Title : My Fake Ordinary Wife (part6)

Author : Lumie91

Main Cast : Kim Jongwoon/Yesung(Super Junior), Shin Hyeni (OC), Park Yunhee(OC), Lee Hongki(FT Island)

Support Cast : Lee Hyukjae, Lee Eunri, Lee Donghae, Shim Changmin, Kim Yoojin/Uee

Rating : G

Genre : romance, comedy, drama

Ps : Author masih baru di bidang per ff-an. Ini adalah ff pertama author dan author sendiri baru belajar nulis ff. Kalau ada kemiripan tokoh, cerita, latar, dll, author mohon maaf karena tidak disengaja karena author gak tahu apa-apa. Gomawo~ ff ini udah author publish di blog author yang baru ajah di buat belum lama ini Lumie’s World

Disclaim : ff ini murni buatan dan hasil pikiran author sendiri yang dibuat dengan susah payah, tolong dihargai dengan tidak memplagiatnya yah… ^^

 

 

Hyeni POV

 

“Shin Hyeni cepatlah!”

 

Aku segera mempercepat langkahku mengikuti seorang gadis tinggi dan cantik, berwajah bulat dengan pipi yang agak chubby.

 

“Ne, Yoojin eonni,” jawabku setelah berhasil mensejajarkan langkah dengannya. Perbedaan panjang kaki kami cukup membuatku kesulitan menyamakan langkah kami. Setidaknya dalam beberapa menit aku akan tertinggal tiga atau empat langkah di belakangnya, dan ia selalu berbalik untuk meneriakiku.

 

Ah.. biar kuperkenalkan dulu siapa eonni yang sekarang berjalan bersamaku. Dia adalah adik dari Woonie oppa. Ups, kalian bertanya siapa Woonie oppa?

 

Siapa lagi kalau bukan namja gila… dia tidak akan mendengarku kan karena aku memanggilnya seperti ini dalam hati, kalau ia sampai tahu maka aku berani menjamin hidupku tidak akan bertahan lama.

Jadi, aku sudah resmi bertunangan dengan namja gila itu, kalian tentu tahu siapa dia kan? Yesung adalah nama panggungnya, Kim Jongwoon adalah nama aslinya, dan Woonie oppa adalah nama yang kuberikan padanya.

 

Namja gila itu menyuruhku harus memanggilnya “oppa”. Awalnya aku memanggilnya Jongwoon oppa, tapi aku agak kesulitan dengan nama itu, lagipula menurut sarannya, sebaiknya aku memanggilnya dengan nama yang berbeda, sehingga akhirnya terciptalah panggilan Woonie oppa untuknya. Cih, aku sendiri sebal kalau harus memanggilnya seperti itu.

 

Aku telah mengikuti acara pertunangan dengannya beberapa hari lalu, dan kami akan segera menikah minggu depan. Huh, sungguh menyebalkan sekali. Dalam hitungan minggu sejak pertemuanku dengannya, aku akan menjadi istrinya. Tentu saja anggota keluarganya tidak tahu menahu dengan hal ini.

 

Anggota keluarganya terdiri dari empat orang, appa, eomma, dan seorang eonni. Tentu saja mereka bertiga terkejut ketika aku datang ke rumah mereka dan Woonie oppa memperkenalkan diriku sebagai calon istrinya. Keluarga Woonie oppa tahu selama ini kekasih Woonie oppa adalah Park Yunhee, yang baru kuketahui telah menolaknya dan pergi ke Amerika, tapi aku tidak tahu lebih jauh karena Woonie oppa tidak pernah menceritakannya dengan jelas.

 

Masalah pernikahan pura-puraku dengan Woonie oppa, selain kami berdua, ada satu orang lagi yang tahu, Hongki. Awal ia mendengar bahwa aku setuju menikah pura-pura dengan  hyungnya, ia jelas menentangnya, namun setelah memberikan penjelasan yang panjang, ia sedikit menerima keputusan ini, mungkin tidak, lebih tepatnya ia terpaksa menerimanya.

 

“Jangan sampai kau menyesal dengan keputusanmu, Hyeni~ah. Kumohon pikirkanlah baik-baik sebelum semua terlambat. Aku tidak ingin melihatmu terluka,” ujar Hongki terakhir kali aku bertemu dengannya sejak berhenti bekerja di kantornya. Jangan tanya kenapa aku berhenti, tentu saja atas perintah Woonie oppa. Dia mengatur berbagai peraturan untukku.

 

Selain harus memanggilnya oppa, keluar dari pekerjaanku, aku masih harus menjaga sikapku di depan umum.

 

“Semua orang tahu kau adalah calon istriku, jaga sikapmu, dan jangan membuatku malu. Jadilah seorang yeoja yang manis dan anggun, jangan kasar seperti kau yang biasanya. Dan, kurasa kau harus belanja dan membeli beberapa pakaian yang layak, jangan keluar rumah dengan menggunakan celana pendek dan kaos seperti ini,” ujar Woonie oppa panjang lebar mengomentari penampilanku.

 

Ia memberikanku kartu kreditnya dan aku pergi berbelanja sendirian, karena ia terlalu sibuk untuk menemaniku. Kubeli beberapa pakaian yang menurutku bagus, namun tetap casual, karena aku benci tampil feminim. Namun Woonie oppa lagi-lagi tidak setuju, akhirnya ia membawaku ke sebuah butik, membelikan beberapa dress untukku, katanya aku harus terbiasa memakai pakaian seperti ini. Tentu ia tidak melarangku memakai pakaian casual, namun sesekali aku harus tampil feminim saat keluar rumah dengannya, alasannya… kurasa kalian akan bosan mendengar alasan yang sama, “Aku adalah seorang artis, dan kau harus menjaga image di depan umum, semua orang tahu bahwa kau adalah calon istriku.”

 

Ok, setelah bicara panjang lebar tentang si namja gila berkepala besar itu, hahaha, benar, setelah sering bertemu dengannya, aku menyadari fakta bahwa kepalanya itu besar. dan satu lagi, tangannya itu begitu kecil, hanya lebih besar sedikit dari tanganku, aku menyadari hal ini ketika memasangkan cincin di jarinya saat kami bertunangan. Ups, mengapa kita jadi membahas namja gila itu lagi. Mari kita kembali kepada Yoojin eonni.

 

Biarpun statusnya nanti ia adalah adik iparku, namun usia adik Woonie oppa lebih tua dua tahun dariku, jadi aku tetap memanggilnya eonni. Yoojin eonni adalah satu-satunya keluarga Woonie oppa yang terlihat paling tidak suka dengan kehadiranku. Yoojin eonni sangat menyukai Park Yunhee, dan tentu saja kehadiranku yang menggantikan posisi Park Yunhee membuatnya sebal padaku. Tapi setidaknya ia tetap menerima hubunganku dengan Woonie oppa, buktinya ia mau menuruti permintaan Woonie oppa untuk membantuku mempersiapkan pernikahan kami, Woonie oppa sendiri terlalu sibuk dengan jadwal keartisannya.

 

Aku dan Yoojin eonni melangkah masuk ke bridal untuk mencoba baju pengantin. Kami telah pergi ke tempat desain undangan pernikahan, gedung resepsi, hotel, serta berbagai tempat lain, dan bridal adalah tujuan akhir kami. Untuk Gereja tempat kami akan menikah nanti, Woonie oppa telah mempersiapkannya, di Gereja tempatku pertama kali bertemu dengannya, Gereja yang sering kudatangi bersama appa dan eomma sejak aku masih kecil. Kata Woonie oppa ia menyukai Gereja itu dan sesungguhnya ia tak rela pernikahan pura-pura kami dilangsungkan di sana, namun ia tetap melakukannya.

 

Yoojin eonni berbicara pada pelayan di bridal yang kemudian mengantar kami ke dalam ruangan penuh dengan gaun pengantin. Yoojin eonni menunjuk beberapa gaun pengantin dan menyuruhku mencobanya. Setelah mencoba tiga gaun, akhirnya Yoojin eonni puas.

 

“Baiklah, kita ambil yang ini. Gaun yang cantik, ahh… andai Yunhee eonni yang mengenakannya, pasti akan tampak lebih cantik,” lagi-lagi ia menyindirku dengan menyebut nama Park Yunhee, aku hanya diam mendengar ucapannya. Jika ia berharap aku akan sakit hati dan bersedih, ia salah besar. Yoojin eonni tidak tahu bahwa aku tidak mencintai kakaknya.

 

Kami keluar dari bridal pukul dua siang. Jam makan siang telah lewat, namun belum ada makanan yang kami makan karena daritadi sibuk menjelajahi berbagai tempat. Aku merasa sangat lapar.

 

“Hyeni, kita makan dulu. Hmmm, aku ingin makan makanan Jepang, dimana yah yang enak?” tanya Yoojin eonni. Aku langsung teringat pada Eun bersaudara.

 

“Aku tahu eonni, temanku membuka restoran Jepang yang enak, kita makan di sana saja, tidak jauh dari sini,” jawabku bersemangat, akhirnya sebentar lagi perutku akan diisi.

 

“Baiklah, kajja, tunjukkan jalannya padaku,” tukas Yoojin eonni sambil mengendarai mobilnya ke arah yang kutunjuk dan memarkirkannya di depan restoran Eun bersaudara.

 

Kami masuk ke dalam restoran dan duduk di salah satu meja dekat jendela. Eunri segera menyadari kedatanganku dan menghampiri kami.

 

“Hyeni eonni!” panggilnya.

 

“Annyeong, Eunri,” jawabku.

 

“Nuguya?” tanyanya sambil melirik Yoojin eonni.

 

“Ah, dia adalah Yoojin eonni, adik dari Kim Jongwoon oppa,” jawabku.

 

“Ah,” Eunri tampak menyadari sesuatu, “Soal berita itu, aku dan Eunhyuk oppa sangat kaget mendengarnya. Benarkah eonni akan segera menikah?”

 

“Ne, begitulah,” jawabku sambil tersenyum dipaksakan.

 

“Bisakah kau memberikan daftar menu pada kami?” tanya Yoojin eonni ketus, sepertinya ia merasa terganggu dengan obrolanku dan Eunri.

 

“Ne, mianhae, ini daftar menunya,” Eunri menyerahkan menu pada Yoojin eonni dan aku. Setelah mencatat pesanan kami, Eunri pamit dari hadapan kami, “Baiklah, aku permisi dulu, kami akan segera menyediakan pesanan anda,” ujarnya ke arah Yoojin eonni, “Hyeni eonni, aku akan panggilkan oppa, dia pasti senang melihatmu di sini,” sambungnya berbicara ke arahku sebelum meninggalkan meja kami.

 

Tak lama, seorang namja keluar dan menghampiri kami dengan senyum lebar, “Hyeni~ah, kau datang? Lama tidak melihatmu.”

 

“Ne, Eunhyukie, annyeong,” sapaku, “Ah, kenalkan ini adalah…”

 

“Na neun Kim Yoojin Imnida,” Yoojin eonni segera memperkenalkan dirinya, “Aku adalah adik ipar Shin Hyeni, tapi umurku lebih tua dua tahun darinya.”

 

Aku terkejut melihat Yoojin eonni segera memperkenalkan dirinya secara langsung pada Hyukie, sedangkan namja itu hanya berdiri sambil menatap Yoojin eonni dengan bingung.

 

“Dia adalah adik Kim Jongwoon oppa,” tambahku. Dan Hyukie langsung menyadari sesuatu.

 

“Ah, ne, kau akan segera menikah, aku tahu lewat berita, kau kelewatan tidak pernah menceritakannya padaku. Kau ini sahabat macam apa Hyeni~ah,” gerutu Hyukie ke arahku, lalu ia segera berbalik ke arah Yoojin eonni, “Lee Hyukjae imnida.”

 

Hyukie menemaniku dan Yoojin eonni mengobrol hingga pesanan kami datang. Ia berkali-kali protes karena aku tidak pernah menceritakan namja yang tiba-tiba menjadi calon suamiku. Bagaimana aku bisa menceritakannya kalau semua ini juga terjadi secara tiba-tiba?

 

Yoojin eonni terus memandang Hyukie dengan kedua matanya yang besar. ia memang berbeda dengan Woonie oppa yang bermata sipit.

 

Eunri datang membawa pesanan kami. “Ini pesanan kalian,” ujarnya sambil tersenyum ke arahku, senyumnya memudar ketika menaruh pesanan Yoojin eonni, tampaknya ia masih kesal dengan sikap ketus Yoojin eonni tadi.

 

“Ya.. ya.. Eunri, kau harus bersikap ramah pada pelanggan,” seru Hyukie mengomentari raut wajah Eunri.

 

“Arra, tapi eonni yang satu ini sangat ketus. Aku jadi khawatir pada Hyeni eonni yang sebentar lagi akan jadi kakak iparnya, jangan-jangan ia akan bersikap jahat pada Hyeni eonni,”jawab Eunri asal, gadis ini memang tidak bisa menahan omongannya, apa yang ia pikirkan selalu ia keluarkan. Aku memandang khawatir ke arah Yoojin eonni, takut ia marah.

 

“Anniyo, aku tidak pernah bersikap ketus pada Hyeni, aku menyayanginya seperti dongsaengku sendiri,” ujar Yoojin eonni dengan cepat, “Benarkan, Hyeni? Apakah aku jahat padamu? Ah, tidak mungkin, bahkan aku yang paling setuju kau menikah dengan Jongwoon oppa.”

 

Mwo? Aneh, kenapa Yoojin eonni tiba-tiba berubah seperti ini. Aku merinding melihat senyumnya dan tatapan matanya ke arahku. Ekspresi wajahnya begitu bersinar, berbeda sekali dengan sebelumnya. Aku hanya mengangguk pelan.

 

“Baiklah, silahkan nikmati makanan kalian,” ujar Hyukie memotong percakapan kami, “Hyeni~ah, tentu kau tidak akan lupa mengundangku dan Eunri ke acara pernikahanmu, kan?”

 

“Tentu saja aku akan mengundang kalian,” jawabku, Hyuki dan Eunri segera meninggalkan meja kami.

 

“Kau harus mengundang mereka Hyeni~ah. Jangan sampai tidak,” kata Yoojin eonni sepeninggal Eun bersaudara.

 

Apa yang terjadi sebenarnya? Aku tidak mengerti sampai keesokan harinya Yoojin eonni mendatangi rumahku dan mengajakku makan di restoran Eun bersaudara lagi.

 

“Kau mau makan di sana lagi?” tanyaku bingung.

 

“Ne, makanan di sana enak,” jawabnya singkat sambil terus memperhatikan jalan di depannya.

 

Ketika Hyukie menghampiri kami untuk menanyakan pesanan kami, wajah Yoojin eonni terlihat berbinar dengan senyuman yang sangat cerah. Seperti biasanya, Hyukie menemani kami mengobrol hingga pesanan datang.

 

“Jadi, orang tuamu tinggal di Jepang?” tanya Yoojin eonni pada Hyukie. Sekarang mereka berdua mulai akrab, dan aku merasa seperti obat nyamuk di antara mereka yang asik mengobrol daritadi.

 

“Ne, mereka tinggal di sana, tapi aku dan adikku memutuskan untuk tetap tinggal di Korea, kami senang tinggal di sni,” jawab Hyukie.

 

“Baguslah, memang tinggal di Korea lebih menyenangkan,” tambah Yoojin eonni. Dan mereka terus mengobrol hingga Hyukie meninggalkan kami untuk menikmati makanan kami.

 

“Hyeni~ah,” panggil Yoojin eonni halus ketika kami sudah duduk di mobilnya dalam perjalanan pulang.

 

“Wae? Ada apa eonni?”

 

“Besok temani aku makan di sini lagi, arra?”

 

“Mwo?” aku hanya ternganga mendengar permintaannya. Apakah makanan di restoran Eun bersaudara begitu enak sampai Yoojin eonni ketagihan? Kuakui makanan mereka memang enak, tapi tetap saja tidak bisa menjadi alasan.

 

“Hyeni~ah,” panggil Yoojin eonni lagi, kali ini sedikit ragu-ragu.

 

“Ada apa eonni?”

 

“Apakah Hyukjae oppa sudah punya pacar?”

 

Tingkap langit seolah terbuka, sinar matahari menembus pikiranku yang selama ini tertutup awan kelabu. Sepertinya aku tahu alasan Yoojin eonni sekarang.

 

“Anii, tidak ada, apakah eonni menyukai Hyukie?”

 

Dan dugaanku ternyata tidak meleset karena Yoojin eonnie mengangguk malu. Kau diberkati Eunhyukie, akhirnya ada yeoja yang tertarik dengan namja berwajah monyet sepertimu!

 

***

 

Jongwoon POV

 

Aku membereskan isi tasku, hari ini adalah hari terakhirku syuting untuk film serialku. Dua hari lagi aku akan menikah dengan yeoja bernama Shin Hyeni.

 

“Yesung hyung,” seseorang memanggilku dan menepuk pundakku dari belakang.

 

“Lee Donghae,” panggilku ketika menyadari siapa namja itu.

 

“Hyung, aku dengar kau akan menikah sebentar lagi? Mian, aku baru saja mengetahuinya karena aku ada di Taiwan untuk syuting drama terbaruku sampai kemarin.”

 

“Gwenchana, aku mengerti,” jawabku singkat sambil mengeluarkan undangan pernikahanku dari dalam tas, “Datanglah ke pernikahanku.”

 

“Ne, aku pasti datang hyung. Kau adalah senior yang kukagumi, tidak mungkin aku tidak menghadiri pernikahanmu,” balasnya sambil membuka undangan yang kusodorkan padanya.

 

“Gomawo, Donghae~ya,” ujarku sambil menutup tasku, “Aku duluan, yah. Masih ada urusan lagi.”

 

Aku menepuk bahunya pelan dan melangkah pergi ke arah tempat parkir.

 

“Hyung!” panggil Donghae dari belakang menahan langkahku ketika akan membuka pintu mobilku.

 

“Wae? Ada apa Donghae~ya?” tanyaku ketika melihatnya berdiri satu meter di depanku dengan nafas yang tidak teratur sehabis berlari.

 

“Yeoja itu,” katanya lirih, “Calon istrimu bernama Shin Hyeni?”

 

“Ne, waeyo?” tanyaku bingung. Apakah Donghae mengenal Hyeni?

 

Donghae sedikit menundukkan kepalanya, pandangan matanya tampak menyiratkan perasaan yang bercampur aduk. Ia mendesah perlahan, “Ani, tidak apa-apa, hyung. Selamat untuk pernikahanmu.”

 

***

 

Hyeni POV

 

Jantungku berdebar cepat, berkali-kali aku mencoba menenangkan diri dengan menghembuskan nafas dari mulutku, namun debarannya tidak kunjung melambat.

 

Hari ini, akhirnya aku akan menikah. Aku tidak membayangkan bahwa aku akan segugup ini, bahkan untuk menikah dengan namja yang tidak kucintai.

 

Aku memandang pantulan wajahku dalam cermin. Menatap tepat di manik matanya, “Shin Hyeni, tenanglah, semua akan berjalan lancar, kau hanya perlu tenang dan menjalani semua sesuai rencana.”

 

Tok… tok.. tok..

 

Suara pintu yang diketuk mengalihkan pandanganku dari cermin ke arah pintu, “Masuklah.”

 

Seorang namja berkemeja biru muda dengan jas hitam masuk. Namja yang tampan, namun aku tidak mengenalnya. Ia membawa satu buket bunga di tangannya dan berjalan ke arahku.

 

“Shin Hyeni?” tanyanya sambil mengulurkan buket bunga di tangannya.

 

“Ne,” jawabku singkat sambil menerima bunga pemberiannya.

 

“Bunga daisy artinya kepolosan, ketulusan, dan kesederhanaan, chrysanthemum berarti kasih sayang dan kejujuran,” ujar namja di hadapanku menjelaskan arti setiap bunga dalam buket bunga yang ia berikan.

 

“Ah, bagaimana dengan tulip?” tanyaku menyadari ada sebatang tulip putih tersisip di bagian tengah rangkaian bunga.

 

“Tulip putih artinya…” Namja itu menatap kedua mataku dengan raut penuh kesedihan, “Mianhae, Jeongmal mianhae.”

 

“Huh?” mataku membulat menatapnya. Mengapa ia minta maaf padaku? Bahkan aku tidak mengenalnya.

 

“Namaku Lee Donghae,” ia menjulurkan tangannya, kusambut uluran tangannya dengan raut wajah penuh kebingungan.

 

“Aku adalah penyebab kecelakaan yang menimpa orang tuamu empat tahun lalu,” katanya lirih, aku terkejut, kutatap wajahnya tak percaya. Ia menangis, dan akupun bisa merasakan air mata menggenang di pelupuk mataku. Kutarik tanganku yang menjabat tangannya dan menutupi kedua mataku. Aku tidak suka orang lain melihat air mataku jatuh.

 

“Mianhae, Hyeni~ah. Waktu itu aku masih sangat muda dan menyetir tanpa berpikir panjang. Aku menyetir di melebihi batas kecepatan dan berakhir dengan kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuamu.”

 

Air mataku menetes. Dia, orang di depanku ini adalah penyebab kematian orang tuaku?

 

“Aku ingin menemuimu empat tahun lalu, namun aku tidak kunjung menemukanmu. Saat keluar dari rumah sakit, aku datang ke rumahmu, tapi rumah itu sudah di jual dan tetanggamu bilang kau pindah bersama paman dan bibimu.”

 

Air mataku makin deras. Tubuhku gemetar mendengar penjelasannya.

 

Sebuah tangan terulur menarik tangan yang menutupi mataku. Lee Donghae menyeka air mata yang membasahi pipiku.

 

“Mianhae, aku tahu kesalahanku tidak termaafkan, tapi bisakah kau memberikanku kesempatan memperbaiki semuanya? Ijinkan aku menjagamu menggantikan kedua orang tuamu, jaebal,” katanya memohon. Aku menatap kedua matanya, menemukan rasa penyesalan di sana, dan ketulusan akan ucapannya. Seharusnya aku marah padanya, namun perasaanku berkata lain, aku ingin memaafkan namja ini. Pandangan matanya yang teduh membuatku mengangguk pelan.

 

“Kau memaafkanku?” tanyanya lagi.

 

“Orang tuaku tidak akan kembali hidup walau aku tidak memaafkanmu,” jawabku diiringi dengan senyum kecil yang terukir di wajah Lee Donghae.

 

“Gomawo, Hyeni~ah. Aku pasti akan menjagamu. Kau bisa menganggapku sebagai oppa,” ujarnya sambil memelukku. Aku merasa hangat, ada rasa kasih sayang dalam pelukannya, perasaan yang sudah lama tidak pernah kurasakan.

 

Ia melepaskan pelukannya, tersenyum padaku, lalu mengulurkan tangannya. Aku menatapnya dengan ekspresi bingung.

 

“Biarkan oppa mengantarkanmu sampai depan altar.”

 

***

 

Author POV

 

Hyeni melangkah perlahan ke arah altar. Di sampingnya Donghae merangkul tangannya dan mengiringinya. Semua mata tertuju kepada keduanya yang berjalan beriringan. Termasuk Hongki yang hadir dengan perasaan kecewa bercampur kesedihan yang mendalam. Bagaimana mungkin tidak jika ia harus menyaksikan yeoja yang ia cintai menikah pura-pura dengan hyungnya. Di lain sisi, Eun bersaudara melihat Hyeni dengan tatapan kagum, Hyeni tidak pernah tampil secantik itu sebelumnya. Di depan mereka, Yoojin duduk sambil memandang Hyukjae, bukan memandang Hyeni yang sedang melaluinya. Gadis itu memang sedang dimabuk asmara dengan sahabat kakak iparnya.

 

Hari itu Hyeni tampak begitu cantik. Jongwoon memandang calon istrinya dari depan altar dengan jantung yang berdebar. Untuk pertama kalinya ia mengakui gadis itu manis, sekalipun ia tidak jatuh cinta padanya. Gadis itu tampak sangat berbeda dengan gadis kasar yang ia kenal.

 

Jongwoon terkejut ketika menyadari siapa yang berjalan di samping Hyeni. Dongsaengnya, Donghae. Ia semakin bingung ketika Donghae mengulurkan tangan Hyeni kepadanya.

 

“Hyung, kuserahkan adikku padamu, kau harus menjaganya dengan baik, atau kau akan berurusan denganku,” pesan Donghae sebelum Jongwoon meraih tangan Hyeni.

 

Donghae duduk di kursi paling depan di Gereja. Menyaksikan adik barunya menikah. Ia tersenyum bahagia, senyum yang tak pernah dirasakannya sejak empat tahun lalu. Sekarang semua perasaan bersalahnya telah ia tumpahkan, dan ia berjanji dalam hati akan menjaga gadis itu seumur hidupnya.

 

“Ne, aku bersedia…” Donghae tersadar dari lamunannya ketika Hyeni selesai mengucapkan sumpah pernikahannya di depan altar. Ia ikut bertepuk tangan bersama tamu undangan lain.

 

Hyeni melirik ke arah oppa barunya. Ia terkejut mendapati bayangan kedua orang tuanya berdiri di samping Donghae.

 

“Appa, eomma?” ia berguman pelan hingga tak ada yang mendengarnya.

 

Appa dan eomma tersenyum padanya. Mengangguk pelan sebelum bayangan mereka menghilang.

 

‘Maafkan aku appa eomma, pernikahan ini hanya pura-pura. Aku telah berbohong di Gereja ini,’ ujar Hyeni dalam hatinya.

 

Jongwoon meraih tangan Hyeni dan menyematkan cincin di jari manisnya. Cincin berbentuk pita yang telah menyebabkannya masuk ke dalam semua masalah ini. Hyeni mengambil cincin, dan menyematkannya di jari manis Jongwoon.

 

“Cium.. cium.. cium…” para tamu di Gereja mulai berseru sambil bertepuk tangan.

 

“Kedua mempelai diperkenankan berciuman untuk menunjukkan cinta kasih mereka,” kata pendeta mengijinkan.

 

“Mwo?” Hyeni terkejut, ‘Oh.. tidak lagi.. kumohon jangan lakukan ini padaku,’ batinnya. Ia menatap Jongwoon yang sudah menutup matanya dan mendekatkan wajahnya.

 

Chu! Sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Oh, tidak!

 

TBC

 

Hehehehe… selesai part 6!! Semoga gak kependekan… Gak kan? Gak kan?? Aku udah capek ngetik soalnya.. *plak* gak seh, Sebenernya ini part dilanjutin di tengah2 tugas yang menumpuk… setelah ini harus lanjut buad tugas.. hiks.. silahkan di komen chingudeul.. mohon sarannya untuk part selanjutnya… ada yang mau kasih ide gimana kehidupan pernikahan Hyesung couple ini?? Sebelumnya aku ucapkan dulu.. gomawo~