Title                 : If You Want a Lover…

Author             : Sung Young

Length             : One Shot (2391)

Genre              : Romance

Cast                 : Park Ji Young (fiksi), Taemin (SHINee),Lee Soo Hyun (fiksi),

Yang Yo Seob(BEAST), Park Ji Yoon (fiksi)

There are so many things I’ve wanted to do once I had a boyfriend, I’ve always dreamed
First, kissing on the street, second, you see, is a train to ChoonChun at dawn
Third, going on a picnic, fourth, getting a piggyback ride, fifth, couple rings are standard
boo boo boo it would be really sweet

“Ji Young, kamu sudah berapa kali memutar lagu itu?” omel Soo Hyun sambil meletakan majalahnya di atas mejanya.

Ji Young hanya tersenyum ke arah sahabatnya itu. “Sampai aku mendapatkan namjachingu! Hahaha,” jawab Ji Young sambil tertawa.

Soo Hyun langsung bangun dari bangkunya. Ji Young dengan cepat berdiri didepan sahabatnya itu, “Mau kemana?” tanya nya sambil merentangkan kedua tangannya.

“Minggir…aku mau ke kelasnya Taemin. Mau ikut?” Soo Hyun sambil menurunkan tangan Ji Young.

“Kelas Taemin? Kelasnya Yo Seob?” tanya Ji Young lagi.

“Ne…mau ikut? Kamu kan bisa ketemu pujaanmu itu. Dari pada kamu disini hanya mendengarkan lagu itu terus dan menghayal yang tidak-tidak. Hm?” Soo Hyun mulai berjalan menuju pintu kelas mereka.

“Ya Soo Hyun! Aish…” Ji Young hanya berdiri di tempatnya itu dan menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal.

*

            “Jadi…kamu dan Yo Seob akan menjadi satu tim di lomba antar kelas minggu depan?” tanya Soo Hyun.

“Ne. Kalau Ji Young ada disini, pasti dia sudah melonjak kegirangan kalo tau Yo Seob mau ikut lomba seperti itu,” sahut Taemin.

“Itu kan sahabatmu,” timpal Soo Hyun.

“Sahabatmu juga, Soo Hyun!” pekik Taemin.

“Jangan teriak di kuping!” balas Soo Hyun sambil menutup kedua telinganya.

Tiba-tiba mereka terdiam. Orang yang sedang mereka bicarakan tanpa sengaja lewat dihadapan mereka saat ini.

Ya…Yang Yo Seob, siswa kelas 3A yang pintar dan lucu itu. Semua orang disekolah ini pasti kenal dengannya. Sifatnya yang ramah dan mudah bergaul memang sangat disukai oleh teman-temannya, termasuk Ji Young.

“Apa dia mendengar omongan kita tadi?” bisik Taemin setelah Yo Seob berlalu pergi.

“Entahlah. Mungkin iya, mungkin tidak.” Jawab Soo Hyun dengan pelan, hampir seperti orang bergumam, “Ah! Ngga tau! Aku ke kelas ya,” pekik Soo Hyun lalu pergi meninggalkan Taemin.

“Ya! Soo Hyun-ah! Dasar sahabat nggak tau diri!” teriak Taemin sambil menunjuk-nunjuk Soo Hyun.

*

“Ji Young-ah!” teriak Taemin sambil berlari mengejar Ji Young yang berada beberapa meter di depannya.

Ji Young langsung berbalik. Taemin terlihat tersenyum ke arahnya. Mungkin sahabatnya yang satu ini ada maunya. Seperti kebiasaannya yang kalo ada maunya baru baik dengan orang lain.

“Waeyo?” tanya Ji Young sambil memperhatikan Taemin yang masih terengah-engah setelah mengejarnya.

Taemin memberi kode kalo Ji Young tunggu sebentar, “Oke! Sore ini kamu ada acara?” tanya Taemin akhirnya.

Ji Young hanya menggeleng. Taemin tiba-tiba langsung tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi itu.

“Good! Kalo gitu sekarang kamu temenin aku latihan. Oke?” Taemin langsung menarik tangan Ji Young sebelum Ji Young menolaknya.

“Ya! Taemin-ah!” Ji Young sambil memukul bahu Taemin dari belakang.

*

            Ji Young duduk bersila di sudut ruangan yang sore ini di sewa Taemin untuk latihannya. Tapi hal yang paling disukai dari Taemin menurut Ji Young adalah ketika dia menari. Taemin yang berisik tiba-tiba langsung diam ketika dia sedang menari.

“Memangnya ada lomba disekolah kita?” tanya Ji Young ketika Taemin duduk di sampingnya setelah lelah berlatih.

“Kamu nggak tau sama sekali tentang lomba minggu depan disekolah kita?” tanya Taemin yang terlihat nggak percaya setelah mendengar kata-kata Ji Young barusan.

Ji Young hanya menggeleng pelan. “Ya! Ji Young! Kenapa kamu memikirkan Yo Seob terus! Atau perlu aku laporkan ke noona kalo kamu nggak konsen belajar hanya karena namja itu?” Taemin sambil memukul kepala Ji Young dengan botol minumnya.

Ji Young hanya mengelus kepalanya. Benar juga yang dikatakan Taemin. Kenapa aku selalu memikirkan orang yang belum tentu memikirkan ku.

“Ya! Sekarang kamu malah melamun. Kalo gitu, aku akan menelpon noona sekarang,” Taemin segera meraih handphonenya didalam tas.

“Haji ma!” teriak Ji Young berusaha mengambil handphone Taemin.

Taemin hanya tertawa melihat ekspresi Ji Young. “Waeyo?” tanya Ji Young heran.

“Sepertinya, noona monster ya? Sampai segitunya kamu takut hahaha,” Taemin lebih puas lagi tertawanya kali ini.

“Taemin-ah, aku mau bertanya sesuatu. Tapi harus jawab jujur ya,” Ji Young menatap Taemin dengan tajam.

“Mwo?” sahut Taemin.

“Kamu suka kan sama onnie ku? Iya kan?” Ji Young sambil menoel-noel bahu Taemin.

“Anio…bukan begitu. Aku…aku cuma senang melihat wajahnya yang cantik itu, tidak sepertimu. Pantas saja Yo Seob tidak tertarik sama sekali denganmu,” balas Taemin dan tersenyum dengan senyumannya yang mengejek itu.

Ji Young langsung memukuli Taemin. “Haji ma, Ji Young-ah!” teriak Taemin sambil mengelak dari pukulan Ji Young.

*

            Ji Young menutup pintu rumahnya dengan lesu. Sepertinya malam ini dia harus mencari tubuh baru untuk menggantikan badannya yang sudah hampir lepas semua ini. Seandainya tubuh juga dijual sembarangan di toko-toko 24 jam.

“Baru pulang?” tanya Ji Yoon yang tiba-tiba muncul di hadapan Ji Young.

“Onnie! Jangan mengagetkanku seperti itu!” Ji Young sambil mengelus dadanya.

Ji Yoon hanya tertawa melihat adiknya itu, “Besok onnie akan mulai kerja di kantor baru. Kan kamu bisa nggak usah part time gini. Oh iya, tadi onnie udah buatin makan malam,” Ji Yoon menunjuk makanan yang masih ada di atas meja makan.

“Gomawo onnie!” Ji Young langsung memeluk Ji Yoon.

“Ne…sekarang kamu bersih-bersih dulu. Dan…kamu nggak tau apa kalo badan kamu bau gini?” Ji Yoon mendorong tubuh adiknya yang sedang memeluknya.

“Ya! Onnie!” teriak Ji Young.

*

            Ji Young sesekali menjawab sapaan teman-teman sekolahnya. Ji Young tiba-tiba berhenti ketika salah seorang teman sekelasnya memanggil.

“Mwo?” sahut Ji Young sambil mendekat.

“Kamu udah tau Soo Hyun sedang di tembak Yo Seob? Mereka sedang berada di lapangan basket. Cepat kesana!” temannya itu langsung mendorong Ji Young.

Ji Young yang masih belum percaya dengan apa yang dikatakan temannya itu langsung melangkahkan kakinya menuju tempat yang disebutkan tadi.

Suasana sekeliling lapangan basket itu sudah riuh sekali. Ya…orang yang sangat populer disekolah mereka sedang menyatakan perasaannya kepada gadis pujaannya.

“Terima!” teriak Ji Young ke Soo Hyun.

Soo Hyun langsung menoleh ketika mendengar suara Ji Young. “Ji Young-ah…” Soo Hyun terlihat menyebutkan namanya.

Ji Young hanya tersenyum dan menyuruh Soo Hyun untuk menerima Yo Seob. Tiba-tiba, bahu Ji Young seperti ada yang menyentuhnya. Ji Young langsung menoleh. Taemin sudah berdiri dibelakangnya dan menatap Ji Young penuh dengan makna. Ji Young hanya tersenyum menjawab tatapan Taemin.

Terdengar nada dering handphone Ji Young. Dengan cepat Ji Young mengangkat teleponnya.

“Ne…aku Park Ji Young. M…mwo? Aku mengerti. Gamsa hamnnida,” Ji Young langsung memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas.

Dengan cepat Ji Young pergi meninggalkan kerumunan itu. Setidaknya dia sudah memberikan dukungan ke Soo Hyun.

*

            “Mana Ji Young?” tanya Soo Hyun ketika melihat Taemin berdiri sendirian di bawah ring basket.

Taemin hanya menggelengkan kepalanya. “Tapi yang jelas dia tidak marah. Dan…sepertinya tadi ada keadaan yang darurat. Setelah menerima telpon, dia langsung pergi. Oh iya, hari ini aku juga mau bolos. Mumpung nggak ada tugas dan ulangan. Bye…” Taemin langsung pergi meninggalkan Soo Hyun.

Perasaannya kini semakin tidak enak dengan Ji Young, sahabatnya sendiri. Dia bisa membayangkan apa yang sedang dirasakan Ji Young saat ini.

*

            “Ji Young-ah! Dimana kamu!” omel Taemin.

Sudah hampir 2 jam ini dia berkeliling ke daerah yang sering didatangi Ji Young. Bahkan tempat kerja part time nya pun sudah didatanginya. Tapi Ji Young nggak keliatan sama sekali di tempat-tempat itu.

“Noona!” Taemin tiba-tiba teringat dengan Ji Yoon noona.

“Yeoboseyo, noona. Noona tau Ji Young sekarang dimana?” tanya Taemin dengan lembut.

“Mwo? Di rumah sakit?” Taemin hampir menjatuhkan handphonenya ketika mendengar apa yang terjadi dengan Ji Young.

*

            Ji Young dengan langkahnya yang tergesa-gesa menuju ke sebuah kantor penerbitan majalah remaja. Setidaknya kali ini tawaran untuk nya bekerja lebih memungkinkan untuk menghasilkan uang yang lebih banyak.

            “Yeoboseyo? Ada apa onnie?” Ji Young terus berjalan sambil sibuk menerima telpon onnienya.

            “Apa kamu sudah di beritahu pihak majalah itu? Tadi onnie sempat melihat namamu di majalah itu. Selamat!” terdengar suara Ji Yoon yang sangat gembira.

            “Gomawo onnie. Aku lagi dijalan menuju kantor majalah itu. Jadi, kalo onnie terima surat dari sekolah dengan topik aku bolos lagi nggak apa-apa kan?”

            Tiba-tiba terdengar suara Ji Young yang menjerit. Dan sambungan telepon itu langsung terputus.

*

            “Ji Young-ah!” Taemin langsung berlari menghampiri Ji Young yang masih terduduk di atas tempat tidur disalah satu bangsal rumah sakit itu.

“Taemin? Kenapa bisa disini?” tanya Ji Young yang masih memegangi tangannya yang di perban.

Taemin hanya memandangi tangan kanan Ji Young yang di perban. Ji Young yang tahu langsung menyembunyikan tangan kanannya itu di balik badannya.

“Aku tidak apa-apa. Tadi cuma terjatuh aja di trotoar,” Ji Young sambil tersenyum walaupun senyumannya itu terlihat sekali dipaksakan.

“Aku tau kamu sekarang masih memikirkan hal itu kan?” ucap Taemin pelan.

Ji Young hanya terdiam. Matanya kali ini hanya menatap lurus ke bawah, ke lantai bangsal rumah sakit itu. Mungkinkah wajahnya terlalu jelas menggambarkan perasaannya sekarang ini?

“Taemin-ah…jangan mengungkit ini lagi. Aku sudah mencoba melupakannya… setidaknya sejak beberapa jam yang lalu,” Ji Young sambil menyentuh lengan kiri Taemin, “Tapi kenapa lenganmu tidak bertambah besar, Taemin?” Ji Young malah menekan-nekan lengan Taemin.

“Haji ma, Ji Young! Disaat seperti ini kamu masih bisa bertingkah seperti ini?” omel Taemin.

Ji Young hanya tertawa, “Seharusnya kamu senang melihat sahabatmu ini tertawa. Atau, perlu aku harus nangis-nangis dan berteriak Yo Seob! Namjachingu ku! Kenapa kamu jatuh cinta kepada sahabatku sendiri! Apa perlu aku seperti itu?”

“Bukan begitu juga…” Taemin menggaruk-garuk rambutnya, “Jadi, kapan kamu pulang? Tadi aku tau setelah menelpon noona,”

“Oh…jadi kamu dan onnie ku bersekongkol? Kamu bayar berapa onnie ku sampai mau bekerja sama dengamu?”

“Ji Young-ah…aku ini mengkhawatirkanmu. Kalau masalah aku dan noona dekat itu nanti saja. Tunggu tanggal mainnya, hehehe”

“Dasar. Sekarang temani aku pulang! Yah…walaupun kata dokter aku harus istirahat di rumah sakit untuk 4 hari. Dari pada aku disini diam dan nggak bisa ngapa-ngapain, lebih baik aku pergi saja,”

*

            “Ji Young-ah!” seru Soo Hyun yang langsung menyeruak masuk kedalam kamar Ji Young.

Ji Young yang sedang makan ditemani Taemin pun langsung menoleh. “Soo Hyun? Kenapa bisa kemari?”

“Aku diberitahu onnie mu. Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Soo Hyun.

Ji Young menyodorkan tangan kanannya yang masih diperban. Setelah itu Ji Young menunjuk pelipis kanannya yang di perban juga.

“Sama siapa?” tanya Ji Young lagi.

Soo Hyun terdiam. Sepertinya dia takut atau semacamnya untuk mengatakannya kepada Ji Young.

“Annyeong,” tiba-tiba Yo Seob masuk juga. Ji Young langsung mendelik melihat siapa yang masuk.

Ji Young yang masih mengunyah makanannya tiba-tiba langsung tersedak. “Ji Young-ah! Pelan-pelan! Atau mau aku laporin noona?” Taemin menyodorkan segelas air putih yang langsung diambil Ji Young.

“Mau sampai kapan kamu mengancamku dengan menyebut onnie ku terus hah? Atau kamu mau melihat aku mati karena mendengar kata-kata itu terus!” omel Ji Young. Taemin hanya terdiam.

Ji Young meneruskan makannya lagi di bantu Taemin. Apalagi yang terluka tangan kanannya. Ji Young tidak bisa berbuat apa-apa selagi tangan kanannya terluka.

“Ji Young…aku ingin bicara dengamu. Kita berdua saja. Boleh?” tanya Soo Hyun.

“Ne,” jawab Ji Young sambil mengangguk.

*

            “Miane…mianeyo…Ji Young,” ucap Soo Hyun.

“Apa yang perlu dimaafkan. Kamu kan nggak ada salah denganku?” Ji Young terlihat bingung.

Soo Hyun terdiam, “Aku tidak bermaksud merebut Yo Seob darimu. Miane…” terdengar suara Soo Hyun bergetar.

“Gwenchanayo, Soo Hyun. Aku tidak apa-apa. Aku akan bahagia kalo ngeliat orang yang aku sayangi juga bahagia. Ingatkan kata-kata yang selalu menyebutkan kalo kita menyanagi orang itu, belum tentu juga orang itu menjadi milik kita? Aku juga sebelumnya sudah memikirkan hal-hal seperti itu. Jangan khawatir,” Ji Young mengelus pipi Soo Hyun dengan tangan kirinya.

“Ji Young-ah…kenapa kamu terlalu baik kepadaku?” batin Soo Hyun.

Ji Young tersenyum menatap Soo Hyun yang duduk dihadapannya. Soo Hyun yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.

*

Dua minggu kemudian…

Ji Young menatap langit malam Seoul yang bertaburkan bintang. Taemin yang berdiri disampingnya pun melakukan hal yang sama.

“Ada apa malam-malam seperti ini kamu menyuruhku datang? Atau kamu ingin mengajakku kencan ya? Mengajak sahabat kencan?” ledek Taemin.

“Kalo di bumi ini laki-laki tinggal kamu aja aku nggak mau kencan sama kamu! Ngomong-ngomong, selamat ya udah juara 1 lomba dance antar kelas minggu lalu. Maaf banget aku nggak bisa nonton. Tau sendiri lah tanganku seperti ini,” sahut Ji Young, “Besok aku akan ke New York. Appaku semalam menelpon dan menyuruh aku serta onnie pindah kesana. Perusahaannya butuh pewaris, dan dia menunjuk onnie menjadi pewaris perusahaannya,” sambung Ji Young.

“M…mwo?” Taemin seperti tersambar petir mendengar berita itu dari mulut Ji Young sendiri.

“Taemin-ah…aku akan pindah ke New York besok. Lagi pula, appa tidak tega melihat anak-anaknya disini bekerja keras untuk hidup mereka seperti ini. Jangan bilang kamu lupa kalau orang tuaku dulu bercerai dan appa ku pindah ke New York?”

“Ji Young…tapi kamu pindah bukan karena Yo Seiob dan Soo Hyun kan? Bukan kan?” Taemin terlihat sangat sedih.

“Anio, Taemin. Aku hanya ingin ikut onnie saja. Soalnya dia ingin sekali bekerja di perusahaan appa yang sekarang menjadi salah satu perusahaan terbesar di Amerika dan dunia itu,” jawab Ji Young tersenyum.

Taemin memegang bahu Ji Young. Dia akan menrindukan suara Ji Young yang ceria dan tingkahnya yang aneh. Mungkin juga teman bolos di sekolahnya. Dia tidak bisa membayangkan kalau Ji Young tidak bersekolah lagi disekolahnya itu.

“Taemin…jangan sedih. Kalau kamu sedih nanti kamu nggak aku berikan alamat e-mail onnie,” ucap Ji Young.

“Ya! Ji Young-ah! Disaat seperti ini kamu masih saja meledekku seperti itu! Apa tanganmu itu mau aku patahkan menjadi 5 bagian!” pekik Taemin dan berusaha menarik tangan kanan Ji Young yang belum sembuh.

“Haji ma, Taemin-ah! Ini masih dalam penyembuhan!” teriak Ji Young sambil menepis tangan Taemin yang mau menarik tangan kanannya itu.

*

“I love you,” saying those words those words those words just once
“I love you,” hearing those words those words those words just once
Thank you so much for coming to me, you being by my side
My love, baby baby baby baby boo~
baby baby baby baby boo~

“Ji Young…mau sampai kapan kamu dengerin lagu itu terus? Onnie saja sudah bosan mendengarkan lagu itu,” tanya Ji Yoon yang sekarang duduk disamping Ji Young didalam mobil yang menjemput mereka di Bandara kota New York dan membawa mereka ke rumah baru mereka.

“Onnie…kamu tidak mau menghibur adik mu ini? Ayolah…” rayu Ji Young.

“Tapi sampai kapan kamu mau mendengarkan lagu iini terus, Ji Young-ah?” sekali lagi Ji Yoon bertanya hal yang sama.

“Sampai aku mendapatkan namjachingu,” jawab Ji Young sambil tersenyum.

 

END