Author  : Stephanie Naomi [@msste94]

Title       : Sorry, I Can’t [Part 1]

Length  : Two Shoots

Genre   : Romance-Sad

Casts     : Lee Jieun (IU); Lee Seunghyun (Seungri, Big Bang); Park Sanghyun (Thunder, MBLAQ), Lee Jowoon (OC), Choi Nara (OC)

***

Jieun terus berlari menyusuri gang yang sempit untuk menghindari kedua lelaki asing yang tidak dikenalnya. Pelipisnya berkeringat, tangannya terus mengepal mencoba mengumpulkan tenaga yang tersisa untuk secepatnya sampai ditempat yang aman. Tetapi, sepertinya harapan Jieun tidak terkabul, ia hanya menemukan jalan buntu. Ia berhenti berlari, mengatur nafasnya, mencoba untuk berani menghadapi kedua pria itu. Sekarang kedua pria asing itu sudah berdiri dihadapannya, dengan senyuman puas.

 

“Kau tidak akan bisa lari lagi, gadis cantik..”

 

“Ya, sebaiknya kau bersenang-senang dengan kami saja.”

 

Kedua pria itu berjalan perlahan mendekati Jieun, Jieun merapatkan tubuhnya ke dinding dan memejamkan mata, berharap seseorang akan datang menolongnya…

 

BRAK!

Yah! Jieun-ah! Jieun-ah!” terdengar suara berat memanggil nama Jieun. Jieun membuka matanya perlahan lalu menyadari seseorang yang sangat ia cintai berada dihadapannya, ia langsung memeluk orang itu.

Appa!” Jieun memeluk ayahnya sangat kuat.

“Kau tidur sampai jatuh, apakah kau mimpi buruk?” tanya ayahnya setelah Jieun melepaskan pelukannya. Jieun hanya mengangguk.

“Sebaiknya kau mandi lalu sarapan dan pergi ke sekolah. Lupakan mimpi itu, araesso?” Jowoon membantu putrinya berdiri, lalu ia mengusap pelan kepala Jieun dan mencium keningnya.

Jieun mengangguk pelan sebelum akhirnya ia menjalankan rutinitasnya sehari-hari.

***

Jieun hampir sampai dikelasnya, tetapi seorang lelaki memanggilnya sambil melambaikan tangannya, membuat ia berbalik arah berjalan menuju lelaki itu.

Waeyo, oppa?” tanya Jieun kepada lelaki itu saat ia sudah berdiri dihadapannya. Lelaki itu tidak langsung menjawab, ia hanya tersenyum lalu mengeluarkan sebatang coklat dari saku celana seragam sekolahnya.

“Untuk mengembalikan semangatmu.” laki-laki itu angkat bicara setelah Jieun menerima coklat itu.

Gomawo, oppa! Kau memang namja yang paling pengertian.” puji Jieun, membuat lelaki itu tersenyum lebar lalu ia mengusap kepala Jieun hingga poni Jieun sedikit berantakan.

“Siapa lagi yang mengerti dirimu selain aku dan ayahmu? Coba beritahu aku.” balas lelaki itu. Jieun hanya tersenyum sambil membenarkan poninya lalu ia mulai membuka bungkusan coklat itu dan memakannya perlahan. Lelaki itu merangkul bahu Jieun dan mengajaknya berjalan.

Oppa, aku mimpi buruk.” Jieun memutuskan untuk menceritakan mimpinya semalam. Ia menceritakan dengan detail dan lelaki itu hanya tersenyum. Jieun menghentikan langkahnya dan menatap lelaki itu dengan tatapan heran, “Kenapa kau hanya tersenyum? Ini bukan cerita lucu, oppa. Aku takut kalau itu benar-benar terjadi.”

“Jieun-ah, selama aku ada disampingmu, aku pastikan tidak akan ada seorangpun yang berani menyentuhmu.” ucap lelaki itu, membuat Jieun benar-benar merasa beruntung memiliki seorang ‘kakak’ bernama Sanghyun.

Tanpa mereka sadari, mereka terus berjalan menuju kelas Jieun dengan sepasang mata mengikuti langkah mereka. Lalu, pemilik sepasang mata itu hanya tertunduk, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya.

***

Suatu malam di restoran mewah di pusat kota Seoul…

Mwo? Appa, kau tidak berbohong kan?” Jieun bertanya dengan tatapan dua kali lebih serius. Ayahnya mengangguk sambil tersenyum. Jieun terdiam, tidak membalas senyuman ayahnya, membuat Jowoon merubah ekspresinya.

“Jieun-ah? Apakah kau tidak setuju?” tanya Jowoon dengan ragu.

Aniyo appa, aku hanya sedikit kesal karena kau tidak pernah cerita padaku tentang calon ibuku. Apakah ia sudah memiliki anak?” Jieun buru-buru menutup perasaan ragu ayahnya. Jowoon menghela nafas lega sebelum menjawab pertanyaan putrinya, “Ne, satu anak laki-laki dan ia satu sekolah denganmu.”

“Hm? Siapa dia?” Jieun bertanya penasaran.

“Nanti kau juga akan tahu, kita tunggu saja. Sebentar lagi mereka akan datang.”

***

Eomma, sebenarnya untuk apa kita kesini? Kita tidak perlu makan malam di restoran mewah, eomma, aku lebih menyukai masakkanmu.” Seunghyun tidak berhenti berceloteh sementara ibunya hanya menjawab ala kadarnya, membuat Seunghyun sedikit kesal.

Annyonghaseyo, apakah anda sudah pesan tempat? Atas nama siapa?” seorang pelayan menyambut Seunghyun dan ibunya begitu mereka keluar dari elevator yang membawa mereka ke lantai 25 sebuah hotel bintang lima di Seoul.

“Mr. Lee Jowoon.” jawab Choi Nara dengan tegas. Pelayan itu langsung mengantar mereka dekat sebuah meja yang terletak di sisi jendela dan sudah berpenghuni.

“Silahkan nyonya, disebelah sana. Mr. Jowoon sudah datang terlebih dahulu.” ucap pelayan itu lalu ia pergi meninggalkan Nara dan Seunghyun.

Eomma, siapa mereka?” Seunghyun kembali bertanya, namun Nara hanya membalas pertanyaan Seunghyun dengan menarik tangan putranya dan berjalan menuju meja itu.

Jowoon menyadari kedatangan tamu undangannya langsung berdiri dan membungkuk memberi salam. Jieun mengikuti apa yang dilakukan ayahnya.

“Ini putrimu, Jowoon ssi?” tanya Nara disambut dengan anggukan dari Jowoon, “Ia terlihat jauh lebih cantik.” sambung Nara. Jieun hanya tersenyum lalu ia memperkenalkan dirinya, “Annyonghaseyo ahjumma, Lee Jieun imnida.”

“Ah, Jieun… Ayo Seunghyun, perkenalkan dirimu pada mereka.” Nara mengalihkan pandangannya kepada putranya. Semua memperhatikan Seunghyun, menunggu ia memperkenalkan dirinya tetapi Seunghyun seperti tidak menyadari ucapan ibunya.

“Seunghyun-ah!” Nara kembali membuka suara sambil menyenggol pelan lengan Seunghyun.

“Hah? Ne, eomma?” tanya Seunghyun polos membuat Jieun dan Jowoon tersenyum.

“Ayo perkenalkan dirimu.”

“Oh, mm, annyonghaseyo, Lee Seunghyun imnida.” Seunghyun memperkenalkan dirinya dengan singkat seraya membungkukkan badannya.

“Duduklah, sebentar lagi makan malam kita akan tiba.” ucap Jowoon mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk. Nara duduk disebelah Jowoon sementara Seunghyun duduk disebelah Jieun. Sesaat keempat orang itu sama-sama membisu, sampai akhirnya Jowoon kembali angkat bicara, “Jieun-ah, kenapa kau tidak mengobrol dengan Seunghyun? Bukankah kalian saling kenal?”

Jieun terlihat salah tingkah, “Mmm, memang kami saling kenal, tapi kami jarang bertegur sapa.” Jieun menjawab pertanyaan Jowoon dengan jujur.

“Kalau begitu, kalian harus sering mengobrol, karena sebentar lagi Seunghyun akan menjadi kakakmu.”

Ucapan Jowoon kali ini hanya membuat Jieun tersipu sementara Seunghyun memasang raut wajah kaget.

***

3 hari setelah pernikahan Jowoon dan Nara…

Pagi hari ini terasa sungguh berbeda. Biasanya, Jieun hanya memakan roti buatan ayahnya, namun sekarang, Nara sudah menyiapkan sup hangat untuk sarapan.

“Ayo Jieun-ah, kau harus makan yang banyak.” ucap Nara pada putri tirinya begitu Jieun datang menghampiri meja makan yang sudah ramai. Seunghyun sedang menyantap sarapannya sementara Jowoon sibuk dengan tablet mini miliknya.

Jieun hanya mengangguk lalu ia duduk disebelah Seunghyun dan mulai menyantap sarapannya. 15 menit kemudian, keduanya sudah berpamit untuk pergi ke sekolah. Seunghyun memanaskan motor miliknya, sementara Jieun tanpa bersuara ia langsung keluar melewati pintu pagar rumahnya. Jieun terus berjalan sampai tiba-tiba seseorang dari gang sempit dekat rumahnya menyapa dirinya.

Morning, Jieun-ah…”

Jieun melihat ke arah suara itu dan mendapatkan Sanghyun yang sedang bersandar di dinding gang sempit tersebut.

Oppa!” panggil Jieun senang. Sanghyun tersenyum lalu ia merangkul bahu Jieun dan mengajaknya berjalan bersama.

“Kau terlihat sangat senang, Jieun-ah…”

Ne, oppa.” balas Jieun dengan pipinya sedikit memerah.

“Kenapa? Kau mau ceritakan padaku?” Sanghyun seperti biasa mulai menawarkan dirinya untuk menjadi tempat curhat Jieun. Jieun mengangguk bersemangat dan mulai menceritakan alasan mengapa ia merasa bahagia.

MWO?! Jinjjayo, Jieun-ah?” pekik Sanghyun dengan ekspresi kaget.

“Benar, oppa. Ayahku telah menikah dengan ibu dari Seunghyun oppa hari Jumat kemarin. Maaf aku tidak bisa mengundangmu, tapi aku sangat senang karena… Setidaknya aku bisa lebih dekat dengan dia…” balas Jieun dengan nada tersipu malu. Sanghyun hanya tersenyum tipis.

“Ya… Ya… Ya… Baiklah. Sepertinya aku sudah tidak dibutuhkan lagi…” balas Sanghyun lalu ia melepas rangkulannya dari bahu Jieun dan berjalan cepat. Jieun berhenti sesaat lalu ia mengejar Sanghyun.

Yah! Oppa! Tunggu aku!!” teriak Jieun karena jaraknya dengan Sanghyun yang semakin menjauh. Jieun akhirnya berlari kecil sampai ia menggapai lengan Sanghyun dan menghentikan langkah Sanghyun.

Oppa, kau marah padaku? Apakah aku salah bicara?” tanya Jieun dengan ekspresi bingung dan merasa bersalah. Sanghyun lagi-lagi mengeluarkan senyuman manisnya, “Aniyo… Ayo kita pergi, jangan sampai kita telat.” balas Sanghyun mengalihkan pembicaraan sambil menggenggam pergelangan tangan Jieun dan menariknya untuk berlari kecil bersama.

Sementara itu Seunghyun hanya menyaksikan dari kejauhan, bagaimana Jieun dan Sanghyun bercanda dan mengobrol, sebelum akhirnya ia kembali menutup kaca helm nya yang gelap dan mengendarai motornya menuju sekolahnya.

***

Beberapa hari kemudian, disebuah rumah sakit di kota Seoul…

“Bagaimana hasilnya, dok?”

“Hmm… Berat untuk mengatakan langsung hal ini padamu, tapi karena kau datang sendiri, jadi mau tidak mau harus kukatakan padamu… Kau mengidap kanker otak.” jawab Dokter itu seraya menyerahkan map berwarna putih, hasil dari pemeriksaan pasiennya. Pasien itu menerima hasil pemeriksaannya tanpa ekspresi.

“Selanjutnya, pilihanmu, apakah kau akan mengikuti pengobatan yang saya sarankan atau…” lanjut Dokter itu namun ucapannya terputus, “Akan kuputuskan nanti, dok. Sampai saat ini aku tidak bisa memutuskan.”

“Baiklah, tapi semakin cepat semakin baik.” balas Dokter itu sebelum akhirnya sang Pasien meninggalkan ruangannya.

***

Sudah  1 bulan setelah pernikahan Jowoon dan Nara, mereka pun memutuskan untuk berbulan madu pada akhir pekan selama 3 hari dan meninggalkan kedua anak mereka dirumah.

“Hati-hati yah… Jaga diri kalian baik-baik… Selamat bersenang-senang!” ucap Jieun didepan pintu pagar rumahnya sambil melambaikan tangan ke jendela kaca mobil yang terbuka.

“Kalian berdua yang harus menjaga diri dengan baik. Seunghyun-ah, jaga adikmu, jangan macam-macam… Araesso?” balas Nara berbicara sekaligus kepada Jieun dan Seunghyun. Seunghyun mengiyakan dengan bahasa tubuhnya.

“Baiklah, kami pergi dulu ya…” Jowoon pun berpamitan dan beberapa menit kemudian mobil yang membawa Jowoon dan Nara sudah melaju kesuatu tempat yang cukup jauh dari pusat kota Seoul. Jieun masih melambaikan tangannya sampai mobil tersebut hilang dari pandangannya, sementara Seunghyun sudah berjalan terlebih dahulu masuk kedalam rumahnya.

Oppa.” panggil Jieun singkat sebelum Seunghyun benar-benar masuk kedalam rumah. Seunghyun membalikkan badannya menunggu kata-kata lanjutan dari Jieun.

“Mmm… Malam ini kita akan makan apa? Apa kau mau aku masakkan sesuatu? Atau kita pesan fastfood saja?” sambung Jieun bertanya panjang lebar, namun Seunghyun memotongnya, “Lihat saja nanti.” lalu ia pun masuk kedalam rumah, lebih tepatnya lagi, kedalam kamarnya.

Jieun menghela nafas sesaat dan mencoba untuk dapat mengobrol dengan Seunghyun yang tertutup padanya. Ia pun masuk kedalam rumahnya dengan langkah gontai.

Didalam kamar, Seunghyun berkonsentrasi penuh pada laptop nya. Namun tiba-tiba ia menghentikan aktivitasnya dan memanggil Jieun yang sedang duduk sendiri menonton tv diruang keluarga.

“Jieun-ah.” panggil Seunghyun dengan sedikit gugup. Jieun memutar sedikit kepalanya kesamping, mendapatkan Seunghyun berdiri didepan pintu kamar yang dekat dengan letak televisi.

Ne?”

“Apakah besok kau sibuk?” Seunghyun bertanya langsung pada tujuannya.

“Hmm… Aniyo. Waeyo, oppa?” Jieun ganti bertanya pada Seunghyun.

“Kalau kau mau, besok aku ingin mengajakmu menonton.”

“Menonton? Tentu saja aku mau!” Jieun secara tidak langsung mengiyakan ajakkan dari Seunghyun.

“Baiklah, besok kita berangkat jam 9.” Seunghyun langsung memutuskan waktu dengan raut wajah yang lebih bersemangat. Jieun mengangguk-angguk lalu Seunghyun pun kembali masuk kedalam kamarnya. Tidak lama kemudian, giliran Jieun yang memanggil Seunghyun didepan pintu kamar kakak tirinya.

Oppa…”

Waeyo? Jangan masuk.”

Ani~, aku hanya ingin menawarkan diri untuk memasak makan malam. Kau mau kubuatkan apa?”

Tidak ada jawaban dari Seunghyun. Jieun terus menunggu namun tiba-tiba Seunghyun keluar dari kamarnya.

“Kita masak bersama saja.” jawab Seunghyun disambut dengan senyuman lebar dari Jieun. Mereka berdua pun langsung sibuk dengan tugas mereka masing-masing didapur.

***

Keesokkan harinya…

Jam 9 tepat Jieun sudah berpakaian dengan rapi. Gaun santai dengan panjang selutut dan berwarna peach dipadukan dengan flat shoes dan juga tas selempang berwarna setingkat lebih tua dari warna bajunya akan menemani dirinya selama seharian penuh bersama Seunghyun.

Sementara itu Seunghyun sendiri memakai kaus berwarna biru muda dan juga celana jeans biru tua yang sangat casual dan cocok dengan dirinya.

“Kau sudah siap, Jieun-ah?” tanya Seungri sambil menuruni tangga. Jieun sudah berdiri didekat pintu ruang tamu mereka, hanya mengangguk dan selang beberapa menit kemudian, mereka berdua langsung pergi menuju bioskop.

“Kau mau nonton apa?” tanya Seungri saat mereka sudah berdiri didepan loket untuk membeli tiket.

“Terserah, aku suka semua film. Tapi, tidak terlalu suka film horror.” jawab Jieun jujur dan membuat Seunghyun mengeluarkan senyum manisnya.

“Baiklah, kalau begitu kita tidak akan menonton film horror. Bagaimana kalau film itu saja?” tanya Seunghyun seraya menunjuk satu poster film bergenre komedi-romantis.

“Oke!” jawab Jieun singkat.

Mereka pun menghabiskan waktu bersama, mulai dari menonton film, lalu berjalan-jalan disekitar pusat perbelanjaan sampai akhirnya makan siang bersama disalah satu resto sederhana tidak jauh dari pusat perbelanjaan.

“Kau merasa lelah?” tanya Seunghyun saat mereka masih menunggu pesanan mereka datang.

“Sedikit… Tapi tidak terasa karena aku sangat senang.” jawab Jieun dengan ekspresi bahagianya. “Bagaimana denganmu, oppa?”

“Aku? Sama seperti kau. Lelah tapi aku sangat senang.” jawab Seunghyun tidak jauh dari jawaban Jieun. Lalu keduanya kembali terdiam sebelum akhirnya Seunghyun membuka suara, “Bagaimana hubungan mu dengan Sanghyun?”

“Sanghyun oppa? Ani~… Kami tidak ada hubungan apapun. Aku dekat dengannya karena kami sudah saling kenal sejak aku kelas 1 SD. Karena itulah aku dan Sanghyun oppa sudah seperti kakak dan adik.”

Seunghyun hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Jieun.

“Setidaknya, kau masih memiliki kesempatan… Walaupun hanya sebentar.”

 

***

Setelah sekian lama vakum ngepost disini, akhirnya kembali lagi dengan cerita lain ^^ sebenarnya cerita ini buat lomba tapi berhubung kalah… (hiks TT___TT) jadi cerita ini aku post disini aja ^^ cerita ini murni cerita aku sendiri, jadi mungkin kalau menemukan yang mirip, hanya kebetulan aja🙂