BABY TUBE DONGSAENG

Author : Madhit

Genre : Family, Sad, Romance

Length :Oneshot

Main Cast

  • Original Cast , Jenna Park
  • JYJ , Park Yoochun
  • SNSD, Kim Taeyeon

Disclaimer :

Cerita ini murni dan fict oneshot pertama Madhit. Setelah sebelumnya Madhit bikin Chaptered nya “My Adorable Fiancee” yang lumayan menguras tenaga, imajinasi, dan emosi. Fict ini inspirasi dari “My sister keeper” movie. Oke langsung saja. Simak ya!

Diary berdebu itu kini terbuka lebar. Menampakkan serentetan kejadian yang tak akan dilupakan sepanjang hidup si pemiliknya. Diary yang mengingatkannya tentang kehidupan, tentang persahabatan, tentang keluarga, dan tentang cinta.

New York, 27 Januari 2000

Suatu mukjizat memang kakak dapat bertahan hidup dari apa yang diperkirakan oleh tim dokter yang merawatnya di rumah sakit. Ia divonis menderita Leukimia seumur hidupnya dan mampu bertahan hanya sampai umur 13 tahun. Kini di usianya yang akan menginjak 22 ia masih diberi kesehatan. Semua orang berkata ini semua karena ada aku. Anak yang sengaja dilahirkan untuk menjadi pendonor bagi kakakku. Kapanpun kakak mengeluh sakit, akan ada aku disampingnya. Akulah baby tube dongsaengnya.

Ingatan Yoochun kembali ke kehidupannya 10 tahun yang lalu,

Flashback_

Aku tidak pernah berbohong saat aku bilang bahwa kakak ku lah wanita tercantik yang pernah kukenal. Aku juga tak berbohong jika aku berkata bahwa kakak ku adalah wanita yang sangat lembut, penyayang, perhatian, dan juga pelindung bagiku.

Meski Leukimia yang dideritanya sejak bayi telah merenggut kebebasannya. Rambutnya menghilang, kini hanya menyisakan sebongkah kepala tanpa adanya helaian rambut yang dapat mempercantik penampilannya. Bibirnya terkadang membengkak tanpa alasan.

“Yoochun, apa yang sedang kau kerjakan?” Kakak tiba-tiba datang dan membuatku terkejut. Ia datang bersama pelayan rumah yang mendorong kursi rodanya. Aku tersenyum getir. Bahkan tubuhnya terlalu lemah untuk membawa dirinya sendiri.

“Selamat ulang tahun,  kak” Aku berniat membungkus kadoku untuk kakak, tapi batal karena ia sudah mendatangiku duluan. Aku tersenyum hangat menatapnya, begitupun dirinya. Wajahnya seperti biasa, nampak pucat dengan beberapa luka memar dan sedikit lebam pada daerah sekitar lengan dan leher belakangnya. Aku sedikit miris.

Aku berdiri dan memberikan kadoku yang berupa syal untuknya. Kusentuh pipinya yang lembut perlahan. Ia terlihat senang dengan kadoku dan meraih leherku untuk dipeluknya hangat. “Gomawo, Yoochun-ah” Aku mengambil inisiatif memakaikan syal tersebut pada lehernya. Ia lagi-lagi tersenyum girang.

“Yoochun-ah, terimakasih atas semuanya. Atas berliter-liter darah yang selama ini kau donorkan untukku, sehingga aku bisa hidup sampai dengan detik ini. Semua berkat bantuanmu. Sampai mati pun aku mungkin tak akan mampu membalas kebaikanmu”, Bahunya bergetar menahan isak. Jika ia menangis, maka penampilannya akan semakin menyedihkan.

Tidak kak, kau tidak berhutang apapun padaku. Ini semua sudah kewajibanku. Walaupun terkadang batinku menolak. Ini karena kita saudara. Kau telah banyak mengasihiku, kakak.

Aku mengahadap ke arahnya dengan menekuk lututku ke lantai. Ia menatap mataku lekat-lekat. Kusentuh kedua pipinya dan ia malah tertawa di tengah isaknya.

Ingatanku melayang , sebelum kondisinya selemah ini terkadang ia menemaniku berlatih basket. Aku di lapangan, sedangkan kakak selalu menyemangatiku di kursi penonton. Kini aku sangat merindukan masa-masa itu. Bahkan aku tak yakin bisa konsen di latihan selanjutnya jika tak ada kakak.

“Dengar, sampai kapanpun, aku akan menjaga kakak. kakak Mengerti ?” Gumamku pelan. Kakak menyentuh pundakku, dengan ekspresi yang menujukkan terimakasihnya yang mendalam. Kami saling mengangguk satu sama lain. Menurutku, ini cukup untuk menunjukkan betapa aku sangat sayang padanya.

______________________________________________________________

 

New York, 3 Februari 2000

Pertama kalinya kakak ke sekolahku. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia terlihat amat senang melihat banyak orang yang berkumpul. Ia mengamati setiap orang dilihatnya, dan tak jarang memberikan komentar-komentar yang membuatku terkejut.

Flashback

“Yoochun-ah? Apakah sekolah itu menyenangkan ? Kau selalu terlihat bahagia setelah sepulang dari sekolah” Kakak berada di depan televisi sendiri, dengan beberapa helai selimut menutupi tubuhnya. Walaupun sudah menginjak musim gugur, kakak masih tak mampu menahan sisa-sisa cuaca dingin dari musim salju bulan lalu.

Aku mendekatinya, “Tentu saja. Karena di sekolah kita bisa memperoleh banyak teman. Kau ingin pergi ke sekolah kak?” Kakak terlihat berbinar. Selama ini memang kakak hanya homeschooling di rumah.

“Apakah sangat menyenangkan seperti bermain basket ?”

“Lebih menyenangkan lagi. Besok. Kau mau ikut?” Ajakku. Ia menunduk

“Biar aku saja yang meminta ijin dari ibu”

Keesokan harinya, dengan seijin ibu tentunya, aku dan kakak pergi ke sekolah. Pagi-pagi sekali kakak sudah bersiap diri. Memakai pakaian terbaiknya, mengenakan rambut palsu kesukaannya, dan memoles tipis wajah pucatnya. Aku hanya tersenyum saat ia meminta pendapatku apakah ia terlihat segar. Aku pun mengangguk. Bagiku, kakak merupakan gadis paling cantik.

Dengan bantuan pelayan rumah dan supir , kakak berhasil turun. Aku berjalan dibelakangnya, mendorong kursi rodanya.

“Siapa gadis itu?” Kakak berbisik padaku setelah aku berbincang sebentar pada teman kelasku. Saat ini kami berada di taman sakura belakang sekolah.

“Ia sungguh cantik” Lanjutnya.

“Benar” Kami tertawa bersama

“Ternyata adikku mulai jatuh cinta” Ujarnya riang. Mata itu akan membentuk bulan sabit yang sempurna jika dari pancarannya tanpa adanya rasa kelelahan yang besar.

Setidaknya, aku merasa bahagia menatapmu tertawa !

“Apa itu tadi noona mu? Ia terlihat segar, Yoochun-ah” TaeYeon menghampiriku saat kakak sudah pulang diantar oleh supir. Kami duduk bersebelahan dan mulai berbincang. Aku masih memandangi jalan dimana kakak tadi melambai padaku.

“Iya. Sifat optimisnya melebihi yang kau kira” Aku tersenyum hangat. TaeYeon menoleh padaku dan memandangiku lama. Aku menoleh dan ganti menatapnya.

“Yoochun-ah…?” Ia menggantungkan kalimatnya, masih menatapku lekat-lekat.

“Tatapanmu tadi itu, jangan katakan kalau kau…”

______________________________________________________________

 

New York, 8 maret 2000

Perasaan ini sangat salah, aku tahu itu. Tapi apa yang bisa kulakukan. Sudah berkali-kali aku meminta TaeYeon untuk membuatku jatuh cinta padanya. Namun sampai detik inipun tak ada yang bisa merubah perasaanku pada gadis itu. Ia masih tetap teman baikku, bahkan kami telah nyaman seperti ini. Kali ini pikiranku sungguh kalut. Hal yang teramat kutakuti ini ternyata timbul juga. Berkali-kali aku mengelak, mati-matian akau menahan perasaan ini agar tidak terlalu dalam. Namun sepertinya perbuatanku sia-sia. Benteng pertahananku tidak cukup kuat. Kurasa aku mulai gila. Entah apa yang dimiliki seorang kak Jenna hingga membuatku jatuh cinta padanya.

Flashback

“Yoochun-ah, kau terlihat aneh belakangan ini. Apa kau ada masalah?” Kak Jenna berkata lembut dengan ekspresi sedihnya. Ia mendekatiku dan membelai rambutku. Ada perasaan yang meletup-letup di dada. Aku mengepalkan tanganku perlahan. Benci pada diriku sendiri. Benci pada perasaan anehku.

Sudah hampir 3 minggu lamanya aku menghindari kakak. Bukan. Bukan karena aku membencinya , tapi aku perlu waktu untuk meyakinkan diriku bahwa ini bukanlah perasaan cinta untuknya. Dan kini, aku sadar ,hal yang kutakutkan justru benar-benar terjadi. Kurasa aku mencintai kak Jenna. Sesuatu yang absurd memang mengingat bahwa kami adalah kakak adik kandung, walaupun aku dari bayi tabung.

Kami dibesarkan bersama-sama, dari kecil memakai baju yang sama,  berbagi tempat tidur yang sama, dan selalu bepergian bersama. Ia seperti belahan jiwaku yang siap berada di sisiku di saat aku membutuhkannya. Dan kini saatnya untuk sadar. Aku hanya tak ingin perasaan ini semakin dalam dan akan justru melukainya dan melukaiku. Kakak, tak boleh mengetahui apa yang kurasakan.

“Kak, aku, aku ingin berpisah kamar denganmu.  Kurasa aku sudah cukup besar untuk itu. Ohya, dan minggu depan aku ada” Kakak mematung, terlihat jelas wajah kecewanya. Aku menunduk, merasa bersalah.

“Tidak. Tentu saja tidak apa-apa. Kau pasti membutuhkan privasi. Aku memahamimu Yoochun-ah” Ucapnya dengan wajah ceria. Kurasakan perbedaan yang cukup drastis dari ekspresi wajahnya, karena sebelumnya ia Nampak kaget.

“Baiklah kalau begitu. Apa mau kubantu, Yoochun-ah?”

“Tidak perlu”

______________________________________________________________

 

New York, 12 maret 2000

Baiklah, panggil aku pengecut ! pecundang jika perlu ! Aku bahkan tunduk pada perasaanku sendiri. Benar jika ada kalimat, sepandai pandainya tupai melompat ,akhirnya jatuh juga. Hal itu berlaku juga untukku. Aku menyerah pada perasaanku sendiri. Begitu aku ingin jauh darinya, aku semakin ingin mendekapnya dalam pelukanku. Mendekapnya kala ia menangis. Kakak, kurasa cintaku bertambah setiap harinya. Dan aku mensyukuri perasaanku ini padanya.

Flashback

“Mengapa kau tidak ikut bersama teman-temanmu? Jika aku diposisimu, pasti aku akan senang hati ikut serta, Yoochun-ah” Kakak saat itu sedang bersantai di ruang keluarga dengan sebuah buku di pangkuannya. Matanya tak lepas dari buku tebal yang tak kuketahui judulnya itu. Aku masih mematung.

Kurasa keputusanku sudah gila. Sangat tak mungkin jika aku jujur mengatakan bahwa aku ingin menghabiskan waktu liburanku dengan kakak ,ketimbang menghadiri festival kembang api yang telah lama kuidamkan. Memang terlihat sungguh aneh.

“Aku, aku bosan dengan festival seperti itu” Ujarku, aku segera beranjak dari hadapannya dan memilih untuk masuk ke kamarku. Meninggalkan kakak dengan ekspresinya yang kebingungan. Pelan-pelan kupegangi bagian dadaku. Bergemuruh sangat keras. Di situasi seperti ini seharusnya aku harus menghadapinya.

Dua jam aku mengurung diri di kamar, sedangkan kedua orangtuaku sedang keluar negri untuk mengurusi bisnisnya. Aku berinisiatif untuk keluar dari sini dan menemui kakak. Bahkan baru sebentar saja tidak bersamanya, membuatku resah.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Kuhampiri kakak yang sedang berdiam diri di balkon. Ia terlihat menikmati kegiatannya itu. Pancaran matanya terlihat beda. Ia nampak semakin pucat dari biasanya. Ia sedang memandang bintang di langit. Kudongakkan wajahku mengikuti arah pandangannya.

“Yoochun-ah, aku ingin dipeluk olehmu. Kali ini saja” Ia bangkit dari kursi rodanya, berjuang sekuat tenaga untuk berdiri.

Jangankan sekali, selamanya pun akan kudekap dirimu,

Kemudian langsung kudekap erat tubuhnya. Kulihat ia tersenyum sambil menyandarkan kepalanya pada bahuku. Kuhirup wangi tubuhnya. Wangi khas kakak.

“Apakah semua orang mati akan berada di atas sana? Aku sangat penasaran” Ia menunjuk ke arah langit malam.

“Apa?” Kukerutkan kedua alisku.

“Menyenangkan ya sepertinya. Jika begini aku tak akan takut mati, Yoochun-ah. Aku masih bisa menatapmu dari atas sana”

“Tolong jangan ucapkan lagi, atau aku akan sedih” Ucapku menatapnya merana.

“Yoochun-ah, aku sangat menyayangimu” Ia melepas pelukanku, dan memandang kedua mataku intens. Ia terlihat semakin cantik setiap hari.

“Aku mencintaimu, kakak” Bisikku. Ia mematung, lalu matanya terpejam sekilas, ia terlihat terkejut. Saat ia membuka matanya lagi, kudekatkan wajahku , merasakan setiap nafas kami yang beradu. Dan saat bibir kami menyatu, aku sudah tak ingat lagi bahwa kami saudara kandung. Semuanya berjalan begitu saja. Maafkan aku,

______________________________________________________________

 

New York, 14 Maret 2000

Mungkin ini hari yang paling menakutkan bagiku. Hari yang tak akan kulupakan seumur hidupku. Hemoglobin kakak menurun drastis ditambah dengan pendarahan dimana-mana. Di kaki, lengan, wajah, mulut, dan juga gusinya. Tidak hanya itu, hal yang mebuatku shock ternyata dokter di rumah sakit telah memvonis kakak mengalami gagal ginjal. Fungsi ginjalnya mengalamai gangguan akibat kelaianan darah yang dideritanya. Seketika itu kurasakan duniaku mulai rapuh perlahan. Bahkan kakak belum sempat membalas kata-kata cintaku.

Flashback_

“Aku merindukanmu, kak” Ucapku ketika kakak menelponku saat ia masih di rumah sakit. Ibu melarangku menjenguk kakak karena bertepatan dengan ujian kelulusanku.

“Yoochun-ah, yoochun-ah, aku , aku juga merindukanmu. Aku takut” Terdengar isak tangis dari suara kakak. Sebuah isakan kerinduan yang membuatku sangat menderita . Isakannya terlihat amat ketakutan. Jantungku tiba-tiba berdebar keras. Kusentuh dadaku ,tanganku mulai gemetaran.

“Kak, bersabarlah . Aku akan kesana segera” Air mataku mulai mengalir deras. Ini tidak bisa terjadi. Jika aku berdiam disini tidak akan ada yang menghibur kakak. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya. Begitu banyak hal yang ingin kuceritakan kepadanya. Aku takut ini semua akan terjadi seperti yang kutakutkan.

Kututup flip ponselku, dan menuju kamar dengan tergesa. Kusambar jaket yang kebetulan tersampir di kamarku, dan berlari cepat ke garasi. Begitu banyak barang yang tak sengaja kujatuhkan . Apapun itu aku sungguh tak peduli. Fikiranku hanya terpusat pada kakak. Aku ingin menemui kakak sekarang juga.

~

Aku berdiri di ambang pintu.

“Aku akan mendonorkan ginjalku sekarang juga” Ucapku mantap. Saat di rumah sakit, tak sengaja kudengar pembicaraan ibu dengan tim medis yang mengatkan bahwa kakak membutuhkan sebuah donor ginjal untuk tetap bertahan hidup. Otakku tak bisa berfikir apapun selain mengucapakan kalimat aneh itu.

Wajah ibu berlinangan air mata, dari tatapannya terlihat jelas perasaan bersalahnya yang besar. Seketika itu seisi ruangan terlonjak akan ucapan anehku.

“Aku tak peduli aku hidup dengan satu ginjal, selama kakak bisa tetap hidup. Lagipula, aku dilahirkan untuk menolong kakak. Kumohon” Ibu terlihat semakin shock. Badannya terhuyung sehingga ayah harus menopang tubuhnya. Melihat kondisi orang tuaku yang terpukul, aku tak bisa menyembunyikan rasa sedihku.

Kakak, kau harus bertahan,

______________________________________________________________

10 tahun kemudian…

Di sebuah perbukitan yang sangat luas.

Yoochun menutup diary usangnya. Sebuah diary yang menjadi saksi kisah asmaranya 10 tahun silam. Penuh dengan coretan-coretan masa lalu yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya. Bahkan saat ia sudah mempunyai pendamping hidup sekalipun, tempat bagi Jenna Park masih tersimpan rapih dalam hatinya.

Kakak meninggal karena kadar Hb nya sangat rendah, akibat dari seringnya cuci darah. Injeksi hormone pembentuk sel darahnya juga tak berfungsi dengan baik. Sebelumnya kakak menolak keras menerima ginjal dari Yoochun, hingga terjadi penolakan pengobatan sebagai bentuk protes darinya. Ia benar-benar tak ingin membuat Yoochun berkorban di sepanjang hidupnya.

Pikirannya melayang

“Kau PERGILAH!! Mana mungkin aku membiarkanmu melakukan hal itu untukku” Kakak meraung dengan linangan air matanya. Ia meronta dari pelukanku saat itu. Kondisinya sungguh memprihatinkan. Aku tak sanggup berkata apapun.

“Kumohon. Aku berjanji akan tetap sehat walaupun dengan mengandalkan cuci darah. Yoochun-ah, aku sungguh menyayangimu. Aku tak ingin kau lebih menderita!!”

“Kau tahu bagaimana perasaanku melihatmu kesakitan saat kau mendonorkan darah untukku?” Kakak menatapku,  “Aku menderita Yoochun-ah!!” ucapnya lirih.

Pikirannya kembali

Yoochun berbalik dari hadapan sebuah pusara kakaknya. Pusara dari seorang gadis yang sangat ia cintai . Cinta pertamanya. Belahan jiwanya. Sekaligus kakak perempuannya.

Entah sudah berapa kali ia  membaca surat terakhir dari kakaknya. Rasanya seperti berada di sampingnya, mendengarkan setiap perkataan yang terdapat di surat itu.

~

Yoochun-ah, adikku tersayang

Adikku, malaikatku ,maafkan kakak selama ini sering menyusahkan hidupmu. Kau tahu, bagi kakak kau adalah malaikatku . Di dekatmu, aku bahkan sering lupa bahwa akulah kakakmu. Aku sering terisak didepanmu, sering manja terhadapmu. Seseorang yang seharusnya menjagamu, melindungimu, dan bukanlah sebaliknya.

Yoochun tersenyum lemah, kemudian ia melanjutkan untuk membacanya lagi.

 

Yoochun-ah, mungkin saat kau membaca surat ini kakak sudah tidak ada di sampingmu. Kakak sudah pergi ke tempat yang lebih jauh. Kau jangan sedih Yoochun-ah, kakak tak akan memaafkanmu jika kau menangisiku berlarut-larut. Karena kakak tidak mati. Kakak hanya mencoba untuk hidup abadi dalam hatimu. Berjanjilah pada kakak , kau akan hidup bahagia. Aku mencintaimu.

Surat tersebut ia peluk dalam, sambil kedua tangannya mengusap nisan Jenna.

Aku akan selalu mencintaimu, kak

“Sayang, kau sudah selesai berbincang dengan noona-mu?” TaeYeon melingkarkan tangannya pada lengan Yoochun. Yoochun menoleh dan menghapus sisa air mata yang membasahi pelupuk matanya. Ia melipat surat dari kakaknya dan menyelipkannya di buku diary nya. TaeYeon mulai menggumam dengan memandang pusara Jenna.

“Perasaanmu kepada kak Jenna, kumohon jangan karena diriku kau jadi berubah. Aku tahu aku tak sebanding dengan kak Jenna. Yoochun-ah, berikan aku tempat lain di hatimu. Tempat yang akan selalu kau ingat dan sama berartinya dengan kak Jenna”

Mereka menikah 2 tahun lalu, dan kini TaeYeon tengah mengandung hasil buah cinta mereka yang memasuki usia 6 bulan. Yoochun sadar bahwa ia juga memiliki kehidupannya sendiri. Ia meminta TaeYeon menjadi istrinya setelah bertahun-tahun nyaman menjadi sahabat terbaiknya. Kenyamanan satu sama lain yang berujung pada sebuah pernikahan.

“Sayang, kau juga. Harus memberi salam pada bibimu. Ia pasti sangat gembira jika bertemu denganmu” TaeYeon mengelus pelan perutnya yang membuncit. Yoochun menoleh , kemudian ia membungkuk dan mengecup perut TaeYeon kilat. Keduanya saling melempar senyum. Bagi TaeYeon itu sudah merupakan jawaban terbaik dari suaminya.

“Baiklah, mari kita pulang” Yoochun meraih jemari istrinya dan beranjak dari pusara kakaknya. Ia berfikir untuk tidak berlarut-larut dalam dukanya. Ia percaya kali ini mungkin saja kakak sangat bahagia melihatnya juga bahagia.

Kakak, berbahagialah, karena di sini aku sangat bahagia..

Baby Tube Dongsaeng,

FINISH

*

Annyong ? how are you readers? Madhit back looo dengan fict teraneh berikutnya. Ini iseng kok beneran. Lagi kesengsem ama pesona nya Song Yoo Hyun sih ya hhaha,. At least, yang menunggu My adorable fiancée thx banget ya. Fict itu masih kulanjutin kok tenang aja. Dan, plis plis komen nya untuk fict ini. Huhu pasti aneh?terlalu pendek?_ Kritik dan saran ya J)