Author : Angelinblack

Length : Continue
Genre : Romance
Cast : Kim Jaejoong JYJ, Jeon Boram T-ara, Park Yoochun JYJ
 

Aku menarik nafas dalam. Yoochun mengantarkanku sampai ke depan pintu flat nomor 102 dan meninggalkanku masuk ke dalam flatnya sendiri. Entah apa yang membuatku mau menuruti permintaannya, tapi ia janji akan langsung menyusul kalau aku berteriak. Yah, hanya antisipasi untuk hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

“Tuhan, tolong aku…”aku berdoa dalam hati dan menekan bel pintu flat tersebut 2 kali. Aku sudah mengganti bajuku dengan summer shirt biru tua dan celana pendek, sebenarnya aku mencari celana panjang di koperku tadi, tapi ternyata aku tidak membawanya. Rambutku sudah ku ikalkan ujungnya dengan rapih dan make upku sudah ku perbaiki. Ya, aku memang lebih feminim sekarang, sangat kontras denganku 10 tahun yang lalu. Lagipula, penampilan yang baik akan memberikan kesan yang bagus. Ya, setidaknya lumayan untuk kesan pertama setelah 10 tahun tidak bertemu.

“Siapa itu?? Aku sedang sibuk!”terdengar suara berat seorang pria dari mesin penjawab di sebelah pintu. Mungkinkah itu suara Jaejoong? Aku jadi semakin tegang.

“Eung, Apa Tuan Kim Jae Joong ada?”rasanya berat sekali menjawabnya. Akupun tidak menunjukan wajahku di kamera mesin penjawab. Aku takut… Ya, masih takut…

“Kau orang korea?!”sahut mesin penjawab lagi.

“O?!”, bodoh!! Kenapa aku menjawab dengan bahasa korea?! “Eung, ya..”

“Siapa?!”tanyanya lagi.

“Aku…”suaraku melemah. Rasanya, aku tidak bisa meneruskannya. Aku membalikkan badanku dan baru akan beranjak pergi, saat kudengar suara pintu dibuka. Aku menelan ludah dan menahan posisiku.

“Siapa??”kudengar suara yang sama dengan yang di mesin penjawab bertanya padaku.

Ku pejamkan mataku dan kutarik nafas dalam-dalam. 1… 2… 3… 4… 5… Ya, semua akan baik-baik saja.

“Annyeonghaseyo…”aku membalikkan badanku dan langsung membungkuk sopan. Kemudian, memasang senyuman terbaikku dan menatap orang yang membukakan pintu. Ya ampun, rasanya jantungku ingin meledak saat itu juga. Darahku terasa naik sampai ke ubun-ubunku dan kepalaku terasa berat. Orang itu benar-benar Jaejoong, ia memasang pose malas dan tubuhnya topless. Rasanya aku ingin lari karena perasaanku benar-benar tidak stabil, tapi aku mempertaruhkan harga diri disini. Aku harus memainkan peranku dengan baik.

“Kau??!”Jaejoong berteriak kaget. Ya, ia mengenaliku. Ia menatapku dari atas ke bawah dengan mata yang masih melotot. Tampak sekali ia benar-benar syok, mungkin ia lebih syok daripada aku saat ini.

“Boram..”ia menghela nafas panjang dan raut wajahnya berubah tenang. “Kenapa kau bisa disini??”

“Aku? Eung, berlibur… Apa oppa sedang tidur tadi?? Maafkan aku…”aku mencoba berbicara seramah dan sewajar mungkin.

“Yoochun yang memberitaumu??”tebaknya. Suaranya terdengar dingin. Benarkah ia frustasi seperti yang dikatakan Yoochun?? Aku harus memastikannya!

“Oppa tidak mempersilahkanku masuk??”aku benar-benar menekan perasaanku yang bercampur-aduk. Aku, tidak boleh terbawa emosi.

“Eung… Masuklah…”Ia menyingkir dari pintu dan mempersilahkanku masuk. Aku pasti benar-benar gila mau masuk ke dalam sini!!

“Kenapa gelap sekali??”tanyaku basa-basi. Tapi, ya, apartemennya memang gelap. Gorden-gordennya dibiarkan tertutup dan lampunya mati.

“Duduklah, aku selesaikan sesuatu dulu…”ia menyalakan lampu dan pergi menuju sebuah ruangan di kananku yang aku yakin pastilah kamar tidurnya.

“Ya ampun…”aku menghela nafas panjang dan duduk senyaman mungkin di sofa. Apartemen Jaejoong sama mewahnya dengan apartemen Yoochun yang kutinggali. Apa mungkin, dia juga seorang artis seperti Yoochun? Semakmur itukah menjadi seorang artis?? Yah, tapi aku tau betul seberapa besar resikonya, karena pekerjaanku juga berhubungan dengan artis… Dan kekasihku dulu, juga seorang artis…

“Aahh… Ada apa??”terdengar suara manja seorang wanita. Aku menoleh kaget, mendapati suara itu berasal dari kamar Jaejoong. “Kita belum selesai… Selesaikan dulu…”suara itu terdengar lagi.

Penasaran, aku berjalan menuju kamar itu dan mengintip dari balik pintu yang terbuka lumayan lebar. Kali ini, aku dibuat syok lagi. Benar-benar! Jantungku seperti berolahraga terus hari ini. Pokoknya, aku harus menjadwalkan untuk memeriksakannya ke dokter besok. Aku melihat seorang wanita duduk di atas tempat tidur Jaejoong dengan selimut menutupi tubuhnya. Mungkinkah mereka?? Ya Tuhan… Aku yakin sekali wanita itu naked di balik selimut. Ya, pasti mereka sedang melakukan hal itu! Aku yakin sekali!

“Aku sibuk! Kita selesai sudah…”Jaejoong menatap perempuan itu dingin.

“Tapi, ini sudah hampir selesai… Kita baru akan mencapai klimaks… Ayolah…”perempuan itu melepaskan pegangannya dari selimut dan menarik lengan Jaejoong manja. Selimutnya terjatuh, dan benar saja! Perempuan itu naked!

“Astaga…”aku menutup mulut dengan kedua tanganku. Apa-apaan ini?

“Aiishhh…”Jaejoong menghela nafas panjang dan mengambil setumpuk baju dari lantai. Ia melempar pelan baju itu pada wanita yang ada dihadapannya. Aku bersumpah, aku melihat bra merah diantara tumpukan baju itu. “Aku bayar 3 kali lipat, jadi pergi sekarang!!”. Ya Tuhan… Wanita itu, wanita bayaran…

“Ya, baiklah…”wanita itu terlihat kecewa dan memakai kembali bajunya. “Langsung transfer, oke?!”todongnya.

“Pergi…”ucap Jaejoong tanpa perasaan. Dia, sangat dingin.

“Oke, but one more kiss…”wanita itu mengaitkan lengannya di leher Jaejoong dan mendekatkan mukanya dengan gaya menggoda. Jaejoong juga merespon, ia menyelipkan tangannya ke balik baju wanita itu dan juga mendekatkan mukanya. Semakin dekat… Semakin dekat… Dan…

“STOOOPP!!!”teriakku tiba-tiba. Mereka berdua langsung menoleh padaku yang berdiri di depan pintu. Bodoh!! Kenapa aku bergerak tiba-tiba?!

“Oh, wanita lain?? Baiklah…”wanita panggilan itu mencium bibir Jaejoong sekilas dan beranjak pergi, ia sedikit mencibir saat berjalan melewatiku.

Sekarang, tinggal aku dan Jaejoong berdua. Kami saling bertatapan dalam waktu yang cukup lama tanpa bicara sepatah katapun. Aku bingung, rasanya otakku menghilang begitu saja. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan.

“Mau minum teh??”tawar Jaejoong. Aku mengangguk dan mengikutinya menuju dapur. Rasanya gelisah, kalau tidak memastikan benar-benar apa yang dia lakukan. Ya, aku masih syok dan sedikit takut tadi.

“Duduklah…”Jaejoong menyuruhku duduk di kursi barnya. Aku menurut. Tidak ada yang bisa aku katakan sekarang ini, jadi aku menurut saja dalam diam.

“Tidak keberatan, bukan, aku topless begini??”tanyanya sambil membuka kulkas.

“Ini, kan, rumahmu…”jawabku singkat.

“Jadi, kenapa kemari??”ia menyodorkan sebuah cangkir padaku dan menatapku dari balik meja bar.

“Menemuimu…”lagi-lagi aku menjawab singkat. “Ngg… Wanita itu… Pacarmukah??”aku memberanikan diriku bertanya, sekedar basa basi. Yah, aku yakin 100% wanita itu wanita panggilan.

“Aku tidak pernah berpacaran selama 10 tahun…”ia menatapku tajam, tapi aku merasa tatapan itu sangat sendu. Tatapan itu, seperti orang sangat merindu tapi sekaligus orang yang sudah sangat lama menahan sakit di dalam. Aku sedikit merasa bersalah.

“Jadi…”

“Aku tidak pernah melakukan dengan wanita yang sama tiap minggu…”Jaejoong memotong kata-kataku.

“Oppa…”, aku berfikir sejenak, “Kau memberikanku teh dingin…”entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulutku. Konyol!

“Aku tidak punya apa-apa… Aku makan di tempat Yoochun…”

“Eungg, mau aku masakkan sesuatu?”tawarku.

“Baiklah…”ia mengangguk.

Aku tersenyum dan berjalan menuju kulkasnya. Mengumpulkan bahan-bahan yang bisa dimasak dan mulai memasak. Ya, aku suka memasak. Sudah 3 tahun itu menjadi hobiku. Lagipula, pria ini seperti tidak terurus hidupnya. Apa semua itu karenaku seperti yang dikatakan Yoochun? Benarkah itu? Aku merasa bersalah sekarang ini…

“Kau… Cantik…”ucap Jaejoong tiba-tiba. Aku menoleh, ia menunduk. “Kau selalu cantik…”

“Ya…”aku tertawa salah tingkah. Aku benar-benar kehabisan akal menghadapi pria ini.

“Maafkan aku…” ujarnya lagi.

“Tidak apa-apa…”aku tersenyum. Ya, mungkin ini saatnya aku benar-benar memaafkannya.

***

                Langit malam di Jepang berbeda dengan di Korea. Aku sudah menatapnya selama 30 menit dan menemukan banyak perbedaan. Kurasa, warnanya tidak segelap langit malam di Korea, bintangnya juga lebih sedikit dan lebih redup. Entah mengapa, rasanya, aku ingin membatalkan liburanku ini dan segera kembali ke Korea. Ini semua karena pria itu, Kim Jaejoong. Mengetahui ia berada kurang dari jarak 1 km dariku, membuatku begitu resah. Ya, sangat resah…

Aku memejamkan mataku, mencoba mengingat kembali masa laluku dengannya. Saat kami berkenalan, saat kami mulai dekat, dan saat aku sangat memahami bagaimana Jaejoong itu.

“Namaku Jaejoong, kau murid SMP baru?? Kau menari keren sekali tadi!!”

                “Kau juga suka Backstreet Boys?? Ayo kita nonton konsernya bersama nanti!!”

                “Tidak ada cinta… Tidak ada yang mencintaiku… Ayahku, Ibuku… Semuanya… Aku sangat kesepian…”

                “Boram, kau selalu berharga… Kau teman yang selalu berharga…”

                “Boram, aku ingin selamanya terus seperti…”

                “Boram, aku akan ikut ujian minggu depan… Dukung aku, ya…”

                “Boram, aku lulus!!”

                “Boram, Yoochun mengadakan pesta… Maukah kau datang??”

                “Boram, kau sangat manis…”

                “Boram…”

                “Boram…”

Suara Jaejoong terus terngiang di telingaku. Kata-kata yang dulu di ucapkannya mulai muncul satu-persatu, dan memori tentangnya mulai berputar. Aku ingat bagaimana ia tersenyum, tertawa, dan ceria saat bersamaku dulu. Ya, semua tentangnya selalu menyenangkan, sampai kejadian malam itu.

“Tuhannn…”aku menghela nafas panjang. Dulu, aku sangat membencinya! Tapi saat aku beranjak dewasa kemudian, aku mulai memahaminya. Dengan pergaulan bebas yang dianut remaja-remaja di Korea, aku tidak bisa langsung menyalahkannya atas kelakuannya. Latar belakang keluarga yang berantahkan dan kurangnya kasih sayang pastilah alasan utama kenapa ia terseret dalam pergaulan tersebut. Padahal dulu, selalu akulah yang mau mendengarkannya, hanya akulah yang mau memahami latar belakangnya. Tapi juga bukan salahku dulu aku semarah itu!! Bayangkan saja, aku masih kelas 1 SMP saat itu! Wajar emosi menguasaiku, kan?!

Aku benar-benar bersalah, aku merasa sangat bersalah… Dia memang berubah sekarang ini… Dia seperti, eung, boneka salju musim dingin. Keras diluar, tapi sebenarnya sangat lemah. Benarkah itu semua karenaku? Benarkah dia begitu mencintaiku?? Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang ini?? Tuhan tolong aku…

***

                “Ya!!! Kenapa pagi-pagi mengetuk pintu??!!”Yoochun membentakku dengan muka ngantuknya.

Aku menghela nafas dan menatapnya kesal. “Apanya yang pagi-pagi?! Ini sudah jam 10!!!”kutempelkan jam tanganku di dahinya. Tidak tau kenapa, hubungan kami sudah tidak kaku lagi. Mungkin, karena ia suka sekali tersenyum, aku jadi merasa nyaman.

“Lalu kenapa kau jam 10 ke flatku ini?!”balasnya masih dengan membentak. Kurasa, ia sangat kesal karena aku mengganggu tidurnya.

“Aku mau makan!! Kulkasmu kosong!!”aku balas membentaknya, suaraku menggaung sepajang lorong.

“Hei!! Berisik sekali kalian!!”terdengar suara seseorang menimpali kami. Aku menoleh ke kananku dan melihat Jaejoong menatap kami dingin.

“Oh, Jae!! Kau sudah bangun??”Yoochun tersenyum dan menyapa Jaejoong ceria. Aiisshh!! Beda sekali dengan cara bicaranya padaku tadi. “Hei!! Aku masih ngantuk!! Kau pergi sarapan dengan Jaejoong saja!!”ia menatapku malas dan langsung membanting pintu flatnya di depan wajahku.

“Aiisshh!! Orang ini benar-benar… SIAPA YANG MENYURUHKU MENGINAP DISINI, HAH??!!!”aku meluapkan emosiku. Kalau saja aku menginap di hotel, aku tinggal menghubungi pelayanan kamar dan memesan sarapan. Dasar tidak bertanggung jawab!!

“Kau masih sama…”Jaejoong menyahut pelan, suaranya benar-benar datar. “Walaupun kau terlihat sangat manis sekarang, tetap saja kau garang di dalam”

“Eung…”aku meremas tanganku salah tingkah. Benar-benar, rasanya masih aneh mengobrol dengan Jaejoong sekarang ini.

“Kau mau sarapan? Masuklah! Aku akan memesan sesuatu…”ia kembali masuk ke dalam flatnya dan meninggalkan pintunya terbuka.

“Te.. Terimakasih…”aku mengikutinya masuk. Sengaja, aku tidak menutup pintu flatnya kembali. Ya, jaga-jaga.

“Duduklah, aku akan menelfon restoran sushi terdekat…”ia mempersilahkanku duduk di sofanya dan pergi menuju kamarnya. Tak lama, ia segera keluar dengan ponsel ditangannya. “Akan segera datang…”ia duduk di dekatku dan menyilangkan kakinya.

Lama terdiam, aku mencoba mencairkan susana. “Oppa masih suka bernyanyi?”. Ya, seingatku ia sangat suka bernyanyi dulu. Ia juga suka bernyanyi untukku….

“Aku seorang aktor”jawabnya singkat.

“Omo!!!”seruku kaget. Aku tidak percaya ini! 2 senior yang dulu ‘pernah’ dekat denganku sekarang sama-sama menjadi artis di Jepang. Yang 1 model, yang 1 aktor. Kalau saja kami masih berteman baik, aku bisa menjadi sangat terkenal sekarang ini!

“Kenapa? Kau tertarik menjadi pacarku?”ia melirikku dingin.

“Ya! Oppa!! Kenapa aku mau menjadi pacarmu?! Tidak mungkin!!”jawabku. “Kita, kan, teman…”tambahku buru-buru, menyadari jawabanku mungkin akan menyakiti perasaannya. Tapi memang seperti itu, yang ku inginkan hanya berteman baik lagi dengannya.

“Terimakasih…”ia beranjak berdiri dan menoleh padaku sinis. “Kau makanlah kalau makanannya sudah datang… Aku ingin tidur…”ia pergi meninggalkanku menuju kamarnya. Bagaimana ini?! Apa dia marah?!  Tapi bukan salahku, kan??

Aku berdiri dan berjalan pelan menuju pintu kamar Jaejoong. Kutempelkan telingaku pada pintu, mencoba menangkap suara sekecil apapun. Mungkin dia sedang menangis? Tidak, seorang pria tidak akan mungkin menangis. Jadi apa yang pria lakukan saat mereka sedih? Entahlah, yang jelas aku akan menunggu sarapan datang dan langsung pergi mencari tempat untuk menulis. Untuk pertanyaan ‘apa yang dilakukan pria saat sedih’, aku akan menanyakannya pada Yoochun nanti. Yah, Jaejoong tidak akan apa-apa sekarang ini… Dia pasti akan baik-baik saja…