Tittle            : Unexpected Thing (Part 2)

Author         : Hannew

Cast             :  Kim Kibum (Key) SHINee

                        Shin Hae Jin (OCs)

Rating          :  General      

Length         :  Chaptered

Genre           : Menuju ke romance (halah)

Disclaimer   :  I own the plot and the OCs, but not Kim Kibum😀. it had published in my own blog (onhanie.wordpress.com)

Anyeong…. Author hadir dengan lanjutan ff Unexpected Thing. Ada yang nungguin? *hening*.  Okeh, pertama aku mau minta maaf sama admindeul fflovers karena di part pertama aku tulis oneshot (-_-). Dan inilah, kelanjutannya a.k.a part 2 nya. Kekeke *ngegaje*. Okeh (lagi), Happy reading chingudeul, jangan lupa beri barisan kalimat di kotak sebelah bawah *nunjuk kotak komen* setelah baca. Kritik, saran bakal diterima dengan hati berbunga oleh saya. Blussshhhh… *author terbang ceritanya*

“Dimana Haejin?” tanya seorang laki-laki paruh baya pada wanita yang duduk didepannya. Sementara mulutnya mengunyah hidangan makan malam. Wanita yang ditanya hanya mengangkat bahu singkat, dan terus menyuapkan makanan ke mulutnya.

“Apa dia sakit? Biasanya dia yang menjadi penyentong nasi pertama” ucap laki-laki  itu lagi.

Yeobo, apa ini terlalu awal memberitahunya?” wanita itu akhirnya membuka suara, menampakkan wajah serius menatap laki-laki itu, yang tak lain adalah suaminya.

“Memberitahu apa? Aigo,, jangan-jangan…” laki-laki itu berubah khawatir sementara istrinya mengangguk-angguk lemas.

“Apa terlalu cepat? Sebentar lagi Haejin akan lulus kuliah, jadi kupikir ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahunya”

Laki-laki itu hanya merespon dengan hembusan nafas berat. Dia tahu reaksi putrinya akan seperti ini jika ia diberitahu tentang perjodohan itu. Dialah yang selama ini menunda-nunda dan melarang istrinya untuk mengatakannya pada Haejin. Meskipun umur Haejin sudah cukup matang untuk hal-hal seperti itu, tapi Haejin adalah gadis yang tidak suka dicampuri urusan pribadinya.

“Dia belum keluar kamar seharian ini?”

“Belum. Sehabis pulang dari rumah Mi Ran kemarin, dia tidak berbicara padaku dan langsung masuk kekamarnya.”

“Sampai hari ini?” Nada laki-laki itu terdengar tak percaya.

“Ne” jawab istrinya lemas.

“Aigo…”

Haejin POV

Apa ini? perjodohan? Haha, lucu sekali. Sangat lucu. Ibu memberiku banyak kejutan dan semuanya berhasil membuat jantungku hampir melompat dari tenggorokanku. Café itu, masakan itu dan namja cempreng itu, semuanya sudah diatur oleh ibu dan bibi itu.. Aku memilih bungkam setelah pulang dari rumah bibi itu kemarin dan langsung masuk kekamar . kepalaku tiba-tiba panas kalau mengingat kembali kata-kata bibi itu.

“Jadi Soon Ae-ya, kapan sebaiknya pertunangan ini dilaksanakan?”.

Huaaa… ibu, kenapa jadi begini? Ibu tau kan aku benci hal ini. Menikah? Aku bahkan masih baru akan lulus kuliah. Aku bisa memikirkannya sendiri nanti. Dan laki-laki cerewet itu, aku bahkan baru mengenalnya satu jam. Apa Ibu tega membiarkanku menikah dengannya? Mendengar suaranya sebentar saja bikin telingaku tak enak rasa, bagaimana jika tiap hari aku bersama dengannya. Aku yakin aku akan lebih sering berkunjung ke dokter THT.

Tunggu. Laki-laki itu, Kim Ki bum. Kenapa dia terlihat tidak menolak perjodohan ini? aku yakin dia juga baru pertama kali melihatku. Dan kenapa wajahnya jadi kikuk? Omo.. apa dia sudah tahu kalau dia akan dijodohkan? Ish, aku ingin tahu. Dan aku akan membujuknya untuk menolak perjodohan ini. Benar.

****

“Oso ose…yo” suara pelayan didepan pintu itu tertahan kala melihatku. Mataku membesar sejenak melihatnya. Pelayan itu, yang kemarin mengantarku ke dapur café ini. Kulihat dia juga sedikit terkejut melihatku. Pasti dia masih mengingat wajahku, tentu saja. Aku berusaha memanggilnya saat itu tapi dia tak mau menoleh. Aku memasang wajah datar dan melenggang santai masuk ke kafe membiarkannya yang masih terlihat kikuk.

Dapur. Ruangan yang saat ini berada didepanku. Sejenak kuhela nafasku panjang kemudian melangkah masuk kedalam. Aku mengedarkan pandang ke penjuru dapur. Tampak beberapa orang berbaju putih  dan bertopi panjang sedang sibuk didepan dengan tugas masing-masing, menyiapkan menu masakan yang dipesan pengunjung. Gerak mataku berhenti pada satu objek yang sedang berjalan berkeliling tampak mengamati kegiatan koki-koki yang lain. Sesekali dia menjulurkan tangannya yang memegang sendok besar untuk menyendokkan sedikit masakan lalu mencicipinya. Dia mengangguk-angguk pelan kemudian melanjutkan patrolinya ke koki-koki yang lain.

Author POV

“Anyeong” ujar Haejin singkat sambil membungkukkan badan yang membuat Key sedikit terkejut. Keningnya terlihat berkerut mengetahui gadis itu tiba-tiba ada dihadapannya, ditempat kerjanya.

“Kenapa kau ada disini?” tanya Key dengan suara rendah sambil menengokkan kepalanya kesekeliling melihat orang-orang didapur yang mulai menatap kearah mereka. Haejin tidak peduli,  dia harus mengatakan tujuannya kemari.

“Kim-ssi, boleh aku berbicara sebentar denganmu?” wajah Haejin tampak serius, Key berpikir sejenak. “Ayo” ucapnya sambil berjalan keluar dapur dan Haejin mengekornya di belakang.

“Sekarang apa?” tanya Key langsung sesaat setelah mereka tiba di taman yang terletak dibelakang kafe. Wajahnya dibuat santai padahal dia agak kikuk berbicara dengan gadis itu lagi.

Haejin menarik sudut bibirnya. Bagus. Dia suka pembicaraan yang langsung pada intinya.

“Ehm.. begini. Soal pertunangan itu.. “ ucap Haejin tertahan, dia mulai bingung sendiri “Ah, bisakah kau membatalkan perjodohan ini?”   kening key berkerut mendengar pernyataan Haejin.

“Aku baru melihatmu kurang dari 2 jam, dan aku yakin kau juga baru bertemu denganku saat itu, kan? Jadi bagaimana bisa perjodohan ini dilakukan? dan apa pula ini, apa kau terima kehidupan pribadimu diatur oleh orang lain. Yah, meskipun mereka adalah orang tuamu, tapi, apa kau tidak punya pilihan sendiri? Calon istrimu sendiri atau apalah yang menyangkut kehidupanmu sendiri” sembur haejin panjang lebar, dia merasakan sesak dihatinya perlahan-lahan menipis degan mengatakan itu semua. Setidaknya dia mengeluarkan ganjalan-ganjalan dipikirannya pada orang yang tepat.

“Jadi, tolong katakan pada kedua orang tuamu kalau kau menolak perjodohan ini, ne?” haejin menutup kalimat-kalimatnya dengan wajah memohon dan kedua tangan yang ia tangkupkan didepan wajahnya.

Key memiringkan kepalanya masih dengan wajah bingung menatap gadis didepannya yang memasang wajah memelas kemudian tersenyum yang suasah dartikan oleh Haejin.

“Tidak” ucapnya datar

“Ne?” Haejin menrunkan tangannya dan memajukan kepalanya sedikit demi mendengar lebih jelas kalimat Key.

“Aku tidak mau. Aku tidak akan meminta eomma dan appa untuk membatalkan perjodohan ini”

“Ne?” kini suara Haejin naik 1 oktaf dengan mata membesar.

“Kau tuli ya? Aku bilang aku tidak mau membatalkan perjodohan ini. jelas?” ucap key sambil mencondongkan badannya pada Haejin untuk mempertegas kalimatnya.

Tenggorokan Haejin terasa sangat sempit untuk membuatnya menelan nafas. Uwoo, apa lagi ini? dia tidak mau  membatalkan perjodohan ini? Kenapa?

“Kenapa tidak?” tanya Haejin dengan kepala hampir mendidih.

“Tidak saja” jawab Key santai.

Tidak saja? jawaban macam itu?(>.<)

“Jangan-jangan kau menyukaiku, itu sebabnya kau menolak untuk membatalkannya” ucap Haejin sinis. dia agak ragu dan malu untuk mengucapkannya, tapai dia tidak peduli. Dia hanya ingin mendengar  pengakuan yang sebenranya dari Key.

Sebelah alis Key terangkat, kemudian dia tertawa keras sampai kepalanya tertarik kebelakang.

“MWAHAHAHAHA”

 Eh, apanya yang lucu? Kini giliran haejin yang dilanda bingung, dia bertambah kikuk.

“Kim-ssi?” Haejin memanggil Key dengan kesal, dia masih belum berhenti tertawa. Ok, sepertinya matanya mulai gatal melihatnya tertawa jemawa seperti itu. satu hal lagi kejelekan laki-laki ini, tawanya tak kalah melengking dengan saat ia bicara. Dan itu membuat telinganya sakit.

“Uwoo, pede sekali anda, nona?” ucap Key setelah reda dengan tawanya, kini dia cekikikan sendiri.

Mata Haejin panas mendengar ejekannya. Kini kepalanya 100% mendidih dan sepertinya beberapa saat lagi isi kepalanya akan menguap. Kejelekan laki-laki didpeannya ini bertambah satu, dia tidak waras, seenaknya saja tertawa keras seperti itu didepannya.

“Sebenarnya ini bukan perjodohan Haejin-ssi…” Key menahan kalimatnya, wajahnya berubah serius lagi  dan membuat Haejin menaikkan sebelah aliasnya.

“…ini takdir”

Glekk! Haejin merasakan ludahnya sangat tajam menusuk masuk ketenggorokannya. Matanya membesar, apa dia bilang barusan? Takdir?

“Takdir?  Aigo…aigoo.. darimana kau mendapatkan kalimat mengerikan seperti itu, kim-ssi?. Aku tidak percaya itu, takdir dalam pandanganku  tidak semacam ini. Aku yakin, ini sebuah paksaan yang tidak beralasan” Sergah haejin.

“Tapi aku mempercayainya. Saat ini aku memang tidak menyukaimu, tapi takdir akan menjawab dengan sendirinya nanti. Kita tunggu saja” balas key dengan senyum misteriusnya dan membuat semua organ tubuh Haejin seperti macet beroperasi.

“Ish, ya ampun.. astaga… tolong bicaralah yang logis, kim-ssi! Biar ku pertegas, aku menolak perjodohan ini dan kuminta dengan amat sangat padamu untuk mengatakan pada orangtuamu membatalakannya , dan kita sama-sama menolak dengan sopan” ucap haejin dengan nada paksanya. Dia tidak tau lagi harus menggunakan kalimat seperti apa untuk membuat Key meng amini keinginannya.

“Aish, gadis ini! Sudah kubilang aku tidak akan meminta Appa dan Eomma untuk membatalkannya. Dan kalau kau memaksa, itu artinya kau akan menghancurkan hubungan yang sudah terjalin sejak 20 tahun yang lalu antara eommaku dan eommamu yang artinya juga kau menyakiti eommamu” Key mengeluarkan jurus andalannya dan sepertinya sukses mematikan Haejin. Dia langsung kaku dan menggigit bibir bawahnya. Key menarik sudut bibirnya melihat perubahan ekspresi Haejin. Benar kata bibi Soon Ae, gadis ini tidak akan berkutik jika diancam dengan hal-hal yang berhubungan dengan orangtuanya. Anak yang baik, batin Key.

“Sudah selesai? Apa ada pertanyaan lain, atau permintaan lain? Akan ku tunggu” ujar Key santai sambil memutar kepalanya dan memainkan ekor matanya ke sekeliling taman,  menunggu kalimat haejin selanjutnya.

Haejin menatapnya panas, menahan amarahnya. Ingin rasanya ia mencekik leher laki-laki didepannya ini dan tidak akan melepaskannya sebelum dia menyetujui keinginannya. Tapi dia kembali disadarkan bahwa tinggi badannya tidak membantu untuk melakukan perintah-perintah di otaknya itu, Puncak kepalanya hanya mampu meyejajari bahu Key. Akhirnya semua hanya tertahan sampai dijari-jari tangannya yang mengepal keras. Dia mendengus kesal.

“Tidak ada” ucapnya kemudian melangkah melewati Key dan sebelumnya melakukan sesuatu untuk melempiaskan kekesalannya.

“AWWW! Yak! Kenapa kau menginjakku, hah?” jerit Key sambil melompat-lompat dengan kaki kirinya. Sementara kedua tangannya mengangkat kaki kanannya yang jari-jarinya terasa panas dan sakit setelah menerima serangan dari sepatu kets milik Haejin. Haejin menoleh dan tersenyum mengejek kearahnya. Setidaknya dia bisa ‘memberi salam’ pada laki-laki itu dengan alas sepatu ketsnya.

****

Haejin meremas-remas selempang tasnya dengan kasar, rasa kesalnya masih belum menguap. Takdir? Pasti laki-laki itu benar-benar tidak waras, dengus Haejin sambil terus melangkahkan kaki menuju halte bus. Baru beberapa menit berdiri dihalte bus, sebuah bus berwarna hijau berhenti didepannya. Haejin segera naik, dan bis mulai melaju. Saat baru mencapai tempat duduknya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara gedoran dari luar sisi bis, haejin mengeluarkan kepalanya di jendela bus. Dia melihat seorang gadis yang tampak bersusah payah menggapai pintu bis yang berjalan, tangannnya terus menggedor bis sambil berteriak meminta bis berhenti. Haejin menarik kepalanya kedalam dan beralih pada sopir bus yang sepertinya memang tidak mendengar teriakan gadis diluar itu.

“Ahjussi, tolong hentikan busnya, ada penumpang yang ingin naik” kata haejin setengah berteriak . Sopir bus yang mendengar suara haejin segera mengintip lewat kaca spion bus. Benar saja, dia melihat seorang gadis yang menngedor sisi bis, dengan cepat ia menginjak rem. Ban bus berdecit pelan dan bus berhenti. Gadis yang diluar itu terlihat lega dan segera naik. dia membungkukkan badannya berterimaksih pada sopir bus kemudian berjalan kebelakang. Gadis itu mendapati Haejin tersenyum padanya, dia ikut tersenyum dan duduk disebelah Haejin.

“Kamsahamnida” ujarnya tulus sambil mengangguggkan kepala pada Haejin. Dia tahu, Haejin lah yang membantunya menghentikan bus.

“Ne, cheonmaneyo” balas Haejin sambil tersenyum.

“Piuffft… hampir saja aku ketinggalan bus” seru gadis itu sambil mengipas-ngipaskan telapak tangan didepan wajahnya. Haejin menoleh kearahnya, memperhatikannya sejenak. Rambutnya  dikuncir kuda dengan poni yang terjuntai berantakan setelah disapu telapak tangannya untuk menghilangkan bulir-bulir peluh dikeningnya. Ia hanya mengenakan kaos kebesaran berwarna hijau muda, ditangannya melingkar beberapa jenis gelang yang tersusun atas batuan-batuan kecil. Penampilan yang menarik, batin Haejin.

“Kau  tahu? Kalau sampai tadi aku ketinggalan bus ini, pasti riwayatku akan berakhir hari ini” ujar gadis itu lagi sambil menolehkan kepala pada Haejin, Haejin kembali tersenyum.

“Ah iya, namaku Kim Ki….Kim Rae Mi” kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya. Haejin menyambut tangan gadis itu dan menyalaminya.

“Shin Haejin imnida.”

“Haejin.Boleh aku memanggilmu Haejin?” tanya gadis itu setelah menarik tangannya.

“Tentu, dan boleh aku memanggilmu Rae Mi?” balas Haejin

“Yapp” serunya sambil tersenyum.

Drrtt.Drrrrrrrrt. Haejin merogoh tasnya yang bergetar dan mengeluarkan handphonenya.

‘Home calls…’

Haejin tertegun sejenak. Siapa yang menelpon? Apakah ibunya? Dia baru sadar kalau hampir 2 hari tidak berbicara dengan ibunya sejak pulang dari rumah Key. Haejin menerka-menerka, mungkinkah ibunya menelpon untuk mengungkapkan penyesalannya dan memninta maaf padanya. haejin membuka flip ponselnya dan mendekatkannya ditelinga,

“Yeboseyo”
“….”

“Ah, eomma. Ada apa?”

“….”

“Memangnya siapa yang akan datang?”

“….”

“Spesial? Ugh, ne, ne, aku mengerti”.

Haejin menutup flip ponselnya sambil mendesah berat. Entah apalagi kejutan yang dipersiapkan oleh ibunya dirumah. Semoga jantungnya masih bisa berdetak dengan normal nanti.

To be Continued…