Title : My Fake Ordinary Wife (part7)

Author : Lumie

Main Cast : Kim Jongwoon/Yesung(Super Junior), Shin Hyeni (OC), Park Yunhee(OC), Lee Hongki(FT Island)

Support Cast : Lee Hyukjae, Lee Eunri, Lee Donghae, Shim Changmin, Kim Yoojin/Uee

Rating : G

Genre : romance, comedy, drama

Ps : Aku masih baru di bidang per ff-an. Ini adalah ff pertamaku dan aku sendiri baru belajar nulis ff. Aku mau ucapin makasih buat chingudeul yang udah setia baca ff ini dan komen… aku juga makasih banget atas dukungan chingudeul semuanya.. gak nyangka ff ini banyak peminatnya… *terharu.. ff ini udah author publish di blog author yang baru ajah di buat belum lama ini Lumie’s World

Disclaim : ff ini murni buatan dan hasil pikiran author sendiri yang dibuat dengan susah payah, tolong dihargai dengan tidak memplagiatnya yah… ^^

Hyeni POV

 

Aku duduk di sofa ruang tengah di apartemen Woonie oppa. Ini kedua kalinya aku datang ke apartemennya. Pertama kali sewaktu aku mengantarkan barang-barangku yang akan dipindahkan ke apartemen ini karena tentu saja kami akan tinggal bersama setelah menikah, walaupun pernikahan ini hanya pura-pura. Waktu itu aku hanya masuk hingga ruang depan apartemen karena kata Woonie oppa dia yang akan membereskan barang-barangku di apartemennya.

Woonie oppa duduk di sofa yang terletak di sebelah kananku. Aku bisa melihatnya sedang menatapku dari sudut mataku. Ia tak juga berbicara sepatah kata pun. Kami hanya berdiam diri selama bermenit-menit sementara jarum jam yang berdetak terdengar di telingaku.

“Ehm…” aku berdeham, mempersiapkan tenggorokanku yang mulai kering untuk mengeluarkan suara. Tidak mungkin kami terus berdiam diri seperti ini.

“Woonie oppa,” panggilku seraya meliriknya, ia masih menatapku lekat seolah aku ini adalah alien dari luar angkasa yang baru ia temui, “Jadi, mana perjanjian kontrak pernikahan kita?”

Ia mengernyit, kedua matanya yang sipit membentuk lengkungan dengan ujung yang menurun, “Kontrak apa?”

“Itu…” jawabku sambil berpikir kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksudku, “Bukankah kita menikah pura-pura?”

“Lalu?” tanya Woonie oppa masih tidak mengerti.

Aku menghela nafas sambil tersenyum kecut. Bukankah semua ini adalah rencananya? Lalu mengapa ia tidak mengerti juga mengenai perjanjian kontrak pernikahan yang kumaksud?

“Pernikahan kita hanya pura-pura, kan? Lalu bukankah seharusnya ada perjanjian kontrak pernikahan antara kita?” tanyaku sambil menatapnya lekat, Woonie oppa terdiam. Lagi-lagi suasana hening, aku bahkan bisa mendengar suara detak jantungku.

“Perjanjian…” gumam Woonie oppa, “Kontrak pernikahan?”

Woonie oppa tampak berpikir, namun tak lama kulihat kedua ujung bibirnya tertarik ke atas. Ia terkekeh lalu seolah tak bisa mengontrol diri, ia mulai tertawa terpingkal-pingkal hingga ia harus memegangi perutnya. Aku hanya menatap bingung pada reaksinya.

“Ya!!” ujar Woonie oppa, “Maksudmu perjanjian kontrak pernikahan..” Woonie oppa kembali tertawa, aneh sekali, apa yang lucu dari perjanjian kontrak pernikahan yang kumaksud?

Woonie oppa berhenti tertawa ketika menyadari aku menatapnya sambil menunggu jawabannya. Ia menghembuskan nafas berkali-kali mencoba mengendalikan tawanya. Woonie oppa lalu menoleh ke arahku, “Kau terlalu banyak menonton film drama Shin Hyeni, apa yang kau tonton? Full House? Hahahaha.. “Woonie oppa kembali tertawa, “Kontrak seperti itu hanya ada di dalam drama, kau pikir aku bodoh membuat perjanjian di atas kertas yang kemudian akan ditemukan orang lain dan mengancam diriku?”

Aku mengernyit menatap Woonie oppa, benar juga alasannya, tapi jika tidak ada perjanjian kontrak pernikahan, lalu bagaimana aku bisa yakin pada kontrak pernikahan ini?

“Kau tidak perlu takut. Akan kupastikan aku tidak akan macam-macam padamu. Tidak akan ada perjanjian kontrak pernikahan, kau hanya perlu menjadi istriku selama…” lanjut Woonie oppa, “kurang lebih satu tahun.”

“Mwo? Satu tahun? Yaa!! Bukankah waktu itu kau bilang hanya setengah tahun?” ujarku protes. Sebelum kami menikah, Woonie oppa pernah berkata bahwa aku hanya perlu berpura-pura menjadi istrinya selama setengah tahun.

“Tadinya memang begitu,” jelasnya, “Namun setelah kupikirkan, setengah tahun adalah waktu yang sangat singkat. Jika setengah tahun lagi kita bercerai maka publik akan curiga padaku.”

“Tidak mau! Satu tahun itu waktu yang lama!” seruku sambil bangkit dari sofa, au berdiri sambil berkacak pinggang di depannya. Woonie oppa ikut berdiri, tubuhnya lebih tinggi 18 sentimeter dariku sehingga aku harus mendongak untuk menatapnya.

“Aku akan memberikan uang yang lebih untukmu,” tukasnya sambil melotot.

“Aku tidak butuh uangmu!” balasku tak mau kalah, “Pokoknya setengah tahun sudah lebih dari cukup!”

“Yaa! Sombong sekali kau, bukankah kau setuju menikah denganku juga gara2 uang?” ujar Woonie oppa sambil melotot padaku. Nafasku tertahan, aku tidak bisa membalas kata-katanya. Aku memang setuju menikah dengannya karena aku butuh uang untuk ahjussi dan ahjumma.

“Wae? Kenapa diam?”

“Itu…” aku menundukkan kepalaku. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Woonie oppa, lagipula apa dia akan percaya padaku?

“Ok, kalau kau diam berarti kau setuju, satu tahun, deal!” serunya sambil menjabat tanganku. Aku hanya tertegun dengan ucapannya.

“Sekarang ikut aku ke kamar,” kata Woonie oppa sambil berjalan mendahuluiku, aku segera mengikuti langkahnya.

Woonie oppa membuka pintu sebuah kamar, lalu mempersilahkanku masuk, aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar.

Kamar yang besar dengan tembok di cat biru muda, televisi plasma yang menempel di dinding, lemari pakaian besar yang menjulang tinggi dengan pintu yang terbuat dari kaca, tak lupa tempat tidur yang berukuran sangat besar. Aku menatap dinding di atas tempat tidur, terpampang figura besar dengan foto Woonie oppa, ihh, untuk apa dia menaruh fotonya yang sebesar itu di kamarku.

“Mengapa ada fotomu di kamarku?” protesku sambil menunjuk foto super besarnya, memang Woonie oppa terlihat tampan di foto itu, tapi tetap saja, aku tidak akan bisa tidur dengan fotonya yang sebesar itu di atas kepalaku.

“Kamarmu?” Woonie oppa balik bertanya, “Kata siapa ini kamarmu? Kamar ini adalah kamarku.”

“MWO?”

“Apa kau tidak dengar? Kamar ini adalah kamarku, tentu saja ada fotoku di kamar ini.” Woonie oppa mengulangi kata-katanya.

Aku terkejut sampai-sampai mulutku ternganga lebar di depannya, “Maksudmu kita tidur di kamar yang sama?”

***

Jongwoon POV

“Maksudmu kita tidur di kamar yang sama?” tanya Hyeni dengan mata yang besarnya yang menatap tidak percaya padaku.

“Ne, kita tidur satu kamar. Kau ingat Bibi Jung?” tanyaku padanya, ia menangguk pelan. Bibi Jung adalah pelayan kepercayaan orang tuaku. Ia tinggal di rumahku, tentu saja Hyeni telah mengenalnya ketika aku membawanya ke rumahku.

“Bibi Jung selalu datang untuk membereskan apartemenku setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Jika kita tidur di kamar yang berbeda, kau kira apa yang akan dipikirkan olehnya? Bisa-bisa ia tahu pernikahan kita hanya pura-pura, lalu ia akan melaporkannya pada keluargaku.” jelasku padanya, Hyeni terdiam sesaat, terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menggangguk lemah sambil menghembuskan nafas. Aku tahu ia tidak setuju tidur sekamar denganku, tapi kami berdua tidak punya pilihan lain.

“Barang-barangmu ada di lemari paling kiri,” ujarku sambil menunjuk pintu lemari yang berada paling ujung kiri.

Hyeni segera melangkah menuju arah yang kutunjuk. Dengan malas ia membuka pintu lemari yang terbuat dari kaca, lalu menggangguk-angguk ketika mendapati barang-barangnya telah tersusun rapih di dalam lemari.

“Bibi Jung yang telah menatanya,” ujarku padanya sambil berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di pinggir sambil menopang tubuhku dengan kedua tanganku.

Hyeni berbalik, menatapku sebentar kemudian mulutnya ternganga, “Chakhaman.. mengapa hanya ada satu tempat tidur di sini?”

“Ne, tentu saja hanya ada satu. Jika ada dua tempat tidur di sini, apa bedanya dengan tidur di kamar yang berbeda? Bibi Jung tentu akan curiga.”

Hyeni memanyunkan bibirnya, “Aku tidak mau tidur satu ranjang denganmu!”

Aku tersenyum meledek ke arahnya, “Satu ranjang? Kau pikir aku mau?”

“Lalu?” Hyeni tampak kebingungan, “Di mana aku tidur?”

Aku menunjuk ke arah sofa di sebelah kanan tempat tidur. Mata Hyeni segera mengikuti arah yang kutunjuk dan mulutnya kembali ternganga.

“Yaa!! Maksudmu aku tidur di sofa?” protesnya sambil menatapku geram.

Aku menggangguk, “Kuharap kau tidak keberatan.”

“Kau ini…” gerutunya, “Isshh, namja macam apa yang tega menyuruh seorang yeoja tidur di sofa!”

“Kurasa sofa itu tidak buruk, aku membelinya dengan harga yang mahal. Bahannya bagus, kulitnya lembut, empuk, dan kurasa jauh lebih nyaman dari tempat tidur di rumahmu dulu,” ujarku tak mau kalah. Aku memang telah menghabiskan cukup banyak uang untuk membeli sofa itu.

“Tetap saja keterlaluan jika aku harus tidur di sofa selama.. menjadi istrimu,” ia agak ragu menyebutkan akhir kalimatnya. Hyeni menundukkan wajahnya, kurasa ia malu mengatakan bahwa ia telah menjadi istriku. Sekalipun pernikahan ini hanya pura-pura, tapi pernikahan kami sesungguhnya telah sah di mata publik.

Aku merasa gemas melihat wajahnya yang tertunduk dan pipi yang sedikit merona merah. Kurasa sedikit menggodanya bukan pilihan yang buruk.

“Baiklah, kau tidurlah di sini,” ujarku sambil menepuk tempat tidur.

Hyeni menoleh, memandangku penuh keraguan, “Jinjja? Jadi kau akan tidur di sofa?”

“Anii, kita tidur bersama di sini,” jawabku sambil tersenyum pernuh arti. Alis mata Hyeni bertaut, bibirnya membentuk huruf o.

“M.. mwo?!” serunya setengah berteriak.

“Mengapa terkejut seperti itu, bukankah kita sudah menikah?” godaku seraya bangkit dari tempat tidur. Aku melangkah ke arahnya, Hyeni bergerak mundur namun aku segera menarik tangannya sehingga tubuhnya jatuh ke pelukanku.

Hyeni segera mendorong tubuhku menjauh, “Yaa!! Apa yang kau lakukan?!”

“Waeyo? Bukankah ini malam pertama kita?” godaku sambil terus berusaha mendekatinya. Ia mencoba untuk kabur, namun aku mendorong tubuhnya ke lemari dan merentangkan kedua tanganku di sampingnya.

“Woo.. Woonie oppa, pernikahan kita hanya pura-pura, kau tentu ingat kan?” ujarnya terbata-bata, ia gugup, dan itu membuatku semakin gemas ingin mengerjainya.

“Bagaimana kalau kita berhenti berpura-pura dan menjadi suami-istri sungguhan?” balasku sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya.

Hyeni membelalakan matanya, ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia terkejut dengan pertanyaanku barusan.

Aku terus mendekatkan wajahku ke arahnya, berpura-pura seolah ingin mengecup bibirnya. Tubuh Hyeni bergetar, ia tampak gugup bercampur takut. Jarak bibir kami semakin dekat, 10cm… 8cm.. 6cm…

BUUUKKK!!!

“AWWW!!” Aku berteriak kesakitan. Hyeni mendorong tubuhku lalu meninju wajahku dengan sangat keras tepat di batang hidungku. Kurasakan sesuatu yang hangat mengalir dari lubang hidungku. Ku usap dengan tanganku dan kulihat noda darah di sana.

“Yaa!! Kau ini benar-benar…” teriakku sambil memegangi hidungku yang terasa berdenyut-denyut.

“Woonie oppa!” teriak Hyeni panik, “Hidungmu berdarah?!”

“Kau yang meninjuku Hyeni~ah!” seruku menyadarkannya, siapa tahu ia lupa bahwa ia yang telah menyebabkan hidungku berdarah seperti ini.

Hyeni segera berlari mengambil tissue lalu memberikannya padaku untuk mengelap darah yang keluar. Setelah membersihkan darah di bawah hidungku, aku menyumbat lubang hidungku dengan tissue agar darahnya tidak keluar lagi.

“Kau ini mengapa meninjuku?” protesku.

“Mian, oppa. Tapi kau yang ingin menciumku duluan!” balasnya tak mau disalahkan.

“Aku hanya bercanda, kau kira aku sungguh-sungguh ingin menciummu?”

“Tapi kau tadi terlihat serius, Woonie oppa!”

Aku menatap Hyeni geram, “Isshh, apa kau lupa aku ini aktor, tentu saja aku pandai berakting, baboya! Mana mungkin aku serius tadi!”

Hyeni hanya memanyunkan bibirnya tanpa bisa menjawab perkataanku, ia lalu berjalan melewatiku dan duduk di atas sofa.

“Jangan berani menggodaku lagi Woonie oppa atau aku tidak menjamin keselamatanmu,” ujarnya lagi sebelum membaringkan diri di sofa dan menarik selimut yang terletak di ujung sofa, menutupi tubuhnya hingga ke atas kepalanya.

Aku hanya tertegun mendengar ucapannya. Rupanya menggodanya bukan pilihan yang tepat, malam ini aku harus bisa tidur sambil menahan rasa sakit di batang hidungku.

***

Hyeni POV

Aku terbangun di pagi hari, menatap langit-langit yang asing. Langit-langit yang tinggi dengan cat biru muda. Ah, semalam aku tidur di kamar Woonie oppa untuk pertama kalinya. Sepertinya langit-langit ini akan menjadi pemandangan pertama yang kulihat untuk ratusan pagi mendatang.

Aku melirik ke arah tempat tidur, kosong. Woonie oppa tampaknya sudah bangun. Tempat tidurnya telah tertata rapih. Kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul 7.

“Eggghhh..” aku menggeliatkan tubuhku sebelum bangun dari sofa. Benar kata Woonie oppa, sofa ini sangat nyaman. Bahkan jauh lebih nyaman dari tempat tidur di rumahku dulu.

Aku membereskan sofa, tempat tidurku yang tidak layak di sebut tempat tidur. Melipat selimut, membetulkan letak bantal. Setelah selesai, aku segera berjalan keluar, hendak pergi ke kamar mandi yang terletak di sebelah kamar Woonie oppa.

“Kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu?” suara Woonie oppa menghentikan langkahku menuju kamar mandi. Aku menoleh ke arah suaranya. Melihatnya sedang berjongkok di depan meja kecil. Di atas meja itu ada akuarium kaca berbentuk balok.

“Nyenyak, sofa itu sangat nyaman,” jawabku jujur.

“Sudah kuduga, kau harus berterima kasih karena aku telah memilihkannya untukmu,” ujar Woonie oppa sombong. Aku tidak menggubris ucapannya.

“Apa itu?” tanyaku penasaran dengan isi akuarium di depannya. Aku berusaha melihat ke dalam kaca, namun susunan saraf otakku nampaknya belum tersambung utuh sehingga aku tidak bisa menebak isinya. Hanya melihat sesuatu berbentuk oval seperti batu dan berwarna hijau tua.

“Oh, ini adalah hewan peliharaanku,” jawab Woonie oppa sambil mengelurkan sesuatu dari dalam akuarium dan menunjukkannya padaku.

“Yang ini namanya Ttatkoma, di dalam sana ada Ttatkoming dan juga Ttatkomaeng,” kata Woonie oppa sambil menjulurkan benda di tangannya ke arahku.

“Ttat… Ttatko..?” gumamku bingung, aku memperhatikan benda di tangannya lekat-lekat, berharap otakku dapat mencerna bentuknya dan mencari data tentang benda semacam itu yang mungkin aku tahu. Bentuknya seperti batu setengah lingkaran, hmm… mungkin lebih mirip cangkang, berwarna hijau tua dengan sedikit kecoklatan, memiliki empat kaki dan satu kepala yang keluar dari dalamnya. Itu seperti… ku… kura-kura!

“Kuuu… kura-kura?!” seruku ketika akhirnya menyadari benda bernama Ttatko-ttatko di tangan Woonie oppa.

“Ne, mereka semua adalah kura-kura peliharaanku,” jawab Woonie oppa polos.

“Aghhhhh!!” aku berteriak, “Singkirkan mereka dariku! Aku benci kura-kura!!”

“Yaa!! Mereka sangat lucu,” protes Woonie oppa.

Aku menyilangkan tanganku di bahu, merasakan bulu kudukku berdiri melihat hewan reptil yang gerakannya sangat lambat itu. Bukannya aku benci binatang, aku suka pada anjing, tapi kura-kura?? Aku sangat membencinya.

“Hyeni~ah, jangan-jangan kau takut kura-kura?” duga Woonie oppa. Tepat sekali!

“Aku benci kura-kura!” seruku setengah berteriak.

“Yaa! Bagaimana mungkin kau benci pada mahluk selucu mereka?” tanya Woonie oppa sambil berjalan mendekatiku sambil membawa salah satu Ttatko di tangannya.

“Jangan mendekat! Berhenti di situ!” jeritku histeris. Woonie oppa bukannya menjauh malah berjalan semakin dekat.

“Kau harus belajar menyukai mereka Hyeni, mulai sekarang kau yang akan mengurus mereka jika aku sedang pergi,” kata Woonie oppa sambil terus mendekat ke arahku bersama mahluk Ttatko menjijikan itu.

“Shireo!” tolakku keras, “Aku tidak mau mengurus mereka!”

“Kau tidak bisa menolak. Selama ini aku selalu menitipkan mereka pada Yoojin jika aku sedang berpergian, tapi sekarang keluargaku tahu kau ini istriku, jadi tentu saja kau yang harus mengurus mereka,” jelas Woonie oppa santai, saat ini ia hanya berjarak satu meter dariku dengan mahluk Ttatko di tangannya.

“Ttatkoma, beri salam pada Hyeni ahjumma,” ujar Woonie oppa sambil mengulurkan Ttatko satu yang sepertinya bernama Ttatkoma.

“Bawa mahluk itu menjauh dariku!” teriakku sambil melangkah mundur,Woonie oppa malah semakin mendekatkan Ttatkoma ke arahku, ia tersenyum usil.

“Wae? Ttatkoma hanya ingin memberi salam padamu,” kata Woonie oppa santai.

Aku menghembuskan nafas keras-keras, segera berbalik dan berlari menjauh dari Woonie oppa dan Ttatkoma.

“Aku tidak mau mengurus mereka,” seruku sambil berlari, “Aku minta cerai sekarang juga!”

***

Jongwoon POV

Hari ini aku tidak ada jadwal, aku memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran korea. Tak disangka-sangka aku bertemu dengan Hongki di sana. Hongki baru saja makan siang bersama dengan rekan bisnisnya dan berencana untuk pergi, namun aku menahannya dan menyuruhnya menemaniku makan.

“Bagaimana kabar Hyeni?” tanya Hongki membuka pembicaraan ketika aku selesai memesan menu makan siangku.

“Baik,” jawabku singkat.

“Hyung, kuharap kau tidak macam-macam padanya,” kata Hongki sambil menatapku serius. Aku menatap matanya sejenak sebelum tersenyum kecil.

“Mengapa kau berpikir aku akan macam-macam padanya? Ayolah Hongki, kau tahu kalau kami tidak sungguh-sungguh menikah,” jawabku sambil bergurau, suasana di antara kami terasa sedikit ganjil. Entah mengapa aku merasakan sesuatu yang mengganjal dalam diri Hongki.

“Aku tahu kalian hanya pura-pura, namun aku tak habis pikir mengapa kau tetap bersikeras menikah dengannya,” ujar Hongki kembali dengan ekspresi serius yang mampu membuatku berhenti tersenyum, “Kau tak seharusnya menikah dengannya, maksudku kalian tidak seharusnya berpura-pura menikah seperti ini.”

“Yaa, Hongki~ah, ada apa denganmu? Tak biasanya kau mencampuri urusanku?” tanyaku curiga.

“Aku hanya tak ingin kau mempermainkan Hyeni, hyung. Dia bukan gadis yang pantas untuk kau permainkan seperti itu,” jawab Hongki sambil menatap mataku. Aku balas menatapnya, entah mengapa kedua matanya menunjukkan kesedihan. Matanya menunjukkan bahwa perasaannya terluka, namun ia tetap mencoba untuk tegar.

“Jangan katakan bahwa kau jatuh cinta padanya?” dugaku. Hongki hanya diam. Tapi aku segera mengetahui jawabannya dari tatapan matanya. Ia memang telah jatuh cinta pada Hyeni.

“Ba.. bagaimana mungkin?” tanyaku tak percaya, “Kau sungguh telah jatuh cinta padanya? Tapi gadis itu hanya gadis biasa yang tidak…”

“Bukankah dia gadis yang menyenangkan?” Hongki balik bertanya, aku hanya diam menatapnya, “ Aku tidak pernah bertemu gadis sepertinya.”

“Ini sungguh gila, kau.. mengapa tidak mangatakan ini padaku sebelumnya?” tanyaku merasa tak enak hati mengetahui bahwa dongsaengku ini mencintai istri pura-puraku.

“Entahlah, hyung. Aku menyesal membiarkan pernikahan kalian berlangsung,” kata Hongki lirih, “Tolong jaga dia, Hyung. Jangan pernah menyakitinya. Walaupun kau tidak mencintainya, tolong jaga dia untukku.”

***

Hongki POV

Aku mengendarai mobilku pelan, pikiranku dipenuhi bayangan pernikahan antara Jongwoon hyung dan Hyeni. Aku tahu pernikahan mereka hanya pura-pura. Satu tahun lagi mereka akan berpisah. Namun tetap saja hatiku rasanya tidak rela jika gadis yang kucintai bersanding dengan hyungku sendiri. Berkali-kali aku mencoba menepis pikiran negatif dari otakku, tetap saja aku tak bisa. Satu tahun memang bukan waktu yang lama, namun dalam satu tahun banyak hal bisa terjadi. Entah mengapa aku takut jika Hyeni jatuh cinta pada Jongwoon hyung. Aku bahkan lebih takut Jongwoon hyung juga akan jatuh cinta pada gadis itu. Hyeni adalah gadis yang menarik dan kau akan semakin menyukainya ketika mengenalnya lebih dekat. Tentu saja Jongwoon hyung akan memiliki banyak kesempatan untuk mengenalnya selama mereka tinggal satu atap.

Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan yang agak sepi. Hanya beberapa orang yang berjalan di trotoar dan sekit mobil yang melintas. Aku keluar dari mobilku, bersandar pada kap depan mobil sambil menghirup udara yang cukup segar karena banyak pohon tumbuh di sekitar jalan ini.

“Oppa… apakah itu kau?”

Sebuah suara yang lembut menyadarkanku dari lamunanku. Aku menoleh ke arah suara itu berasal. Lee Eunri?

“Hongki oppa, ternyata memang kau,” ujar Eunri sambil berjalan ke arahku. Gadis di hadapanku adalah Lee Eunri, dia adalah adik kelasku di sekolah menengah atas.

“Eunri~ah,” sapaku, “Lama tidak berjumpa.”

Eunri sekarang berdiri tepat di hadapanku. Wajahnya masih sama seperti tiga tahun lalu, terakhir kali aku melihatnya ketika aku datang ke sekolahku untuk acara reuni.

“Ne, sudah lama kita tidak bertemu, oppa,” katanya sambil tersenyum, senyumnya masih manis seperti dulu, “Sebenarnya aku merasa pernah melihat oppa sebelumnya, namun aku ragu.”

“Jinjja? Di mana kau melihatku?” tanyaku sambil menegakkan badanku.

“Di pesta pernikahan teman Eunhyuk oppa. Namanya Hyeni eonni,” jawab Eunri. Jadi Eunri mengenal Hyeni?

“Sepertinya itu memang aku karena Hyeni adalah temanku. Pesta pernikahan yang kau maksud pasti pernikahannya dengan Jongwoon hyung. Ia adalah kakak sepupuku,” jelasku diikuti dengan ekpresi Eunri yang sedikit terkejut.

“Jadi ternyata benar itu adalah kau,” ujarnya lirih. Aku hanya tersenyum.

Aku dan Eunri berbincang selama beberapa menit, membicarakan masa-masa sekolah kami yang telah berlalu beberapa tahun lalu. Akhirnya aku memutuskan untuk pamit karena harus kembali ke kantor.

“Eunri~ah, sepertinya aku harus kembali ke kantor sekarang, mian tidak bisa menemanimu lebih lama. Mungkin lain kali kita bisa bertemu untuk mengobrol lagi,” kataku seraya tersenyum padanya, Eunri membalas senyumanku sambil mengangguk.

“Ne, sampai jumpa, Hongki oppa,” balasnya.

Aku berjalan ke arah pintu mobilku. Ketika hendak membuka pintu mobilku, Eunri memanggil namaku, “Hongki oppa.”

“Ne? Waeyo Eunri~ah?” tanyaku sambil menahan pintu mobil yang telah terbuka sebagian.

“Mianhae,” ujar Eunri lirih, “Aku sungguh-sungguh menyesal atas kejadian tiga tahun lalu.”

“Ne, aku telah memaafkanmu Eunri, lupakanlah yang telah berlalu,” jawabku seraya tersenyum padanya. Berharap senyumku bisa mewakili perasaanku yang telah memaafkannya dengan tulus atas apa yang terjadi tiga tahun lalu.

Eunri masih menatapku sendu, matanya menunjukkan kesedihan, tatapan matanya sama seperti tatapannya waktu itu, Aku melangkah masuk ke dalam mobil, sebelum aku menutup pintu mobilku, aku mendengar suara Eunri, pelan namun tertangkap dengan jelas di telingaku, “Kau tahu bahwa perasaanku tidak pernah berubah padamu?”

***

Jongwoon POV

Aku sedang menerima telepon dari Yunhee, akhirnya setelah pergi tanpa kabar selama tiga minggu, ia menghubungiku.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Yunhee di telepon penuh kecurigaan. Untuk pertama kalinya aku tidak bersemangat menerima telepon darinya.

“Tidak ada,” jawabku singkat.

“Woon~ah, apakah kau masih marah karena aku menolak lamaranmu? Jeongmal mianhae,” katanya mencoba meminta maaf untuk yang kesekian kalinya. Namun kata-kata maafnya seolah tak cukup untuk mengobati luka hatiku.

“Tak perlu minta maaf,” ujarku lirih menahan perasaan sedih, kecewa, sekaligus amarah, mencoba tetap bersikap tenang dan mengendalikan nada suaraku, “Kurasa aku yang terlalu berharap banyak padamu, aku yang selalu berharap kau akan menerima lamaranku dan menjadi istriku, semuanya hanya aku dan selalu aku.”

“Woon~ah, jangan bicara begitu,” ucap Yunhee mulai terisak, hatiku terasa perih menyadari ia menangis di seberang sana, namun luka di hatiku terlanjur terlalu dalam, sehingga membuatku tetap bersikap dingin padanya.

“Ituadalah kenyataan, Yunhee, apakah kau akan kembali ke Korea sekarang jika aku memintamu?” tanyaku menantangnya, aku telah mempersiapkan diri mendengar jawabannya yang mungkin akan menambah sayatan di hatiku.

“Mianhae, Woon~ah. Kau tahu hal itu tidak mungkin. Bahkan aku meneleponmu untuk mengabarkan bahwa aku akan tinggal di Amerika lebih lama. Mereka mengajakku untuk bergadung dalam penelitian, mungkin aku akan pulang setengah tahun lagi,” ujar Yunhee dengan suara lirih dan sedikit terisak.

Aku menelan ludahku, tersenyum kecut mendengar ucapannya, aku tahu ini semua akan terjadi. Hatiku bertambah sakit setiap kali ia tidak menghiraukanku dan lebih mementingkan hal lain dibandingkan aku, “Kau tidak pernah peduli padaku. Bagimu aku bukanlah segalanya.”

***

Hyeni POV

Sudah dua minggu aku menikah dengan Woonie oppa. Semua berjalan kacau, hampir setiap hari aku bertengkar dengannya. Hanya karena aku bangun kesiangan akan membuatnya membentakku dengan keras, hanya karena aku tidak sengaja tertidur di tempat tidurnya, ia akan membangunkanku dengan paksa, mendorong tubuhku hingga jatuh dari tempat tidur dan membuat sekujur tubuhku terasa sakit.

Belum lagi tingkah usilnya, selalu mengerjaiku dengan Ttatko-Ttatkonya. Ia akan menaruhnya di atas sofa tempat tidurku hingga aku menjerit kaget dan ketakutan. Iajuga pernah membawa salah satu Ttatkonya, yang aku tidak tahu siapa namanya karena sampai sekarang aku tidak juga bisa mengingat nama para mahluk hijau itu, ke atas meja makan. Tentu saja aku langsung kehilangan nafsu makan dan berlari ke dalam kamar, hasilnya aku kelaparan karena tidak makan malam. Perutku keroncongan dan aku tidak bisa tidur.

Hari ini aku janjian untuk makan siang dengan Donghae oppa. Ia adalah oppa yang baik. Hampir setiap hari ia akan menelepon atau mengirim pesan untuk menanyakan kabarku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa diperhatikan setelah kedua orang tuaku meninggal.

“Jadi, Yesung hyung tidak mengajakmu ke pesta pernikahan Leetuk hyung?” tanya Donghae oppa. Aku menggeleng. Jangankan mengajakku, memberitahuku siapa itu Leetuk saja tidak.

“Aneh, padahal Leetuk hyung adalah salah satu senior yang dihormati oleh Yesung Hyung. Mereka bahkan sangat dekat. Tidak mungkin Yesung hyung tidak datang ke pesta pernikahannya,” ujar Donghae oppa. Aku hanya diam mendengarkan celotehannya.

“Hmmm..” ia bergumam, “Bagaimana kalau kau pergi denganku saja?”

***

Jongwoon POV

 

Aku terkejut mendapati seseorang yang sangat kukenal datang bersama dengan Donghae di pesta Leetuk hyung. Gadis itu, yang baru saja berjalan melalui pintu masuk adalah istriku. Ia tampak berbeda mengenakan gaun putih selutut dengan sedikit make up di wajahnya, tapi aku tetap bisa mengenalinya, Hyeni. Namun mengapa ia bisa datang bersama dengan Donghae? Dan apa maksudnya berjalan sambil mengaitkan lengan dengan Donghae.

Aku menghampiri Donghae dan Hyeni yang sedang berjalan ke arah Leetuk Hyung. Entah mengapa aku merasa kesal melihat Hyeni bersama dengan Donghae. Apa ia lupa sekarang statusnya adalah istriku, sekalipun pernikahan kami hanya pura-pura.

“Annyeonghaseo, Leetuk hyung,” sapaku, “Chukae untuk pernikahanmu.”

“Oh, Yesung, kau datang? Jeongmal gomawo,” jawab Leetuk hyung.

“Annyeong, Yesung hyung,” sapa Donghae, aku menoleh ke arahnya, kemudian melirik ke arah Hyeni yang sedang menghindariku dengan menatap ke arah lain.

“Ah, rupanya Donghae hari ini membawa seorang yeoja bersamanya,” tukas Leetuk hyung.

“Ne, Leetuk hyung,” jawab Donghae, Hyeni mengalihkan pandangannya ke arah Leetuk hyung, masih menghindari tatapanku. Aku menatapnya lekat-lekat, berharap ia akan sadar akan statusnya saat ini dan melepaskan kaitan lengannya pada Donghae.

“A.. annyeonghaseo, joneun Shin Hyeni imnida,” ujar Hyeni, aku terkejut mendengar caranya memperkenalkan diri.

Leetuk hyung dan istrinya pamit untuk bertemu tamu lain. Begitu mereka pergi, aku langsung menarik tangan Hyeni yang dari tadi terkait pada lengan Donghae. Aku segera menariknya menjauhi Donghae.

“Yaa!! Lepaskan aku, Woonie oppa! Sakit!” rintihnya. Aku melepaskan tangannya ketika kami sampai di luar ruangan pesta.

“Mengapa kau tidak memperkenalkan diri sebagai Kim Hyeni? Kau istriku!” seruku penuh kekesalan. Aku hampir tidak bisa menahan emosiku lagi. Yeoja ini benar-benar telah melupakan statusnya.

“Istri pura-puramu, jangan lupakan itu,” balas Hyeni tidak mau kalah.

Aku sedikit tersentak dengan ucapannya, namun berusaha tetap tenang, “Tetap saja, semua orang tahu bahwa kita telah menikah sekalipun pernikahan itu hanya pura-pura.”

“Yesungie, apa maksud ucapanmu?” sebuah suara mengagetkanku. Manager Yoo muncul dari balik dinding, astaga, apakah ia telah mendengar percakapan kami?

“Katakan padaku apa maksud ucapanmu barusan? Kalian menikah pura-pura?” tanyanya penuh selidik.

“Ne, hyung,” aku mengakui dengan berat hati, “Mianhae, hyung, tapi tolong rahasiakan hal ini. Aku tidak punya pilihan lain waktu itu.”

“Kau gila, Yesungie,” seru manager Yoo, ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, “Tentu saja hal ini tidak boleh sampai diketahui publik. Kau bisa kehilangan kepercayaan publik karena dianggap telah membohongi mereka.”

“Agashi,” panggil manager Yoo pada Hyeni, “Kuharap kau bisa bekerja sama, jangan sampai pernikahan pura-pura kalian diketahui publik.”

***

Author POV

 

Jongwoon dan Hyeni kembali ke ruang pesta. Manager Yoo terlah berkali-kali memperingatkan mereka untuk berhati-hati dalam bertindak agar pernikahan pura-pura mereka tidak terbongkar.

Hyeni berjalan di samping Jongwoon. Matanya mencari sosok Donghae yang tadi ditinggalkannya karena Jongwoon menarik tangannya dengan paksa.

Seorang wanita berjalan ke arah Jongwoon dan Hyeni lalu menabrak tubuh Hyeni hingga gadis itu hampir terjatuh jika Jongwoon tidak segera menangkapnya.

“Agashi, tolong berjalan dengan hati-hati,” ujar Jongwoon tegas.

“Yesung oppa, mengapa kau tega membohongiku?” tanya wanita itu, “Mengapa kau berbohong padaku?”

Jongwoon tidak mengerti dengan ucapan wanita itu. sepertinya wanita ini sedikit mabuk.

“Yesung oppa, kau tega membohongiku!” seru wanita itu semakin kencang sehingga suaranya menarik perhatian, “Kau tahu bahwa aku mencintaimu? Aku mengagumimu hingga aku hampir gila.”

Rupanya wanita itu adalah seorang fans dari Yesung yang merupakan kerabat jauh dari istri Leetuk yang adalah gadis biasa, bukan kalangan selebritis. Wanita itu telah lama menyukai Yesung dan perasaannya telah diluar batas, ia terobsesi pada Yesung, bukan sekedar mengaguminya.

Tadi sewaktu Jongwoon dan Hyeni berbicara dengan manager Yoo, wanita itu tanpa sengaja mendengar percakapan mereka. Sehingga kini, ia tahu soal pernikahan pura-pura antara Jongwoon dan Hyeni.

“Kau, kembalikan Yesung oppa padaku!” teriak wanita itu sambil meraih tubuh Hyeni dan mulai mendorong-dorong tubuhnya.

Tamu-tamu di pesta segera berkumpul menyaksikan, sedangkan Jongwoon dengan segera menarik tangan wanita asing itu sehingga ia melepaskan Hyeni. Jongwoon merasakan cahaya blitz dari kamera wartawan yang hadir di pesta hari itu.

“Hentikan, agashi. Aku tidak mengenalmu. Jangan bersikap seperti itu pada istriku,” ujar Jongwoon setengah membentak. Ia merasa kesal wanita asing tersebut menyakiti Hyeni.

“Istri?” wanita itu terkekeh, “Dia bukan istrimu.”

Jongwoon dan Hyeni terkejut. Wanita asing itu berjalan ke arah kamera wartawan, mengambil mic dari seorang wartawan dan berkata di depan kamera, “Pernikahan ini… adalah kebohongan publik.”

Seluruh orang yang hadir di pesta terkejut mendengar ucapan wanita asing itu. Jongwon dan Hyeni tak kalah terkejut. Darimana wanita asing ini tahu mengenai pernikahan pura-pura mereka?

Para wartawan segera mengerubuni Jongwoon dan Hyeni. Mengarahkan mic pada keduanya dan menghujani mereka dengan blitz kamera yang menyilaukan mata.

“Yesung~sii, apa maksud ucapan nona itu tadi? Apakah pernikahanmu adalah sebuah kebohongan publik?” tanya seorang wartawan memojokkan Jongwoon.

Hyeni hanya berdiri mematung, dalam otaknya terlintas perkataan manager Yoo tadi.

“Tentu saja hal ini tidak boleh sampai diketahui publik. Kau bisa kehilangan kepercayaan publik karena dianggap telah membohongi mereka.”

 

‘Woonie oppa dalam bahaya,’ pikir Hyeni.

 

“Agashi, kuharap kau bisa bekerja sama, jangan sampai pernikahan pura-pura kalian diketahui publik.”

“Aku…” Hyeni bersuara, para wartawan langsung mengarahkan mic ke arah Hyeni, “mencintai Woonie oppa.”

Jongwoon terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Hyeni. Ia hanya terdiam menatap gadis itu.

“Katakan perasaanmu oppa, apakah kau mencintaiku?” tanya Hyeni sambil menatap Jongwoon tepat di manik matanya. ‘Cepat jawab aku, Woonie oppa,’ sorot mata Hyeni seolah mengatakan hal itu. Jongwoon terpaku beberapa detik sebelum menyadari maksud Hyeni.

“Sarangheo, Kim Hyeni,” ujar Jongwoon akhirnya sambil menunduk dan mengecup pipi gadis itu. Blitz kamera menghujani keduanya. Jongwoon melepaskan ciumannya, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Hyeni, “Kim Hyeni adalah istriku, dan kami salaing mencintai, maaf, tapi agashi di sana telah menyebarkan berita yang tidak benar.”

TBC

Semoga part ini gak mengecewakan yah… dan dimohon komennya supaya aku bisa semangat buad part selanjutnya… kritik saran semua diterima.. J

Iklan