Author: Applersoti
Length: Continue
Genre: Romantic, comedy
Rating: PG
Main cast: Kwon Jiyong-G Dragon (Bigbang) and Park Sandara-Dara (2NE1)
Support Cast: YG Family.
Disclaimer: THE CASTS ARE BELONGS TO THEIR GOD. The plot is mine. NO PLAGIARISM PLEASE, USE UR BRAIN MADEAR J
WARNING! This part is the longest part I’ve ever made!!! Hahahaha so please, enjoy ur read, ‘kay? ^^
 
A/N: Hello guys, sorry for late post -_- I know its been awhile but please forgive me ok. Since lately, I really don’t have much time and idea to write so…. *pleading eyes* I’m sorry L  I’ve been so busy nowadays with my oh-so-damnsuck college stuff and thingy-_-
And, so on… disini hanya Author POV aja. Why? Karena aku ingin nyoba hal yang baru. Aku rada pusing mindah-mindah POV karena harus mikir bagaimana ceritanya. Dan finally aku memutuskan untuk membuat part ini ALL AUTHOR’S POV J
Yeah yeah… mungkin ada beberapa yang gasuka, but… this is my decision anyways hehehe. Oh ya, FF Ririn couple sementara aku tunda dulu, karena bener-bener gak ada ide untuk ngelanjutin ceritanya T^T hiks jeongmal mianhae #getokkepalapakepalu
Satu lagi. Aku mau share fanfiction yang diadaptasi dari Novel yang lagi aku baca, rencananya aku mau share fanficnya setelah FTFT part 10. Cuma.. aku masih bingung kira-kira, kalian pengennya couple apa. Daragon, TopBom, Ririn, atau Daemin atau TaeRin (Taeyang-Chaerin) ? komen yah dibawah biar aku bisa mutusin kira2 siapa yang bakal jd karakter di ffku selanjutnya J
Okay, tanpa banyak berkata-kata lagi, here it goes!!!
BABAM!!!!!

(All author’s POV)
“Selamat pagi, dunia!”
Dara membuka jendela kamarnya dan menghirup udara. Dari atas kamar Dara sudah bisa terlihat sungai Han. Yah… dorm mereka tidak jauh dari gedung baru YG Ent.
“Ya… tam-tamie! Kau harus menemaniku masak! Ok?” kata Dara pada boneka kelinci kesayangannya.
Dara hari ini ingin membuat sebuah kejutan untuk Jiyong. Tadinya ia ingin memberitahu Jiyong kalau ia akan datang ke dormnya untuk sarapan bersama.
Dara keluar kamar dengan riang. Karena ini masih jam 7 pagi, dan juga jadwal mereka hanya pemotretan saja, maka member yang lain belum bangun.
“Hmm… masak apa ya…”gumamnya sendiri.
Ia mencari-cari bahan makanan di kulkas yang bisa ia olah. “Ada tahu… telur… keju… hmm…”
“Ah! Egg roll dan Sundubu Jjigae (Sup tahu pedas).”
Dengan lihai ia mencampur semua bahan masakan. Pertama ia membuat egg roll terlebih dahulu karena lumayan mudah. Setelah selesai, ia menyiapkan bahan-bahan untuk membuat Sundubu Jjigae. Untung saja ada bahan untuk membuat sup itu tersedia.
Satu jam sudah Dara berkutat di dapur, akhirnya makanan yang ia buat selesai. Dara membersihkan barang-barang yang ia pakai, dan setelah selesai langsung mengemas makanan tersebut di kotak makanan berwarna pink dan kuning. Yah.. as we know.. Dara memang suka sekali dengan warna Pink sedangkan GD menyukai warna kuning.
Saat Dara sedang membersihkan dapur. Chaerin tiba-tiba keluar dari kamar. Ia agak kaget melihat Dara yang sudah bangun dan sedang berada di dapur.
“Whoa, un!?” pekik Chaerin.
“Ah. Chaerin-ah!” Dara baru menyadari ternyata Chaerin sudah bangun.
“Mwohaneun geoya?” tanyanya sambil berjalan ke dapur.
“Membuat sarapan,” jawab Dara sambil tersenyum.
“Sarapan apa? Asyik!” tanggap Chaerin riang lalu berdiri di samping Dara.
“Nahhhh!” Dara menggoyangkan jari telunjuknya di depan Chaerin “Ini bukan buatmu. Ini buat JIYONG.”
“Ne??? Jinjja?? I-i-ini buat oppa?”
“Hmmm. Wae?”
“Tumben,” balas Chaerin singkat sambil mengambil gelas di meja pantry.
Dara mendengus. “Cish.”
Chaerin duduk di kursi pantry, sambil memperhatikan Dara yang tengah memasukkan makanannya ke tempat makan. Dan tiba-tiba ia teringat… Seungri.
Eh… kenapa aku jadi ingat bocah itu? Ah ani ani! Chaerin-ah! Jangan ingat dia!” Chaerin menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha tidak mengingat kejadian tadi malam. ‘Aiyaah! Pergi dari pikiranku pergi!’
“Chaerin? Ya! Chaerin!!!” teriak Dara di depan Chaerin.
Chaerin membuka mata shock dan ia pun kembali ke pikirannya yang semula.“Ha? Ah… Ne?”
“Ya! Kau kenapa???” tanya Dara khawatir.
“Ani… aku tidak apa-apa. Gwaenchana..” Chaerin tersenyum grogi.
Dara memasang muka curiga campur khawatir. “Jinjja?”
Chaerin mengangguk sambil tersenyum kecil. “Iya, Unnie.”
“Hmm. Geurae.” Dara pun sudah siap dengan barang-barangnya dan bersiap untuk ke dormnya Jiyong. “Ne, aku pergi dulu ya.”
Chaerin mengangguk lalu melambaikan tangannya. “Bye… jangan terlalu lama di sana ya. Kita ada jadwal pemotretan jam 11.”
“Iya. Kalkkeyo,” pamit Dara sambil sedikit berlari ke pintu. Tapi saat sudah sampai di depan pintu, Dara tiba-tiba ingat sesuatu.
“Ah, CL-roo!!” panggil Dara dari depan pintu.
“Ne?” jawab Chaerin sambil menengok kearah pintu.
“Kau tadi malam pergi dengan Seungri kan?” tanya Dara polos.
“Uhuk! Uhuk!” spontan Chaerin batuk mendengar pertanyaan Dara. ‘Aigo… kenapa ia bisa tahu?’.
“Ya, kenapa batuk?”
“A-a-ani…”
“Jadi tadi malam benar kau bersama Seungri?”
Chaerin mengangguk pelan sambil menggigit bibir bawahnya.
“Oh, geurae. Aku hanya ingin memastikan saja kok. Ku kira tadi malam Seungri menelponku bilang kau bersamanya itu bohong. Dia sedikit mabuk tadi malam.”
Lagi-lagi Chaerin mengangguk lagi, dan pura-pura memasang tampang tidak peduli. Tapi batinnya bergejolak. ‘Kyaaa bocah itu!!! Ada apa menelpon Dara? aaaa jinjja! Hhhh jangan bilang ia tidak pulang karena aku tinggalkan dia di taman! aaaaa eomma huhuhuhuhu.’
“Chae? Chaerin? Ya!!” teriak Dara dari kejauhan.
“Ah.. haha ne?”
“Bengong lagi? Aigu… sudah, aku pergi,” kata Dara sambil membuka pintu dan keluar dari dorm.
Saat Dara sudah keluar, ia pun lemas. “Aigo… Seungri-ya… kau-” Chaerin mennghela napas. “Seandainya kau tahu..”
“Seungri????” tiba-tiba ada seseorang memanggilnya dari belakang.
Chaerin langsung menengok ke belakang. “Ah!! Bom unnie!!! Aigo…. Kau menakutiku!”
“Ada apa dengan Seungri??” tanya Bom curiga sambil duduk di sebelah Chaerin.
“Ha? Hahaha kenapa menanyakan Seungri padaku?” balas Chaerin sedikit grogi.
Mata Bom menyipit, menunjukkan ketidak percayaan. “Ani… tumben sekali kau memanggil namanya. Bukankah kau tidak suka dengannya?”
“A-ani…. B-bukan tidak suka…”
“Jadi?? Kau suka dengannya??”
“Unnie!! Bukan seperti itu… tapi…”
Bom tertawa saat tahu Chaerin tiba-tiba menjadi grogi karena pertanyaannya tentang Seungri. Chaerin memukul lengan Bom pelan. “Unnie!”
“Hahahahaha, Chae… why on earth tiba-tiba kau menjadi grogi seperti itu, he?” ledek Bom lalu melanjutkan tawanya lagi.
“Diamlah un,” kata Chaerin sambil meminum air putihnya lagi.
“Aigo… Chaerin menyukai Seungri. Hahahahahahaha.”
“ANI~”
“Jinjja??” Bom menaik-turunkan kedua alisnya.
“Aish!! Sudahlah aku mandi dulu.” Chaerin berdiri lalu menuju kamarnya. Sedangkan Bom masih melanjutkan tawanya saat Chaerin seperti anak kecil menghentakkan kakinya di lantai.
“Aigu… Chaerin-ah… ternyata kau mulai jatuh cinta. Hahahahaha.”
(meanwhile….)
*Ding Dong Ding Dong*
“Aigo… Ji… cepat buka…” Dara bergumam sendiri sambil terus memencet bel.
*Ding Dong Ding Dong Ding Dong*
“Aigo, Ji kau la-“ gumaman Dara berhenti saat pintu tiba-tiba terbuka, memperlihatkan seorang pria dengan rambut acak-acakan dan memakai boxer berwarna… PINK POLKADOT!
Mata Jiyong terbelalak kaget saat melihat siapa yang datang ke dormnya pagi-pagi seperti ini. “Eh???? Baby? A-ada apa kau kesini?”
“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.” Dara tak bisa menahan tawanya ketika ia melihat Jiyong dengan tampang khas baru bangun tidur.
“JIYONG-AH!!! HAHAHAHAHA YA!!!! KAU PAKAI—– BWAHAHAHAHAHA.” Dara tertawa terbahak-bahak sampai hampir saja makanan yang ia pegang jatuh.
“YA!!” pekik Jiyong dengan muka kesal. “WAE????”
“Ya!! JAGIYA BUAHAHAHA BOXERMU HAHAHAHAHA.” Dara masih tertawa sambil memegang perutnya.
Jiyong melihat kearah boxernya dan.. “AIGOOOO… YA!! HAISH JINJJA!!! JANGAN TERTAWA!!!” teriak Jiyong sambil berlari terpingit-pingit ke kamarnya untuk memakai celana.
“Aigoo… hahaha…” Dara menggeleng-gelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam dorm Jiyong.
“Haish!! Pabbo!!! Pasti ini karena tadi malam aku lembur membuat lagu! Ahhhh jinjja!!” rutuk Jiyong sambil mengacak-ngacak lemarinya mencari celana yang pantas untuk dipakai.
“Jiyong! Ppali!” teriak Dara dari luar.
“Aisshh. Ada apa dia kesini pagi-pagi? Aigo…”
*tok tok tok*
“Jiyong…” Dara mengetuk pintu kamar Jiyong. “Ppali…”
“Ne, I’m out!”
Satu menit kemudian Jiyong keluar dari kamarnya. Sekarang pakaian yang ia pakai sudah sedikit lebih wajar. Celana training warna hitam serta t-shirt berwarna putih.
“Aigo, ya! Kenapa lama sekali?” Dara sedang menyiapkan makanan di meja pantry.
“Ganti baju tadi. Tidak biasanya kau datang pagi-pagi, ada apa?” tanya Jiyong sambil duduk di sebelah Dara.
“Kenapa? Tidak boleh?” Dara cemberut.
“Eih… ani… bukan begitu…” Jiyong mengusap pipi Dara.
Dara menghela napas sambil membuka kotak makanan yang ia bawa. “Ini kubawakan sarapan untukmu.”
“Ne? Huwahaha tumben sekali…”pekik Jiyong riang.
Dara mengambil sumpit dan sendok sup untuk Jiyong. “Jjah, ppab.”
Jiyong mengangguk senang lalu mengambil egg roll dengan sumpitnya dan dimakan. “Hmm!!”
“Wae-waeyo?” Dara sedikit khawatir. Yah.. Dara memang tidak begitu mahir memasak tidak seperti Bom dan Chaerin.
“Uwah!” Jiyong menaruh sumpitnya lalu mengambil sendok sup untuk mencoba supnya. *slurp* “WAAAH!!! Jagiya…”
“Waeeeeeeee?”
“MASISSEOO!!! Aigoooo… ini enak sekali sayang!” pekik Jiyong sambil menatap Dara bangga.
“Jinjja?”
Jiyong mengangguk antusias sambil mengambil egg roll dengan sumpitnya. “Nih, Dara say AAAAAAA.” Jiyong menyodorkannya pada Dara.
“Hahaha. Ji… ini… asin… dan… tidak enak.”
“Kata siapa? Haaa ini enak sekali. Huwaah.”
Dengan lahapnya Jiyong memakan sarapan yang Dara berikan sampai tak tersisa. Dara hanya melihatnya keheranan. Jelas-jelas egg roll yang ia buat asin sekali, sedangkan supnya terasa hambar.
“Ji… yang lain kemana?” Dara baru sadar kalau disini hanya mereka berdua saja.
“Ah.. hmm.. Youngbae menginap dirumah Seunghyun hyung, tadi malam mereka habis dari club. Daesung… dia sekarang tinggal di gereja. Seungri… molla.”
“Ah, arraseo.” Dara mengangguk-angguk mengerti. “Aigo…pelan-pelan sayang makannya…” ia mengambil nasi yang mengotori bibirnya.
Jiyong hanya mengangguk sambil terus melahap makanannya.
“Kyaaaah… kenyang sekali.” Jiyong mengambil gelas yang sudah terisi air putih di sebelahnya. “Haaah…”
“Benar-benar enak?” tanya Dara sekali lagi dengan raut wajah tidak percaya.
Jiyong mengangguk sambil menyeringai.
Dara mendesah lalu merapihkan meja pantry. “Mau ku bikinkan kopi?”
“Tidak usah,” jawabnya sambil tersenyum.
“Ok.. ku bersihkan kotak makannya dulu.”
Jiyong hanya mengangguk sambil memperhatikan Dara yang sedang mencuci.
Silence…
Bisa dibilang… awkward..
Sampai akhirnya Jiyong tak tahan dan berjalan ke tempat cuci piring.
Dara merasakan ada yang memeluknya pinggangnya. “Hahaha, Ji… aku sedang mencuci piring.”
“Wae?” Jiyong cemberut sambil menaruh dagunya di pundak Dara.
“Nanti kau basah.”
“Ani…” Jiyong menghirup napas di tengkuk Dara lalu menciumnya. “Gomawoyo…”
Dara terkikik sambil meneruskan mencuci piring. “Untuk apa?”
“Untuk sarapan dan kedatanganmu,” jawab Jiyong, mengeratkan pelukannya.
“Aigo..” Dara tertawa pelan lalu tersenyum. “This is nothing, Ji.”
“Hmmm…”
Jiyong menyembunyikan mukanya di dalam rambut Dara.
“Jjah… selesai,” kata Dara. Dilepasnya sarung tangan cuci berwarna kuning, lalu mengelap tangannya dengan handuk.
“Ji…” panggilnya.
“Hmm?” gumam Jiyong di telinga Dara.
Dara membalikkan tubuhnya, menatap Jiyong face-to-face. Dielusnya pipi Jiyong dengan telapak tangannya. “Ani…”
Jiyong mengecup pipi Dara, lalu mata, dahi, hidung, dan bibirnya. “I miss you.”
Ia tersenyum sambil mengusap pipi Jiyong. “I miss you too.”
“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?”
“Lumayan. Kau?”
“Tidak begitu. Insomnia ku kambuh.”
“Uhu… kasihan.. lingkaran hitam di bawah matamu semakin kelihatan, Baby,” gumam Dara sambil mengelus mata Jiyong.
“Jinjja? Ah… beberapa hari terakhir aku tidak bisa tidur…”
“Tsk. Kamu harus cukup istirahat, sayang. Aku tidak mau kau sakit seperti awal tahun kemarin.”
Jiyong memajukan badannya lalu memeluk Dara. “Hmm arraseo, jagi.”
“Jjah. Cepat sana mandi.”
“Ok. Tapi..” Jiyong memanyunkan bibirnya di depan Dara, meminta sebuah kecupan.
“Aih, Jiyong-ah…”
“Aku mandi setelah kau menciumku.”
“Ya!”
Tapi sebelum Dara mengelak, bibir Jiyong sudah mendarat di bibir Dara. Ciuman mereka tidak terlalu lama, tapi sedikit intens.
Jiyong tertawa pelan setelah melepas ciumannya. Napas mereka sedikit tersengal.
“Aku mandi dulu ya. Dan… good morning, baby.”
Jiyong mencuri ciuman untuk Dara lagi lalu berlari ke kamar mandi. Sementara Dara hanya merona sambil terkikik.
Tiga puluh menit kemudian Jiyong selesai mandi. Dara sekarang sedang duduk di sofa besar berwarna hitam di ruang tv.
“Hei,” sapa Jiyong lalu duduk di sebelah Dara. Rambutnya masih basah dan sedikit berantakan karena tadi dia keramas.
“Hei,” balas Dara sambil tersenyum
“Hah…” Jiyong menjatuhkan kepalanya di paha Dara. Ditariknya lengan Dara lalu dilingkarkan di leher Jiyong
“Setelah ini kau ada jadwal apa?” tanya Jiyong
“Pemotretan untuk adidas. Kau?”
“Nanti sore aku akan perform di Super Traxx.”
“Wah! Setelah pemotretan selesai aku dengar Mingkki akan menonton konser itu.”
“Kau ikut?”
“Ah~ even if I want to, tapi aku tidak bisa. Aku sudah janji dengan eomma untuk ke rumah.”
“Hmm, arraseo… sebelum ke konser, aku akan memotong rambutku.”
“Ne? Lagi? What kind of?”
“Hmm… botak?”
“MWO??!”
“Hahaha waeyo?”
“Aigo… aku tidak bisa membayangkan bagaimana dirimu nanti…” kata Dara sambil menatap keatas dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Haish.. bukannya aku jadi terlihat ‘cowo banget’ hah?” Jiyong dan Dara tertawa bersama.
“Aigo Jiyong-ah… aku benar-benar tidak bisa membayangkan rambutmu berubah botak. Eih~”
“Ya! Waeyo? Rambutku pasti akan tumbuh lagi kok.”
“Mollaseo~ tapi yang jelas kau akan bertambah tampan, ck. Kekasihku semakin hari semakin tampan. Haish… sepertinya pesaingku bertambah banyak..”
“Mwohae? Hahaha bukankah aku yang seharusnya bilang seperti itu? Aigo… fanboymu semakin lama semakin berbukit, kau tahu? Tsk.. aku sampai bingung bagaimana tanggapan mereka setelah date-ban mu berakhir. Aigo…”
Dara tertawa lalu mencubit hidung Jiyong. “Ya. Kau cemburu?”
“Sedikit.”
“Kkkk~ mereka hanya fanboy sayang, nothing more.”
“Aish.. molla.”
“Don’t worry, Cuma kamu yang ada di hatiku, Ji. Tak ada yang bisa menggantikannya.” Dara memberikan Jiyong senyum paling tulus.
“D..”
“Hmm?
“Kau kapan promosi di Jepang?”
“Mungkin minggu pertama agustus.”
“Agustus??”
“I-iya.. waeyo?”
“Ani…” Jiyong mendesah.
Dara menyadari perubahan suara Jiyong yang tiba-tiba jadi sedih. Dara mengelus pipi Jiyong. “Waeyo, baby?”
“Ha? Ah.. anya. Nothing..” Jiyong memaksakan untuk tersenyum. Dara mengerti pasti ada yang mengganjal hati Jiyong jadi ia mencoba untuk menanyakannya lagi.
“Sayang… ada apa? Katakan padaku…”
Jiyong mendongak untuk melihat mata Dara lalu menghela napas dalam. “Ani…”
“Ada apa, hmm?” Dara tersenyum sambil mengelus pipi Jiyong.
“Hmm… aku hanya ingin kau ada disini saat ulang tahunku nanti.”
Dara terdiam. Ia juga takut kalau nanti dia tidak ada disamping Jiyong ketika hari spesialnya itu. Karena Dara juga tidak bisa menolak untuk hadir jikalau mereka ada show di Jepang.
“Aku tidak bisa janji, Ji. Tapi kuusahakan ada di sampingmu nanti.”
Jiyong tersenyum sambil mengelus lengan Dara. “Arraseo… aku tahu kau sibuk. Kalau memang tidak bisa jangan dipaksakan. Aku tak ingin mengganggumu.”
“Aih… siapa bilang kau mengangguku? Memang sudah sepantasnya kan kalau aku memang ada disampingmu?”
Jiyong tersenyum. Dara tersenyum.
“Kau mau kuberi hadiah apa?” tanya Dara.
Jiyong tertawa pelan sambil menggeleng. “Tidak usah, D. Kau ada disampingku saja itu sudah menjadi hadiah terindah untukku.”
(Background music : Try-Asher Book. Serius deh ni lagu romantic banget. fits perfectly sama daragon. Hihihi )
Dara tersentuh. Ia tahu, Jiyong sungguh-sungguh kali ini.
“Ji. Kau tahu? Setiap detik, jam, hari kau selalu ada di hatiku, di pikiranku. Walaupun kita sering bertengkar dan aku sering kali tersakiti karena itu, tapi cintaku padamu tidak pernah pudar. Sekali pun. Aku memang bukan yang terbaik, tercantik, ataupun sempurna untukmu. Tapi aku akan mencoba, apapun caranya agar bisa terlihat seperti apa yang kau mau. You know? Being part of your life its like I’m the luckiest women in the world. You are the most important thing of my life, beside YG, 2NE1, eomma, and Sanghyun.”
Jiyong terharu mendengar kata-kata yang diucapkan Dara. Dara dan Jiyong bertatapan sampai akhirnya Jiyong bangun dan duduk di sampingnya. Ia mengelus pipi Dara. Ia tersenyum, Dara juga ikut tersenyum.
“Terima kasih, Dara. You’re the only one in my heart. No one can change you in here…” Jiyong mengambil tangan Dara lalu diletakkan di dadanya. “You’re all my love.”
Mata Dara terlihat berair. Ia tak bisa menahan air mata keluar dari matanya. Ia merasa tersentuh dengan apa yang Jiyong katakan.
“Jangan menangis, sayang…”kata Jiyong sambil menghapur aliran air mata Dara di pipinya.
“Ji… I love you. Very much. Neomu neomu saranghae..”
“Nado, neomu saranghae, D.”
Mereka pun berpelukan lama. Sampai Dara akhirnya sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul 11. Dara pun melepas pelukannya.
“Ji, aku harus pergi sekarang…”
“Wae?”
“Pemotretan dilakukan jam 1 ini, kami harus siap-siap dulu sebelum berangkat.”
Dara pun berdiri dari duduknya lalu berjalan ke dapur mengambil kotak makannya. Jiyong mengikuti Dara di belakangnya.
“Ku telpon kau nanti, ok?”
Jiyong mengangguk sambil tersenyum.
“Arraseo… do well, baby. Ah ya, jangan kaget ketika melihat rambutku nanti,” katanya sambil menyeringai.
“Ha? Aish, awas kalo aneh-aneh!”
“Kkkk~ sudah sana pergi.”
“Ne! Annyeong!”
“Annyeong..”
Mereka berdua kembali ke dalam kesibukan mereka masing-masing. Sebelum Jiyong perform di konser super traxx, dia pergi ke salon langganan YG. Dan yeap, dia meminta stylistnya agar kali ini, model rambut barunya adalah botak. Awalnya hairstylist Jiyong tidak setuju, tapi karena Jiyong yang keras kepala so….. dia membotakkan rambutnya.
Waktu pun terus berjalan. Konser pertama 2NE1, Nolza Concert, di korea sukses digelar dan meraih kesuksesan besar. Seluruh YG Family memberikan support untuk mereka. Dan juga Jiyong. Ia menyempatkan datang di hari pertama untuk menyemangati mereka, terutama Dara. Dara menjadi lebih semangat karena kedatangan Jiyong tersebut. Di hari kedua, Jiyong datang setelah konser selesai. Di hari terakhir Jiyong melakukan performance bersama Bommie dan Park Myung Soo untuk lagu Having An Affair. Setelah selesai, Jiyong lekas pergi dari konser karena Teddy tiba-tiba menelpon agar datang ke kantor YG.
Sampailah di bulan agustus. Bulan dimana The Almighty G-Dragon berulang tahun. Hari ini tanggal 18 merupakan hari spesial untuknya. Jiyong tahu kalau fans-fansnya pasti akan mengirimkan hadiah untuknya. Tapi kali ini, ia membuat surat untuk fans-fansnya diseluruh dunia jika ia tidak mau menerima hadiah apapun dari mereka. Ia ingin hadiah-hadiah untuknya lebih baik disumbangkan untuk donasi sebuah rumah sakit di Korea. Dan saat itu juga, fans-fans Jiyong berbondong-bondong menyumbangkan uangnya untuk di donasikan ke rumah sakit tersebut. Uang yang terkumpul kala itu sangatlah banyak.
Dan benar. Saat Jiyong berulang tahun hari ini, Dara tidak bisa berada disampingnya. Well… jadwal 2NE1 yang padat memang menjadi penghalang kali ini. Mereka sedang berada di Jepang dan belum bisa kembali ke Korea.
“Jagiyaaaaaaaaaaaa… Saengil chukka! Mianhae aku tidak bisa disampingmu.”
Dara menelpon Jiyong untuk mengucapkan Happy Birthday sekaligus maaf karena tidak bisa hadir di pesta ulang tahunnya.
Jiyong tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. “It’s okay, baby. Aku mengerti… hmm, gomawoyo..”
“Enjoy your night, neh? Jangan merokok dan jangan terlalu mabuk, kalau tidak….”
 
“Kalau tidak….?”
 
“Kalau tidak… I’ll smack your lips with MINE!”
 
“Err… jinjja? Hahaha… If that’s so… I’ll drunk haaaaaaaaaarrd tonight~. Smack me with your lips when you’re back, arraseo?” Jiyong pun tertawa.
“YA!!!” pekik Dara di telpon.
“Hahaha. Arraseo baby… you got my words. Aku tidak akan mabuk malam ini. Ehmm… mungkin sedikit.”
 
“Jiyong….”
 
“Kkk~ galak sekali sih. Ne, arraseo babyku~”
 
“Hmmph!”
 
“Kau pulang kapan?”
 
“Lusa.”
 
“Oh… jam berapa?”
 
“Pagi atau siang atau malam. Molla.”
 
“Ya! Ssantoki!”
 
“Mwo?”
 
“Ngambek?”
 
“Ani.”
 
“Jinjja?”
 
“Hmm…”
 
“Really? Kok aku bisa merasakan bibirmu cemberut ya? Hahaha.”
 
“Sok tahu!”
 
“Aku memang tahu~”
 
“Sombong.”
 
“Ani. Aku memang mengerti kau. Mengerti luar dan…… dalam.” Jiyong mengucapkan kata terakhir dengan suara bisikannya yang seksi.
“YOU PERVERT!”
Jiyong tertawa. “No.”
 
“Yes, you are.”
 
“Ani~”
 
“YES!”
 
“No!”
 
“YES!”
 
“No.”
 
“No.”
 
“Yes… errrggghhh sial. You tricked me, don’t you?”
Dara tertawa keras di telpon. “Gotcha huuu~”
 
“Silly Rabbit!” Jiyong tertawa lagi.
“Yes I am and I love you~”
 
“Hahaha. I love you too, baby..”
 
“Keke. Geurae I gotta go now. Stylist unnie sudah memanggilku.”
 
“Ah… aku masih ingin berbicara denganmu…” rengek Jiyong. Dara bisa merasakan bibir Jiyong yang sekarang pasti sudah cemberut.
“Baby… aku harus pergi sekarang…”
 
“Silheo! Ya, aku masih kangen..”
“Gak usah kayak anak kecil deh…”
 
Jiyong menghela napas berat. “Arraseo…”
 
“’Kay… I’ll call you later, babe.”
 
“Ne baby.”
 
“Sekali lagi… saengil cukhaehamnidang~ uri sarangeun Kwon Jiyong~ I love you.”
 
Jiyong tertawa kecil. “Gomawo, D. I love you moremoremore than you know.”
 
“Hahaha. Ok, bye.”
 
“Bye…”
 
Telepon pun terputus dan mereka kembali melanjutkan aktifitas mereka. Jiyong kembali berkutat dengan menyusun lagu untuk album solo barunya, sementara Dara bersiap untuk menghadiri acara di Jepang bersama 2NE1. Dan begitulah… Dara tidak bisa menghadiri acara ulang tahun Jiyong kali ini. Sebenarnya dia tidak enak meninggalkan Jiyong di hari ulang tahunnya, tapi yah… sebagai seorang artis harus professional dengan pekerjaannya. Dan, Jiyong mengerti hal itu.
Time goes by… sampai akhirnya memasuki bulan oktober. Dara masih sibuk dengan kegiatan 2NE1 di Jepang karena Single “Go Away” versi Jepang mereka baru saja dirilis. Sementara Jiyong sibuk dengan album barunya yang sebentar lagi akan dirilis. Ia tak bisa tenang memikirkan bagaimana ketika album solo terbarunya keluar nanti. Apa tanggapan fans dan juga hatersnya. Jelas ia tidak mau kejadian di tahun 2009 ketika album solo pertamanya rilis. Plagiarism scandal yang ia punya dengan lagu Heart Breaker. Tho’, its hurt him badly. And now, he doesn’t want to feel the same way like that. He wants to make sure that his album is perfect enough for everyone.
Suatu malam, Jiyong menelpon Dara yang masih berada di Jepang. Jiyong sekarang sudah berada di kamarnya. Ia baru saja selesai rapat bersama Teddy dan YG sajangnim.
“Jagiya…” sapa Jiyong setelah telponnya diangkat oleh Dara.
“Ah! Jiyongie.. kenapa menelpon?” Dara melirik jam weker di sebelah tempat tidurnya. Jam menunjukkan jam 1 malam.
“Wae??? Tidak boleh???”
“A-ani… ku kira kau masih sibuk… so… yeah..”
“Ah~ ye, aku baru saja sampai di kamarku.”
“Oh… Ji, ini sudah larut. Kau harus tidur.”
“Nanti saja. Aku ingin mendengar suaramu, jagiya…. I miss you.”
“I miss you more, Ji. Tapi kau harus istirahat.”
“Anyaaaaa. Gwaenchana baby…”
Dara mendesah. “’Kay. Terserah padamu.”
“Hehehe so.. bagaimana harimu?”
“Fun, lil bit exhausted anyway, but its okay. Dirimu?”
“As always. Busy with my own album hehehe.”
“Jangan terlalu di forsir, Ji. Badanmu juga butuh istirahat, kau tahu?”
“Arraseo, Mrs. Kwon.”
Dara tertawa. “Hahaha. What the… Mrs. Kwon? Hahaha I’m not your wife, babe… not yet.”
“Sooner.”
“Hahahaha…” Dara memandangi cincin yang diberikan Jiyong waktu itu.
“Jadi… kapan kau kembali?”
“Hmm… kemungkinan seminggu lagi kami kembali ke Korea.”
“Seminggu??? Why so long….” Jiyong mengatakannya sambil menyisipkan isakan bohongan.
Bear with that, babe…”
“Tsk. If I wish I were there.”
“Minggu depan aku sudah pulang kok.”
“Bogoshippeo..”
“Nado, baby.”
“Sudah hampir sebulan kita tak bertemu. Tsk. It makes me crazy, you know?”
“Jangan mengeluh sayang…”
“Aku tidak mengeluh… hanya saja… hanya saja aku benar-benar ingin bertemu denganmu.”
“Aku juga..” Dara menghela napas panjang. “Seminggu lagi, dan aku akan berada disampingmu. So please wait nicely, kay?”
“Apa lebih baik besok aku pergi ke Jepang, bertemu denganmu, lalu membawamu pergi ke suatu tempat yang penduduknya tidak tahu siapa kita-“
“Ya!!! Stop dreaming, pabbo.”
“Aku benar-benar ingin melakukan itu Dara. Sungguh. Aku ingin membawamu pergi ke suatu tempat yang jauh lalu kita hidup disana, membuat sebuah keluarga… ah…”
Dara terhenyak mendengar perkataan Jiyong. Mungkin ini terlalu dini memikirkan membangun sebuah keluarga, tapi mendengar pikiran Jiyong yang seperti itu, ia jadi tambah yakin bahwa Jiyong benar-benar mencintainya.
“We will, Ji.”
“Yeah. We will. Dan aku harus mencari banyak uang dulu sebelum menikahimu nanti.” Jiyong tertawa.
“You already have enough money Ji, oh not enough, but LOTS money.”
“Shut up hahahaha. Kau harus menjadi ibu rumah tangga, arraseo?”
“Wae~? Aku kan juga ingin bekerja.”
“ANDWAE! Pokoknya kau harus jadi ibu rumah tangga dan mengurusi anak-anak kita kelak. Ah… membayanginya saja sudah membuatku ingin menikahmu secepatnya dan… membuat anak yang banyak. Hahahaha.”
“YA!!!!! PERVERT!!!”
“Really am, D. Hahahaha. Dan oh yeah~  sebentar lagi tahun 2012 dan masa date-ban mu sebentar lagi habis. Well well, bersiaplah The Great Kwon Leadah menghadapi ratusan bahkan ribuan fanboy diseluruh penjuru Korea Selatan. HA!”
Dara tertawa nyaring. “Whats wrong with your voice? Don’t tell me its because your jealousy. Aigooo~”
“Aha, I’m jealous already, baby.”
“Don’t be, Ji. I belongs to you, only.”
“I know it, right hahaha.”
Tanpa disadari Dara menguap, matanya terlihat lelah. “Ji… aku ngantuk.”
“So?”
“Whats ‘So’ ?”
“So then?”
Dara mendesah sambil mengucek matanya. “Aku ingin tidur.”
“Tidurlah.”
“Eh??”
“Kau ngantuk kan? Ya sudah, tidur.”
“A-arraseo. Ku tutup ya telponnya.”
“Jangan!!! Biar aku saja yang tutup telponnya.”
“W-wae?”
“Aku ingin menunggumu tertidur…”
“Hah?”
“Sudah cepat lakukan!”
Dara menghela napas lalu mengiyakan pikiran Jiyong yang aneh itu. “Geurae. I gotta sleep. Night baby.”
“Night dearest. I love you.”
“Love you too…”
Dan tak lama kemudian Dara pun jatuh tertidur. Bukan rahasia lagi kalau Dara memang termasuk orang yang cepat tidur. Jiyong terkikik ditelpon ketika mendengar suara napas Dara.
“Jaljayo, jagi. I love you more than anything..” telpon pun langsung terputus. Jiyong bangun dari tempat tidur lalu berjalan ke lemari mencari baju piyamanya. Setelah itu ia balik lagi ke tempat tidur, dan dengan sengaja menjatuhkan badannya.
“Goodnight world.” Ia pun tertidur.
Hari-hari pun berlalu. Jiyong dan TOP masih sibuk dengan duet mereka. Karena Daesung mendapatkan masalah beberapa bulan lalu, mengakibatkan promosi lagu-lagu mereka dihentikan. Duet GDTOP pun sekarang menjadi andalan Bigbang kali ini. Sementara Dara masih sibuk dengan jadwal rekaman untuk album debut jepang 2NE1.
Semuanya berjalan seperti biasa. Dara sibuk, Jiyong juga demikian. Sampai akhirnya tiba-tiba ada berita mengejutkan mengguncang YG Entertainment. Sebuah artikel di internet membuat mereka menahan napas. Hampir seluruh wajah mereka terlihat pucat, kaget, dan tidak percaya dengan apa yang mereka baca.
“G-Dragon Menggunakan Marijuana?”
 
Leader grup hallyu papan atas, Bigbang, kemungkinan mendapatkan masalah dengan kepolisian kali ini. Beberapa waktu lalu, kepolisian setempat membuat sebuah pengumuman bahwa Leader Bigbang, G-Dragon, diketahui mengkonsumsi Marijuana. Sebelumnya, kepolisian sudah menge-test urin dan juga rambutnya. Dan alangkah mengejutkan bahwa hasilnya POSITIF. Tetapi yang membuat ini sedikit aneh adalah hanya rambutnya saja yang positif menunjukan bahwa ia mengkonsumsi Marijuana. Sementara urine nya menunjukan hasil yang NEGATIF. Kepolisian setempat memberi pernyataan, “Sampai sekarang kami masih mengecek apakah benar G-Dragon memakai marijuana atau tidak. Ini harus dipastikan. Tapi hasil terakhir dari tes yang kami lakukan adalah rambut G-Dragon positif mengandung marijuana, tetapi tidak dengan urinenya.” Sampai sekarang pihak YG Entertainment belum memberikan statement apapun.
 
Tentunya berita ini sudah sampai ke telinga Yg Sajangnim. Ia berusaha merahasiakan berita ini tetapi sepertinya tidak bisa, karena cepat atau lambat, Jiyong pasti akan membaca berita ini. Karena tak bisa dipungkiri, kalau berita skandal G-Dragon paling banyak dinanti oleh para pencari berita dan gossip. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Jiyong agar datang ke kantor YG sekarang untuk membahas masalah ini.
Tut… Tut… Tut….
“Yeobeoseyo…” sapaan Jiyong terdengar dingin di telepon.
“Ji-“
“Mianhae, hyung…”
Mata sajangnim terbelalak. “Ne?”
“Aku tahu kau menelponku karena masalah itu…”
“J-j-jadi kau sudah tahu?”
“Hmm..” gumam Jiyong.
Sajangnim menghela napas berat sambil menggelengkan kepala. “Aih. That Seung-rat!”
“Ani, hyung… bukan dia.”
“Lalu-”
“Aku tadi melihat berita di internet.”
“Ah…” Sajangnim tidak sadar dampak yang terjadi ketika berita itu dikeluarkan. Pastinya berita itu sudah tersebar di internet.
“Mianhae hyung. Jeongmal mianhae… lagi-lagi aku harus membuatmu pusing karena skandalku.”
“Ani, Jiyong. Tidak begitu. Hmm, bisakah kau datang ke kantor sekarang?”
Jiyong mendesah. “Ne… hyung.”
“Geurae. Ku tunggu kau di ruanganku.”
“Ne.”
Telpon pun terputus. Jiyong terlihat gusar dan lemas. Ia masih terkejut dengan berita yang baru saja muncul. Padahal sebentar lagi ia akan mengeluarkan album solo terbarunya dan juga album jepang GDTOP yang bulan depan akan segera dirilis.
Jiyong menapaki lantai dengan langkah berat sambil menenteng kunci mobil Bentley nya. Ia memikirkan bagaimana perasaan teman-temannya, fansnya, keluarganya, terutama… Dara. Ia merasa malu dengan dirinya kali ini. Skandal yang ia punya kali ini lebih berat dari sebelum-sebelumnya.
“Dara…” gumamnya saat melihat layar ponselnya. Terpampang selca dia yang mencium pipi Dara. Ia merindukan Dara. Ia ingin Dara disini menemaninya. Tapi… apa daya. Ia juga tidak ingin egois. Dara mempunyai pekerjaan yang ia harus kerjakan.
Dengan sedikit berat hati, ia menyalakan mesin mobil lalu menjalankannya. Waktu perjalanan yang sebenarnya hanya 15 menit terasa lama bagi Jiyong.
Setelah sampai, ia menyiapkan dirinya sebelum keluar dari mobil. Bagaimanapun di gedung YG ia pasti akan bertemu officer-officer YG dan juga teman-temannya yang lain. Dia tidak ingin mereka melihat wajahnya yang kacau seperti ini. Well… Jiyong tahu bahwa mereka pasti khawatir akan dirinya.
Setelah keberaniannya terkumpul, ia pun keluar dari mobil. Hoody jaket berwarna hitam, menutupi rambutnya yang botak, kacamat hitam pun bertengger gentle di hidungnya. Ia berjalan cepat agar orang-orang tidak menyadari bahwa itu adalah dia. Tapi sebagaimanapun caranya dia menutupi kedatangannya ke YG, tetap saja ketahuan. Ia tidak sengaja menabrak seseorang saat ia tengah berjalan menuju lift.
“A-ah.. mi-mianhae…” ujarnya grogi sambil membungkukan badannya. Ia tak berani menatap orang yang didepannya.
“Jiyong?” Suara Teddy terdengar jelas di kuping Jiyong.
“Ah… hyung,” sapanya balik sambil berusaha menunjukkan senyumnya, walaupun terlihat dipaksakan.
“Ada apa kesini?” tanya Teddy sedikit khawatir dan penasaran.
“YG Hyung memanggilku,” jawabnya singkat.
“Ah…. Ne… arraseo…” Teddy mengangguk-anggukan kepalanya lalu menyeruput segelas kopi.
“Geurae. Kalkke,” pamit Jiyong.
Teddy menepuk bahu Jiyong. “Aku tahu perasaanmu, Ji. Jangan menyerah, ok? Aku selalu disini untukmu, bro. Kami selalu mendukungmu. Ingat itu.”
Jiyong hanya tersenyum dan mengangguk, lalu berjalan kearah lift.
Tak berapa lama kemudian ia sampai dilantai tempat The Boss berada. Ia mengetuk pintunya pelan, lalu masuk kedalam.
“Hyung…”
“Ah. Ji, silahkan duduk.”
Jiyong duduk di kursi tepat di depan YG, lalu membuka kacamatanya. Ia menundukkan kepalanya, tak berani menatap sajangnim.
“Jiyong-“
“Mianhae hyung… jeongmal mianhae…” akhirnya Jiyong berani mengeluarkan suara. “Ini salahku. Aku tahu. Aku tidak berhati-hati kala itu. Tapi tolong percaya padaku. Aku sama sekali tidak pernah memakai marijuana. Tidak pernah terpikirkan olehku untuk memakai barang semacam itu.”
“Aku tahu, Ji…”
“Kala itu, saat di Jepang aku benar-benar tidak merasakan apa-apa. Tetapi seseorang menawariku sebuah rokok. Karena aku menganggap itu hal yang biasa, jadi… aku mengambilnya dan menghisapnya sekali. Tapi saat aku menghisap rokok tersebut aku merasakan ada yang aneh, karena rasanya tidak seperti yang biasa aku hisap. Karena curiga, aku buang rokok itu. And that’s it. Nothing more or less, hyung.”
“Arraseo…”
“Kau tidak percaya padaku kan?” Jiyong kali ini mengangkat kepalanya, berani menatap sajangnim. Matanya sudah terlihat berair dan merah.
“Siapa yang bilang aku tidak percaya padamu?” ia balik bertanya.
Jiyong menggelengkan kepalanya lalu menundukannya lagi.
“Dengar, Jiyong. Aku 100% percaya padamu. Kau tahu sendiri, aku sudah mengenal kau lebih dari 10 tahun. Dan aku yakin, kau tidak mungkin seceroboh ini.”
“Tapi ini salahku, hyung..”
Sajangnim menghela napas. “Ini bukan salahmu, Jiyong. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri.”
“Mianhae sudah membuatmu pusing karena skandalku. Aku sudah membuatmu malu ketika skandal album soloku waktu itu, dan sekarang…” Jiyong mendesah risau lalu menyeka air mata yang sudah membasahi wajahnya.
“Itulah hidup, Ji. Ada kalanya memang kita harus diberi cobaan seperti ini agar kita mengerti apa yang telah kita lakukan. Tidak ada yang mudah menjadi seorang idola, Ji.”
“Kurasa… aku harus keluar dari Bigbang…” ujar Jiyong pelan.
Mata sajangnim terbelalak kaget. “NEH????! Ya!! Kwon Jiyong!!”
Jiyong mendesah lalu menatap sajangnim di depannya. “Mianhae hyung… tapi… yah… kurasa aku terlalu banyak membuat kesalahan. Padamu, pada Bigbang, pada YG, dan juga pada fans. Ku pikir ini hukuman yang terbaik buatku.”
“ANDWAE!!!!” teriak Sajangnim. “Ya. Kita bisa cari jalan keluar, Jiyong. Jangan berpikiran dangkal seperti itu!”
“Aku… a-aku..”
“STOP THINKING THOSE STUPID THINGS LIKE THAT! Kau tidak akan keluar dari Bigbang. Tidak akan pernah, Jiyong.”
“Tapi-“
“Tidak ada tapi.”
Jiyong menghela napas berat sambil menggelengkan kepalanya. “Aku sudah membuatm, Bigbang, fans, keluargaku, dan juga Dara malu karena skandalku. Aku pantas dikeluarkan, hyung.”
“Sekali tidak. Tetap tidak. Jika kau berani keluar dari Bigbang, bisa dipastikan nyawamu habis keesokan harinya.”
Jiyong mengangkat kepalanya cepat, sambil mengedipkan matanya tidak percaya. “Hyung…” ringis Jiyong ngeri.
“Maka dari itu. Jangan sekali-sekali berani mengucapkan kata itu di depanku. ARRASEO??”
Jiyong mengangguk grogi lalu menundukkan kepalanya lagi.
“Baiklah. Kurasa kau boleh keluar dari ruanganku sekarang. Tenang saja, skandal ini akan kuurus. Ku yakin ini hanya salah paham biasa. Kau tidak usah khawatir.”
“Ne, hyung.”
“Tak usah dipikirkan, Jiyong..”
Jiyong melepaskan helaan napas panjang dan berat. Jelas ini akan menyita pikirannya. Bagaimana tidak ia telah membuat malu semua orang yang mengaguminya, yang menyayanginya, yang mencintainya.
“Ne…”
“Geurae. Kau boleh pergi…”
Jiyong mengangguk, lalu bangkit dari duduk dan membungkukan badannya. “Gomawoyo, Hyung. Annyeong…”
“Neh….”
Saat sudah di luar ruangan sajangnim, tiba-tiba ponsel Jiyong bergetar. Dengan malas ia mengambil ponselnya yang ada di saku celana. Dilihatnya nomor yang tertera dilayar ponselnya. Ia ingin sekali menjawab telpon itu tapi… ia terlalu malu dan tidak berani berbicara pada Dara. Jiyong memasukan ponselnya lagi ke saku lalu berjalan menuju lift. Ia berencana ke rooftop gedung YG. Tempat itu merupakan tempat paling nyaman karena suasananya yang tenang.
Meanwhile… Dara yang telah mengetahui berita itu dari internet terlihat gelisah saat Jiyong tidak menjawab telponnya yang ke 78 kalinya. Dara dan member 2NE1 masih berada di Jepang. Tadinya, Dara ingin pulang ke Korea setelah mengetahui berita tersebut karena tahu, Jiyong pasti membutuhkannya saat ini.
“Aku harus pergi sekarang.” Dara bangkit dari sofa tapi sebelum ia berdiri, lengannya lebih dahulu dipegang oleh Bom.
“Ya!! Neo michyeosseo?? Besok kita masih ada show, Dara,” ujar Bom sedikit marah.
“BOM! HE NEEDS ME!! Jiyong membutuhkanku!!! Aku tidak bisa berdiam diri disini, leha-leha, duduk manis disini. Sementara dia? Dia mungkin menangis, stress, atau bisa juga… b-bisa juga…” Dara menggelengkan kepalanya dan tanpa ia sadari air mata yang sedari ia tahan mengalir juga dari pelupuk matanya.
Tadinya Bom ingin marah padanya, tapi setelah melihatnya menangis, ia mengurungkan niatnya. Sebenarnya Bom tahu dan mengerti apa yang dirasakan Dara, tapi bagaimanapun juga mereka harus professional.
“Dara-yah… aku mengerti perasaanmu,” kata Bom lembut sambil menarik badan Dara ke tubuhnya. “Tapi… pekerjaan harus tetap dijalankan, Dara. Aku juga sangat ingin bertemu dengan bocah itu, dan memastikan bahwa dia tidak melakukan hal-hal bodoh.”
“He needs me, Bom… He needs me…” gumam Dara di bahu Bom sambil terisak.
“Arraseo… arraseo…” Bom mengelus rambut Dara, mencoba menenangkannya. Membiarkan Dara menangis di bahunya.
“Aku harus menelpon dia lagi.” Dara melepaskan pelukan Bom sambil beralih memencet tombol handphonenya.
Tut… Tut… Tut…
 
Setelah berdering selama 10 kali, akhirnya Jiyong mengangkat telpon Dara.
“Hei, D,” sapanya lemah.
“Jiyong!!!” pekik Dara setelah tahu Jiyong mengangkat telponnya.
“Neh..” suaranya terdengar sangat lemah di telinga Dara. Ia tak bisa menahan air matanya jatuh di pipinya. Suara isakan tangis pun terdengar di telinga Jiyong. “Hei, baby… whats up?” tambah Jiyong seakan-akan tidak ada masalah yang seakan menimpanya.
“Jiyong-ah…”
“Iya, baby…”
“I love you…”
Jiyong tertawa kecil di telponnya. “Hahaha. I love you too, baby.”
“Always remember that I’ll beside you no matter what happens, kay?”
“I will, babe. But whats wrong?”
“Jangan bertingkah seakan-akan tidak ada masalah yang menimpamu, Ji.”
Jiyong menelan ludahnya grogi lalu mengedip beberapa kali. “Jadi.. kau-?
“Yes. Aku sudah tahu berita itu,” potong Dara.
Jiyong menghembuskan napas berat. “Tak usah khawatirkan aku, D.”
“Bagaimana aku tidak khawatir, ha??? Kau tidak mengangkat telponku!!! Kau tahu, aku sudah menelponmu selama 90kali!!! Dan baru sekarang kau mengangkatnya??? How could you!!!” bentak Dara di telpon.
Bom yang disebelahnya, menatap Dara terkaget lalu memutuskan kembali ke kamarnya, meninggalkan Dara sendirian si ruang tamu agar bisa berbicara lebih bebas dengan Jiyong.
“Sorry babe… a-a-aku.. uhmm…”
Dara mendesah lega setelah kekesalan yang ia simpan sudah dikeluarkannya. “Arraseo…”
“Mianhae…”
“Aku mengerti…”
“Mianhae…”
“Iya, Jiyong… aku memaafkanmu.”
“Mianhae…” bisik Jiyong lalu terdengar suara isakan di telinga Dara.
“Ji…”
“Mianhae, Dara-yah. Mianhae… Jeongmal mianhae…”
“Jiyong. Aku sudah memaafkanmu… jadi berhentilah meminta maaf padaku.”
“Aku tidak baik untukmu, D. Aku membuatmu malu…”
“Ya!! Kata siapa kau tidak baik untukku dan membuatku malu?? Katakan siapa yang bilang omongan semacam itu padamu?”
“Aku yang mengatakannya…”
“Ji…” Dara mendesah sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya. “Kau pantas dan berhak mendapatkanku. Kau juga tidak pernah membuatku malu, sedikitpun!”
Jiyong tidak menjawab perkataan Dara.
“Jiyong…”
Lama tak ada yang menjawab Dara pun mulai khawatir.
“Jiyong-ah… baby…”
Jiyong masih tidak menjawab. Diujung telpon, Jiyong diam seribu bahasa memikirkan apa yang harus ia lakukan untuknya. Dan akhirnya ia sampai pada keputusan dimana…. ini merupakan yang terbaik untuknya dan juga Dara.
“Jiyong? KWON JIYONG!! YA!!”
“Sandara Park.”
“Eh?? Hahaha, kau memanggilku apa? Hahaha”
“Dara.” Nada Jiyong terdengar serius kali ini.
Dara menghentikan tawanya ketika mendengar nada suara Jiyong tiba-tiba berubah menjadi serius. “A-ah… ne?”
“Lebih baik…..” Jiyong menarik napas lalu dikeluarkan perlahan. “Lebih baik kita akhiri saja.”
Mata Dara terbelalak kaget, lalu ia tertawa kecil. “Hahaha… Don’t joking with me, Ji”
“No. I’m not joking at all.”
Tanpa Dara sadari matanya nampak sudah berair dan sedikit menghilangkan pandangannya. “Ji.. Kau-“

“Kita putus.”
Tut… tut.. tut… telpon pun terputus.
TO BE CONTINUED-
 
What? Jiyong bilang putus ke Dara? tehehehehehehe maaf ya kalo part ini garing -_- I tried ma best, chingu-deul. So.. yeah, I NEED YOUR COMMENT!! Even just one word, I’ll appreaciate it.
Untuk yang udah baca ini di tumblrku, aku ada sedikit tambahan di endingnya hehehe, biar bisa dinyambungin di part slnjtnya. oh… iya, to be honest… aku ngepost FF ini di tumblrku juga. which is mean… karena disini space buat langsung di publishnya agak lama, jadi aku memutuskan untuk ngepost ff ini di tumblrku.
SO! aku putuskan buat ngasih tau NAMA TUMBLRKU + LINK LANJUTAN FF INI sama siapa aja yang ninggalin komen disini. aku udah cukup bersabar sama byknya silent reader ya… capek2 aku buat ini tapi ga dihargai sedikitpun😦 guys really, it hurts so much😦 i need ur support……. jadi conclusionnya, kalian kasih komen disini + nama twitter atau fb kalian, kalo udah nanti aku kasih DM atau PM kalian. bisa aja sih, kalian nunggu ff ini disini, tapi kan ff disini gak cuma aku doang hehehehe so, better nya ya… aku post di blogku juga. hehe.
Ok… Gomawo sudah baca FFku ^^
Annyeong, Applers! C ya ‘round!
Kisses and hugs.
Sincerely, Applersoti❤
 
credit photos: BELONGS TO THE RIGHT OWNER!!! THE PHOTO IS NOT MINE.