Tittle        :  Too Late

Author     :  Adiez-chan

Length     : Drabble (447 words)

Genre       : Angst, sad

______________________________________

.

Aku merindukanmu, yang bahkan tak menyadari keberadaanku. Sesederhana itu.

(Ri, 2012)

.

”Ya ampun… Kantong matamu kenapa makin besar, Ri?! Kamu nggak tidur atau gimana sih?” jemari mungil dengan kuku berwarna peach menyusuri bawah mata lelaki di hadapannya. Ekspresinya menunjukkan kecemasan yang akhirnya tak terjawab. Lelaki itu hanya mengukir senyum tipis.

Tangan kokoh dari sosok diam itu menyentuh pergelangan tangan yang kini berhenti di sudut matanya dan menjauhkan dari wajahnya. Kemudian jari-jari lentik itu menyusup di sela miliknya, menggenggamnya erat seraya menyeringai kecil. Mimik menggemaskan yang terbingkai bentuk wajah yg sempurna itu membuang pandangannya ke arah langit, tak mempedulikan efek sentuhannya yang setara dengan sengatan listrik.

“Rin, apa kamu pernah, rindu pada rasa dirindukan olehku?”

“Eh, Ri…?” genggaman tangan yang mengikat mereka seketika terlepas, ketika sepasang mata kucing itu menatapnya terkejut.

“Mianhae…” lelaki berwajah tegas itu hanya mampu mengungkapkan sepenggal kata untuk gadis di hadapannya. Sejenak dia menatap senja yang semakin mememar, dengan pusatnya yang seakan hendak tertelan tanah, sebelum kemudian menatap sepasang mata itu kembali. “Mungkin kamu ingat, aku pernah mengungkapkan perasaanku padamu. Bahkan setelahnya pun, tak sedikitpun rasa itu terkikis. Dan jika kamu tahu, aku selalu merindumu, bahkan ketika kamu pun tak menyadari keberadaanku, sesederhana itu. Tenagaku tak sanggup untuk mengelak. Kapan kamu akan menyadari perasaanku, Rin?”

Mata sewarna hazel itu hanya bisa membalasnya dengan tatapan bersalah. Ada genangan di pelupuknya yang bersiap untuk meluncur, namun belum terkomando. Gadis itu hanya menggigit bibir bawahnya tipis, dan berbisik lirih, “Mmian… Ri, aku… tidak bermaksud…”

“Aku tahu,” potong lelaki itu seraya memainkan rambut hitamnya dengan jemari tangannya dalam sekali kibas. “Aku tahu, Rin. Matamu, hatimu, perhatianmu, hidupmu, hanya tercurah untuk Ji. Tidak akan ada yang tersisa untukku. Tidak akan ada tempat bagiku di hatimu, walau hanya seselip namaku. Aku tahu, Rin…”

Hening kemudian. Keduanya hanya terdiam, bersandar pada pagar besi pembatas bukit, seraya menatap kosong hamparan jingga yang hampir padam.

“Rin, apa aku boleh berhenti berlari, Rin? Apa aku boleh berhenti berharap? Aku lelah, Rin…”

Tetesan jernih itu akhirnya sukses meluruh. Beberapa mengarah ke surai rambut pirang terangnya yang terbuai angin. Gadis itu tak mampu berkata apapun untuk membalasnya, tak juga secuil kata untuk menjawab pertanyaan itu. Dia tahu, itu hanyalah sebuah kalimat retoris tanpa perlu tanggapan.

“Kamu dulu pernah bilang, ‘jangan menungguku, aku tak bisa memberikan kepastian untukmu.’ Apa itu artinya… aku boleh menghentikan langkahku, Rin…?”

Tidak juga penolakan.

Setidaknya dari bibirnya, setelah lelaki itu terus mengharapnya yang mengharap manusia lain. Betapa lingkaran dari mereka tak pernah menemukan ujungnya.

Tangannya bergerak mencengkeram lengan kemeja flanel lelaki itu, “Ri, jebal… andw–”

Biasanya dia tidak akan setega ini mencecarnya dengan ucapan semenyakitkan ini. Biasanya dia tidak akan sampai hati melihat mata itu terpenuhi air matanya sendiri. Biasanya dia tak akan pikir panjang untuk menariknya masuk dalam pelukannya. Tapi tidak untuk kali ini, ketika dia harus membekukan nuraninya. ”Mian, Rin… Mian…”

Tangan lelaki itu melepaskan jemari gadis itu dari bajunya, dan berpindah mengusap surai halus rambutnya dengan lembut. Untuk terakhir kalinya. “Be happy, Rin…”

.

Langkah panjang lelaki itu tidak terhenti sekalipun, walau hanya untuk melirik sekilas ke belakang. Dia hanya mendesah perlahan, tak mengerti apakah dia harus menyesali keputusannya atau tidak. Tangan kanannya kini membuka kertas lusuh yang sedari tadi dibawanya. Surat penugasan.

‘Lyon, be nice to me…’

.

Gadis itu dan langit yang terus memekat hanya mampu membiarkan bayangan lelaki itu menghilang, sendiri. Jemarinya kemudian hanya melingkari pagar dihadapannya kian keras, mencoba menahan derasnya air mata yang meluncur jatuh. Apapun suara yang keluar kemudian, hanya untuk didengarnya sendirian. Hanya untuk ditelannya tanpa seorang pun yang bisa mendengarnya.

“…Gajima.”

“Gajima, Ri! Gajimaaaa!!!”

“Na ddo… saranghae, Ri… Na ddo…”

.

(Rin, 2012)

Manakah yang lebih dulu tenggelam, punggungmu yang merapat di tikungan jalan, atau senja yang samar, lalu hilang…

.

_____________________________________

Masih bingung sama ceritanya? Ini saya berikan resume:

Ri itu Lee Seung Ri, Rin itu Lee Chae Rin, Ji itu Kwon Ji Yong. Ayo, sampe sini sapa yang uda bener tebakannya?🙂

Ri, yang sudah lama sayang Rin, namun Rin masih menunggu Ji. Dia sudah menolak halus cinta Ri dengan bilang ‘jangan menungguku, aku tak bisa memberikan kepastian untukmu’. Tapi Ri bersikeras untuk menunggu.

Hingga mereka berada di satu titik, dimana Ri sudah lelah menunggu, dan berniat untuk menyerah, kemudian pergi ke Lyon.

“Rin, apa aku boleh berhenti berlari, Rin? Apa aku boleh berhenti berharap? Aku lelah, Rin…”

‘Lyon, be nice to me…’

Yang Ri tidak tahu adalah, ternyata setelah dia pergi, Rin baru tahu yang namanya kehilangan, dan sadar… dia juga sayang sama Ri.

-fin-

gimana? sekarang udah nyambung?😀