Author : Madhit

Genre : Romance

Length : Chaptered

Main Cast

  • Park Chiyoon as herself
  • Super Junior Lee Donghae as himself
  • Jessica Jung as herself
  • Song Seung Hoon as Jun So Min
  • Park Yoojin as herself

Disclaimer :

Cerita ini murni buatanku . Bisa dibilang FF pertama karena sebelumnya hanya menulis cerpen oneshot. Ohya, jika ada complain mengenai kesamaan karakter tokoh maupun alur cerita bisa langsung diberikan komentarnya. J

“Aku akan memilihkan lagunya!!” Teriak Tae Soo. Suasana di café masih ramai seperti sebelumnya. Music jazz juga masih terdengar sangat keras. Aku? Tentu saja masih mematung dengan perasaan gelisah. Kedua sahabatku sudah teler sejak tadi.

Kulihat Donghae menghampiriku dan berdiri di sebelahku dengan canggung.

“Chiyoon , Donghaee!! Mengapa kalian terlihat begitu serasi sih?” Teriak Naomy mulai meracau tak jelas. Ah dasar!

“Kuharap Tae Soo memilihkan lagu yang benar” Donghae terbatuk sekilas.

Terdengar suara piano dan nada pembuka lagu yang dipilihkan oleh Tae Soo. Sepertinya aku kenal dengan lagu ini. Jantungku berdebaran. Teringat pada kejadian 5 tahun lalu. Nyanyian itu. Piano usang. Pada saat ulang tahunku yang ke-12.

-“WAY BACK INTO LOVE”- dari Hugh Grant dan Haley Bennett.

I’ve been living with a shadow overhead

I’ve been sleeping with a cloud above my bed

Air mataku meleleh tiba-tiba. Lagu ini memang favoritku. Begitu banyak kenangan yang terkandung dalam lagu ini. Kenangan bahagia bersama ayah terutama. Dan juga kenangan indah bersama dirinya saat ulang tahun ku yang ke-12. Hanya saja, aku tak tahan jika Donghae tetap memperlakukanku sebagai seseorang yang dibencinya.

Kaki ku mulai tak tenang, dan tanganku gemetaran. Aku berinisiatif meletakkan microphone, kemudian meraih tas tanganku .

“A..aku ada urusan” Kulirik, Donghae terdiam sambil sesekali menarik nafas panjang.

Aku keluar dari café ini dengan langkah cepat. Baiklah, ini sudah berakhir. Donghae akan selamanya membencimu tanpa alasan jelas, Chiyoon-ah. Aku tersenyum getir.

Aku berlari ke depan untuk menghentikan taksi, namun kurasakan lenganku dicekal.

Kuhela nafasku panjang dan mulai berkata dengan lirih,

“Meski kau tak pernah mengutarakan sebab kebencianmu terhadapku, tapi Kumohon. Lee Donghae-ssi, jangan membuatku untuk lebih membencimu” Ucapku tanpa berbalik. Kutahu bahwa ia pasti Donghae. Air mataku tetap meleleh.

Aku tetap kukuh untuk pergi, namun cekalannya berubah sedikit lebih erat. Aku menoleh pada jemarinya yang melekat pada lengan kiriku.

“Lagu ini tak ada arti apapun untukku” Ucapnya lirih. DEG!! Aku mematung sekilas, dan berbalik lirih. Kutatap wajah Donghae yang Nampak menyesal. Kukerutkan alisku menyimak perkataan selanjutnya yang hendak ia utarakan.

“Baik. Baiklah. Kurasa aku begitu bodoh mengira bahwa lagu ini amat berarti. Kalau begitu cepat lepaskan aku. Aku ingin enyah sekarang juga!”

Nafasku sesak. Cukup. Cukup Donghae. Aku tak ingin mendengar apapun dari mulutmu. Kau terlanjur membenciku. Sangat membenciku.

Donghae masih mematung, tangannya mengendur dan menjatuhkan lenganku pelan.

“Hanya satu hal yang perlu kau ketahui Chiyoon-ssi” Aku tetap memandang ke arah lain.

Baiklah, keluarkan semua kekesalanmu. Kebencianmu itu, keluarkan semuanya.

“Perasaanku terhadapmu, tidak akan berubah sampai kapanpun”

Aku menggeleng perlahan dengan senyumanku yang mulai pucat. Badanku sedikit terhuyung. Donghae masih mematung.

“Oppa!” terdapat sebuah suara yang tidak kusangka sebelumnya. Jessica berada di seberang kami. Namun ia hanya terdiam tanpa bisa mendengarkan perkataan kami.

“Jauhi aku Chiyoon-ah, jika dapat membuatmu tenang. Batalkan perjodohan kita jika itu maumu”

Jessica datang tepat pada saat Donghae menghentikan perkataannya yang terakhir. Jessica memandangiku dan Donghae secara bergantian. Cepat-cepat kuhapus air mataku.

“Mari kita pulang, oppa ?” Ekspresi Jessica sedikit kesal saat menatapku. Donghae hanya diam tanpa menjawab perkataan Jessica.

Tapi, apa ini hanya salah penglihatanku?

Kulihat ada setitik cairan yang menetes di pipinya. Apa ia menangis? Seorang Donghae meneteskan air mata?

Aku melangkahkan kaki ku hendak meninggalkan tempat ini.

“Chiyoon-ssi!!” Panggil Donghae dengan suara agak kesal

“Pulanglah bersama kami. Sudah larut malam” Ucap Donghae datar. Aku tersenyum sekilas. Menutupi ekspresi sedihku barusan.

“Thanks. Aku bisa pulang sendiri” Aku berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu.

Flashback Story

Author POV.

“Kau itu sangat bodoh! Gadis terbodoh yang pernah kukenal” Ucap Donghae saat mereka berdua dikurung di sebuah ruangan yang lama tidak terpakai. Mereka baru saja dihukum oleh guru akibat kelakuan mereka siang tadi. Keduanya masih mengenakan seragam sekolah dasar.

“Itu wajar. Aku hanya ingin melindungi Richard. Kau lah yang mengacaukan segalanya” Chiyoon terduduk di pojokan ruangan. Ia memegangi kepalanya yang sakit akibat terjeduk sebuah tembok tadi.

“Richard itu bukan bayi. Ia mampu melindungi dirinya sendiri” Donghae menyandarkan tubuhnya di seberang tempat Chiyoon duduk. Mereka saling berhadapan. Donghae melihat miris ke dahi Chiyoon yang mulai berwarna biru.

“Kau sendiri? Mengapa bertindak sok pahlawan di depanku? Sejujurnya Aku tidak butuh pertolonganmu!”

“Jika aku tidak datang, mungkin saja luka mu bertambah. Tidak hanya di kepala, mungkin saja di wajah bahkan di tangan” Wajah Donghae terlihat serius.

Mata Donghae menerwang ke arah jendela, mengingat kejadian siang tadi. Dirinya tidak habis pikir mengapa sepupu tengik seperti Richard yang jelas jelas salah masih saja dibela oleh Chiyoon. Kejadian Saat Ayong secara tidak sengaja mendorong Chiyoon hingga membentur tembok, sukses membuat emosinya memuncak. Semua akibat ulah Richard. Jika saja Richard tidak iseng merampas bekal Ayong, jika saja sifat Ayong tidak temperamental, jika saja Chiyoon tidak datang diantara perkelahian mereka, dan jika saja kepala Chiyoon tidak terbentur tembok.

Ahhh dasar gadis bodoh. Bodoh. Rutuk Donghae

Chiyoon mengedikkan bahunya, kemudian ia berdiri dan menuju ke sebuah benda yang ditutup oleh kain putih. Sebuah piano usang yang tak pernah dipakai. Piano tersebut sudah berdebu dan meninggalkan bekas kerutan dimana-mana. Donghae mengikutinya, kemudiaan tanpa berbasa-basi ia duduk di hadapan sederetan tuts tuts yang tersusun rapi. Chiyoon memandang ke arahnya.

“Kau bisa bermain piano ?” Ucap Chiyoon menunduk sedikit untuk melihat wajah Donghae agar jelas.

“Sedikit” Ucap Donghae tanpa menoleh. Ia mulai memainkan sebuah nada yang tak asing bagi siapapun. Fleur elis.  Chiyoon memandang Donghae dengan ekspresi takjub. Biarpun sebuah piano tua, namun ia mampu menciptakan nada nada yang sedikit sumbang namun indah.

“Kau hebat” Saat permainan Donghae berhenti.

“Ini belum seberapa”

“Apa?”

Donghae memainkannya lagi. Kali ini lebih serius, lebih intens, dan lebih ia hayati. Bibirnya menggumamkan sebuah lagu kesukaan gadis disebelahnya.

Way back into love’ Chiyoon tercekat.

“Kau membuat lagu ini nampak indah, Donghae-ah” Chiyoon mengepalkan kedua tangannya dan menempelkannya di dagunya. Ia menyesalkan mengapa rasa sebal nya pada Donghae hilang secepat itu.

“Sangat sempurnaa” ,Pujinya.

“Saat mendengar lagu ini, maka wajah ayah lah yang selalu muncul. Ia selalu mencium pipiku saat ulang tahunku” Ujar Chiyoon sambil menerawang jauh. Donghae tersenyum dalam hati.

“Chukkaeyo. Selamat ulang tahun Chiyoon-ah. Kudengar kau ulang tahun hari ini” Ucapnya di akhir permainannya. Chiyoon tertawa kesenangan. Ia tepuk tangan dengan keras. Donghae terdiam sesaat.

“Ng…Boleh aku melakukan apa yang selalu ayahmu lakukan di hari ulang tahunmu?” Ucap Donghae, Chiyoon terkejut.

“Manciumku?” Chiyoon menyesalkan kata yang sedikit ‘frontal’ tersebut keluar dari mulutnya. Kini ia menyentuh pipinya sendiri. Ada perasaan aneh yang ia rasakan. Tapi ia tak mampu mendefinisikannya.

Donghae mengangguk. Nafas Chiyoon tak beraturan.

“Ibu selalu mencium pipiku saat aku ulang tahun. Anggap saja ayahmu yang memberikan ciuman ini” Donghae mendekatkan bibirnya pada pipi Chiyoon dan menyentuhkannya kilat.

Ada sedikit setruman yang menjalar dari pipi Chiyoon ke seluruh tubuhnya.

Keduanya mematung sesaat.

“Apa kau kedinginan? Bibirmu sangat dingin” Chiyoon sedikit kawatir.

“Tidak sama sekali” Seperti hal nya Chiyoon, Donghae juga merasakan setruman tersebut. Bahkan 1000x lebih kuat dari yang Chiyoon kira. Ini merupakan hal yang ‘paling’ berani yang pernah ia lakukan sepanjang hidupnya. Tentu saja ia tak ingin Chiyoon mengetahuinya.

“Gomawo, Donghae-ah. Ini hadiah terbaik yang pernah kuterima. Eh, maksudku Permainan piano mu itu  begitu indah”

“Apa hadiahku lebih bagus dari pemberian Richard?” Chiyoon mengangguk cepat.

“Benarkah? Ohya, Aku ingin bertanya satu hal” Donghae berkata lagi.

“Ya?” Donghae menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lantas menoleh pada Chiyoon.

“Emm, Jika aku dalam bahaya, apa aku akan kau tolong? Atau justru Richard?” Chiyoon Nampak berfikir lama. Ia kemudian tersenyum girang.

“Ya, Donghae-ah, tentu saja kau akan kutolong. Namun Richard lah yang terlebih dahulu kutolong. Kau kan tahu, aku telah terlanjur berjanji pada ibunya untuk selalu melindunginya selama Richard ada di korea”

Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang ia tahu dengan jelas. Seperti apa posisi dirinya di hati Chiyoon. Ini cukup dimengerti olehnya.

Flashbaack end

Chiyoon tersenyum dalam hati. Teringat pada ulang tahunnya yang ke-12 yang secara tak sengaja ia rayakan bersama Donghae. Ya, bersama seseorang yang kini sangat jauh dengannya. Hari itu Donghae menjelma sebagai seseorang yang ingin melindunginya, seseorang yang memberikan ‘sebuah’ kado teristimewa di hari ulang tahun dimana ia tertimpa kecelakaan kecil di kelasnya.

Lalu apa yang membuat ia kini berubah? Menjauhinya perlahan. Seperti seseorang yang ingin mengatakan sesuatu namun memilih menjauh daripada mengatakannya langsung. Dan sekarang terlampiaskan dengan cara membenci seseorang itu.

Pikirannya kini melayang di hari saat dirinya dan Donghae ‘dekat’ untuk yang terakhir kalinya.

Flashback Story

“Chiyoon-ah, kau bilang kita teman. Namun mengapa tadi siang kau pergi bersama Richard  dan mengacuhkanku ?” Gumam Donghae di sebelah seorang gadis bertopi merah jambu. Keduanya sedang berada di rumah .

Mereka masih mengenakan baju sekolahnya walaupun sudah masuk rumah beberapa saat yang lalu. Gadis itu mengenakan baju dengan rok selutut. Stoking putih nya panjang sampai menutupi ujung kakinya. Gayanya hampir mirip dengan tuan putri. Ia mengernyitkan dahinya dan memutar bola matanya.

“Apa aku salah? Richard adikku” Gadis yang bernama Chiyoon itu kini mengedikkan bahunya. Ia sedang mencari-cari sesuatu.

“Sepertinya dia suka padamu?”

Chiyoon memang selalu dekat dengan Richard dan menyayangi adik sepupunya itu. Sepertinya tidak mungkin jika Richard suka padanya. Terlebih sikap kagum Chiyoon terhadap Junso yang terang-terangan sudah Richard ketahui. Ya ! Ia hanya menyukai Kak Junso, kakak sepupu Lee Donghae yang sangat baik kepadanya.

Chiyoon yang akan membuka sepatu boot nya kini mematung.

“Aku tidak percaya” Chiyoon mulai beranjak untuk mengambil bajunya di dalam kemudian kembali.

“Kau tak berpamitan dengan ibu ku dulu?”

“Tentu saja” Chiyoon berjalan melewati Donghae dan mencari keberadaan Nyonya Lee untuk berpamitan dengannya. Gadis itu kembali ke ruang tengah lagi.

“Aku sudah berpamitan. Aku pulang dulu ya. Badanku pegal” Ia meringis pelan sambil memegangi pipnya yang terdapat noda berwarna merah kebiruan.

“Ada apa dengan wajahmu?” Donghae menatap wajah Chiyoon. Pipi Chiyoon sedikit memar akibat pelajaran olah raga tadi pagi karena terkena lemparan bola saat bertanding dengan tim bola kelas lain.

“Bagaimana kau bisa selalu ceroboh seperti ini? aassh”

“Apa?? huuuh Ini tidak sakit, sungguh. Emh, aku pulang sekarang ya. Yoojin sudah menungguku di rumah” Chiyoon memegang bahu Donghae kemudian beranjak keluar. Donghae membuntutinya di belakang masih dengan wajah kawatir.

“Chiyoon-ah?” Ucap Donghae. Gadis kecil itu berhenti, lalu menoleh. Alisnya berkerut.

“Itu, maksudku, em.. mau kuantar pulang? ” Belum sempat Chiyoon membalasanya,

“Chiyoon-ah!!” Teriak seorang bocah lelaki seumuran dengan Donghae dan Chiyoon. Bocah itu gemuk dan tinggi. Ia membawa beberapa potong sandwich di tangannya. Chiyoon menghampirinya dan melemparkan senyum.

“Rich, mengapa kau menyusulku kemari? Aku hanya mengambil bajuku yang tertinggal” Ucapnya seraya menunjuk rumah Donghae. “Saat aku menginap aku lupa membawa bajuku pulang”

“Menginap? Benarkah itu?”

“Saat pesta ulang tahun bibi Lee. Ohya, mengapa kau kesini?” Chiyoon mengulangi pertanyaannya lagi.

“Tidak apa-apa. Aku sudah merindukanmu. Bagimana kalau kita jalan kaki saja?”

Cih. Merindukan? Bukankah saat di sekolah kalian selalu bersama? Pikir Donghae

Bocah lelaki itu tanpa mempedulikan keberadaan Donghae, kemudian menggamit lengan Chiyoon dan membawanya keluar dari rumah. Sikap Richard telah terang-terangan ingin menunjukkan bahwa ia sanggup menjaga noona nya itu.

Chiyoon membalikkan tubuhnya dan menatap Donghae yang menunjukkan ekspresi kecewa nya. “Donghae-ah. Aku pulang dulu ya. Sampai bertemu besok” Saat Chiyoon membalikkan badan lagi, Donghae menggenggam secarik kertas yang sudah lama ingin ia berikan pada Chiyoon namun tertunda gara-gara Richard meneyelanya duluan. Sebuah kertas ulangan dengan nilai sempurna dengan tambahan notes singkat di bawahnya.

Chiyoon-ah, kau lihat ? Aku juga bisa mendapatkan nilai A

Semoga kali ini kau senang, dan berhenti mengejekku bodoh lagi.

Dengan kecewa, Donghae melempar kertas ulangannya tersebut dan berlari ke dalam rumah.

“Kau ini, mengapa sangat pelit sih?”

“Ini milikku. Jika ingin ikut kau harus mohon dulu padaku”

“Apa?!!” Chiyoon menatap Donghae dengan ekspresi sebal.

Chiyoon memandang sepeda Donghae dengan gusar. Ia memang sedang tidak ada yang menjemput, sedangkan Richard hari ini tidak masuk karena badannya demam. Donghae kebetulan membawa sepeda yang ada boncengan di bagian belakangnya. Chiyoon bermaksud ingin ikut pulang dengannya karena rumah mereka searah , apalagi cuaca yang juga tidak mendukung untuk jalan.

“Tidak mau? Yasudah kau pulang dengan jalan kaki”

“Baiklah, baiklah. Lee Donghaee. Kumohon beri aku tumpangan”

Donghae tersenyum sedikit sinis,

“Kurang jelas. Aku tidak mendengarnya” Ucapnya, Chiyoon melotot.

“Donghae-ssi! Kauuuu!!” Nafas Chiyoon meninggi, kemudian tanpa disuruh ia langsung berjalan cepat sementara Donghae mendengus sekilas. Donghae mengayuh sepedanya pelan sambil menyusul Chiyoon dari belakang,

“Yaa!” Chiyoon berbalik, tapi kemudian berjalan cepat lagi. Rambut panjang yang ia kuncir tinggi pun ikut bergoyang seiring dengan langkah kakinya. Kini Chiyoon berlari agak kencang. Donghae menaikkan alisnya penasaran lalu mengerahkan seluruh tenaganya untuk mensejajarkan langkahnya.

“Chiyoon-ssi, sepertinya akan turun hujan”

“Jangan hiraukan aku” Saat mereka sejajar

“Hujannya akan deras, kau tidak ingin ikut?”

“Pergilah!” Donghae mempercepat kayuhan sepedanya, lalu berhenti di bawah pohon maple di pinggir jalan.

“Naiklah” Ucapnya saat Chiyoon sudah dekat. Nafas gadis itu sudah terengah.

“Sepertinya kau kelelahan setelah berlari cukup jauh”

“Sama sekali tidak” Chiyoon membuang muka sebal.

“Ayolah, aku sudah merendahkan harga diriku”

“Itu sudah kewajibanmu”

“Apa?”

“Lupakan”

Tiba-tiba angin berhembus kencang dan hujan mulai turun dengan sangat deras. Keduanya kelimpungan mencari tempat untuk berteduh. Pohon maple di dekatnya adalah satu-satunya pohon yang lumayan besar untuk perlindungan. Badan keduanya saling berhimpit untuk mencapai posisi yang aman dari tetsan hujan. Donghae seperti bisa merasakan aroma rambut Chiyoon yang dari dulu ia kagumi.

“Mengapa aku bisa lupa membawa payung sih?” Rutuk Chiyoon dalam hati.

Donghae tersenyum pelan. Chiyoon merasa agak canggung berada sedekat ini dengan Donghae, ia mendongak sambil menghela nafas. Ia mengibaskan sweaternya yang mulai basah. “Ah tidaak!” Chiyoon memandang lengan bajunya. Donghae menoleh.

“Kukira semua burung itu cantik dan baik. Tidak tahunya, mereka sedikit nakal”

“Apa?”

“Kotoran. Di sweater ku” Ucap Chiyoon terbata. Kamudian ia melepaskan sweater nya yang tebal dan melipatnya lalu memasukkannya dalam tas.

“Kau bisa sakit. Anginnya sangat kencang” Ucap Donghae pelan

“Aku tak selemah yang kau bayangkan”

Hujan yang turun di sore itu ternyata lumayan lama. Mereka sudah hampir 1 jam namun belum juga ada tanda-tanda hujan itu reda. Langit semakin gelap karena terlihat sekumpulan awan hitam masih menutupi langit. Donghae melirik lengan Chiyoon yang mulai bergetar karena menggigil, lalu mengambil inisiatif untuk melepas sweater sekolahnya. Ia memandang punggung Chiyoon dan hendak menyampirkan sweater nya pada punggung gadis itu.

Ia menempelkannya pada bahu gadis itu tanpa berkata apapun. Chiyoon mendongak lalu memandang sweater asing yang menempel ditubuhnya.

“Donghae-ah, aku tidak apa-apa” Donghae mendengus, kemudian menyentuh jari Chiyoon. Ternyata sangat dingin. Anak ini, jelas-jelas kedinginan masih bisa menolak. Pikir Donghae. Wajah Chiyoon menunduk.

“Bodoh!” Gumam Donghae. Sedangkan gadis itu terlihat berfikir.

“Thanks” Donghae menoleh, tidak menyangka Chiyoon berkata selembut itu sambil memandang mata nya intens. Keduanya saling bertukar senyum.

“Chiyoon-ah, apa kau dan Donghae berpacaran?” Tanya Hye sung, teman sekelasnya. Chiyoon menerawang kejadian kemarin siang saat keduanya pulang kehujanan.

“Apa?” Chiyoon mengerutkan alisnya. Ia menoleh ke belakang , tempat Donghae sedang duduk. Sepertinya ia sedang menulis sesuatu.

“Kalian berteman seperti sedang berpacaran” Chiyoon memberikan isyarat pada Hye sung untuk mengecilkan suaranya.

“Chiyoon bukanlah pacar siapa-siapa. Apa kau mengerti?” Ujar Richard disebelah Chiyoon. Sedangkan Donghae yang duduk paling belakang mulai memperhatikan ekspresi gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Kau tahu kan Lee donghae itu seseorang yang sulit bergaul”

“Orangtua kami lah yang bersahabat”

“Ia orang yang menakutkan, dingin, dan sangat sok”

“Sok?”

“Seperti pangeran saja. Menyuruh orang macam-macam. Dia kira kita siapa?”

Chiyoon hanya tersenyum. Kadang ia juga berfikir seperti itu. Namun kejadian kemarin membuat pandangannya berubah. Donghae sangat baik kepadanya, bahkan tak membiarkan kedinginan di tengah hujan yang sangat deras kemarin.

“Lalu bagaimana menurutmu?”

“Aku? Tidak tahu. Aku hanya menganggapnya teman. Bukan sahabat apalagi pacar”

Donghae menelan ludah. Kini terjawab sudah. Apa yang ia kawatirkan, ternyata Chiyoon tidak benar-benar menganggapnya sebagai teman dekat. Donghae memandang Richard yang kini selalu ada dimana Chiyoon berada. Hal ini membuatnya kesal bukan main. Ia menggebrak meja nya tiba-tiba kemudian keluar kelas.

Semua mata sekelas tertuju padanya, Donghae beranjak keluar kelas dengan melemparkan ekspresi dingin pada Chiyoon.

“Mood nya benar-benar cepat berubah” Ujar Tae Soo

“Siapa yang kau bicarakan Tae Soo?”

“Lee Donghae. Siapa lagi? Kemarin malam ia sangat baik kepadaku, bahkan tertawa sepanjang hari. Dan menurutku itu aneh” Ucap Tae Soo yang merupakan teman dekat Donghae sekaligus tetangga samping rumahnya.

“Benarkah?”

“Kemarin ia terkena demam, namun suasana hati nya terlihat senang”

Chiyoon mengerutkan alisnya. Demam?  Apa demamnya parah? Mengapa sampai aku tidak tahu?

Flashback end

Chiyoon meneteskan air matanya. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Namun ia belum menemukan alasan yang rasional mengapa Donghae terlihat memusuhinya sampai sekarang.

Apa ia tersinggung dengan sikapku selama ini? Sebelumnya ia begitu memperhatikanku walaupun tertutupi dengan sikapnya yang dingin.

Chiyoon merutuk kesal. Ia benci dengan semua ini.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk pelan. Kepala Yoojin menyembul dibaliknya

“Chiyoon-ah?”

“Onni. Aku sedang tidak ingin diganggu”

“Tapi, ada yang mencarimu” Chiyoon mengernyit

“Donghae mencarimu”

Seketika itu, jantungnya berdetak kencang.

 

My Adorable Fiancee

To Be Continued

*

Annyong ? How are you baby?

Bagaimana bagaimana? Engga bingung kan ya?

Ga ada maksud apapun, Cuma pengen nunjukin mas lalu mreka aja.

Puas??? Puaaaasss!!! Thx buat readers yang setia nungguin fict ku. Maf ga bisa nyebutin kalian satu per satu. Intinya, aku sangat berterimakasih mau nerima fict aku yang amat amburadul ini *mampus bahasaku!

At least, Coment please. nyehehe