Title: For The First Time (Part 8)

Author: Applersoti

Length: Continue

Genre: Romantic, Comedy

Rating: PG

Main Cast: Kwon Jiyong (G-Dragon)-Bigbang and Sandara Park (Dara)-2NE1

Support Cast: YG Family

Disclaimer: THE CASTS ARE BELONGS TO THEIR GOD. The plot is mine. NO PLAGIARISM PLEASE, USE UR BRAIN MADEAR J

credit photo belongs to the right owner. its not mine.

It’s a bit weird -_- I don’t know, I tried ma best anywaaaay so… Just enjoy ur reading ok? Give me ur feedback. Thankyou😀

A gogogo~

(Author’s POV)

“Ji. Pulanglah…” Jiyong yang masih berkutat dengan lagu-lagunya tidak menanggapi ucapan seseorang di sebelahnya.

“Jiyong-ah.. pulanglah. Besok kau  juga akan ke Jepang kan?” Kush yang sedang duduk di sofa menatap khawatir sahabatnya.

“Masih ada lagu yang harus ku bereskan, hyung. Lagipula YG hyung sudah menentukan deadline materi-materi album soloku,” katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.

Kush hanya mendesah sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Bocah ini, benar-benar tak ada matinya, pikir Kush.

“Hah, geurae. Aku pulang.” Jiyong hanya menganggukkan kepalanya. “Jangan terlalu larut malam, Ji,” tambahnya lalu berjalan keluar.

Lagi-lagi Jiyong hanya menganggukkan kepalanya tanpa memandang Kush.

Berkali-kali ia menuliskan kalimat per kalimat di selembar kertas note. Berkali-kali juga ia merobek kertas-kertas itu karena menurutnya belum ada yang pas dan bagus.

“Aigo… hah…” Jiyong mengusap wajahnya lalu menyendarkan kepalanya di kursi.

Everytime I came close to you… everytime I’m feelin’ you..

 

Ponsel Jiyong yang berada di atas meja berdering. Dengan malas ia ambil ponselnya, dan nomer seseorang yang ia rindukan saat ini tertera jelas di layar handphonenya.

“Yeobeoseyo, jagiya…” sapanya sambil tersenyum.

“Ne.. Kau dimana?” Terdengar suara-suara berisik di balik suara Dara.

“Studio. Kau dimana? Masih syuting video Ugly?” Jiyong mengubah setting telponnya menjadi loudspeaker agar ia bisa mengerjakan lagunya juga.

“Iya. Hmm tunggu… Studio??? YA! Ini sudah larut!! PULANG!!”

Jiyong terkikik. “Eih… galak sekali kau. Masih ada beberapa yang harus aku bereskan.”

Jiyong mendengar dengusan kecil di ujung telponnya. “Aigo.. . itu kan bisa kau kerjakan nanti, Ji. Besok pagi kita akan pergi ke Jepang, apa kau tidak ingat ha?”

 

“Ingat kok. Tapi ini harus ku bereskan sekarang. Tidak bisa lain waktu…”

“Terserah kau sajalah.”

“Aiyo… Iya,lima belas menit lagi aku pulang.”

“Hmm geurae..”

 

“Kau masih syuting atau sudah selesai?”

“Sebentar lagi selesai. Ya Tuhan… lelah sekali…” Jiyong bisa merasakan aura kelelahan dari suara gadis kesayangannya itu. Senyum sedih tertera di wajahnya yang juga terlihat lelah.

“Himne, honey. Jangan lupa minum vitamin ya..”

”Ne, sayang. Ah Jiyong, sepertinya aku harus take sekarang. Ku tutup ya telponnya… Bye… muach!”

 

Belum sempat Jiyong membalas ucapan Dara, telpon sudah dimatikan. Jiyong  hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya lalu memfokuskan lagi pekerjaan di komputer.

(On the airport)

(Jiyong’s POV)

Hari ini semua artis dari agensi kami, YG Entertainment, akan pergi ke Jepang untuk menghadiri peresmian agensi terbaru kami disana. Hanya saja kali ini Daesung tidak bisa ikut karena pelarangan tidak boleh tampil di layar televisi sampai kasusnya selesai.

Agensi baru kami di Jepang bernama YGEX. Itu merupakan hasil kerjasama agensi kami, YG, dengan sebuah label rekaman bernama AVEX. Sajangnim melakukan kerjasama seperti ini agar lebih memudahkan kami untuk promosi album kami di Jepang.

Ketika aku baru saja menyerahkan passportku, aku mendengar suara teriakan-teriakan di belakangku. Hmm… mereka sudah datang. Tak kusadari, senyuman kecil  tertera di wajahku.

“Silahkan masuk…” seorang wanita yang bertugas mengecek passport dan visa mempersilahkanku masuk ke ruang tunggu.

Aku hanya mengangguk sambil berlalu.

Kulihat member 2NE1 juga sudah masuk ke dalam ruang tunggu. Dan tepat dibelakang Chaerin, ada seseorang yang sudah kutunggu.

“Annyeong oppa,” sapa Chaerin saat melewatiku.

“Annyeong,” balasku.

Saat itu juga Dara melewatiku. Dia hanya tersenyum manis kearahku lalu berlalu. Aigo… dia kelihatan lelah sekali. Himneseyo, Dara-ya!

“Ji. Ingat ini masih di publik,” Nam-gook hyung yang ada disebelahku mengingatkan.

Aku mengangguk. “Ne, hyung. Aku tahu.”

Tak beberapa lama kemudian pesawat kami sudah datang. Akhirnya… aku bisa melepaskan rasa rinduku dengannya. I miss you, my dear.

Aku dengan member bigbang yang lain –minus Daesung- berjalan duluan, disusul dengan Dong Wook hyung dan Gummy nuna. Sementara 2NE1 berada di belakang. Yah, itu karena mereka juga syuting untuk sebuah variety show mereka, 2NE1 TV. Aigo… gadisku memang paling sering muncul di layar tv. Tak heran fanboy nya kian lama kian bertambah.

Sepuluh menit kemudian kami semua telah sampai di sebuah jalan khusus untuk sampai ke pesawat. Aku melirik ke arah belakang, dan kulihat gadisku sedang merekam kami semua menggunakan handycam. Aigo… lucu sekali dia.

“Ji…,” kurasakan Youngbae menepuk bahuku. Dia menggidikkan kepalanya menyuruhku melihat ke depan. Aihs… ya ya arraseo arraseo…

Dan jjaaaaah… kami sudah sampai di pintu masuk pesawat. Akhirnya…

“Jiyong-ah,” Dongwook hyung memanggilku dari belakang.

“Ne, hyung.”

Dia merangkul bahuku sambil mendekatkan bibirnya ke kupingku. “Hey, kau duduk bersamaku. Tempat dudukku di depan Dara, jadi… kau bisa bertukar posisi dengan Bom nanti,” bisiknya di kupingku. Kedua alisnya dinaik-turunkan.

Aku melotot sambil tersenyum lebar. “Jinjjaro, hyung?”

Dongwook hyung mengangguk sambil tersenyum. Aku dan dia masih belum masuk ke dalam pesawat. 2NE1 girl yang berjalan paling belakang perlahan-lahan mendekat. Kulihat ia sedang asyik dengan handycamnya, merekam wajahnya yang indah. Aish…

Dan ia lewat di depanku. Dimatikannya handycam itu lalu menyapaku.

“Annyeong,” sapanya sambil tersenyum.

“Annyeong. You go first,” kataku lalu tersenyum.

“Kaaaay.”

Setelah ia dan Bom nuna masuk, aku dan Dongwook hyung (se7en) menyusul dibelakangnya. Di dalam pesawat ia membuka blazer biru tuanya. Hahaha jadi dia benar-benar membuat Fake Tattoo? Aiya…

And yeap, benar kata Dongwook hyung. Tempat duduknya berada tepat di depan Dara. Hahahahahaha okay, I’ll be with her sooner.

Saat aku ingin duduk, ia menyalakan handycamnya. Hahaha ku ledekin dia ah.

“Hei. Kau membuat tattoo?” ledekku.

Dia hanya terkikik sambil menjawab malu-malu. “Aigo… memalukan ya?”

Aku hanya nyengir lalu duduk di sebelah Dongwook hyung. “Dia benar-benar membuat fake tattoo,” gumamku pelan sambil tertawa.

“Yeoreobun, ah… kita sudah di pesawat hahahahaha…” kudengar samar-samar ocehannya bersama Bom nuna. Hahaha dasar Park Sister , tidak pernah tidak 8D. Dari depan sini aku hanya terkikik geli mendengar suaranya hahaha, aigo… neomu kwiyeowooooo.

“Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan terbang…” suara seorang pramugari berkumandang di dalam pesawat.

Yeap. Finally…. Whew!

“Neh neh… pesawat sudah mau terbang!” pekiknya bersama Bom nuna.

Aku mengintip dari bangku ku, dan hahahaha dia memperagakan goncangan pesawat bersama Bom nuna dengan handycamnya. Aihss jinjja, its too dorky, D.

“Waeyo?” Dongwook hyung bertanya sambil melihatku lalu mengalihkan pandangannya mengikuti arahku.

“Ani hyung. Gadisku itu memang benar-benar…” aku hanya tertawa lalu menggelengkan kepalaku.

Lima belas menit kemudian kami pun sudah terbang di angkasa. Aku memberitahu Bom nuna agar bertukar tempat duduk denganku. Awalnya dia tidak mau, tapi setelah Seunghyun hyung membantuku berbicara dengannya akhirnya dia mau. Aihss… pasangan baru ckckck.

Dara, yang sekarang sudah di sampingku sedang sibuk bermain dengan boneka kesayangannya – Tam Tam. Aisshhh. Hmmm ku kerjai dia ah hahahahaha.

Ku taruh jari telunjukku di dekat pipinya. “Ya, Ssantoki!” panggilku.

Dengan polosnya ia menengok kearah dan gotcha! Haha

“Ya!” bibirnya cemberut. Kucubit pipinya yang chubby itu.

“Jiyong! Appo!” ringisnya pelan. Aku hanya tertawa sambil mengelus pipinya.

“Kau lucu sekali sayang. Aku tak tahan,” kataku lalu melanjutkan tawaku.

Kulihat ia memutar bola matanya. “Psshhh.”

“Yeppeuda…” ucapku lembut sambil tersenyum. Ya Tuhan, pipinya merah hahaha, kwiyeopta.

“Gombal!” balasnya sambil terkikik pelan.

“Ani… kau benar-benar cantik, D.”

“Aish… “ Ia tertawa lalu mengalihkan pandangannya ke depan.

“Ji…”

“Hmm?” gumamku sambil meliriknya.

“Apa tidak apa-apa seperti ini?” wajahnya terlihat khawatir.

“Apa?”

“Duduk berdua?”

Aku tertawa lalu mengambil telapak tangannya. “Jangan khawatir. Its okay…”

“Jinjja?” kedua alisnya terangkat naik sambil melirikku. Aigo… wajahnya lucu sekali.

Aku mengangguk lalu menarik  pelan kepalanya agar menyenderkan di bahuku. “Tak usah khawatir. Kita aman disini,” kataku sambil tersenyum.

Ia mengangguk di bahuku, tiba-tiba ia menarik badannya menatapku. “Apakah…” ia berhenti sebentar berpikir.

“Hmm?”

“Apakah… hmm apakah… k-kita bertemu dengannya?”

Eh? Apa yang ia bicarakan?

“Bertemu… siapa?”

“Dia.”

“Nuguji?” Aku masih tidak mengerti siapa yang dia maksud.

“K-k-ki…” ia berhenti lalu mengerutkan bibirnya.

“Kiko?” tebakku.

Ia mengangguk pelan sambil menaruh kepalanya di kursi pesawat.

“Molla. Waeyo?”

Ia menaikkan bahunya lalu melirikku. “Ani. Hanya bertanya…”

Tunggu. Apakah ia….

“Kau cemburu?” terka ku.

Dengan spontan ia menggelengkan kepalanya. “Aniya..”

“Really now?”

Ia menganggukan kepalanya mantap. “Hmm!”

“..’kaaaay.”

“Ji,” panggilnya lagi. Ia mengelus pipiku pelan lalu menyenderkan kepalanya di dadaku.

“You know I love you, right?” ucapnya sambil mendongakkan kepalanya menatapku.

Aku tertawa sambil mengangkat kedua alisku. “Yes. I really know that. Wae?”

“Don’t ever think to leave me, ok?”

“I don’t and I won’t.”

“Hmm. Even Joseph try to reached me back.”

Ne???? Mengapa ia menyebutkan nama itu lagi???

“Mwohae??!” tanyaku mengerjapkan mata sambil menarik badanku sedikit.

“Dia sudah pulang ke Filipin. Jadi jangan khawatirkan soal dirinya lagi,ok?” dia tersenyum lalu mencium pipiku.

“I’m still unsure about him. Ancaman dirinya waktu itu-“

“Aku sudah mengurusnya,” ia memotong ucapanku. “Jadi, jangan khawatir,” tambahnya sambil tersenyum.

“Mengurus… bagaimana?” tanyaku penasaran.

“Aku sudah bilang padanya kalau aku tidak bisa bersamanya. Dia sudah terlalu menyakitiku hingga rasa cintaku padanya sudah hilang tak tersisa. Sekarang..” dia menatapku lembut. “Kau tak perlu khawatir. Karena aku tak akan kemana-mana. Aku akan terus berada di hatimu selamanya. Begitu juga kau akan terus ada di hatiku sampai kapanpun.”

Ini pertama kalinya ia berbicara seperti itu padaku. Dara-ya… sampai kapanpun tak akan pernah ku tinggalkan kau.

“Kau yakin dia tidak akan menganggu kita lagi?” tanyaku masih kurang yakin.

Ia mengangguk lalu menggenggam tanganku. “Yepyepyep~ aku yakin soal itu. Kau tak perlu tahu bagaimana aku bisa yakin seperti ini, yang jelas, don’t even dare to leave me, you Great Kwon Leadah! Arraseo?” dia menatapku serius tapi setelah ia terkikik pelan.

Ku eratkan genggaman tangannya ditanganku, kuangkat dan kucium cincin emas putih yang waktu itu kuberi padanya. “This I promise you…”

Ia tertawa lalu memeluk pinggangku, menaruh kepalanya di dadaku. Kucium puncak kepalanya lama dan mengelus pundaknya. “I love you, Ji…”

Aku tersenyum lebar sambil ku elus rambutnya yang sudah lebih panjang dari sebelumnya. “I love you more, Baby.”

(Flashback)

“D. Ayolah datang ke apartemenku. Aku janji ini hanya dinner biasa. Setega itukah kau dengan temanmu ini?”

Joseph memohon Dara di telpon saat Dara baru saja sampai di bandara Incheon setelah kepulangannya dari Singapur.

 

“You know I cant come, Josh. Aku sudah janji dengan-“

 

“Jiyong? Ayolah. Its just a dinner! Tidak lebih… lagipula sabtu besok aku sudah pulang ke Filipin. Come on, Sandy…”

Dara masih ragu untuk datang ke apartemen mantan kekasihnya itu. Tapi, ini mungkin satu-satunya kesempatan untuk bilang padanya agar jangan menganggu hubungannya lagi dengan Jiyong.

 

“Hmm. Ok. Nanti malam aku ke apartemenmu. Sms kan alamat apartemenmu padaku.”

 

Suara riang Joseph terdengar jelas di kuping Dara. “Yes! Ok… see you soon, Sandy.”

Telpon pun putus. “Ji… mianhae…”batinku.

 

“Eonni! Ppalli!” Minji yang sudah jalan duluan memanggil Dara yang masih berdiri di pintu keluar bandara.

 

“N-n-ne…”

 

Malam pun tiba, dan Dara sudah berdandan untuk makan malamnya dengan Joseph kali ini. Nothing special. Ia hanya memakai skinny jeans berwarna abu-abu, dengan plain white shirt, ditutup dengan Coat berwarna hitam. Rambutnya pun dibiarkan tergerai. Wajahnya hanya dipoles bedak, sedikit blush on berwarna pink, dan lipgloss berwarna natural.

 

“Jjaaaah. Finished. Ok, Dal. Kau harus bisa!” ucapnya pada diri sendiri.

 

Dara pun keluar dari kamar. Bom, Chaaerin dan Minzy yang sedang asyik menonton tv, mengalihkan pandangannya pada Dara.

 

“Eoddigesseo, eonni?” tanya Chaerin sambil memakan popcorn.

 

“Keluar sebentar,” jawabnya singkat sambil memakai.

 

“Kemana? Dengan Jiyong? Ia sudah pulang dari singapur?” kali ini Bom yang bertanya.

 

“Nope, Bom. Aku… hmm aku ingin bertemu dengan teman lamaku.” Dara menjawab dengan sedikit grogi.

 

“Okay. Jangan pulang terlalu malam. Aku tak ingin Jiyong memborbardir ku dengan telponnya karena mengkhawatirkanmu. Arraseo?” ujar Bom dengan tatapan serius.

 

“ ‘Kay, Bommie. Aku pergi dulu.”

 

“Ne, hati-hati!” mereka semua serempak menjawab.

 

Tak perlu waktu lama untuk sampai di apartemen mantan kekasihnya itu. Ternyata alamatnya tidak terlalu jauh dari dorm 2ne1. Mobil Range Rover Dara berwarna putih sudah terparkir sempurna di basement. Dengan hati-hati ia keluar dari mobil sambil celingak-celinguk melihat keadaan sekitar.

 

Ia tak ingin ada yang tahu kalau ia datang kesini. Apalagi sudah masuk berita. Ck, bisa-bisa ia dibakar oleh api cemburu Jiyong.

 

Untungnya lift apartemen tersebut sepi, jadi ia tidak harus menutupi mukanya lagi dengan syal.

 

“Aiyoo…”

 

-TING! –

 

Lift pun terbuka saat sudah sampai di lantai 5 gedung apartemen tersebut. Ia keluar dari lift itu, lalu berjalan keluar. Dan… voila! Kamar 534 sudah ada di depan matanya.

 

-Tok tok-

 

“Who?”

 

Dara samar-samar mendengar suara dari dalam kamar.

 

“Sandy.”

 

Pintu pun terbuka.

 

“SANDY!!!” pekik Joseph sambil menyeringai lebar. Ia bermaksud untuk memeluk Dara, tapi Dara menjauhkan badannya darinya. “Oh.. hmm sorry.”

 

“Its okay,” balas Dara sambil tersenyum kaku.

 

“Ayo masuk!”

 

Dara pun masuk. Apartemen sewaan milik Joseph tidak terlalu besar. Tapi lumayan bagus.

 

“Taruh saja coat mu di sofa,” pekiknya.

 

“Ok.”

 

“Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita berdua,” ucapnya sambil tersenyum.

 

“Ah… thankyou, Josh,” balasnya dengan senyum.

 

“No problem. Silakan duduk.” Joseph menarik kursi meja makan untuk Dara.

 

Dara pun menurut. Dilihatnya banyak sekali makanan di meja makan. Joseph pun duduk di kursinya.

 

“Hei. Sejak kapan kau bisa memasak?”

 

“Ahaha. Nope. Delivery.”

 

“Ah… ok.”

 

“Eat well, D.”

 

Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah selesai menyantap makanan yang ada di meja makan.

 

“Enak?” tanya Joseph sambil mengelap bibirnya dengan lap makan.

 

Dara mengangguk sambil tersenyum. “Its good. Pretty good. Thankyou anyway.”

 

“You’re welcome,” balas Joseph sambil tersenyum juga.

 

“Hmm… San. Bolehkah aku bertanya?”

 

Dara menaikkan alisnya. “Bertanya tentang apa?”

 

“Hmm…” Joseph terlihat ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu kepada Dara. Ia menggigit bibir bawahnya.

 

“Josh?” panggilnya.

 

“Hmm.. ok.” Ia menarik napas panjang lalu dibuang pelan. “Is there any chance for me?”

 

Wajah Dara terlihat bingung, satu alisnya diangkat naik. “Chance… what?”

 

“Untuk kembali ke sisimu? Apakah aku punya kesempatan?”

 

Well. Yeah. Dara telah membatin bahwa Joseph pasti akan berbicara tentang ini. Dan dia sudah menyiapkan jawaban-jawabannya.

 

“Joseph. Sudah berapa kali aku bilang, kalau aku hanya-“

 

“Yeah. Your great Kwon leadah, isn’t it?” Joseph memotong ucapan Dara dengan nada tidak tertarik.

 

Dara mendengus sambil menatap serius Joseph.

 

“Apakah benar-benar tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Aku masih mencintaimu, Sandara…”

 

Dara menggeleng. “No, Josh.”

 

“But why?” desak Joseph.

 

“Karena perasaan cintaku padamu benar-benar sudah hilang.”

 

“But… we can make-“

 

“No,” potong Dara.

 

“Ok. Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu kembali,” ucapnya to-the-point.

 

Dara mendengus kesal mendengar ucapannya barusan.”Look Josh. Kita tidak akan pernah seperti yang dulu lagi. Never. So stop. I cant be with you, not anymore. Karena hatiku sudah untuk Jiyong. Dan ini,” Dara menunjukkan cincin yang Jiyong berikan waktu itu. “Ini tanda bahwa kami memang serius dan tak akan terpisahkan.”

 

“A-a-apa??? K-k-kau… NO WAY, Sandy! NO PLEASE DON’T!” Joseph berdiri dari kursinya menuju kursi Dara. “He’s young! He’s a kid!!!”pekiknya.

 

“Yeap, he is. And that’s why I love him.”

 

“No, you can’t, Sandy. How dare you are??” pekik Joseph di dekatnya memegang pundak Dara.

 

Dara bangkit dari kursinya lalu memegang tangan Joseph.

 

“Aku mencintaimu, San. Really am! Aku mencintaimu lebih dari dia mencintaimu! Kenapa kau tidak memberiku satu kesempatan, hah? Why???”

 

“Josh… kita… kita tak akan pernah bisa bersatu. Rasa cintaku yang dulu aku rasakan padamu sudah hilang dan tak akan pernah kembali. Hatiku sekarang hanya untuknya. Kau tak bisa menggantikannya dari hatiku. Even, you tried so hard to pulled me back beside you, it didn’t change anything. Karena aku mencintainya, sampai kapanpun. Dan tak akan ada yang bisa merubah cintaku padanya.” Dara mengucapkan itu semua dengan sekali napas sekaligus tegas.

 

“But I do love you!!!! I DO LOVE YOU SANDY!!!” teriak Joseph.

 

Dara hanya menatap Joseph dengan tatapan iba lalu menggeleng pelan. “Josh. Please stop…”

 

Joseph yang berdiri di dekatnya serasa ingin jatuh. Badannya terhuyung ke belakang. Bibirnya terbuka, matanya pun mengerjap.

 

“Leave me and live your life without me.” Dara mengucapkan kata-kata itu dengan sedikit meminta.

 

Hening sesaat. Dara masih menggenggam tangan Joseph. Sedangkan Joseph sibuk dengan pikirannya.

 

“Kau…” akhirnya Joseph berbicara, kali ini pelan. “Benar-benar mencintainya?”

 

Dara mendesah lalu mengangguk mantap. “Yes. Aku mencintainya. Sangat.”

 

Joseph melepaskan genggaman tangan Dara lalu membalikkan badannya menatap keluar jendela.

 

“Kupikir,masih ada harapan untukku. Tapi…” Joseph tersenyum kecut.

 

“Josh…” Dara mendekati Joseph perlahan. ”Sorry.”

 

“No. I must say Sorry to you..” Joseph membalikkan badannya kearah Dara. Matanya sudah berair.

 

“Ah Josh…” Dara menatap sedih saat air mata Joseph jatuh di pipi.

 

“Maaf aku terlalu terobsesi ingin kembali padamu. Aku… aku…”

 

“Aku mengerti,” Dara tersenyum tulus sambil mengelap air mata di pipi Joseph. “Kau masih punya kesempatan untuk mencari yang lain. Banyak gadis yang lebih baik dan cantik dariku.”

 

Joseph menggeleng sambil tersenyum. “No. Theres no one like you, San.”

 

“But I cant be with you…”

 

Joseph mengangguk sambil mengelus pipi Dara. “I know…”

 

“Kau harus mencobanya, ok? Jangan sia-siakan hidupmu untuk mengejarku, karena… itu tidak mungkin. Aku tidak akan mungkin lagi bersamamu.”

 

“Ok. I’ll try…”

 

“Good.” Dara menengok jam dinding besar yang ada di tengah ruangan. Jam telah menunjukkan pukul 10, dan ini saatnya ia pulang.

 

“I have to go now.”

 

“Ok. Ku antar kau pulang..”

 

“Tidak usah. Aku membawa mobilku,” Dara berjalan kearah sofa untuk mengambil coat dan tasnya.

 

“Aku mengantarmu sampai mobil.”

 

Dara menggeleng sambil tertawa. “Tidak usah, Josh… aku tidak ingin namamu ada di berita besok pagi karena mengantarku ke mobil hahaha.”

 

Joseph mendesah lalu mengangguk mengerti. “Ok…”

 

Setelah memakai coatnya, Dara langsung berjalan ke pintu. “Goodnight and see you next time, Josh,” ucapnya tersenyum sambil menengok ke belakang.

 

“Hmm.. D, wait!” panggil Joseph lalu berlari kearahnya.

 

“Yes?”

 

Chuk. Kecupan kecil di pipi Dara dari seorang Joseph. Mata Dara terbelalak kaget.

 

“Thankyou..” kata Joseph sambil tersenyum.

 

Dara mengangguk. “With pleasure, Josh. Have a good sleep and… take a safe flight on Saturday.”

 

“Yes I will, Goddess. Have a safe drive too, ok?”

 

“..’kay.”

 

Joseph membuka pintu apartemen, dan Dara berjalan keluar. “Bye…”

 

“Bye,” balas Dara dengan senyuman dan lambaian tangan.

 

Ia pun lalu berjalan kearah lift. “Hah… finally its done,” Dara mengucapkannya dengan kelegaan.

 

(END of Flashback)

(at YGEX press conference)

“Darong, ppalihae!”  teriak Bom yang sudah berdiri di depan pintu masuk aula press conference memanggilku. Aku agak sulit berjalan karena heelsku.

“Ne!”  balasku.

Saking terburu-burunya, tanpa sengaja aku menabrak seseorang di depanku.

“Eih, pelan-pelan…”

Aku menelongok keatas dan hhhh ternyata Jiyong.

“Aigo. Mianhae,” ucapku lalu berlalu darinya. Tapi kurasakan tanganku ditarik olehnya.

“W-w-wae?” kataku sedikit grogi. Aigo! JIYONG! Haish dia tidak mengerti kalau ini bisa terlihat oleh publik aishh.

“Mau kemana?” tanyanya polos.

“Ke depan Ji..”

“Disini dulu saja bersamaku, ne?” tawarnya sambil tersenyum.

Aku mendesah, lalu berusaha menyingkirkan tangannya dari pergelangan tanganku. “Ji, ini publik. Kita bisa ketahuan.”

“So, what?”

“Ya! Ck. Ji…” aku menatapnya memohon. Sorry Ji, aku terpaksa melakukan ini padamu. Seriously, aku tak ingin kau mendapatkan masalah karena ini.

“Ok. FINE!” Jiyong melepaskan tanganku dengan sedikit kasar. Aigo, pasti dia marah.

“Jangan marah,” ucapku pelan.

Ia menatapku kesal lalu pergi dariku dengan langkah gentar. Setelah beberapa lama berdiri mematung akhirnya aku memutuskan berjalan ke aula.

Yeap. Semua memakai baju formal. Aku, Bom dan Gummy unnie memakai dress hitam, sedangkan Chaerin dan Minzy memakai baju formal biasa dengan blazer hitam beserta celana kain.

Rambutku sengaja digerai dan dikeriting agar terlihat lebih lousy dan glamour.

 

Well. Sekarang kami tengah di briefing oleh staff dari YGEX, seperti apa teknis acara yang nanti akan kami hadiri, bagaimana susunan tempat duduk dan lain semacamnya. Dan oh ya, Press Conference kali ini kami memutuskan untuk live streaming, jadi penggemar kami yang tinggal di luar Jepang dan Korea bisa menontonnya.

Saat di briefing aku tak bisa tidak mencuri pandang ke arah Jiyong yang berada tepat di sebelah Chaerin. Dia masih marah? Hah….aku harap sih tidak.

Kurasakan ia juga mencuri pandang ke arahku. Tapi saat kulihat kearahnya lagi ia mengalihkan pandangannya. Aih, Jinjja. Aku benar-benar merasa bersalah tadi sedikit membentaknya.

“Ne, jjah! Sebentar lagi presscon akan segera dimulai. CL-ssi, Dara-ssi, GDragon-ssi, TOP-ssi, dan Gummy-ssi berada di barisan sebelah kanan, sementara yang lainnya di sebelah kiri.” Staff itu memberi instruksi kepada kami.

Jiyong? Jiyong di dekatku? Astaga… aku yakin dia pasti mengaturnya.

Sorotan kamera 2NE1 tv tak hentinya menyorot kami semua. Terutama sih aku hahahaha -_-

Dan yeap, kami disuruh berbaris kebelakang untuk bersiap masuk ke backstage.

Setelah stylistku merapihkan baju dan aksesoris yang ku pakai, aku berjalan mantap mengikuti Chaerin yang berada di depanku. Ku lirik Jiyong yang.. hmm… sedang membaca tulisan di depannya? I don’t know.

Setelah aku berdiri di belakang Chaerin, Jiyong memindahkan posisinya dibelakangku. Dan sepertinya Chaerin sadar akan hal itu.

“Aigo, oppa…” gumamnya pelan.

Aku hanya tertawa pelan sambil melirik mereka berdua. Kulihat Jiyong mengeluarkan smirk andalannya. Ji, please don’t be too obvious, ok? Please….

Lalu seorang staff yang lain memberikan instruksi agar kami duduk di belakang panggung. Aku dan yang lain mengikutinya.

And yes. Jiyong duduk di sebelahku. Aisshhhh JINJJA!!! Aku yakin ini akan jadi berita besar setelah 2NE1 tv episode ini ditayangkan. Omma, eoddeohke?

Salah seorang kameramen menyorot kami berdua. Dan tiba-tiba Jiyong berceloteh…

“Aku, tipe idealnya Dara nuna,” ucapnya sambil tersenyum.

“Eh?” Gummy eonni terlihat kaget saat Jiyong mengucapkan kata-kata itu. Chaerin dan yang ada disebelahku terlihat kaget juga sama sepertiku.

Aku hanya tersenyum kaku dan mengangguk grogi. Jiyong!!! Apa maksudnya??? Astaga.

“But there’s no-in-house-dating…” ucapnya menggeleng kecil sambil tersenyum lebar. BUSTED GD! YOU BUSTED!! Astaga. Benar-benar aku tidak tahu harus bagaimana. Hah…

Untung saja staff itu menyuruh kami untuk berdiri dan bersiap-siap masuk ke dalam stage. Jiyong, jadi ini pembalasan dendam mu karena tadi menolak berduaan denganmu, ha?

Beberapa menit kemudian, press conference kami pun dimulai, dan satu per satu kami semua masuk ke dalam stage….

(On Jiyong’s room. Hmm I think… Their room :p)

*still Dara’s POV*

“Dara.. mianhae…” Jiyong masih berusaha meminta maaf karena kejadian saat di backstage tadi. Aku sampai tidak habis pikir, bagaimana ia beraninya bilang hal seperti itu di depan kamera.

Aku membalikkan badanku di tempat tidur membelakangi dirinya.

“Dara… itu hanya bercanda…”

Kutarik selimut menutupi wajahku.

“Dara-ya…” dia menggoyangkan bahuku. Kupegang erat selimut yang mengurung tubuhku.

Dan yah… dia mengeletikku.

“YA!!!!! JIYONG!!! HAHAHAHAHA!! STOP!!!!” spontan aku langsung duduk di tempat tidur berusaha melepas tangannya yang sedang menggerayangi pinggangku.

“Aku tidak akan berhenti sampai kau memaafkanku,” ucapnya sambil terus mengelitik pinggangku.

“STOP! PLEASE! STOP!!!” teriakku masih sambil tertawa.

“Tidak akan.” Dia pun tertawa melihatku kegelian. Aihss, jinjja. Bocah ini!

“OK!!!!!” teriak kencang. Dan kelitikannya pun berhenti, tetapi tangannya masih berada di pinggangku.

“Kau memaafkanku?” tanyanya sambil menyeringai.

Aku mendesah lelah sambil menatapnya. “Yea…”

“Really?”

“Yes. But.. not really…”

“D….” rengeknya sambil memanyunkan bibirnya.

“You really mean, Ji. Walaupun itu hanya sebuah candaan, tapi itu menyakiti hatiku.”

Jiyong menatapku tanpa ekspresi. Aku hanya mendesah lalu membalikkan tubuhku bermaksud untuk kembali tidur. Tapi belum saja aku bergerak, dia sudah memelukku.

“Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku tidak mengira kau akan seperti ini…” Ia mengeratkan pelukannya, mencium bahuku.

Aku menghela napas lalu balas memeluknya. “Pabbo…”

“Sorry…” pintanya lagi sambil melepaskan pelukannya. “Sorry, please….”

Aku menatapnya lama, dan aku pun tersenyum. Aishhh Jiyong-ah kapan aku bisa berlama-lama marah padamu, he?

Kucubit pelan hidungnya lalu memeluknya.  “Jangan lakukan itu lagi. Arraseo?” ancamku lalu tertawa pelan.

Ia membalas pelukanku, lebih erat sebelumnya. “Thankyou, D. I promise, ini terakhir kalinya,” ucapnya dan menyembunyikan wajahnya di dalam rambutku sambil mencium singkat leherku. (AIGOOOO HAHAHA OK -_-)

Aku tertawa geli. “Janji?”

Ia mengangguk di bahuku lalu mencium rambutku. “Hmm, aku janji.”

“Lebih baik kita tidur sekarang,” kataku sambil melepaskan pelukan.

“Neh,” ia tersenyum lalu mencium dahiku, pipikuku, hidungku, dan bibirku. Hmm… ciuman singkat saja kok hehe

And yeah, kami pun memutuskan untuk tidur. Kami tidur berpelukan. Kepalaku berada di atas bahunya. Ia masih mengelus-ngelus rambutku, hingga aku pun tertidur…..

-To Be Continued-

How was it? Boring ya? -_- sorry gak panjang dan scene yang kalian tunggu2 tentang kejadiannya GD waktu itu aku putuskan untuk aku tulis di part 9. Karena akan sedikit lebih panjang. Kalau ditaro disini jadinya boring dan terlalu panjang, JUGA aku lagi pure ga ada ide hehehehe.

 

Thankyou for reading! Untuk yang nunggu FF RiRin (Seungri-Chaerin) couple mohon bersabar yaaaaaaa. Give me a lil bit more time hehehe.

 

Bye, see ya Applers ^-^/