Oh! My School Watchers

Author : Kezia

Length : One shot

Genre : Romance

Cast : Soyeon /T-ara, Yoseob/Beast, Lee Joon/MBLAQ, Gikwang/Beast, Hyosung/Secret,  Sungjong/Infinite(cameo)

 

“Sirheo! “seru Soyeon marah lalu keluar membanting pintu. Seisi kelas terdiam. Guru vokal yang sedang mengampu hanya menggeleng-geleng kepala.

“Baiklah, kelas sampai di sini dulu. Kita ketemu minggu depan,” guru vokal yang bernama Joon sonsaengnim itu menghela nafas lalu bergegas mencari Soyeon.

“Ayolah Soyeon.. Aku yakin kalian akan menjadi duo yang hebat. Kalian memiliki suara yang amat sayang untuk dibiarkan sendiri. Sekali ini saja, professional sedikit saja, Soyeon,” rayu Joon sonsaengnim.

Soyeon diam saja. Ia menyeruput Slurpie-nya seakan tidak ada orang selain dirinya di sana.

“Soyeon-ah..”

“Kau tahu kan. Yoseob ssi sirheoyo,” ketus Soyeon.

“Han beon man. Satu kali ini saja, Oppa dowajyoyo Soyeon-ah..” lirih Joon. Soyeon kalah. Ia selalu kalah bila Joon sudah melirih.

“Jadi kau akan membuat grup vokal bersama Soyeon? Mengerikan!” seru kikwang.

“Aku hampir gila. Semoga Joon sonsaengnim gagal membujuknya!” tambah Yoseob. Lalu mereka berpapasan dengan Joon sonsaengnim dan Soyeon yang baru kembali. Keduanya tersenyum. Soyeon mengulurkan tangannya untuk menjabat Yoseob.

“Aku akan bekerja keras, Yoseob-ssi. Mohon bimbingannya,” Soyeon tersenyum.

Yoseob pingsan.

Yoseob dan Soyeon, terkenal sebagai antis. Yoseob anti dengan Soyeon begitu juga sebaliknya. Tidak ada yang tahu pasti penyebab cek-cok tiada akhir ini, bahkan kedua pelaku. Mereka seakan memiliki dua kutub magnet yang berbeda. Tapi sama-sama memiliki suara yang indah. Soyeon dengan suaranya menggetarkan sementara Yoseob tanpa pernah meleset dalam meraih nada menyayat hati pendengarnya. Karena dalam waktu dekat akan diadakan perlombaan menyanyi seluruh Korea, sekolah merekapun turut sibuk mempersiapkan. Joon, guru vokal membimbing Soyeon dan Yoseob berlatih bernyanyi serta beberapa anak lainnya untuk bermain musik.

Joon sering dipusingkan dengan pertengkaran keduanya. Bahkan pada hal sepele mereka akan berteriak saling menyalahkan.

“Ya, Soyeon-ssi. Desahanmu berlebihan. Orang akan mengira kau menangis,” komentar Yoseob.

“Diam kau Yoseob-ssi. Kau dengan suara cemprengmu itu memekakkan telingaku,” sahut Soyeon.

“Mworago?! Cempreng? Kau gila?! Apa hobimu mendesah hingga kau menyanyi sambil mendesah?” balas Yoseob.

“Geurae! Itu hobiku! Lalu apa hobimu?! Kejepit pintu? Dasar pria cebol!” Yoseob mendelik.

“Aku pulang lebih awal, sonsaengnim. Kikwang menungguku,” Yoseob menarik tasnya lalu membungkuk pada Joon dan segera keluar. Soyeon mengambil jaketnya dan mengikuti Yoseob keluar. Lagi-lagi Joon menghela nafas. Ia berpikir keras bagaimana kedua anak ini bisa berlatih bersama.

Joon memutuskan untuk melatih keduanya secara terpisah. Dengan begitu mereka lebih konsentrasi bernyanyi. Joon menemani mereka bernyanyi agar masing-masing tidak mendominasi. Hasilnya baik, Yoseob memiliki power yang kuat pun juga dengan Soyeon.

Setelah 3 bulan berlatih keras, Joon sonsaengnim mengumpulkan mereka.

“Aku berpikir tentang rekaman. Meski teknik kalian sudah bagus, penghayatan masih perlu dilatih. Dengan mendengar kalian bernyanyi terus-menerus, kalian akan bisa lebih menghayati,”

“Rekaman? Asyik!” seru Soyeon.

“Jinjjayo sonsaengnim?” mata Yoseob berbinar. Tapi segera keduanya berpandang-pandangan.

“Berdua dengannya?” Soyeon menunjuk muka Yoseob telak.

“Ya! Jangan menunjukku begitu!” Soyeon menurunkan jarinya.

“Kalian lupa kalian adalah duo? Tentu saja berdua!” Yoseob menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Soyeon mengangguk dengan pandangan kosong.

“Minggu depan, jam 10 pagi. Jangan lupa ya,” kata Joon sonsaengnim sebelum beranjak dari sana.

“Hyosung sonsaengnim,” yang dipanggil menoleh.

“Waeyo Joon sonsaengnim?”

“Nanti malem ada acara ga?” tanya Joon genit.

“Emm.. Engga kok. Ada apa?”

“Ke Monas yuk,” Joon mengedipkan mata.

“Hah? Monas?” Hyosung kebingungan. Rasa-rasanya di Korea ga ada Monas deh.

“Eh, maksudnya Seoul Tower. Hehehe,”

Hyosung tertawa. Pukul 6, Seoul Tower.

Sementara Joon dan Hyosung bersama, 2 pasang mata hampir terbakar oleh cemburu.

“Hyosung sonsaengnim! Aku sudah bisa popping, sonsaengnim!” seru Kikwang.

“Bagus, Kikwang. Gerakanmu sudah benar,” puji Hyosung.

“Tangan kirimu kurang lentur, kikwang-ssi. Harusnya begini,” Joon me-popping-kan tangan kirinya.

“Apa Joon sonsaengnim juga bisa waving? Seperti ini,” Kikwang kembali menggerakkan tubuhnya seperti ombak.

“Itu keahlianku, lihat,” kata Joon.

Jadilah Joon sonsaengnim perang dalam merebut perhatian Hyosung sonsaengnim. Sementara yang diperebutkan hanya menoleh ke kiri dan kanan mengikuti yang sedang bicara.

“Jwesonghaeyo, aku harus pergi dulu,” pamit Hyosung lalu berjalan menjauh. Joon dan Kikwang hanya bisa menatap kepergian Hyosung dengan nanar, merasa semuanya sia-sia.

Di sisi lain, Sungjong, anak kelas sebelah menghampiri Soyeon. Soyeon sendiri tengah bengong setelah menyaksikan kejadian yang membuatnya banyak berpikir. Joon sonsaengnim menyukai Hyosung sonsaengnim, guru dance itu.

“Soyeon-ssi, apa yang kau lamunkan?” tanya Sungjong. Soyeon menatap minumannya.

“Apa kau sedang melamunkan aku?” goda Sungjong.

“Ya, Sungjong. Sampai di situ,” Yoseob datang.

“Waeyo, Yoseob-ssi?” Sungjong berdiri, menarik lengan kemejanya.

“Jangan ganggu Soyeon,” sahut Yoseob pelan sambil menyipitkan mata ke arah Sungjong.

“Arghhh! Shigeuro!” seru Soyeon. Keduanya terpaku.

“Soyeon-ssi, kau sudah berbaikan dengan muka kecil ini?” tanya Sungjong.

“Selama kau satu grup denganku, aku tidak mengizinkanmu berteman dengan pria cantik ini!” ancam Yoseob.

“Aku pria tercantik satu sekolahan!” ketus Sungjong.

“Aku pria dengan suara tertinggi!”

“Suaramu seperti banci,”

“Lalu bagaimana dengan mukamu?” sengit Yoseob. Lalu keduanya beralih ke Soyeon.

“Soyeon-ssi. Kau suka pria cantik dibanding pria pendek kan?!”

“Ya! Kau juga pendek!” Soyeon mengangkat tangan, lalu keduanya terhenti.

“Kalian berdua.. Suka band Raja?” tanya Soyeon.

“Bagaimana bisa..” keduanya bersamaan memandang kacamata hitam yang tergantung di kaos masing-masing. Seketika juga mereka berdua berangkulan keluar kantin dengan mengenakan kaca mata hitam sambil bersenandung.

“Pak Dadang.. Pak Dadang.. Pak Dadang.. Pak Dadang..” Soyeon ngikik.

Malam tiba. Langit cerah dengan beberapa bintang menemani bulan menerangi gelap. Malam mulai larut. 3 anak muda sedang menanti di rumah guru dance mereka dengan jantung yang tidak bisa diam. Terutama Kikwang dan Soyeon. Soyeon ingin sekali lagi menyatakan perasaannya kepada Joon, begitu pula Kikwang. Dari balik pohon yang berbeda mereka menunggu. Selain Kikwang dan Soyeon, Yoseob siap sedia ada untuk menggotong Kikwang bila Kikwang pingsan setelah ditolak. Hehehe.

Brmmmmm. Cekit-cekit. Bruk! Dari pintu kiri dan kanan, keluar Hyosung dan Joon.

“Makasih buat malem ini,” Hyosung tersenyum. Joon tersenyum.

Saranghaeyo, Hyosung-ah,” lirih Joon.

Na do saranghae, Joon-ssi,” Joon nyengir setelah cintanya diterima Hyosung. Sementara Soyeon dari balik pohon sudah menitikkan air mata, Kikwang sudah sesenggukan. Apalagi ketika bibir Hyosung dan Joon hampir bersentuhan, Kikwang dengan masih tetap meraung-raung keluar dari persembunyiannya. Hyosung dan Joon terkejut dengan keberadaan murid yang melihat kelakuan mereka. Lalu keluar pula Yoseob, dengan malu-malu menyeret Kikwang kembali.

“Aku sedang ingin sendirian, Yoseob-ah,” ucap Kikwang.

“Aku akan diam saja,” sahut Yoseob.

“Bisakah kau lewat jalan yang lain? Aku ingin menangis tanpa ada yang melihat. Sekalipun itu kau, Yoseob-ah. Mian..”

“Arassoyo,” Yoseob memutar 180 derajat arah langkahnya. Ia berlari kembali ke rumah Hyosung sonsaengnim. Mencari Soyeon yang tidak terlihat keluar bersama mereka.

Yoseob kepusingan karena tidak juga menemukan Soyeon di sekitar rumah Hyosung. Ia khawatir. Malam yang semakin larut membuat khawatir Yoseob semakin menjadi-jadi.

Sampai di sebuah taman, Soyeon tampak duduk di sebuah ayunan. Yoseob berlari ke tempat Soyeon duduk.

“Soyeon-ssi,” tidak ada jawaban.

“Soyeon-ssi gwaenchanhayo?”

Annyeong nae sarang sarang sarang.. jalgayo nae sarang sarang sa..uhuk!gumam Soyeon.

“Ya, kau tidak apa-apa?”

Di bawah penerangan yang kurang Yoseob mengangkat dagu Soyeon. Tanpa sadar Yoseob memperhatikan setiap detail wajah Soyeon. Matanya, hidungnya yang lurus dan bibirnya yang tipis. Hidungnya tampak memerah, begitu juga di sekitar matanya. Ia banyak menangis dan sepertinya tertidur lelah mengalirkan air mata. Yoseob bukannya menggotong Kikwang, tapi Soyeon dengan piggyback. Berkat Yoseob Soyeon bisa pulang sampai rumahnya dengan selamat.

Jam 9.55, 5 menit sebelum janji rekaman.

“Yoseob-ssi. Mana Soyeon?” tanya Joon terus melihat jam tangannya. Yoseob hanya mengangkat bahunya.

Jam 10.10

“Mungkin ia terlambat. Bagaimana kalau kau take dulu?” tawar Joon.

“Ne, sonsaengnim,”

“Ya, apa itu yang kau pelajari selama ini? Kemana power mu?” protes Joon.

“Jwesonghaeyo sonsaengnim,” Yoseob take lagi. Tidak beda jauh dengan sebelumnya, suara Yoseob hanya menyanyi tanpa feel.

“Jwesonghamnida sonsaengnim, aku terlambat,” Soyeon datang. Yoseob yang melihat Soyeon datang segera keluar ruang rekaman dan menarik tangan Soyeon ke toilet sambil memegang termos di tangannya yang lain. Mata Soyeon masih sangat merah. Yoseob mengeluarkan sendok yang sudah direndam air es dari tadi. Yoseob tau akan jadi begini. Maka ia mempersiapkannya lebih dulu.

“Kau haru mengompres matamu, kalau tidak mau Joon sonsaengnim tahu kau menangis,” kata Yoseob sambil mengeluarkan sendok.

Soyeon hanya diam memperhatikan kelakuan Yoseob.

“Ini. Aku tunggu di luar ya. Joon sonsaengnim sudah ribut mengetuk pintu,” ujar Yoseob lembut.

“Kau tidak apa-apa Soyeon? Apa perutmu sakit?” tanya Joon khawatir.

“Gwaenchanhayo sonsaengnim. Aku pemanasan suara dulu,” lalu ia melanjutkan dengan bersenandung do-re-mi begitu seterusnya. Setelah siap, ia melangkah ke ruang rekaman dimana Yoseob juga di sana, menanti Soyeon.

“Kalian sangat mengecewakan. Aku tidak menyangka akan seburuk ini,” keluh Joon.

“Tentang kalian yang saling membenci, ternyata sangat berpengaruh pada hasil paduan. Aku melupakan bahwa menyanyi butuh perasaan. Aku malah memaksa dua kutub yang berbeda untuk bernyanyi bersama,”

“Maafkan aku, anak-anak. Mungkin tidak untuk kali ini. Suara kalian memang bagus, tapi salahku berpikir kalian akan bersatu,”

“Sampai di sini saja. Aku akan melatih kalian menjadi solo,”

Yoseob dan Soyeon berpandangan. Joon tampak sangat terpukul melihat hasil kerja kerasnya selama ini sia-sia.

“Ddak hanbeonman, sonsaengnim. Satu kali lagi saja,” pinta Yoseob.

“Aku akan berusaha lebih baik, sonsaengnim. Gajima (jangan pergi),” tambah Soyeon. Joon menoleh dan meletakkan kembali pantatnya di bangku. Masing-masing menarik nafas panjang untuk ketenangan. Yoseob meraih tangan Soyeon. Yang dipegang hanya memandangi pemegang tangannya sambil bernyanyi. Begitu juga yang dilakukan Yoseob. Memandangi Soyeon seraya bernyanyi dengan suara emasnya.

Tale as old as time, song as old as rhyme.. Beauty and the beast..”

Joon menangis. Terharu akan kerja keras muridnya serta kasih sayang antara guru dan murid. Soyeon pelan-pelan juga merasakan yang sama. Kasih sayang antara guru dan murid. Seiring juga dengan perdamaiannya dengan Yoseob, mereka seperti terlahir sebagai duo. Mereka saling memiliki, tidak ada lagi rasa benci. Pertengkaran sengit antara mereka selesai begitu saja setelah masing-masing menunjukkan kasihnya. Bernyanyi, adalah sesuatu yang mereka lakukan. Lagu menyatukan mereka dalam harmoni, dan perasaan membuatnya hidup.

Karena mereka berhasil bernyanyi dengan baik, Joon mendapat kenaikan gaji. Hyosung sendiri belum menentukan antara Joon atau muridnya, Kikwang. Soyeon dan Yoseob tidak pacaran. Pertengkaran kadang masih terjadi. Untuk menyelesaikannya mereka hanya perlu ke ruang musik dan bernyanyi bersama. Musik akan menyelesaikan semuanya. Bagi mereka.