you – the one and only

Author          : yellowcandy

Cast                : Lee Kikwang B2ST, Kim sooyoung (OC)

Length           : ficlet

Rating            : PG-13

Genre              : romance

“Lee kikwang” sapa seseorang dibelakangku, suaranya terdengar kurang yakin dan pelan, tapi tetap saja bisa terdengar olehku, aku berbalik.

“Lee kikwang”ujarnya lagi, sambil tersenyum lebar, Kim soo young? Bagaimana bisa dia ada disini? Apakah aku sedang bermimpi?

“ya! Kau lupa padaku?” katanya sambil mengibaskan ngibaskan lengannya didepan mukaku.

Aku mengerjapkan mata dengan spontan, tidak, ternyata aku tidak sedang bermimpi.

“kau.. bagaimana bisa ada disini?” bukankah kau di Paris dan meninggalkanku disini? Lanjutku dalam hati.

“hmm.. aku rindu korea, and you” ucapnya sambil memamerkan deretan gigi rapinya, tak tahukah dia kalau ucapannya barusan telah membuat jantungku bekerja lebih ekstra?

“bohong” kataku sambil berlalu melewatinya

“ya!” dia berlari dan berhenti tepat dihadapanku, menyilangkan kedua tangan di dadanya dan memonyongkan bibirnya beberapa senti hahaha lucu sekali!

“kau tidak merindukanku?” matanya menyipit, seakan seorang detektif yang menyelidiki tersangka pembunuhan.

Aku menggeleng, padahal hatiku berteriak sangat keras mengatakan ‘BAGAIMANA MUNGKIN AKU TIDAK MERINDUKANMU?!’ biarlah aku berbohong, lagipula, aku tahu dia pasti punya alasan lain mengapa pulang ke korea, bukan sekedar untuk mengatakan merindukanku, pasti.

“padahal aku sudah jauh dari paris hanya untuk menemuimu” suaranya melemah dan menyiratkan kekecewaan yang mendalam, acting yang bagus nona kim! Tapi aku tidak tertipu!!

“ah~ ayo makan ice cream kesukaan kita”katanya tiba-tiba, sambil menyeret lenganku

“ya! Ya! Lepas, aku ada kelas sekarang!” Kataku sambil berusaha melepas cekalannya, aku tidak berbohong kali ini, memangnya untuk apa aku ke kampus kalau bukan karena ada kelas, huh.

“baiklah, aku akan menunggumu disini, ok?!” bentaknya. Dia melepaskan cekalannya dan duduk disalah satu bangku taman tepat di depan kelasku.

“oke?” katanya lagi

Aku mengangguk sambil melototinya, lalu berjalan masuk menuju kelas, benarkah dia akan menungguku?

Baiklah kim sooyoung, kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku sekarang! Kau harus bertanggung jawab karena membuatku tak bisa berhenti memikirkanmu dan beberapa kali mendapat lemparan penghapus dari dosen super galak sejagad raya lee dong ho.

kalau dipikir-pikir harusnya reaksiku saat bertemu gadis itu biasa-biasa saja, atau bahkan mungkin seharusnya aku marah karena dia meninggalkanku beberapa tahun lalu, aku masih ingat apa yang dikatakan pembantunya saat aku pergi kerumahnya waktu itu “nona pindah ke paris dan mungkin tidak akan kembali ke korea”, lalu sekarang apa? Dia kembali dan tanpa wajah berdosa mengatakan rindu padaku? Yang benar saja!

“lee kikwang!!” sebuah suara membentak plus pukulan penghapus  di keningku membangunkanku dari lamunan.

Aku mengerjap beberapa kali dan membenarkan posisi dudukku.

“silakan keluar kalau kau tidak ingin mendengarkan kuliahku!” suara lee dongho seonsangnim mendadak menggelegar dikelas yang –entah kenapa – menjadi sepi.

Aku tertunduk, dan sebelum dia menyuruhku keluar untuk yang kedua kalinya, aku melenggangkan kaki tanpa memberi hormat, dan berjalan keluar.

 —

Hal pertama yang membuatku tersenyum saat keluar kelas adalah aku melihatnya, ya, dia benar soal dia akan menungguku, dan terlihat dari posisinya yang masih sama seperti saat ku tinggalkan (hanya ditambah sebuah buku dipangkuannya), bisa simpulkan bahwa dia tidak pergi kemanapun kecuali tetap duduk disana.

“kupikir kau takkan benar-benar menungguku” kataku tepat dihadapannya. Aku duduk disampingnya dan melihat buku yang sedang dibacanya, kapan kebiasaan membacamu akan hilang sooyoung-ah?

“aku bukan pembohong” katanya, lalu menutup buku yang –entah-apa –judulnya-aku-tak-peduli

Benarkah kau bukan pembohong? Lalu mana janjimu yang selamanya takkan meninggalkanku? Kataku dalam hati, jelas tak ku katakan, aku tak ingin kami bertengkar di pertemuan pertama kami ini.

“ayo makan ice cream!” ucapnya sambil merengek dan lagi-lagi menyeret tanganku.

 —

Saat kami sampai dikedai ice cream langganan kami 4 tahun yang lalu, kami langsung mengambil tempat duduk favorit kami dulu, meja pojok dengan view pemandangan keluar lebih leluasa,  tempat ini tak banyak berubah, kecuali besar ruangan (aku yakin mereka sudah melakukan renovasi disana sini) tapi pada dasarnya design dan pengaturannya masih sama seperti dulu.

“kami pesan banana chocolate ukuran besar” kata sooyoung saat seorang pelayan menghampiri meja kami. ah~ itu menu favorit kami.

Sooyoung mengalihkan pandangan kesekitarnya lalu padaku.

“tidak banyak berubah ya” dia tersenyum senyum sendiri, lalu melanjutkan “ emm kau sering kesini?”  nadanya penuh kecurigaan

“aku tak pernah kemari lagi sejak… ya kau tahu” kataku.

Dan sebelum suasana “awkward” dimulai, seorang pelayan datang ke meja kami dan menyajikan banana chocolate yang tadi dipesan. Say thanks to that waitress!

Dia menyendok ice cream ke mulutnya dan bergumam “benar-benar tidak berubah”

Aku tersenyum. entah mengapa, tapi melihat gadis ini memejamkan mata sambil tersenyum seperti yang dilakukannya sekarang, rasanya sangat menyenangkan.

Tak sampai 15 menit ice cream kami habis, aku membayar ice cream-nya dan kemudian beranjak pulang, aku tahu dia menguntitku dari belakang.

“kikwang-ah, ayo kita duduk disana” ucapnya. Dia menunjuk sebuah bangku di halaman belakang kedai ice cream tadi, tempat biasa kami setelah makan ice cream disana.

Aku menghela napas dengan berat, dia menyeretku dengan sangat kencang, membuatku tak bisa melarikan diri sedikitpun, jadilah dengan agak terpaksa aku mengikuti ajakannya.

“kau ingat dulu kita sering kesini kan?” dia berujar dengan nada seakan aku penderita amnesia yang lupa tentang hal itu, bagaimana aku lupa sooyoung.

Aku menyenderkan kepalaku ke batang pohon dan memejamkan mata, terlintaslah kenangan-kenangan kami disini dulu, berlindung dari hujan, menikmati angin sore dengan guguran daun, bercerita tentang pelajaran matematika yang kata sooyoung membuatnya gila, dan ungkapan cinta itu, ya, disinilah aku menyatakan aku ingin dia jadi pacarku, dan dia menerimaku. HH

Aku membuka mata, dan langsung kaget saat melihat dia tengah menatapku, dan muka kami sangat dekat! Dia tertawa pelan, kemudian menatapku lagi, sangat serius.

“aku rindu semua ini” ujarnya sambil tersenyum, kemudian mengalihkan pandangan kedepan.

Aku hanya diam, ingin mengatakan hal yang sama tapi lidahku kelu,bagaimana aku bisa bicara saat suasana hatiku seperti sekarang, sangat senang, tapi terasa perih.

“dulu aku mencintaimu, sangat mencintaimu” ucapnya selang beberapa detik, ya aku tahu, tapi itu dulukan? Protesku dalam hati. “dan asal kau tahu, sampai saat inipun perasaanku tak berubah” ucapnya pelan tapi cukup terdengar olehku. Aku menelan ludah, benarkah?

“bukan keinginanku untuk pergi, juga bukan kesalahanmu jika appa tidak menyukaimu” dia menyenderkan kepalanya di pohon, sama seperti yang sedang kulakukan.

“bagaimana denganmu? Apa masih sama sepertiku?” Tanyanya tanpa melihatku yang mendadak merasakan getaran listrik ribuan volt ditubuhku. Suaranya agak bergetar, aku yakin kalau sekarang ini dia sedang menahan untuk tidak menangis.

Aku masih mematung, dan kemudian menggeleng, aku tahu ini kebohongan besar, tapi toh aku yakin dia tetap akan meninggalkanku sekalipun aku mengatakan yang sebenarnya, aku tak ingin kembali merasakan ditinggalkan dengan dia tahu perasaanku, itu membuatku seperti seorang “loser”, karena itulah, sekarang ini lebih baik aku membiarkan dia pergi tanpa tahu tentang perasaanku sebenarnya.

Dia tersenyum, terukir jelas kalau senyuman itu hanya sekedar untuk menghibur dirinya.

“harusnya aku memikirkan kemungkinan itu, maaf.. karena aku selalu menyangka kau masih mencintaiku seperti dulu” ujarnya sangat pelan

Keadaannya terasa makin sulit, harusnya aku tak perlu berbohong, tapi egoku masih sangat menguasaiku, lagipula dulu dia yang meninggalkanku kan?!

“ok, aku rasa sekarang aku tak punya beban lagi”

“beban? Apa maksudmu?” akhirnya mulutku bersuara, ucapannya benar-benar menggantung dan membuatku penasaran.

“bukankah sudah kubilang kalau aku kemari untuk menemuimu? Ya aku tahu aku bodoh, harusnya aku tahu kalau perasaan manusia bisa berubah kapan saja” dia berhenti sebentar untuk menghela napas “tadinya aku akan memintamu untuk menggagalkan rencana appa, tapi sekarang.. ah sudahlah, kartu as-ku sudah tak bisa dipakai lagi” ucapnya dengan nada dibuat enteng.

“rencana? Rencana apa? Apa maksudmu?! Kataku agak membentak

“I’ll get married” ucapnya pelan, tapi terasa sangat sangat keras dikupingku.

Aku menelan ludah, pahit.

“apa?” tanyaku setelah berhasil menguasai diri.

“ah, sudahlah, lagipula calon priaku tak terlalu buruk juga hahaha” dia tertawa hambar.

Menikah? Dia akan menikah?? Dan dia memintaku untuk kembali dengannya? Dan aku menolaknya? Membiarkan dia menikah? Saat aku sadar dengan segalanya, aku melihat sooyoung tengah berdiri setengah membungkuk ke arahku.

“well, cukup untuk hari ini” ujarnya dan berjalan meninggalkanku.

TIDAK! Aku takkan membiarkan itu terjadi!!

Dengan sigap aku berdiri, kemudian berjalan cepat kearahnya dan menarik tangannya, dalam satu hentakan saja aku sudah bisa memeluknya.

Tubuhnya berguncang pelan di pelukanku, dia menangis.

“maaf..” kataku sambil berbisik tepat ditelinganya.

Dia tak menjawab sedikitpun, namun isakan pelannya mulai terdengar.

“sooyoung-ah, aku mencintaimu bahkan sedikitpun tak berubah sejak dulu, aku hanya tak ingin merasakan ditinggalkan olehmu lagi, jadilah aku berbohong, maafkan aku.”

Aku mengeratkan pelukanku dan sangat pelan kubisikan “dan kau hanya akan menikah denganku”.