Title                : Eternal 40 Days

Author            : Ms. Simple0203

Length            : One Shoot

Genre             : Romance

Cast                : Kim Ki Bum / Key

                          Kim Han Jae / Jeje

                          Other SHINee Member

Jumpa fans hari ini berjalan dengan lancar. Sekarang para fans antri untuk meminta tanda tangan kami. Ini dia acara yang paling kutunggu. Ne, aku betul-betul antusias dengan ini. karena ini adalah waktu dimana aku dan fansku bisa sangat dekat. Tentu saja.. Aku seperti sekarang ini karena mereka bukan..

Setiap fans menyerahkan selembar kertas yang bergambar foto kami untuk kami tanda tangani. Setelah itu, mereka biasanya menjabat tangan kami. Namun, ada pula beberapa yang mencubit pipi kami. Uhft, kuharap hal seperti itu tidak ada untuk hari ini..

“Siapa namamu?” tanyaku pada yeoja yang berdiri didepanku ini.

“Hyun Hwa..” ujarnya sedikit histeris. Aku tersenyum kearahnya. Sekilas kulihat ia seperti akan pingsan ketika kuperlakukan demikian. Semenawan inikah aku? Hahahahh

Setelah menulis namanya dan tanda tangan, aku menyarahkan kertas itu padanya dan mengatakan

“Kamsahamnida..” dia lalu menjabat tanganku dan berlalu pergi.

Fans berikutnya…

Aku menatap wajahnya yang terlihat pucat, ia menyunggingkan senyum manis dibibirnya, aku membalas senyumnya dan meraih kertas yang ia letakkan dimeja.

“Namamu siapa?” tanyaku menatap wajahnya yang terbilang cukup manis itu.

“Jeje..” jawabnya singkat.

Aku kemudian menuliskan namanya ‘To Jeje from Key with Love’ lalu menandatanganinya. Aku kemudian mengulurkan kertas itu padanya. Ia menerimanya. Aku lalu mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya. Ini pertama kalinya aku yang mengulurkan tangan duluan. Biasanya fans yang sangat antusias mengulurkan tangan mereka.

Ia menjabat tanganku. Aku sedikit meringis saat tangannya menjabatku. Bagaimana tidak, tangannya sedingin es dan rasanya aku tersengat listrik ketika menyentuhnya. Omo.. Ada apa dengan yeoja ini? Di musim semi seperti ini tangannya sedingin es. Apa dia baik-bak saja..?

“Kau tidak apa-apa?” tanyaku memperhatikan wajahnya yang pucat.

“Tidak apa-apa..” dia tersenyum kemudian berlalu dari hadapanku. Yeoja aneh…

***

Didalam van, aku masih memikirkan yeoja tadi.  Entahlah, aku merasa sedikit aneh dengannya. Kenapa ia tidak seantusias fans yang lain? Kenapa wajahnya sepucat itu dan tangannya dingin. Ah, sudahlah Key.. Jangan difikirkan…

***

Aku berjalan-jalan ditaman kota dengan penyamaran lengkap. Seorang artis berjalan ditempat ramai? Sangat berisiko, bukan? Ne, inilah aku. Jika bosan didorm, aku biasanya kesini. Tempat ini lumayan ramai disore hari seperti ini. Tapi, aku tidak takut akan hal itu. Karena penyamaranku sangat sempurna, selama beberapa kali mengunjungi tempat ini, tak pernah sekali pun aku ketahuan. Entah aku yang beruntung atau orang-orang disini yang tidak memperdulikan kehadiranku. Hah, molla…

Aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya pelan. Kini aku duduk dibangku yang sering kutempati. Sangat nyaman berada disini, suasananya indah dan menenangkan. Aku merasakan kehadiran seseorang disamping kananku. Ketika aku menoleh kearah sana, aku meliat seorang yeoja duduk disana.

Pandangannya lurus kedepan, tatapannya kosong. Tinggu dulu, sepertinya aku mengenal yeoja ini.. Dia…

Ne, tidak salah lagi, dia yeoja pucat itu. Yeoja sedingin es yang datang di fans meeting minggu lalu.

“Jeje..” ujarku memanggil namanya.

Dia menoleh kearahku dan menatapku dalam.  Omo.. Kenapa aku menyapanya? Kalau dia tiba-tiba histeris karena melihatku, bagaimana? Pabbo..!!!

“Key..” gumamnya pelan. Dia terlihat sangat tenang menyadari keberadaanku. Uhft, syukurlah.. Kukira ia akan histeris.

“Sssttt..” aku meletakkan telunjuk dibibirku menyuruhnya diam. Dia tersenyum manis kearahku dan kembali memandang kedepan.

“Kau sering kesini..?” ujarku mengawali pembicaraan.

“Ne. Lumayan sering..” jawabnya singkat.

Kembali kami terdiam. Uhhfftt.. kenapa aku malah tegang seperti ini sih..?

“Ah, musim semi seperti ini membuat orang gampang lapar..” gumamku menarik perhatiannya. Ha? Apa hubungan antara musim semi dan cepat lapar? Sepertinya sifat sangtae Onew hyung menular padaku.

Dia menoleh kearahku dan tersenyum sekilas.

“Memangnya kau tidak lapar?” tanyaku. (*halahhh.. Bilang aja mau ngajak makan, gitu… Susah amat. Artis payah!!!

“Aniyo. Kau lapar Key? Mau kutemani makan?” nah, tuh kan… Bukan aku loh yang mengajaknya makan. Dia sendiri yang menawarkan dirinya untuk menemaniku makan. Hahahahhh… (*ngeles

“Ne. Kkaja..”

Kami berada di cafe yang tidak jauh dari taman ini. kami memilih meja yang berada didekat jendela, dan duduk disana.

“Kau mau pesan apa?” tanyaku sambil melihat buku menu.

“Aku tidak lapar. Kau saja yang makan..” ujarnya. Aku mengintip dari balik buku menu dan melihatnya sedang menopangkan dagunya menatap keluar. Ah, yeoja ini kenapa? Diajak makan oleh seorang Key SHINee yang keren malah murung seperti itu. Apa aku tidak terlihat tampan hari ini? (*Astaga, Key!!! Kau selalu terlihat tampan kapanpun, dimana pun.!!!

“Anda pesan apa, tuan..” aku sedikit kaget menyadari pelayan cafe ini sudah berdiri disampingku.

“Ah,. Hhhmm.. Aku pesan Ice capucino saja..” ujarku akhirnya.

“Makanannya..?”

“Tidak. Aku tidak memesan makanan. Jeje, kau tidak mau memesan apapun? Minuman mungkin?” tanyaku kearahnya. Dia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Hhh.. Baiklah. Sepertinya aku betul-betul tidak mempesona hari ini (*Halahhhh…

Pelayan itu mengerutkan kening kearahku, menatapku bingung. Ada apa? Apa penyamaranku terbongkar. Omo, ini bisa gawat, bagaimana kalau ia tahu aku adalah Key SHINee dan melihatku bersama seorang yeoja. Omo, ini bisa jadi berita besar!!!

Tapi, sepertinya yang kutakutkan tidak terjadi. Karena pelayan itu sudah pergi mengambilkan pesanan ku.

“Key… kau tidak sibuk hari ini?” tanyanya. Ah, akhirnya dia yang berbicara padaku. Hahahh.. Itu artinya pesonaku masih tetap berkilauan.. (*astagaaaa…. narsisnya..

“Tidak. Hari ini aku bosan didorm. Jadi, aku keluar jalan-jalan. Taman itu memang sering kudatangi kalau sedang bosan… Wae? Apa kau masih tidak percaya kalau aku Key SHINee..?”  aku mendekat kearahnya dan berbisik

“Perlu kubuka penyamaranku?” bisikku kearahnya.

“Hahahh.. Tidak usah. Aku percaya..” ujarnya terkekeh pelan. Aku ikut terkekeh bersamanya. Ah, akhirnya ia bisa tertawa juga.

Akhirnya kamipun mengobrol. Tentang dirinya, sekolahnya, teman-temannya. Kalau tentang diriku, aku tidak menceritakan apapun. Untuk apa, aku inikan idolanya, sudah pasti dia tahu banyak tentangku, yah meskipun tidak seluruhnya, sih…

Ternyata ia tidak begitu pendiam, dia lumayan cerewet juga, sepertiku. Hahahh…

Entahlah, aku merasa nyaman bersamanya, meskipun sebenarnya wajah pucatnya itu membuatku sangat tidak nyaman memandangnya.

“Jeje.. Kenapa wajahmu pucat?” ujarku akhirnya.

“Euh.. Iyya? Memang wajahku pucat, ya? Hahahhahhh..” dia memegang pipinya dan tertawa. Aku tersenyum kearahnya. Apa wajahnya memang pucat begitu?. Buktinya, ia baik-baik saja, tertawa lepas seperti itu. Hanya orang sehat yang bisa melakukan itu semua kan?

***

Beberapa hari ini aku jadi rajin mengunjungi taman itu. Ne, karena setiap kali aku berkunjung kesana, Jeje pasti sudah ada dan duduk dibangku pertama kali aku berjumpa dengannya. Syukurlah jadwalku tidak terlalu padat belakangan ini, aku jadi bisa sering-sering datang ketempat ini dan menemuinya.

“Jeje. Sudah malam, sepertinya kau harus pulang..” ujarku ketika melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 21.35.

“Ne, oppa. Kalau begitu, aku pulang dulu ya..” dia beranjak dari tempatnya, namun segera kutahan tangannya.

“Akhh..” aku segera melepas tanganku darinya. Kenapa menyentuh kulitnya terasa menyakitkan? Rasanya seperti tersengat listrik. Dia akhirnya menarik tangannya jauh-jauh dariku.

“Gwenchana, Oppa?” tanyanya khawatir.

“Ne. Gwenchana..” aku menggerak-gerakan tanganku yang terasa kesemutan.

“Aku pulang dulu, ya..” ujarnya kemudian.

“Tunggu dulu. Boleh, aku mengantarmu pulang?” aku penasaran dia tinggal dimana. Kalau menanyakan langsung alamat rumahnya, tidak enak. Niatku terlalu terlihat.. Heheh…

Dia terdiam, kelihatan berfikir, “Hmm, baiklah. Kkajja..”

Kami berdua berjalan beriringan menuju rumahnya, tidak lama kemudian dia menghentikan langkahnya dihadapan rumah bergaya minimalis.

“Oppa, ini rumahku..” ujarnya menatapku.

“Jadi, kau tinggal disini?” tanyaku sambil menatap rumah didepanku ini.

“Hmm.. Ne..” jawabnya agak ragu.

“Maaf, Oppa. Aku tidak bisa mengajak Oppa masuk kali ini. ini sudah terlalu malam..” dia mendekat kearahku dan berbisik.

“Nanti eomma mengira kita ada apa-apanya..” bisiknya kemudian tertawa geli.

Aku ikut tertawa bersamanya. Memangnya kenapa kalau eommanya mengira kita ada apa-apanya? Aku memang maunya begitu. Tapi, kurasa belum saatnya..^^

“Baiklah. Aku pulang dulu, ya..”

Dia mengangguk semangat dan menyunggingkan senyum manis kearahku. Senyum yang paling kusukai. Senyum yang mampu membuatku bersemangat.

“Annyeong..” ujarnya dengan ekspresi yang sulit kutebak. Ia seperti mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya. Ah, aku tidak boleh berfikiran seperti ini. biasanya juga ia mengatakan ‘Annyeong’ ketika kita akan berpisah. Kucoba untuk menyunggingkan senyum terbaik kearahnya, walaupun jujur saja terasa ada yang mengganjal.

Aku kemudian berbalik meninggalkannya, namun tiba-tiba aku ingin melihat kearahnya. Dan ketika aku berbalik, dia sudah tidak ada. Tch, cepat sekali ia masuk. Dasar penakut…

***

Aku sekarang berbaring ditempat tidurku. Aku menatap langit-langit kamarku sambil tersenyum. Entahlah, sejak bertemu dengan Jeje, aku sering senyum-senyum tidak jelas seperti ini jika mengingat wajah manisnya. Jeje, aku sadar betul, ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku.

Ah, sudahlah. Lebih baik aku tidur. Hoammm…

***

Aku terbangun ketika menyadari hari sudah pagi. Tapi, aku merasa aneh. Semalam terasa sangat dingin.

“Minho.. Apa kau semalam kedinginan?” ujarku menghampiri Minho yang sedang meminum susu.

“Aniyo… Semalam aku kepanasan. Ini musim semi, Key.. Bukan musim dingin..” ujar Minho kemudian berlalu meninggalkanku sendiri.

“Aneh, kenapa aku malah kedinginan?” gumamku pelan. Ah, sudahlah… Hanya perasaanku saja..

^^^

Sekali lagi aku mematut diriku didepan cermin. Kuperhatikan semuanya. Rambut, baju, celana, wajah… Semuanya sempurna.. Ah, betapa tampannya kau Key.. (*hahahahhh narsissss

“Hyung… Kau mau kemana?” tanya taemin ketika aku keluar dari kamar dengan keadaan rapi.

“Mau kemana lagi? Paling dia ketaman menemui yeoja itu..” ujar Minho yang memang sudah tahu akan hal ini.

“Yeoja? Siapa hyung? Hyung punya yeojachingu..?” seru Taemin terbelalak.

“Ah, kau ini berlebihan. Dia bukan yeojachingu ku. Dia baru calon..” jawabku tersenyum penuh arti.

“Calon? Maksud, hyung..?”

“Aku ingin menyatakan perasaanku hari ini, pabbo. Doakan saja, semoga hyung mu ini diterima..” ujarku sambil memakai sepatu.

“Wah, senangnya.. Hyung sudah punya yeoja..” pekik Taemin. Aku hanya tersenyum melihatnya.

“Ya sudah. Hyung pergi dulu, ya..” ujarku ketika sepatu telah terpasang dikakiku.

“Ne. Hwaiting, hyung..!!!” seru Taemin mengepalkan tangannya kearahku. Akupun ikut mengepalkan tanganku kearahnya.

***

Aku ada ditaman sekarang. dan kalian tau, aku sudah dua jam disini. Tapi, Jeje belum muncul juga. Aneh… harusnya dari tadi dia sudah ada disini. Aku merogoh saku celanaku hendak menelponnya. Tunggu dulu, menelponnya? Bahkan nomor teleponnya pun aku tak tau. Dasar Key pabbo!!! Kenapa hal sepenting ini tidak kutanyakan padanya?

Lalu sekarang aku harus bagaimana? Aku memang tidak janjian dengannya, tapi… Biasanya kan dia ada disini. Nomor teleponnya pun aku tidak punya. Baiklah, akan kutunggu ia sedikit lebih lama.

^^^

Aku menghempaskan tubuhku kesofa. Jeje sama  sekali tidak muncul… Kuharap besok ia ada…

^^^

Sudah tiga hari Jeje tidak muncul. Satu-satunya cara, aku harus kerumahnya. Ne, aku harus kesana. Aku betul-betul khawatir dengan keadaannya.

Aku mengetuk pintu dihadapanku ini, tak lama kemudian seorang wanita separuh baya membukakan pintu untukku. Aku tersenyum kearahnya, dan dia memperhatikanku lekat-lekat.

“Key..? Kau Key kan?” tanyanya.

“Ne, ahjumma. Aku Key. Jeje ada dirumah?” tanyaku to the point.

Raut wajah ahjumma ini tiba-tiba berubah. Ia terdiam untuk beberapa saat seperti sedang berfikir.

“Sebaiknya kau masuk saja dulu. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu..” Ahjumma itu melebarkan pintu rumahnya mempersilahkanku untuk masuk. Akupun masuk kedalam rumah ini.

“Silahkan duduk..” beliau mempersilahkanku duduk disofa ruang tamu rumah ini.

“Kau benar Key kan? Key SHINee yang di idolakan Han Jae?” ah, jadi namanya Han Jae.

“Ne, aku orang yang dimaksud..”

“Kau tau alamat kami dari mana?”

“Dari Jeje. Tiga hari yang lalu aku mengantarnya pulang dan ia bilang ini rumahnya”

“Tiga hari yang lalu? Tidak.. Itu tidak mungkin. Kau pasti bohong, iya kan?” Ahjumma itu menatapku tidak percaya dengan kata-kataku barusan.

“Aku tidak bohong. Aku betul-betul mengantar Jeje pulang kerumah ini…” ujarku meyakinkannya.

“Dimana? Dimana kau bertemu dengannya?” matanya terlihat berkaca-kaca. Ada apa ini?

“Awal kami bertemu, dia menghadiri fans meeting SHINee bulan lalu, lalu setelah itu, aku bertemu dengannya ditaman dekat sini. Sejak hari itu kami sering bertemu dan..”

“Tidak.. Itu tidak mungkin… Tidak mungkin hal itu terjadi..” belum selesai aku berbicara, ia sudah memotong ucapanku. Aku menatapnya meminta penjelasan. Apa maksudnya mengatakan kami tidak mungkin bertemu? Aku tiba-tiba merasa ada yang aneh. Jantungku berdegup tidak menentu.

“Jeje meninggal satu bulan yang lalu, sebelum fans meeting kalian dilaksanakan” ucapannya berhasil membuatku shock. Seluruh energiku terkuras habis. Aku merasa lemas seketika.. Jeje meninggal??

“Tidak!! Ini tidak mungkin!! Lalu, siapa yang terus bersamaku selama ini?” gumamku pelan. Aku terlalu shock untuk berbicara lebih keras. Jeje… Ini tidak mungkin.

“Ne. Inilah kenyataannya…” ujarnya pelan.

Ia kemudian berdiri dari tempatnya dan berjalan.

“Ikut denganku..” ujarnya, akupun mengikutinya. Meskipun kakiku sekarang sangat sulit untuk kugerakkan,  menaiki tangga  terasa sangat berat bagiku. Kamipun  tiba dihadapan sebuah kamar. Sepertinya ini kamar Jeje. Karena sangat jelas dipintunya tertulis ‘Jeje’s Room’

Beliau kemudian membuka pintu kamar. Tepat ketika pintu dihadapanku ini terbuka, seketika aku terbelalak melihatnya,

“Ini…” gumamku melihat sekeliling kamar ini.

“Ne… Jeje sangat mengidolakanmu. Inilah yang dia lakukan sebelum ia meninggal. Ia terus menempel fotomu memenuhi dinding kamarnya. Dia sangat yakin kalau kau akan datang kerumah ini..” ujarnya menjelaskan.

Aku berjalan memasuki ruangan yang dulunya adalah kamar Jeje. Ne, semua dindingnya penuh dengan fotoku. Mulai dari ukuran besar hingga kecil. Semuanya tersusun secara teracak, namun tetap terlihat harmonis.

“Bahkan, ia berpesan padaku sebelum ia meninggal. Ia menyuruhku membawamu kekamar ini jika kau datang… Aku menyanggupi permintaannya. Meskipun itu terdengar sangat konyol bagiku. Dan ternyata, ia benar. Kau ada disini sekarang..” perlahan, air mataku mengalir mendengar cerita eomma Jeje. Jeje begitu mencintaiku, bahkan pada saat terakhirnya, yang dia ingat hanya aku.

Mataku menangkap sesuatu diranjangnya, sebuah kertas. Aku menghampirinya dan melihat kertas yang waktu itu kutanda tangani untuknya.

“Kertas itu, beberapa hari yang lalu tiba-tiba sudah ada ditempat tidurnya..”

“Ne. Ini adalah kertas yang kutanda tangani untuknya..” gumamku meraih kertas itu

Jeje… Aku tidak percaya ini semua.. Kau pergi.. Kau betul-betul pergi.. Kita bahkan baru bertemu, tapi kau malah meninggalkanku seperti ini. Jeje…

Air mataku terus mengalir tanpa bisa kukendalikan. Aku kemudian mengusapnya dan menoleh kearah eomma Jeje.

“Ahjumma… Antarkan aku ke makam Jeje..”

***

Aku memandangi nisan dihadapaku ini. ‘Kim Han Jae’ tertulis jelas disana. Ini betul-betul makam Jeje. Aku meletakkan buket bunga yang tadi kubawa dinisannya. Bunga ini rencananya ingin kuserahkan kepada Jeje langsung. Tapi, aku malah meletakkannya dimakamnya sekarang.

Perlahan, rasa dingin menjalar dilengan kananku, aku menoleh kearah kanan dan mendapati sosok Jeje sedang merangkul lenganku.

“Jeje..” panggilku tidak percaya. Ia meletakkan telunjuk dibibirnya, menyuruhku untuk diam. Ne, karena Eomma Jeje masih ada disana. Aku mengangguk dan tetap diam. Jeje disampingku sekarang. Dia ada disini.

“Hmm.. Aku pamit duluan, ahjumma..” ujarku

“Ne. Terima kasih kau sudah mau mengunjungi makam Jeje. Aku masih mau disini sebentar..” ujarnya sambil mengusap air matanya sesekali. Aku mengangguk mengerti dan menoleh kearah Jeje yang masih merangkul lenganku. Ia tersenyum manis kearahku.

Aku segera melajukan mobilku menuju taman. Dengan Jeje yang duduk disampingku, tentunya. Aku mengerem mobilku begitu kami tiba disana, aku melepaskan savebelt ku dan turun dari mobilku. Dan kulihat Jeje kini telah duduk dibangku taman biasa. Tch, dasar hantu. Mau pamer..?

Aku segera menghampirinya dan duduk disampingnya.

“Jeje.. Kau kemana saja? Dan bukannya kau sudah meninggal? Lalu, kenapa kau masih disini?” serentetan pertanyaan keluar dari bibirku. Dia tersenyum kearahku.

“Hehehhe… Oppa, Sabar… Aku akan menjelaskan semuanya padamu” dia terkekeh pelan. Aku sedang tegang seperti ini, dia malah bercanda. Aku mengerucutkan bibirku ngambek.

“Ya.. Jangan ngambek begitulah, oppa..”

Aku menoleh kearahnya dan meminta penjelasan padanya.

“Baiklah… Aku akan menjelaskannya. Aku memang sudah meninggal. Tapi, arwah orang yang sudah meninggal tidak langsung meninggalkan bumi. Kami masih diberi kesempatan selama 40 hari untuk berada dibumi dan melihat keadaan orang-orang yang kita sayangi..” dia berhenti sejenak dan melanjutkan.

“Dalam kasusku, aku punya berapa hal yang belum kuselesaikan. Salah satunya, menghadiri fans meeting kalian. Sayang sekali, aku meninggal sebelum bertemu kalian. Dan aku sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bisa hadir…”

“Kau meninggal karena apa?”

“Kelainan jantung. Kelainan jantung bawaan dari lahir. Setiap arwah diberi kesempatan satu kali untuk menampakkan dirinya. Dan kugunakan kesempatan itu untuk menampakkan diri dihadapanmu di fans meeting waktu itu..”

“Lalu, kenapa aku masih bisa melihatmu?”

“Molla Oppa. Aku juga heran. Kenapa hanya kau yang bisa melihatku. Itulah mengapa aku sempat tidak percaya ketika kau menyapaku ditaman waktu itu. Tapi, bukankah itu bagus? Anggap saja sebagai anugerah, iya kan?..” ia tersenyum lepas. Seperti tidak ada yang terjadi. Seolah semuanya biasa saja.

“Tapi tetap saja. Kau akan meninggalkanku, kan? Bagaimanapun kau akan pergi…” aku menunduk sedih.

“Jangan murung begitu Oppa. Kau tahu, hari ini adalah hari terakhirku berada dibumi. Besok. Aku akan pergi untuk selamanya. Dan kuharap kau mau menghabiskan malam ini bersamaku.. Bagaimana?” dia menatapku penuh harap. Sementara aku hanya bisa diam mencerna kata-katanya. Dia akan pergi. Pergi untuk selamanya. Tak terasa, air mataku kembali mengalir melalui pipiku.

“Oppa, kumohon jangan menangis. Aku tidak bisa menyentuh dan menghapus air matamu. Aku tidak mau menyakitimu..” dia menatapku dengan tatapan sedih. Key pabbo! Ini saat terakhirnya, kenapa aku malah menampakkan wajah sedih untuknya. Tidak.. Aku harus ceria!!!

“Baiklah.. Aku tidak akan menangis lagi. Jadi, apa yang akan kita lakukan?” ujarku mencoba untuk terlihat bersemangat. Jeje… Benarkah ini yang terakhir..??

***

Aku menatap jam tanganku. Sudah menunjukkan pukul 23.00. Satu jam lagi, waktuku bersama Jeje. Sekarang kami berdua duduk dibangku taman. Ia bersandar dan menatap langit. Terlihat ia sangat menikmati apa yang dilakukannya sekarang.

“Jeje…” ujarku memanggil namanya.

“Hmm..” dia menggumam ketika kupanggil.

“Selama 40 hari ini, apa saja yang kau lakukan..?”

“Banyak. Aku mengunjungi nenek, sepupuku, dan keluargaku yang lain. Termasuk menghadiri fans meeting kalian..”

“Tiga hari kemarin kau kemana?”

“Aku mengunjungi nenek untuk terakhir kalinya. Waktuku tinggal sebentar, aku ingin melihat nenek sebelum betul-betul pergi meninggalkan dunia ini..” dia kembali menatap langit menerawang.

“Kenapa kau tidak menghabiskan waktumu denganku saja?” dia menoleh kearahku dan tersenyum.

“Waktu 40 hariku paling banyak didominasi olehmu, Oppa. Kau tidak sadar?” ia terkekeh pelan.

“Itu tidak cukup untukku Jeje, aku ingin bersamamu lebih lama lagi…” aku mendekat kearahnya.

“Jeje… Aku ingin memelukmu..”

“Tapi, Oppa. Kau akan kesakitan dan…” ia tidak sempat melanjutkan kalimatnya, karena sekarang aku merengkuh tubuhnya kedalam pelukanku. Ne, memang menyakitkan dan sangat dingin. Seperti memeluk es yang sangat dingin. Tapi, menyadari yang kupeluk adalah Jeje, semuanya tidak ada artinya. Perlahan, rasa sakit itu tidak lagi kurasakan…

“Oppa… Aku mau minta maaf..”

“Minta maaf? Untuk apa?”

“Karena telah mencium Oppa diam-diam..”

“Mwo? Apa maksudmu?” aku melepaskan pelukanku dan menatapnya.

“Waktu itu oppa sedang tidur. Dan aku juga berbaring disamping Oppa. Tapi, Oppa tiba-tiba menghadap kearahku dan memelukku. Wajah kita terlalu berdekatan.. Dan bibir Oppa begitu dekat..” semakin lama, volume suaranya semakin mengecil saat menceritakan semuanya. Seandainya ia manusia, aku yakin wajahnya kini sudah semerah tomat. Tapi, ekspresi malu tetap tergambar jelas diwajah pucatnya.

“Dan… Ah, Oppa.. Aku malu…” pekiknya menutup wajahnya sendiri.

“Dasar kau, ya… Sejak kapan kau tidur bersamaku?” tanyaku sambil terkekeh.

“Hanya tiga hari ini. Sepulang dari rumah nenek, aku langsung kedorm Oppa. Akukan juga rindu tidak bertemu seharian dengan Oppa..” ia masih memegang pipinya malu.

“Dasar curang… Aku juga merindukanmu, pabbo!!” aku menepuk kepalanya pelan. Dia tersenyum manis kearahku.

Kembali kutarik ia kepelukanku. Aku membelai rambutnya.

“Jeje… Kenapa kita hanya ditakdirkan untuk bertemu lalu berpisah? Aku ingin bersamu. Aku ingin terus disampingmu.. Takdir begitu kejam terhadap kita..”

“Ne. Seperti inilah kerja takdir, Oppa. Kita hanya bisa mengikuti arusnya, tidak bisa melawannya. Satu hal yang patut kusyukuri adalah aku bisa bertemu denganmu, Oppa. Meskipun dalam keadaan seperti ini..”

Akupun melepaskan pelukanku dan menatapnya. Ne, sosoknya agak transparan. Aku mendekatkan wajahku kearahnya. Dia sepertinya mengerti, karena kini ia menutup matanya.

Dan aku meraih bibir nya dengan bibirku. Bibirnya sedingin es. Aku melumat bibirnya perlahan. Dan kurasakan air menetes membasahi tanganku yang merengkuh pipinya. Ne, ini air mataku. Satu hal yang paling kuinginkan saat ini adalah waktu berhenti. Aku ingin terus bersamanya seperti ini.

Aku melepaskan ciumanku darinya dan menatapnya. Sosoknya semakin transparan saja. Air matakupun seakan tidak mau berhenti. Terus mengalir tanpa henti.

“Saranghae, Jeje…” kalimat inilah yang seharusnya kukatakan tiga hari yang lalu.

“Nado, Oppa. Jeongmal saranghae…” sosoknya sudah hampir menghilang. Aku menggigit bibir bawahku menahan isak tangis yang semakin hebat kurasakan. Peganganku terlepas, aku tidak bisa lagi menyentuhnya. Ia betul-betul akan menghilang.

“Jeje.. Kumohon, jangan pergi…” pintaku terisak.

“Mianhe, Oppa.  Akupun ingin selalu bersama Oppa..”

“Jeje..” ujarku memanggil namanya dengan suara bergetar.

“Mianhe, Oppa. Inilah saatnya. Annyeong, Oppa…” ia tersenyum kearahku dan menghilang. Betul-betul menghilang.  Aku ingin meraihnya, namun aku tidak bisa meraih apapun. Ia menghilang seperti asap yang tertiup angin.

“Aniyo!!! Jeje..!!!” teriakku memanggil namanya. Berharap ia menanggapi panggilanku. Namun, segalanya percuma. Ia kini telah pergi. Betul-betul meninggalkanku.

Annyeong, Jeje…

Kisah cinta kita berakhir terlalu cepat.

Sangat tidak adil bagi kita berdua.

Namun, waktu yang telah kita lalui bersama, akan kukenang selamanya.

..::THE END::..

Hahahahhh…

Selesai juga….

Mian, kalau gajenya tingkat dewa.

Abisnya ini FF dadakan. Dadakan dapat idenya, nulisnya juga dadakan.

Jadinya begini deh.. Ancur..

Pa lagi konsep tentang Arwahnya..

Hahahahhh… 100%  ngarang..

(*hanya ada dalam dunia imajinasiku…

Well, kuharap kalian menyukainya

Annyeong…^^