Title      : Ma Victoire (Part 5)

Length  : Continue (4177 words)

Genre   : Romantic, Friendship, Sad, Comedy (fail)

Cast(s)  : Lee Seung Ri (BigBang), Park Lee Bom (2NE1), Choi Dong Wook (Se7en), Park Han Byul

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN ©ALL RIGHT RESERVED
ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE! NO OTHER AUTHORS! PLEASE DON’T STEAL, COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM AND HOTLINK!
DON’T PLAGIARIZE!

KEEP COMMENT AND NO SILENT READERS HERE PLEASE!

Author’s note :

Err… Annyeong. Udah lama juga yaa saya ga ngurusin ini FF. *besihin sarang laba-laba*

Pertama-tama, saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya karena saya lemooooott banget nyelesaiin. Blame me for my examsssss, skripsh*t, dan unhealthy body. Iyee, saking sibuknya saya jadi rada semi hiatus walau benernya nggak berniat. Huhu…

Yang mungkin lupa, bisa langsung ceki ke : (Proloque) (Part 1) (Part 2) (Part 3) (Part 4)

Dan ada beberapa part yang saya kasih password, bisa langsung minta ke @adiezrindra untuk pw nya yaaahh…😉

By the way, temen author saya yang keren sekali, ShiraeMizuka, ngebikinin saya teaser video keren lhooo… ><
ya ampun, saya speechless. Check this!

Dan ini FF tidak berbeta, maka maafkan saya untuk banyaknya typo. (_ _)

happy enjoyiingg~~!

 

___________________________________________

 .

It is hard to tell your mind to stop loving person when your heart continues to.

 .

Sepasang telapak tangan menyusup dari belakang kepala seorang lelaki dan menutup sepasang matanya. Terkejut sejenak dalam warna hitam yang menekannya, sebelum sebuah suara membawa senyum di bibirnya.

“Tebak… aku siapa?”

Suara melengking bak melodi itu seketika membawa rasa hangat untuk sekujur tubuhnya. Bagaimana dia selalu ingin menjadikannya lantunan pengantar tidurnya. “Pasti ini ahjumma yang gendut, lalu rambut acak-acakan, belum mandi… terus… rambutnya dipenuhi ular berbisa…–”

“Yaa!! Oppa! Memangnya aku medusa?! Seriuuusss…” suara yang sama meningkat beberapa tangga nada, namun tetap saja, masih merdu di telinganya.

Lelaki itu tergelak, “Oke oke. Ini pasti my spring lady, Park Bom agasshi…”

Jemari lentik yang membutakan mata itu perlahan menjauh. Ketika sepasang kelopaknya berpisah, wanita dengan tubuh biola menatapnya dengan kesal, lengkap dengan bibir tipis yang mengerucut. Bahkan dalam ekspresi seperti itu, V-line wajahnya masih gagal menyembunyikan kesempurnaannya. Dia tetap saja menawan dengan caranya sendiri, mengunci lelaki itu untuk tetap setia menatapnya. ”Jadi, aku ini ahjumma gendut dengan rambut acak-acakan?”

Sepasang bibir itu mengulas tawa renyah yang sama, sebelum tangannya meraih pinggang Bom dan menariknya mendekat. Rengkuhan yang melingkari tubuh wanita itu menghapus jarak diantara keduanya, “Aku kan hanya bercanda. Mana mungkin seorang Barbie punya tubuh gendut?”

“Huuu… gotjimal! Nappeun namja~!”

“Hahaha… Nappeun? Jinja-yo? Tidak masalah, berarti kita seperti ‘Beauty and the Beast’? Bagaimana?”

Bom hanya menaikkan satu sudut bibirnya, kemudian duduk di pangkuan lelaki itu. “Oppaaaa…” ><

“Humm…?”

“Pekerjaanmu masih banyak? Aku ingin mengajakmu ke taman…”

“Shireo, Bommie…”

“Wae-yo?”

“Untuk apa aku ke taman, kalau aku sudah melihat bunga terindah di hadapanku?”

Bom memutar bola matanya dan tertawa pelan, “Dong Wook oppa! You’re so cheesy…”

Dong Wook hanya tersenyum pelan. Tentu saja dia tidak perlu menjawab ucapan wanita itu. Tangan kanannya menyentuh pipi halus Bom seraya menatapnya intensif, “Aku hanya berkata jujur, My Spring Lady…”

Dua pasang bibir bersentuhan, lembut. Satu perasaan yang sama dalam dua hati yang berbeda, melebur, mengucap tanpa kata. Banyak hal yang gagal diungkapkan dengan uraian kata. Bagaimana rasa yang membuncah tak cukup hanya disimpan dalam jiwa.

“Saranghanta, Bommie…”

“Na ddo, oppa…”

……

Kedua matanya seketika terbuka lebar. Debar jantungnya terpacu mendekati fibrilasi, sesaat lagi dentum tak berirama itu bisa saja mengantarnya pada kematian. Keringat menguar dari sekujur tubuhnya, sama cepatnya dengan nafas yang pendek dan berkejaran.

Mimpi itu lagi.

Ah, bukan. Mimpinya selalu berbeda, namun selalu dengan wanita yang sama.

Tangannya terangkat menutup matanya, seraya dadanya perlahan teratur mengambil nafas. Sampai kapan dia harus terus memimpikan Park Bom, kemudian tersadar diikuti dengan rasa bersalah yang menumpuk?

Dong Wook beranjak dari ranjangnya, melangkah menuju dapurdan berhenti di depan lemari es. Ah, lebih tepatnya terhenti. Foto mungil yang dipajangnya di pintu lemari itu seketika tertangkap matanya dengan mudah. Oke, masih dengan orang yang sama. Seketika ada rasa teremas di dada kirinya, sakit namun tak menyakiti. Sebaliknya, dia seakan telah terbiasa.

‘Oh Dong Wook, come on. Move on from this Spring Lady…’

Dia mengambil satu botol dari dalam lemari es ketika ada sesuatu yag berdering. Setelah air dalam botol itu berpindah tempat dalam gelas, dia menyambar ponsel di mejanya dan membaca pesan-pesan yang masuk.

From : Seung Hyun

Just for information, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Mampirlah ke apartemen. Mungkin kamu ingin bertemu calon adik iparmu, Chaerin?

Wow. Akhirnya mereka bersatu juga. Ayahnya pun juga seakan mengharapkan hal yang sama sejak lama, mengingat memang Chaerin dari keluarga yang cukup berada di Korea. Walau dia tahu, dongsaeng-nya itu mencintai Chaerin bukan karena latar yang membelakanginya.

To : Seung Hyun

So, she is officially yours now?
Nanti malam kita rayakan. Siapkan makanan enak untukku. :9

Dengan malas dia membuka pesan-pesan yang lain. Beberapa dari bawahannya, staf, mitra kerja. Bahkan di hari libur pun dia harus berurusan dengan urusan kantor. Rasanya dia benar-benar ingin lari dari segala rutinitas ini.

TING TONG !!

‘Nugu ?’

Dong Wook berjalan menuju pintu apartemennya seraya berharap, yang akan ditemuinya bukanlah pekerjanya atau siapapun yang akan membawa urusan pekerjaan. Oh God, ini hari minggu dan tidakkah mereka mengenal hari libur? Paling tidak untuk pagi yang menggodanya kembali bergelung di bawah selimut.

“Nuguseyo?” tanyanya bersamaan dengan tangannya yang membuka pintu. Kedua matanya terbelalak, bersamaan dengan sebuah nama yang terlepas dari bibirnya, “Byul?”

“Hey, oppa…~” wanita itu mengulas senyumannya yang paling lebar, hingga seakan bibirnya mencapai ujung telinganya.

“Kenapa—”

“Hehe… kaget ya?” tanyanya seraya masuk ke dalam apartemen Dong Wook. Matanya berputar, menyusuri setiap lekuk ruangan, setiap barang yang tertata, mengenalinya, dan merekamnya dalam ingatan, sebelum akhirnya terhenti menatap lelaki itu, “Kamu hari ini tidak perlu ke kantor kan? Ini hari Minggu, dan cuacanya cerah. Bagaimana kalau kita… keluar?”

“Keluar?” Dong Wook terbelalak sejenak, lalu dia berjalan ke kamarnya yang seolah tanpa sekat dengan ruang kerjanya. “Oh Byul, aku capek. CA.PEK. Kamu keluar saja sendiri. Kha~”

Han Byul berlari kecil mengikuti langkah panjang Dong Wook hingga kamar seraya merajuk manja, “Oh, ayolah oppaaaa… Kita belum pernah jalan-jalan kaaann?”

“Memang. Dan aku tidak ingin ada,” balas lelaki itu tak acuh. Tubuhnya kemudian meringsek ke atas ranjang dan menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuhnya. Dia menekuk tubuhnya dan menyusupkan kepalanya di balik kain tebal itu, bersiap menutup mata. Mungkin dia lupa ada wanita di sampingnya.

“Yaaa~!!” Byul menarik selimut yang membentang itu dengan kasar, menyingkap Dong Wook yang masih bergelung. “Oppaaaa! Jangan tiduuuurrr…!!”

Dong Wook beranjak duduk di ranjangnya, menatap wanita itu kesal, “Iiisshh! Memangnya kamu mau ke mana, Byul?!”

“Hummm… Molla. Bagaimana kalau taman bermain?”

“Mwoo?!” Dong Wook duduk dengan kesal di ranjangnya, menatap tajam wanita itu, seakan ingin memakannya hidup-hidup, “Kamu pergi saja sendiri! Aku mau tidur!”

“Oppaaa~~!!”

Pria itu akhirnya menghela nafas panjang, menyerah. Entahlah, sejauh dia ingat, dia tak pernah bisa menolak permintaan, bahkan dalam fase terkejamnya. Tangannya bergerak mengurai helaian rambutnya hingga berantakan, “Aiiissshhh… Okee! Tapi aku tidak mau ada permainan-permainan aneh, permintaan macam-macam, dan tidak ada tempat lain.”

Han Byul secepat mungkin menganggk dengan segala macam syarat yang keluar dari bibir lelaki itu. paling tidak dia bisa menikmati hari bersama Dong Wook yang dia cintai. Itu saja sudah lebih dari cukup, lainnya menyusul. Bibirnya mengembang, membentuk senyuman kecil.

Dong Wook sekali lagi beranjak dari kasurnya dan melangkah ke arah kamar mandi, sebelum akhirnya dia berbalik sejenak, memicing pada Byul, “Dan aku ingin cepat pulang.”

.

***

 .

“Bommie, kamu tidur di sini lagi?”

Mata Bom mengerjap sejenak, menyesuaikan dengan cahaya. “Dong Wook Oppa, kenapa bisa di sini?”

“Aku kan punya kunci cadangan. Dan kamu lagi-lagi duduk di meja kerja. Kamu harus tidur di kasur, Bommie! Kemarilah, aku akan mengangkatmu.”

Dong Wook bersiap menangkap tubuh Bom ketika Bom dengan cepat menolaknya, “Tidak perlu, oppa. Lagipula ini sudah pagi.” Wanita itu berdiri dan berjalan ke arah dapur, “Oppa sudah sarapan?”

“Sudah,” jawabnya sambil mengikuti langkah Bom.

“Gurrae? Makan apa?”

Tangannya menjulur merengkuh Bom dari belakang, meletakkan dagunya di pundak Bom. Bibirnya mengecup daun telinganya sebelum akhirnya dia dan berbisik, “Makan dirimu.”

……

Mimpi yang sama. Dia membuka matanya dan menemukan dirinya tertidur di meja kerja, sama dengan adegan mimpinya. Hanya saja, tanpa Dong Wook yang menghampirinya. Sejak malam itu, sejak seluruh hidupnya terpecah dalam jutaan partikel tak terdefinisi, mimpinya selalu sama. Setetes air mata mengalir jatuh dari sudut matanya, meresap cepat di sela rambut merahnya. Tidak, tidak sama, tapi selalu dengan orang yang sama.

Oh Bommie, apalagi yang dia inginkan dari sesuatu yang telah pupus?

Dia beranjak menuju dapur mengambil sekerat roti dan segelas air, berjalan ke arah televisi dan duduk sembarangan di hadapan kotak ajaib yang memutar entah apa. Acara berita yang tak didengarkannya, hanya sekedar mengisi keheningan yang dia benci, setidaknya akhir-akhir ini.

Nae geokjeong malgo go away…~

Telepon?

Tangannya meraba sofa dan mengambil ponselnya. Jemarinya dengan cekatan menggeser tombol virtual hijau di layar sentuhnya, “Yoboseyo?”

“Noona~”

“Seung Ri?”

“Noona, aku di depan apartemenmu. Bukakan pintuuuu…~”

Matanya seketika melirik jam dindingnya. Astaga, ini masih jam tujuh pagi dan dia sudah berada di depan pintu. Rajin sekali panda itu!

“Malas ah. Pulang sana.”

“Noonaaaaa…~”

“Hahaha… ara ara. Chakkaman, nee.”

Bom tersenyum kecil seraya membukakan pintu apartemen. Dan benar saja, panda itu benar-benar berdiri di hadapannya. “Noona, annyeooong~!”

Bom melengos, “Annyeong, Ri. Kamu lupa kalau ini hari Minggu dan ini waktunya aku bersantai? Jadi bisakah kamu memberiku satu hariiiii saja libur, tanpa gangguan darimu?”

“Astaga, noona? Aku ini perhatian padamu, dan kamu menganggapku sebagai pengganggu? Sungguh tega sekali…” Seung Ri mencengkeram dada kirinya, menampilkan ekspresi terluka. “Kalau begitu, barang ini aku bawa pulang saja…”

Seung Ri mengacungkan sekantong penuh jagung.

Dua bola mata Bom membola senang, “Aaaaa~!!! Jaguuungg!! Andwae! Andwaeee! Kamu tidak boleh pulang, Seung Ri~!”

“Tapi tadi kamu mengusirku, noona…”

“Tidak jadi! Aku tidak jadi mengusirmu!”

Seung Ri tergelak dan menyodorkan kantong itu pada Bom, “Arasseo, noona.” Bom mengambil kantong itu dan masuk dalam apartemen diikuti Seung Ri yang mengekor di belakangnya. “Noona tidak keluar rumah?”

“Ani. Memang mau ke mana?” tanyanya balik seraya memasukkan harta karunnya dalam lemari pendingin.

Pria itu bersandar di bar dapur dan berpikir sejenak, “Bagaimana kalau ke taman bermain?”

“Huh?!”

.

***

.

Bom POV

‘Waahh… yeppundae…’

‘Kyeopta…’

Lelaki di sampingku berdesis tanpa suara dengan cengiran khasnya. Sepasang matanya berbinar bahagia yang bergeliat menelisik setiap lekuk tubuh gadis yang berpapasan di depannya. Sudutnya terus menuntut untuk menikmati semuanya hingga habis dari pandangannya. Ketika sudah, maka dia akan beralih dengan objek yang lain. Heran, apa matanya bisa berputar 360 derajat?

Lihat lihat! Dia masih melihat dada gadis dengan tampang khas ulzzang itu. DADA! Astagaaa…!!

Tanpa sadar, aku sudah mengerucutkan bibirku dengan sebal. Mata dengan sentuhan eyeliner kebanggaanku menyipit tajam, seakan  tatapan saja mampu mengiris playboy mata ke ranjang itu hingga potongan setipis helaian kertas buram. Jika saja helai rambut merahku yang menjuntai hingga pinggang dapat mempresentasikan betapa kesalnya aku sekarang, mungkin aku sudah otomatis berubah menjadi medusa yang  siap memakan kepala iguana ini hidup-hidup.

Aaarrgh! Aku benar-benar benci jika tidak diacuhkan. Benci benciiii!!

“Yaaa!!! Seung Ri-ah!” panggilku sebal seraya menghentakkan kaki keras-keras membentur tanah. Kubiarkan suaraku yang melengking tepat menusuk telinga lelaki itu. Habis sudah kesabaranku!

“Huh? Wae-yo, noona?” Seung Ri beralih menatapku bingung.

WAE-YO?! WA-E-YOOO…?! Okeee, dia tidak sadar rupanya. BAGUSS!!

“Kamu melihat ke mana, heh!”

“Errr… hehe…” Seung Ri kini meringis, tertangkap basah. Tangannya tanpa sadar bergerak menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan melanjutkan, “Mianhae, Bommie noona. Pemandangannya… ‘indah’ sekali.” Tapi sekali lagi, sudut matanya sekali lagi melirik ke arah gadis yang berjalan di sampingnya. LAGI.

Tak pelak kedua mataku membulat seketika. Indah?! INDAAAHH??! Apa sih maksud lelaki ini mengajakku ke taman bermain ini sebenarnya? Katanya ingin menghiburku? Terlebih, memangnya dia kurang indah dibandingkan gadis-gadis yang hanya tulang berbalut kulit yang sejak tadi berlalu lalang itu, hah!!

Menghibur?! Itu pasti hanya alasan! Huh!

“YAAAAAAA!!!” suaraku kini semakin meninggi, melompati beberapa garis nada.

Refleks Seung Ri menutup rapat kedua telinganya dan menjauhkan kepalanya dari wanita itu. Mungkin dia takut gendang telinganya pecah? Kenapa tidak sekalian kepalanya saja yang pecah, huh!

“Noonaa… suaramu keras sekali… Aigooo…”

Kini tanganku berkacak pinggang, masih menatap Seung Ri dengan tatapan membunuhku, “Niatmu apa sih ke sini sebenarnya? Menghiburku, atau menghibur ‘mata’ playboy-mu?!”

“Omoo… noona, kamu meragukan niat tulusku?” Seung Ri menepuk dada kirinya dan melanjutkan, “Dari lubuk hatiku yang terdalam, noona, aku memang berniat menghiburmu…”

“Hull!! Gotjimal!” aku menjulurkan lidahku tak percaya. Tentu saja, kan! Hanya orang bodoh yang akan percaya. Dasar playboy cap kadal! Masih berani mengelak?

Aku mendekapkan kedua tanganku di dada, membuang muka darinya. Namun kemudian, dia menjulurkan kepalanya, mencoba melihatku, “Aigooo… jangan katakan kalau uri Bommie noona jealous pada wanita-wanita itu?”

Spontan mataku mendelik padanya. “Huh?! Mwooo?! Jealous?! Nonsense!”

Seung Ri menaikkan salah satu sudut bibirnya, menyeringai dengan cengiran menyebalkan khasnya. “Sudahlah, noona. Jangan mengelak dari perasaanmu sendiri. Aku tahu, kok. Mau bagaimana lagi, aku kan memang tampan, wajar lah kalau noona pun sekarang mulai jatuh cinta padaku. Ya kan, noona? Tenang saja noona, walaupun seluruh gadis cantik di dunia ini dikumpulkan jadi satu di tempat ini, walaupun ada Song Hye Kyo, Yoo In Na, Miley Cyrus, Taylor Swift atau bahkan Megan Fox, aku akan tetap memilihmu, noona… Jadi, percayalah kalau aku— aaakk—”

Ucapannya terputus seketika ketika aku mencekik lehernya keras-keras. “Siapa yang jatuh cinta, Seung Rii?!!”

“Noo… naaa… sse… ssaaakk… ttiiddakk… naa… fffaass…—” dia berusaha keras melepaskan tanganku, berkata patah-patah. Sebenarnya aku ingin membunuhnya saja, tapi melihat wajahnya yang sudah berubah warna, rasanya aku tidak tega. Akhirnya aku melepaskan tanganku dari lehernya. Dengan segera, dia mengambil nafas pendek dan berkejaran. “Aigooo… noona, kalau aku mati bagaimanaaaa?? Nanti seluruh wanita di dunia ini akan menangisiku… Dunia belum siap kehilangan seseorang yang sempurna sepertiku, Noona!”

Masih dibahas?! Aku mengangkat tanganku lagi, siap mencekik lehernya.

“Oke, noona. Lupakan.”

“Good,” jawabku kemudian, dengan senyum puas terlebar yang aku punya. Daripada aku harus mendengar ocehannya yang super tidak penting?

Seung Ri melingkarkan lengannya di pundakku, mengikis jarak antara kami, “Hehe… aku suka Bommie noona yang seperti ini.”

“Yaa~!!” aku menggoyahkan pundakku kasar, berusaha melepaskan rangkulannya yang mengikatku tanpa jarak.

Tanganya –yang ternyata— kokoh itu menjauh dariku, seraya cengiran khasnya melebar hingga daun telinga, “Haha… Sudahlah, noona. Ayo cari permainan lain.”

“Seung Ri-aaahh… Aku sudah lelaaaahh…” rajukku kemudian, seraya membulatkan mataku memelas.

Bibirnya mengulas senyuman tipis, “Arasseo, my beautiful lady… Kalau begitu ayo kita cari tempat duduk. Kajja…”

Tanpa menunggu jawabanku, dia meraih tanganku dan memegangnya erat. Hei, desiran asing apa ini? Rasanya asing, sekaligus familiar. Ketika dia mulai melangkah menyusuri jalanan taman bermain itu, aku hanya bisa mengikuti di belakangnya dalam diam…

Dan dalam muka yang sudah berubah warna.

Dan… Oh Tuhan, debaran apa ini?

.

***

 .

Seung Ri POV

“Noona duduk sini dulu, aku cari minum. Ara?”

Aku menunjuk bangku panjang di depanku, yang terpampang manis di tepi salah satu ruas taman bermain. Bommie noona tak berkata apapun untuk sejenak, sebelum kemudian dia melepas genggaman tanganku di tangan mungilnya dengan kasar. Dia membuang mukanya dan melihat arah lain ketika aku meliriknya.

Hey! Mukanya memerah! Itu… itu aku tidak salah lihat kaaann??!!

Senyumku mengembang lebar tanpa sadar. Dan rasanya sudah ingin merobek ujungnya ketika dia duduk di bangku sambil terus menghindari tatapanku. Bommie noona menjawab lemah, tentu saja seraya memandang arah lain, “Nee.”

See? Kamu lihat? Kedua pipinya merona! Astaga, betapa aku berharap rona itu memang untukku!

“Noona, kamu sakit? Wajahmu memerah…” telapak tanganku menyentuh dahinya. Oke, katakan aku jahil, tapi aku benar-benar ingin memastikan bahwa aku tidak bermimpi dengan galur-galur merah yang memenuhi wajahnya. Dan voilaa~ wajahnya semakin memerah!

“Gwenchana, Ri…”

“Jeongmal?”

“Nee! Sekarang, bisakah kamu diam dan beli minum untukku?!” jawabnya setengah mengomel, menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.

Bibirku tersenyum, setidaknya mencoba menahan tawa lebarku, “Ayeyee, noona. Chakkaman.”

Aku berbalik dan meninggalkannya untuk sejenak. Astaga, kupu-kupu di perutku rasanya masih saja beterbangan dengan liar, dan semakin hebat ketika rona itu sepertinya memang untukku. Ah, pasti untukku. Undefeatable, aku memang lelaki tampan. Haha!

Tapi sungguh, aku sudah lama tidak mengalami perasaan ini. Maksudku, aku tahu sebagai seorang playboy, aku sudah sering berhubungan dengan berbagai wanita. Dari yang ‘berani’, sampai yang pemalu. Dari yang agresif ketika kudekati, hingga yang memerah ketika aku hanya menyentuhnya. Tapi tidak ada yang memberikan sensasi seperti ini.

Ini pertama kalinya. Dan ini dengannya. Park Lee Bom.

Euughh… this woman, really!

Setelah berkeliling mencari satu gelas Moccachino Blended dan satu batang jagung bakar mentega kesukaannya, aku kembali padanya. Setidaknya sebelum seorang pria yang amat sangat familiar dengan rasa benci di dadaku lewat begitu saja di hadapanku, berjalan ke arah yang sama denganku…

dengan seorang wanita.

Otakku dengan cepat bekerja, secepat rasa panas yang mengumpul di ubun-ubun ini membludak. Oh, for Pete’s sake! Bommie tidak boleh melihat ini!

Aku berlari secepat kilat menuju bangku tempat Bommie terdiam menatap searak awan. Dia menengadah ke arahku, dahinya berkerut bingung dengan ekspresi panikku, “Wae, Ri?”

“Ani. “Noona, ini minumanmu. Dan duduuumm~! Ini jagung bakar untukmu.” Aku menarik tangannya cepat, “Ayo, main di tempat yang lain.”

“Huh? Wae? Duduk di sini pun tidak masalah, Ri…”

Aku melirik ke samping, di mana sepasang manusia itu semakin mendekat di posisi kami. Crap! Dari segala arah yang tersedia di taman bermain ini, kenapa mereka harus ke arah sini?

“Jebal, noona… Jangan di sini…”

“Huh?” dia melihat kebingunganku. Merasakan ada yang aneh pada diriku, bola matanya mengikuti tatapanku, dan dia melihat mereka.

“…Dong Wook oppa…”

Shit! Terlambat.

“Jangan, noona…”

Pria itu melewati kami tanpa menyadari wanita di depanku memandangnya tanpa berkedip, tercengang, hancur. Pria itu… seakan masih sama seperti terakhir aku melihatnya, dan itu sungguh berbeda ketika aku harus menyaksikan wanita di depanku, seakan tak bernyawa.

Satu bulir kristal dari mata bonekanya meluncur jatuh, diikuti oleh bulirnya yang lain. Sungguh, aku tak bisa membiarkannya melihat lebih dari ini. Menyakitkan ketika aku harus melihat ekspresi rasa sakit itu darinya. Atau mungkin jauh lebih sakit. Entahlah, rasanya seakan jantungku terpelanting hingga tanah, terinjak hingga tak terbentuk. Tanganku menarik tubuhnya dalam rengkuhanku, menghalangi pandangannya dengan dadaku. Aku bisa merasakan basahnya air mata dari tangis tanpa suara di kemejaku.

“Jangan lihat noona…”

Beberapa saat kemudian, dia mendorong tubuhku pelan. Masih menghindari tatapanku, dia berkata lirih, setengah berbisik sebenarnya, “Ah, mian Seung Ri… Bisa kita pulang?”

“Nee, noona.”

.

***

 .

Dong Wook POV

“Uwaaa… tadi roller coaster-nya keren sekali oppa…” Suara melodik yang sama darinya terus terdengar. Bukan, bukannya aku tidak suka Park Han Byul, hanya saja suara melodik itu bukan dari orang yang kucintai, Park Lee Bom, dan aku tidak ingin merusak ingatanku akan suara merdunya dari telingaku. Tidak ketika aku hanya bisa mengenangnya.

Aku hanya mengangguk seadanya dan melihat sekeliling taman. Namun kedua tangannya bergelayut di lenganku. Heyy! Hanya my spring lady yang boleh menggelayut!

“Hey apa yang akmu lakukan, Byul?!” tanyaku sambil mencoba menarik lenganku kasar.

“Kamu ini kenapa sih, oppa? Dulu kamu suka aku memegang lenganmu seperti ini. Lagipula kamu kan tunanganku. Hal seperti ini kan wajar…” ucapnya seraya mempertahankan kedua tangannya di lengan Dong Wook.

Aku menghela nafas menyerah. Sudahlah. Percuma saja melawan Han Byul. “Whatever.”

Han Byul tersenyum puas dan meneruskan celotehnya, “Oppa, kapan terakhir kali kamu ke sini? Lihat, itu kerutan di dekat matamu banyak sekali, kamu pasti tidak pernah bersantai. Rileks-lah sejenak, oppa… Kamu harus menikmati hari ini seperti aku menikmatinya juga!”

Hum… Benar juga. Kapan terakhir kali aku ke sini? Aku lupa, tapi sepertinya waktu itu aku bersama Bommie. See, Bommie lagi. Betapa aku merindukan wanita itu, Tuhan…

Senyumku mengembang, ketika kenangan manis bersama Bommie berputar layaknya film lawas. Aku benar-benar seperti hidup dalam fantasi. Seandainya kenyataan selalu seindah bayangan.

“Aaahh… oppa tersenyuuummm…”

Aku tergelak kecil melihat Han Byul ketika sudut mataku melihat suraian rambut kemerahan dan mata bulat yang kukenal. Ah tidak, terlalu kukenal. Namun ketika aku berbalik, ada serombongan ahjumma yang menghalangi. Dan sosok itu sidah tidak ada ketika akhirnya rombongan itu sudah terlewat.

Park Bom.

Benarkah wanita itu ada di sini? Ataukah aku hanya berhalusinasi?

Langkahku berbalik, mendekati bangku taman itu, dan tetap saja, sia-sia.

“Oppa? Kamu kenapa? Ada apa?”

Hanya fatamorgana.

“Ani. Ayo kita pergi.”

Park Bom, katakan padaku, apa aku sudah mulai gila?

Karena aku mulai melihat ilusi dirimu di mana-mana.

.

***

.

Normal POV

“Noona, kamu sungguh tidak apa-apa?”

Seung Ri menatap wanita dengan rambut kemerahan itu dengan khawatir. Walau mereka sudah sampai di depan pintu apartemen wanita itu, namun rasa cemasnya belum juga terkikis, bahkan kini lebih parah. Ada rasa protektif yang memaksanya untuk bertahan.

“Huuhh. Kenapa kamu tidak percaya padaku, Ri? Aku baik-baik saja, Seung Ri-ah. Gwenchana,” wanita itu tersenyum. Namun seakan ada yang menggantung di dua sudut bibirnya, membuat senyum itu tak secemerlang biasanya.

“Jeongmal? Bommie noona, lebih baik aku pulang atau…”  Seung Ri menggantung ucapannya, sebelum melanjutkan dengan cengiran tertahan di bibirnya, “aku tetap di sini, memelukmu hingga kamu tidur, lalu besok pagi, aku akan mengecup dahimu dan bilang, ‘selamat pagi, my dear Bommie~~’. Kamu pilih yang mana, noona? Aku sih lebih suka yang kedua… Hehe…”

Mata Bommie seketika membulat melihat cengiran yang melebar dari lelaki di hadapannya, “Huull! You wish!”

“Hahaha…”

Seung Ri masih tertawa terbahak ketika sekelebat ingatan melintas dan berdiam tepat di depan mata Bommie, memutar ulang layaknya iklan amatir di radio.

……

“Bommieee…~~ Aku harus pulang yah?” pria di hadapannya mengerucutkan bibirnya malas.

“Nee, Dong Wook oppaaa… Ini sudah tengah malam!”

Tangan mungilnya mulai mendorong dada pria itu, yang dengan mudah dihentikan dengan dua genggaman kokoh di sepasang pergelangannya. Dong Wook kemudian mendekatkan wajahnya pada Bom, dan berkata seduktif, “Tapi aku ingin terus bersamamu, Bom… Bayangkan, aku ingin memelukmu sampai kamu tidur dalam dekapanku, dan ketika besok matahari terbit, akulah yang pertama kali kamu lihat dan aku akan mencium bibirmu dan bilang, ‘Morning, my lady spring…’. Otte? Manis sekali kan?”

Semburat merah dengan cepat menjalar tanpa bisa dia sembunyikan. Dia menunduk seraya terus mendorong tubuh kekasihnya, “Huuull! Kamu terlalu banyak menonton opera sabun, Dong Wook oppa! Cepat pulang sana, aaahh…”

Kini jemari Dong Wook mendarat di bawah dagu Bom, memaksanya untuk menatap pria itu, “Jadi, kamu tidak mau?”

“Euugghh… bukannya tidak mau…”

“Humm… Aku anggap kamu setuju, lady…” simpulnya tergelak, dan mengangkat tubuh Bom layaknya pengantin wanita.

……

…dan memori yang sangat ingin dikuburnya itu membuatnya limbung. Kedua kakinya tak mampu menumpu tubuhnya, dan tanah seakan bersiap untuk menerimanya dengan dentuman jika lengan Seung Ri tidak dengan cepat menahan punggungnya. “Bom!? Gwenchanayo?”

Bom tersadar kemudian dan mencoba untuk berdiri dengan kaki fragilnya. Hanya angin yang seakan menjawab kekhawatiran Seung Ri, hingga lelaki itu bertanya sekali lagi, “Noona?! Waeyo? Apa ada yang sakit? Bagian mana?!”

Gempuran pertanyaan Seung Ri tak lebih dari gema tak berarti yang terpental di telinga Bom. Terlalu kalut akan kenangannya sendiri. Terlalu larut dalam kehancurannya. Namun terlalu banyak sejumlah topeng pertahanan yang dia pasang untuk perisainya.

Sampai kapan dia mampu menahan katup pedihnya?

“…pergi.” Bommie berbisik lirih, seraya menutup matanya dan berjalan meninggalkan Seung Ri ke dalam rumah.

“Eh?”

Wanita itu berdiri di tengah ruangan, tatapan matanya meliar dan  menatap Seung Ri dengan marah. Sclera mata cemerlangnya terpenuhi dengan garis merah berbalut kaca yang bersiap bertransformasi menjadi butiran-butiran. “Aku ingin pergi. Aku ingin pergi dari tempat ini, Seung Ri!! Aku ingin pergi jauh dari sini! Aku tidak ingin ada di sini! Aku tidak ingin ada di cafe!! Aku tidak ingin ada di Seoul!”

Apa yang dipendamnya terlepas sudah. Terlalu banyak beban, terlalu dalam rasa sakit yang mendera. Dan terlalu menyesakkan untuk terus dipendam dalam diri. Dia runtuh, jatuh bedebum di tengah ruangan. Menunduk, membiarkan genangan di pelupuk matanya meleleh. “Terlalu banyak jejak Dong Wook oppa di mana-mana. Aku tidak tahan.”

Perisai itu hancur, melebur menjadi dalam debu tak berbentuk. Setelah ini, akankah dia mampu untuk bangkit?

Berdamailah, noona.”

Seung Ri untuk kedua kalinya dalam hari ini, mendekapnya dalam rengkuhannya. “Ingat noona, sebelum dia membuatmu sesakit ini, dia pernah membuatmu sebahagia itu. Maka berdamailah dengan masa lalumu, noona. Hanya dengan itu kamu bisa menghadapi masa depanmu.”

Hening. Masing-masing dari mereka jatuh dalam pikirannya masing-masing. Setidaknya untuk Bommie, yang mengerti. Bahwa dia belum berdamai dengan kenangannya.

Namun entah, apa dia mampu? Bahkan dia meragukannya.

Dia selalu ingin melupakannya. Tapi dia tidak mampu.

“Eh? Itu gitar?” mata jeli Seung R menemukan seonggok gitar yang berdiri di pojok ruangan, terawatt dan tak tersentuh.

Bom mendorong Seung Ri dan menjawab sambil mengusap mata berairnya. “Nee, punya Gummy unnie, tertinggal di sini.”

“Boleh aku pinjam?”

“Untuk?”

Seung Ri berdiri dan mengambil gitar itu. Kemudian dia mendekat kembali pada Bom yang masih terduduk di tengah ruangan, duduk di hadapannya sambil memangku alat musik bersenar itu. “Aku ingin bernyanyi lagu yang baru saja aku aransemen kemarin untukmu. Sebenarnya… lagu ini memang aku buat untukmu.”

“Eh? Untukku?”

Lelaki itu mulai memetik satu persatu gitarnya, menghasilkan tempo akustik pelan dan merdu. Jemarinya yang lincah memainkan kunci demi kunci. Dan suara merdunya mulai terdengar, menembus batas akal sehat seorang Bom.

.

In my world
boiji anneun kose geguseso salko iji

(In my world
Where I can’t see, you live in there)

In my world
onjena hwanhan misoro hal bomyo osojudon saramdeulkwa

(In my world
With the people always give me a bright smile)

So let’s fly Just You and I
Don’t cry No i don’t cry…

nan irohke hangsang ne kyoteso norae bureule
nan kurohke jigeum choromman nal barabwajolhe
nanuneul kamneun keunaredo dasi teonandaedo
no hwa

(I’m always by your side, singing you a song
Would you look at me now, standing here
Turning a blind eye to the day, I’m born again
Come out)

in my world
noreul kamsa haneunje

(In my world
I’ll hold and protect you) 

(VI – In My World)

.

“Otte?” Seung Ri menutup permainan musiknya dan menatap lekat sepasang mata bulat Bom.

Bom tersenyum lebar, “Gomawo, Seung Ri…”

“Naahh… ini Bomnie noona yang aku suka. Cantik. Noona, tidak perlu menyesal untuk jatuh cinta dan patah hati, karena keduanya itu anugerah.”

“Kamu benar-benar orang yang baik. How lucky of me have friend like you. Kamu adalah satu hal beruntung yang aku punya. Ma victoire.”

Friend. Teman. Satu kata yang dengan mudah menghancurkan semua harapannya. Dia tahu, dia terbiasa dengan  rasa terhujam karena satu kata laknat itu. tapi tetap saja, bahkan ketika dia sudah menyerahkan dirinya untuk jatuh pada Bom, wanita itu masih saja memberinya batas yang sama. Batas yang jika dia bisa, dia koyak dan bakar hingga tak berbekas.

Dia menggeram dalam hati, sebelum akhirnya menatap Bom dengan serius, “Noona, sudah kukatakan berulang kali, aku tidak ingin berteman denganmu.”

“Huh?”

Kali ini dia memupus jarak antara mereka, dan menatap Bom dengan menuntut, “Forget him and love me, noona.”

Park Bom tercengang, tatapan seserius itu, tak pernah dilihatnya. Dan kata-kata yang biasanya dia anggap angin lalu, kali ini seolah langsung merasuk dan menjalar sepanjang di tulang belakangnya, memberi sinyal otaknya untuk merekamnya kuat, disertai degup jantung yang menggila seketika.

“Tapi aku…”

Tapi di hatinya masih ada Dong Wook. Masih hanya Choi Dong Wook.

Seung Ri tahu bahwa posisinya tak akan lebih dari seorang pengamat di bawah panggung. Apakah masih ada sedikit ruang di hati seorang Bom untuk singgah sedikit namanya?

Dia menghela nafas pelan dan menari Bom dalam pelukannya sejenak, “Aku tahu.” Dia melepas pelukannya seraya membelai surai rambut kemerahan Bom yang selembut sutra. Jemarinya berkait di sekumpulan helaiannya, hanya untuk kemudian menyusuri hingga ujung, dan melepaskannya. “Aku… pulang dulu, noona. Sweet dreams. Jjalja-yo…”

Lelaki itu berbalik, menghilang di balik pintu. Meninggalkan Park Bom yang tercengang, hingga satu butir kristal jernih, jatuh dari ujung matanya.

 .

In the better incident, will always be a sweet end waiting you

_____________________________________________

.to be continued.

 .

Oke, maafkan saya kalo tulisan saya hancur beraaaattt… kelamaan ga bikin FF jadi kagok banget. Mana ini FF kepotong-potong pula bikinnya. Jadilah, feelnya rada aneh. Pokoknya untuk segala kekurangan, maafkanlaaahh…

Oya, yang pengen denger VI – Outro (In My World) acoustic ver. :

Dan just information, selain Ma Victoire, saya sudah jarang ngepost di sini. Saya lebih sering ngeblog di punya sendiri sih, di dandelionotes.wordpress.com

Kali aja yang mau nyasar ke sana? eaaa…

Yakk minna-san, sampai jumpa lain FF yaaakk~! Jangan lupa baca komen :p

Gomawooo… (_ _)