Title : All Seems To Be Crazy!? (Part 6)

Writer : Catherine Crystal ><

Cast :

-Cho Kyuhyun <= Super Junior

-Shin Hyeyoung <= OC

-Lee Sungmin <= Super Junior

-Park Nachan (Nana Park) <= OC

Genre : Romance, and find the other by yourself

Length : Continue / Chaptered

Previous parts :

Part 1 

Part 2

Part 3

Part 4

(Dipost juga di LFH dan http://catherinecrystalsminiworld.wordpress.com/ untuk membuka blog LFH, klik link-link di atas XXP)

“MWOOO??!!”

“Kenapa?” tanya Sungmin santai. Kyuhyun dan Hyeyoung masih membeku di tempat.

“Ani, tapi—“

“Sudah, ya, kami mau pulang sekarang” sahut Nana cepat, “Masih banyak yang harus dikerjakan”

“Tapi Nana—“

“Bye” kata Nana seraya menarik tangan Sungmin menuju lokasi parkir.

“Oppa…” panggil Hyeyoung pada Kyuhyun yang dapat dipastikan tidak mendapat respon apa-apa karena yang dipanggil pun tampak sedang berusaha mencerna setiap kata yang masuk ke telinganya.

“Apa sih mau mereka?!” seru Kyuhyun pad akhirnya.

“Tapi seminggu yang lalu tak ada apa-apa dengan mereka!” sahut Hyeyoung.

“Mungkinkah mereka sudah benar-benar bermain di belakang kita sejak lama?”

“Yaa, oppa! Bisa tidak kau jaga mulutmu itu?”

“Lalu kenapa… kenapa mereka setega itu?”

~0~

Nana mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat gugup sejak tadi. Ditutupnya pintu mobil dengan keras dan dipandanginya Sungmin di sebelahnya yang tak lebih buruk keadaannya darinya.

“Bagaimana rasanya membohongi mereka seperti itu?” tanya Nana.

“Seru, aku bisa merasakan bahwa mereka juga mengalami guncangan seperti kita seminggu yang lalu” jawab Sungmin.

“Kau sama sekali tak gugup?” tanya Nana.

“Sedikit” jawab Sungmin, “Tapi sumpah ini seru”

“Aku sangat gugup” kata Nana sambil memandangi cincin di tangannya, “Apalagi cincin ini melekat begitu kuat di jariku, ini sungguh seperti nyata” katanya.

“Yeah, sebaiknya kau lepas cincin palsu iu sekarang sebelum ada yang mengira kita benar-benar bertunangan” sahut Sungmin. Tanpa menunggu aba-aba apapun lagi dari Sungmin, Nana segera melepas cincin itu.

“Tunggu dulu, kenapa susah sekali dilepas?” keluh Nana dengan panik seraya menari-narik cincin di tangannya hingga jarinya ikut memerah.

“Coba lebih tenang”

“Erngh… susah sekali… cincinnya sesak!” seru Nana.

“Sini!” Sungmin menarik tangan Nana dan mencoba melepas cincinnya. Dengan susah paya, Sungmin menarik cincin itu, “Ungh… suaah sekali!”

“Sudah kubilang, kan?”

“Erngh… ah!” Sungmin akhirnya berhasil melepaskan cincin di jari Nana. Tak ketinggalan juga jari Nana yang ikut memerah.

“Aduh!” erang Nana sambil mengamati jarinya.

“Sakit ya?” tanya Sungmin seraya mengelus-elus jari Nana.

“Memangnya jariku itu binatang? Kau memperlakukannya seperti binatang!”

“Ahahaha… sorry, sorry”

Trrrlt… trrrlt…

Nana segera mengangkat telepon ketika benda itu berbunyi nyaring. Bersamaan dengan itu, Sungmin menjalankan mobilnya.

“Yoboseyo?”

“Yoboseyo Nana-ah… ini Chanrin”

“Eoh… Chanrin? Kenapa kau menelepon? Kau ada di Seoul?”

“Kau tidak melihatku di pesta pernikahan Hyeyoung tadi ya?”

“Mmm… tidak, kau kenapa tidak memberitahuku? Sungmin oppa juga ada di—aniyo, ehehehe…”

“Ah, hehehehehe… bagaimana kabarmu sekarang? Baik kah?”

“Tentu aku baik, kau sendiri?”

“Aku juga baik, aku bahkan sudah mempunyai pacar”

“Jeongmal? Siapa namanya? Apa dia orang asing?”

“Bukan, dia warga Korea juga, namanya Choi Minho… dia sangat tinggi dan tampan, dia juga ikut klub basket di sekolah”

“Wuaah… beruntung sekali kau”

“Makannya kau dan Sungmin oppa segeralah cari pacar, masa tinggal kalian yang belum punya pacar?” sekajap Nana langsung terdiam mendengar penuturan sahabat lamanya itu. Cari pacar? Apa itu mungkin? Mereka berdua saja mungkin akan terperangkap dalam situasi ini sampai mati. Hahaha… lucu sekali.

“Aku… belum ingin punya pacar” jawab Nana ketus.

“Eh? Kau kenapa Nana? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Perkataanku tadi menyinggungmu ya?”

“Ah, aniyo… gwaenchana, jinjja gwaenchana, hajiman… jeongmal bogoshipoyo” kata Nana.

“Naddo… bagaimana kaau besok kita bertemu di café yang dulu?”

“Boleh juga, aku traktir”

“Ah, tidak usah, biar aku saja”

“Biar aku saja”

“Kalau begitu kita bayar sendiri-sendiri saja” <= -_-

“Hahahahaha… kau masih sama seperti dulu, Chanrin”

“Kau juga kok, hahahahaha…”

“Ya sudah, see you tomorrow”

“See ya!”

KLIK.

“Siapa?” tanya Sungmin langsung.

“Kau tidak dengar percakapanku tadi? Itu Chanrin!”

“Chanrin? Ah, aku tidak dengar. Seharusnya kau juga memberiku kesempatan berbicara dengannya, dong! Jangan langsung dimatikan!”

“Kau kan tidaki bilang sejak awal kalau mau bicara dengannya, aku juga tidak tahu kok!”

“Haish… terserah kau!”

~0~

“Woah…” mulut Hyeyoung tak berhenti menganga melihat hotel di hadapannya. Bahkan dilihat dengan sebelah mata pun sudah tampak bahwa ini adalah hotel bintang lima—atau bahkan lebih.

“Jangan bertindak kampungan!” tegur Kyuhyun.

“Memangnya manusia tidak boleh kagum?”

“Boleh saja, tapi aku yakin sedetik lagi liurmu menetes!”

“Ck!”

“Segeralah ganti pakaian! Lalu…” Kyuhyun menggantungkan kalimatnya, “Ti-tidur sana!”

“Di mana aku bisa tidur?” tanya Hyeyoung, “Apa situasinya akan jadi seperti di film-film? Aku tidur di kasur dan kau tidur di lantai?”

“Ja-jangan harap! Kau tidur di sofa sana!”

“Enak saja! Siapa yang mau tidur di sofa? Menyebalkan!”

“Kalau tidak mau, tidurlah di lantai!”

“Kenapa tidak kau saja? Kau kan pria, tentu saja daya tahan tubuhmu lebih kuat! Lagipula… bagaimana kalu tiba-tiba ada tikus di kolong tempat tidur?”

“Yaa, Shin Hyeyoung! Kau pikir ini hotel atau got?”

“Tentu saja ini hotel, tapi—“

“Sudahlah, kalau tak mau, kita cari sekat untuk membatasi kasurnya!”

“Oke” balas Hyeyoung kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.

~0~

“Yaa… Hyeyoung-ah! Berhentilah menendang-nendang!” teriak Kyuhyun frustasi saat dirasakannya kaki Hyeyoung menimpa kakinya, “Haish… sepertinya sekat bantal tidak mempan untukmu!”

Hyeyoung tidak merespon.

Kyuhyun menoleh.

“Hah? Sudah tidur? Memangnya dia secapek itu? Cih!” cibir Kyuhyun kesal. Ia yakin semalaman harus menahan tubuhnya agar tidak jatuh terkena tendangan Hyeyoung.

DUGH!

Hyeyoung kembali menendang kaki kanan Kyuhyun hingga pria itu—benar-benar—terjatuh dari kasur kali ini. Kyuhyun berdecak kesal kemudian memasang koper di tengah-tengah mereka.

“Beres, sekali dia menendang, kakinya akan kesakitan sendiri!” seru Kyuhyun seraya memejamkan matanya.

BUAGH!

Hyeyoun menendang koper dan alhasil benda itu mengenai tubuh Kyuhyun.

“Aish… ya! Sakit! Dasar kau!” umpat Kyuhyun seraya mengangkat koper yang sempat membuatnya—benar-benar—memar itu dan meletakkannya di atas kaki Hyeyoung untuk menahan gerakan kaki gadis itu.

Setelah itu ia baru bisa benar-benar tertidur.

~0~

“Annyeong Nana…” sapa Chanrin dengan wajah gembira saat duduk di salah satu kursi café.

“Annyeong… wuah… jeongmal bogoshiptta! Chanrinnie… kau semakin cantik saja!”

“Ah, jangan begitu, kau  juga semakin cantik, hahaha…” puji Chanrin. Tak lama kemudian seorang waitress menghampiri mereka dan menanyakan pesanan mereka.

“Ice caramel coffee” pesan Nana.

“Green tea” sahut Chanrin.

“Ada pesanan lain?”

“Satu porsi french fries” sahut Nana dan Chanrin bersamaan kemudian tertawa bersama-sama. Sejak dulu selera mereka memang tidak berubah rupanya.

“Oh, baiklah. Mohon tunggu sebentar” setelah mengatakan hal itu, sang waitress pun pergi meninggalkan mereka.

“Nana-ah… ngomong-ngomong kau tidak sakit hati atas pernikahan Kyuhyun oppa dan Hyeyoung kemarin?” tanya Chanrin.

“Mwo? Ah—kenapa aku harus sakit hati?”

“Dulu kau kan pernah bilang suka pada Kyuhyun oppa, kau sudah tidak suka lagi padanya ya?” tanya Chnrin.

“Dulu kan… hanya cinta monyet biasa” jawab Nana dengan senyum miris.

“Katakan sejujurnya!” desak Chanrin.

“Aaaah… kau selalu tahu kalau aku berbohong”

“Tentu”

“Sejujurnya aku sedang berada dalam posisi sulit, susah untuk menjelaskannya, tapi… aku dan Sungmin oppa juga akan segera menikah”

“MWOO?! Hey, ada apa dengan kalian? Tadi kau bilang masih suka pada Kyuhyun oppa, tapi—“

“Dia mengkhianatiku”

“M-mwo?” Chanrin mengerutkan keningnya sambil menatap Nana penuh selidik.

“Aku dan dia berpacaran, Hyeyoung dan Sungmin oppa juga, tapi… seminggu yang lalu kami tahu bahwa Kyuhyun dan Hyeyoung berselingkuh”

“Apa maksudmu?! Aku tahu mereka bukan orang yang seperti itu, Nana!”

“Awalnya aku juga berpikir begitu! Tapi ini kenyataan, Chanrinnie… eottokhaji?”

“Aish… jeongmal… aaargh! Aku tidak menyangka situasinya seperti ini! Tapi menurutku pasti ada sesuatu di balik pernikahan mereka!”

“Apa lagi yang ada di balik pernikahan mereka? Mereka jelas-jelas telah mengkhianatiku di depan mataku sendiri! Apa lagi yang perlu—perlu dijelaskan?”

“Permisi, pesanan Anda” pembicaraan mereka dipotong oleh seorang waitress yang datang mengantarkan pesanan.

“Ah, yee… letakkan di sini saja” kata Chanrin seraya mengangguk, “Lanjutkan” katanya pada Nana.

“Aku dan Sungmin oppa berniat balas dendam, membuat mereka merasakan apa yang kami rasakan. Sejujurnya… kami ingin mereka menyadari bahwa… bahwa… mereka masih bisa mencintai kami. Dan ketika hal itu terjadi, kami akan benar-benar menyakiti mereka”

“Kau yakin, Nana-ah? Kau masih punya waktu sebelum hal itu terjadi!”

“Awalnya sih tidak, tapi sekarang aku menjadi sangat yakin”

“Apa tidak ada cara lain?”

“Tidak ada cara lain yang meninggalkan luka membekas!”

Chanrin terdiam. Meraih gelas green tea-nya dan meminum sedikit melalui sedotan.

“Jujur saja ini terserah kau, tapi aku hanya menginginkan yang terbaik buatmu”

“Aku tahu, gomawo~”

Chanrin mengangguk berat.

~0~

Yah, seperti halnya kisah-kisah dongeng, semua—tampak—baik-baik saja. Selain itu, kedua pihak orang tua Sungmin dan Nana menyetujui pernikahan mereka. Orang tua Sungmin sangat setuju sebab mereka memang menginginkan anak mereka menikah muda. Awalnya Sungmin bahkan hampir dijodohkan, tapi gadis yang dijodohkan dengannya—Shin Hyeri—menolak dan pergi sekolah ke Amerika. Sementara orang tua Nana memiliki alasan yang berbeda : karena mereka ingin melihat cucu mereka sebelum meninggal—keduanya telah tua dan jarak umur mereka cukup jauh dengan Nana.

Semuanya memang tampak baik-baik saja. Tapi apakah semua itu bisa menjamin keadaan?

Pernikahan bahkan akan segera dilaksanakan dua minggu lagi, dan masalahnya adalah mereka tidak diizinkan melepas sekolah mereka. Tentu saja, orang tua mereka berbeda dengan orang tua Kyuhyun dan Hyeyoung. Mereka bukan tipe orang yang mau menyia-nyiakan sekolah anak mereka hanya demi pekerjaan. Tapi itu justru menambah masalah baru. Kepala sekolah berkali-kali menentang mereka, seperti saat ini.

“Kalian sengaja membuat malu sekolah dan membiarkan orang-orang mengira kalian menikah karena kecelakaan atau kalian benar-benar ingin membuat para guru menendang bokong kalian sampai ke luar sekolah?”

“Jeosonghamnida songsaengnim…” kata Nana.

“Kalau kalian tidak merahasiakan pernikahan ini, saya jamin kalian akan saya keluarkan segera!”

“Yee songsaengnim…”

“Dan satu lagi! Jangan sampai kalian mengundang satu pun teman ke pesta pernikahan kalian dua mingu lagi! Jangan sampai mereka sampai tahu dan berpikir yang tidak-tidak! Arra??”

“Arraseumnika songsaengnim…” kata Nana sekali lagi dan membungkuk kemudian keluar dari ruangan diikuti Sungmin di belakangnya.

Sampai di luar ruangan ia segera membalik badan menghadap Sungmin.

“Ini semua gara-gara rencana gilamu!”

“Lebih tepatnya gara-gara kau menyetujuinya, tapi menurutku ini tidak salah”

“Terserah kau, tapi apa rencanamu selanjutnya?”

“Molla, kita jalani saja yang terjadi sekarang, untuk rencana selanjutnya bisa dipikirkan lagi”

“Arraseo”

~0~

“Hiyaaaaaaaaaaa……….”

“Aish… wae? Wae? Wae?” tanya Kyuhyun panik seraya menuju ke dapur.

“Tanganku terkena pisau! Tanganku terluka!”

“Aish… kau sedang masak kan? Kau seperti orang yang tidak bisa masak saja!”

“Aku memang tidak bisa masak oppa! Apalagi kau menyuruhku masak daging sapi seperti ini! Lihat, dagingnya terpotong tidak beraturan”

“Haish… kau ini! Kau memalukan saja! Padahal nanti malam eomma dan appa akan datang ke sini! Sebagai menantu baru kau seharusnya bisa memasakkan mereka yang enak”

“Itu kan seharusnya, tapi aku tidak bisa melakukan ituuu~”

“Lalu kau belajar apa saja sih di kelas memasak? Jangan-jangan kau hanya belajar cara makan ya?”

“Aku bisa masak telur dan mi instan!”

“Itu kan masakan dasar! Semua orang memang seharusnya bisa! Bodoh!”

“Memangnya kau bisa?!”

Kyuhyun terdiam, “Tidak.”

“Makannya jangan protes!”

TING TONG

“Biar aku bukakan pintu, tanganmu kan kotor” Kyuhyun segera beranjak membuka pintu.

Tak lama kemudian, Kyuhyun kembali ke kamar dengan tampang seriusnya.

“Siapa?”

“Pengantar surat” Kyuhyun berhenti sejenak, “Dia… mengantarkan ini”

Hyeyoung segera merebut kertas di tangan Kyuhyun dan membacanya dengan serius.

WEDDING INVITATION

Lee Sungmin & Park Nachan

***********************

Begitulah titelnya yang terpampang besar—melihat itu saja sudah membuat Hyeyoung pusing.

“Aigooo~ Me-mereka tidak bercanda masalah pertunangan itu?”

“Ini bahkan lebih parah dari yang kukira, Hyeyoung-ah!”

“Mereka gila! Apa sih yang mau mereka lakukan?”

“Aish… molla! Aku tidak—“

Trrrrt… Trrrrt…

Dengan malas Hyeyoung mengangkat ponselnya yang terus berdering.

“Yobose—“

“Kau sudah menerima surat undangannya?”

Hyeyoung mengerutkan kening. Suara ini…

“Nana?”

“Iya, kenapa? Kaget? Sudah terima belum?”

“Ah, su-sudah…”

“Bagus! Kau harus datang ya! Kau kan sahabatku, oh iya, Chanrin juga akan datang loh…”

“Chan… Rin?”

“Iya”

Hyeyoung tersenyum miris. Semuanya berjalan berbalikan seperti yang diharapkannya.

“Chukkae… aku pasti akan datang”

~0~

Nana tampak sangat anggun berjalan berdampingan dengan Sungmin. Semua mata memandang mereka. Banyak komentar-komentar yang mengatakan mereka serasi, lucu, cocok atau apa pun itu.

Sungguh. Hyeyoung tidak sanggup memandang mereka. Bahkan Kyuhyun juga tampak tak kalah buruknya dari dia. Saat melewati mereka berdua, Sungmin sedikit tersenyum sinis.

~0~

Sungmin memasangkan cincin di jari manis Nana. Tangannya sedikit bergetar karena ada sedikit rasa tak yakin di hatinya. Setelah itu giliran Nana yang memasangkan cincin di jari manis Sungmin. Mereka pun saling tersenyum canggung.

“Cium! Cium! Cium!”

Teriakan penonton terdengar ricuh di setiap penjuru gedung. Mereka tampak kaget dengan teriakan-teriakan itu.

“Mempelai diperkenankan berciuman untuk membuktikan adanya cinta kasih yang tulus antara keduanya” ujar sang Pendeta.

“Bo-bolehkah aku menciummu?” tanya Sungmin berbisik.

Nana tampak bingung, tapi kemudian dia mengangguk.

Sungmin mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Nana. Nana menutup matanya dengan gugup. Tak berapa lama kemudian, bibir mereka bertaut diikuti tepukan tangan seluruh penonton. Tiba-tiba Hyeyoung berdiri dan berlari keluar sambil menangis. Sungmin sempat melihat adegan itu sekilas dan berniat mengejar Hyeyoung tapi kemudian ia ingat di mana ia berada sekarang dan apa tujuannya berada di sini.

“Hyeyoung!” Kyuhyun berdiri dan mengejar Hyeyoung keluar.

Kyuhyun berhasil menarik tangan Hyeyoung saat mereka berada di trotoar dan Hyeyoung hendak menyeberang.

“Apa yang kau lakukan sih?!” teriak Kyuhyun kesal.

“Aku tidak kuat oppa! Aku tidak kuat bila harus melihat pria yang kucintai mencium sahabatku sendiri! Aku tidak kuat!”

“Aku juga tidak kuat!” Kyuhyun berhenti untuk mengatur nafasnya, “Tapi aku menahannya”

Hyeyoung terdiam.

“Memang hak mereka sebagai sepasang suami-istri yang sah untuk berciuman. Itu tidak aneh! Lagipula Nana sudah bukan milikku lagi dan Sungmin sudah bukan milikmu lagi! Apa hak kita??”

“Kau benar, oppa. Tapi biar bagaimanapun ini hakku untuk merasakan sakit hati, ini hakku untuk menangis menumpahkan semuanya, INI HAKKU!!!” tangis Hyeyoung langsung pecah dan Kyuhyun buru-buru memeluknya.

“Jangan menangis lagi, kau menangis untuk orang yang salah… Menangislah untuk dirimu sendiri, jangan menangis untuknya, karena dengan begitu kau akan merasa tenang”

~0~

Nana memandang kasur dengan ragu-ragu. Masa dia harus tidur di atas kasur yang sama dengan Sungmin—orang yang hanya dia anggap sahabat?

“Kenapa?” tanya Sungmin yang sudah ada di atas kasur.

“Apa aku perlu tidur di sofa?” tanya Nana.

“Mwo? Ahahahaha… aniyo! Meskipun kita menikah tanpa cinta, tapi kita kan tidak menikah kontrak! Status kita sebagai suami-istri itu sah!”

Akhirnya dengan ragu Nana naik ke atas kasur dan berbaring di sebelah Sungmin.

“Night”

“Night” balas Nana kemudian memejamkan matanya dan tertidur walau agak susah pada awalnya.

~0~

Sungmin terbangun dari tidurnya dan mendapati Nana berada di sampingnya. Memeluknya.

“Pasti gadis ini kedinginan” gumam Sungmin seraya memperhatikan detil wajah Nana.

Mata bulatnya yang terpejam… hidung mancungnya… bibirnya yang…

Sungmin menelan ludah. Tiba-tiba ia menyadari bahwa jantungnya berhenti berdetak sejak beberapa saat yang lalu. Bibir Nana begitu tebal dan ‘seksi’

Tiba-tiba Nana menggeliat. Sungmin buru-buru memejamkan mata.

“Sungmin oppa? Oppa?” panggil Nana seraya mengguncang-guncangkan tubuh Sungmin. Sungmin tetap pura-pura tidur, “Oppa? Ya, oppa! Kau pingsan atau tidur sih?! Tau, ah!” Nana pun segera duduk dan mengucek-ucek matanya.

“Aku sudah bangun dari tadi, babo” kata Sungmin tiba-tiba tanpa membuka matanya.

“Haish… kau mengagetkanku saja!” Nana segera turun dari kasur sebelum Sungmin menahannya.

“Hari ini tidak usah masuk sekolah saja”

“Kenapa?”

“Lagipula appa dan eomma pasti sudah mengizinkan kita kan? Kita… jalan-jalan saja”

“Ya, oppa! Kenapa tiba-tiba jadi manja begini sih?”

“Molla… mungkin karena aku menyadari statusmu sepenuhnya, kkk~”

“Aish… Oke! Kita jalan-jalan!”

~0~

Hyeyoung bangun dengan nafas memburu.

“Oppa, oppa!” Hyeyoung mengguncang-guncangkan tubuh Kyuhyun yang menyebabkan pria itu terbangun segera.

“Apa sih?”

“Aku mimpi buruk, oppa! Sungguh buruk sekali! Huuuu~ Bagaimana kalau hal itu benar-benar terjadi?”

“Kau mimpi apa memangnya?”

“Pokoknya buruk sekali oppaaaaa… huweeeeee….”

“Ceritakan padaku!”

“Aku mimpi… aku mimpi…”

“Mimpi apa?”

“Aku mimpi Spongebob diculik Plankton lalu dijadikan mata-matanya… dan… dan… di akhir mimpiku Mr. Crabs tak bisa menjaga resep rahasianya dari Plankton… huweee~”

BUUK!

Lemparan guling langsung dilancarkan Kyuhyun.

“Kau membangunkanku hanya untuk itu?”

“Iya… buruk sekali kan oppa?”

“Tentu buruk bagi maniak kartun sepertimu! Tapi bagiku tidak! Cepat cek kotak surat sana!”

“OK”

~0~

Hyeyoung keluar dengan masih terkantuk-kantuk menuju kotak surat. Dibukanya kotak itu dan menemukan beberapa surat tidak penting di dalamnya. Saat dia menarik surat-surat itu, sebuah kotak langsung terjatuh.

“Heh? Kenapa kotak bisa dimasukkan ke sini? Memangnya lubangnya besar ya?” Hyeyoung mengintip lubang pada kotak surat itu dan… tada!

Kotak surat itu telah dirusakkan dengan dicungkil lubangnya oleh seseorang—yang bahkan Hyeyoung tidak tahu siapa. Segera saja Hyeyoung membuka kotak itu dan…

“AAAAAAAA!!!!!!”

…langsung menjatuhkannya ke tanah karena isinya adalah bangkai tikus. Oh tidak, selain itu ada juga sebuah surat yang ditulis dengan darah—yang dapat dipastikan adalah darah tikus juga. Hyeyoung membuka surat itu dengan kakinya karena jijik. Dibacanya surat yang kini tergeletak di tanah itu.

“Shin Hyeyoung, aku akan mendapatkanmu. Meskipun Kyuhyun brengsek itu ada di sisimu saat ini, tapi semoga kau tak melupakanku. Kalau aku sampai gagal mendapatkanmu, KWON CHANRIN yang akan menjadi jaminannya.

-With Love-

Seseorang yang kau kenal

.TBC.

Huahahahahahaha… aku mau nambah konflik nih… kan ga seru kalo ga ada konfliknya alias datar-datar aja. Nah… sapa yah yang kirimin Hyeyoung surat begituan? Ayo tebak,,, yang jelas bukan Sungmin. Aku kan ga mau bikin SungNa couple jadi orang jahat di cerita ini. Mereka main cast juga kan ya? Ehehehehe… Jadi… siapa yah yang kirimin Hyeyoung surat kayak gitu? Clue-nya… dia temen masa kecil Hyeyoung.

Btw, aku nggak mau tau kalian harus RCL!!!! HARUS!!! I hate SIDERS so much >< (no protes!) but I love clovers so much too^^