnya. Lagi-lagi tubuhku berulah, kali ini perasaanku juga ikut bermain. Aku bahkan khawatir terhadap orang yang baru aku lihat beberapa menit lalu. Pandanganku mengikiti lelaki tadi yang masih melompat dari jendela ke jendela lainnya, kemudian berlari menyebrang melewati jembatan pembatas antara asrama laki-laki dan perempuan kemudian kembali melompat diatas jendela kamar-kamar murid perempuan hingga tiba di jendela kamarku dan duduk disampingku. Aku menghembuskan nafas lega, entah kenapa.

“Masih menunggu?” tanyanya langsung, menatap penasaran kearahku. Aku balas menatapnya dan menaikkan bahuku menjawab pertanyaannya.

“Semua terasa aneh, kan?” tanyanya, aku semakin heran terhadapnya.

“Bagaimana kau bisa tau?” ujarku.

“Well, aku sendiri juga tak tau.” Jujurnya, aku menarik nafasku kemudian kembali menumpukan kepalaku diantara lututku. Tatapanku menerawang kedepan, tapi pikiranku kosong untuk saat ini.

“Siapa namamu?” lelaki berambut pirang itu kembali bicara, membuatku kembali tersadar dan pikiranku mulai dipenuhi dengan hal-hal aneh lagi.

“Eh?” aku mengangkat kepalaku dan memandang heran kearahnya, sejujurnya aku tak mengetahui apa yang dikatakan lelaki ini tadi.

“Aku tanya siapa namamu?” ulangnya.

“Aku? Namaku Xylone. Kau?” jawabku dan bertanya balik padanya.

“Dongwoo, Jang Dongwoo. Well, biar kutebak. Kau datang dari Yunani, kan? Aku dari Korea.” Ucapnya berusaha ramah.

“ah, ya. Senang bertemu denganmu.”

“Ya, me too.” Jawab Dongwoo.

Hening, setelah perkenalan singkat itu suasana menjadi dingin dan canggung.

“ehmm, kenapa kau belum tidur?” tanya Dongwoo berusaha mencairkan suasana.

“Aku bermimpi buruk.” Jawabku jujur.

“Itukah yang membuatmu menangis?” tanyanya lagi. Aku mengangguk mengiyakan.

“Bagaimana denganmu?” aku balik bertanya.

“Insomnia, aku sudah tak tidur selama lebih dari tujuh tahun belakangan.” Aku menatapnya tak percaya. Jawabannya terlalu sulit dipercaya.

“Apa kau akan terus terbangun sampai pagi?” tanyanya. Aku mengangguk perlahan.

“Biarkan aku menemanimu.” Tawarnya, aku memandangnya sejenak.

“Baiklah.” Setujuku. Dongwoo tersenyum dan kemudian bergerak sedikit dan menyenderkan tubuhnya di salah satu sisi jendela yang bebas sehingga posisi kami saling berhadap-hadapan.

“Aku akan menjadi temanmu.” Dongwoo kembali berbicara, lebih tepatnya menyampaikan sebuah pernyataannya terhadapku, dan lagi-lagi aku mengangguk. Entah kenapa aku merasa percaya dengan orang yang baru aku kenal itu.

Suasana kembali hening, hanya terdengar suara pensil Dongwoo yang bergesekan dengan kertas gambarnya. Dongwoo sudah mulai kembali sibuk dengan kegiatan awalnya sedangkan aku memandangnya, alih-alih mataku yang memandangnya sedangkan pikiranku kembali melayang entah kemana. Ini kali pertamanya aku tidak menghabiskan malam dengan menangis, airmataku berhenti dan sakit disekitar dadaku berkurang. Walaupun aku dan Dongwoo hanya diam dan sibuk dengan kegiatan kami masing-masing hingga pagi berganti, kurasa itu lebih baik karena air mataku berhenti, setidaknya untuk malam ini.

***

     Aku berjalan menyusuri koridor sekolah setelah selesai dengan kelas sihirku, aku akan menuju kamarku dan kamar teman-temanku lainnya untuk membereskan pakaian-pakai kotor yang harus segera aku cuci sebelum madam Corey menemukanku masih berjalan di koridor.

“Xylone!!” sesorang berteriak memanggil namaku, aku menutup mataku berusaha menahan kemarahanku. Tanpa melihatpun aku sudah tau siapa yang memanggilku.

“Xylone!!” panggil orang itu lagi, kali ini terdengar lebih besar. Aku berbalik dan sedikit membungkuk sopan dengan kedua kaki bersilang dan ditekukkan kepadanya, “Ya, Ma’am!” sahutku pelan.

“Sudah dua menit kau melalaikan pekerjaanmu, Xylone. Kau seharusnya bergerak lebih cepat atau murid-murid perempuan disini akan merasakan kesusahan karena kau belum mencuci pakaian mereka. Kau tau kalau waktu itu sangat berharga kan, Xylone?” madam Corey berbicara dengan sifat angkuhnya mengguruiku. Aku hanya diam dan menunduk, tak berani menjawab perkataannya. Sebenarnya bukan salahku aku sedikit telat keluar dari kelas tadi, hanya saja Miss Minerva memberikan kami tugas lebih pada pelajaran mantra.

“Sekarang kau ikut aku.” Ucapnya angkuh kemudian berbalik berjalan mendahuluiku, rambutnya yang digulung tinggi dan bagian depannya yang keriting dibiarkan jatuh hingga selagi dia berjalan, rambutnya ikut bergoyang sesuai dengan derap langkahnya. Ini bagian yang paling tidak aku sukai,seolah aku hanya seekor sapi yang telah diikat hidungnya dan patuh mengikuti madam Corey menuju nerakaku.

“Sebenarnya aku tak ingin mengotori tanganku karenamu, kau ini sungguh membuat aku susah saja. benar-benar mengesalkan, kenapa aku harus membawamu sebagai tanggunganku padahal seharusnya sekarang aku minum teh dengan nyaman diruang guru.” Omelnya selagi kami berjalan menuju suatu tempat yang sudah tak asing bagiku.

“Nah, segera lepaskan baju luarmu. Kau boleh memakai kaus dalammu.” Perintahnya, aku mengikuti dengan patuh, tak ada yang bisa aku lawan dari perempuan berwajah angkuh ini.

Cclllaakkkk!

Perih terasa dipunggungku, sedikit panas ketika benda panjang dari kulit atau lebih sering dikatakan cambuk itu mengenai punggungku, ini bukan kali pertamanya aku dicambuk seperti  ini. Madam Corey sering melakukannya saat aku melakukan kesalahan.

Cclllaaakkk!

Cambukan kedua, aku meringis menahan sakit namun masih mencoba diam. Aku tak akan menangis.

Ccllaaakkk!

Cambukan yang ketiga mengenai kakiku.

“Yang terakhir itu karena kau sering terlambat melakukan tugasmu. Sekarang cepat keluar dan lakukan tugasmu dengan cepat, waktuku sudah habis gara-gara harus mencambukmu seperti ini.” Ucapnya, berlagak seperti tidak pernah melakukan sesuatu yang menyakitiku.

“Ya, Ma’am.” Jawabku patuh dan segera memakai kembali baju luarku kemudian bergegas menuju kamar-kamar asrama perempuan untuk mengutip baju-baju kotor mereka.

Lima belas menit kemudian, aku sudah berada di jalan menuju sungai tempat aku biasa mencuci baju dengan keranjang besar penuh cucian. Memang sudah tugasku mencuci baju murid-murid perempuan di sekolah ini, selain itu aku juga bertugas membereskan kamar-kamar serta ruang makan yang digunakan oleh kurang lebih 30 murid perempuan di sekolah sihir ini.

Kedua orang tuaku sudah meninggal, aku dititipkan kepada madam Corey karena dia satu-satu orang yang kenal dengan orangtuaku. Dengan perasaan yang aku yakin sangat tidak senang,dia membawaku kesekolah sihir ini untuk bekerja alih-alih belajar. Aku rasa madam Corey tak pernah senang dengan keberadaanku, dia suka menghukumku bahkan terkadang untuk kesalahan yang belum aku lakukan. Aku tak bisa melawan, dan kurasa aku tak akan pernah bisa melawannya. Nyaliku menciut setiap melihat tatapan rubahnya menatapku dengan tajam.

Kutarik nafas panjang dan masuk kesungai, mulai mencuci pakaian satu persatu. punggungku terasa sedikit nyeri ketika aku mencoba untuk duduk di batu besar dipinggir sungai. Perlahan aku bekerja dengan tanganku. Miris memang, seharusnya penyihir sepertiku tidak perlu tangan untuk melakukan pekerjaan semacam ini. Aku harusnya hanya membaca beberapa mantra dan beberapa saat kemudian membiarkan pakaian-pakaian itu tercuci dengan sendirinya. Tapi aku tak bisa lakukan itu, madam Corey mengunci kekuatan sihirku karena menganggap aku tak membutuhkannya. Orang itu memang sepertinya benar-benar mau membuatku tersiksa karenanya.

“Xyl?” seseorang memanggilku, aku menoleh kebelakang. Dongwoo sedang berdiri dengan tangan menggengam sebungkus kantong kresek dibelakangku, ia terlihat sedikit heran melihatku disini.

“Apa yang kau lakukan disini?” Herannya kemudian meletakkan bawaannya dan menarikku keluar dari sungai dengan kasar.

“Auhh, bisa pelan sedikit?” pintaku ketika kakiku terpeleset, itu terasa sangat sakit terlebih aku masih bisa merasakan sakit bekas cambukan tadi.

“Apa yang madam Corey perintahkan lagi padamu kali ini?” tanyanya, matanya menyipit dan raut wajahnya menengang. Setelah malam itu,sedikit banyak Dongwoo tau semua tentangku tanpa harus aku beritahukan, termasuk tentang madam Corey.

“Ini memang tugasku, aku mencuci pakaian murid-murid lainnya.” Jawabku jujur.

“Kenapa tak gunakan sihirmu?” protesnya.

“Dia menguncinya.” Lirihku.

“Aishh! Gagak itu benar-benar. Sekarang kau duduk.” Perintah Dongwoo, dituntunnya aku dengan cepat supaya mengikutinya dan menyuruhku duduk di salah satu batu besar yang ada disitu.

“Auuhh!” ringisku ketika tak sengaja kakiku terpeleset lagi di batu yang licin hingga aku terduduk di tanah..

“Kau baik-baik saja?” tanya Dongwoo lagi, aku menganggukkan kepalaku. Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya tak percaya padaku dan mengalihkan tatapannya ke kakiku.

“Jangan.” Tahanku ketika tangannya sudah terulur untuk memeriksa kakiku.

“Biarkan aku melihatnya.” Ucapnya, kemudian membalikkan kakiku. Ada luka lebam yang membiru bekas cambuk madam Corey tadi.

“Nullam lava a te!” Dongwoo mengucapkan mantranya dan menjentikkan jarinya kearah keranjang cucianku, baju-baju didalamnya mulai keluar dan mencuci diri mereka sendiri.

Aku mengarahkan tatapanku kepada Dongwoo yang kini sudah membukan bungkusan yang tadi dibawanya dan mengeluarkan beberapa jenis daun-daun obat dan dengan telaten membersihkan luka lebamku dan membalut kakiku dalam diam. Suasana menjadi hening yang janggal.

“Err, kau tak masuk kelas?” tanyaku mencoba memecah suasana.

“kelasku kosong.” Jawabnya dingin. Aku memandang heran Dongwoo yang masih sibuk mengobati lukaku.

“Eh, kau marah?” tanyaku.

“…” Dongwoo  diam.

“Apa aku berbuat salah padamu?”

“…”

“Dongwoo.”

“…”

“Jang Dongwoo, katakan apa salahku!” panggilku sedikit kesal karena dari tadi dia tidak mengacuhkanku.

“Kenapa kau selalu berkata kau baik-baik saja? Kesalahanmu karena tetap disini dan menuruti semua perkataan gagak tua itu. Kenapa kau tak pergi saja dari tempat ini dan mencari kehidupan yang lebih baik lagi. Kau membuatku merasa bersalah karena tak bisa menolongmu dari gagak tua itu.” bentak Dongwoo, aku merasa menciut mendengarnya.

“Tapi aku tak punya siapa-siapa kalau keluar dari sini. Aku tak mau hidup sendiri…” lirihku sebagai jawaban.

“Kalau kubilang aku akan ikut pergi denganmu, kau mau meninggalkan tempat ini?” Dongwoo menatapku, mengajakku bernegosiasi.

“…” hanya diam, entah kenapa aku tak bisa menjawab pertanyaannya.

“Sudahlah, lupakan saja. Harusnya aku tau kalau kau terlalu lemah untuk bisa lepas bahkan dari masalahmu sendiri.” Ucap Dongwoo meremehkanku dan kembali sibuk dengan lukaku. Dan lagi, aku hanya bisa diam.

***

     Aku kembali berada  di ruang putih tanpa ujung ini,meringkuk di tengah ruangan dan menatap kesekeliling, mencari sesuatu yang bisa membantuku. Lagi-lagi kulihat sosok itu, masih dalam pakaian serba gelapnya. Wajahnya terlihat kabur, tapi aku merasa aku mengenali bentuk wajah itu. lamaku memandang sosok itu, mencoba mengenalinya tapi tetap tak bisa. Sosok itu kemudian memutar, kemudian mengilang sama sekali dari pandanganku. Dan saat itu juga, air mataku jatuh mengalir lagi, aku kembali menangis. Aku terbangun dengan keringat yang membasahi sekucur tubuhku, masih menangis.

“Mimpi buruk itu lagi?” Tanya Dongwoo sambil menutup buku yang dibacanya dan mengalihkan pandangannya kepadaku. Lelaki itu duduk di kursi yang sengaja diletakkannya disampingku untuk tempat duduknya setiap malamnya. Semenjak malam pertama kami bertemu, sudah menjadi kebiasaannya duduk dikamarku sambil membaca buku ataupun menggambar sketsa lukisan sedangkan aku tertidur dan terbangun lagi pada tengah malam karena mimpi buruk itu.

“Ia, sosok itu menghilang.” Ucapku masih menangis dan meringkuk di ujung tempat tidur. Dongwoo menarik nafasnya sejenak, kemudian kembali memandangku.

“Semuanya akan baik-baik saja.” Yakinnya kemudian tersenyum lembut padaku. Biasanya hal itu menenangkanu setiap aku terbangun dan menangis, tapi kali ini tidak.yang aku rasakan adalah ketakutan, ketakutan akan kehilangan sesuatu. Air mataku tak bisa berhenti, malah semakin deras. Dongwoo bangkit dari tempat duduknya kesampingku dan memelukku, mencoba menenangkan.

“Semua akan baik-baik saja.” ucap Dongwoo.

“Tapi dia hilang…” aku bergumam lirih, masih terus menangis. Dongwoo mengeratkan pelukannya berusaha menenangkanku.

“Tidak apa-apa, tenanglah…” ucapnya.

Brakk…

Pintu kamarku dibuka dengan kasar, madam Corey memandangku dengan tatapan menakutkan sedangkan ditangannya sudah ada cambuk yang biasa digunakannya untuk menghukumku.

“Xylone!!! Beraninya kau membawa laki-laki kekamarmu.” Bentak madam Corey kemudian menarikku dari pelukan Dongwoo.

“Bersikaplah lebih baik padanya, ma’am.” Dongwoo balas memandang tajam madam Corey, tangannya berusaha menarikku kembali.

“Xylone! Suruh lelaki ini keluar dari kamarmu sekarang! Aku harus menyelesaikan urusanku denganmu.” Perintah madam Corey dengan marah kepadaku. Aku terdiam…

“Xylone! Kerjakan apa yang kusuruh, atau dia yang akan aku bunuh dengan sihirku.”

“Hey, kau tak bisa me–-” Dongwoo mencoba membantah.

“Xylone!” bentak madam Corey sekalilagi tanpa mengacuhkan perkataan Dongwoo. Aku memandang memohon kepada Dongwoo, mengisyaratkannya untuk pergi dari kamarku, tapi Dongwoo menggeleng.

“Komohon, aku akan baik-baik saja.” pintaku bersungguh-sungguh, Dongwoo tak bergeming dari tempatnya.

“Cepat keluar sebelum kesabaran kuhabis.” Paksa madam Corey, Dongwoo masih memandang kepadaku. Aku balas memandangnya dengan memohon. “untukku…” gumamku, Dongwoo menggepalkan tangannya marah, namun kemudian berjalan keluar melalui jendela kamarku yang segera tertutup tepat setelah Dongwoo pergi.

“Sekarang kau selesaikan urusanmu denganku.” Ucap madam Corey lagi, aku menutup mataku dan menggigit bibir bawahku karenan takut. Aku harap semua akan baik-baik saja.

***

     Dongwoo terduduk di depan jendela kamar Xylone yang tertutup, lelaki berambut pirang itu masih saja menggenggam tangannya dengan keras hingga buku-buku jarinya memutih.

Ccclllaakkkk!

Tiga puluh tujuh.

Ccclllaakkkk!

Tiga puluh delapan.

Ccclllaaaakkk!

Tiga puluh sembilan.

Cccllaaakkk!

Empat puluh.

Dongwoo menghitung dalam hati suara cambukan yang diterima Xylone dari dalam kamar. Dia marah, marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi gadis itu. Gadis tanggung jawabnya, dia tau dari awal kalau gadis itu adalah takdirnya sebagaimana yang sudah ditulis dalam catatan hidup gadis itu dilembar-lembar daun kehidupan miliknya disurga. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, dia menangis.

***

     Aku meringis kesakitan, sekucur tubuhku masih merasa panas karena cambukan yang kuterima lebih dari dua puluh jam yang lalu. Kali ini aku merasa benar-benar kosong. Jendela dan pintu kamarku dikunci dengan sihir oleh madam Corey supaya tidak ada yang bisa masuk ataupun keluar dari situ.

Aku menangis dalam diam, terasa begitu sakit bahkan untukku menggerakkan bagian tubuhku. Tak lama, aku mulai  tertidur.

Ruangan putih tanpa ujung itu hadir lagi, aku tidur dengan posisi kepala menghadap kelantai, terisak. Aku mengangkat kepalaku dan mencari sesuatu disekitarku.

Sosok itu lagi, aku menemukan sosok yang selalu ada dalam mimpiku itu lagi. sosok itu mendekat padaku, berjongkok disampingku dan mengulurkan  tangannya kepadaku. Aku dapat melihat sosok itu dengan jelas sekarang,wajah tegasnya, bibirnya yang sedikit tebal, mata elang sayunya, dan rambut platinum blondenya…

“Jang Dongwoo!” tepat saat itu aku terbangun, aku memeriksa kesekeliling kamarku.

Tak ada Dongwoo, aku kembali menangis. Untuk pertama kalinya aku berharap mimpiku menjadi kenyataan. Kamarku kosong, aku tak  menemukan Dongwoo ada dimanapun.

Aku bangkit dan beringsut kepinggir tempat tidur walaupun tubuhku terasa sangat sakit. Aku menangis, kali ini aku tak yakin kalau aku bisa berhenti menangis.

Kreeekk!

Terdengar jendela kamarku dicongkel perlahan, kemudian jendelaku perlahan terbuka. Seseorang masuk ke kamarku, seketika itu aku langsung berdiri dari tempat tidurku dan tanpa menghiraukan rasa sakit bekas cambukan itu, aku berlari memeluk Dongwoo. Sesaat Dongwoo merasa heran,namun sedetik kemudian diabalas memelukku erat.

“Bagaimana kau bisa masuk?” tanyaku.

“Seorang penyihir yang menganggap dirinya terhebat mempunyai kemungkinan terbesar melupakan cara-cara manusia biasa untuk menerobos masuk kepintu miliknya.” Jawab Dongwoo.

“Take me away…” pintaku. Dongwoo melonggarkan pelukannya, membuat jarak diantara kami. Lelaki itu mengangkat wajahku dengan kedua tangannya yang diletakkan dipipiku, memandangku serius, kemudian berkata, “Sebelumnya, aku ingin mengatakan kalau aku… minta maaf padamu.”

Aku memandang lelaki itu heran, “Tak ada yang perlu kumaafkan. Sosok yang selalu kumimpikan itu kau, sesuatu yang kutunggu dengan cara membuka jendela kamarku itu kau. Aku membutuhkanmu.” ucapku serius.

“I’ll take you away.” Ucapnya, kemudian kembali memelukku. Perlahan diangkatnya tubuhku, membawaku keluar melewati jendela kamar.

“Berpeganglah yang kuat.” Ucapnya, aku memperkuat peganganku padanya. Dongwoo mulai melompat dari satu jendela ke jendela lainnya, membawaku pergi sejauh mungkin dari tempat itu sebelum madam Corey menyadari kalau aku sudah tidak berada di kamarku lagi.

***

Proloque~

Aku memandang dua orang bayi kembar yang lucu dari dalam boks bayi sambil tersenyum, mereka terlihat begitu lucu.

“Mereka mirip denganku, ya.” Ucap Dongwoo melingkarkan tangannya dileherku.

“Tapi dagu mereka seperti daguku.” Ucapku tak mau kalah.

“Tapi mereka mengambil bentuk bibirku.” Protes Dongwoo, aku hanya tersenyum mendengar Dongwoo yang terlihat seperti anak kecil.

Semenjak kejadian malam itu, aku dan Dongwoo melarikan diri sejauh yang kami bisa. Kami menyamarkan identitas kami dan tinggal di Indonesia, sebuah negara yang indah dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Kami memutuskan kontak dengan siapapun yang berkaitan dengan dunia kami dulu, bahkan kami tak pernah memakai kekuatan sihir kami lagi.

Kami membangun kehidupan yang baru, mencoba melupakan masa lalu yang tak begitu baik. kami menemukan keluarga baru di tempat ini, sepasang suami istri tua yang tak punya anak menganggap kami sebagai anak mereka. Kami tinggal bersama, lalu menikah dan sekarang kami bahkan sudah memiliki dua orang bayi kembar laki-laki dan perempuan. Aku tak pernah bermimpi buruk itu lagi, karena aku sudah memiliki semua yang aku butuhkan disini. Bersama keluarga kecilku, aku akan menjadikan hidupku terasa lebih berarti dan menyenangkan. Tak akan ada yang lebih bagus dari ini, bukan?

*END*