Title                 : Please Don’t Go

Author             : Sung Young

Length             : One Shot (2.845 word)

Genre              : Romance

Cast                 : Choi Min Ho (SHINee), Kim Sung Rin (Fiksi), Kim Sung Gyu (Infinite), Cho Kyu Hyun (Super Junior), Jong Hyun (SHINee)

“Gadis itu…ya, itu benar memang gadis yang biasa duduk dibawah pohon itu. Tapi ada apa dengan raut wajahnya? Tidak seperti biasanya. Dan kenapa bunga yang dibawanya kali ini tidak seperti biasanya?”

Min Ho masih memperhatikan gadis yang duduk disebuah bangku panjang di bawah pohon itu dari kejauhan. Angin yang bertiup sedikit kencang pun tidak menggoyahkan niatnya untuk terus memperhatikan gadis yang selama ini selalu berada di tempat itu.

“Ya, Minho! Dari tadi kamu hanya melihat ke arah itu saja. Waeyo?” tiba-tiba Kyu Hyun datang dan menepuk pundaknya.

“Hyung? Ah…anio. Kenapa kau bisa disini juga?” tanya Min Ho lalu berusaha menutupi apa yang sedang dilakukannya sekarang.

Kyu Hyun hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka kalo orang yang membuat janji dengannya tiba-tiba lupa dengan janjinya itu.

“Kamu sakit? Atau semalam belom menyelesaikan game winning eleven mu?” Kyu Hyun sambil menempelkan telapak tangan kanannya di dahi Min Ho. Tapi Min Ho juga nggak sakit.

“Hyung…kenapa kamu bisa sampai disini juga?” Min Ho mengulang kembali kalimatnya yang tadi diucapkannya.

Kyu Hyun hanya menggeleng. “Kamu lupa kalo sore ini mau pergi mencari kado untuk yeoja yang kamu ceritakan dan entah siapa namanya itu. Bahkan kamu juga belum menyebutkan nama yeoja itu,”

Min Ho hanya tersenyum. Padangannya masih tertuju ke seorang gadis yang duduk dengan tenang di bawah pohon yang rimbun beberapa meter didepan mereka.

“Kamu melihat gadis itu kan, Hyung?”

“Ne…” jawab Kyu Hyun sambil memperhatikan gadis itu.

Seorang gadis dengan rambut sebahu dan sedang memegang seikat mawar putih. Wajahnya yang putih pun semakin bersinar dibawah sinar matahari senja yang masih dengan terangnya bersinar.

“Jangan bilang kamu suka dengan yeoja itu?” Kyu Hyun langsung dengan cepat menoleh ke arah Min Ho yang masih memperhatikan gadis itu.

Min Ho menganggukan kepalanya pelan. Dengan perlahan dia menatap hyung nya itu.
“Setiap sore aku kesini hanya untuk memperhatikannya. Tapi aku nggak berani memulai berkenalan dengannya,” suara Min Ho terdengar lirih. Seperti orang yang sudah lama sekali memendam perasaan seperti ini.

Dan untuk kesekian kalinya Kyu Hyun menggelengkan kepalanya. Dia nggak bisa memikirkan apa yang sedang dirasakan Min Ho kali ini. Terlalu rumit, dan…diluar kendalinya. Bahkan dirinya pun belum pernah didalam keadaan seperti ini.

“Coba saja dekati. Setidaknya pura-pura bertanya atau apalah,” akhirnya Kyu Hyun memberikan saran walaupun agak kurang pasti.

*

            Sung Rin menatap namja yang menghampirinya. Seorang namja yang mungkin umurnya tidak jauh berbeda dengan umurnya sudah berdiri dihadapannya.           Wajahnya pun sepertinya tidak asing baginya.

“Dimana bisa mendapatkan bunga seperti ini?” tanya Min Ho dengan sedikit gugup.

Sung Rin hanya menatap namja didepannya itu. Seseringnya dia berada di taman ini, belum ada yang menanyakan dimana bisa mendapatkan bunga seperti yang dipegangnya ini.

“Ini? Ini dari kebun ku sendiri. Waeyo?” tanya Sung Rin dengan polos.

“Ah…anio. Aku hanya ingin bunga seperti ini untuk amma ku,” jawab Min Ho dengan cepat. Bahkan kata-kata itu belum sempat dipirkannya dulu sebelumnya.

Sung Rin hanya mengangguk, “Kalau begitu, kamu bisa datang ke rumah ku saja. Tempatnya nggak jauh dari sini. Tinggal ikuti saja jalan disana, di ujung jalan tinggal belok ke kanan. Hanya ada rumahku disana,”

“Oke, nanti aku akan mampir kesana,” jawab Min Ho.

“Kalau begitu, aku duluan,” Sung Rin bangun dari bangku panjang itu lalu membungkuk sebentar dan berjalan menjauhi Min Ho.

*

            “Hyung! Akhirnya aku bisa bicara dengan gadis itu!” Min Ho langsung memeluk Kyu Hyun ketika kembali ke tempat Kyu Hyun menunggunya.

Kyu Hyun langsung melepaskan dekapan Min Ho itu. Sepertinya Min Ho akan membunuhnya kalau dibiarkan terus memeluknya seperti itu.

“Tadi kamu nanya nama yeoja itu?” tanya Kyu Hyun akhirnya setelah teringat apa yang mau ditanyakannya.

Min Ho hanya menggaruk-garuk rambutnya, “Anio, hyung. Aku lupa dengan itu,” Min Ho lalu nyengir.

Kyu Hyun memutar bola matanya. Sepertinya kebiasaan Min Ho kalau bertemu dengan orang yang disukainnya ini nggak pernah hilang sampai sekarang. Selalu lupa menanyakan “siapa nama” orang itu.

“Kalau begitu, aku pergi dulu!” Min Ho langsung mengambil kunci mobilnya yang tadi di geletakannya begitu saja di meja cafe` tempat dia menunggu tadi.

“Ya! Choi Min Ho! Kamu tega meninggalkan sunbaenim mu sendirian disini?” teriak Kyu Hyun.

“Ah…hyung pulang saja. Bye!” Min Ho langsung berlari menuju mobilnya yang terparkir di pinggir pelataran taman itu.

Kyu Hyun hanya menggelengkan kepalanya. Entah berapa kali dia ditinggalkan seperti ini oleh Min Ho hanya karena urusannya yang baginya terlalu penting dan melupakan urusan yang akan diselesaikannya dengan Kyu Hyun.

*

            “Kenapa kamu bisa disini?” terdengar suara yang nggak asing lagi bagi Min Ho.

Min Ho hanya terdiam melihat siapa yang berdiri di hadapannya ini. “Apa kabar, Sung Gyu? Lama tidak berjumpa,”

“Nggak usah basa-basi. Ada apa?” tanya Sung Gyu sekali lagi.

“Ah…kamu sudah datang rupanya,” terdengar suara lembut seorang yeoja yang muncul dari belakang Sung Gyu.

Min Ho langsung tersenyum melihat gadis itu menghampirinya. Dan semua pikiran tentang hubungan Sung Gyu dengan gadis dihadapannya ini langsung hilang begitu saja setelah melihat senyuman hangat gadis itu.

“Ayo kita liat kebunku. Yah…nggak sebagus kebun-kebun yang lainlah,” gadis itu sambil memandu Min Ho. Dan tanpa komando, Min Ho langsung berjalan mengikuti gadis itu.

“Sung Rin, jangan sampai seperti kemarin lagi,” Sung Gyu terlihat begitu khawatir terhadap Sung Rin.

“Ne, oppa. Aku akan berhati-hati,” ucap Sung Ri lalu berjalan kembali.

*

            “Jadi…namamu Kim Sung Rin?” Min Ho masih mengikuti gadis itu dari belakang.

“Hm…sepertinya kamu udah mengenal oppa ku?” Sung Rin kali ini berbalik dan menatap Min Ho sambil tersenyum.

Min Ho langsung salah tingkah melihat Sung Rin yang menatapnya seperti itu, “Kami dulu teman di SMA. Dia tidak pernah cerita tentang tim sepakbolanya?” tanya Min Ho penasaran.

Sung Rin hanya menggeleng. Sepertinya Sung Gyu tidak pernah menceritakan tentang sekolahnya, kecuali dia mendapat beasiswa melanjutkan sekolah ke Jepang akhir bulan ini.

“Aku teman di tim sepakbolanya, dulu,” Min Ho terdiam sejenak, “Mungkin dia juga tidak mau menceritakan hal-hal seperti itu,”

*

            “Hyung! Aku senang sekali!” Min Ho langsung melompat ke samping Kyu Hyun yang sedang asyik bermain game di laptopnya.

“Ya! Jangan ganggu!” teriak Kyu Hyun sambil menyingkirkan tangan Min Ho yang lagi-lagi dengan asal memeluknya.

“Miane, hyung. Aku tau nama yeoja itu sekarang!” pekik Min Ho dan sekarag dia mengguncang-guncangkan tubuh Kyu Hyun yang masih sibuk bermain game disampingnya.

Kyu Hyun langsung menghentikan permainan gamenya. Sepertinya saat ini tidak aman untuk melanjutkan game yang sedang dimainkannya.

“Tapi…” raut wajah Min Ho tiba-tiba langsung berubah.

“Tapi apa?” Kyu Hyun pun rupanya nggak sabar untuk mendengar kelanjutan kalimat Min Ho.

“Kamu masih ingat Kim Sung Gyu kan, hyung?” Kyu Hyun mengangguk menjawab pertanyaan Min Ho, “Dia…dia ternyata kakak yeoja itu. Dan dia masih bersikap seperti dulu. Padahal kejadian itu kan sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu,”

Kyu Hyun kali ini nggak habis pikir dengan sepupunya ini. Sudah menyusahkan dengan bercerita kalo dia suka sama yeoja yang misterius, dan sekarang yeoja itu adalah adik dari seseorang yang menganggap Min Ho sebagai musuhnya.

“Bisa nggak kalau kamu cari yeoja lain yang nggak harus terlalu complicated gini masalah yang menyangkut kamu sama yeoja itu?” tanya Kyu Hyun dengan raut wajah pasrah.

“Ya! Hyung!” teriak Min Ho kesal.

*

            “Kamu kenal dengan Min Ho?” tanya Sung Gyu sambil menemani Sung Rin di balkon rumah mereka.

“Hm…katanya Min Ho juga kenal denganmu?” jawab Sung Rin sambil menatap kakaknya itu.

Sung Gyu hanya tersenyum. “Dia memang temanku. Apa dia cerita lainnya?”

“Anio…dia cuma ngomong kalo mau nyari bunga yang bagus untuk ammanya. Mungkin besok dia kesini lagi,”

“Ya sudah. Sekarang kamu tidur. Udara malam nggak bagus untuk kesehatan. Oppa juga mau tidur. Ayo masuk,” ajak Sung Gyu lalu menutup pintu setelah mereka berdua masuk kedalam.

*

            “Kamu memang hobi menanam bunga?” tanya Min Ho yang sore ini datang lagi ke rumah Sung Rin.

“Hm…untuk mengisi waktu luang. Memangnya ada apa?” tanya Sung Rin penasaran.

“Aku sempat melihatmu beberapa kali di taman membawa bunga-bunga yang ada disini,” jawab Min Ho agak kaku.

Sung Rin hanya tersenyum. Tangannya yang sedang menyentuh kelopak bunga Lili pun langsung diturunkannya.

“Setiap bunga yang aku bawa itu ada maknanya tersendiri buatku. Seperti bunga lili ini yang berarti aku sedang senang. Atau mawar putih yang berarti aku sedang sedih. Yah…itu hanya karanganku saja. Yang mengetahui itu selama ini hanya Sung Gyu oppa. Dia yang sangat mengerti tentang aku,” terlihat senyuman tipis di bibir Sung Rin.

“Jadi…kamu sangat menyayangi Sung Gyu? Maksud ku…Seung Gyu kakakmu?” tanya Min Ho lagi dengan suara yang parau.

“Ne…dia seperti kembaranku. Aku berharap kami dilahirkan kembar. Tapi itu tidak mungkin kan?” Sung Rin tertawa pelan lalu beranjak dari tempatnya berdiri tadi.

“Oh iya, lusa kamu ada acara tidak?”

“Aku? Tidak. Waeyo?”

“Aku hanya ingin ngajak pergi. Bolehkan?”

“Boleh…”

*

            “Jangan sampai lengah dengan Sung Rin. Dia sangat sensitif sekali. Kalau bisa kalian jangan terlalu malam berada diluar,” ujar Sung Gyu sambil menunggu adiknya keluar dari rumahnya.

Min Ho hanya mengangguk. Dia belum pernah melihat Sung Gyu sedetail ini mengenai seseorang. Bahkan, sepertinya sifat dia kali ini bertolak belakang dengan sifatnya dulu.

“Oppa, aku pergi dulu!” Sung Rin sambil melambai ke arah Sung Gyu.

“Hati-hati,” sahut Sung Gyu dan membalas lambaian tangan adiknya itu.

Sung Gyu menunggu mereka sudah tidak tampak lagi dari halaman rumahnya. Dengan perlahan dia melangkah masuk kembali ke dalam rumah, walaupun perasaan cemasnya masih menyelimuti hatinya.

*

            “Aku belum pernah ketempat seperti ini,” Sung Rin terlihat senang sekali.

Lampu-lampu yang menghiasi taman kali ini sangat indah sekali. Di tambah lagi beberapa kembang api muncul di kejauhan.

“Berarti kamu senang kan?” tanya Min Ho sambil sesekali menoleh ke arah Sung Rin yang berdiri disampingnya.

“Ne. Gamsahamnida, Min Ho oppa,” Sung Rin sambil menatap namja yang berdiri disampingnya itu.

Min Ho hanya tersenyum. Dia juga tidak bisa berkata apa-apa sekarang. Berdiri disamping yeoja yang dicintai serta disayanginya disaat seperti ini. Bahkan, entah kenapa sepertinya Sung Ri pun merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Min Ho saat ini.

“Min Ho oppa, bisa kita pulang sekarang?” tiba-tiba Sung Ri langsung memegang lengan kiri Min Ho dan wajahnya sudah berubah menjadi pucat sekali.

“Ada apa? Kamu sakit?” tanya Min Ho cemas dan memegang lengan kanan Sung Ri juga supaya tidak jatuh.

“Gwenchanayo, oppa. Hanya pusing saja,” Sung Ri mencoba untuk tersenyum agar tidak terlalu keliatan kalo dia menahan rasa sakit.

“Baiklah. Sekarang kita pulang,” Min Ho dengan perlahan menuntun Sung Ri menuju mobilnya.

*

            “Bagaimana?” tanya Min Ho ketika melihat Sung Gyu berjalan kearahnya.

Sung Gyu masih tetap bersikap seperti biasanya. Tatapannya tetap sedingin es. Ya…memang selalu begitu jika Sung Gyu bertemu dengan Min Ho sejak mereka mengalami sebuah masalah saat di SMA dulu.

“Dia tidak apa-apa. Lebih baik kamu pulang saja,” jawab Sung Gyu ketus.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Min Ho langsung masuk ke dalam mobilnya. Mobil sedan silver itu pun langsung meninggalkan halaman rumah itu.

Sung Gyu berjalan masuk ke dalam rumahnya lagi. Sudah cukup baginya hari ini untuk mencoba berkomunikasi lagi dengan Min Ho, sahabatnya yang sudah lama sekali menjadi musuhnya, kini.

“Oppa, Min Ho sudah pulang kan?” tanya Sung Rin yang menghampiri Sung Gyu.

Sung Gyu duduk di sofa, diikuti Sung Rin juga yang duduk disampingnya sekarang.

“Ada apa?” tanya Sung Rin lagi.

“Dia tidak curiga sama sekali kan denganmu tadi?” tanya Sung Gyu, suaranya terdengar serius kali ini.

“Anio, oppa. Dia sepertinya percaya kalau aku sakit kepala. Tapi berhasil kan?” tanya Sung Rin sambil menarik-narik lengan oppanya itu.

Sung Gyu hanya mengangguk. Sepertinya usahanya untuk menjauhkan adiknya ini dari Min Ho berhasil.

*

            “Mau kemana?” tanya Sung Rin yang sudah duduk di depan TV sepagi ini.

Sung Gyu yang di tanya langsung menoleh ke arah Sung Rin yang tiduran di atas sofa. “Ngurus keperluan yang belum selesai,” jawab Sung Gyu sambil menunjukan sebuah map yang penuh dengan berkas-berkasnya.

Sung Rin hanya mengangguk, “Cepat pulang. Appa dan amma katanya pulang cepat hari ini,”

“Ne. Aku pergi dulu,” Sung Gyu lalu menghilang di balik pintu utama rumah itu.

*

            “Kamu beneran akan mengambil beasiswa itu?” tanya Jong Hyun yang berdiri disamping Sung Gyu.

Sung Gyu yang masih menatap pemandangan halaman gadung itu dari rooftop hanya tersenyum, “Aku sudah mengurus semuanya. Lusa aku akan pergi kesana bersama keluargaku. Mereka akan pindah ke Jepang juga,”

“Sung Rin juga? Adikmu yang manis itu? Ya! Sung Gyu! Kalau aku ingin melihat wajah adikmu itu bagaimana?” Jong Hyun terlihat cemas sekali.

“Hahaha…setidaknya dia kan harus melanjutkan sekolah juga. Lagi pula, saat libur kuliah kamu kan bisa mengunjungi kami, bukan, adikku disana. Oke?” Sung Gyu sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Oke…tapi masa aku harus menunggu waktu liburan?” umpat Jong Hyun kesal.

*

            “Min Ho! Aku…aku harus mengatakan ini!” Kyu Hyun datang dengan tergesa-gesa dan terlihat nafasnya yang belum teratur setelah berlari-lari.

“Ada apa, hyung?” Min Ho yang sedang asyik main game langsung menghentikan gamenya sebentar dan beralih ke Kyu Hyun yang sudah duduk di seberangnya sekarang.

“Tadi…tadi…tadi aku mendengar perbincangan Sung Rin dengan Sung Gyu!” ucap Kyu Hyun dengan nafas yang masih belum teratur.

“Apa?” Min Ho tiba-tiba seperti ingin tahu tentang hal ini.

“Besok kita akan berangkat. Kamu sudah siap kan pindah ke Tokyo?” tanya Sung Gyu.

            Sung Rin yang duduk disampingnya hanya mengangguk. Dia menatap wajah oppanya yang duduk disampingnya itu. Dia tidak ingin membuat oppanya kecewa.

            “Apa yang harus aku lakukan selanjutnya, oppa? Apa aku harus memberitahu Min Ho? Atau aku harus berpura-pura lagi?” tanya Sun Rin dengan suaranya yang lembut itu.

            “Anio. Kamu tidak usah melakukan hal itu lagi. Aku sudah tau maksud dia mendekatimu sekarang,” Sung Gyu menghela nafasnya, “Aku hanya tidak ingin kamu merasakan apa yang pernah dilakukannya terhadap teman-teman yeoja ku disekolah dulu. Aku sampai tidak habis pikir kenapa dia mau menjadi playboy begitu,”

            Sung Rin mengangguk untuk kesekian kalinya. Setelah di cerna beberapa kali kalimat oppanya ini, ternyata ada benarnya juga. Mana mungkin oppanya mau melepaskan adiknya ke orang yang dikenalnya dengan baik.

            “Tapi…kenapa oppa dengan Min Ho bermusuhan sekarang?” tanya Sung Rin penasaran.

            Sung Gyu hanya tersenyum, “Sebenarnya kami tidak bermusuhan. Aku hanya kecewa pada saat pemilihan pemain yang masuk ke dalam tim yang akan berangkat ke pertandingan sepak bola nasional saat itu aku tidak terpilih, hanya karena cedera lutut. Dan…Min Ho yang terpilih, bahkan dia menjadi kapten untuk tim itu. Sejak saat itu, kami sudah jarang berkomunikasi sebagai sahabat. Dan Min Ho mulai menjadi, yah…seperti sekarang. Kamu bisa lihat kan? Dan orang-orang akhirnya berpikiran bahwa Min Ho lah yang membuat oppa cedera. Tapi bukan dia orangnya. Oppa tidak suka saja dengan sifatnya setelah sukses dengan tim sepakbola saat SMA dulu, mungkin hingga sekarang. Entahlah…”

            “Oppa…” gumam Sung Rin sambil menatap oppanya itu.

*

            “Ya! Kim Sung Rin!” teriak Min Ho.

Sung Rin yang duduk dibawah pohon langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Seulas senyuman mengembang dibibirnya.

“Min Ho!” balas Sung Rin sambil melambaikan tangannya.

Min Ho berjalan menuju ke arahnya. Tapi kali ini tidak seperti biasanya. Wajahnya pun terlihat lebih kusut dari biasanya.

“Ada apa?” tanya Sung Rin ketika Min Ho sudah duduk disampingnya.

“Sebenernya apa yang kamu lakukan terhadapku? Apa kamu disuruh oleh Sung Gyu untuk mempermainkan aku?” tanya Min Ho dengan nada suaranya yang meninggi.

“Min Ho…bukan begitu. Bukankah kau dan Sung Gyu oppa sahabat?” Sung Rin mulai bingung harus berkata apa untuk menutupi semua ini.

Min Ho hanya tersenyum sinis, “Aku…aku sudah tidak seperti itu lagi. Memang benar apa yang dikatakan Sung Gyu tentang semuanya. Tapi aku tidak seperti itu lagi!”

“Min Ho…”

“Aku kira kamu selembut wajahmu. Tapi ternyata…”

“Ya! Min Ho! Aku sebenarnya juga suka kepadamu! Tapi…aku tidak ingin mengecewakan oppa ku!” Sung Rin langsung memotong kalimat Min Ho yang belum selesai diucapkannya.

Min Ho hanya terdiam mendengar Sung Rin berkata dengan suaranya yang terdengar seperti marah itu. Sung Rin langsung berdiri dari bangku itu.

“Aku akan pindah ke Tokyo besok. Semoga kamu disini bahagia. Sampai jumpa lain waktu. Aku permisi,” Sung Rin langsung berjalan meninggalkan Min Ho yang masih terpaku di tempatnya.

Min Ho masih tidak menyangka Sung Rin mengatakan hal seperti itu. Kata-kata yang ingin didengarnya sendiri dari Sung Rin, ya…dari yeoja yang selama ini dia sukai. Tapi…setelah dia tahu yang sebenarnya, tapi kenapa yeoja itu harus pergi meninggalkannya, bahkan meninggalkan negaranya itu.

“Jangan pergi, Sung Rin! Kim Sung Rin…jangan pergi!” teriak Min Ho dalam hatinya. Tapi kata-kata itu tidak berhasil diucapkannya.

Sung Rin berjalan cepat sambil sesekali menyeka kelopak matanya yang sepertinya akan mengeluarkan air mata. Dia tidak boleh menangis hanya karena hal seperti ini. Sung Rin dengan berlari kecil meninggalkan taman itu dan menuju ke rumahnya.

*

            “Ya! Min Ho! Kamu tidak ke taman?” tanya Kyu Hyun yang bingung melihat sepupunya ini selama beberapa minggu belakangan seperti kehilangan semangat hidupnya.

“Malas! Kalau kamu mau. Kamu bisa sendiri kan hyung ke taman?” balas Min Ho yang masih tergeletak di atas tempat tidurnya.

“Dasar kau! Memangnya tidak ada yeoja lain, selain Kim Sung Rin di taman itu?” umpat Kyu Hyun lalu keluar dari kamar Min Ho.

“Kalau ada sudah aku ajak kenalan dari kemarin-kemarin, hyung!” teriak Min Ho dari dalam kamarnya.

Kyu Hyun hanya melambaikan tangannya tanda kalau dia sudah tidak perduli dengan apa yang akan dilakukan sepupunya ini. Apalagi setelah Sung Rin pindah dari Seoul.

END