Title : She Psycho

Author: zaherahe (@helloimzhr)

Cast(s): Jessica Jung, Krystal Jung, Lee Donghae

Rating: PG

Genre(s): Romance, Tragedy

Disclaimer: bukan bermaksud apa-apa ngebuat Jessica jadi peran antagonis. Abisnya, kalo Krystal yang antagonis kan aneh?-_-a terinspirasi dari tebak-tebakan bareng guru les /plak/ katanya itu tebakan kalo yang bisa jawab berarti kemungkinan orang itu psikopat:O /untung gabisa/ /plak/ yaudah deh langsung cerita yook~ mian juga kalo jelekT_T kritik&saran pls;)

-oOo-

“Omma, kapan kau bangun? Aku merindukanmu, dan well Krystal pun juga pastinya. Semoga lekas sembuh, saranghaeyo, Omma. Saengil chukkae” Jessica mengecup kening ibunya hari itu.

Krystal masih terlelap di sofa rumah sakit. Jessica menghela napas pelan, lalu berkutat dengan handphone-nya dan tak berapa lama kemudian ia memasang headset-nya dan bersenandung. “Onni, kenapa kau tidak membangunkanku?” tanya Krystal seraya mengucek-ucek matanya. “Kau yang mengajakku berlomba. Bukankah kau mengatakan ‘siapa cepat ia mengucapkan’?”

Krystal mendengus. “Iya, iya.” Jessica memasang headset-nya kembali. “Cepat ucapkan ulangtahun.” …sebelum terlambat.

“Ya, Onni! Apa-apaan sih, Omma itu masih punya umur panjang!” teriak Krystal yang membuat Jessica tersetak. Lalu ia teringat, Krystal sudah mengetahuinya luar dalam. “Omma, aku rindu padamu! Kapan kau bangun, huh? Walaupun Onni sudah mengucapkannya duluan, aku yakin Onni mendoakanmu yang baik baik. Ah, aku rindu masakan Omma, aku dan Onni sudah sangat merepotkan Victoria Onni—ia baik sekali setiap hari ia datang ke rumah.” Jessica tersadar, ia sudah banyak merepotkan Victoria—salah satu teman Krystal.

“Omma cepat sembuh! Ku harap kita bisa bermain-main seperti dulu. Saranghaeyo, saengil chukkae!” Krystal mencium kening Nona Jung. Jessica sedikit mencibir, panjang sekali doa-nya? Namun Jessica hanya menngangkat bahu. “Waeyo, Onni?”

“Aniyo.” Ucap Jessica ketus. “Ya, Onni kau lagi dapet?” Jessica mengangguk, dan Krystal hanya tersenyum. “Aku beli sarapan dulu.” Krystal merapikan rambutnya bersiap untuk turun ke lantai basement. “Tidak usah. Aku sudah beli.” Jessica menunjuk box makanan yang masih diplastik. “Tumben…” merasa salah ucap, Krystal menutup mulutnya. “Kamu kira kamu doang yang bisa beli sarapan? Beli sarapan itu gampang.”

“Tapi di Indonesia, banyak yang susah lho makan beginian,” ucap Krystal memberi simpati kepada Indonesia, negeri yang sedang demam K-Pop. “so?” Krystal mengangkat bahu, lalu memakan sarapannya dengan lahap. “Sica-ya,” ucap Nona Jung yang membuat kedua kakak-beradik ini bangkit dari tempatnya dan mendekati Nona Jung. “Omma?”

“Saengil chukkae, Omma.” Ucap Sica dan Krystal berbarengan. Lalu mereka berdua mencium pipi Nona Jung. “Omma, kau baru sadar sekarang, kan? Mau sarapan?” tanya Krystal dan mereka berdua—Krystal dan Nona Jung—mulai berbincang.

Jessica duduk di tempatnya semula, tidak mau mencampuri adik-ibunya itu. Ia sudah terlalu biasa dengan situasi ini. Dimana ibunya hanya memperhatikan Krystal, apalagi ia sedang badmood. “Onni, sudah makan?”

before you wake up.” Krystal hanya ber-oh ria. Jessica kembali berkutat dengan handphone-nya, lalu memasang headset-nya lagi. Ia merasa aneh dengan perasaannya. Jessica menggeleng pelan, apa yang ku pikirkan? “Onni? Ada apa?”

Kenapa aku berharap Omma cepat cepat mati?

-oOo-

5 months later…

“Otaknya sudah mati, namun jantungnya masih berdetak. Bagaimana jika jantungnya didonorkan kepada yang lebih membutuhkan?” saran dokter yang dengan cepat diberi anggukan oleh Jessica, lalu melirik ke arah Krystal. “kalau itu jalan terbaiknya… yah mau bagaimana lagi?”

“bisa ku operasi sekarang?” tanya dokter itu. “baiklah, jika orang itu benar benar membutuhkan jantung Omma.”

“tentu. Kalau begitu saya permisi” pamit dokter itu. “ya, uljjima” tenang Jessica ke Krystal. “Omma tidak bisa ditolong, ya…?” Jessica memeluk Krystal lalu mengusap-usap rambutnya. “bukan begitu. Kau dengar sendiri, kan? Kata dokter otak Omma sudah mati, ia tidak bisa berkomunikasi dengan kita lagi. Sudahlah, tidak apa apa. Die is easier and peacefully. Life is harder *diambil dari Twilight*”

“Onni bicara apa? Sudahlah, tidak usah dibahas.” Ucap Krystal lalu keluar ruangan dan meninggalkan Jessica sendirian.

Kenapa aku senang dengan kematian Omma?

-oOo-

HARI pemakaman. Semua kerabat Jessica, Krystal, Tuan Jung, Nona Jung, semuanya hadir. Namun, ada seseorang yang menarik perhatian Jessica. “kau tau siapa dia?” tanya Jessica kepada Krystal yang sedang bebincang-bincang dengan teman temannya. “molla, ku kira dia temanmu.”

Dengan tekad, Jessica mendekati pria itu. “annyeong, Jessica Jung imnida, nuguseyo?” pria itu—yang sedang berbincang bincang dengan teman bisnis mungkin—menoleh, “ah, annyeonghaseyo, Lee Donghae imnida. Kau anak Jung Ahjumma?”

“N- ne. kau kenal dengan ibuku?” tanya Jessica namun di dalam hati ia merutuki ibunya, kenapa Omma tidak mengenalkanku dengan orang setampan ini. “ah, ne. dia sempat menjadi perawatku waktu kecil, jadi ia sudah ku anggap Omma.”

“Waktu Appa-ku tidak ada, Omma sibuk dengan pekerjaannya, Omma-mu lah yang merawatku.” Pria yang bernama Donghae itu tersenyum. Jessica tidak akan mati bosan memandang wajahnya. “kalau begitu, rumahmu pasti dekat dengan rumahku? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?”

“ah, aku terlalu sibuk bekerja. jadi aku tidak sempat berbaur dengan tetangga tetangga.” Donghae tersenyum yang lagi lagi membuat Jessica menatapnya berlebihan. “mian, ada yang salah denganku?”

“aniyo.” Ucap Jessica setelah sadar apa yang ia lakukan. “kau sendiri? Bekerja di mana?” tanya Donghae. “aku? Designer tetap di salah satu girlband.” Donghae mengangguk. “itu adikmu?” tunjuk Donghae. Jessica menoleh, lalu menatap Donghae lagi. “ya, cantik  ya?”

“ahaha, menurutku semua wanita di dunia cantik.” Menggombal pun pintar! Seru Jessica dalam hati. “oh ya? Tetapi adakah wanita yang paling cantik di dunia menurutmu?” Donghae cengengesan. “Omma-ku.”

Rasanya Jessica ingin pingsan saja.

-oOo-

HAMPIR semua tamu sudah pulang. Jessica, Krystal, dan Donghae duduk di taman. “aku lupa kalau kita bertiga teman kecil, untung Krystal mengingatkan.” Ucap Donghae seraya mengingat ingat kejadian tadi.

Donghae Oppa?” tanya Krystal. “kau mengenalnya? Katanya tidak!” ucap Jessica. “kan aku liatnya dari jauh. Itu kan anak yang sering dirawat Omma waktu kita kecil, sering dibawa ke rumah, Onni lupa?”

“hah? Tadi dia ngobrol ngobrol sama aku, nggak ada tanda-tanda dia mengenalku tuh. Bahkan ia tidak mengenalmu.” Jessica bingung. “aduh, dia sering minjem barbie buat ditumpangin ke mobil mobilannya!” kemudian Jessica teringat sesuatu. “dia si fishy itu?!”

“iya…” Krystal menepuk dahinya pelan. “sini sini, aku bakal ngingetin kalian, kalo kita bertiga teman kecil.

“kau berubah banyak sekali, Sica, Krys?” tanya Donghae. “yah, kau juga.” Donghae tersenyum. “aku memutuskan menjadi businessmen. Melencong dari cita citaku waktu kecil.”

“SANGAT melencong.” Cibir Krystal yang membuat mereka bertiga terbahak-bahak. “sudah sore. Aku harus pulang.”

“Kalau begitu, titip salam untuk Lee Ahjumma.” Ucap Jessica seraya melambai lambaikan tangannya. “sepertinya kau menyukai Donghae Oppa.”

“Sepertinya, iya.” Jessica tersenyum sendiri.

Pantas aku senang Omma meninggal. Karena aku bisa menemukan pria tertampan yang pernah ku temui.

-oOo-

“Maaf, Tuan Donghae tidak ada di rumah,” ucap seorang Ahjumma—yang Jessica tebak  pembantunya. “ah, oke, gwenchana. Kalau Donghae pulang, telpon aku, oke?” Ahjumma itu hanya mengangkat jempolnya *kayak di MV I’ll Be Back /eh*

“Bagaimana ya, caranya agar bisa bertemu dengan Donghae? Aku rindu dengannya.” Jessica terlihat berpikir. Lalu ia menemukan ide gila yang kakak manapun tidak akan melakukannya. Jessica mengeluarkan senyumnya, “tenang saja, Lee Donghae. Sebentar lagi kau akan bertemu denganku lagi. Dan aku akan mencegahmu untuk keluar negeri, kita saling mencintai, menikah, dan hidup bahagia.”

Jessica mampir disebuah supermarket. “Vodka?” pelayan menunjuk temapt dimana vodka berada. Entahlah, Jessica lebih menyukai vodka daripada soju. Jessica membayar vodka tersebut. “uangnya pas ya, terimakasih.” *ketauan author sering ke supermarket-_-*

-oOo-

“Onni? Itu apa?” tanya Krystal. “Vodka.” Jawab Jessica pendek. Krystal melanjutkan membaca majalah. Sedangkan Jessica mengambil gelas lalu menuangkan vodka itu ke gelas. Kalau sudah tidak sadar begini, Jessica bisa dengan tidak ada rasa iba menjalankan rencananya. Jessica sudah mulai kehilangan kesadarannya.

“Krystal-ya” panggil Jessica. Krystal –yang sebenarnya takut—menengok. “Wae?”

“Kemari,” lambai Jessica. Krystal menaruh majalahnya di  rak, kesempatan itu dipakai Jessica untuk mengambil pisau dan menyembunyikannya di balik tubuhnya. “Onni, kau sudah mabuk. Ayo ke kamar.”

“Ani.. aku tidak mabuk.” Dan dengan segera Jessica mengeluarkan pisaunya dari belakang tubuhnya. “a- apa yang Onni lakukan?” Krystal mundur beberapa langkah lalu menyandung sesuatu dan ia terjatuh. Jessica mendekat, dan membisikkan sesuatu. “selamat tinggal, adikku tersayang.”

Setelah itu Jessica menancapkan pisau ke jantung Krystal yang membuat Krystal menjerit kesakitan. Lalu Jessica menyeretnya ke perutnya—semua isi perut Krystal keluar. *author kok jijik ya /salahmu buat ff beginian!/ sekali sekali u,u*

Jessica tersenyum puas, besok, ia pasti akan bertemu Donghae.

-oOo-

HARI pemakaman lagi. “kasihan sekali ya Jessica itu, sudah ditinggal ibunya, sekarang ditinggal adiknya. Dibunuh, lagi.” Kiranya begitulah kata orang orang yang didengar oleh Jessica. Jessica menghampiri Donghae. “baru beberapa bulan bertemu, ia sudah tiada.”

“Tidak hanya kau yang sedih, aku juga.” Ucap Jessica—pura pura—sedih. “ya, aku mengerti perasaanmu ditinggalkan seseorang.”

­Tidak, kau tidak mengerti. Rasanya… bahagia. Jessica mengajak Donghae duduk di taman, menceritakan semuanya. Setelah mendengar semuanya, Donghae bangkit dari tempat duduknya, lalu mundur beberapa langkah. “ka- kau gila! Kau membunuh adikmu sendiri?!”

“Ya, aku gila. Gila karenamu, Lee Donghae.”

_____________________

fin

maaf kalo alurnya kecepeten, maaf juga kalo nggak mutu ._.v