LOVES ME, NOONA part 1

Author: Song Miin Ah

Main Cast : Kim Jonghyun, Park Hyunra

Support Cast : SHINee

Length : sequel

Genre : Romance

Rating : General

 

~~~~

Hyunra POV

“Noona… aku suka kamu. Maukah kamu jadi pengantinku?”

Kata-kata itu masih terus mengiang dikepalaku kalau aku menatap wajahnya. Kata-kata itu sudah berlangsung sekitar lebih dari 15 tahun lalu. Aku tidak tahu dia masih ingat atau tidak dengan perkataannya waktu itu. Sampai saat ini dia juga masih sering bilang, “Noona aku suka kamu.” Tapi dia tidak pernah ‘melamar’ku seperti waktu itu.

“Noona! Ada apa?”

Dia menepukkan tanganya tepat didepanku. aku langsung menghilangkan khayalanku tentang kejadian masa lalu itu. Lupakanlah, kau bukan hidup untuk masa lalu, Park Hyunra.

“Haahh… parah. Padahal sudah lama kita tidak bisa jalan berdua seperti ini. Kenapa kau malah melamun, Hyunra-noona?” tanyanya.

“Mianhae, Jonghyun-ah. Aku lelah sekali akhir-akhir ini.” Balasku.

Dia, dongsaeng kecilku… yang dulu selalu mengekor dibelakangku… Kim Jonghyun. Sekarang sudah berubah menjadi namja tampan yang disenangi banyak yeoja.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya cemas. Dia menempelkan tanganya didahiku seperti saat dulu ketika aku melakukan hal yang sama padanya. “Aku baik-baik saja. Jonghyun-ah, kau mau menengok Taeyannie hari ini kan? Lebih baik kita pulang cepat.” Balasku sambil meronggoh tas tangan untuk mencari dompetku.

“Noona, sampai kapan kau mau membayarkan aku makan setiap kali kita jalan berdua? Aku sudah besar, Noona. Sekali-kali biarkan aku yang bayar. Hentikan kebiasaanmu itu.” Gerutunya. Aku hanya tertawa.

“Jangan sok-sok an. Mentang-mentang kau sudah jadi penyanyi besar kau bisa seenaknya bersikap kurang ajar padaku. Harusnya kau berterima kasih karena aku mau mentraktirmu, Jonghyun-ah. apa aku pernah mengajarkan mu untuk bersikap kurang ajar?” Jawabku sambil menjitak kepalanya.

Dia hanya mengangguk seperti anak anjing yang sangat manis, “Ne, Noona.”

Dia Kim Jonghyun, 21 tahun dan aku Park Hyunra, 24 tahun. Aku sudah menjadi ‘Noona’nya hampir 18 tahun. Saat itu Jonghyun 3 tahun dan aku 6 tahun. Aku sudah tau dia luar dan dalam. Walaupun dia sudah berubah menjadi seorang namja, dia tetaplah dongsaengku.

Kalau aku menganggapnya sebagai seorang namja seutuhnya, aku pasti bisa langsung jatuh cinta padanya. Jadi lebih baik aku jauhkan fikiran itu.

~~~~

 

Jonghyun memang sister-complex. Mungkin seminggu dua kali ia bisa  mengunjungi Dorm anak ‘didik’ku. Jonghyun sangat menyanyangi Taeya (baca sequel My Yeoja) lebih dari apapun.  Kadang aku bahkan cemburu dengan perhatian Jonghyun pada Taeya.

“Oppa!!! Aku baik-baik saja! Jangan masuk-masuk kamarku! Ini bukan kamarku saja! Ini juga kamar Miinah tau!” teriak Taeya seperti biasa.

“Andwae!!! Aku ingin melakukan pemeriksaan rutin!! Aku tidak ingin kau menyimpan yang aneh-aneh!” balas Jonghyun.

Kalau mereka sudah bertengkar, aku lebih suka duduk di sofa bersama anak didikku yang lain. “Aku curiga kau menyimpan sesuatu!! Apakah itu video yadong?! Buku yadong? Komik?” selidik Jonghyun.

“EONNI!!!” Taeya mulai mengadu padaku. Seperti inilah susahnya punya banyak dongsaeng. “Noona!! Jadi benar Taeya punya video yadong?!” selidik Jonghyun. Aku menghela nafas panjang.

“Tidak mungkin, Jonghyun-ah. kau kira Taeya itu seperti mu, hah? Lagipula hari rabu kau sudah periksa kamarnya kan?” ujarku ketus. Kukira aku mulai gerah dengan kelakuan mereka berdua. Harusnya aku tidak bawa Jonghyun kemari!

Jonghyun akhirnya duduk di sofa. Kukira ia sudah mulai tenang sekarang. Tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. Shin Sekyung… aku sempat membaca panggilan masuk itu. Jonghyun buru-buru berlari menjauhi kami dan mengangkatnya.

Shin Sekyung… dia mantan kekasih Jonghyun. Jonghyun selalu bilang kalau Sekyung adalah tipe idealnya. Aku tidak tahu kenapa mereka putus, tapi aku tahu kalau mereka masih saling berkomunikasi.

“Maaf Noona… aku harus pergi. Manager memanggilku, aku pergi dulu.”

Dia menyambar kunci mobilnya dan pergi keluar Dorm.

“Hah, sejak kapan managermu namanya Shin Sekyung?” tawaku lirih.

Kenapa kau bohong? Bukankah aku noona-mu? Bukankah aku selalu tau fikiranmu? Aku selalu tau kau, Jonghyun. 18 tahun sudah cukup untukku mengenalmu.

~~~

Jonghyun POV

 

Buat apa gadis itu memanggilku lagi? Bukankah aku selalu bilang jangan terlalu sering memanggilku? Memangnya dia fikir aku itu siapanya? Merepotkan saja.

“Jonghyun!” lambainya dari salah satu meja di restoran pribadi miliknya. Aku langsung duduk berhadapan dengannya, “Ada apa?”

“Kenapa kau begitu? Harusnya kau balas dulu salamku. Ayo segera pesan! Aku traktir.” Katanya sambil menyodorkan menu makanan padaku. Aku langsung menutup menu itu.

“Kenapa kau memanggilku? Ada urusan apa, Sekyung? Maaf, bukannya aku tidak ingin bertemu kau. Tapi kau sadarkan status kita sekarang?” ketusku.

“Jonghyun… memangnya kenapa kalau kau berjalan denganku lagi? Bukankah popularitasmu akan naik kalau kau digosipkan menjalin hubungan denganku lagi?” balasnya.

“Aku tidak menyukaimu, Sekyung. Kita teman, Arra?”

“Kenapa kau tidak mau jalan denganku yang seorang model kelas atas? Sedangkan kau mau bersama-sama dengan manager asal-asalan yang kau pilih itu.” Bentaknya.

Kenapa dia mulai lagi? Hah.. aku lelah dengan wanita seperti ini. Kenapa dia selalu membuatku lelah. Katanya dia ingin jalan denganku. Wanita manja seperti ini… aku menyesal pernah berpacaran dengannya.

“Jangan bawa-bawa Hyunra-noona. Dia berbeda dengan semua gadis. Aku mau jalan dengannya, karena aku suka dia.” Ujarku sambil berdiri dari kursi yang aku duduki.

“Oh iya, dia lebih baik dari pada kau yang model kelas atas. Dengar saja Sekyung, aku sudah hampir 18 tahun menyukainya. Dan dia selalu membuatku bisa mempertahankan rasa itu sampai sekarang. Nah, aku pulang ya? kutelfon kalau aku ingat.”

Aku pun berlalu meninggalkannya yang masih tercengang-cengang.

 

~~~

Hyunra POV

 

Aku membereskan meja tamuku. Sekarang pukul 9 malam dan semua gadis-gadis cilik sudah tidur. Aku mengambil beberapa lembar majalah yang berserakan di meja. Hingga aku menemukan sebuah Tab berwarna putih yang familiar.

Aah, Jonghyun pasti tidak sengaja meninggalkannya tadi. Tadi dia kan sangat terburu-buru. “Ada apa eonni?” tanya Miinah, salah satu ‘dongsaeng’ ku.

“Ah, ini… Jonghyun meninggalkan Tab-nya disini. Eonni akan mengantarkannya dulu. Tolong jaga Dorm ya?” pintaku.

“Perlu kuantar, eonni? Ini sudah malam. Biar aku antar naik mobil. Bahaya kalau eonni naik bus.”

Aku menggeleng, “Gwechana. Aku pergi dulu…”

Aku menutup pintu Dorm dan berjalan naik bus. Aku memang tidak bisa naik mobil. Jadi, selama ini Jonghyun-lah yang mengantarku. Kalau aku naik bus, aku selalu duduk di belakang. Tempat aku dan Jonghyun kecil sering duduk disana ketika kami pulang sekolah. Aku menyalakan Tab-nya, seketika sebuah gambar muncul di layarnya. Gambar yang ingin membuatku ingin menangis

 

-flashback-

            “Noona, lihat aku buat mahkota bunga!” seru Jonghyun sambil berlutut didepan gadis kelas 1 SMA yang sedang menatapnya bingung.

            “Apa yang kau lakukan, Jonghyun-ah? siapa yang mengajarimu membuat mahkota bunga seperti ini? YA! kau kan namja, Jonghyun-ah…” gerutu gadis itu.

            “Tidak apa-apa. Aku belajar sendiri kok. Ini hadiah dariku sebagai ucapan selamat atas keberhasilan Hyunra-noona masuk SMA! Aku senang sekali. Noona nampak cantik dengan seragam itu.”

            Hyunra, nama gadis itu. Ia hanya tertawa melihat kelakuan dongsaengnya. “Waaah… gomawo. Noona juga ingin memberi mu hadiah atas keberhasilanmu masuk SMP… kalau begitu…. katakan permintaanmu pada Noona, Jonghyun-ah.”

            Jonghyun hanya tersenyum gembira. Sambil berlutut dia menyodorkan mahkota bunga itu pada gadis yang ia sukai, “Noona… kalau sudah besar, kalau aku sudah menjadi namja yang tampan… maukah kau menikah denganku? Noona… aku suka kamu. Jadilah pengantinku.”

            Hyunra hanya bengong-bengong dibuatnya. Namun tidak lama kemudian, ia kembali tertawa. “Dengarkan aku Jonghyun-ah, kalau kau masuk SMA nanti…. akan ada banyak gadis cantik yang 1000 kali lipat lebih cantik dariku. Apa kau tidak akan menyesal nantinya?”

            Jonghyun menggeleng cepat dan meletakkan mahkota bunga daisy itu diatas kepala Hyunra. “Tidak apa. Kalau saat seperti itu tiba, aku yakin Noona akan 10000 kali lipat lebih cantik dari sekarang. Aku akan menyesal kalau tidak melamarmu dari sekarang.”

            “Kau yakin?”

            “Tenang saja, saat itu… aku pasti 1 juta kali lipat lebih mencintaimu daripada saat ini, Park Hyunra. Aku pasti akan datang melamarmu lagi saat itu. Dan saat itu, kau harus bilang iya, Arraso?” Kata Jonghyun sambil mencium dahi gadis yang diam-diam sudah memerah wajahnya.

 

-flashback end-

 

Air mataku sudah jatuh. Aku sudah tidak bisa menahannya kalau seperti ini. Bagaimana bisa ia menyimpan foto yang sudah sangat lama seperti ini. Apa dia benar-benar masih ingat dengan janjinya saat itu? Foto itu benar-benar membuatku terus berharap padanya. Foto dimana Hyunra kecil dicium dahinya oleh Jonghyun kecil. Bagaimana dia bisa terus menyimpan foto seperti ini?

Dengan gontai aku turun dari bus. Aku sudah tidak bernafsu untuk pergi ke Dorm SHINee. Aku tidak tau harus bagaimana kalau bertemu Jonghyun nantinya. Aku hanya menyenderkan kepalaku yang terasa berat ke halte. Ini sudah setengah 10 malam dan aku tidak tau harus melakukan apa.

TIIINNNNNNN

Kilau lampu mobil langsung tepat mengenai mataku. Dengan sedikit mengintip, aku melihat kaca mobil diturunan.

“Noona? Hyunra-noona?” tanya seseorang dari balik kaca mobil. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Mataku masih sakit terkena sorot lampu.

“Ah! benarkan! Kenapa malam-malam ada di tempat seperti ini, Noona?” orang itu turun dari mobilnya dan menghampiriku. “Kibum-ah?” tanyaku.

“ya. ini aku Kibum. Kau kenapa, Noona?”

“Ah, aku ingin mengembalikan Tab milik Jonghyun. Bisakah kau berikaan…”

Tiba-tiba hujan lebat jatuh seenaknya tepat diatas kami. “Noona! Ayo masuk mobil. Hujan mulai turun. Kau bisa basah kuyup!” tarik Kibum. Kami berdua masuk kedalam mobil. Aish, kenapa saat seperti ini sih?Itulah yang aku benci dari hujan. Selalu datang tanpa salam. Hah, bajuku sudah basah. Untunglah Tab milik Jonghyun tidak apa-apa.

“Noona, kau sudah basah kuyup. Dinginkah? Haruskah aku matikan saja AC-nya?” tanya Kibum. Kulihat dia juga sudah basah kuyup. “Tidak usah. Kacanya bisa berembun kalau kau matikan AC nya.” Tolakku halus.

Dia mengangguk. Sesaat setelah ia menyalakan mesin mobilnya, ia melongok kebelakang dan mengambil sweater berwarna merah muda. “Noona, hapus dulu air diwajahmu. Keringkan rambutmu juga. kau bisa masuk angin kalau kebasahan begitu.” Ujarnya sambil menyerahkan sweater itu padaku.

“Ini kan sweater, Kibum-ah. sayang kalau aku jadikan handuk. Ini tidak terlalu basah kok. Lagipula Dorm kalian kan sudah dekat.” Tolakku.

“Pakai saja. Kau bisa sakit. Tiba disana akan kumasakkan sup ayam. Setidaknya kau keringkan dulu rambutmu, Hyunra-noona. Apa kau tidak suka dengan sweater itu?”

Aku menggeleng, “Aku suka kok. Ini pink. Seperti biasa, kau memang pandai memilih barang manis. Kyeopta. Aku suka.” Jawabku sambil mulai mengeringkan rambut coklatku yang sudah mulai mengering terkena AC.

 

~~~

“Noona, kurasa bajuku terlalu besar untukmu. Tidak apa-apakan kalau kau pakai baju Taemin?” Tanya Kibum sambil memberikan kaus berwarna kuning padaku. Aku hanya diam memperhatikan kaus itu. Kecil sekali kaus itu. Aku tak menyangka badan Taemin begitu kecil.

“Maaf Noona, mungkin kau tidak suka motifnya. Akan aku carikan yang lain.” Ujar Taemin yang sedari tadi membantu Kibum mencarikan baju untukku. Aku bergegas menarik tangannya, “Tidak perlu, Taemin-ah. aku suka kaus ini. Gomawo. Aku pinjam dulu ya, bajumu?”

Taemin hanya mengangguk manis seperti biasa. Aku ingin punya adik seperti itu. Ahh, bagaimana kalau anakku nantinya seperi itu?Aku akan jadi ibu paling bahagia. Aku berjalan kearah kamar mandi. Sudah pukul 10 malam. Apa Jonghyun sudah pulang? Sebelum masuk ke kamar mandi aku menyempatkan diri bertanya pada Jinki.

“Jinki-ah, apa Jonghyun sudah pulang?”

“Belum Noona. Katanya ia terkena macet. Kurasa sebentar lagi pulang.” Jawabnya.

Kemana saja kau? Kau melewati batas jam malam tau? Dasar. Kau itu masih kecil Jonghyun. Apa aku pernah mengajarimu hal seperti ini?

 

~~~

Jonghyun POV

 

Aku memarkirkan mobilku, dan bergegas masuk ke Dorm. Disana-sini hujan. Kurasa kami mulai memasuki musim gugur. Hah, rasanya dingin sekali. Aku melepaskan kedua sepatuku dan menggantinya dengan sendal rumah. Tapi tunggu, ada sepatu boots wanita disini. Siapa yang datang berkunjung? Taeya? Apa Hyunra-noona? Yuri? Siapa?

“Aku pulang.” Seruku.

“Ah, kau sudah pulang Hyung! Onew-hyung mencarimu kemana-mana.” Sapa Minho sambil berlalu ke dapur. Ah, baru saja aku ingin menanyakan siapa yang berkunjung, Minho sudah menghilang kedapur.

Aku berjalan gontai kekamar mandi, namun sesosok yeoja mengagetkanku. Ia baru saja keluar dari kamar mandi.

“Hyunra-noona?” pekikku kaget. Dia hanya menatapku santai sambil menggulung rambutnya dengan handuk, “Apa?”

Aish apa yang ia lakukan disini? Kenapa mandi disini? Apa dia tidak sadar disini banyak namja? “Kenapa Noona kemari? Kenapa Noona mandi disini? Itu baju Taemin, kan?” tanyaku. “Ne. Aku hanya ingin mengembalikan Tab-mu. Lalu hujan. Akhirnya Kibum mengantarku kemari dengan mobil.” Balasnya.

“Key? Berdua saja di mobil?”

“Ya. aku kehujanan tadi. Jadi aku disuruh mandi disini.”

“Kenapa tidak telfon aku? Lalu baju itu. Kan sudah kubilang, pakai saja bajuku. Jangan baju namja lain, Hyunra-noona…”

Dia menyipitkan matanya, “Ada apa denganmu ini, Jonghyun-ah? Ini baju Taemin. tidak apa-apakan? Bajumu terlalu besar untukku. Lagipula mereka kan bukan ‘namja’ asing. Aku sudah 3 tahun mengenal mereka. Mereka juga sudah kuaanggap dongsaengku.”

“Tapi noona..”

Tiba-tiba saja Key muncul dengan celemek dan sendok sup ditangan. Aku baru saja ingin…ahhh! rasanya ingin kusumpahi namja ini.

“Noona, supnya sudah matang. Ayo makan. Kau sudah mandikan?” ajaknya. Hyunra-noona malah tersenyum riang dan mengikuti Key kedapur. Aku menghempaskan pukulanku ke udara sedetik setelah punggung Hyunra-noona menghilang dari hadapanku. AAAAH! Kenapa rasanya sejengkel ini? Kenapa Hyunra terus menganggap aku seperti anak kecil? Tidak sadarkah aku selalu menyukainya? Apa aku tidak terlihat seperti namja dewasa? Kenapa malah Key?

~~~

Hyunra POV

 

Dia bahkan tidak bicara apapun ketika kami makan. Padahal biasanya dialah yang paling berisik. Dia juga menyudahi makanannya terlebih dulu. Padahal sup ayam buatan Kibum ini sangat enak. Aku bahkan sudah nambah 2 kali. Dan kalian tau? Jinki dan Taemin masih makan sampai saat ini.

Aku minta maaf pada Kibum karena aku tidak bisa membantunya mencuci piring. Aku mesti buru-buru meminta maaf pada Jonghyun. Dia memang biasa seperti ini. “Jonghyun-ah…” aku memanggilnya. Dia tetap duduk di balkon dan tidak menjawabku.

“Jonghyun-ah….” panggilku lagi. Dia tetap tidak menjawab. Aku menghela nafasku panjang-panjang. Udaranya cukup dingin. Dia bisa sakit kalau kena angin malam di musim gugur seperti ini. “Jonghyun-ah, ayo masuk. Sudah larut sekali. Noona tidak mau kau sakit…” aku meraih lengannya.

“Duduk disampingku.” Balasnya.

“Hah?” aku mendekatkan telingaku secara refleks. “Duduk disini.” Jonghyun menepuk-nepuk kursi kayu panjang yang ia duduki. Akupun duduk disampingnya. “Kau ini kenapa? Kenapa makan sesedikit itu? Kasihan Kibum, kan? Dia sudah susah payah memasak. Kau harus…”

“Hentikan Noona.” Dia menyela ucapanku. Aku bisa melihat wajahnya yang kesal. “Apa Noona tidak sayang padaku?” tanyanya. Aku tertawa mendengar ucapannya. Hah, dia memang masih kecil.

“apa maksudmu? Tentu aku sayang kamu. Kamu dongsaengku, Jonghyun-ah. Aku sayang semua dongsaeng-ku. Aku sayang kamu, sayang Taemin, sayang Minho, Jinki dan Kibum. Aku sayang kalian semua.” Kataku.

“Bukan begitu maksudku, Noona….”

Aku meraih wajahnya dan menempelkan dahiku didahinya. Astaga, sebenarnya aku malu kalau melakukan ini. Aku dan Jonghyun sudah sama-sama dewasa sekarang. Tapi Jonghyun selalu berhenti ngambek kalau dibeginikan.

“Dengarkan aku, Jonghyun. Kau sudah jadi namja sekarang. Sudah tidak pantas kau bersikap seperti ini pada Noona. Kau sudah terkenal sekarang. Bahkan sudah punya yeojachigu yang cantik seperti Sekyung-ah. jadi, bersikaplah seperti namja ok?”

Aku melepaskan wajahnya dan berdiri menarik tangannya.

“Ayo masuk, sudah larut. Kau harus tidur.”

 

~~~~

Jonghyun POV

Pada akhirnya dia memang hanya menyayangiku sebagai dongsaeng kecilnya. Sebagai Jonghyun kecil yang tidak akan pernah berubah dimatanya. Apakah dia sudah lupa dengan janjiku? Tahukah Noona? Aku tidak akan pernah melanggar janji ini. Bagiku kau tetap sama, seperti perasaan jonghyun kecil yang tetap sama sampai saat ini.

Aku ingat bagaimana dulu kau selalu menggandengku kemana-mana, mengakui aku sebagai adikmu, saat kau membuatku menangis karena kau menjatuhkan aku dari ayunan, saat kau bilang akan selalu menjagaku.

Waktu itu bergulirkan, noona? Kau yang dulu lebih tinggi dariku, sekarang bahkan bertubuh kurus dan lebih pendek dariku. Aku yang dulu selalu kau bilang berkulit salju, sekarang kau lah yang berkulit salju. Aku terus tumbuh noona, aku sudah menjadi namja sekarang.

Bisakah kau memandangku sebagai seorang namja sekarang? Bisakah kau berhenti memandang namja lain? Aku menyukaimu, noona. Sampai saat ini.

Aku membuka handphone-ku. Sudah kuduga, Sekyung pasti sudah mengirim pesan untukku.

 

Jjong, 4 hari lagi kita makan siang bersama. Jangan lupa. Kalau kau lupa, kau terima akibatnya. Kau tau kan, aku bukan yeoja yang penakut? Kau juga tau kan kalau aku akan bertindak apa saja demi mendapatkan keinginanku? Jadi… jangan lupa, Arrachi? –your yeojachingu, shin sekyung

 

Mau apa lagi dia sekarang? Dia bahkan lebih menakutkan daripada hantu.

~ TBC ~

Iklan