Author  : Stephanie Naomi

Title       : Sorry, I Can’t [Part 2 – End]

Length  : Two Shoots

Genre   : Romance-Sad

Casts     : Lee Jieun (IU); Lee Seunghyun (Seungri, Big Bang); Park Sanghyun (Thunder, MBLAQ), Lee Jowoon (OC), Choi Nara (OC)

***

Sanghyun menunggu didepan kelas Jieun. Pulang sekolah kali ini, kelas Jieun keluar sedikit terlambat sehingga Sanghyun harus menunggu. Saat Sanghyun sedang menunggu, Seunghyun menghampirinya.

“Kau sedang menunggu Jieun?” tanya Seunghyun tanpa basa-basi dengan teman sekelasnya itu. Mereka sekelas, akan tetapi mereka jarang mengobrol.

Ne, waeyo?” Sanghyun bertanya balik.

“Sebaiknya kau pulang saja karena hari ini Jieun pulang denganku.” jawab Seunghyun langsung pada tujuannya.

“Hm?” Sanghyun terlihat seperti tidak percaya, “Tunggu saja sampai Jieun keluar. Kita lihat dia akan pulang dengan siapa.” sambung Sanghyun membalas ucapan Seunghyun tanpa rasa takut, walaupun ia merasa kalau Jieun kemungkinan besar akan memilih Seunghyun.

Tidak lama setelah Sanghyun selesai bicara, kelas Jieun pun bubar dan Jieun hampir menjadi murid terakhir yang keluar dari kelasnya.

“Hei Jieun-ah!” sambut Sanghyun membuat Jieun tersenyum tetapi juga kaget karena melihat Seunghyun juga ada disana.

“Hei oppa…” balas Jieun singkat, “Mm Seunghyun oppa, kau juga menungguiku?” Jieun menyambung kata-katanya dengan bertanya pada Seunghyun, membuat Sanghyun sedikit kesal karena keberadaan Seunghyun.

“Ne~ aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat. Ayo kita pergi sekarang.” jawab Seunghyun lalu ia refleks meraih tangan Jieun dan mengajaknya pergi dari tempat itu.

Sanghyun tidak sempat angkat bicara tetapi Jieun dan Seunghyun sudah berjalan cukup jauh sehingga Sanghyun hanya dapat melambai-lambaikan tangannya, membalas lambaian tangan Jieun yang singkat, sampai mereka menghilang.

“Kau mengajakku pergi lagi, oppa?”

Seunghyun hanya mengangguk.

“Kau tidak takut jika ada yang melihat kita jalan bersama seperti ini?”

Kali ini Seunghyun menggeleng.

“Aku pikir kau tidak ingin dekat denganku, oppa. Aku sangat ingin mempunyai kakak laki-laki dan saat kau menjadi kakak tiriku, aku sangat senang. Tapi sepertinya kau tidak menyukaiku…”

Yah, sebaiknya kau jangan banyak bicara sekarang, araesso? Simpan suaramu untuk nanti saja.” Seunghyun seperti biasa suka memotong ucapan Jieun, dan Jieun langsung menutup mulutnya, menuruti ucapan kakak tirinya.

***

Perjalanan yang ditempuh cukup lama, sekitar 1 jam dan membuat Jieun tertidur dipunggung Seunghyun dengan tangan yang melingkar dipinggang Seunghyun. Ketika sudah sampai ditempat yang Seunghyun tuju, Seunghyun melepas helmnya dan memutar sedikit kepalanya untuk membangunkan Jieun.

“Jieun-ah… Kita sudah sampai.”

Jieun terbangun masih dengan helm dikepalanya. Wajahnya saat ia setengah sadar membuat Seunghyun tersenyum. Seunghyun pun membuka helm Jieun saat ia masih mencari tahu dimana ia berada. Dan saat helm nya sudah terlepas dan ia sudah sadar, Jieun membulatkan matanya, “Pantai!!!”

Seunghyun turun dari motornya dan memberikan tangannya untuk membantu Jieun turun dari motornya yang cukup tinggi. Jieun langsung meloncat-loncat kesenangan sambil terus berjalan mendekati pinggir pantai.

“Kau harus melepas kaus kakimu dan mengganti sepatu mu dengan sandal.” ucap Seunghyun seraya mengeluarkan 2 pasang sandal dari bagasi motornya. Setelah itu Seunghyun menghampiri Jieun yang sedang berdiri sambil menghirup dalam-dalam udara segar.

“Pakailah.” ucap Seunghyun lalu ia memberikan sandal berwarna merah muda kepada Jieun. Jieun langsung melepas sepatu dan kaus kakinya, dengan satu tangan dipegang oleh Seunghyun agar ia tetap berdiri dengan seimbang. Setelah Jieun selesai mengganti alas kakinya, Seunghyun gantian mengganti alas kakinya.

“Ayo kita kesana!” kata Seunghyun setelah ia selesai mengganti alas kakinya. Mereka meninggalkan tas dan sepatu mereka lalu mereka langsung bermain dengan air laut.

Saat itu pantai benar-benar sepi dan walaupun hanya bermain air, kebahagiaan benar-benar terlihat diwajah mereka berdua. Mereka akhirnya berhenti bermain di air dan duduk dipinggir pantai saat melihat matahari siap untuk terbenam.

“Kau sangat senang?” tanya Seunghyun setelah ia mengeluarkan handuk kecil dari dalam ranselnya dan memberikan kepada Jieun.

Jieun mengangguk-angguk antusias sambil mengelap kakinya yang basah.

“Celana mu basah, oppa. Nanti kau kedinginan.” Jieun ternyata memperhatikan celana Seunghyun yang basah sampai selutut.

“Kau tidak perlu khawatir padaku, tenang saja Jieun-ah.” balas Seunghyun santai.

“Dan kau juga tidak perlu khawatir karena sikapku yang terkesan dingin padamu. Aku tidak ada maksud sama sekali untuk bersikap dingin padamu, Jieun-ah. Tapi, memang harus seperti ini. Aku harus bersikap dingin padamu. Mungkin aku tidak sering bersama mu saat disekolah, tapi akan kupastikan kau akan bahagia seperti sekarang ini.” Seunghyun melanjutkan kata-katanya, membuat Jieun terpaku dan diam seribu bahasa.

Sesaat keadaan menjadi hening, hanya terdengar suara deburan ombak. Keduanya sama-sama terdiam, mereka hanya melihat matahari yang bergerak pelan meninggalkan tahtanya.

“Oppa, bisakah kita terus seperti ini?” Jieun akhirnya membuka suara.

“Ya… Semoga saja.” jawab Seunghyun singkat. Jieun menyandarkan kepalanya dibahu Seunghyun.

“Aku ingin waktu berhenti saat ini. Aku benar-benar mencintai hari ini.” Jieun berbicara secara monolog, tanpa respons dari Seunghyun. Seunghyun pun menyandarkan kepalanya diatas kepala Jieun dan mereka berdua sama-sama menatap langit yang kemerahan.

“Aku juga… Aku sangat ingin bertahan…”

 

***

Hari-hari selanjutnya kembali berjalan seperti biasa. Jieun sudah memahami Seunghyun yang sikapnya sangat berbeda dengan yang ia kenal saat mereka pergi bersama. Terkadang Jieun ingin sekali mengajak Seunghyun untuk pergi lagi, tetapi beberapa kali Seunghyun menolak karena suatu hal.

“Yah! Jieun-ah!” panggil Sanghyun saat Jieun sedang berjalan sendiri di koridor sekolah.

“Annyeong oppa. Ada apa?” tanya Jieun seperti biasa.

“Seunghyun sudah 5 hari tidak masuk, Jieun-ah. Jangan sampai guru memanggil orangtuamu dan akhirnya semua tau kalau kau saudara tiri dengan Seunghyun.” jawab Sanghyun membuat Jieun membelalak tidak percaya.

“Mwo??!! Tidak masuk? Tapi dia selalu mengenakan seragam, sarapan denganku dan berangkat sekolah.” Jieun mencoba mengingat-ingat apakah Seunghyun pernah terlihat seperti ingin pergi jauh atau lainnya. Pikirannya mulai melantur dan wajahnya mulai menunjukkan kepanikan.

“Kau tidak pernah pergi ke sekolah bersamanya?” tanya Sanghyun penasaran.

“Hanya beberapa kali, tapi saat sudah dekat area sekolah, aku berpisah dengannya.” jawab Jieun sambil terus berpikir kira-kira kemana Seunghyun pergi. Ia juga mengingat kalau malam hari Seunghyun selalu ada dirumah dan makan malam bersamanya. Hanya 2 kali saja Seunghyun makan diluar dan beralasan karena kerja kelompok.

“Dasar laki-laki aneh. Ia kakakmu, namun tidak peduli padamu. Lalu ia memintamu untuk tidak mengumbar hubungan persaudaraan kalian, tapi dia juga yang membuat hubungan kalian sebentar lagi akan ketahuan.” Sanghyun mengoceh sendiri dengan raut wajah kesal, namun Jieun tidak mempedulikannya.

“Kau harus bantu aku mencari Seunghyun oppa, oppa! Ayo!” Jieun menarik tangan Sanghyun untuk segera keluar dari sekolah mereka dan mulai mencari Seunghyun.

“Tapi kita harus cari kemana, Jieun-ah?” Sanghyun bertanya saat Jieun menghentikan langkahnya di halte bis dekat sekolahnya.

“Aku tidak tahu. Coba tanya teman sekelasmu, oppa. Kalau perlu teman seangkatamu!” jawab Jieun dengan nada panik.

“Dia bukan tipe yang suka bermain ke rumah temannya, Jieun-ah. Kau lihat sendiri, kan? Disekolah saja dia cenderung sibuk dengan laptopnya.” balas Sanghyun.

“Berarti saat ia bilang kerja kelompok, ia berbohong. Lalu, sebenarnya kemana dia?” Jieun berbicara pada dirinya sendiri.

“Sebaiknya kita pulang Jieun-ah. Siapa tahu ia sudah ada dirumah. Akan ku antar kau sampai rumah. Jika ia tidak ada dirumah, aku akan langsung membantumu untuk mencari dia.” Sanghyun kembali bersuara dan Jieun langsung mengangguk lemas. Mereka pun menaiki bis yang membawa mereka menuju daerah rumah Jieun.

***

Begitu sampai dirumah, Jieun langsung mengetuk pintu kamar Seunghyun, sementara Sanghyun menunggu di ruang keluarga. Saat itu Nara sedang pergi untuk urusan bisnis bersamanya, sementara Jowoon pergi bekerja.

“Oppa!! Seunghyun oppa!!” Jieun memanggil dengan sedikit berteriak.

“Oppa!! Jawab aku!” Jieun kembali bersuara. Tidak ada jawaban sampai 5 detik kemudian pintu kamar terbuka sedikit dan Seunghyun terlihat cukup berantakan.

“Kenapa kau tidak masuk sekolah hari ini? Lalu 4 hari kemarin kau juga tidak masuk. Kenapa oppa? Kau berbohong pada appa dan eomma.” Jieun langsung mengoceh panjang lebar.

“Hari ini tiba-tiba aku merasa kurang enak badan, jadi kuputuskan untuk pulang.” balas Seunghyun singkat masih dengan keadaan pintu yang hanya terbuka sedikit.

“Lalu, 4 hari kemarin, kau kemana saja, oppa?” Jieun mengulang pertanyaannya namun Seunghyun tidak menjawab. Ia justru langsung menutup pintu kamarnya dengan cukup keras, membuat Jieun dan Sanghyun sedikit kaget.

“Yah! Oppa!” panggil Jieun namun tidak ada jawaban. Jieun mengetuk-ngetuk pintu kamar Seunghyun tapi tetap tidak ada balasan dari dalam. Akhirnya Jieun memutuskan untuk membuka sendiri pintu kamar tanpa mempedulikan resiko tterkena omelan dari Seunghyun.

Jieun membuka pintu dan mendorongnya kedalam, namun terasa berat, seperti ada yang mengganjal. Dan saat ia merasa pintu itu sudah terbuka cukup untuk badannya masuk, ia pun masuk kedalam dan langsung memekik berteriak, “OPPA!!!!”

***

Nara tidak berhenti menangis dalam dekapan Jowoon, sementara Jieun juga terus menangis dengan Sanghyun disampingnya, merangkul dirinya dan mengusap-usap lengan Jieun agar ia tenang. Tapi, nyatanya Jieun tidak bisa tenang.

“Apakah tidak ada satupun dari keluarga Seunghyun yang mengetahui penyakit Seunghyun?”

 

“Tidak dok. Seunghyun selalu terlihat sehat dan kuat.”

 

“Maaf, tapi anda salah, Mrs. Lee. Seunghyun menderita kanker otak akut. Aku sudah menyuruhnya untuk memberitahu orangtuanya, dan aku juga sudah mendorongnya untuk melakukan kemoterapi. Dia sudah dua kali melakukan kemoterapi, akan tetapi, sepertinya virus kanker dalam tubuhnya terus bertambah dan memperburuk kondisi tubuhnya.”

 

“Aku masih tidak percaya, Dokter!! Kau pasti salah analisa!!! Anakku tidak mungkin mengidap kanker otak!!”

 

“Ini laporan dari pemeriksaan tubuh Mr. Lee Seunghyun. Anda dapat membaca sendiri. Dan tidak ada satupun laporan yang direkayasa. Seunghyun sendiri menyimpan copy-an dari laporan ini.”

 

Nara membaca laporan itu dan ia hanya dapat menangis, sementara Jieun diluar ruang dokter hanya dapat mendengar dan terduduk lemas dibangku rumah sakit.

 

“Sanghyun oppa… Aku takut…” ucap Jieun disela-sela tangisnya.

“Kau tidak perlu takut, Jieun-ah. Kau hanya perlu berdoa dan percaya kalau Seunghyun dapat bertahan.”

Jieun hanya menangis tanpa suara, lalu ia mengingat saat-saat dimana ia menghabiskan akhir pekan hanya berdua dengan Seunghyun, dan yang terakhir, saat mereka pergi kepantai. Jieun langsung tersadar kalau ternyata Seunghyun memang sudah merencanakan semuanya dengan baik. Hal itu membuat Jieun lagi-lagi tidak dapat membendung air matanya.

“Aku ingin bertemu Seunghyun oppa.” ucap Jieun, membuat Sanghyun melepas rangkulannya dan membiarkan Jieun masuk kedalam ruang perawatan intensif.

Jieun duduk disisi ranjang Seunghyun, dengan banyak sekali alat-alat elektronik yang menyala, kabel-kabel yang terhubung dengan tubuh Seunghyun dan juga masker oksigen yang menempel di wajah Seunghyun.

“Oppa… Kenapa kau tidak pernah jujur pada setiap orang? Kenapa kau pada akhirnya harus membuatku menangis? Kenapa, oppa? Kenapa?” Jieun benar-benar tidak dapat menahan emosinya. Tangisnya kembali tumpah namun sayang, Seunghyun tidak menjawab apapun.

Jieun meraih tangan Seunghyun dan menggenggamnya, lalu ia kembali bersuara, “Oppa, kau harus bertahan. Demi aku. Demi appa dan eomma. Kau berjanji akan membahagiakan ku, jadi, kau harus bertahan, oppa!”

Seunghyun hanya terdiam. Hanya terdengar suara mesin pendeteksi detak jantung.

“Oppa, kau tidak pernah tahu kalau aku menyukaimu. Aku menyukaimu bukan hanya sebagai kakak. Aku sudah menyukaimu sejak lama, saat kau menolongku untuk lolos dari preman-preman yang ingin menjahatiku. Sejak itu aku menyukaimu, tapi aku merasa sangat tidak mungkin untuk dapat mengenalmu. Sampai akhirnya kau menjadi kakak tiriku. Walaupun semakin kecil kemungkinan ku untuk memilikimu, tetapi aku tetap senang karena, setidaknya aku masih bisa lebih dekat padamu.” Jieun terdiam, mencoba untuk mengambil nafas disela-sela tangisnya yang mulai mereda.

“Namun, walaupun kau menjadi kakak tiriku, kau tetap diam, dingin dan cenderung tidak menyukaiku. Aku sedih, aku takut… Sampai akhirnya di pantai kau bilang padaku, aku tidak perlu khawatir… Sejak itulah aku benar-benar merasa tidak khawatir. Tapi, justru saat aku merasa tidak khawatir… Kau justru seperti saat ini.” Jieun menyambung kata-katanya, pengakuannya, perasaan yang ia pendam selama ini.

Tanpa ia sadari, air mata mengalir pelan di pipi Seunghyun.

“Oppa… Saranghae… Aku mencintaimu. Walaupun kita tidak mungkin dapat menjadi pasangan, tetapi, cukup dengan kau bertahan dan dapat kembali lagi menjadi kakakku, aku sudah sangat bahagia.” Jieun kembali bersuara dengan air mata yang mengalir dipipinya.

“Terima kasih sudah mencintaiku, Jieun-ah.”

Selesai Jieun berbicara, tiba-tiba ia merasa tangan Seunghyun menjadi lemas. Lalu ia langsung melihat monitor alat pendeteksi jantung dan hanya tersisa garis lurus yang terus berjalan, bersamaan dengan suara mesin yang memilukan.

***

Jieun masuk kedalam kamarnya dengan lesu. Ia sudah mengikhlaskan Seunghyun untuk pergi selamanya. Ia juga sudah menghantar Seunghyun ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Namun, pandangannya masih kosong. Pikirannya masih entah kemana. Ia pun membuka laci meja belajarnya untuk mengambil diary miliknya, namun, ia menemukan sebuah surat terselip di diary itu.

“Ambil benda kesayanganku. Bukalah dengan namamu. Dan, bacalah saat aku memang sudah tiada.”

 

Surat dari Seunghyun! Dengan tenaga yang tersisa, Jieun langsung bergegas menuju kamar Seunghyun. Ia memasuki kamar yang sudah tertata rapi. Ia pun duduk didepan meja belajar Seunghyun dan langsung menyalakan laptop milik Seunghyun. Saat laptop tersebut mengeluarkan kolom password, Jieun mencoba mengisi dengan namanya dan ternyata berhasil. Segera keluar layar dengan foto Jieun dan Seunghyun saat mereka berjalan-jalan pada akhir pekan, membuat Jieun mencoba untuk menahan tangisnya.

Pada layar itu hanya terdapat 1 folder tanpa nama. Jieun membuka folder itu dan menemukan banyak sekali data-data dengan format Microsoft Word.

“Apa ini? Kenapa judulnya tanggal semua? Apakah tanggal untuk judul ini adalah tanggal saat ia menulis hal ini?” Jieun bertanya pada dirinya sendiri dan tangannya menggerakkan kursor menuju tanggal dimana mereka pergi menonton. Ia mengklik data itu dan mulai membaca isinya.

“Ia sangat cantik hari ini. Ia cantik, tetapi hari ini 200x lipat lebih cantik. Apakah aku berlebihan? Tidak, tapi ini kenyataan. Kau sangat cantik, Jieun-ah. Dan aku sangat senang hari ini. Terima kasih untuk 1 hari bahagia yang kau berikan untukku. Semoga aku masih bisa mendapatkan hari-hari bahagiaku yang lainnya bersamamu, Jieun-ah.”

Jieun tanpa sadar menumpahkan air matanya. Ternyata data-data itu berisi curahan hati Seunghyun. Lalu ia mulai membuka data yang lainnya dan menemukan cerita saat Seunghyun divonis menderita kanker otak, saat Seunghyun merasa cemburu kepada Sanghyun, saat mereka pergi ke pantai… Setiap hari Seunghyun menulis diary digitalnya, dan isinya seperti seakan-akan ia sedang bercerita pada Jieun.

“Kau memang sudah menyiapkan semuanya dengan baik, oppa.” ucap Jieun pelan kepada dirinya. Lalu ia pun mengklik data terakhir, tanggal terakhir sebelum Seunghyun masuk kerumah sakit dan akhirnya meninggalkan dirinya untuk selamanya.

“Jieun-ah, aku tidak tahu sampai kapan aku dapat bertahan dan dapat terus bercerita padamu. Kalau ini harus menjadi surat yang terakhir, ku harap ini menjadi surat yang terbaik untukmu…”

Jieun men-scroll data itu untuk membaca bagian bawahnya.

“…Aku mengidap penyakit kanker yang tidak mungkin dapat disembuhkan. Itulah sebabnya aku dingin, aku pendiam, aku seperti tidak menyukaimu. Maafkan aku, Jieun-ah. Jujur, aku sangat ingin melakukan hal yang sebaliknya. Tapi, aku tidak bisa. Tubuhku memaksaku untuk harus bersikap dingin padamu. Aku benar-benar minta maaf. Mungkin isi surat ini hanya akan penuh dengan kata maaf…”

 

“…Maaf, aku tidak bisa menjadi kakak yang sempurna bagimu. Maaf, aku tidak bisa selalu hadir disisimu, bahkan aku tidak pernah hadir disisimu. Maaf, aku tidak pernah bisa membuatmu tertawa lepas. Maaf, aku tidak bisa setiap hari membelikan mu eskrim coklat. Maaf, aku tidak bisa pulang bersamamu setiap hari. Maaf, aku juga tidak bisa berangkat kesekolah bersamamu. Maaf, aku hanya dapat membahagiakan mu dua kali. Dan maaf, karena aku telah mencintaimu…”

 

“…Aku mencintaimu tapi aku sadar aku tidak pantas untukmu, Jieun-ah. Sanghyun terlalu sempurna untuk jadi sainganku. Aku tahu, dia sangat-sangat menyukaimu. Walaupun ia mengaku hanya menjadi ‘kakak’mu, tapi hatinya berbohong. Sama seperti aku. Aku juga berbohong jadi aku minta maaf karena aku sudah membohongimu. Maafkan aku untuk semua hal…”

 

“…Dan satu lagi alasan kenapa aku bersikap dingin padamu… Karena, aku tidak ingin kau mencintaiku. Aku ingin kau membenciku, bahkan tidak menganggapku. Karena aku sudah salah mencintaimu. Dan aku tidak ingin hanya membuatmu bahagia sesaat. Tapi, sepertinya aku melanggar janjiku. Jadi, maafkan aku untuk yang terakhir kalinya, Jieun-ah…”

 

“…Aku sudah lelah, aku sudah mengantuk. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak terlihat olehmu. Tapi, kau harus percaya, aku akan selalu ada disisimu. Aku akan menjagamu. Jika dulu aku tidak bisa, sekarang aku akan berusaha…”

Jieun menutup laptop itu tanpa mematikannya, dan dalam seketika, terdengar suara tangis Jieun memecah kesunyian dalam ruangan itu.

***

END! Bagaimana chingudeul? Aku tunggu komen nya ya hehe thanks buat semua yang udah baca ^^